|
Homili tentang Tujuh Dosa Pokok:
KEMARAHAN
Bacaan Pertama - Kejadian 15:5-12,17-18
Mazmur Tanggapan - Mazmur 27:1,7-8,8-9,13-14
Bacaan Kedua - Filipi 3:17-4:1 atau 3:20-4:1
Injil - Lukas 9:28b-36
In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti. Amen.
Pada hari ini sementara kita mendengarkan Injil tentang Transfigurasi, yang menunjukkan kepada kita pentingnya mengamalkan hidup yang saleh dan kudus demi transfigurasi diri kita di akhir waktu, saya hendak melanjutkan dengan serangkaian homili yang saya sampaikan mengenai tujuh dosa pokok. Pada hari ini kita akan melihat lebih dekat dosa mematikan Kemarahan (atau murka).
Kemarahan adalah sekaligus hasrat dan gerakan dari kehendak. Sebagai suatu hasrat, kemarahan mempunyai tujuan baik. Dengan kata lain, Allah telah memberikan kemarahan kepada kita sebagai sesuatu yang kudus; sebagai sesuatu yang dapat merupakan kesalehan. Sebagai misal, kemarahan dipergunakan untuk mengatasi kejahatan yang menyerang kita. Dalam contoh yang sangat umum: seekor nyamuk menjengkelkan kita, lalu dengan sedikit kemarahan untuk berusaha mengusirnya - kita menepisnya atau menghalaunya keluar. Selanjutnya kita marah pada orang-orang, binatang dan hal-hal sebab semuanya itu dari waktu ke waktu membuat kita jengkel. Sekarang, perasaan marah, yang berasal dari kehendak, terdiri dari suatu keinginan kuat untuk menolak dan menghukum apa yang menyerang kita. Sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa ada perasaan marah yang dibenarkan. Suatu kemarahan yang pada tempatnya, yang kuat namun rasional. Yang kuat, yang mencari perhitungan yang adil atas kesalahan. Itulah sebabnya mengapa misalnya kita dapat mengatakan bahwa hakim menjebloskan seseorang ke dalam penjara seumur hidup karena kesalahan yang diperbuat - hakim memberlakukan kemarahan yang adil dari masyarakat dan kemarahan yang pada tempatnya karena apa yang dilakukan orang itu. Kita melihat kemarahan yang pada tempatnya atau dibenarkan semacam ini pada waktu Tuhan kita mengusir para penukar uang dari Bait Allah, jika kalian ingat akan perikop tersebut dalam Kitab Suci.
Sekarang, agar suatu kemarahan dapat disebut pada tempatnya, dibenarkan, kemarahan itu harus memenuhi tiga kriteria. Pertama, kemarahan harus adil. Kemarahan harus adil secara obyektif (tidak berat sebelah). Kemarahan itu harus berusaha menghukum hanya mereka yang layak mendapatkan hukuman. Kita tak dapat marah, misalnya, karena suatu perkara yang tidak adil. Kedua, kemarahan harus diperlembut dengan kendali dalam pelaksanaannya; tak boleh berlebihan. Itulah sebabnya mengapa mungkin, misalnya, ada suatu perkara yang adil akan tetapi mendapatkan kemarahan yang berlebihan atas perkara tersebut. Harus ada keseimbangan antara kejahatan dan hukuman. Dan ketiga, kemarahan haruslah digerakkan oleh cinta kasih. Kemarahan janganlah digerakkan oleh kedengkian, melainkan harus digerakkan oleh semangat demi kebaikan dan demi pertobatan dan perubahan orang yang bersalah. Apabila ketiga persyaratan ini tak terpenuhi, entah karena tak adanya perkara adil yang obyektif, tidak diperlembut dengan kendali dan tidak digerakkan oleh cinta kasih; apabila salah satu dari ketiga kriteria tak terpenuhi, maka terdapat kesalahan moral dalam kemarahan kita. Itulah apa yang kita sebut kemarahan sebagai suatu keutamaan - sebab Allah memberikannya kepada kita, demi melindungi kita.
