|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Februari 2011
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
BERTOBATLAH DENGAN TULUS HATI
oleh: St Fransiskus dari Paola, Rahib (± 1416-1507)
 Kiranya Tuhan kita Yesus Kristus, Pemberi yang teramat murah hati, mengganjari kalian atas kerja kalian.
Hindarilah yang jahat, tolaklah marabahaya. Meski kami tak pantas, kami dan saudara-saudaramu tiada pernah berhenti berdoa kepada Allah Bapa dan kepada PutraNya Yesus Kristus dan juga kepada Santa Perawan Maria agar kalian boleh menerima segala yang kalian perlukan bagi kesejahteraan rohani dan jasmani kalian.
Oleh karenanya, dengan sungguh aku memperingatkan kalian, saudara-saudaraku, untuk memelihara kesejahteraan rohanimu dengan kepedulian yang bijak. Kematian itu pasti; hidup itu singkat dan lenyap bagai asap.
Sebab itu, arahkanlah pikiranmu pada passio Tuhan kita Yesus Kristus. Berkobar dalam kasih kepada kita, Ia turun dari surga guna menebus kita. Demi kita, Ia menanggung setiap siksa aniaya tubuh dan jiwa dan tak enggan menanggung penderitaan apapun. Ia Sendiri memberikan kepada kita teladan kesabaran dan kasih yang sempurna. Jadi, hendaknyalah kita sabar dalam penderitaan.
Singkirkanlah benci dan dengki. Tanggunglah derita demi menghindarkan diri dari kata-kata tajam. Apabila kata-kata yang demikian meluncur dari bibirmu, janganlah malu membiarkan bibirmu menawarkan obatnya, sebab ia telah mengakibatkan luka. Ampunilah seorang akan yang lain agar kelak kalian tidak akan mengingat-ingat lukanya. Mengingat-ingat luka itu sendiri adalah salah. Hal itu menambah murka kita, memelihara dosa dan membenci apa yang baik. Ia adalah anak panah berkarat dan racun bagi jiwa. Ia menyingkirkan segala kebajikan. Ia bagai ulat dalam pikiran: yang mengacaukan perkataan dan airmata kita dalam menyampaikan permohonan kepada Tuhan. Ia adalah sesuatu yang asing bagi cinta kasih: ia tinggal tertancap dalam jiwa bagai sebuah paku. Ia adalah kekejian yang tiada pernah lelap, dosa yang tak pernah gagal. Ia sungguh adalah kematian setiap hari.
Kasihilah dalam damai. Damai adalah suatu harta pusaka berharga yang patut dicari dengan penuh semangat. Kalian sadar benar bahwa dosa-dosa kita membangkitkan murka Allah. Oleh karena itu, haruslah kalian mengubah hidup kalian, agar Allah dalam kerahiman-Nya berkenan mengampunimu. Apa yang kita sembunyikan dari manusia diketahui oleh Allah. Karenanya, bertobatlah dengan tulus hati. Amalkanlah hidup begitu rupa agar kalian boleh menerima berkat dari Tuhan. Maka damai Allah Bapa kita akan besertamu senantiasa.
|
“Seperti Tuhan ajarkan, akar dosa terletak di dalam hati manusia, di dalam kehendaknya yang bebas: “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:19-20). Di dalam hati ada juga kasih, asal perbuatan baik dan suci. Kasih inilah yang dilukai oleh dosa.”
