|
Pengantar kepada Hidup Saleh:
Miskin di Hadapan Allah
oleh: St Fransiskus dari Sales
Bab XIV
Miskin di Hadapan Allah di Tengah Kekayaan
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga" (Matius 5:3); dan jika demikian, celakalah orang yang kaya di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kepahitan neraka. Kaya di hadapan Allah yang aku maksud adalah ia yang kekayaannya menguasai pikirannya, atau yang pikirannya terbenam dalam kekayaannya. Ia yang miskin di hadapan Allah adalah ia yang hatinya tidak dipenuhi dengan cinta kekayaan, yang pikirannya tidak terpikat pada kekayaan. Burung halcyon membangun sarangnya seperti sebuah bola, sama sekali tak ada celah selain dari satu lubang kecil di bagian atas, melarungkan sarangnya ke laut, begitu aman dan tak tertembusi, hingga gelombang-gelombang laut membawanya serta tanpa sedikit air pun masuk, sementara sarang itu terapung-apung di atas laut, mengatasi, demikian dapat dikatakan, gelombang-gelombang laut. Dan seperti ini, anakku, seharusnya hatimu - terbuka hanya bagi surga, tak tertembusi oleh kekayaan dan harta duniawi. Jika ada padamu harta kekayaan, jagalah hatimu agar jangan terikat padanya; biarlah hatimu berada pada tingkat yang lebih tinggi, dan di tengah kekayaan berlaku seolah engkau tiada memilikinya, - mengatasinya. Jangan biarkan pikiran yang adalah keserupaan dengan Allah bertaut hanya pada hal-hal duniawi; biarlah ia senantiasa ditinggikan mengatasinya, tidak terbenam di dalamnya.
Ada perbedaan besar antara memiliki racun dan teracuni. Semua apoteker mempunyai racun tersedia untuk keperluan khusus, tetapi itu tidak berarti mereka teracuni, sebab racun hanya ada di apotik mereka, bukan dalam diri mereka; demikian pula engkau dapat memiliki kekayaan tanpa teracuni olehnya, sepanjang kekayaan itu ada dalam rumahmu atau dompetmu saja, dan tidak dalam hatimu. Adalah hak istimewa umat Kristiani untuk kaya dalam hal-hal materiil, dan miskin dalam keterikatan padanya, dan dengan demikian bisa mempergunakan kekayaan di dunia ini dan bisa beroleh ganjaran atas kemiskinan di dunia mendatang.
Sebenarnya, puteriku, tak seorang pun akan pernah mengakui bahwa dirinya tamak; - setiap orang mengingkari sifat buruk yang memalukan ini - manusia memaafkan diri dengan berdalih demi membiayai anak-anak mereka, atau berdalih demi masa depan - mereka tidak pernah berlebihan, selalu ada alasan tepat untuk mengumpulkan lebih banyak; dan bahkan yang paling tamak dari antara manusia tidak saja tidak mengakui dirinya tamak, melainkan dengan setulus hati yakin bahwa mereka tidak tamak; dan itu karena ketamakan adalah sedahsyat demam yang tak terasa hingga ia menyerang dengan teramat ganas. Musa melihat api suci yang menyala dalam semak duri tanpa membakarnya (Keluaran 3:2), tetapi api duniawi ketamakan bertindak tepat sebaliknya - ia membakar si tamak, tetapi tanpa menyala, sebab, di tengah panasnya yang paling membara, si tamak yakin bahwa ia sendiri cukup sejuk nyaman dan berpendapat dahaganya yang tak terpuaskan sebagai sekedar benar dan wajar.
