|
KELEMAH-LEMBUTAN Menurut Para Kudus
St Fransiskes de Sales dan St Frances de Chantal
“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” ~ Matius 5:5
1. Kelemah-lembutan dan kehalusan budi adalah keutamaan yang kurang lazim dibandingkan kemurnian, namun keutamaan ini lebih unggul dibandingkan kemurnian dan segala keutamaan lainnya, sebab ia adalah tujuan cinta kasih, yang, sebagaimana dikatakan St Bernardus, adalah sempurna apabila kita tidak saja sabar, melainkan juga baik hati. Jadi, adalah penting untuk menjunjung tinggi keutamaan ini dan mempergunakan segala upaya demi mencapainya. ~ St Fransiskus de Sales
St Fransiskus de Sales sendiri sangat menjunjung tinggi keutamaan ini. Ia begitu kerap membicarakannya dan dengan begitu penuh cinta, seolah hendak menunjukkan dengan jelas bahwa ini adalah pilihannya dari antara semua keutamaan. Jadi, meski ia menonjol dalam semua keutamaan, ia istimewa dan unggul dalam keutamaan ini. Ia senantiasa memiliki roman muka yang damai tenang, dan ada suatu rahmat khusus pada bibirnya, sehingga ia biasa tampak tersenyum, dan wajahnya memancarkan suatu kemanisan yang memikat hati semua orang. Meski ia biasa memperlihatkan permenungan mendalam, terkadang ia berpikir adalah perlu untuk memberikan bukti keramahan, dan maka ia menghibur mereka semua yang dijumpainya, dan ia memenangkan hati dan hormat siapa saja yang memandangnya. Perkataan, perilaku dan perbuatannya tiada pernah tanpa sopan santun dan kelemah-lembutan, sehingga seolah keutamaan ini telah mengambil rupa manusia dalam dirinya, dan bahwa ia lebih merupakan kelemah-lembutan itu sendiri daripada orang yang dikuasai oleh keutamaan itu. Padanya juga tepat dikenakan pujian yang dianugerahkan Roh Kudus kepada Musa, “bahwa ia adalah orang yang paling lemah lembut pada jamannya di atas bumi.” Dan demikianlah St Jane Frances de Chantal dapat mengatakan bahwa tiada pernah dikenal sebentuk hati yang begitu manis, begitu lemah-lembut, begitu baik, begitu ramah dan santun seperti hatinya. St Vincentius de Paul mengungkapkan perasaan yang sama, mengatakan bahwa St Fransiskus de Sales adalah orang paling lemah-lembut yang pernah dikenalnya, dan pertama kali ia melihatnya, ia memperhatikan dalam kedamaian wajahnya dan dalam tutur katanya keserupaan yang begitu mirip dengan kelemah-lembutan Kristus Tuhan kita yang serta-merta memikat hatinya.
Hal yang sama dapat dikatakan mengenai St Vincentius de Paul. Ia memiliki temperamen yang meledak-ledak dan karenanya, amat condong pada kemarahan, sebagaimana diakuinya sendiri kepada seorang sahabat, mengatakan bahwa ketika ia di Wisma Conde, lebih dari sekali ia membiarkan dirinya dikuasai oleh disposisi melankolis dan apapun yang sesuai dengan suasana hatinya. Akan tetapi, melihat bahwa Allah memanggilnya untuk hidup dalam komunitas, dan bahwa dalam keadaan yang demikian ia akan harus bergaul dengan orang-orang dari berbagai ragam sifat dan disposisi, ia memohon pertolongan Allah, dan dengan sungguh berdoa kepada-Nya untuk mengubah temperamennya yang kasar dan keras menjadi lemah lembut dan penuh kasih; dan lalu ia mulai dengan tekad teguh untuk menekan sifatnya yang meledak-ledak itu. Dengan doa dan usaha, ia berhasil membuat perubahan begitu rupa hingga ia tampaknya tak lagi merasakan adanya pencobaan yang menghantar pada kemarahan, dan sifatnya begitu berubah hingga menjadi sumber dari kebaikan hati, damai wajahnya dan kemanisan perilakunya, yang memikat hati mereka semua yang mengenalnya. Sebagai ketentuan, ia menerima mereka semua yang datang ke rumahnya dengan perkataan yang menyenangkan, penuh hormat dan penghargaan, dengan mana ia menunjukkan rasa hormatnya kepada mereka dan kegembiraannya bertemu dengan mereka. Ini ia lakukan terhadap semua, terhadap mereka yang miskin maupun mereka yang berkedudukan tinggi, dengan senantiasa menyesuaikan diri pada posisi masing-masing.
