|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Mei 2011
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
MARIA MENGHANTAR KITA KEPADA EKARISTI
oleh: Paus Yohanes Paulus II, Pesan Kepada Kongres Internasional Maria yang ke-19, Czestochowa, Polandia, 15 Agustus 1996
 1. “Salam Yesus, Putra Maria, dalam Hosti kudus, Engkau adalah sungguh Allah.” Menggabungkan diri dalam roh bersama mereka yang ikut ambil bagian dalam Kongres Internasional Maria yang ke-19, saya mengenangkan kembali kata-kata dari suatu madah yang di Polandia kerap mengiringi adorasi dan prosesi Ekaristi. Saya mengulangnya sebab kata-kata itu mengandung kebenaran bahwa, bersamaan dengan memuji Kristus yang hadir dalam misteri Ekaristi, selalu perlu kita menghadirkan kenangan akan Bunda Allah. Syukur terima kasih kepada fiat-nya yang murah hati hingga Sabda Allah menjadi daging oleh karya Roh Kudus. Maria mempersembahkan tubuhnya sendiri kepada Sabda sehingga Ia dapat mengenakannya pada DiriNya Sendiri dan mukjizat Inkarnasi Ilahi dapat digenapi. Dalam rahimnya yang perawan Maria mengandung Inkarnasi Sabda, menantikan “dengan kasih yang tak terkatakan” kelahiran sang Juruselamat - sebagaimana dinyatakan liturgi (Prefasi Adven II). Ketika Maria melahirkan Putra Allah, ia, dalam makna tertentu, adalah yang pertama menyembah kehadiran-Nya di antara manusia. Bersama dengan Yosef, Maria membawa Kanak-kanak Ilahi ke Bait Allah guna mempersembahkan-Nya kepada Allah seturut ketentuan Hukum Taurat. Bahkan pada waktu itu, melalui nubuat Simeon, Allah telah menyingkapkan kepadanya bahwa pedang dukacita akan menembusi hatinya, ketika Putranya menjadi tanda perbantahan “untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang!” (Lukas 2:34). Inilah pemakluman akan partisipasi Maria dalam karya keselamatan Kristus, Imam dan Kurban, yang akan digenapi di Golgota. “Di kaki Salib, demi kasih kepada Putra-Mu, ia memperluas keibuannya kepada segenap umat manusia yang dilahirkan kembali dari kematian oleh Kristus untuk suatu kehidupan yang tiada akan pernah berakhir…. Diangkat ke dalam kemuliaan surgawi, dengan kasih keibuan ia menyertai Gereja dan melindunginya dalam perjalanan menuju tanah air hingga hari Tuhan yang mulia” (Misa Italia, Prefasi Santa Perawan Maria III).
Setiap Misa Kudus menghadirkan dalam suatu cara yang tak berdarah kurban unik dan sempurna itu, yang dipersembahkan oleh Kristus di Salib, di mana Maria ikut ambil bagian, menggabungkan diri dalam roh dengan Putranya yang menderita, dengan penuh kasih menyetujui kurban-Nya dan mempersembahkan dukacitanya sendiri kepada Bapa (bdk Lumen Gentium, n. 58). Sebab itu, ketika kita merayakan Ekaristi, kenangan akan paskah Kristus, kenangan akan dukacita BundaNya juga dihidupkan dan dihadirkan, Bunda ini yang, sebagai seorang teladan yang tak tertandingi, mengajarkan kepada umat beriman untuk mempersatukan diri secara terlebih akrab mesra dengan kurban Putranya, sang Penebus. Melalui communio rohani dengan Bunda Allah yang berdukacita, orang-orang percaya ikut ambil bagian dalam suatu cara yang istimewa dalam misteri paskah dan terbuka pada tindakan luar biasa Roh Kudus yang mendatangkan sukacita adikodrati oleh sebab communio dengan Kristus yang mulia, seperti sukacita yang dianugerahkan kepada Maria dalam kemuliaan surga, sebagai orang pertama yang ikut ambil bagian dalam buah-buah Penebusan.