Apabila engkau menginginkan dengan sungguh, antusias dan terus-menerus apa yang tidak engkau miliki, adalah memang sungguh baik mengatakan bahwa engkau tak hendak mendapatkannya secara tidak adil, tetapi engkau sepanjang waktu bersalah atas ketamakan. Ia yang dengan sungguh dan antusias ingin minum, meski itu sekedar air saja, dengan itu menunjukkan bahwa ia terbakar nafsu. Aku sulit berpikir kita dapat mengatakan bahwa adalah sah menginginkan secara sah untuk memiliki apa yang menjadi milik orang lain - dengan bertindak demikian bukankah jelas kita ingin memperolehnya dengan mengorbankan yang lain? Dan ia yang memiliki sesuatu secara sah, bukankah jelas lebih berhak untuk memilikinya, daripada kita untuk memperolehnya? Mengapakah kita harus menginginkan apa yang menjadi miliknya? Bahkan meski keinginan itu sah, itu bukanlah suatu yang baik, sebab tak sepatutnya kita seperti orang lain yang menghendaki apa yang kita miliki, betapapun sahnya itu. Inilah dosa Ahab ketika ia berupaya mendapatkan kebun anggur Nabot dengan membelinya secara sah, ketika Nabot secara sah ingin memilikinya bagi dirinya sendiri - Ahab dengan sangat, terus-menerus dan antusias menginginkannya, dan dengan berlaku demikian ia tidak menyenangkan hati Allah (1 Raja-raja 21).
Jangan biarkan dirimu menginginkan apa yang menjadi milik sesamamu hingga ia tak lagi ingin memilikinya, - maka keinginannya akan sepenuhnya sesuai dengan keinginanmu, - dan aku dapat setuju bahwa engkau menambahkannya pada harta dan milikmu, asalkan itu bukan sekedar dengan keadilan yang kaku, melainkan dengan kelembutan dan kasih.
Jika engkau bertaut erat pada harta milikmu, dan tenggelam di dalamnya, melekatkan hati dan pikiranmu padanya, dan khawatir gelisah kalau-kalau engkau kehilangannya, maka, percayalah, engkau masih agak terbakar hasrat nafsu; - sebab pasien demam meneguk air yang kami berikan dengan hasrat dan kepuasan yang tak lazim bagi mereka yang sehat.
Tidaklah mungkin menikmati kegembiraan besar dalam suatupun tanpa menjadi terikat padanya. Jika engkau kehilangan harta, dan mendapati dirimu bersusah hebat atas kehilangan itu, engkau dapat yakin bahwa engkau cukup terikat padanya; - tak ada bukti yang terlebih meyakinkan akan cinta terhadap sesuatu yang hilang selain dari kesedihan kita atas kehilangan itu.
Sebab itu, janganlah menautkan cintamu pada suatupun yang tidak engkau miliki; janganlah biarkan hatimu terbenam pada apa yang engkau miliki; janganlah larut dalam kesedihan atas kehilangan yang mungkin terjadi atasmu - dan maka engkau dapat secara logis yakin bahwa meski sesungguhnya kaya, engkau tidak terlalu cinta kekayaan, melainkan bahwa engkau miskin di hadapan Allah, dan karenanya berbahagia, sebab kerajaan surga adalah milikmu.
Bab XV
BAGAIMANA MENGAMALKAN KEMISKINAN SEJATI, MESKI SESUNGGUHNYA KAYA
Pelukis Parrhasius menggambar sebuah lukisan inspiratif dan imajinatif mengenai masyarakat Athena, mengekspresikan berbagai sifat yang bertentangan dalam diri mereka: sekaligus mudah berubah, lekas naik darah, tidak adil, tidak stabil, santun, berbelas-kasihan, penuh kasih sayang, pongah, besar kepala, rendah hati, pembual, dan pengecut, - dan untuk bagianku, puteriku terkasih, aku senang melihat bersatu dalam hatimu baik kekayaan maupun kemiskinan, kepedulian sekaligus keengganan terhadap hal-hal duniawi.