2. Kelemah-lembutan adalah keutamaan yang menyiratkan keluhuran jiwa. Orang-orang duniawi pada umumnya kurang dalam kelemah-lembutan; keluhuran ini ada ditemukan dalam diri mereka namun jarang dan tidak sempurna. Jika mereka bukan yang pertama-tama mempergunakan ekspresi yang kasar dan tidak sopan, maka ketika kepada mereka disampaikan ekspresi yang demikian oleh orang lain, mereka marah dan serta-merta membalasnya, menunjukkan dengan pembalasan mereka bahwa mereka memiliki hati yang tercela dan hina. Dengan demikian hamba-hamba Allah, dengan senantiasa tinggal tenang dan damai, meski dipancing oleh perkataan atau perbuatan, menunjukkan suatu keluhuran jiwa yang sempurna, yang mengatasi segala kekasaran. ~ St Thomas Aquinas
3. Tak ada suatupun yang mendatangkan perbaikan pada yang lain sebanyak cinta kasih dan kelemah-lembutan, dengan mana, seperti minyak bagi lampu, nyala teladan baik terus dihidupkan. ~ St Fransiskus de Sales
4. Kita patut menghadapi semuanya dengan lemah-lembut, dan dengan memperlihatkan ciri-ciri yang terpancar secara alamiah dari hati yang lembut dan penuh cinta kasih Kristiani, seperti keramahan, kasih dan kerendahan hati. Keutamaan-keutamaan ini bekerja secara menakjubkan dalam memenangkan hati manusia, dan mendorong mereka untuk memeluk hal-hal yang lebih bertentangan dengan dunia. ~ St Vincentius de Paul
5. Terkadang, sepatah kata sudahlah cukup untuk menenangkan seorang yang tengah terbakar amarah; dan, sebaliknya, sepatah kata dapat menghancurkan suatu jiwa, dan menanamkan ke dalam jiwa suatu kepahitan yang dapat sangat menyakitkan. ~ St Vincentius de Paul
Suatu ketika St Macarius sedang dalam perjalanan bersama seorang murid di Nitria; muridnya itu berjalan agak lebih mendahuluinya, dan bertemu dengan seorang imam berhala yang sedang bergegas dengan sebuah tongkat berat di pundaknya. “Kemanakah engkau hendak pergi, iblis?” seru si murid. Mendengar ini, sang imam berhala menurunkan baloknya, berlari mengejarnya, memukulinya bertubi-tubi dan lalu meninggalkannya dalam keadaan setengah mati. Lalu ia mengangkat baloknya kembali dan bergegas melanjutkan perjalanannya. Tak lama berselang Macarius bertemu juga dengannya. Ia menyapa sang imam berhala dengan kata-kata ini: “Allah menyelamatkanmu, pekerja keras!” “Engkau sungguh baik,” jawabnya,” menyapaku dengan santun.” “Aku lihat engkau letih,” lanjut santo kita, “dan engkau berlari tanpa mengindahkan kesehatanmu. Aku menyalamimu, agar dengan berhenti engkau dapat sedikit beristirahat sejenak.” “Dengan ini aku tahu bahwa engkau adalah hamba Allah yang sejati,” jawab si pemuja berhala, dan ia pun menjatuhkan diri di depan kaki sang santo, mengatakan bahwa ia tiada akan pernah meninggalkannya, hingga orang kudus kita ini menanamkan dalam dirinya kebiasaan seorang biarawan.
6. Karena adalah tidak mungkin dalam ziarah kita ini untuk tidak bertemu dan saling terlibat masalah satu sama lain, maka jika kita hendak memelihara kedamaian batin kita haruslah memiliki cadangan besar kelemah-lembutan untuk menangkal serangan kemarahan yang tak diharapkan. ~ St Fransiskus de Sales
Philip II, Raja Spanyol, menghabiskan berjam-jam lamanya sepanjang malam untuk menulis sepucuk surat panjang kepada Paus, dan ketika selesai surat itu diberikannya kepada sekretaris untuk dilipat dan dimeterai. Sang sekretaris, karena sangat mengantuk, menuangkan tinta dan bukannya pasir ke atas surat; dan ia nyaris mati ketakutan ketika sadar akan apa yang telah dilakukannya. Tetapi raja, tanpa kehebohan sedikitpun, hanya mengatakan, “Ini dia selembar kertas lain,” dan dengan tenang kembali menulis. Pada waktu penobatannya, seorang prajurit, dalam upaya menghalau mundur massa dengan sebatang galah, memecahkan tiga lampu kristal yang ada di atas tahta, sehingga minyak tertumpah ke atas gaun mahaindah raja dan ratu. “OK,” kata raja, “ini merupakan suatu pertanda bahwa dalam pemerintahanku akan ada urapan damai dan kelimpahan.”