2. Maria dan Ekaristi. Para organisator Kongres Internasional Maria yang ke-19 di Jasna Gora mengajukan ini sebagai tema studi dan doa. Dan ini adalah pilihan yang tepat, teristimewa dalam sudut pandang Kongres Internasional Maria yang akan diselenggarakan tahun depan di Krakow. Dengan cara ini, sebagaiman Maria hadir di awal misi Inkarnasi Sabda, dan dengan demikian asal-muasal Ekaristi juga, Kongres Maria tahun ini menandai dimulainya persiapan rohani Gereja untuk menjadikan Kongres Ekaristi sebagai suatu pengalaman yang berbuah. Kiranya hari-hari ini mendekatkan kalian semua kepada dia yang - sepanjang hidupnya dalam communio dengan Putranya, tak hanya oleh ikatan darah namun teristimewa oleh kasih - adalah Guru yang paling sempurna dari kasih itu yang memampukan kita dipersatukan secara paling mendalam dengan Kristus dalam misteri kehadiran Ekaristik-Nya. Kiranya Maria menghantar kita kepada Ekaristi!
Saya meminta kalian semua yang berkumpul di Jasna Gora dalam rangka Kongres Maria untuk berdoa bagi intensi-intensi Gereja dan dunia. Sementara kita mengucap syukur atas duapuluh abad perlindungan Maria terhadap Gereja, marilah kita bersama memohonnya untuk menghantar orang-orang percaya ke suatu pengetahuan yang terlebih lagi sempurna akan kuasa penyelamatan Kurban Kristus, yang hadir dalam Ekaristi. Marilah kita berdoa agar pengalaman hidup communio bersama Kristus dapat menghasilkan buah-buah semangat yang berkobar dalam hati segenap umat Kristiani sementara mereka membangun suatu communio kasih di antara umat manusia. Kiranya Bunda Allah menghantar kita memasuki millennium ketiga, bersatu dengan Sabda Allah yang menjadi daging dalam dirinya. Saya dengan hangat memberkati kalian semua.
|
|
“Tubuh Kristus dalam Ekaristi Kudus adalah tubuh yang tepat sama dengan yang dilahirkan oleh Santa Perawan Maria.”
~ St Yohanes Damaskus
|
SEJARAH GELAR BUNDA DARI SAKRAMEN MAHAKUDUS
Pesta: 13 Mei
 St Petrus Yulianus Eymard dari Perancis mempunyai devosi yang kuat kepada Ekaristi Kudus dan Bunda Maria; ia memulai kehidupan imamatnya dalam Serikat Maria. Hatinya berkobar dengan kerinduan untuk mengadakan adorasi abadi kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus yang ditahtakan di atas sebuah tahta agung mulia dengan dikelilingi oleh sejumlah besar adorator. Pada tanggal 2 Februari 1851, di rumah doa Fourvière, Santa Perawan Maria membuatnya mengerti betapa mendesaknya hal ini. “Masing-masing misteri Putraku memiliki suatu ordo religius demi menghormatinya. Hanya Ekaristi saja yang tak memilikinya ….” Setelah beberapa tahun dilewatkan dalam refleksi bijak dan pergulatan batin, dan dengan didorong oleh Paus Pius IX, St Petrus Yulianus Eymard mendirikan Kongregasi Sakramen Mahakudus di Paris pada tanggal 13 Mei 1856.
Gelar Bunda dari Sakramen Mahakudus pertama-tama diberikan kepada Bunda Maria oleh St Petrus Yulianus Eymard pada bulan Mei 1868, sementara ia berbicara kepada para novisnya. Beberapa tahun kemudian ia menggambarkan seperti bagaimana hendaknya patung itu: “Santa Perawan menggendong Kanak-kanak dalam tangannya; dan Ia memegang sebuah piala di satu tangan dan sebuah Hosti di tangan lainnya.” St Eymard mendorong mereka untuk berseru kepada Maria: “Bunda dari Sakramen Mahakudus, doakanlah kami yang memohon pertolonganmu!”
Di kemudian hari, Pius IX memperkaya doa ini dengan indulgensi. Selanjutnya, St Pius X melakukan hal yang sama. Pada tangal 30 Desember 1905, beliau memberikan indulgensi 300 hari kepada umat beriman yang mendaraskan doa: “Bunda dari Sakramen Mahakudus, doakanlah kami.”
“Gelar ini, Bunda dari Sakramen Mahakudus, mungkin adalah yang paling bermakna dari semua,” kata St Pius X.
