|
Keakraban Ilahi:
MENGAMALKAN KESABARAN
oleh: P. Gabriel dari St. Maria Magdalena, O.C.D.
Ya Tuhan, berilah aku lebih banyak kesabaran agar aku dapat menanggung lebih banyak demi kasih kepada-Mu.
MEDITASI
1. Kesabaran merupakan keutamaan yang sangat penting dan dibutuhkan sehari-hari. Seperti kita membutuhkan makanan untuk hidup, demikianlah setiap hari, bahkan setiap saat, kita membutuhkan kesabaran, sebab setiap hari dan setiap saat membawa bersamanya pencobaannya masing-masing. Kita menjadi sabar dengan melakukan tindak kesabaran, yakni, dengan membiasakan diri kita menerima dengan damai segala yang bertentangan dengan kita dan membuat kita menderita. Akan tetapi, apabila, daripada menerima hal-hal yang menjengkelkan itu, kita mempergunakan segala cara yang mungkin untuk menghindarinya, kita tidak akan pernah mencapai kesabaran. Sebagai misal, ketika di tempat kerja kita bertemu dengan seorang yang berselisih dengan kita, atau mungkin kita diberi suatu tugas yang sulit atau tak menyenangkan; jika dalam keadaan ini atau keadaan serupa kita melakukan upaya terbaik kita untuk membebaskan diri sesegera mungkin, dengan meminta perubahan, kita menjauhkan diri dari kesempatan berharga yang disediakan bagi kita oleh Allah Sendiri untuk membuat kita mempraktekkan keutamaan kesabaran. Dalam kasus-kasus tertentu adalah diperbolehkan dan bahkan merupakan suatu kewajiban untuk mengajukan masalah-masalah kita kepada atasan kita dan untuk dengan rendah hati memohon pemecahan masalah, akan tetapi hendaknya jangan pernah kita mendesak untuk mendapatkannya bagaimanapun caranya. Sebaliknya, kita perlu berpikir bahwa Penyelanggaraan Ilahi telah mengatur keadaan ini demi membantu kita memperoleh kesabaran yang belum kita miliki. Suatu ketika St Filipus Neri mengeluh kepada Tuhan sebab ia harus berhadapan dengan seorang yang sangat meremehkan dan tidak menyenangkan. Tuhan menjawabnya secara batin, “Filipus, engkau memohon kesabaran. Inilah sarana untuk mencapainya.”
Allah pasti memberikan keutamaan yang kita minta dari-Nya, tetapi hanya dengan syarat bahwa kita menggunakan sarana-sarana yang Ia berikan kepada kita, dan mempraktekkan keutamaan itu dengan pertolongan rahmat-Nya. Barangsiapa rindu menjadi seorang kudus tidak akan antusias menghindari kesempatan-kesempatan untuk melatih kesabaran, melainkan akan menyambutnya, mengenalinya kesempatan-kesempatan tersebut sebagai sarana-sarana yang ditawarkan Allah bagi pengudusannya. Dan bagaimanakah seorang makhluk belaka berani berharap untuk mengubah apa yang telah diatur “menurut ukuran, jumlah dan timbangan” (Kebijaksanaan 11:21) oleh kebijaksanaan Allah yang tak terhingga?
2. Allah dapat mendatangkan yang baik dari yang jahat; sebab itu, sungguh, Ia dapat mempergunakan kesalahan-kesalahan kita dan bahkan dosa-dosa kita dan dosa-dosa orang-orang lain, untuk membuat kita mempraktekkan kesabaran: kesabaran terhadap diri sendiri, melihat diri kita begitu rapuh, begitu tak sempurna, begitu rentan jatuh, namun dengan rendah hati menyadari kesalahan-kesalahan kita dan menanggung konsekuensinya dengan damai; kesabaran terhadap orang-orang lain, bersabar terhadap kerapuhan mereka, berbelaskasihan terhadap kelemahan-kelemahan masing-masing orang, dan menerima tanpa jengkel ketidaknyamanan dan penderitaan yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan mereka. Sebagai misal, ketika seseorang mengganggu atau memancing emosi kita, janganlah kita berhenti untuk memikirkan perilakunya, sebab itu akan membangkitkan kejengkelan kita, membuat kita semakin sulit untuk mempraktekkan kesabaran. Sebaliknya, hendaknyalah kita mengalihkan pandangan kita dari makhluk dan mengarahkannya kepada Allah yang mengijinkan pertentangan ini demi membuat kita maju dalam keutamaan. Hendaknya kita juga menghindari keluh-kesah mengenai penderitaan kita kepada orang-orang lain, atau bahkan kepada diri sendiri. Keluh-kesah selalu membuat hati pahit, tetapi terimalah pencobaan-pencobaan dengan tenang. “Menderita dan diam demi Engkau, ya Allah-ku” (St Teresa Margareta dari Hati Yesus) adalah moto jiwa sabar yang rindu untuk menyelaraskan perilakunya dengan perilaku Yesus dalam Sengsara-Nya: “Ia dikurbankan … dan tidak membuka mulut-Nya” (Yesaya 53:7). Jika kita merasa perlu sedikit bantuan dalam menanggung suatu pencobaan, marilah kita membicarakannya hanya kepada mereka yang akan menyemangati kita untuk menderita demi kasih kepada Allah, dan tidak kepada mereka yang akan memberi kita hanya penghiburan dan simpati manusiawi, dan dengan demikian mengobarkan kejengkelan kita terhadap mereka yang membuat kita menderita.