7. Ada sebagian orang yang tampak sangat lemah-lembut sepanjang segala sesuatunya berjalan baik bagi mereka; tetapi begitu ada kesulitan atau perlawanan, mereka serta-merta terbakar dan mulai mengepulkan asap bagai sebuah gunung berapi. Mereka yang seperti ini dapat disebut sebagai batu-bara menyala yang tersembunyi di bawah timbunan abu. Ini bukanlah kelemah-lembutan yang Tuhan hendak ajarkan, agar Ia dapat menjadikan kita seperti Diri-Nya. Kita haruslah seperti bunga-bunga lili di antara duri-duri, yang, meski muncul di tengah ujung-ujung yang tajam, tetap halus dan lembut. ~ St. Bernardus
8. Apabila engkau harus mempersiapkan suatu rancangan, mendamaikan pertikaian, atau memenangkan hati orang pada pandanganmu, perhatikanlah untuk bersikap selembut mungkin. Kalian akan mencapai lebih banyak, dan mengatasi dengan lebih mudah, dengan mengalah dan merendahkan diri, daripada dengan kekerasan dan pertengkaran. Siapakah gerangan yang tidak tahu bahwa akan lebih banyak lalat yang dapat ditangkap dengan satu ons madu daripada dengan seratus tong cuka? ~ St Fransiskus de Sales
9. Apabila engkau ingin menghasilkan buah dalam karya pertobatan jiwa-jiwa, engkau harus mencurahkan balsam kemanisan ke atas anggur semangatmu, agar anggur tidak terlalu keras, melainkan lembut, menenangkan, sabar, dan penuh belas kasihan. Sebab jiwa manusia begitu rupa hingga dengan kekerasan jiwa akan menjadi lebih keras, akan tetapi kelemah-lembutan akan sama sekali melembutkannya. Di samping itu, kita patut ingat bahwa Yesus Kristus datang untuk memberkati niat-niat baik, dan jika kita menyerahkannya pada kuasa-Nya, sedikit demi sedikit Ia akan menjadikannya berbuah. ~ St Fransiskus de Sales
Suatu ketika seorang laki-laki yang bersalah atas kejahatan-kejahatan besar datang ke kamar pengakuan Uskup dan mengakukan dosanya dengan acuh tak acuh dan tanpa semangat tobat. Setelah mendengar beberapa waktu lamanya, Uskup yang kudus itu mulai menangis, dan ketika sang peniten menanyakan adakah sesuatu yang telah terjadi padanya, Uskup hanya menjawab, “Lanjutkan.” Sementara peniten melanjutkan dengan keacuhan yang sama seperti sebelumnya, mengungkapkan bahkan dosa-dosa yang terlebih besar, Uskup menangis lagi dan lagi. Karena didesak, pada akhirnya Uskup mengatakan dalam nada suara penuh belas kasihan, “Aku menangis sebab engkau tidak menangis.” Kata-kata ini mengguncang hati si pendosa dengan rasa sesal dan menggerakkannya untuk menjadi seorang peniten sejati. Kelemah-lembutan Uskup diwujudnyatakan teristimewa dalam caranya memberikan nasehat dan sekaligus menyemangati jiwa-jiwa untuk maju dalam kesempurnaan. Kepada seorang perempuan, Uskup menulis, “Tidakkah Anda lihat bahwa pohon anggur tidak dipangkas dengan tebasan keras sebuah kapak, melainkan dengan sebuah sabit, satu tebasan sesudah yang lain? Aku melihat patung-patung yang dikerjakan si pematung selama sepuluh tahun sebelum akhirnya sempurna, dengan memahat sedikit di sini dan sedikit di sana, hingga ia telah mengenyahkan semua yang tak selaras dengan proporsinya. Tidak, pastilah tidak mungkin untuk dalam satu hari sampai di tingkat yang ingin Anda capai. Adalah perlu menggerakkan satu langkah hari ini, satu langkah esok hari, dan berupaya untuk sedikti demi sedikit menjadi tuan atas diri kita sendiri; sebab ini bukanlah kemenangan yang mudah.”
