|
KESABARAN Menurut Para Kudus
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” ~ Matius 10:38
1. Salib adalah pintu gerbang sejati melalui mana kita masuk ke dalam bait kekudusan; dan tidak ada cara lain apapun yang memungkinkan orang masuk ke dalamnya. Oleh karena itu, kita perlu lebih dari sekali mengurbankan hati kita demi kasih kepada Yesus, di atas altar Salib yang sama di mana Ia mengurbankan kasih-Nya bagi kita.
Aku akan menganggap semua kekeringan, kegelisahan, dan segala pencobaan yang datang atasku dalam doa sebagai kemartiran, dan aku akan menanggungnya dengan sabar. ~ P Alvarez
Semua yang dicintai dunia, seperti kenikmatan, hormat, pujian dan kekayaan, adalah salib bagiku; dan semua yang dianggap dunia sebagai salib, aku cari dan peluk dengan kasih mesra. ~ St Bernardus
2. Jika engkau lihat bahwa engkau belum menderita pencobaan-pencobaan, anggaplah pasti bahwa engkau belum mulai menjadi seorang hamba Allah yang sejati; sebab Rasul dengan jelas mengatakan bahwa semua yang memilih untuk hidup saleh dalam Kristus, akan menderita aniaya. ~ St Agustinus
3. Dengan menetapkan keselamatan kita melalui penderitaan, Putra Allah bermaksud mengajarkan kepada kita bahwa tiada suatupun dalam diri kita yang layak untuk memuliakan Allah dan untuk memurnikan jiwa kita seperti penderitaan. Ya, ya, menderita demi kasih kepada Tuhan adalah jalan kebenaran! Oleh sebab itu, semakin orang dapat menderita, semakin biarkan ia menderita, sebab ia akan menjadi yang paling beruntung dari semua; dan barangsiapa tidak berketatapan hati dalam hal ini, tidak akan pernah mencapai kemajuan yang berarti. ~ St Teresa
4. Jalannya sempit. Barangsiapa hendak berjalan di atasnya dengan mudah haruslah terbebas dari segala hal, dengan bersandar pada tongkat Salib; yakni tekad teguh untuk bersedia menderita dalam segala hal demi kasih kepada Allah. ~ St Yohanes dari Salib
5. Jika seorang, ya Tuhan mempersembahkan suatu pelayanan untuk-Mu, Engkau mengganjarinya dengan pencobaan. Oh, betapa ini ganjaran yang tak ternilai bagi mereka yang sungguh mengasihi-Mu, andai saja mereka dianugerahi pengetahuan akan nilainya! ~ St Teresa
Ketika Venerabilis Marco di Palfox melihat bahwa setelah ia melakukan suatu pekerjaan baik, pencobaan, makian, dan kemalangan menimpanya, ia menganggap semua itu sebagai suatu anugerah istimewa dari Tuhan: “Sebab aku tidak menerima ganjaran di dunia, ini merupakan pertanda bahwa Allah bermaksud mengganjariku sepenuhnya di surga.”
Suatu ketika Tuhan menampakkan diri kepada St Clara di Montefalco dan menawarinya hadiah sebuah salib yang tergantung dari leher-Nya. Sang santa menerima hadiah dengan penghiburan besar; dan terukirlah di hatinya sebuah gambar salib seukuran sebuah jari. Ia merahasiakan hal ini dengan begitu baik hingga, di saat ajalnya, ketika salah seorang biarawati sedang mencari sebuah salib di atas tempat tidur, ia mengatakan kepadanya, “Ambillah hatiku, engkau akan menemukan salib di sana. Sesungguhnya, salib ditemukan di sana sesudah wafatnya.
6. Wahai kalian jiwa-jiwa yang terus menginginkan begitu banyak kenyamanan dan penghiburan, andai kalian tahu betapa Allah berkenan pada penderitaan, dan betapa penderitaan akan membantumu dalam memperoleh hal-hal baik lainnya, kalian tidak akan pernah mencari penghiburan dalam apapun juga; melainkan kalian akan menganggap suatu kebahagiaan besar dapat memikul Salib seturut teladan Tuhan. ~ St Yohanes dari Salib
Suatu ketika Tuhan menjawab doa St Gertrude: “Puteri-Ku, engkau tidak akan pernah dapat memberikan persembahan yang terlebih besar kepada-Ku kapan pun juga selain dari menanggung dengan sabar, demi menghormati Sengsara-Ku, pencobaan apapun yang mungkin menimpamu, entah jasmani ataupun rohani, senantiasa memaksa dirimu untuk melakukan segala hal yang paling bertentangan dengan keinginanmu sendiri.”
