|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Maret 2011
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
HENDAKNYALAH KITA BERSAHAJA, RENDAH HATI DAN MURNI
 Adalah melalui Malaikat Agung-Nya, St Gabriel, Bapa di atas memaklumkan kepada Perawan Maria yang tersuci dan mulia bahwa Sabda Allah yang berkenan, kudus dan mulia akan turun dari surga dan megambil dari rahimnya daging yang nyata dari kerapuhan kemanusiaan kita. Meski Ia kaya raya melampaui pemahaman kita, Ia berkenan memilih menjadi miskin bersama BundaNya yang tersuci. Dan menjelang sengsara-Nya, Ia merayakan Paskah bersama para murid-Nya. Kemudian Ia memanjatkan doa kepada BapaNya dengan mengatakan: Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.
Walau demikian, Ia menyerahkan kehendak-Nya dalam kehendak BapaNya. Bapa menghendaki bahwa PutraNya yang terkudus dan mulia, yang Ia serahkan kepada kita dan yang dilahirkan bagi kita, melalui DarahNya Sendiri mempersembahkan DiriNya sebagai suatu kurban persembahan di salib. Ini dilakukan bukan demi DiriNya Sendiri melalui Siapa segala sesuatu dijadikan, melainkan demi dosa-dosa kita. Ini dimaksudkan untuk meninggalkan bagi kita suatu teladan mengenai bagaimana mengikuti jejak langkah-Nya. Dan Ia menghendaki kita semua diselamatkan melalui Dia, dan untuk menyambut-Nya dengan hati murni dan tubuh tak bercela.
O betapa bahagia dan terberkati mereka yang mengasihi Tuhan dan melakukan sebagaimana Tuhan Sendiri katakan dalam Injil: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Oleh sebab itu, marilah kita mengasihi Allah dan bersembah sujud kepada-Nya dengan hati dan pikiran yang murni. Inilah yang teristimewa dikehendaki-Nya ketika Ia bersabda: Penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Sebab semua yang bersembah sujud kepada-Nya haruslah melakukannya dalam roh kebenaran. Marilah kita juga melambungkan bagi-Nya puji-pujian dan doa kita dengan mengatakan: Bapa kami, yang ada di surga, sebab kita harus senantiasa berdoa dan tiada pernah menjadi kendor.
Selanjutnya, marilah kita menghasilkan buah-buah penitensi yang pantas. Marilah kita juga mengasihi sesama kita sebagaimana kita mengasihi diri sendiri. Marilah amalkan cinta kasih dan kerendahan hati. Marilah memberikan amal kasih sebab ini membasuh jiwa kita dari noda cemar dosa. Manusia kehilangan segala benda-benda duniawi yang mereka tinggalkan di dunia ini, tetapi mereka membawa bersama mereka ganjaran dari cinta kasih dan amal kasih yang mereka berikan. Sebab dari sanalah mereka akan menerima dari Tuhan ganjaran dan imbal jasa yang pantas bagi mereka. Janganlah kita arif dan bijak menurut daging. Sebaliknya hendaknyalah kita bersahaja, rendah hati dan murni. Janganlah pernah kita berkeinginan untuk unggul dari yang lain. Melainkan, hendaknyalah kita menjadi pelayan-pelayaan yang taat pada setiap orang demi Allah. Roh Tuhan akan tinggal pada mereka semua yang hidup dengan cara ini dan bertekun di dalamnya hingga akhir. Ia akan tinggal tetap dalam mereka. Mereka akan menjadi anak-anak Bapa yang melakukan karya-Nya. Mereka adalah mempelai, saudara dan ibu dari Tuhan kita Yesus Kristus.
“Inti kerendahan hati adalah menaruh kemauan sendiri kepada kehendak Allah.”
~ St. Bernardus
|
|
MENGENAI KERENDAHAN HATI
dikutip dari: “Mengikuti Jejak Kristus” oleh Thomas a Kempis (1380-1471)
 Hendaknya janganlah terlalu mempedulikan siapa yang ada di pihakmu dan siapa yang menentangmu; tetapi upayakan yang terbaik agar Allah besertamu dalam segala yang kau lakukan. Upayakan hati nurani yang baik, maka Allah akan melindungimu dengan aman; tiada seorang pun dapat menyakitimu jika Allah berkehendak menolongmu. Jika engkau tahu bagaimana menderita dalam diam, engkau pasti akan menerima pertolongan Allah. Sebab Allah tahu saat dan cara terbaik untuk membebaskanmu, pasrahkanlah dirimu kepada-Nya, sebab Allah menolongmu dan membebaskanmu dari segala kekacauan.
