|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
April 2011
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
YESUS BERPUASA EMPATPULUH HARI LAMANYA
dikutip dari penglihatan Beata Anna Katharina Emmerick
Ke-Allah-an Yesus, pula misi-Nya, tersembunyi dari setan. Kata-kata: “"Inilah AnakKu yang Ku-kasihi, kepada-Nya-lah Aku berkenan,” dipahami oleh setan sebagai dikatakan atas seorang manusia belaka, seorang Nabi. Yesus telah kerapkali dan dalam berbagai macam cara menderita secara batin. Pencobaan pertama yang Ia alami adalah: “Bangsa ini begitu rusak lakunya. Haruskah Aku menderita semua ini dan menggenapi karya yang untuknya Aku datang ke dunia?” Akan tetapi, dengan kasih dan kerahiman yang tak terhingga, Ia menaklukkan pencobaan di hadapan segala penderitaan-Nya.
Yesus berdoa di grotto terkadang prostratio, berlutut lagi, atau berdiri. Ia mengenakan jubah-Nya yang biasa, tapi tak berikat pinggang, yang longgar dan berkibar-kibar, kaki-Nya telanjang. Mantolnya, sepasang dompet dan ikat pinggang tergeletak di atas tanah dekat sana. Setiap hari doa-Nya berbeda; setiap hari Ia memperolehkan bagi kita rahmat-rahmat baru, yang hari ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Andai bukan karena ini, perlawanan kita atas pencobaan tak akan pernah ada gunanya.
Yesus tidak makan maupun minum, tetapi aku melihat-Nya dikuatkan oleh para malaikat. Ia tidak menjadi kurus oleh puasa-Nya yang panjang, meski Ia menjadi sama sekali pucat dan putih....
Suatu kali, setan datang menghampiri dalam rupa seorang tua yang lemah, seorang Esseni yang disegani, terseok-seok mendaki bukit yang curam. Tanjakan tampak sangat menyulitkannya hingga, sungguh, aku berbelas-kasihan kepadanya. Begitu tiba di grotto, dengan suatu erangan keras ia jatuh tak sadarkan diri akibat kelelahan di pintu masuk. Tetapi Yesus tak mempedulikannya sama sekali, bahkan sekilas pun tidak. Lalu, dengan susah payah orang tua itu bangkit dan memperkenalkan diri sebagai seorang Esseni dari Gunung Karmel. Ia, katanya, telah mendengar tentang Yesus dan, meski nyaris mati kecapaian, telah mengikuti-Nya ke sana untuk dapat duduk bersama-Nya barang sejenak dan berbincang dengan-Nya mengenai hal-hal kudus. Ia tahu juga apa itu berpuasa dan berdoa, dan jika mereka berdua menggabungkan doa-doa mereka kepada Allah, maka kuasanya akan terlebih besar. Yesus hanya melontarkan beberapa patah kata saja: “Pergilah, setan! Waktunya belum tiba.” Lalu, tahulah aku bahwa itu adalah setan, sebab sementara ia berbalik dan lenyap, aku melihatnya menjadi gelap dan mengerikan. Aku merasa ingin tertawa apabila teringat bagaimana ia menjatuhkan diri di tanah dan harus bersusah-payah bangkit lagi sendiri....
Yesus sekarang menderita lapar dan haus. Aku melihat-Nya beberapa kali di pintu masuk grotto. Suatu hari menjelang sore, setan dalam rupa seorang laki-laki yang besar dan kuat mendaki gunung. Ia melengkapi diri di bawah dengan dua buah batu panjang seukuran roti, tetapi ujung-ujungnya berbentuk kotak, yang sementara mendaki ia bentuk sehingga tampak sempurna seperti roti. Ada sesuatu yang lebih mengerikan dari biasanya pada setan itu ketika ia melangkah masuk ke dalam grotto menghampiri Yesus. Di masing-masing tangan ia memegang satu dari kedua batu itu dan berkata: “Engkau benar tidak menyantap buah-buahan, sebab buah-buahan hanya membangkitkan selera. Tetapi jika Engkau adalah Putra Allah yang terkasih, yang atas-Nya Roh Kudus turun saat pembaptisan, lihatlah! Aku telah membentuk batu-batu ini menyerupai roti. Ubahlah batu-batu ini menjadi roti.” Yesus tidak menoleh kepadanya, tetapi aku mendengar-Nya hanya mengucapkan kata-kata ini: “Manusia hidup bukan hanya dari roti!” Kata-kata ini saja yang aku tangkap dengan jelas. Maka setan menjadi sama sekali murka. Ia memperlihatkan cakar-cakarnya seolah hendak mencengkeram Yesus (tindakan yang aku lihat dilakukan dengan batu-batu itu berada di tangannya), dan ia pun melarikan diri. Aku tertawa melihat setan harus lari dengan beban batu-batu itu di tangannya....