Suatu ketika datanglah kepada St Filipus Neri seorang peniten yang begitu kecanduan terhadap suatu dosa tertentu hingga ia terjerumus ke dalamnya nyaris setiap hari. Satu-satunya penitensi yang diberikan orang kudus kita ini adalah agar si peniten datang mengakukan dosanya segera sesudah ia berbuat dosa, tanpa menunggu jatuh ke dalam dosa yang sama untuk kedua kalinya. Sang peniten taat, dan St Filipus Neri senantiasa memberinya absolusi, tanpa memberinya penitensi lain. Dengan cara ini dalam beberapa bulan imam kita berhasil membebaskan si peniten bukan hanya dari dosanya ini, melainkan dari dosa-dosa lainnya juga, dan menghantarnya ke tingkat kesempurnaan yang tinggi. St Filipus Neri menasehati seorang anak muda yang rusak akhlaknya untuk mendaraskan “Salam ya Ratu,” tujuh kali dalam sehari, dan kemudian mencium tanah dengan mengatakan, “Esok mungkin aku mati.” Dengan melakukan ini, anak muda itu berubah hidupnya, dan empatbelas tahun kemudian meninggal dengan kudus.
10. Barangsiapa membimbing jiwa-jiwa hendaknya menghadapi mereka sebagaimana Allah dan para malaikat melakukannya, yakni dengan teguran, nasehat, desakan dan “dengan segala kesabaran dan pengajaran”. Ia haruslah mengetuk pintu hati orang bagai sang Mempelai, dan berusaha membukanya dengan lembut: jika berhasil, hendaknya ia memperkenalkan keselamatan dengan gembira; tetapi jika penolakan yang ada, hendaknya ia menanggungnya dengan sabar. Demikianlah Tuhan kita bertindak. Meski Ia adalah Tuan dari segala hati, Ia dengan sabar menanggung penolakan panjang kita atas terang-Nya dan pemberontakan kita yang berulang-kali melawan inspirasi-inspirasi-Nya; dan bahkan jika Ia dipaksa untuk undur diri dari mereka yang tak hendak berjalan di jalan-Nya, Ia tak berhenti memperbaharui inspirasi-inspirasi dan undangan-undangan-Nya. Malaikat pelindung kita, juga, dengan tepat meneladani tindakan-Nya dalam hal ini; mereka membimbing, memimpin, dan menolong semampu mereka, orang-orang yang dipercayakan Allah kepada mereka, dan ketika mereka melihat orang-orang ini tetap tegar hati, mereka tidak meninggalkan mereka, pula tidak mengalami baik kesedihan maupun kemarahan, pula tidak kehilangan kekudusan mereka sedikitpun. Sekarang, teladan apa lagi yang lebih baik dari mereka yang dapat kita inginkan bagi perilaku kita sendiri? ~ St Fransiskus de Sales
11. Seperti tanpa iman adalah tidak mungkin menyenangkan Allah, demikian pula tanpa kelemah-lembutan adalah tidak mungkin menyenangkan manusia dan memimpin mereka dengan baik. ~ St Bernardus
12. Aku telah melihat ke depan dan ke belakang dan ke segala sisi, dan kesimpulan apakah yang aku dapatkan? Aku telah mempertimbangkan segala metode untuk memimpin, dan bahkan telah mencobanya, dan pada akhirnya aku melihat bahwa metode terbaik adalah yang ramah, tulus, rendah hati, dan sabar. ~ St Jane Frances de Chantal
St Vincentius de Paul menulis kalimat berikut kepada seorang Superior yang mengeluh mengenai salah seorang biarawannya: “Imam yang tentangnya Anda tulis kepada saya adalah seorang yang berbudi luhur dan saleh, dan sebelum ia datang kepada kami, ia sangat dihormati di dunia. Jika sekarang ia agak sedikit tak sabaran, berurusan dengan hal-hal duniawi, terlalu banyak memikirkan sanak kerabat dan bahkan memandang rendah rekan-rekannya, hendaknyalah Anda menghadapinya dengan lemah-lembut. Andai tak ada padanya kelemahan-kelemahan ini, mungkin akan ada padanya kelemahan-kelemahan lain; dan jika tak ada yang harus Anda hadapi, belas kasihan Anda tiada akan memiliki cukup kesempatan untuk dilatih, pula perilaku Anda dan kepemimpinan Anda tidak akan serupa dengan Kristus Tuhan kita, yang memilih murid-murid yang kasar, dengan berbagai-bagai cacat cela, agar Ia dapat mengajar kita melalui praktek keramah-tamahan dan kesabaran dalam menghadapi mereka, bagaimana mereka yang menjabat Superior harus bersikap. Saya memohon dengan sangat Anda membentuk diri Anda seturut teladan kudus ini, dengan mana Anda akan belajar untuk tidak hanya menghadapi sama saudara, melainkan juga membantu mereka dalam membebaskan diri dari ketidaksempurnaan mereka.” Kepada salah seorang dari anggota misi yang sangat enggan berpisah dengan salah seorang asistennya, ia menulis: “Aku tak ragu bahwa perpisahan dengan rekan terkasih dan sahabat setia ini pastilah sangat menyakitkan bagimu; tetapi ingat bahwa Tuhan kita memisahkan diri dari BundaNya Sendiri, dan dari para murid-Nya, yang telah dipersatukan oleh Roh Kudus dengan begitu sempurna, saling terpisah satu sama lain demi pelayanan terhadap Tuan mereka.”