Suatu hari Tuhan menampakkan diri kepada St Teresa dan menyampaikan hal berikut: “Ketahuilah bahwa jiwa-jiwa yang paling berkenan bagi Bapa SurgawiKu adalah jiwa-jiwa yang dicobai dengan penderitaan-penderitaan dan kesengsaraan terbesar!”
7. Satu gram Salib bernilai lebih dari sejuta kilogram doa. Satu hari penyaliban bernilai lebih dari seratus tahun segala praktek keutamaan lainnya. Adalah lebih bernilai tinggal sesaat di atas Salib, daripada mencicipi sukacita Firdaus. ~ Ven. Sister Maria Vittoria Angelini
8. Satu “Syukur kepada Allah,” atau satu “Terpujilah Allah,” dalam kesengsaraan, bernilai lebih dari seribu ucapan syukur dalam kesejahteraan. ~ P. M. d' Avila
9. Suatu ketika Tuhan menampakkan diri kepada Beata Baptista Verrani dan mengatakan kepadanya: “Percayalah, Puteri-Ku, bahwa Aku menunjukkan kasih yang terlebih besar dengan mengirimkan penderitaan-penderitaan kepadamu, daripada dengan melimpahkan segala bentuk kebaikan atasmu. Dengan apakah Aku dapat lebih menunjukkan kasih-Ku selain dari menginginkan bagimu apa yang Aku pilih bagi Diri-Ku Sendiri? Ketahuilah bahwa menjauhkan diri dari dosa adalah sungguh baik, melakukan perbuatan-perbuatan baik lebih baik lagi, tetapi yang terbaik dari semuanya adalah menderita.”
10. Begitu melihat salib di mana ia akan disalibkan, St Andreas Rasul, dipenuhi sukacita, berseru dengan lantang: “Oh salib yang begitu kurindukan, begitu kucintai dan begitu kudambakan! Lihatlah bagaimana aku datang kepadamu dengan penuh keyakinan dan sukacita! Ambillah aku dari antara manusia, dan kembalikanlah aku kepada Tuan-ku, agar dengan saranamu Ia berkenan menerimaku, Ia yang dengan saranamu menebusku.”
Suatu ketika Tuhan mengatakan kepada St. Gertrude: “Semakin engkau dicobai, dan semakin jalan hidupmu dicela tanpa kesalahan dari pihakmu sendiri, semakin engkau berkenan bagi-Ku, sebab dengan demikian engkau semakin serupa dengan-Ku; oleh karena barangsiapa semakin serupa dengan raja, biasanya ia semakin disayang olehnya; dan Aku hidup dalam penderitan yang terus-menerus, dan ditentang dalam segala yang Aku lakukan.”
Ketika St Matilda menderita suatu sakit parah, Yesus Kristus datang kepadanya dan mengatakan bahwa apabila Ia melihat orang-orang yang menderita dan tersiksa hebat, Ia akan memeluk mereka dengan tangan kiri-Nya, untuk menarik mereka sangat dekat ke hati-Nya.
11. Tak ada pertanda yang terlebih nyata bahwa seseorang adalah seorang kudus dan termasuk dalam bilangan orang-orang pilihan, selain dari melihatnya mengamalkan hidup saleh dan pada saat yang sama menjadi korban kemalangan, penderitaan dan pencobaan-pencobaan. ~ St Aloysius Gonzaga
St Teresa suatu ketika menerima derma dari seorang saudagar yang mempercayakan dirinya pada doa-doa sang santa. Selang tak lama kemudian, St Teresa mengatakan kepadanya: “Aku telah mendoakanmu, dan telah dinyatakan kepadaku bahwa namamu tertulis dalam Kitab Kehidupan; dan sebagai tanda, tak suatupun di masa mendatang yang akan terus jaya denganmu.” Dan terjadilah demikian; sebab, dalam waktu singkat, semua kapal-kapalnya hilang dan ia jatuh bangkrut. Ketika para sahabat mendengar malapetaka ini, mereka menyediakan sebuah kapal untuknya, yang juga segera karam. Kemudian, seturut kerelaannya sendiri, ia dijebloskan ke dalam penjara orang-orang yang terbelit hutang. Akan tetapi, orang-orang yang memberinya pinjaman, tahu betapa ia seorang yang baik, tak hendak melihatnya celaka dan membebaskannya dari penjara. Dengan menjadi begitu miskin, ia mengakhiri hidupnya sebagai seorang kudus, puas hanya dengan Allah saja.
