|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Agustus 2011
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
NILAI KESABARAN
oleh: St Siprianus (Uskup dan Martir, ± 210-258)
 Kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat.
Kesabaran adalah ajaran keselamatan yang diberikan Tuhan, Guru kita. Barangsiapa bertahan hingga akhir akan diselamatkan. Dan lagi: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Saudara-saudara terkasih, kita harus bertahan dan bertekun apabila kita hendak memperoleh kebenaran dan kemerdekaan yang boleh kita harapkan; iman dan harapan adalah makna inti dari menjadi seorang Kristiani, akan tetapi agar iman dan harapan berbuah, dibutuhkan kesabaran.
Kita tidak mencari kemuliaan sekarang, pada masa kini, tetapi kita mencari kemuliaan mendatang, sebagaimana diajarkan St Paulus ketika ia mengatakan: Kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Adalah perlu menanti dengan sabar apabila kita rindu disempurnakan dalam apa yang telah kita mulai, dan apabila kita rindu menerima dari Allah apa yang kita harapkan dan percaya.
Di tempat lain Rasul yang sama menasehati dan mengajarkan kepada orang yang benar, dan mereka yang giat dalam perbuatan-perbuatan baik, dan mereka yang mengumpulkan bagi dirinya harta pusaka di surga melalui ganjaran yang Allah berikan kepada mereka. Mereka juga harus bersabar, sebab ia mengatakan: Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai.
Paulus mengingatkan kita untuk jangan jemu-jemu berbuat baik melalui ketidaksabaran, untuk tidak dikacaukan atau dikuasai oleh pencobaan-pencobaan dan dengan demikian menyerah di tengah ziarah pujian dan kemulian kita, serta membiarkan perbuatan-perbuatan baik kita di masa lalu menjadi tak berguna sebab apa yang telah dimulai tidak sampai diselesaikan.
Akhirnya, Rasul, ketika berbicara mengenai kasih, menggabungkannya dengan ketekunan dan kesabaran. Kasih itu, demikian katanya, selalu sabar dan murah hati; ia tidak cemburu; ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong; ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Rasul menunjukkan bahwa kasih dapat tegar dan bertahan sebab kasih telah belajar bagaimana menanggung segala sesuatu.
Dan di tempat lain ia mengatakan: Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. Ia menunjukkan bahwa baik persatuan maupun perdamaian tak dapat dipelihara terkecuali sesama saudara saling menghargai satu sama lain dengan penuh kesabaran dan memelihara ikatan damai sejahtera melalui sarana kesabaran.
|
|
“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.”
~ Efesus 4:2
|
TELADAN KESABARAN YESUS
 Caci-maki yang ditanggung Yesus sepanjang sengsara-Nya merupakan teladan kesabaran yang diuji dalam tingkat yang tertinggi. Mereka semua yang mencemooh Yesus menimpakan dakwaan yang sama (Luk 23:35, bdk juga Luk 23:37,39) “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Tepat karena Yesus menanggung fitnah dengan sabar dan “menyelamatkan orang-orang lain” daripada Diri-Nya Sendiri, Ia ditolak sebagai seorang pendusta. Tetapi, sesungguhnya, inilah intisari kasih. Sungguh Yesus, yang adalah inkarnasi kasih, mengampuni dan memohon pengampunan atas kesalahan kita, daripada menuntut balas mata ganti mata. Ia dengan sabar menimpakan dosa-dosa kita ke atas Diri-Nya Sendiri. Sungguh, bukannya menyelamatkan Diri-Nya Sendiri, ia malahan menyelamatkan orang-orang lain. Tak heran kita menyebut-Nya Juruselamat yang Maharahim!
St Petrus mendorong kita untuk belajar dari teladan gagah berani Mesias yang menderita (1 Petrus 2:19-24), “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung… karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam… Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.”
Yesus tidak menderita karena Ia memang lemah. Melainkan, Ia menderita demi kasih. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki. Meski Ia dijatuhi hukuman mati secara tidak adil, Ia tetap lemah lembut bagai anak domba di hadapan mereka yang hendak menyembelihnya dan menyerahkan diri tanpa melawan. Ia menimpakan ketidakadilan kita ke atas Diri-Nya Sendiri dan, pada tempatnya, Ia menetapkan keadilan yang sejati dan kekal.

|
|
Allah yang Mahakuasa dan Kekal, Bapa yang Maharahim, yang telah memberikan kepada umat manusia PutraMu terkasih sebagai teladan kerendahan hati, ketaatan dan kesabaran, untuk mendahului kami di jalan kehidupan, dengan memanggul Salib: Sudi anugerahilah agar kiranya kami, terbakar oleh kasih-Nya yang tak terhingga, memikul kuk manis Injil-Nya bersama silih Salib, mengikuti-Nya sebagai para pengikut-Nya yang sejati, agar kami suatu hari kelak dapat bangkit jaya bersama-Nya dan dengan penuh sukacita mendengar keputusan akhir: “Marilah, engkau yang diberkati BapaKu, dan milikilah kerajaan yang telah dipersiapkan bagimu sejak dari permulaan,” di mana Engkau berkuasa bersama Putra dan Roh Kudus, dan di mana kami berharap berkuasa bersama-Mu, dunia tanpa akhir. Amin.