Seringkali baik bagi kita, dan membantu kita untuk tetap rendah hati, jika orang-orang lain mengetahui kelemahan-kelemahan kita dan menegur kita untuk itu. Apabila seorang merendahkan diri atas kesalahan-kesalahannya, ia lebih mudah melegakan dan meredakan amarah orang-orang lain. Allah melindungi dan membebaskan orang yang rendah hati; Ia mengasihi dan menghibur orang yang rendah hati; Ia berkenan kepada orang yang rendah hati; Ia melimpahinya dengan banyak rahmat; kemudian, sesudah deritanya, Allah akan meninggikannya dalam kemuliaan.
Allah menyingkapkan rahasia-rahasia-Nya kepada orang yang rendah hati dan dalam kebajikan-Nya menarik orang itu kepada Diri-Nya. Apabila orang yang rendah hati menghadapi kesulitan, ia tinggal dalam damai, sebab ia bertaut erat kepada Allah dan bukan kepada dunia ini. Janganlah berpikir bahwa engkau telah mengalami kemajuan terkecuali jika engkau merasa diri sebagai yang terendah dari antara semua orang.
Di atas segalanya, peliharalah damai dengan semua orang. Adalah lebih berguna menjadi orang yang cinta damai daripada orang yang cerdik pandai. Orang yang memperturutkan hawa nafsu kerapkali berpikiran jahat mengenai seorang yang baik, dan mudah percaya pada perkara-perkara yang paling buruk; seorang yang baik dan cinta damai menjadikan segalanya baik. Seorang yang tinggal dalam damai tak mencurigai siapa pun. Tetapi orang yang tegang dan digelisahkan oleh kejahatan dihantui oleh segala macam kecurigaan; ia tiada pernah damai dengan dirinya sendiri, pun ia tiada membiarkan orang-orang lain tinggal dalam damai. Ia sering berbicara ketika seharusnya diam, dan ia tiada dapat mengatakan apa yang sungguh bermanfaat. Ia sadar benar akan kewajiban orang-orang lain tetapi melalaikan kewajibannya sendiri. Jadi, pertama-tama giatkanlah dirimu sendiri, dan barulah engkau akan lebih layak untuk menggiatkan sesamamu.
Engkau sangat pandai dalam memaafkan dan membenarkan perbuatan-perbuatanmu sendiri, dan namun demikian engkau tak hendak mendengarkan dakwaan orang-orang lain terhadapmu. Adalah lebih tepat mendakwa dirimu sendiri dan memaafkan saudaramu. Jika engkau berharap orang-orang lain bersabar terhadapmu, terlebih dahulu bersabarlah terhadap mereka.

Seorang Fransiskan yang termasyhur, Broeder Justin, menggabungkan diri dalam Ordo St Fransiskus setelah menolak kemuliaan dan jabatan paling terhormat yang ditawarkan Raja Hungaria kepadanya. Selanjutnya ia maju begitu pesat dalam agama, hingga ia kerap mengalami ekstasi. Suatu hari, sementara sedang bersantap malam di ruang makan biara, ia diangkat ke udara dan diangkat mengatasi kepala para religius, untuk berdoa di depan sebuah lukisan Santa Perawan yang dilukis tinggi di atas tembok. Oleh karena perkara yang menakjubkan ini, Paus Eugenius IV memanggilnya dan memeluknya, tak membiarkan sang biarawan mencium kaki beliau; dan lalu, setelah memberinya tempat duduk di sampingnya, bapa suci berbincang-bincang panjang lebar dengannya, dan memberinya banyak hadiah dan indulgensi. Hal ini menjadikannya seorang yang sia-sia, dan pada waktu ia kembali, St Yohanes Capestrano yang bertemu dengannya mengatakan: “Betapa malang! Engkau pergi sebagai seorang malaikat, dan engkau pulang sebagai seorang iblis!” Sesungguhnya, semakin hari ia semakin sombong; ia membunuh seorang biarawan dengan sebilah pisau. Setelah melewatkan beberapa waktu lamanya dalam penjara, ia melarikan diri ke Kerajaan Naples, di mana ia melakukan banyak kejahatan, dan akhirnya mati dalam penjara.
“Sepatutnyalah engkau memohon kepada Allah untuk memberimu kuasa melawan dosa kesombongan yang adalah musuh terbesarmu - akar dari segala yang jahat, dan kegagalan dari segala yang baik. Sebab Allah menolak orang yang sombong.”