12. Apabila Allah membiarkanmu begitu banyak menderita, itu adalah suatu pertanda bahwa Ia mempunyai rancangan-rancangan besar untukmu, dan bahwa Ia pastilah bermaksud menjadikanmu seorang kudus. Dan jika engkau rindu menjadi seorang kudus yang besar, mohonlah dengan sangat kepada-Nya untuk memberimu banyak kesempatan untuk menderita; sebab tak ada kayu yang terlebih baik untuk menyalakan api kasih yang suci selain dari kayu salib, yang dipergunakan Kristus untuk kurban-Nya Sendiri yang agung dari kasih-Nya yang tak terhingga. ~ St Ignatius Loyola
13. Tak ada ujian yang terlebih baik untuk membedakan sekam dari bulir-bulir gandum, dalam Gereja Allah, selain dari cara dengan mana pencobaan-pencobaan, pertentangan dan penghinaan ditanggung. Barangsiapa tetap teguh dalam situasi-situasi ini, ialah bulir-bulir gandum. Barangsiapa bangkit melawannya ialah sekam; dan semakin ringan dan semakin tak ada isinya, semakin ia tinggi menjulang - yakni, semakin ia gelisah, semakin sombong ia menjawab. ~ St Agustinus
Seorang yang berkedudukan tinggi datang sendiri menghadap St. Francis de Sales untuk meminta suatu jabatan bagi seorang imam yang mengaguminya. Sang santo menjawab bahwa mengenai jabatan ia tak dapat menjanjikan apa-apa, sebab ia telah memutuskan bahwa jabatan akan diberikan hanya sesudah pemeriksaan yang kompetitif; tetapi bahwa ia tak akan melupakan rekomendasinya, jika imam tersebut bersedia diperiksa oleh yang lain. Si petinggi, yang cepat naik darah, yakin bahwa itu hanyalah suatu dalih untuk menolak; ia mendakwa St Fransiskus sebagai bermuka dua dan munafik, dan bahkan mengancamnya. Ketika melihat bahwa perkataan halus tak ada gunanya, orang kudus kita meminta dengan sangat agar si petinggi tidak berkeberatan atas setidaknya suatu pemeriksaan pribadi; dan karena si petinggi masih tidak puas, “Jadi,” kata St Fransiskus, “engkau ingin aku mempercayakan kepadanya sebagian dari tanggung-jawabku dengan mata tertutup? Pikirkanlah apakah itu adil!” Mendengar ini, si petinggi mulai menaikkan suaranya dalam amarah, dan melontarkan segala macam makian kepada uskup yang kudus ini, yang menerima semuanya dengan diam seribu bahasa. Seorang teman, yang hadir di sana, menanyakan sesudah peristiwa itu bagaimana St Fransiskus dapat menanggung makian yang begitu hebat tanpa menunjukkan kemarahan sedikitpun. “Janganlah heran karena hal itu,” kata sang santo, “sebab bukan dia yang berbicara, melainkan amarahnya. Di luar ini dia adalah salah seorang sahabatku terkasih, dan engkau akan lihat bahwa sesudah beberapa waktu keheninganku itu akan menambah kasihnya kepadaku.” “Tetapi apakah engkau tidak merasakan kemarahan sama sekali?” kejar kenalannya. “Aku mengalihkan pikiranku ke hal lain,” jawabnya, “membuat diriku mengenangkan sifat-sifat baik orang ini, yang persahabatannya begitu aku hargai.” Selang beberapa waktu, si petinggi datang dan mohon maaf, bahkan dengan airmata berlinang, dan mereka menjadi sahabat yang terlebih akrab dari sebelumnya.