Aku bertanya pada diriku sendiri bagaimana ke-Allah-an Kristus tetap begitu tersembunyi dari setan. Dan aku menerima pengajaran berikut: Aku mengerti dengan jelas bahwa itu merupakan keuntungan yang paling tak terpahami bagi manusia bahwa baik manusia maupun setan tidak mengetahui ke-Allah-an Kristus, dan bahwa dengan demikian manusia belajar bagaimana mengamalkan iman. Tuhan mengucapkan satu perkataan kepadaku yang masih aku ingat. “Manusia,” demikian kata-Nya, “tidak tahu bahwa ular yang mencobainya adalah setan; demikian pula, setan tidak akan tahu bahwa Ia yang menebus manusia adalah Allah.” Aku melihat bahwa ke-Allah-an Kristus tidak disingkapkan kepada setan hingga saat di mana Ia membebaskan jiwa-jiwa dari Limbo.
Kisah selengkapnya silakan baca:
|
|
dari Meditasi
mistikus, stigmatis, visionaris
(1774 - 1824)
|
PENCOBAAN YESUS DI PADANG GURUN
dikutip dari: Homili Paus Benediktus XVI, Angelus, 21 Februari 2010
 Saudara dan Saudari terkasih,
Rabu lalu, dengan Ritus tobat Abu kita memulai Masa Prapaskah, suatu masa pembaharuan rohani dalam persiapan bagi perayaan tahunan Paskah. Tetapi apakah maknanya memulai perjalanan Masa Prapaskah? Injil pada hari Minggu Pertama Masa Prapaskah ini menggambarkannya bagi kita dengan kisah pencobaan Yesus di padang gurun. Penginjil St Lukas menceritakan bahwa sesudah menerima Pembaptisan dari Yohanes, “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis.” (Lukas 4:1-2). Ada suatu ketegasan yang jelas akan kenyataan bahwa pencobaan-pencobaan itu bukan sekedar suatu kebetulan di jalan melainkan lebih merupakan konsekuensi dari keputusan Yesus untuk melaksanakan misi yang dipercayakan kepada-Nya oleh Bapa untuk mengamalkan hingga akhir realitas-Nya sebagai Putra terkasih yang percaya total kepada-Nya. Kristus datang ke dalam dunia demi membebaskan kita dari dosa dan dari pesona tak pasti merancangkan hidup kita dengan mengesampingkan Allah. Yesus tidak melakukannya dengan maklumat-maklumat lantang melainkan dengan melawan si Penggoda itu sendiri, hingga ke Salib. Teladan ini berlaku bagi semua orang: dunia disempurnakan dengan mulai dari diri sendiri, mengubah, dengan rahmat Allah, segala sesuatu dalam hidup kita yang tidak berjalan baik.
Yang pertama dari ketiga pencobaan yang Setan hadapkan kepada Yesus berawal dari rasa lapar, yakni, dalam kebutuhan jasmani: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menanggapi dengan Kitab Suci: “Manusia hidup bukan dari roti saja” (Lukas 4:3-4; bdk. Ulangan 8:3). Maka iblis menunjukkan kepada Yesus semua kerajaan dunia dan mengatakan: “Jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Inilah muslihat kuasa; suatu muslihat yang hendak disingkapkan dan ditolak oleh Yesus: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:5-8; bdk. Ulangan 6:13). Bukannya menyembah kuasa, melainkan hanya menyembah Allah, kebenaran dan kasih. Akhirnya, si Penggoda membujuk Yesus agar Ia mengadakan suatu mukjizat yang spektakuler: yakni menerjunkan diri dari bubungan Bait Allah dan membiarkan para malaikat menyelamatkan-Nya agar semua orang percaya kepada-Nya. Akan tetapi, Yesus menjawab bahwa tak sepatutnya kita mencobai Allah (bdk. Ulangan 6:16). Kita tak dapat “melakukan suatu eksperimen” di mana Allah harus menangapi dan menunjukkan bahwa Ia adalah Allah: kita harus percaya kepada-Nya! Tak sepatutnya kita menjadikan Allah “bahan eksperimen” kita. Dengan masih merujuk Kitab Suci, Yesus menempatkan satu-satunya norma otentik ketaatan, keterpaduan dengan kehendak Allah, yang adalah dasar dari keberadaan kita. Ini juga merupakan sebuah pengajaran dasar bagi kita: jika kita menyimpan Sabda Allah dalam pikiran dan hati kita, jika Sabda Allah merasuki hidup kita, jika kita mengandalkan Allah, kita dapat menolak segala bentuk tipu muslihat si Penggoda. Lagipula, gambaran Kristus sebagai Adam baru muncul jelas dari kisah ini. Yesus adalah Putra Allah, yang rendah hati dan taat pada Bapa, tidak seperti Adam dan Hawa yang di Taman Eden takluk pada bujuk rayu roh jahat, untuk menjadi kekal tanpa Allah.