Adakah engkau merasa terlebih sakit dibandingkan pada umumnya manusia duniawi untuk menjadikan kekayaanmu berguna dan bermanfaat? Bukankah para tukang kebun seorang raja lebih rajin dalam merawat serta memperindah taman-taman kerajaan dibandingkan andai taman-taman itu milik mereka sendiri? Mengapakah? Jelas karena taman-taman ini adalah milik raja, kepada siapa para tukang kebun wajib memberikan pelayanan yang pantas. Anakku, harta kekayaan kita bukanlah milik kita, - Allah memberikannya kepada kita untuk mengusahakannya, agar kita menjadikannya berbuah dan bermanfaat bagi pelayanan-Nya, dan dengan berbuat demikian kita menyenangkan-Nya. Dan ini haruslah kita lakukan dengan terlebih tulus dibandingkan orang-orang duniawi, sebab mereka dengan cermat merawat harta kekayaan mereka demi cinta diri, sementara kita sepatutnya bekerja demi cinta kepada Allah. Cinta diri adalah cinta yang khawatir, gelisah dan over-antusias, dan jadi karya yang dilakukan demi kepentingannya penuh masalah, makan hati dan tidak memuaskan; - sementara cinta Allah adalah cinta yang tenang, damai dan sentosa, dan jadi karya yang dilakukan demi kepentingannya, bahkan dalam hal-hal duniawi, adalah lemah-lembut, dapat dipercaya, dan tenang. Marilah kita memelihara keadaan yang tenang demikian, dan bahkan ketika apa yang dapat didayagunakan meningkat, barang-barang duniawi kita, seturut tanggung-jawab posisi kita, - ini dapat diterima oleh Allah demi kepentingan cinta kepada-Nya.
Tetapi berhati-hatilah agar engkau tidak ditipu oleh cinta diri, sebab terkadang cinta diri begitu cerdik menyamarkan diri sebagai cinta Allah hingga engkau dapat salah membedakan satu dari yang lain. Guna menghindari ini, dan guna menghindari kepedulianmu terhadap barang-barang duniawi merosot menjadi ketamakan, adalah perlu seringkali mengamalkan kemiskinan sesungguhnya di tengah kekayaan yang Allah limpahkan kepadamu.
Untuk tujuan ini selalu bagikanlah sebagian dari milikmu dengan memberikannya secara suka hati kepada kaum miskin; engkau memiskinkan dirimu sendiri dengan apapun yang engkau bagi-bagikan. Benar bahwa Allah akan memberikannya kembali kepadamu, bukan hanya di dunia mendatang, melainkan juga di sini, sebab tak ada suatupun yang mendatangkan begitu banyak kemakmuran duniawi seperti amal derma sukarela, tetapi sementara itu, engkau secara logis lebih miskin karena apa yang engkau bagikan. Sungguh adalah kemiskinan yang suci dan kaya yang berasal dari amal derma.
Cintailah mereka yang miskin dan kemiskinan, - cinta ini akan menjadikanmu sungguh miskin, sebab, sebagaimana dikatakan Kitab Suci, kita menjadi seperti yang kita kasihi. Kasih menjadikan kekasih serupa. "Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah?" kata St Paulus. Ia mungkin mengatakan: Jika ada orang merasa miskin, tidakkah aku turut merasa miskin? sebab kasih menjadikannya serupa dengan mereka yang ia kasihi; dan jika demikan, jika engkau mengasihi mereka yang miskin, engkau akan sungguh ikut ambil bagian dalam kemiskinan mereka, dan menjadi miskin seperti mereka.