13. Ketika kobaran api tengah melalap sebuah rumah, adakah baik apabila kita melemparkan lebih banyak kayu ke sana? Saudara yang baik ini sekarang sedang terbakar amarah; jika aku harus menegurnya, amarahnya akan menjadi-jadi; tetapi ketika kobaran api telah padam, itulah saat untuk memberikan pertolongan. ~ St Yohanes, Canon Regular
14. Adalah sangat penting membuat percakapan kita ramah. Guna melakukannya adalah perlu kita rendah hati, sabar, menaruh hormat, tulus, tunduk pada segala norma yang berlaku. Di atas segalanya, haruslah kita menghindari pertentangan pendapat dengan siapapun, terkecuali ada kebutuhan mendesak untuk itu. Dalam hal demikian, itu haruslah dilakukan dengan segala kelemah-lembutan yang mungkin, dan dengan sebijaksana mungkin, tanpa melukai perasaan pihak lain. Dengan cara ini akan dihindarkan pertikaian yang hanya akan mengakibatkan kepahitan, dan yang biasanya muncul lebih karena keterikatan pada pendapat sendiri daripada kasih akan kebenaran. Percayalah, bahwa tidak ada disposisi yang terlebih merusak bagi masyarakat daripada yang diakibatkan oleh pertentangan - sehingga tak ada orang yang pada umumnya lebih dikasihi daripada dia yang tidak menentang siapapun. ~ St Fransiskus de Sales
15. Marilah berusaha untuk ramah, baik, dan rendah hati terhadap semua orang, tetapi teristimewa terhadap mereka yang Allah tempatkan dekat dengan kita, misalnya para pembantu kita. Dan janganlah kita menjadi seorang dari mereka yang tampak bagai malaikat di luar tetapi menjadi iblis di rumah. ~ St Fransiskus de Sales
16. Kendalikanlah ketidaksabaranmu; latihlah, tak hanya seturut akal, melainkan bahkan di luar akal, sopan santun yang kudus dan kebaikan hati terhadap semua orang, tetapi teristimewa terhadap mereka yang paling menjengkelkanmu. ~ St Fransiskus de Sales
17. Tingkat tertinggi kelemah-lembutan terdiri dari melihat, melayani, menghormati, dan memperlakukan orang dengan ramah, terkadang, bahkan terhadap mereka yang tidak kita sukai, dan yang bersikap tak bersahabat, tak tahu terima kasih, dan menjengkelkan kita. ~ St Fransiskus de Sales
Suatu ketika Uskup kita ini bekerja demi pertobatan seorang perempuan tidak percaya, cukup lanjut usia, yang untuk jangka waktu lama datang kepadanya setiap hari dengan keragu-raguan baru. Uskup mendengarkannya dengan keramah-tamahan dan tanpa pernah menunjukkan kejengkelan, meski ia dapat melihat bahwa semua tak ada gunanya. Akan tetapi perempuan ini tanpa kenal lelah mengetuk pintunya tiga hingga empat kali sehari, sebab ia amat tertarik dengan perilaku uskup yang lemah-lembut. Pada akhirnya, perempuan itu mengatakan bahwa ia tak memiliki kesulitan lain terkecuali mengenai selibat kaum klerus. Santo kita menjawab bahwa selibat perlu bagi kaum klerus agar, bebas dari tanggung jawab keluarga, mereka dapat melayani umat, dan sungguh akan sulit baginya untuk berbicara dengan perempuan itu begitu sering, jika ia mempunyai isteri dan anak-anak yang ada dalam tanggung-jawabnya. Alasan ini lebih meyakinkan bagi si perempuan dari segala argumentasi yang diajukan para teolog, dan ia pun dipertobatkan.
