|
Bagaimana Mengatasi Ketidaksabaran?
Pater John, sudah lama saya melatih kehidupan rohani saya. Tetapi, tak peduli betapa saya melatihnya, saya mendapati diri jatuh lagi dan lagi dalam ketidaksabaran. Saya berusaha dan berusaha, tetapi tampaknya tak dapat sabar. Apakah yang salah?
Engkau tak akan senang dengan jawab atas pertanyaanmu, bagaimanapun saya akan berusaha menjawabnya. Ada dua hal yang mungkin menjadi kesalahanmu - atau mungkin engkau melakukan keduanya.
Ke Akarnya
Pertama-tama, engkau mungkin menebas batang-batang yang kelihatan dari rumput liar ini dalam taman jiwamu, tanpa mencabut hingga ke akar-akarnya. Kita semua mempunyai suatu kombinasi unik dari kecenderungan-kecenderungan cinta diri, dan kecenderungan-kecenderungan itu mengekspresikan diri dalam suatu kombinasi manifestasi yang unik. Seperti seberkas rumput liar yang besar dengan banyak batang dan cabang. Kita semua punya pengalaman mencabuti rumput-rumput liar. Kita tahu bahwa jika kita tidak mencabut hingga ke akar-akarnya, maka rumput liar itu akan tumbuh tegak lagi. Dari pertanyaanmu, tampaknya engkau cenderung menganggap ketidaksabaran sebagai akar dari cinta diri. Mungkin, bukan itu masalahnya. Ketidaksabaran merupakan salah satu dari banyak turunan dosa pokok kesombongan, yang adalah suatu kelekatan tak teratur pada keunggulan diri sendiri. Kau menjadi tak sabar sebab jauh dalam lubuk hati, kau mempunyai suatu kecenderungan kuat untuk berpikir bahwa kau begitu cerdik, pandai, dan berbakat hingga kau pastilah dapat mengurus dirimu sendiri dan menangani segala situasi yang terjadi sekelilingmu dengan kecemerlangan sempurna. (Sudah saya katakan bahwa kau tak akan senang dengan jawaban ini.) Sebab itu, engkau tak akan pernah dapat mengatasi pola perilaku tak sabar hanya dengan memerintahkan diri untuk menjadi lebih sabar. Engkau hanya akan punya percikan sangat kecil dari kesabaran jika kau mengikuti strategi itu, dan itu saja. Apa yang sungguh perlu kau lakukan adalah berlatih secara positif untuk tumbuh dalam keutamaan kerendahan hati. Kerendahan hati akan memerangi ketidaksabaranmu hingga ke akarnya.
Bagaimanakah kita bertumbuh dalam kerendahan hati? Pertama-tama, mohonlah rahmat setiap hari. Kedua, teruskan komitmen dengan bertekun dalam doa batin, meditasi hidup dan sabda Yesus, sang teladan sempurna kerendahan hati. Ketiga, tingkatkan kesungguhan hatimu dalam menyambut Sakramen Tobat dan Komuni Kudus. Akhirnya, jangan pernah biarkan satu hari pun berlalu tanpa melakukan SEKURANGNYA satu tindakan kecil penyangkalan diri yang TERSEMBUNYI, misalnya: dengan sengaja makan sesuatu yang tidak kau sukai, dengan sengaja tidak menyalakan radio selama lima menit pertama dari perjalanan pulang-pergimu, dengan sengaja tidak menanggapi seseorang yang secara tidak adil mengkritikmu….
Pengharapan Besar
Kedua, mungkin pengharapanmu keliru. Bertumbuh dalam keutamaan apa pun tidaklah seperti mengikuti jadwal seorang artis Hollywood. Di Hollywood, kau dapat berubah dari seorang dungu menjadi seorang juara dalam dua jam saja, seperti Peter Parker atau Rocky Balboa. Dalam kehidupan nyata, bertumbuh dalam kekudusan dan keutamaan membutuhkan waktu yang panjang dan terjadi secara perlahan-lahan. Itulah sebabnya mengapa Yesus selalu menggunakan perumpamaan-perumpamaan tentang benih dan sesuatu yang bertumbuh. Jika kita duduk dan mencermati sebiji benih tumbuh, tampaknya tak ada suatupun yang terjadi. Namun sesungguhnya, ada banyak hal yang terjadi, jika tersedia parameter pertumbuhan (tanah, air, sinar matahari). Dalam kehidupan rohani, kita juga terlalu sering ingin melihat buah yang sepenuhnya ranum seketika. Baiklah, buah yang sepenuhnya ranum tak akan terlihat di dunia yang fana ini. Maaf, tapi memang demikian adanya! Sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Ayub, Bab 7 ayat 1: “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?”
Frustasi nyaris selalu merupakan dampak dari pengharapan. Jika engkau berlatih dengan serius untuk menjadi seorang yang lebih sabar, mengikuti teladan Kristus dengan lebih sungguh, saya dapat menjamin bahwa engkau akan lebih sabar sekarang dibandingkan lima tahun yang lalu. Dijamin! Saya berani bertaruh nyawa untuk itu. Jadi, jangan biarkan iblis memperdayamu hingga kau menjadi frustasi dalam tumbuh perlahan-lahan menjadi semakin sabar, hanya karena kau belum sempurna. Sebaliknya, setiap kali kau jatuh, kebaskan dirimu, arahkan pandanganmu ke surga dan katakan, “Engkau lihat betapa aku ini hanya seonggok debu dan abu, ya Tuhan? Terima kasih Engkau telah bersabar denganku. Aku tahu Engkau tak akan pernah meninggalkanku; tolonglah agar jangan pernah aku meninggalkan-Mu.”
Damai Kristus, P John Bartunek, LC
sumber : “Struggling with impatience, what can I do?” by Father John Bartunek, LC; Copyright © 2010 Catholic Spiritual Direction; http://rcspiritualdirection.com/blog
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Spiritual Direction”
|