~ St Fransiskus dari Assisi
|
PESAN YESUS MENGENAI KESABARAN
 Aku menghendaki engkau sabar, bahkan terhadap dirimu sendiri. Ketika engkau melakukan suatu kesalahan, Aku menghendakimu menyesal, malu dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi; tetapi Aku tidak menghendakimu jengkel dengan dirimu sendiri, sebab jika engkau marah, engkau tidak akan pernah dapat bertindak dengan akal sehat atau bijaksana.
Apabila kalian marah, janganlah melakukan atau mengatakan apapun hingga amarahmu berakhir, sebab semua yang kalian katakan atau lakukan tidak akan benar. Seorang yang marah tidak bertindak selaras dengan Keadilah Ilahi. Berhati-hatilah juga untuk tidak meminta nasehat dari siapapun yang dapat membuatmu marah. Redamlah kejahatan dengan kebaikan. Dengan kelemah-lembutan engkau akan memadamkan amarah. Bacalah Yohanes 18:11. Jika Aku memerintahkanmu untuk mengampuni dan Aku Sendiri telah memberikan teladan, bagaimanakah engkau dapat tidak mengampuni sesamamu? Angkatlah akal budimu, mohonlah pada-Ku kesabaran dan kasih. Lihatlah Salib-Ku dan lihatlah apakah engkau masih merasa marah. Lihatlah betapa banyak dosa-dosamu dan tanggunglah semua yang terjadi atasmu dengan tenang. Tetapi, hindarilah hal-hal, kesempatan-kesempatan dan orang-orang yang dapat merampas damaimu…
|
|
“Pada waktu masuk ke dalam hidup religius, aku membuat ketetapan hati untuk tidak pernah membiarkan suatu tindak ketidaksabaran atau kata-kata amarah lolos dariku, dan dengan rahmat Allah, aku tidak pernah melanggarnya.”
~ Abbas Isaac
|
TELADAN KESABARAN MARIA
oleh St. Alfonsus Maria de Liguori, dikutip dari “Kemuliaan Maria”
 Dunia ini sebagai tempat ganjaran, dengan tepat disebut sebagai lembah airmata; sebab kita semua ditempatkan di dalamnya untuk menderita, agar kita, dengan kesabaran, boleh mendapati jiwa kita sendiri dalam kehidupan kekal, sebagaimana dikatakan Tuhan Sendiri, Kalau kamu tetap bersabar, kamu akan memperoleh jiwamu (Lukas 21:19). Allah memberikan Santa Perawan Maria kepada kita sebagai teladan dari segala keutamaan, tetapi teristimewa sebagai teladan kesabaran. St Fransiskus de Sales, di antara banyak hal lain, mengatakan bahwa tepat untuk alasan inilah pada pesta perkawinan di Kana Yesus Kristus memberikan suatu jawaban kepada Santa Perawan, dengan mana tampaknya Ia hanya sedikit peduli pada permohonannya: Perempuan, mau apakah engkau dari pada-Ku? (Yohanes 2:4). Dan Ia melakukan ini agar Ia dapat memberikan kepada kita teladan kesabaran dari BundaNya yang Tersuci. Tetapi apakah perlunya kita mendapatkan keutamaan ini? Seluruh hidup Maria merupakan suatu latihan kesabaran yang terus-menerus; sebab, sebagaimana disingkapkan malaikat kepada St Brigitta, “bagai sekuntum mawar tumbuh di antara onak duri, demikianlah Santa Perawan tumbuh di antara penderitaan.” Belas kasihannya saja atas sengsara Penebus telah cukup untuk menjadikannya seorang martir kesabaran. Oleh karenanya St Bonaventura mengatakan, “bahwa Bunda yang tersalib mengandung Putra yang tersalib.” Dalam berbicara mengenai dukacitanya, kita telah merenungkan betapa dahsyat ia menderita, baik dalam pengungsian ke Mesir, dan sepanjang masa tinggalnya di sana, sebagaimana juga sepanjang masa ia hidup bersama Putranya di rumah di Nazaret. Apa yang ditanggung Maria ketika hadir di saat ajal Yesus di Kalvari saja telah cukup menunjukkan kepada kita betapa teguh dan luhur kesabarannya: Di sana, di kaki Salib Yesus, berdirilah BundaNya. Maka, adalah tepat bahwa dengan jasa-jasa kesabarannya, sebagaimana dikatakan Beato Albertus Agung, “ia melahirkan kita ke hidup rahmat.''