14. Adalah pasti bahwa roh benar condong mengalami penderitaan, kekeringan, penghinaan dan pencobaan-pencobaan, daripada hubungan yang manis dan menyenangkan; sebab roh tahu bahwa keadaan-keadaan pertama menyertai Kristus dan bahwa penyangkalan diri begitu ditekankan oleh Tuhan. ~ St Yohanes dari Salib
Tuhan menampakkan diri kepada St Katarina dengan dua mahkota di tangan-Nya; yang satu mahkota emas dan yang lain mahkota duri. Tuhan memintanya memilih yang mana ia suka. St Katarina memilih yang kedua. Sejak saat itu ia memiliki cinta mendalam terhadap penderitaan dan pencobaan hingga ia mengatakan: “Tak ada suatupun yang begitu menghiburku, dan yang memberiku begitu banyak kebahagiaan, selain dari penderitaan dan salib, dan tampak bagiku bahwa andai tiada padaku topangan ini dari waktu ke waktu maka pastilah aku akan mengamalkan hidup yang paling celaka di dunia; dan andai Tuhan memberiku pilihan apakah pergi sekarang ke Surga atau tinggal sedikit lebih lama di sini untuk menderita, maka aku akan memilih yang kedua daripada yang pertama, sebab aku tahu betapa kemuliaan bertambah dengan penderitaan.”
15. Mereka yang telah tiba pada kesempurnaan, dan teristimewa kontemplatif sejati, tidak meminta Tuhan untuk membebaskan mereka dari godaan dan pencobaan. Malahan mereka merindukan dan mengagungkannya sebagaimana dunia mengagungkan emas dan permata, sebab mereka tahu bahwa inilah yang akan menjadikan mereka kaya. ~ St Teresa
16. Keraplah mencium salib-salib yang Tuhan kirimkan kepadamu, dan dengan segenap hatimu, tanpa memikirkan apapun bentuknya; sebab semakin hina dan kejam, semakin layak mereka mendapatkan namanya. Ganjaran salib tidak terletak pada beratnya, melainkan dalam cara dengan mana ia dipikul. Dapat terjadi keutamaan yang lebih besar datang dengan menanggung salib dari jerami daripada salib yang keras dan berat, sebab salib-salib yang ringan adalah juga yang paling tersembunyi dan tak dipandang mata, dan karenanya paling tidak sesuai dengan kecondongan kita, yang senantiasa mencari apa yang kelihatan. ~ St Fransiskus de Sales.
Dikisahkan dalam Riwayat St Dominikus mengenai seorang novis Ordo tersebut yang wafat dalam Biara Argentina dan yang sekonyong-konyong membuka matanya sementara para biarawan sedang mendaraskan doa-doa terakhir bagi jiwanya, dan berkata, “Dengarlah, saudara-saudara terkasih. Aku seperti seorang yang pergi ke pasar malam dan membeli banyak barang hanya dengan sedikit uang. Lihatlah, aku menerima Kerajaan Allah karena sedikit pencobaan-pencobaan, dan aku tidak melihat bagaimana aku layak karenanya.” Sesudah berkata demikian, ia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan.
St Yohanes Klimakus mengatakan bahwa ia mendapati dalam sebuah biara seorang biarawan yang menerima penitensi-penitensi kecil dari Superior untuk kesalahan-kesalahan remeh, dan perlakuan kasar serta congkak dari hampir seluruh biarawan lainnya. Santo kita menunjukkan simpati kepadanya dan bermaksud menghiburnya; tetapi pemuda saleh itu mengatakan: “Bapa, janganlah repot-repot. Mereka memperlakukanku seperti ini, bukan karena disposisi mereka jahat dan tanpa cinta kasih, melainkan Tuhan mengijinkannya terjadi demi melatihku dalam kesabaran, yang diperlukan untuk menunjukkan apakah aku melayani Allah dengan sungguh. Tentu saja aku tak punya alasan untuk mengeluh, sebab bahkan emas tak dapat menjadi sempurna tanpa diuji.” Dua tahun kemudian, tambah Abbas yang kudus, pemuda ini pergi ke kehidupan yang lebih baik, dengan mengatakan kepada saudara-saudaranya sebelum ia wafat: “Aku mengucap syukur kepada Yesus Kristus dan kepada kalian, para Bapa, dan aku memberi kesaksian bahwa melalui cobaan yang kalian berikan demi keuntungan dan kemajuanku, aku telah hidup bebas dari jerat si jahat, dan sekarang pergi dalam damai.”