~ St. Vincentius de Paul
|
|
MENELADANI KERENDAHAN HATI YESUS DAN MARIA
dikutip dari: Homili Paus Benediktus XVI, Loreto, 2 September 2007
 Bapa Surgawi, setelah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita (bdk Ibrani 1:1) menawarkan Perjanjian-Nya dan kerapkali menghadapi perlawanan dan penolakan, menghendaki dalam kepenuhan waktu membuat suatu perjanjian yang baru, definitif dan tak dapat dibatalkan dengan umat manusia, memeteraikannya dengan Darah Putra TunggalNya, yang wafat dan bangkit demi keselamatan segenap umat manusia. Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia, mengenakan daging kita sendiri dalam Maria, berpartisipasi dalam hidup kita dan memilih untuk ikut ambil bagian dalam sejarah kita. Guna mewujudkan Perjanjian-Nya Allah mencari suatu hati yang muda dan Ia mendapatinya dalam Maria, “seorang perempuan muda”…
Tetapi apakah yang membuat manusia “muda” dalam makna Injil? Pertemuan kita, yang mengambil tempat dalam bayang-bayang suatu tempat devosi kepada Maria, mengundang kita untuk memandang pada Bunda Maria. Karenanya, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Bagaimanakah Maria melewatkan masa mudanya? Mengapakah bahwa dalam diri Maria, yang tidak mungkin menjadi mungkin? Maria sendiri menyingkapkannya bagi kita dalam Kidung Magnificat: “Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Lukas 1:48a). Adalah kerendahan hati Maria yang dihargai Allah lebih dari yang lain dalam dirinya. Dan adalah tepat mengenai kerendahan hatilah yang disampaikan oleh kedua bacaan lainnya dalam liturgi pada hari ini kepada kita. Bukankah suatu kebetulan yang menggembirakan bahwa pesan ini disampaikan kepada kita tepat di sini di Loreto? Di sini, kita secara spontan berpikir akan Rumah Suci Nazaret, yang adalah Rumah kerendahan hati: kerendahan hati Allah yang menjadi manusia, yang menjadikan Diri-Nya kecil, dan kerendahan hati Maria yang menyambut-Nya dalam rahimnya; kerendahan hati sang Pencipta dan kerendahan hati makhluk ciptaan. Yesus, Putra Allah dan Putra Manusia, dilahirkan dari pertemuan kerendahan hati ini. “Makin besar engkau, makin patut kau rendahkan dirimu, supaya kau dapat karunia di hadapan Tuhan. Sebab besarlah kekuasaan Tuhan,” (3:18-20) demikian ayat dalam Kitab Sirakh; dan dalam Injil, sesudah Perumpamaan tentang Pesta Perkawinan, Yesus mengakhirinya dengan: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Lukas 14:11). Sekarang, perspektif ini sebagaimana disampaikan dalam Kitab Suci tampak teristimewa menantang bagi budaya dan kepekaan manusia jaman sekarang. Orang yang rendah hati dipandang sebagai seorang yang menyerah, seorang yang kalah, seorang yang tak punya suara bagi dunia. Tetapi sebaliknya, inilah jalan utama, bukan hanya karena kerendahan hati merupakan suatu keutamaan manusia yang luhur melainkan karena, pertama-tama, kerendahan hati mewakili cara Allah Sendiri bertindak. Kerendahan hati adalah cara yang dipilih Kristus, Pengantara Perjanjian Baru, yang “dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8).
Kaum muda terkasih, saya menangkap dalam sabda Allah mengenai kerendahan hati ini suatu pesan penting yang secara istimewa up to date bagi kalian yang hendak mengikuti Kristus dan menjadi warga Gereja-Nya. Inilah pesan itu: janganlah mengikuti jalan kesombongan melainkan ikutilah jalan kerendahan hati. Lawanlah arus: jangan dengarkan suara-suara yang memikat dan yang membujuk-rayu yang sekarang mencecar kalian dari berbagai sisi kehidupan yang ditandai oleh kecongkakan dan kekerasan, oleh penindasan dan keberhasilan berapapun harganya, oleh yang kelihatan dan oleh mendapatkannya dengan menjual diri. Betapa banyak pesan, yang sampai kepada kalian khususnya lewat media massa, yang menjadikan kalian sasaran! Waspadalah! Bersikaplah kritis! Jangan ikuti gelombang yang diakibatkan oleh tindakan persuasif yang dahsyat ini. Jangan takut, teman-terman terkasih, untuk memilih jalan “alternatif” yang ditunjukkan oleh kasih sejati: gaya hidup bersahaja dan bijak; hubungan emosional yang tulus dan murni; komitmen yang dapat diandalkan dalam belajar dan berkarya; kepedulian yang sungguh bagi kebaikan bersama. Jangan takut tampak berbeda dan dikritik karena apa yang mungkin tampak kuno atau ketinggalan jaman; teman-teman sebaya tetapi juga orang-orang dewasa, khususnya mereka yang tampaknya jauh dari pola pikir dan nilai-nilai Injili, berteriak-teriak melihat orang yang berani hidup seturut kepenuhan manusia sebagaimana diwahyukan oleh Yesus Kristus.