Pada tahun 1921, Kongregasi untuk Ibadat memberikan otorisasi kepada Kongregasi Sakramen Mahakudus untuk merayakan setiap tahun, pada tanggal 13 Mei, suatu “peringatan khidmad akan Santa Perawan,” dengan intensi menghormati Bunda Maria di bawah gelar “Bunda dari Sakramen Mahakudus.” Dan tentu saja, pesta ini masih terus dirayakan hingga kini dengan sukacita besar oleh segenap putera dan puteri rohani St Petrus Yulianus Eymard.
Paus Beato Yohanes XXIII memaklumkan gelar Bunda dari Sakramen Mahakudus pada saat yang sama beliau memaklumkan St Petrus Yulianus Eymard sebagai santo pada tanggal 9 Desember 1962, di penghujung sesi terakhir Konsili Vatican Kedua.
|
|
“Sebab itu di setiap Komuni Kudus yang kita sambut, adalah tepat, dan sungguh suatu hal yang amat indah, untuk memberikan perhatian pada kehadiran yang manis dan misterius Bunda Kita, yang secara tak terpisahkan bersatu dengan Yesus dalam Hosti. Yesus senantiasa adalah Putra yang ia sembah. Yesus adalah Daging dari dagingnya dan Darah dari darahnya.”
~ P. Stefano Manelli, O.F.M. Conv., S.T.D.
|
PESAN-PESAN SANTA PERAWAN MARIA DALAM BEBERAPA PENAMPAKAN
 Santa Perawan Maria dari Fatima menampakkan diri pada tanggal 13 Mei 1917, tepat pada Pesta Bunda dari Sakramen Mahakudus. Ia meminta anak-anak - Lucia dos Santos, Fransisco Marto dan Jacinta Marto - untuk mendaraskan doa berikut bersamanya,
“Ya Tritunggal Mahakudus, aku menyembah-Mu! Allah-ku, Allah-ku, aku mengasihi Engkau dalam Sakramen Mahakudus.”
Ada enam penampakan Bunda Maria yang terjadi selama enam bulan dan berpuncak pada Mukjizat Matahari pada tanggal 13 Oktober 1917, yang disaksikan oleh kurang lebih tujuhpuluh ribu orang. Mukjizat ini merupakan nubuat akan datangnya kemulian Yesus dalam Sakramen Mahakudus!
Pada tahun 1929, Sr Lucia mendapat anugerah visiun agung Tritunggal Mahakudus yang tersohor itu. Allah Bapa dan Roh Kudus hadir bersama Yesus, yang tergantung di salib. Sebuah Piala dengan sebuah Hosti di atasnya melayang-layang di samping Yesus. Darah mengalir dari kepala Yesus dan lambung-Nya yang terluka ke atas Hosti dan ke dalam Piala. Dari tangan kiri Yesus air mengalir turun ke atas Altar membentuk kata-kata “Rahmat dan Kerahiman”. Bunda Maria ada di sebelah kanan bawah Yesus, menyentuh Hatinya yang Tak Bernoda dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggenggam rosario.
“Datanglah ke kaki altar... dari sini rahmat akan dicurahkan kepada semua orang.”
“Mengapakah engkau tidak kerap menunjungi Putraku dalam Sakramen Mahakudus? Mengapakah engkau membiarkan dirimu terbawa kemalasan dan tidak pergi mengunjungi Dia yang menantimu siang dan malam?”
“Daraskanlah doa Para Abdi Ekaristi dengan pemahaman penuh akan maknanya; amalkanlah; persembahkanlah demi silih (apapun yang Tuhan kirimkan) bagi dosa-dosa. Biarlah tiap-tiap orang berjuang menurut kapasitas dan posisi masing-masing, untuk mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.”
DOA KEPADA
BUNDA DARI SAKRAMEN MAHAKUDUS
Terpujilah engkau, Maria,
Puteri Sion nan agung mulia!
Engkau amat dikaruniai dan penuh rahmat,
Sebab Roh Allah turun atasmu.