Dalam Riwayat Para Bapa, dikisahkan mengenai seorang biarawan kudus yang setiap malam menyampaikan suatu pengajaran kepada muridnya, dan sesudah itu menyuruhnya beristirahat. Sekarang, suatu malam sementara menyampaikan pengajaran, si biarawan tua tertidur, dan si novis yang baik, sementara menantinya terjaga kembali, begitu dicobai oleh ketidaksabaran dan untuk pergi tidur. Akan tetapi, ia berhasil menaklukkan dirinya, tujuh kali, dengan ketulusan dan kesungguhan. Tengah malam, biarawan tua terbangun dan menyuruhnya tidur. Sementara memanjatkan doa-doa malamnya, Bapa tua ini mendapat penglihatan akan seorang malaikat yang menunjukkan kepadanya sebuah tahta yang amat indah dengan tujuh mahkota di atasnya. Menanggapi pertanyaan si biarawan, malaikat mengatakan bahwa semua itu diperuntukkan bagi muridnya, yang telah memperolehnya malam itu dengan kemenangannya melawan tujuh pencobaan. Ketika keesokan harinya sang murid menceritakan semua yang terjadi, sang biarawan terperangah kagum melihat betapa berlimpah Allah mengganjari segala perbuatan baik kita.
17. Andai saja kita tahu betapa harta berharga tersembunyi dalam kerapuhan jasmani, kita akan menerimanya dengan sukacita sebagaimana kita menerima anugerah terbaik, dan kita akan menanggungnya tanpa keluhan atau tanda ketidaksenangan. ~ St Vincentius de Paul
Santo kita ini dicobai oleh kerapuhan jasmani yang bercokol lama dan sangat menyakitkan, yang sering menghambatnya dalam menggunakan kedua kaki dan tangannya, dan yang tak membiarkannya beristirahat siang ataupun malam. Ia menanggung semua dengan ketenangan yang tak terkatakan, dan berbicaar dengan wajah yang ramah dan damai yang sama seperti ia sehat adanya. Sepatah kata keluhan tak pernah terlontar dari bibirnya, melainkan ia memuji dan mengucap syukur terus-menerus kepada Allah sebab telah mengirimkan penderitaan-penderitaan ini, dan memandangnya sebagai anugerah istimewa. Hal yang dilakukannya apabila sakit menyerang hebat adalah berpaling kepada salib dan membangkitkan dalam dirinya kesabaran dengan aspirasi-aspirasi batin yang saleh. Jika ia toh harus berbicara mengenai penderitaannya ini, ia menyinggungnya sebagai hal yang tidak penting, mengatakan bahwa penderitaannya kecil dibandingkan dengan apa yang sepatutnya layak baginya, atau dengan apa yang Yesus derita demi kasih kepada kita.
18. Ada sebagian orang sakit yang bersedih dan meratap bukan terutama karena penderitaan mereka sendiri, melainkan karena apa yang mereka akibatkan bagi orang-orang di sekeliling mereka, dan karena mereka tak dapat menyibukkan diri dalam perbuatan-perbuatan baik, dan terisimewa dalam doa, sebagaimana dapat mereka lakukan jika mereka sehat. Dalam hal ini mereka sungguh menipu diri sendiri, sebab mengenai problem yang mereka timbulkan bagi orang-orang lain, barangsiapa sungguh sabar akan menghendaki segala yang Allah kehendaki, dan dengan cara dan dengan kesusahan sebagaimana Ia kehendaki; mengenai pekerjaan-pekerjaan, satu hari penderitaan yang ditanggung dengan penyerahan diri bernilai lebih dari satu bulan kerja keras; dan mengenai doa, yang manakah lebih baik: tinggal di atas Salib bersama Kristus, atau tinggal di kaki salib dan merenungkan sengsara-Nya? Di samping itu, mempersembahkan kepada Tuhan kesakitan-Nya Sendiri, mengenangkan bagi siapa itu semua ditanggung, dan menyelaraskan diri kita dengan kehendak-Nya yang kudus, sungguh pasti suatu doa yang sangat luar biasa. ~ St Fansiskus de Sales
Ketika St Fransiskus menderita suatu sakit yang sangat akut di kedua matanya, ia tak hentinya mengucap syukur kepada Allah, dan berdoa kepada-Nya untuk bertekun dalam pelayanan kepada-Nya. Suatu hari Tuhan mengatakan kepadanya: “Besukacitalah, Fransiskus, sebab harta pusaka kehidupan kekal telah dipersiapkan untukmu, dan sakit ini adalah tanda janji untuk itu.” Ketika St Vincentius de Paul sakit parah, ia biasa memparaktekkan suatu metoda doa yang mudah dan menyenangkan, dan sekaligus bermanfaat. Yakni tinggal tenang di hadapan Allah, tanpa memaksakan intelektualnya bekerja, hanya mendorong jiwanya kerap melakukan tindak penyerahan pada kehendak Allah, membangkitkan kepercayaan, kasih atau syukur.