Sekarang, marilah kita berbicara mengenai kemarahan, atau murka, sebagai suatu dosa pokok. Sebagai suatu dosa pokok, kemarahan merupakan suatu keinginan yang keji dan tak teratur untuk menghukum yang lain. Kerap kali kemarahan ini disertai dengan kedengkian yang berupaya mendatangkan kejahatan atas kejahatan. Adalah satu perkara, misalnya, untuk mengenyahkan si penyerang, akan tetapi perkara lain untuk membalaskan kejahatan atasnya. Sekarang, gerakan pertama, atau dapat kita katakan tanda pertama, dari kemarahan biasa adalah ketidaksabaran. Ketidaksabaran merupakan suatu bentuk dari kemarahan. Dan ketidaksabaran ini mewujudkan diri dalam kejengkelan dan dari sini mengalir pergolakan dan lalu kegarangan dan pada akhirnya meledak dalam amarah. Dan kemarahan dapat memburuk menjadi kedengkian yang terkadang bahkan dapat sampai ke tahap menghendaki kematian lawan atau menghendaki sesuatu yang sungguh buruk terjadi atasnya.
Selanjutnya, kita bertanya kepada diri sendiri: berapa berat dosa kita dengan menjadi marah atau merasa marah? Apabila kemarahan hanya sekedar melampiaskan gerak hasrat, sebab kita semua dapat marah, maka itu adalah dosa ringan. Ini benar bahkan ketika kita menjadi marah. Pertengkaran lazim dalam keluarga: di mana sesekali suami dan isteri mungkin berteriak satu sama lain, adalah dosa ringan biasa. Tetapi ini dapat menjadi dosa berat jika kemarahan kita mengakibatkan dampak serius, dengan kata lain, jika kita dengan hebat menghina seseorang, atau jika kita mengakibatkan luka serius atas mereka. Jadi, sebagai misal, jika kalian mengatakan sesuatu yang sangat buruk; jika kalian menghina pasangan; jika kalian mengata-ngatai mereka dengan ngeri, atau yang lebih parah, bahkan menimpakan kekerasan atas mereka - maka ini adalah dosa berat sebab di luar dari sekedar pelampiasan; sengaja dan mau melakukannya.
Inilah apa yang dimaksud Tuhan kita ketika Ia mengatakan kepada kita dalam Kitab Suci: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”
Apabila gerak kedengkian tidak disengaja, dengan kata lain, kita tidak mau melakukannya, maka itu adalah dosa ringan sebab kita tahu bahwa dosa berat mempersyaratkan unsur kesengajaan: kita harus tahu bahwa itu adalah salah dan kita toh tetap melakukannya. Kalian tak dapat melakukan dosa berat karena tak sengaja. Terkadang, ketika kita marah, suatu perasaan dengki akan melanda diri kita, akan tetapi jika kita tidak menyetujui perasaan tersebut dan jika pada saat-saat yang lebih tenang kita tak menghendaki perasaan itu, maka kita melakukan dosa ringan. Akan tetapi, jika kita menyimpan perasaan itu, kita memikirkannya, kita menyetujuinya, jika kita merancangkan rencana bagaimana kita dapat mendatangkan kejahatan atas orang, maka kita melakukan dosa berat.
Sekarang, apakah dampak-dampak kemarahan? Kemarahan mengakibatkan banyak kejahatan baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Kemarahan bertanggung jawab atas pembunuhan. Kemarahan bertanggung jawab atas perang sipil; atas perang antar bangsa. Semuanya ini bersumber dari kemarahan. Kemarahan merupakan penyebab perceraian; kemalangan dalam keluarga. Bilamana seorang marah, maka ada ketidakbahagiaan. Sebagian keluarga hidup dalam ketidakbahagiaan yang tak kunjung henti sebab seorang dalam keluarga selalu marah-marah. Biasanya, suami akan berbicara dengan keras dalam amarah dengan menunjukkan hasratnya secara berlebihan dan tak sepantasnya. Ia melontarkan kata-kata kasar kepada isteri dan anak-anaknya. Ia membanting pintu dan barang-barang dan terkadang bahkan berlaku kejam terhadap keluarganya. Di lain pihak, terkadang isteri yang berteriak-teriak. Ia tak henti-hentinya mengkritik semua orang. Ia mengeluh mengenai pekerjaan yang harus dilakukannya dan mengomeli siapa saja yang lewat. Ia menjadi orang yang berlawanan dari yang seharusnya - sumber kasih dan kelemah-lembutan dan damai. Ia seringkali menjadi seseorang yang dihindari oleh sebab kemarahannya. Anak-anak menunjukkan amarahnya dengan mendongkol, ketika mereka masih belia, dan kelak melalui pemberontakan dan menggerutu terhadap mereka yang lebih tua. Kemarahan ini merupakan penyebab dari perilaku kasar yang sering kita lihat dalam diri para remaja. Mereka merasa ditindas oleh orangtua mereka. Mereka memiliki keinginan tak teratur untuk mandiri dan dewasa seketika dan mereka marah dalam hati sebab mereka merasa bahwa segala bentuk otoritas adalah suatu penindasan. Dan mereka berkeliaran dalam ketidakbahagiaan yang terus-menerus: dengan muka masam dan cemberut dan gerutu dan semua orang di sekeliling mereka menjadi tak bahagia.