Kami memuliakan Tuhan
dan bersukacita bersamamu
sebab karunia Sabda yang menjadi daging,
roti hidup dan cawan sukacita kami.
|
|
Bunda Maria dari Sakramen Mahakudus,
teladan doa kami di Senakel,
doakakanlah kami
agar kami dapat menjadi apa yang kami sambut,
Tubuh Kristus, Putramu. Amin.
|
EKARISTI DAN PERAWAN MARIA
oleh: Paus Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis, No. 33
 Dari hubungan antara Ekaristi dan masing-masing sakramen, dan dari makna eskatologis dari misteri-misteri kudus, muncullah keseluruhan bentuk kehidupan Kristen, suatu kehidupan yang sepanjang masa diarahkan kepada kegiatan ibadat spiritual, suatu penyerahan diri yang berkenan pada Allah. Meskipun kita masih dalam perjalanan menuju kepenuhan harapan kita, ini tidak berarti bahwa kita belum dapat bersyukur mengetahui bahwa karunia Allah kepada kita telah menemukan penggenapan sempurnanya dalam diri Perawan Maria, Bunda Allah dan Bunda kita. Bagi kita, pengangkatan Maria ke surga dengan raga dan jiwa adalah tanda akan harapan pasti, karena hal ini menunjukkan kepada kita, dalam peziarahan meniti waktu, tujuan eskatologis; Sakramen Ekaristi telah memampukan kita mencapai tujuan itu meskipun sekarang baru dalam tahap mencicipi.
Dalam diri Maria yang amat kudus, kita juga melihat cara “sakramental” yang telah digenapi secara sempurna bahwa Allah turun untuk menjumpai makhluknya dan melibatkan mereka dalam karya-Nya yang menyelamatkan. Sejak dari Pemakluman Kabar Sukacita sampai Pentakosta, Maria dari Nazaret tampak sebagai sosok yang kebebasannya terbuka penuh kepada kehendak Allah. Perkandungannya yang tak bernoda diungkapkan justru dalam kepatuhannya yang tanpa syarat kepada Sabda Allah. Iman yang patuh dalam menanggapi karya Allah membentuk hidupnya setiap saat. Sebagai seorang perawan yang penuh perhatian keapda Sabda Allah, ia hidup dalam keserasian penuh dengan kehendak Allah; Maria menyimpan dalam hatinya kata-kata yang ia terima dari Allah dan, dengan merangkainya ibarat mosaik, ia belajar memahaminya dengan lebih mendalam (bdk Lukas 2:19-51); Maria adalah orang beriman agung yang dengan penuh keyakinan menempatkan diri di tangan Allah, sambil menyerahkan diri kepada kehendak-Nya. Misteri ini semakin mendalam tatkala Maria sepenuhnya terlibat dalam misi penebusan Yesus. Dalam kata-kata Konsili Vatican Kedua, “Santa Perawan makin maju dalam ziarah imannya, dan dengan setia mempertahankan persatuannya dengan Putranya sampai ia berdiri di kaki salib, sesuai dengan rencana ilahi (bdk Yohanes 19:25), sangat menderita bersama Putra tunggalnya, yang menyatukan dia dengan kurban-Nya dalam hati ibunya, dan dengan penuh kasih menyetujui penyerahan kurban yang lahir dari rahimnya. Akhirnya, ia diberikan oleh Kristus Yesus yang sama, yang menghadapi sakratul maut di salib, sebagai ibu bagi murid-Nya, dengan kata-kata ini, “Ibu, lihatlah putramu.” Sejak dari pemakluman Kabar Sukacita sampai di salib, Maria adalah satu-satunya yang menerima Sabda, yang menjadi daging dalam rahimnya, dan kemudian membisu dalam kematian. Akhirnya, dialah yang dengan tangannya menatang tubuh yang tak bernyawa dari Dia yang sungguh mengasihi orang-orang milik-Nya “sampai pada kesudahannya” (Yohanes 13:1).
Oleh karena itu, setiap kali kita menghampiri Tubuh dan Darah Kristus dalam liturgi Ekaristi, kita juga berpaling kepada Maria, yang dengan kesetiaannya yang tulus, menerima kurban Kristus untuk seluruh Gereja. Dengan tepat para Bapa Sinode menyatakan bahwa “Maria mengawali partisipasi Gereja dalam kurban sang Penebus.” Dialah sang Immaculata, yang menerima karunia Allah tanpa syarat dan karenanya disatukan dengan karya keselamatan-Nya. Maria dari Nazaret, ikon Gereja yang cemerlang, adalah model bagi setiap orang dari kita, yang dipanggil untuk menerima karunia yang adalah Yesus Sendiri dalam Ekaristi.

|
|
Ketika lebah telah mengumpulkan embun dari langit dan santapan paling manis dunia dari bunga-bungaan, ia mengubahnya menjadi madu, lalu bergegas menuju sarangnya. Demikian pula, imam, setelah mengambil dari altar Putra Allah (yang adalah bagaikan embun dari surga, dan Putra sejati Maria, bunga dari kemanusiaan kita), memberikan-Nya kepada kalian sebagai santapan lezat.”