19. Perhatikanlah bahwa kita dapat memperoleh lebih banyak dalam satu hari dengan pencobaan-pencobaan yang datang dari Allah dan sesama, dibandingkan yang dapat kita peroleh dalam sepuluh tahun dengan penitensi dan praktek-praktek lain, yang kita timpakan atas diri kita sendiri. ~ St Teresa
Seorang malaikat suatu hari menampakkan diri kepada Beato Henry Suso, dan menawarkan kepadanya sebuah perisai, sebilah tombak, dan paku-paku, dengan mengatakan, “Hingga saat ini engkau telah berperang dalam infanteri, dan sekarang engkau akan menggabungkan diri dengan Kalvari; hingga saat ini engkau telah melakukan matiraga atas pilihanmu sendiri, sekarang engkau akan dimaritagakan oleh deraan lidah-lidah keji; hingga saat ini engkau telah menikmati susu dari dada Kristus, sekarang engkau akan dimabukkan oleh empedu-Nya; hingga saat ini engkau memuaskan manusia, sekarang mereka akan bangkit melawanmu.” Keesokan harinya, sementara hamba Allah ini sedang memeditasikan penglihatan ini, ia merasa terdorong untuk pergi ke jendela, dan memandang ke luar, ia melihat seekor kambing di halaman dengan kain compang-camping di mulutnya, yang ditariknya dan dicabik-cabiknya. Kemudian ia mendengar suatu suara yang mengatakan: “Demikianlah engkau akan dicabik-cabik oleh mulut orang-orang lain.” Kemudian, ia turun ke bawah dan mengambil kain itu, yang dsisimpannya sebagai tanda janji berharga dari salibnya.
20. Tuhan mengirimkan penderitaan dan kerapuhan jasmani kepada kita guna memberi kita sarana untuk membayar hutang-hutang kita yang luar biasa besar kepada-Nya. Oleh sebab itu, mereka yang berakal sehat menerimanya dengan sukacita, sebab mereka lebih memikirkan kebaikan yang dapat mereka peroleh darinya daripada memikirkan sengsara yang mereka alami karenanya. ~ St Vincentius Ferrer
Orang kudus kita ini menjelaskannya dengan sebuah perumpamaan: Adalah seorang raja dengan dua tawanan dalam penjaranya; keduanya berhutang sejumlah besar uang kepada raja. Melihat bahwa mereka tak akan dapat melunasi hutang-hutangnya sebab mereka tidak punya apa-apa, raja melemparkan ke bawah sana sekantong penuh uang ke atas mereka masing-masing dengan begitu keras hingga keduanya merasa kesakitan. Seorang, yang marah atas timpukan ini, menunjukkan ketidaksabarannya tanpa mengindahkan kantong uang; sedangkan yang lain, tidak mengindahkan sakitnya, melainkan menyadari belas kasihan yang dilimpahkan atasnya; ia mengambil kantong uang itu, berterima kasih kepada raja dan membayar hutang-hutangnya dengan uang itu. “Sekarang, hal yang tepat sama terjadi dengan kita,” tambah sang santo. “Kita semua berhutang besar kepada Allah atas begitu banyak kebaikan yang kita terima dari-Nya, dan karena begitu banyak dosa yang telah kita lakukan melawan-Nya, pula kita tidak memiliki apa-apa dari diri kita sendiri untuk membayarnya. Oleh sebab itu, tergerak oleh belas kasihan kepada kita, Ia mengirimkan emas kesabaran kepada kita dalam kantong penderitaan, yang dapat kita pergunakan untuk membayar hutang-hutang kita. Barangsiapa tidak peduli, hanya akan menambah hutang-hutangnya dan mencelakakan dirinya, sekaligus, semakin tak berkenan di hadapan Allah.”
