|
Kesabaran
oleh: P. Nicolás Schwizer
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa buah-buah Roh adalah kesempurnaan yang Roh Kudus hasilkan di dalam kita sebagai buah-buah sulung kemuliaan abadi. Tradisi Gereja menyebutkan duabelas macam: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, kerendahan hati, kesederhanaan dan kemurnian” (Katekismus Gereja Katolik 1832). Lebih jauh Kitab Suci mengungkapkan betapa kesabaran Allah terhadap kita. Tentu saja Allah bersabar terhadap anak-anak-Nya. Allah sabar menghadapi cacat-cela kita dan membiarkan umat manusia terus berkembang biak memenuhi bumi kendati perilaku kita yang jahat.
Adalah Roh Allah yang sabar terhadap kita dan yang sekarang datang kepada kita. Dari Roh Kudus hendaknyalah kita belajar untuk bersabar satu terhadap yang lain seperti Allah bersabar terhadap kita. Kitab Kebijaksanaan mengajarkan: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16: 32). Dalam surat-suratnya, Santo Paulus menekankan lagi dan lagi mengenai pentingnya keutamaan penguasaan diri dan kesabaran. Ia mengundang kita untuk mengenakan kesabaran, bersabar seorang terhadap yang lain demi kasih, dan mengampuni seorang akan yang lain (Kolose 3:12; Efesus 4:2; 1 Tesalonika 5:14; 1 Korintus 13:4).
Sabar Terhadap Mereka yang Kita Kasihi
Kita semua mempunyai pengalaman berikut: Semakin kita akrab dengan seseorang, maka semakin sering terjadi perselisihan, kejengkelan, dan perilaku yang tak menyenangkan. Mari berpikir mengenai pasangan kita, anak-anak kita, sanak saudara yang tinggal bersama kita, rekan-rekan kerja kita, dan teman sahabat kita. Hubungan tulus dan penguasaan diri dasar terhadap orang tersebut tetap, tetapi penghargaan permanen terhadapnya ternoda oleh kejengkelan sehari-hari.
Banyak yang dapat dilakukan untuk mengurangi perselisihan dan memperbaiki kualitas hidup bersama: dialog, saling terbuka, jujur, saling mengoreksi dan menerima satu sama lain. Banyak yang dapat dilakukan, tetapi itu semua harus didasarkan pada pokok utama kesabaran, toleransi, dan kemurnian serta kesungguhan untuk bersabar satu sama lain sebab pada hakekatnya, kita tahu bahwa situasinya tidak akan pernah ideal bagi kita sendiri atau bagi orang lain.
Oleh karena itu, apa yang harus kita lakukan adalah mengatasi halangan dan rintangan yang tak terelakkan dengan kerelaan untuk menerima.
Semua perlu waktu. Buah-buahan matang secara perlahan. Alam mempunyai waktunya sendiri dan musim-musim tak dapat diminta bergegas. Demikian pula halnya dengan perkembangan rohani. Perlu waktu, hingga Roh Kudus secara perlahan-lahan mempertobatkan kita, sedikit untuk satu waktu, sampai pada penguasaan kesabaran.
SABAR MENDENGARKAN
Mereka semua yang ada di sekeliling kita, masing-masing dan tiap-tiap dari mereka, adalah bagai seorang malaikat dari Allah yang menyampaikan pesan-Nya kepada kita. Bagaimanakah aku bersikap dalam mendengarkan sabda Allah yang datang kepadaku melalui sarana orang-orang lain? Pertama-tama, karena kasih, ia adalah sabda Allah bagi saya, tetapi juga karena kerinduan-kerinduan, kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalahnya.
Semuanya adalah sabda Allah yang memanggilku: gerak isyarat kasih orang lain memanggilku untuk mengucap syukur, kerinduan dan kebutuhan orang-orang lain memanggilku untuk melayani, masalah-masalah mereka memangilku untuk mambantu dengan solusi dan kesediaan berbagi.
Adakah aku mendengarkan sabda Allah itu yang datang kepadaku melalui orang-orang lain? Allah ingin mengatakan sesuatu kepadaku! Apabila aku merasa ada sesuatu dari Allah dalam apa yang disampaikan orang kepadaku, adakah aku menangkap pesannya, adakah aku membuka hati agar sabda itu dapat menemukan suatu tempat tinggal dalam diriku?
Kita perlu mendengarkan orang-orang lain, tetapi kita juga perlu berbicara kepada orang-orang lain. Ada saat-saat di mana Allah ingin berbicara kepada seseorang melalui kita. Jadi berbicara adalah suatu kewajiban Kristiani. Berdialog adalah suatu kewajiban Kristiani. Jadi, aku adalah sabda bagi orang lain yang perlu didengarkan orang lain untuk bertumbuh. Jika aku tidak berbicara kepada orang-orang lain, maka aku menolak menjadi sabda Allah ... Kabar Gembira ... Injil Tuhan bagi mereka.
PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN
1. Adakah aku menganggap diriku sebagai seorang yang sabar? Dalam hal ini, bagaimanakah pandangan orang-orang lain terhadapku?
2. Adakah aku mempunyai saat-saat doa untuk mendengarkan apa yang Allah sampaikan kepadaku melalui peristiwa-peristiwa atau orang-orang?
3. Adakah aku mendengarkan dengan suka hati ketika orang-orang lain berbicara?
DOA ST FRANSISKUS
TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai;
bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih;
bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan;
bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan;
bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran;
bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian;
bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan;
bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang;
bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
Ya Tuhan Allah,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni;
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.
sumber : “Patience” by Father Nicolás Schwizer
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|