18. Berhati-hatilah untuk tidak menjadi jengkel ataupun tidak sabar menghadapi kesalahan orang lain; sebab adalah bodoh ketika engkau melihat seseorang terjatuh ke dalam selokan, engkau lalu melemparkan dirimu sendiri ke dalam selokan lain tanpa tujuan. ~ St Bonaventura
Suatu ketika seorang remaja brandal dibawa kepada St Fransiskus de Sales agar orang kudus ini dapat menasehatinya secara pribadi. Bukannya memarahinya, St Fransiskus de Sales malahan menunjukkan kelemah-lembutan yang luar biasa kepada anak muda itu. Melihat kedegilan hatinya, uskup kita ini mencucurkan airmata getir, mengatakan bahwa hidup anak muda ini akan berakhir tragis, dan ini sungguh terjadi, sebab ia tewas terbunuh dalam suatu duel. Ketika sesudahnya St Fransiskus de Sales dipersalahkan karena terlalu lunak dalam kasus ini, ia menjawab, “Apakah yang kalian ingin aku lakukan? Aku berusaha sebaik mungkin, untuk melindungi diriku dari amarah agar tak jatuh dalam dosa, dan karenanya aku memegang erat-erat hatiku dalam kedua tanganku, tetapi aku tiada memiliki kekuatan untuk melemparkannya ke mukanya. Dan lalu, sejujurnya, aku khawatir kehilangan cadangan kelemah-lembutanku yang tinggal sedikit itu, yang aku kumpulkan selama duapuluh dua tahun, bagai embun, dalam bejana hatiku. Kawanan lebah telah selama bertahun-tahun mengumpulkan madu, yang diteguk manusia dalam sekali teguk. Lagipula, apalah gunanya berbicara kepada seorang yang tidak mau mendengarkan? Anak muda bodoh itu tak tapat dinasehati, sebab ia bukanlah tuan atas pertimbangannya sendiri. Jadi, aku tak dapat menolongnya, dan malahan aku akan dapat melukai diriku sendiri, sama seperti mereka yang tenggelam bersama para pelaut dari kapal yang karam, yang berusaha mereka tolong. Kasih haruslah berdasarkan pikiran sehat dan bijak.”
19. Janganlah pernah engkau kecewa melihat ketidaksempurnaanmu sendiri, terkecuali dengan kekecewaan yang rendah hati, tenang, dan damai, tanpa emosional dan amarah; sebab jenis yang terakhir ini lebih mengakibatkan celaka daripada kebaikan. ~ St Fransiskus de Sales
St Fransiskus suatu hari mengatakan, “Bagi diriku sendiri, jika aku, misalnya, mempunyai kerinduan besar untuk tidak jatuh ke dalam kebiasaan buruk kesia-siaan, dan namun demikian jatuh amat dalam ke dalamnya, aku tak hendak mencela diriku sendiri dengan cara seperti ini: `Bukankah kau ini seorang celaka, yang menyebalkan, sebab telah membiarkan dirimu sendiri ditaklukkan oleh kebiasaan buruk ini, setelah begitu banyak ketetapan hati? Matilah dalam aib! Janganlah arahkan matamu ke surga, hai pembangkang, pengkhianat Allah,' atau kata-kata serupa. Tetapi aku memilih untuk memperbaikinya dengan tenang, dan dengan cara belas kasihan, mengatakan: `Ayolah sekarang, hatiku yang malang, kita jatuh lagi ke dalam selokan, meski telah berulangkali kita bertekad untuk menghindarinya. Ah, marilah bangkit, dan tinggalkan sekali untuk selamanya! Marilah memohon pertolongan dari kerahiman Allah, dan menaruh harapan di dalamnya, sebab Ia akan membantu kita untuk lebih teguh di masa mendatang; dan sementara itu marilah kita kembali ke jalan kerendahan hati. Semangat! Marilah kita bangkit mengatasi diri kita sendiri, sebab Allah akan menolong kita, dan kita akan maju.' Setelah celaan ini aku akan mendapatkan kebulatan tekad yang teguh untuk tidak jatuh lagi ke dalam kesalahan, dan untuk mengenakan pengobatan yang sesuai.”
St Vincentius de Paul tak pernah merasakan amarah ataupun kepahitan terhadap dirinya sendiri karena kelemahan-kelemahannya. Ia kerap mengatakan bahwa kebiasaan buruk hendaknya dibenci dan kebiasaan baik hendaknya dicintai, bukan karena yang pertama tidak menyenangkan kita dan yang terakhir menyenangkan kita, melainkan hanya karena kasih kepada Allah, yang membenci yang buruk dan mencintai yang baik; dan dengan demikian rasa sakit akibat suatu kelemahan akan memiliki sesuatu yang manis dan damai di dalamnya.
20. Jika orang ingin mendapatkan kebebasan roh, dan tak senantiasa berjalan dalam kegelapan, hendaknyalah ia tak merasakan kekeringan, kegelisahan, distraksi ataupun pikiran-pikiran yang melantur sebagai masalah. ~ St Theresia
Kepada seorang nyonya yang meminta nasehat, St Fransiskus de Sales menulis: “Anda lebih suka melihat diri Anda tanpa cacat cela dan tanpa pencobaan-pencobaan, daripada di tengah ketidaksempurnaan dan penderitaan. Saya juga suka demikian, dan kita akan seperti itu di Firdaus. Akan tetapi gelisah yang Anda rasakan karena tak dapat sampai pada keadaan sempurna ini dalam kehidupan ini membuat Anda ragu apakah kebencian Anda akan dosa itu adalah baik. Tidak, itu tidak murni, sebab mengelisahkan Anda. Jadi, bencilah ketidaksempurnaan Anda, sebab tidak sempuna, tetapi cintailah ketidaksempurnaan Anda sebab menjadikan Anda tahu akan ketiadaan Anda sendiri dan berilah kesempatan kepada diri Anda untuk melatih diri dalam keutamaan, dan kepada Allah untuk menunjukkan belas kasihan-Nya kepada Anda.”