Jadi, jika kita rindu menjadi anak-anak Maria, kita harus berupaya meneladaninya dalam kesabaran: “Sebab apakah,” demikian St Siprianus, “yang dapat memperkaya kita dengan jasa-jasa yang terlebih besar dalam hidup ini, dan kemuliaan yang terlebih lagi dalam hidup mendatang, selain dari kesabaran dalam menanggung penderitaan?” Allah mengatakan, lewat Nabi Yehezkiel: Aku akan memagari jalanmu dengan onak dan duri (2:6). Atas ini St Gregorius menambahkan, bahwa “jalan orang-orang pilihan dipagari dengan onak dan duri.” Sebagaimana pagar duri melindungi kebun anggur, demikianlah Allah melindungi hamba-hamba-Nya dari bahaya melekatkan diri pada dunia, dengan melingkupi mereka dengan penderitaan-penderitaan. Oleh karenanya St Siprianus menyimpulkan bahwa kesabaranlah yang membebaskan kita dari dosa dan dari neraka.
Kesabaranlah juga yang menjadikan orang-orang kudus: Kesabaran itu menghasilkan buah yang matang (Yakobus 1:4), menanggung dalam damai, tak hanya salib-salib yang datang langsung dari Allah, seperti sakit-penyakit, kemiskinan, melainkan juga salib-salib yang datang dari manusia - aniaya, luka, dan yang lainnya. St Yohanes melihat segenap para kudus menggenggam daun-daun palem - lambang kermartiran - dalam tangan mereka: Kemudian dari pada itu aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak, dan daun-daun palem di tangan mereka (Wahyu 7:9); dengan demikian menunjukkan bahwa segenap orang dewasa yang diselamatkan haruslah seorang martir, entah dengan mencurahkan darah mereka demi Kristus atau dengan kesabaran.
“Jadi, bersukacitalah,” seru St Gregorius, “kita dapat menjadi martir tanpa pedang algojo, jika saja kita bertekun dalam kesabaran.” “Jika saja,” demikian kata St Bernardus, “kita menanggung penderitaan-penderitaan hidup ini dengan kesabaran dan sukacita.” O betapa buah yang dihasilkan dari setiap derita yang ditanggung demi Allah tersedia bagi kita di surga! Demikianlah Rasul mendorong kita dengan mengatakan: penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kita (2 Korintus 4:17).
Ajaran St Theresia mengenai subyek ini sungguh indah. Ia biasa mengatakan, “Mereka yang memeluk salib tidak merasakannya;” dan di lain tempat, “jika kita berketetapan hati untuk menderita, maka rasa sakitnya hilang.” Ketika salib berat menimpa kita, marilah kita mohon pertolongan Maria, yang disebut Gereja sebagai “Penghibur mereka yang menderita” dan yang disebut oleh St Yohanes Damaskus sebagai “Penyembuh segala dukacita jiwa.”
Ah, Bundaku termanis, engkau yang tiada berdosa sungguh menanggung derita dengan begitu penuh kesabaran; dan akankah aku, yang layak akan neraka, menolak untuk menderita? Bundaku, perkenankan aku sekarang mengajukan permohonan ini kepadamu - janganlah, sungguh, aku dibebaskan dari salib, melainkan agar aku menanggungnya dengan sabar. Demi kasih kepada Yesus, aku memohon dengan sangat kepadamu untuk mendapatkan sekurang-kurangnya rahmat ini bagiku dari Allah; dari engkaulah aku berharap dengan penuh keyakinan akan menerimanya.
|
|
“Aku mengerti bahwa kuasa terbesar tersembunyi dalam kesabaran. Aku melihat bahwa kesabaran selalu menghantar pada kemenangan, meski tidak segera; akan tetapi kemenangan itu akan menjadi nyata setelah bertahun-tahun. Kesabaran berhubungan erat dengan kelemah-lembutan. ”
|
|
|
DOA MOHON KESABARAN
Tuhan, ajarilah aku untuk bersabar
dengan hidup, dengan orang-orang, dengan diriku sendiri.
Aku terlalu berupaya mempercepat segala sesuatunya,
dan aku mendesak hasil sebelum waktunya tepat.
|
Ajarilah aku untuk mengandalkan waktu-Mu daripada waktuku sendiri,
dan menyerahkan kehendakku pada rancangan-rancangan-Mu yang terlebih besar dan bijaksana.
Tolonglah aku untuk membiarkan hidup tersingkap perlahan,
bagai kuncup mawar kecil yang mahkota-mahkotanya terbuka sedikit demi sedikit.
Jika aku memaksanya segera mekar dengan menarik mahkota-mahkotanya,
aku akan merusakkan kuncup dan segala keindahan yang tersimpan di dalamnya.
Sebaliknya, ajarilah aku untuk menantikan bunga mekar dalam waktunya sendiri.
Aku akan menghargai setiap tahap kemekarannya,
hingga ia menjadi mawar nan indah yang keharumannya memenuhi kediamanku berhari-hari.
Setiap saat dan tingkat perkembangan mengandung suatu keindahan yang unik.
Ajarilah aku untuk cukup bersabar demi menghargai hidup.
Ajarilah aku kesabaran seperti yang diperlihatkan Maria sementara ia menanti
melewati tahun-tahun, sepenuhnya menjalani janji fiatnya,
“Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|