Dan jika engkau mengasihi mereka yang miskin, carilah mereka, bersukahatilah membawa mereka ke rumahmu, dan pergilah kunjungi rumah mereka, berbicaralah bebas dengan mereka, dan sedialah bertemu mereka, entah dalam gereja atau di tempat lainnya. Biarlah lidahmu menjadi miskin bersama mereka dalam percakapan, tetapi biarlah tanganmu kaya dalam membagi-bagikan dari kelimpahanmu. Adakah engkau siap untuk bertindak lebih jauh, anakku? tidak berhenti dengan menjadi miskin seperti mereka yang miskin, melainkan terlebih miskin lagi? Pelayan tidak lebih besar dari tuannya, adakah engkau mau menjadi pelayan kaum miskin, merawat mereka yang terbaring sakit di ranjangnya dengan tangan-tanganmu sendiri, menjadi tukang masak mereka, tukang jahit mereka. Ya puteriku, pelayanan yang demikian lebih mulia dari menjadi seorang raja! Betapa menyentuh hati bagaimana St Louis, salah seorang raja teragung, memenuhi kewajiban ini; melayani kaum miskin di rumah mereka sendiri, dan setiap hari mempersilakan tiga orang dari mereka makan di meja makannya sendiri; seringkali ia sendiri makan sisa-sisa makanan mereka dalam cintanya akan kerendahan hati. Dalam kunjungannya yang kerap ke rumah-rumah sakit ia akan memilih mereka yang terjangkit penyakit yang paling menjijikkan, borok dan bisul, kanker, dan sejenisnya; dan mereka ini ia layani, dengan berlutut dan tanpa penutup kepala, memeluk Juruselamat dunia yang ada dalam diri mereka, dan menghibur mereka dengan segala kelemah-lembutan kasih seorang ibu. St Elizabeth dari Hungaria biasa berbaur bebas di kalangan kaum miskin, dan suka membalut diri dalam busana sederhana mereka di tengah perempuan-perempuan yang berpakaian semarak. Sudah pasti pribadi-pribadi dari kalangan kerajaan ini miskin di tengah kekayaan mereka dan kaya dalam kemiskinan.
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Pada Hari Penghakiman Raja segala raja dan petani akan berkata kepada mereka, "Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian. Mari, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan."
Setiap orang kadang kala mendapati diri mereka berkekurangan dalam apa yang mereka butuhkan dan merasa terganggu. Seorang tamu yang patut kita sambut dengan hormat tiba, dan kita tak dapat menjamunya seperti yang kita harapkan; kita ingin mengenakan busana mahal kita dan sekonyong-konyong busana itu tak ada pada tempatnya; semua anggur di gudang bawah tanah tiba-tiba berubah masam; kita mendapati diri seolah berada di suatu dusun desa di mana segalanya berkekurangan: kamar, tempat tidur, makanan, orang-orang: singkat kata, orang-orang paling kaya dapat mudah mendapati diri tanpa sesuatu yang mereka inginkan, dan nyaris menderita kemiskinan. Terimalah keadaan yang demikian dengan gembira, bersuka atasnya, tanggunglah dengan sukarela.
Lagi, jika engkau dimiskinkan banyak ataupun sedikit oleh peristiwa-peristiwa yang tak terduga, seperti badai, air bah, kebakaran, kekeringan, perampokan, atau perkara hukum; maka ini adalah waktu yang sesungguhnya untuk melatih kemiskinan, menerima kehilangan dengan tenang, dan menyesuaikan diri dengan sabar dengan keadaan yang ada. Esau dan Yakub keduanya datang kepada ayah mereka dengan tangan berbulu, tetapi bulu di tangan Yakub tidak tumbuh dari kulitnya dan dapat dicabut tanpa sakit. Bulu di tangan Esau tumbuh alami dari kulitnya, ia akan menjerit dan meronta jika ada yang mencabutnya. Demikianlah jika harta kekayaan sangat lekat di hati kita, dan badai atau perampok merenggutnya, kita akan meledak dalam keluhan murka dan kesedihan hati. Tetapi jika kita hanya berpegang padanya dengan kepedulian bahwa Allah menghendaki kita memilikinya, dan tidak dengan segenap hati mencintainya, kita akan melihat harta kekayaan itu direnggut pergi tanpa kehilangan ketenangan kita. Inilah tepatnya perbedaan antara penutup tubuh manusia dan hewan; penutup tubuh hewan tumbuh di atas dagingnya, sementara penutup tubuh manusia hanya dibalutkan dan jadi dapat ditanggalkan seturut kehendaknya.