21. Bersikaplah lemah-lembut dan ramah tamah di tengah segala kesibukanmu, sebab semua orang mengharapkan teladan baik ini darimu. ~ St Fransiskus de Sales
22. Ketahuilah dan yakinlah bahwa segala pemikiran yang menimbulkan kegelisahan dan kegalauan pikiran sama sekali bukan berasal dari Allah, yang adalah Raja Damai; tetapi selalu berasal entah dari iblis, atau dari cinta diri, atau dari kebanggaan diri. Inilah ketiga sumber darimana segala kegalauan kita berasal. Sebab itu, ketika pemikiran macam itu datang kepada kita, hendaknyalah kita menolaknya seketika itu juga dan tidak menghiraukannya. ~ St Fransiskus de Sales
23. Kelemah-lembutan yang bersahaja adalah keutamaan dari segala keutamaan yang Tuhan kita anjurkan kepada kita, dan karenanya kita patut mempraktekkannya di manapun dan kapanpun. Kejahatan hendaknya dielakkan, namun dengan damai. Yang baik hendaknya dilakukan, namun dengan kelembutan. Terapkan ini sebagai pedoman: Lakukan apa yang kau lihat dapat dilakukan dengan cinta kasih, dan apa yang tak dapat dilakukan tanpa keributan, tinggalkan. Singkat kata, damai dan ketenangan hati hendaknya menjadi yang utama dalam segala tindakanmu, sebagaimana minyak zaitun mengapung di atas segala cairan. ~ St Fransiskus de Sales
Orang kudus kita ini menikmati kedamaian hati yang tak dapat diganggu gugat. Ia sendiri suatu hari mengatakan: “Apakah gerangan yang mungkin dapat mengganggu kedamaian kita? Andai seluruh dunia kacau-balau, aku tiada khawatir; sebab apalah nilai dunia dibandingkan kedamaian hati?”
24. Sebisa mungkin, janganlah pernah meledak dalam amarah atau membiarkan dalih apapun membuka baginya pintu hatimu; sebab begitu amarah masuk ke sana, ia tiada akan berada dalam kuasamu untuk mengusirnya ketika engkau menghendakinya, atau bahkan mengendalikannya. Apabila engkau melihat bahwa melalui kelemahanmu amarah telah beroleh pijakan dalam rohmu, segeralah himpun segenap kekuatanmu untuk membangun damai dan ketenangan. Akan tetapi ini haruslah dilakukan dengan tenang dan jangan pernah dengan kekerasan; sebab adalah sungguh penting untuk tidak membuat luka meradang. ~ St Fransiskus de Sales
Suatu ketika seorang kerabatnya, yang amat bersedih hati karena sesuatu yang ia pikir diakibatkan oleh orang kudus kita ini, mendatangi rumah St Fransiskus de Sales dan mencecarnya dengan macam-macam caci-maki dan ancaman. St Fransiskus, yang sama sekali tak bersalah, berusaha menerangkan dan menenangkannya dengan kelemah-lembutan dan keramahan yang luar biasa. Tetapi orang ini, dikuasai amarah, tak hendak mendengar dan terus memaki dan mencerca, hingga akhirnya ia pergi dengan masih dikuasai pikiran jahat. Kemudian St Fransiskus, berpaling kepada seorang religius yang ada di sana dan sungguh terheran-heran akan kesabaran orang kudus ini, berkata kepadanya; “Pater, tidaklah perlu lebih menggusarkan hati orang baik ini dengan menunjukkan kekasaran kepadanya. Suatu hari ia akan tahu dengan baik dan akan menyesalinya.” Demikianlah, beberapa hari kemudian, orang itu datang untuk memohon maaf.