~ Katekismus Gereja Katolik, #1853
|
TOBAT YANG SUNGGUH
dikutip dari: sebuah Homili yang ditulis pada abad kedua
 Hendaknyalah kita bertobat dari dosa-dosa kita sementara kita masih di dunia. Apabila seorang tukang periuk tengah membuat sebuah bejana dan bejana itu rusak dalam tangan-tangannya, maka ia akan membentuknya kembali; tetapi begitu bejana ditempatkan dalam tungku, maka bejana tak dapat diperbaiki kembali. Tanah liat dalam tangan-tangan tukang periuk adalah gambaran diri kita sendiri; mengajarkan kepada kita bahwa, sementara masih di dunia ini, haruslah kita dengan segenap hati bertobat dari dosa-dosa yang dilakukan tubuh dan dengan demikian memungkinkan Tuhan menyelamatkan kita selagi ada waktu. Apabila kita telah meninggalkan dunia ini, kita tak akan lagi dapat bertobat dan mengakui dosa-dosa kita. Kita wajib melakukan kehendak Bapa, memelihara tubuh kita tetap murni, dan melakukan perintah-perintah Tuhan, sebab inilah jalan untuk memperoleh hidup yang kekal. Dalam Injil Tuhan bersabda: Jika engkau tidak setia dalam perkara-perkara kecil, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu perkara-perkara besar? Aku berkata kepadamu barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dengan kata lain, demi memperoleh hidup yang kekal, kita harus tetap murni dan memelihara meterai pembaptisan kita agar tak bercela.
Atau adakah seorang dari antara kalian yang mengatakan bahwa tubuh kita tak akan ambil bagian dalam penghakiman, ataupun bangkit kembali? Dalam apakah kalian diselamatkan? Dalam apakah kalian menerima penglihatanmu? Renungkanlah sejenak. Bukankah dalam tubuh itu sendiri? Tubuh kita adalah bait Allah, dan karenanya kita wajib menjaganya, sebab sebagaimana kita dipanggil dalam tubuh, demikian pula kita akan dihakimi dalam tubuh. Sebab Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, yang pada mulanya adalah roh, menjadi daging dan dengan cara ini memanggil kita, maka dalam daging kita inilah kita juga akan menerima ganjaran kita.
Oleh karenanya, marilah kita saling mengasihi satu sama lain, agar kita semua dapat mencapai kerajaan Allah. Sementara kita masih dapat disembuhkan, marilah kita menyerahkan diri kita ke dalam tangan-tangan dokter ilahi kita dan memberikan imbalan jasa kepada-Nya - imbalan jasa dukacita yang sungguh atas dosa-dosa kita. Sebab Ia yang mahatahu melihat apa yang ada dalam hati kita, marilah kita memuji Dia dengan hati kita pula dengan bibir kita. Maka Ia akan menerima kita sebagai anak-anak-Nya. Tuhan Sendiri telah bersabda: Siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan.
|
|
“Jika situasi sekarang ini dapat dikenakan pada pelbagai macam kesulitan, tidaklah berlebihan untuk berbicara tentang `struktur kedosaan', yang mempunyai akar dalam dosa pribadi. Jadi kenyataan ini selalu terkait dengan tindakan-tindakan konkrit dari individu-individu yang memperkenalkan struktur-struktur ini, mengkonsolidasikannya dan mempersulit untuk mencabutnya. Dan karena itu mereka berkembang lebih kuat, menyebar dan menjadi sumber dosa-dosa lain, dan dengan demikian mempengaruhi kelakuan orang-orang. `Dosa' dan `sturktur dosa' merupakan kategori yang jarang dikenakan pada situasi dunia dewasa ini. Namun seseorang tidak dapat dengan mudah memperoleh suatu pemahaman mendalam akan realitasnya yang melawan diri kita, kecuali kita menunjukkan sebab-musabab kejahatan yang membebani kita.”
~ (Paus Yohanes Paulus II, Sollicitudo Rei Socialis, #36)
|
“Bagai seorang tukang kebun bekerja dari pagi hingga malam untuk membasmi segala rumput liar di taman dan menanami tamannya dengan berbagai ragam bunga-bungaan, demikian pula marilah kita bekerja setiap hari untuk membinasakan kefanaan jiwa kita dan menanaminya dengan pelbagai kuntum keutamaan.”
~ St Yohanes Maria Vianney
|
|
JIKA SEORANG BERBUAT DOSA, KITA MEMPUNYAI SEORANG PENGANTARA PADA BAPA
oleh: St Yohanes Fisher, Uskup dan Martir (1469-1535)
 Imam Besar kita adalah Kristus Yesus, kurban kita adalah tubuh-Nya yang mahaberharga yang Ia kurbankan di altar salib demi keselamatan segenap umat manusia.