Kemarahan juga menghalangi perkembangan rohani kita sebab kita kehilangan pertimbangan baik. Kita tak dapat berpikir sehat ketika kita marah. Kemarahan membuat ktia kehilangan kelemah-lembutan. Kemarahan membuat kita buta akan hak-hak orang lain dan kemarahan mengenyahkan kedamaian batin yang membuat kita kehilangan semangat permenungan.
Jadi, apakah yang dapat kita lakukan untuk mencabut akar dosa pokok ini? Atau apakah obat mujarab mengatasi kemarahan? Yang pertama adalah apa yang kita sebut permenungan. Dan permenungan adalah memberikan perhatian pada kehadiran Allah dalam jiwa kita. Apa yang menghentikan aliran hasrat dan amarah adalah mengingat bahwa jiwa kita adalah Bait Allah. Dan kita harus sering memikirkan ini. Obat yang kedua adalah kerendahan hati. Orang yang cenderung marah adalah nyaris selalu orang yang sombong. Kesombongan membuat mereka sensitif berlebihan mengenai diri mereka sendiri dan bagaimana orang lain memperlakukan mereka. Mereka terdorong marah karena alasan-alasan yang salah. Luka yang mereka rasakan sungguh hanyalah dibuat-buat. Semuanya ada dalam benak tetapi mereka mewujudkannya menjadi kemarahan. Kesombongan mereka mencari hanya kebaikan mereka sendiri dan memandang sebelah mata kebaikan orang lain. Sebaliknya, orang yang rendah hati tidak terlalu mempedulikan dirinya sendiri dan menanggung dengan sabar kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Obat yang ketiga adalah doa. Kita harus berdoa setiap hari untuk mengatasi kemarahan dan berbulat hati untuk menghindarinya. Tak ada keutamaan ilahi yang dapat dicapai dengan sarana-sarana duniawi sebagaimana kalian tak dapat pergi ke bulan, misalnya, dengan sebuah mobil. Keutamaan-keutamaan ilahi membutuhkan sarana-sarana ilahi dan ini adalah doa. Obat terakhir adalah apa yang kita sebut kelemah-lembutan. Kelemahlembutan adalah perilaku atau sikap hati, menurut surat pertama St Petrus, di mana orang dengan suka hati menerima dan tunduk tanpa melawan kehendak dan keinginan orang lain. Orang yang lembut hati tidak mementingkan kehendak sendiri. Ia tidak terus-menerus memikirkan dirinya sendiri, atau caranya sendiri, atau gagasannya sendiri, atau kepentingannya sendiri. Ia bersedia memposisikan diri di tempat kedua dan tunduk demi mencapai apa yang baik bagi yang lain. Ini adalah suatu tanda, bukan kelemahan karakter, sebagaimana dipikirkan sebagian orang, melainkan kekuatan sebab membutuhkan keberanian besar - penguasaan diri yang besar untuk memposisikan diri di tempat kedua.
Kitab Suci mencatat ayat-ayat yang sangat menyentuh hati mengenai kemarahan. Dalam Kitab Amsal kita membaca: Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak. Dalam Kitab Pengkhotbah: Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh. Dalam Kitab Sirakh: Dendam kesumat dan amarah pun sangat mengerikan juga, dan orang berdosalah yang dikuasainya. Lagi dalam Kitab Sirakh: Jangan bagaikan singa di rumahmu dan dahsyat di tengah-tengah isi rumahmu. Dan dalam surat St Yakobus: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.
In nómine Patris, et Fílii, et Spíritus Sancti. Amen.
sumber : “Homily: The Seven Capital Sins - WRATH”; Copyright TheValleyCatholic.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|