Cesairus menceritakan seorang biarawan Cistercian yang menampakkan diri kepada abbasnya dalam kemuliaan gemilang pada malam sesudah wafatnya. Biarawan tersebut mengatakan: “Ketahuilah, bapaku, sakit dan deraan hebat penyakitku telah menuntaskan bagianku di Purgatorium; dan karenanya aku langsung bangkit dari bumi menuju surga.”
21. Dalam hidup ini tak ada Purgatorium, pun tak ada Firdaus atau Neraka. Ia yang menanggung penderitaan dengan sabar, memiliki Firdaus; tetapi yang tidak, memiliki Neraka. ~ St Filipus Neri
22. Belajarlah, Suster-susterku, untuk menderita sesuatu demi kasih kepada Allah, tanpa membiarkan orang mengetahuinya. ~ St Teresa
23. Barangsiapa merindukan kesempurnaan haruslah berhati-hati untuk tidak mengatakan, “Aku benar. Mereka tak pantas melakukannya terhadapku.” Apabila engkau tak bersedia menanggung salib apapun yang tidak diberikan kepadamu atas dasar kepantasan, maka kesempurnaan bukanlah untukmu. ~ St Teresa
24. Andai kita melihat penderitaan dengan mata seorang Kristen, dan sepenuhnya mengenyahkan dari pikiran kita kabut kebijaksanaan duniawi, yang menyelimuti berkas-berkas iman, dan tak membiarkannya merasuk ke kedalaman jiwa kita; betapa kita patut menganggap diri beruntung difitnah, dan dianggap tak hanya sebagai pemalas dan tak cakap, melainkan bahkan sebagai jahat dan keji! Sungguh, bukankah suatu kebahagiaan besar dianiaya karena berbuat baik, sebab Kristus menyebut berbahagia orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran? ~ St Vincentius de Paul
25. Jika engkau melihat tongkat Musa tergeletak di tanah, maka itu adalah ular yang mengerikan; jika engkau melihatnya di tangan Musa, itu adalah tongkat kuasa. Demikian pula dengan penderitaan. Pikirkan penderitaan-penderitaan itu sendiri, maka semuanya itu mengerikan; pikirkan penderitaan-penderitaan itu dalam kehendak Allah, maka semuanya itu adalah sukacita dan kegembiraan. ~ St Fransiskus de Sales
Dikisahkan dalam Riwayat St Lupus bahwa ketika ia mendengar Attila yang keji sedang dalam perjalanan untuk menjarah kota Keuskupan Troy yang ia pimpin, pada mulanya ia amat ketakutan. Tetapi sesudahnya, berani karena diteguhkan oleh Roh Allah, ia pergi menyongsongnya, dalam jubah kepausan, dengan harapan menguji keberaniannya. Ketika tiba di hadapan Attila, ia menanyakan siapa dia. “Deraan dari Allah,” demikian jawab Attila. Mendengar ini, sang santo berseru: “Dan aku, yang adalah perusak kerajaan Allah, sungguh pantas didera oleh-Nya!”Kemudian ia memerintahkan agar pintu-pintu gerbang segera dibuka. Tetapi ketika memasuki kota, musuh hanya melintasinya, tanpa menimbulkan kerusakan apapun, seolah ia tiada melihat seorang pun. Dengan ini Allah hendak menunjukkan bagaimana Ia sangat berkenan dengan penyerahan diri dan kerendahan hati orang kudus ini, dalam begitu siap sedia menunduk di bawah deraan yang Ia kirim kepadanya, dan dalam kepercayaan bahwa ia layak mendapatkannya.
