|
Keakraban Ilahi:
KEBERANIAN dan KESABARAN
oleh: P. Gabriel dari St. Maria Magdalena, O.C.D.
Ajarilah aku, ya Tuhan, untuk menanggung penderitaanku dengan berani dan sabar.
MEDITASI
1. Meski keberanian dibutuhkan untuk menghadapi atau melakukan tugas-tugas berat, keberanian terlebih lagi dibutuhkan untuk bertekun di dalamnya, di atas segalanya apabila tugas-tugas itu tidak menyenangkan dan berlangsung lama, dan tidaklah mungkin menghindari atau mengubahnya. Dalam hal ini, St Thomas mengajarkan bahwa tindakan utama keberanian bukanlah menyerang, melainkan berdiri teguh di tengah bahaya, dan menanggung pergumulan, pertentangan, penderitaan dan anianya dengan roh yang perkasa.
Dalam hidup rohani kita menghadapi tidak hanya kesulitan-kesulitan yang dapat diatasi dan ditanggulangi sekali saja dengan suatu tindak keberanian yang kuat, melainkan kita menghadapi - dan ini lebih sering - situasi-situasi sulit, menyakitkan yang mustahil dihindari, dan yang mau tak mau harus kita hadapi. Inilah sakit-penyakit jasmani yang melelahkan kita, dan yang menghindarkan kita dari melakukan aktivitas sebagaimana kita kehendaki; ada penderitaan-penderitaan moral yang diakibatkan oleh kelemahan-kelemahan temperamental kita atau dengan kontak dengan orang-orang yang menentang kita atau tidak mengerti kita; atau lagi, ada rasa sakit melihat orang-orang yang kita kasihi menderita tanpa kita dapat meringankan penderitaan mereka; ada pengalaman berpisah dari sahabat-sahabat kita, dan rasa kesepian. Ada juga masalah-masalah rohani sehubungan dengan kekeringan, kegelapan batin, keletihan pikiran, pencobaan-pencobaan dan skrupul [= kebimbangan batin]. Di samping ini, ada segala problem lainnya, kelelahan dan kesulitan dalam tugas kewajiban kita sehari-hari. Kita tahu bahwa hal-hal ini dirancangkan oleh Allah demi pengudusan kita dan demi kebaikan kita; namun demikian, ini tak menghindarkan kita dari merasakan beratnya beban; menderita tidak pernah menyenangkan, dan meski kita mau menerima semua demi kasih kepada Allah, terkadang kita tergoda untuk melawan, menyerah, mencampakkan kuk, atau kita terpuruk oleh kesedihan dan keputusasaan. Apakah gerangan obatnya? Ada satu yang Yesus nasehatkan kepada para Rasul sesudah mengatakan kepada mereka mengenai aniaya yang harus mereka tanggung: “In patientia vestra possidebitis animas vestras,” Kalau kamu tetap bersabar, kamu akan memperoleh hidupmu (Lukas 21:19). Kesabaran adalah keutamaan yang memungkinkan kita untuk hidup dalam keadaan menderita, sulit dan sengsara tanpa kehilangan kedamaian kita. Kesabaran memungkinkan kita untuk tinggal teguh di tengah badai, pertentangan dan bahaya, tanpa menjadi jengkel atau patah hati, tanpa berkecil hati karenanya.
2. Kesabaran Kristiani bukanlah undur diri terpaksa seorang pesimis atau filsuf yang menyerah pada penderitaan sebab ia tak dapat menghindarinya, pun bukan sikap dari dia yang menyerah karena ia tak dapat melawan karena kurangnya kekuatan dan daya; melainkan menerima penderitaan secara sukarela dalam pandangan Allah dan kebahagiaan abadi, suatu penerimaan yang ditopang oleh pengetahuan bahwa penderitaan mutlak diperlukan demi memurnikan kita dari dosa, demi menyilih dosa-dosa kita, dan mempersiapkan kita untuk berjumpa dengan Allah. Kesabaran Kristiani mendorong kita untuk menerima penderitaan dalam damai, dan secara perlahan untuk menghargai dan mencintainya, bukan karena kita melihatnya sebagai akhir hidup, melainkan sebagai sarana-sarana yang diperlukan demi mencapai tujuan, yang adalah mengasihi Allah dan persatuan dengan-Nya. Jika Yesus bersedia mengamalkan hidup kemartiran dan mati di Salib demi menyalakan api cinta kasih dalam diri kita dan memulihkan kembali persahabatan kita dengan Allah, bagaimanakah kita dapat berharap untuk mencapai kelimpahan kasih dan keakraban dengan Allah jika kita tidak mengikuti jejak langkah-Nya? “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian,” nasehat Petrus (1 Petrus 4:1). Jadi, marilah memeluk penderitaan dengan sentimen yang sama seperti yang dimiliki Yesus: demi melakukan kehendak Bapa Surgawi, demi menyilih dosa, dan demi membuktikan kasih kita kepada-Nya.