Segenap para kudus antusias beroleh kesempatan-kesempatan untuk menderita yang begitu antusias kita hindari. Marilah kita merenungkan St Jane Frances de Chantal yang memilih untuk hidup selama bertahun-tahun di rumah ayah mertuanya, di tengah pelecehan dan fitnah seorang pembantu yang juga beupaya untuk membahayakan hidup anak-anaknya. Marilah merenungkan St Yohanes dari Salib yang, bebas untuk memilih biara di mana ia akan melewatkan hari-hari terakhir hidupnya, menjatuhkan pilihan pada biara yang superiornya memusuhinya. Inilah teladan kegagahberanian para kudus - kegagah-beranian yang tak dimiliki oleh jiwa yang tak memiliki kehendak baik dan kegagah-beranian ke mana semua orang dipanggil oleh Allah, kegagah-beranian yang, jika kita sungguh ingin bermurah hati, harus kita persiapkan dengan penuh kasih menerima semua yang membuat kita menderita.
PERCAKAPAN
“Ya Tuhan, kami rindu melayani dan menyenangkan-Mu; ya, namun kami tak hendak menderita apapun. Kendati demikian pastilah kami jauh lebih menyenangkan-Mu apabila seturut teladan-Mu dan demi kasih kepada-Mu, kami menanggung penderitaan dalam melayani-Mu. Penderitaan begitu mulia dan berharga, ya Sabda yang kekal, sehingga ketika Engkau ada di pelukan Bapa, berlimpah-ruah dalam segala kekayaan dan sukacita Firdaus tetapi tanpa dihiasi dengan jubah penderitaan, Engkau datang ke dunia untuk mengenakan pada Diri-Mu jubah penderitaan. Engkau Allah dan tak dapat ditipu; sebab Engkau telah memilih penderitaan keji, aku juga merindukannya demi kasih kepada-Mu. Sebab itu, aku mohon dengan sangat kepada-Mu, ya Tuhan, untuk mengijinkanku mengalami penderitaan ini yang tak diringankan dengan penghiburan apapun, dan dengan mengandalkan kebaikan-Mu, aku percaya bahwa Engkau akan menganugerahkan rahmat ini sebelum aku mati.
“Tetapi demi mendapatkan manfaat dari penderitaan, ajarilah aku untuk menerimanya dalam keterpaduan total dengan kehendak-Mu; jika tidak, penderitaan-penderitaan itu akan menjadi beban yang berat dan tak tertahankan. Akan tetapi, apabila suatu jiwa menyerahkan diri seutuhnya ke dalam pelukan kehendak-Mu, maka jiwa mendapati kekuatan di tengah dukacitanya, dan bahkan jika Engkau meninggalkannya dalam kegelapan untuk beberapa waktu lamanya, segera kesedihannya akan berubah menjadi sukacita, sebab tiada kesenangan dunia yang akan ditukarnya dengan penderitaan ini.
“Oh, terberkatilah, berbahagialah dan mulialah dia yang menderita demi kasih kepada-Mu, ya Sabda yang kekal, sebab - adakah aku berani mengatakanya? - selama kami di bawah sini, adalah hal yang terlebih besar menderita demi Engkau daripada memiliki Engkau, sebab dengan memiliki Engkau, kami masih dapat kehilangan Engkau, tetapi jika kami menderita demi kasih kepada-Mu, itu akan menghantar kami ke kehidupan kekal di mana kami tiada akan pernah dapat kehilangan Engkau.” (St Maria Magdalena de Pazzi)
sumber : “Divine Intimacy: The Practice of Patience by Fr. Gabriel of St. Mary Magdalen, O.C.D.”
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|