Bab XVI
BAGAIMANA MEMILIKI KEKAYAAN ROHANI DI TENGAH KEMISKINAN SESUNGGUHNYA
Tetapi jika engkau sungguh miskin, putriku, demi Allah jadilah miskin di hadapan Allah; terimalah kemiskinan tanpa protes, dan ubahlah batu berharga kemiskinan ke nilai sesungguhnya. Kecemerlangannya tak dapat dilihat di dunia ini, namun demikian sungguh sangat luar biasa.
Jadi, bersabarlah! engkau tak sendirian. Tuhan kita terkasih, Bunda Maria, para Rasul, tak terbilang banyaknya para kudus, baik santa maupun santo, miskin, dan meski mungkin mereka kaya, telah memandang rendah kekayaannya dan memilih menjadi miskin. Betapa banyak orang-orang kudus dari dunia ini yang telah melewati banyak kesulitan demi mencari kemiskinan suci di rumah-rumah sakit dan biara-biara! Betapa derita yang mereka alami demi menemukannya; biarlah St Alexis, St Paula, St Paulinus, St Angela, dan banyak lainnya menjadi saksi; sementara bagimu, anakku, kemiskinan datang tanpa diminta - engkau telah mendapatkan kemiskinan tanpa mencarinya - maka peluklah kemiskinan sebagai sahabat Yesus Kristus, yang dilahirkan, hidup dan wafat dalam kemiskinan, dan menanggungnya sepanjang hidup-Nya.
Ada dua hak istimewa besar sehubungan dengan kemiskinanmu, melalui mana engkau dapat beroleh ganjaran besar. Pertama, ini bukanlah pilihanmu sendiri, melainkan Kehendak Allah seorang, yang telah menjadikanmu miskin. Sekarang, apakah kita menerimanya sekedar karena ini adalah Kehendak Allah dan baik dalam pandangan-Nya? Sepanjang kita menerimanya dengan suka hati dan demi cinta - sedikit demi cinta diri, lebih banyak demi cinta kepada Allah, - maka penerimaan Kehendak Allah dengan sepenuh hati ini akan memurnikan secara luar biasa penderitaan apapun.
Hak istimewa kedua adalah bahwa kemiskinan ini begitu miskin. Ada kemiskinan yang diagungkan, dipeluk, begitu dicintai dan diindahkan, hingga sulit dapat disebut miskin seperti kemiskinan yang dipandang hina, diremehkan dan diabaikan yang juga ada. Sekarang, kemiskinan yang paling duniawi adalah dari jenis yang terakhir ini, sebab mereka yang di luar kemauannya menjadi miskin, dan tak dapat menolong dirinya sendiri, tak banyak merenung, dan tepat karena itulah kemiskinan mereka lebih miskin dari kemiskinan kaum religus. Kemiskinan religius memiliki rahmat yang sangat istimewa dan luar biasa melalui intensi dan kaul dengan mana kemiskinan diterima.
Jadi janganlah mengeluh akan kemiskinanmu, puteriku, - kita hanya mengeluh akan apa yang tak hendak kita terima, dan jika kemiskinan tak hendak engkau terima, engkau tak lagi miskin di hadapan Allah. Janganlah bersusah hati karenanya sebab kemiskinan dibutuhkan; di sana tersedia satu rahmat besar kemiskinan. Adalah terlalu ambisius berupaya menjadi miskin tanpa menderita ketidaknyamanan, atau dengan kata lain, menikmati ganjaran kemiskinan sekaligus kenyamanan seorang kaya.
Janganlah malu menjadi miskin atau malu menerima amal kasih. Terimalah apa yang diberikan kepadamu dengan kerendahan hati, dan terimalah penolakan dengan lemah-lembut. Kerap bangkitkan dalam benakmu perjalanan Bunda Maria ke Mesir bersama Kanak-kanak Kudus, dan akan segala kemiskinan, penghinaan dan penderitaan yang mereka tanggung. Jika engkau mengikuti teladan mereka engkau akan sungguh kaya di tengah kemiskinanmu.
sumber : “Introduction to the Devout Life by Saint Francis of Sales”
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|