|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Juli 2011
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
PESAN YESUS MENGENAI KELEMAH-LEMBUTAN:
 Redakanlah amarahmu jika ia datang menyerang, dengan kelemah-lembutan. Ingatlah Aku, sengsara-Ku, salib-Ku. Adakah Aku marah? Kalian tak tahu betapa Aku mengasihi seorang yang lemah lembut yang menanggung masa-masa kritis, aniaya dan penghinaan dengan tenang. Sekarang, sebagian orang menyombongkan kelemah-lembutan mereka tanpa alasan, sebab mereka lemah-lembut apabila itu menguntungkan mereka atau terhadap orang-orang yang memuji mereka; tetapi mereka mendengus penuh murka dan membalas dendam terhadap orang-orang yang menghina atau menyakiti mereka. Keutamaan kelemah-lembutan terdiri dari lemah-lembut dan sabar terhadap mereka yang bersikap buruk dan antipati terhadapmu.
Bacalah Kolose 3:12. Apakah kalian menghendaki orang lain bersabar menghadapi cacat celamu dan menutup mata apabila mereka punya alasan untuk mengeluh tentangmu? Baik, perbuatlah juga demikian. Apabila dalam amarah sesamamu menyakitimu, jawablah dia dengan tenang dan rendah hati, dan kalian akan meredakannya. Lihat, suatu ketika seorang biarawan sedang berjalan melintasi suatu ladang yang tengah ditanami dan pemiliknya keluar dan mulai memaki dan menyumpahinya. “Saudara, engkau benar, aku yang salah, maafkanlah aku,” jawab sang biarawan. Si petani menjadi reda amarahnya hingga ke tahap tidak saja ia tak lagi marah, melainkan ia ingin mengikuti sang biarawan dan masuk ke biaranya… Orang yang congkak menjadikan penghinaan yang diterimanya suatu pemicu bagi kesombongannya. Sementara orang yang rendah hati menjadikan penghinaan yang diterimanya suatu pemicu bagi kerendahan hatinya. Itulah sebabnya mengapa Aku bersabda, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya,” Matius 5:11
Janganlah bersedih; Aku mengasihimu; engkau harus belajar. Kelemah-lembutan bermanfaat bagi yang lain, sebab tiada yang lebih baik dalam membangkitkan semangat pada yang lain untuk membaktikan diri pada pelayanan bagi Tuhan selain dari melihat seorang yang penuh kelemah-lembutan dan sukacita ketika ia dicaci. Keutamaan ini menjadi nyata sepanjang masa-masa penderitaan; sebagaimana emas diuji dalam api, demikianlah kelemah-lembutan manusia diuji dalam tempaan penghinaan.
Kidung Agung 1:11 [ayat 12 dalam Kitab Suci terjemahan LAI] berbicara mengenai semerbak bau narwastu. Sebetulnya, narwastu adalah tanaman yang berbau harum, tetapi ia baru memancarkan keharumannya apabila digosok-gosok dengan keras. Seorang dikatakan lemah-lembut hanya jika ia menderita dengan sabar dan tanpa amarah caci maki dan nista. Hanya waktu itulah semerbak bau narwastu atau keutamaan kelemah-lembutan menjadi nyata.
|
|
“… Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
~ Matius 11:29
|
KELEMAH-LEMBUTAN MENURUT ST FRANSISKUS DE SALES
 Kelemah-lembutan adalah keutamaan favorit St Fransiskus de Sales. Perkataan, perilaku dan perbuatannya tiada pernah tanpa sopan santun dan kelemah-lembutan, hingga seolah keutamaan ini telah mengambil rupa manusia dalam dirinya, dan bahwa ia lebih merupakan kelemah-lembutan itu sendiri daripada orang yang dikuasai oleh keutamaan itu. Suatu kali ia pernah mengatakan bahwa ia telah menghabiskan waktu tiga tahun untuk mempelajarinya di sekolah Yesus Kristus, dan namun demikian bahwa hatinya masih jauh dari puas dengan kemajuan yang dicapainya. Jadi, apabila dia yang adalah kelemah-lembutan itu sendiri, mengatakan bahwa ia masih jauh dari sempurna dalam kelemah-lembutan, apalah yang dapat kita katakan mengenai mereka yang, di setiap kesempatan yang paling remeh, mengkhianati dan menggetirkan hati mereka dengan kata-kata amarah dan perilaku ketidaksabaran. St Fransiskus sering dicobai dalam hal ini, teristimewa ketika tekanan pekerjaan dan orang banyak mengepungnya dalam berbagai rupa kepentingan, hingga nyaris tak memberinya kesempatan untuk bahkan menghela napas. Ia mewariskan kepada kita pemikirannya dalam menghadapi situasi seperti ini, yang senantiasa dihadapinya dengan kelemah-lembutannya yang luar biasa.