Darah yang dicurahkan bagi penebusan kita bukanlah darah kambing atau darah anak lembu (seperti dalam hukum lama) melainkan darah Anak Domba tak bercela, Kristus Yesus Juruselamat kita.
Bait di mana Imam Besar kita mempersembahkan kurban bukanlah buatan tangan manusia melainkan dijadikan oleh kuasa Allah Sendiri. Sebab Ia menumpahkan darah-Nya di dunia, suatu bait buatan tangan Allah Sendiri.
Akan tetapi, bait ini mempunyai dua bagian. Yang pertama adalah bumi, yang kita diami sekarang ini. Yang kedua masih belum diketahui oleh kita manusia fana.
Kristus pertama-tama mempersembahkan kurban di sini di dunia, ketika Ia menanggung wafat-Nya yang teramat pahit, kemudian, dengan mengenakan pakaian baru keabadian, dengan darah-Nya Sendiri Ia masuk ke dalam tempat yang mahakudus, yakni, ke dalam surga. Di sana juga Ia memperlihatkan di hadapan tahta Bapa Surgawi Darah yang tak ternilai harganya itu yang telah Ia curahkan tujuh kali demi segenap manusia yang terbelenggu dosa.
Kurban ini begitu berkenan dan memuaskan bagi Allah hingga begitu Ia melihatnya Ia akan serta merta menaruh belas kasihan kepada kita dan memperluas kerahiman-Nya kepada segenap mereka yang sungguh bertobat.
Di samping itu, kurban ini abadi. Dikurbankan bukan hanya setiap tahun sekali (sebagaimana dilakukan bangsa Yahudi) melainkan juga setiap hari demi penghiburan kita, dan sungguh di setiap jam dan setiap saat juga, agar kita dapat memiliki alasan kuat yang menenangkan kita. Itulah sebabnya mengapa Rasul menambahkan: Ia telah mendapatkan penebusan kekal bagi kita.
Mereka semua yang telah memulai pertobatan dan penitensi sejati demi dosa-dosa yang telah mereka lakukan, dan dengan teguh berbulat hati untuk tidak berbuat dosa lagi di masa mendatang melainkan terus berkanjang dalam mengejar keutamaan-keutamaan yang telah mereka mulai sekarang, mereka semua ini menjadi partisipan dalam kurban yang kudus dan abadi ini.
St Yohanes mengajukan ini di hadapan kita dengan kata-kata berikut: “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.”
|
|
“Terimalah dan minumlah: Inilah Piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan Kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.”
~ Konsekrasi, Misa Kudus
|
“TUJUH SENJATA ROHANI” ST KATARINA DARI BOLOGNA* (1413-1463)
dikutip dari: Paus Benediktus XVI, Audiensi Umum, 29 Desember 2010
 Dalam suatu katekese baru-baru ini, saya berbicara mengenai St Katarina dari Siena. Pada hari ini saya ingin menghadirkan di hadapan kalian seorang santa lain yang kurang dikenal, yang memiliki nama sama: St Katarina dari Bologna , seorang perempuan yang sangat terpelajar namun sangat rendah hati. Ia membaktikan diri dalam doa namun senantiasa siap untuk melayani; murah hati dalam berkurban namun penuh sukacita dalam menyambut Kristus dengan Salib…
Dalam risalat otobiografis dan pengajarannya, Tujuh Senjata Rohani, Katarina menawarkan pengajaran mengenai kebijaksanaan dan discernment (= pembedaan roh) yang amat mendalam. Ia berbicara dalam kata ganti orang ketiga dalam menceritakan rahmat-rahmat luarbiasa yang Tuhan anugerahkan kepadanya dan dalam kata ganti orang pertama dalam mengakui dosa-dosanya. Dari tulisan-tulisannya tersingkaplah kemurnian imannya kepada Allah, kerendahan hatinya yang sungguh luarbiasa, kesahajaan hatinya, semangat misionarisnya, kerinduannya akan keselamatan jiwa-jiwa. Ia menawarkan tujuh senjata dalam pertempuran melawan kejahatan, melawan setan:
1. senantiasa siaga dan tekun berupaya melakukan yang baik;
2. percaya bahwa sendirian kita tak akan pernah dapat melakukan sesuatu yang sungguh baik;
3. mengandalkan Tuhan dan, demi kasih kepada-Nya, tiada pernah takut dalam pertempuran melawan kejahatan, baik di dunia maupun dalam diri sendiri;
4. sering memeditasikan peristiwa-peristiwa dan Sabda dalam kehidupan Yesus, dan teristimewa mengenai Sengsara dan wafat-Nya;
5. ingat bahwa kita pasti akan mati;
6. memfokuskan pikiran kita pada kenangan akan kebajikan-kebajikan Surga;
7. akrab dengan Kitab Suci, senantiasa mengukirkannya dalam hati agar Sabda dapat memberikan arah pada semua pemikiran kita dan semua perbuatan kita.