Masa Prapaskah adalah seperti suatu “retret” panjang di mana kita masuk kembali ke dalam diri dan mendengarkan suara Allah untuk mengatasi pencobaan-pencobaan Si Jahat dan untuk menemukan kebenaran dari keberadaan kita. Adalah suatu masa, dapat kita katakan, “latihan” rohani untuk hidup di samping Yesus, tidak dengan kesombongan dan kepongahan, melainkan dengan menggunakan senjata-senjata iman: yakni doa, mendengarkan Sabda Allah dan penitensi. Dengan cara ini kita akan berhasil merayakan Paskah dalam kebenaran, siap untuk memperbaharui janji-janji baptis kita. Kiranya Santa Perawan Maria membantu kita agar, dalam bimbingan Roh Kudus, kita dapat hidup penuh sukacita dan berbuah dalam masa rahmat ini.
“Hendaknyalah menjadi perhatian utama kita untuk menaklukkan diri kita sendiri, dan, dari hari ke hari, bertambah dalam kekuatan dan kesempurnaan. Akan tetapi, di atas segalanya, adalah penting bagi kita untuk berjuang menaklukkan pencobaan-pencobaan kecil kita, seperti ledakan amarah, prasangka, iri hati, dengki, dusta, ksesia-siaan, kelekatan, dan pikiran-pikiran jahat. Sebab dengan cara inilah kita akan mendapatkan kekuatan untuk menundukkan pencobaan-pencobaan besar.”
~ St. Fransiskus dari Sales
|
|
SABDA BAHAGIA VERSI IBLIS
 Berbahagialah orang yang lelah capai akibat kesibukan mereka sehari-hari sehingga tidak punya waktu untuk berdoa dan bersatu dengan Tuhan, karena merekalah anak-anakku yang mengerti kerinduan hatiku yang terdalam.
Berbahagialah orang yang selalu mengharapkan pujian, karena mereka mudah aku peralat dan tunggangi melalui kesia-siaan pujian.
Berbahagialah orang yang memelihara hati yang sensitif, yang dengan sedikit `sentilan' saja tersinggung, karena mereka akan kurang bersemangat dalam bekerja dan akan segera menghilang dalam pelayanan; mereka inilah fans setiaku.
Berbahagialah orang yang suka menimbulkan masalah, karena mereka akan membangkitkan pertikaian dan memporak-porandakan damai.
Berbahagialah orang yang selalu mengeluh, karena mereka membuatku bergirang bahwa benih sungut-sungut yang aku tabur tumbuh subur di hati dan lidah mereka.
Berbahagialah orang yang egois, suka mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain, karena mereka akan menyerakkan benih-benih cinta kasih.
Berbahagialah orang yang suka menggosip, karena mereka akan menimbulkan perpecahan dan pertengkaran, dan ini sungguh sangat menyenangkan hatiku.
Berbahagialah orang yang mengaku mengasihi Tuhan tetapi membenci saudara-saudaranya, karena mereka akan hidup bersamaku selamanya dalam kekekalan masa.
Berbahagialah orang yang membalas kebaikan dengan kejahatan, penganiayaan
dan kebencian, karena mereka akan mendapat upah yang sama denganku dalam kegelapan.
Berbahagialah orang yang membaca tulisan ini dan merasa isinya pas untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri, karena ia sudah berada dalam genggamanku.
“Barangsiapa ingin bersenang-senang dengan iblis tak akan dapat bersukacita dengan Kristus.”