“Allah,” katanya, “menggunakan setiap kesempatan yang demikian untuk menguji apakah jiwa kita cukup diperkuat untuk menanggung setiap bentuk serangan. Aku sendiri terkadang berada dalam kesulitan ini, tetapi aku mengadakan perjanjian dengan hatiku dan dengan lidahku, guna mengendalikan mereka dalam batas-batas kewajiban …. Seorang yang memiliki kelemah-lembutan Kristiani menaruh cinta kasih dan lembah-lembut terhadap setiap orang; ia cenderung mengampuni dan memaafkan kelemahan-kelemahan sesama; kebaikannya terpancar dalam keramah-tamahan manis yang mempengaruhi perkataan dan perbuatannya, dan menempatkan setiap obyek dalam pandangannya dalam terang yang paling murah hati dan menyenangkan; ia tiada pernah membiarkan dirinya menggunakan kata-kata kasar, apalagi bahasa yang angkuh atau tidak sopan. Senantiasa ada suatu ketenangan lembut dalam ekspresinya yang membedakannya dari orang-orang garang yang dengan pandangan penuh murka, hanya tahu mengatakan tidak, atau yang, ketika mereka memberi, melakukannya dengan perilaku buruk begitu rupa hingga mereka kehilangan segala ganjaran dari perbuatan baik yang mereka lakukan.”
|
|
“Apabila kita harus menjawab seseorang yang telah menghina kita, haruslah kita berhati-hati untuk selalu melakukannya dengan kelemah-lembutan. Jawaban yang lembut memadamkan api kemarahan. Jika kita merasa diri kita marah, adalah lebih baik jika kita diam, jika tidak kita akan berbicara sembarangan; setelah kita tenang, kita akan segera melihat bahwa segala perkataan kita patut dicela.”
~ St Alfonsus de Liguori
|
KELEMAH-LEMBUTAN: ST PAULUS DARI SALIB
 Apabila Paulus memerintahkan sesuatu kepada religiusnya, ia tidak pernah menekan dengan kekuasaannya, melainkan dengan kelembutan, dan dengan cara yang halus itu ia membantu mereka untuk mentaati perintahnya. Cara ini biasanya menghasilkan kegembiraan dan sungguh berguna dalam menarik hati para religius.
Sebagai contoh, kita baca bagaimana ia menyerahkan tugas menjaga pintu kepada Broeder Markantonio. Sang Broeder sendiri mengisahkannya sebagai berikut: “Setibanya di Biara Santi Giovanni Paolo di Roma, saya langsung pergi menghadap Pater Paulus. Pada waktu masuk ke kamarnya saya merasakan pemusatan rohani, yang di kemudian hari selalu akan saya alami setiap kali masuk ke kamarnya. Karena hari sudah malam lagi gelap, saya berlutut dekat tempat tidur di mana Pater Paulus berbaring. Saya mencium tangannya dan ia membelai lembut kepalaku sambil berkata: `Oh, Broeder Markantonio terkasih, engkau akan menjadi penjaga pintu di biara suci ini. Aku memintamu datang ke Roma sebagai penjaga pintu, sebab untuk tugas ini diperlukan seorang yang tahu memelihara kesopanan dalam memandang, kebijaksanaan, dan etiket dalam pergaulan. Engkau dari Toscana; engkau cukup tahu berbicara dengan santun. Pada suatu kesempatan lain datanglah kepadaku dan aku akan mengajarkan bagaimana engkau harus bersikap sebagai penjaga pintu.' Saya hampir tak mau pergi lagi dari kamarnya, maka dengan berat hati saya mohon doa dan berkatnya. Ia berkata kepadaku, `Semoga Tuhan memberkati engkau; selamat Broeder Markantonio yang terkasih!' Saya keluar dengan kegembiraan besar dan mataku basah oleh airmata sebab hatiku teramat bahagia.” dikutip dari: “Biografi St Paulus dari Salib - Pendiri Kongregasi Pasionis”, P. Carlo Marziali C.P., Kanisius 1989
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|