~ St Fransiskus de Sales
|
|
|
|
Paus Benediktus XVI mencium reliquarium dengan darah Yohanes Paulus II
|
Lapangan Santo Petrus, Vatican City: Tepat pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 1 Mei 2011, di hadapan sekitar 1,5 juta umat, Paus Benediktus XVI memaklumkan Yohanes Paulus II sebagai “beato”. Dalam homili Bapa Suci mengatakan, “Hari ini adalah Hari Minggu Paskah Kedua, yang ditetapkan oleh Beato Yohanes Paulus II sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Tanggal ini ditetapkan untuk perayaan pada hari ini sebab, dalam penyelanggaran Ilahi, pendahulu saya tersebut wafat pada malam pesta ini. Hari ini juga adalah hari pertama bulan Mei, bulan Maria, dan peringatan liturgis St Yosef Pekerja. Semua unsur ini memperkaya doa kita, membantu kita dalam ziarah kita melintasi waktu dan tempat; tetapi di surga suatu perayaan yang sangat berbeda tengah dilangsungkan di antara para malaikat dan para kudus!”
Beatifikasi Yohanes Paulus II merupakan beatifikasi tercepat dalam Gereja Katolik Roma di era modern - hanya enam tahun sesudah Yohanes Paulus wafat, unggul beberapa hari dari rekor beatifikasi Moeder Teresa. Dengan mempertimbangkan mendesaknya permintaan “santo subito”, atau “santo sekarang juga”, Paus Benediktus mengabaikan tradisi masa lima tahun penantian dan memulai proses beatifikasi hanya beberapa minggu setelah wafat Yohanes Paulus II.
Pada tahun 1978, Kardinal Karol Wojtyla dari Krakow, dinobatkan sebagai Paus Yohanes Paulus II. Ia adalah seorang non-Italia pertama yang menjadi paus setelah empat abad sebelumnya; masa pontifikatnya berlangsung selama hampir duapuluh tujuh tahun. Dalam kepemimpinan beliau, Gereja menerbitkan katekismus baru setelah hampir lima ratus tahun. Ia adalah paus pertama yang mengunjungi mesjid dan sinagoga. “Dengan kesaksian iman, kasih dan kegagahan apostoliknya, disertai karisma yang luar biasa, putera teladan dari Polandia ini membantu kaum percaya di segenap penjuru dunia untuk tidak takut disebut Kristen, untuk menjadi warga Gereja, untuk mewartakan Injil. Singkat kata: ia membantu kita untuk tidak takut akan kebenaran, sebab kebenaran merupakan jaminan kebebasan. Secara lebih ringkas: ia memberi kita kekuatan untuk percaya pada Kristus, sebab Kristus adalah Redemptor Hominis, Penebus Manusia,” demikian Sri Paus.
Dalam kesempatan ini, dipertontonkan sebuah lukisan raksasa potret diri Yohanes Paulus II yang dibuat berdasarkan foto tahun 1989. Paus Benediktus mencium sebuah reliquarium berbentuk ranting zaitun perak dengan sebuah tabung berisi darah Yohanes Paulus II, yakni sebagian dari darahnya yang disimpan oleh rumah sakit Roma. Peti kayu di mana jenazah Yohanes Paulus II dibaringkan telah diangkat dari makam bawah tanah dan ditempatkan di dalam katedral untuk kepentingan upacara beatifikasi; dan selanjutnya akan ditempatkan di tempat persemayaman yang baru di bawah sebuah altar di kapel sisi dekat patung Pieta.
Paus Benediktus juga secara istimewa menyapa Sr Marie Simone-Pierre, seorang biarawati Perancis yang sembuh secara ajaib dari penyakit parkinson setelah berdoa mohon perantaraan Yohanes Paulus; suatu kesembuhan yang oleh Gereja Katolik diakui sebagai mukjizat. Yohanes Paulus II sendiri didera penyakit parkinson sepanjang 12 tahun masa akhir hidupnya. Satu mukjizat lagi diperlukan agar Yohanes Paulus II dapat dikanonisasi sebagai santo. Pesta peringatan Beato Yohanes Paulus II dirayakan pada tanggal 22 Oktober.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|