~ St Petrus Krisologus
|
|
MENGATASI PENCOBAAN DALAM KRISTUS
oleh: St Agustinus dari Hippo
 Dengarlah, ya Allah, seruan permohonanku, sudi dengarlah doaku. Siapakah gerangan yang berbicara? Seseorang, tampaknya. Lihatlah, benarkah seseorang: Aku berseru kepada-Mu dari ujung-ujung bumi sementara hatiku dalam duka. Sekarang bukan lagi satu orang; melainkan dia dalam makna bahwa Kristus adalah satu, dan kita semua adalah anggota-anggotanya. Apakah yang dapat diserukan seorang individu dari ujung-ujung bumi? Dia yang berseru dari ujung-ujung bumi tiada lain adalah milik pusaka Putra. Dikatakan kepadanya: Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Ku-berikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. Kepunyaan Kristus ini, milik pusaka Kristus ini, tubuh Kristus ini, Gereja Kristus yang satu ini, persatuan kita ini, berseru dari ujung-ujung bumi. Apakah yang diserukannya? Apa yang aku katakan sebelumnya: Dengarlah, ya Allah, seruan permohonanku, sudi dengarlah doaku; aku berseru kepadamu dari ujung-ujung bumi. Yakni, aku meneriakkan seruan ini kepada-Mu dari ujung-ujung bumi; yaitu dari segenap penjuru bumi.
Mengapakah aku meneriakkan seruan ini? Sementara hatiku dalam duka. Pembicara menunjukkan bahwa ia ada di antara segala bangsa-bangsa di bumi dalam suatu kondisi, bukan ditinggikan dalam kemuliaan melainkan dalam pencobaan yang sengit.
Ziarah kita di dunia tak dapat terlepas dari pencobaan. Kita berkembang melalui sarana pencobaan. Tak seorang pun mengenal dirinya sendiri terkecuali melalui pencobaan, atau menerima suatu mahkota terkecuali sesudah kemenangan, atau berjuang terkecuali melawan suatu musuh atau pencobaan.
Dia yang berseru dari ujung-ujung bumi ada dalam duka, tetapi tidak ditinggalkan sendirian. Kristus memilih untuk memberi pertanda kepada kita, yang adalah tubuh-Nya, dengan sarana tubuh-Nya, dengan mana Ia telah wafat, bangkit dan naik ke surga, agar para anggota tubuh-Nya dapat berharap untuk mengikuti kemana Kepala mereka telah pergi sebelumnya.
Yesus menjadikan kita satu dengan-Nya ketika Ia memilih untuk dicobai oleh iblis. Kita telah mendengar dalam Injil bagaimana Tuhan Yesus Kristus dicobai oleh iblis di padang gurun. Jelas Kristus dicobai oleh iblis. Dalam Kristus kalian dicobai, sebab Kristus menerima daging-Nya dari kodratmu, tetapi dengan kuasa-Nya Sendiri Ia memperolehkan keselamatan bagi kalian; Ia menderita kematian dalam kodratmu, tetapi dengan kuasa-Nya Sendiri Ia memperolehkan kemuliaan bagi kalian; sebab itu, Ia menderita pencobaan dalam kodrat kalian, tetapi dengan kuasa-Nya Sendiri Ia memperolehkan kemenangan bagi kalian.
Jika dalam Kristus kita telah dicobai, dalam Kristus kita telah mengatasi Iblis. Adakah kalian memikirkan hanya pencobaan Kristus dan tidak memikirkan kemenangan-Nya? Lihatlah dirimu sendiri dicobai dalam Dia, dan lihatlah dirimu sendiri sebagai pemenang dalam Dia. Dari Dirinya Sendiri Ia dapat saja menahan iblis; tetapi jika Ia tidak dicobai, Ia tidak dapat mengajarkan kepada kalian bagaimana menang atas pencobaan.
Khotbah St Yohanes Maria Vianney:
|
|
|
|
“Janganlah berduka atas pencobaan-pencobaan yang engkau derita. Ketika Tuhan bermaksud menganugerahkan suatu keutamaan khusus kepada kita, Ia kerap membiarkan kita pertama-tama dicobai oleh kebiasaan buruk lawannya. Oleh sebab itu, pandanglah setiap pencobaan sebagai suatu undangan untuk bertumbuh dalam suatu keutamaan khusus dan sebagai suatu janji Allah bahwa engkau akan berhasil, jika engkau tetap berdiri teguh.”
~ St Filipus Neri
|
Masa Prapaskah & Masa Paskah
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|