Suatu program kehidupan rohani yang mengagumkan, juga pada masa sekarang, bagi masing-masing kita! …
Sesudah menyambut Sakramen Terakhir, Katarina menyerahkan kepada bapa pengakuannya naskah yang telah ia tulis: Tujuh Senjata Rohani, dan masuk dalam sakrat maut; wajahnya menjadi semakin cantik dan transparan; ia masih memandang penuh kasih kepada mereka yang ada di sekelilingnya dan wafat dengan tenang, sesudah tiga kali mengucapkan Nama Yesus. Hari itu adalah tanggal 9 Maret 1463. Katarina dikanonisasi oleh Paus Klemens XI pada tanggal 22 Mei 1712. Tubuhnya yang tak rusak disemayamkan di kota Bologna, dalam kapel biara Corpus Domini.
Sahabat-sahabat terkasih, dengan perkataan dan dengan hidupnya, St Katarina dari Bologna merupakan suatu undangan yang mendesak kita untuk senantiasa memberikan diri dibimbing oleh Allah, melakukan kehendak-Nya setiap hari, bahkan meski kehendak-Nya itu tidak sesuai dengan rancangan kita, untuk mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi-Nya yang tiada pernah meninggalkan kita sendirian. Dalam perspektif ini, St Katarina berbicara kepada kita; dari kejauhan begitu banyak abad yang telah lewat ia masih tetap sangat modern dan berbicara kepada hidup kita.
St Katarina, seperti kita, menderita pencobaan-pencobaan. Ia menderita pencobaan ketidakpercayaan, sensualitas, pertarungan rohani yang sengit. Ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan, ia mendapati dirinya dalam kegelapan iman. Namun demikian, dalam segala situasi ini ia senantiasa menggenggam tangan Tuhan, ia tidak meninggalkan-Nya, ia tidak membuang-Nya. Dan berjalan bergandengan tangan dengan Tuhan, ia berjalan di jalan yang benar dan menemukan jalan terang.
Begitu pulalah yang ia katakan kepada kita: berbulat-hatilah, bahkan dalam malam iman, bahkan di tengah begitu banyak kebimbangan kita, janganlah lepaskan tangan Tuhan, berjalanlah bergandengan tangan dengan-Nya, percaya akan kebajikan Allah. Beginilah caranya bagaimana mengikuti jalan yang benar!
Dan saya ingin menekankan juga suatu aspek lain: kerendahan hatinya yang luarbiasa. Ia adalah seorang yang tak menghendaki menjadi seseorang atau sesuatu; ia tidak mempedulikan penampilan, ia tidak mempedulikan kuasa. Ia rindu melayani, melakukan kehendak Allah, membantu sesama. Dan tepat untuk alasan inilah Katarina seorang yang terpercaya dalam otoritasnya, sebab ia dapat melihat bahwa baginya otoritas berarti, tepatnya, melayani sesama.
Marilah mohon kepada Allah, melalui perantaraan St Katarina, anugerah untuk melaksanakan dengan gagah berani dan murah hati proyek yang Ia percayakan kepada kita, agar kiranya Ia Sendiri menjadi batu karang kokoh di atas mana hidup kita dibangun. Terima kasih.
* St Katarina dari Bologna: pendiri dan abbas Biara Poor Clare di Bologna - Italia, pekerja ajaib, nabiah, mistikus, visioner.
Keterangan Gambar: St Katarina mendapat anugerah penglihatan pada Hari Natal.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|