Kesabaran Kristiani bukan sekedar perilaku pasif dalam menghadapi penderitaan; melainkan juga perilaku aktif dan sukarela. Sukarela lebih penting sebab inilah yang menjadikan penderitaan berdaya guna. Seorang yang sabar berperilaku pasif sebab ia menghendaki berperilaku pasif, sebab ia menggunakan kehendak bebasnya untuk menyerah pada segala penderitaan yang ia hadapi di jalannya, sebab ia secara sukarela memberikan bahunya di bawah kuk penderitaan, sebagaimana Yesus memberikan bahu-Nya di bawah beban Salib, sebab Ia menghendakinya demikian, “quia ipse voluit” (Yesaya 53:7). Seorang Kristen bukanlah seorang Kirene yang terpaksa, melainkan seorang yang mau, bukan dalam arti ia secara spontan pergi mencari penderitaan - ini bukannya suatu yang mungkin bagi semua orang, dan terkadang bukan suatu yang bijaksana - melainkan dalam arti yang lebih sederhana di mana ia menerima secara sukarela segala penderitaan yang ia hadapi di jalannya, mengenali di dalamnya Salib yang ditawarkan kepadanya oleh Allah demi pengudusannya.
PERCAKAPAN
“Ya Yesus, kewajiban jiwa-jiwa yang diperkenankan masuk ke dalam keakraban-Mu adalah menderita bersama-Mu, mengangkat Salib tinggi-tinggi, tidak membiarkannya terenggut dari tangan mereka, tanpa peduli bahaya apapun yang mereka hadapi, dan tak membiarkan diri didapati kurang dalam menderita.
“Sekarang setelah Engkau menunjukkan kepadaku betapa berkat dalam menderita pencobaan-pencobaan dan aniaya demi Engkau, aku mendapati diriku tiada dapat berhenti merindukan pencobaan-pencobaan; sebab mereka yang mengikuti-Mu haruslah mengambil jalan yang Engkau tempuh, terkecuali jika mereka ingin tersesat. Diberkatilah segala karya mereka yang, bahkan di sini dalam hidup ini, diganjari dengan begitu berlimpah!
“Ya Yesus, bukti kasih terlebih besar apakah yang dapat Engkau berikan kepadaku selain dari memilihkan bagiku segala yang Kau kehendaki bagi Diri-Mu Sendiri? Mati atau menderita: inilah yang harus aku rindukan.” (St Teresa dari Yesus, Jalan Kesempurnaan, 18 - Hidup, 33-11).
“Ya Kristus yang Tesalib, Engkau saja cukuplah bagiku; bersama-Mu aku rindu untuk menderita dan beristirahat! Anugerahilah kiranya agar aku disalibkan bersama-Mu jasmani dan rohani, dan diperkenankan hidup dalam kehidupan ini dalam kepenuhan dan kepuasan jiwaku, memilikinya dalam kesabaran.
“Ajarilah aku untuk mencintai pencobaan-pencobaan dan menganggapnya sebagai tiada berarti demi mendapatkan kasih karunia-Mu, ya Tuhan, yang tiada ragu untuk mati demi aku. Ya Kekasih-ku, semua yang sulit dan berat aku inginkan bagi diriku sendiri, dan semua yang manis dan enak aku inginkan bagi-Mu.” (St Yohanes dari Salib, Kaidah Rohani, II, 13,8,15,52).
sumber : “Divine Intimacy: Fortitude and Patience by Fr. Gabriel of St. Mary Magdalen, O.C.D.”
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|