25. Obat penawar kemarahan adalah: 1. Mencegah pergerakannya, jika mungkin, atau setidaknya mengesampingkannya segera, dengan mengalihkan pikiran pada sesuatu yang lain. 2. Seturut teladan para rasul ketika mereka melihat samudera mengamuk, memohon pertolongan kepada Tuhan agar berkenan memberikan kedamaian hati. 3. Sepanjang hati panas, tidak berbicara, pun tidak mengambil tindakan apapun mengenai perkara tersebut. 4. Berupaya melakukan tindakan kebaikan dan kerendahan hati kepada orang yang marah, teristimewa sebagai silih atas sikapnya. ~ St Fransiskus de Sales
26. Biasakanlah hatimu untuk taat, patuh, tunduk dan siap mengalah sepenuhnya seturut ketentuan, demi kasih kepada Tuhan-mu yang termanis; maka engkau akan menjadi seperti merpati, yang menerima segala warna-warni yang diberikan matahari kepadanya. Untuk tujuan ini, tempatkanlah jiwamu setiap pagi dalam sikap kerendahan hati, ketenangan, dan kemanisan, dan perhatikanlah dari waktu ke waktu sepanjang hari adakah jiwa telah menjadi kusut dalam kasih demi apapun; dan apabila jiwa tidak damai, lepas, dan tenang, biarlah jiwa beristrahat. ~ St Fransiskus de Sales
27. Sarana terpenting untuk memperoleh kelemah-lembutan batin adalah dengan membiasakan diri untuk melakukan segala tindakan kita dan mengucapkan segala perkataan kita, entah penting atau tidak, dengan tenang dan lemah-lembut. Lipatgandakanlah tindakan-tindakan ini sebanyak mungkin pada masa ketenangan, maka engkau akan membiasakan hatimu pada kelemah-lembutan ~ St Fransiskus de Sales
28. Guna menjaga jiwa agar terus-menerus dalam keadaan tenang dan lemah-lembut, adalah perlu untuk melakukan setiap tindakan sebagai dilakukan di hadapan Allah, dan seolah Allah Sendiri yang telah menetapkannya. ~ St Fransiskus de Sales
Ketika seorang dari para Bapa Padang Gurun ditanya bagaimana ia berupaya mengamalkan hidup yang begitu teratur dan begitu tenang sempurna, ia menjawab: “Aku selalu mengarahkan mataku pada malaikat pelindungku, yang senantiasa berdiri di sampingku, menolongku dalam setiap pekerjaan, mengajarku dalam setiap keadaan apa yang harus aku katakan dan lakukan, dan memperhatikan dengan seksama setiap tindakanku. Maka bangkitlah dalam diriku keseganan dan hormat yang begitu rupa kepadanya sehingga membuatku selalu cermat agar tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang dapat menyedihkannya.
29. Salah satu cara untuk memelihara kedamaian dan ketenangan hati yang terus-menerus adalah dengan menerima segalanya seolah berasal dari tangan-tangan Allah, apapun itu, dan dengan cara bagaimanapun hal itu datang. ~ St Dorotheus
St Katarina dari Siena suatu ketika bertanya kepada Tuhan jalan untuk mendapatkan kedamaian hati yang sejati, dan Ia menjawab: “Percaya bahwa segala yang terjadi di dunia datang atas perintah dan penetapan Allah, dan bahwa Ia tiada pernah membiarkan suatupun terjadi pada siapapun yang tidak untuk yang terbaik baginya.”
St Fransiskus de Sales suatu kali dicaci maki secara keji oleh seseorang, di hadapan seorang religius yang begitu terpesona akan kesabarannya dan bertanya bagaimana ia dapat menanggung begitu banyak penghinaan dengan ketenangan begitu rupa. “Tidakkah engkau lihat,” jawabnya, “bahwa Allah telah memprediksi dari segala kekekalan masa rahmat yang akan Ia anugerahkan kepadaku agar aku dapat menanggung segala cercaan ini dengan lapang dada? Dan adakah engkau tiada menghendaki aku meminum piala ini, yang telah dipersiapkan bagiku oleh tangan-tangan seorang Bapa yang begitu baik?”
“Aku tidak pernah,” kata jiwa yang beroleh pencerahan, “sepenuhnya memahami kebenaran ini, yang begitu sering diulang lagi dan lagi, bahwa tak sehelai rambut pun dari kepala kita jatuh tanpa dikehendaki Bapa Surgawi. Memahami ini dengan jelas dan sepenuhnya menjadikan jiwa partisipan dalam sukacita surgawi bahkan semasa masih di dunia, dan salib yang sebelumnya adalah neraka, sekarang menjadi firdaus baginya. Ini semua karena jiwa mengecap kemanisan mengagumkan yang tersembunyi bagi jiwa-jiwa murni dalam perintah Allah. Dan cukuplah bahwa segala sesuatunya adalah sesuai perintah-Nya, membuat jiwa menemukan di dalamnya kedamaian dan ketenangan.”
sumber : “Catholic Virtues: Meekness”; www.catholictradition.org
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Tradition.”
|