Oleh sebab itu, teman-teman terkasih, jalan kerendahan hati bukanlah jalan pengecut melainkan jalan keberanian. Kerendahan hati bukanlah akibat kekalahan melainkan akibat kemenangan kasih atas cinta diri dan kemenangan rahmat atas dosa. Dalam mengikuti Kristus dan meneladani Maria, kita harus memiliki keberanian untuk rendah hati; kita harus dengan rendah hati mempercayakan diri kepada Tuhan, sebab hanya dengan jalan ini kita akan dapat menjadi alat-alat yang taat dalam tangan-Nya dan mengijinkan-Nya melakukan hal-hal besar dalam diri kita. Tuhan melakukan perkara-perkara ajaib yang hebat dalam diri Maria dan para kudus! Saya terpikir, misalnya, akan St Fransiskus dari Assisi dan St Katarina dari Siena, para pelindung Italia. Saya terpikir juga akan kaum muda yang mengagumkan seperti St Gemma Galgani, St Gabriel dari Bunda Dukacita, St Louis Gonzaga, St Dominic Savio, St Maria Goretti, yang dilahirkan tak jauh dari sini, dan para Beato, Piergiorgio Frassati dan Alberto Marvelli. Dan saya juga terpikir akan banyak kaum muda laki-laki dan perempuan yang termasuk dalam bilangan para kudus yang “anonim”, tetapi yang tak anonim bagi Allah. Bagi Dia, setiap pribadi individu adalah unik, dengan nama dan wajah masing-masing. Semua, dan kalian tahu itu, dipanggil untuk menjadi kudus!
Seperti kalian lihat, kaum muda terkasih, kerendahan hati yang telah Tuhan ajarkan kepada kita dan para kudus telah menjadi saksi atasnya, tiap-tiap orang seturut panggilan originalnya masing-masing, berbeda dari cara hidup pengecut. Marilah kita, di atas segalanya, memandang pada Maria. Di sekolah Maria, kita juga, seperti Maria, dapat mengatakan “ya” kepada Tuhan bagi umat manusia, dari mana mengalirlah semua “ya” hidup kita. Memang benar, tantangan-tantangan yang harus kalian hadapi banyak dan tak mudah. Akan tetapi yang terutama adalah senantiasa mengikuti Kristus hingga akhir tanpa syarat ataupun kompromi. Dan mengikuti Kristus berarti merasa diri sebagai bagian yang hidup dari tubuh-Nya yang adalah Gereja. Orang tak dapat menyebut diri seorang murid Yesus jika ia tak mengasihi dan mentaati Gereja-Nya. Gereja adalah keluarga kita di mana kasih kepada Tuhan dan kepada saudara dan saudari kita, teristimewa melalui partisipasi dalam Ekaristi, memungkinkan kita untuk mengalami sukacita telah mencicipi terlebih dahulu, sekarang ini, kehidupan mendatang yang akan sepenuhnya diterangi oleh Kasih. Kiranya komitmen kita sehari-hari adalah hidup di sini di bawah seolah kita telah di surga di atas.
Leluhur pertama kita memasukkan dosa ke dalam dunia melalui kesombongan mereka, dengan menghendaki menjadi seperti Allah dan menjadi tuan atas diri mereka sendiri. Sebagai akibatnya, mereka kehilangan surga bagi diri mereka dan bagi kita. Oleh sebab ketidaktaatan mereka dan ketidaktaatan kita menghinakan Allah Sendiri, maka hanya Dia yang dapat membayarkan pelunasan penuh bagi dosa-dosa kita. Dan Allah telah tepat melakukan itu, melalui kerendahan hati PutraNya: Yesus.
|
|
|
dari Meditasi
mistikus, stigmatis, visionaris
(1774 - 1824)
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|