26. Ketika tiba giliran kita untuk menderita sakit, pencobaan, atau aniaya, marilah mengarahkan mata kita pada apa yang Tuhan kita derita, yang akan serta-merta menjadikan penderitaan kita manis dan tertanggungkan. Betapa dahsyat penderitaan-penderitaan kita, semuanya itu hanya tampak sebagai bunga-bunga dibandingkan duri-duri-Nya. ~ St Fransiskus de Sales
Suatu ketika seorang perempuan saleh terbaring di pembaringannya sebab menderita berbagai-bagai penyakit. Seorang sahabat menempatkan sebuah salib dalam genggaman tangannya, mengajaknya berdoa mohon kelegaan dari pencobaan yang begitu hebat. Akan tetapi perempuan itu mengatakan: “Adakah engkau menghendaki aku turun dari salib sementara aku menggenggam salib dalam tanganku? Kiranya Allah menjauhkanku dari hal itu! Aku lebih suka menderita untuk-Nya, yang dengan begitu suka hati menanggung bagiku derita yang terlebih dahsyat tak terperi dibandingkan deritaku.”
Ketika St Teresa dalam penderitaan yang hebat, Tuhan menampakkan diri kepadanya, menunjukkan luka-luka-Nya dan mengatakan: “Lihatlah, puteri-Ku, kedahsyatan sengsara-Ku, dan renungkan apakah penderitaanmu dapat dibandingkan dengan penderitaan-Ku.” Sang santa begitu tergerak hatinya oleh ini hingga ia tiada lagi merasakan sakit dan sesudahnya sering mengatakan: “Ketika aku merenungkan tentang berbagai-bagai cara Tuhan telah menderita, dan itu bukan untuk kesalahan-Nya Sendiri, aku tidak tahu apakah yang aku pikirkan ketika aku mengeluh akan penderitaanku dan berusaha lari darinya.”
Seorang hamba Allah, begitu disengsarakan oleh aniaya, fitnah dan kedengkian hebat yang ia alami, berpaling kepada Tuhan dan mengatakan: “Berapa lama lagi, ya Tuhan! aku harus begitu dicobai, tanpa kesalahan dari pihakku, sebagaimana Engkau tahu?” Maka Tuhan menampakkan diri kepadanya, menunjukkan luka-luka-Nya, dan menjawab: “Dan apakah salah-Ku hingga harus diperlakukan seperti ini?” Hamba Allah itu demikian tersentuh oleh penglihatan ini, dan dipenuhi sukacita luar biasa, hingga ia tak lagi merasakan penderitaannya sama sekali, dan mengatakan bahwa ia tak akan menukar kondisinya ini dengan kondisi raja manapun di dunia.
Dionisius, seorang biarawan Kartusian, menceritakan seorang novis yang menjadi suam-suam kuku dalam pelayanan ilahi. Pada awalnya semua dilaluinya dengan mudah, namun sesudahnya ia merasa sangat kesulitan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh dan dalam semua praktek matiraga, dan, di antara hal-hal lain, ia teristimewa merasa amat enggan mengenakan jubah tak nyaman sebagaimana yang seharusnya dikenakan para novis. Suatu malam, Yesus Kristus menampakkan diri kepadanya pada waktu ia sedang tidur, dengan sebuah salib yang panjang dan berat di atas pundak-Nya, hingga hanya dengan susah payah Ia dapat menyeret Diri-Nya menaiki anak-anak tangga. Tergerak oleh belas kasihan, sang novis menawarkan bantuan. Tetapi Tuhan berpaling kepadanya dengan tatapan tajam, “Bagaimana engkau berpikir untuk memikul salib yang begitu berat - engkau, yang tak sanggup mengenakan jubah yang begitu ringan demi kasih kepada-Ku?” Sang novis yang terbangun oleh celaan ini, merasa sangat malu dan ia pun serta-merta bangkit. Selanjutnya, ia mengenakan jubahnya dengan penuh sukacita dan puas hati; dan bilamana pencobaan datang menghadang, satu-satunya pikirannya adalah sengsara dahsyat yang diderita Kristus, maka semuanya tampak mudah dan menyenangkan baginya.
sumber : “Catholic Virtues: Patience”; www.catholictradition.org
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Tradition.”
|