|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Januari 2011
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
BAIT ALLAH ITU KUDUS, KALIAN ADALAH BAIT-NYA
oleh: St Ambrosius, Uskup (340 - 397)
 BapaKu dan Aku akan datang dan Kami akan tinggal bersamanya. Biarlah pintumu terbuka untuk menyambut-Nya, bukalah kunci jiwamu bagi-Nya, sambutlah Dia dalam akal budimu, dan maka engkau akan melihat kekayaan kesahajaan, harta pusaka kedamaian, sukacita rahmat. Bukalah lebar-lebar pintu gerbang hatimu, berdirilah di hadapan matahari terang abadi yang menyinari setiap orang. Terang sejati ini besinar atas semua orang, tetapi barangsiapa menutup jendelanya ia akan menjauhkan diri dari terang abadi. Jika engkau menutup pintu budimu, engkau menghalangi Kristus masuk. Meski Ia dapat saja masuk, namun Ia tak hendak masuk secara paksa, atau memaksa kita membiarkan-Nya masuk di luar kehendak kita.
Dilahirkan dari seorang Perawan, Ia keluar dari rahim sebagai terang seluruh dunia guna menyinari segenap umat manusia. Terang-Nya disambut oleh mereka yang merindukan kemuliaan terang abadi yang tak akan pernah dapat dihalau malam. Matahari dari pengalaman sehari-hari kita dilanjutkan dengan kegelapan malam, tetapi matahari kekudusan tidak pernah terbenam, sebab kebijaksanaan tak dapat memberikan tempat pada kejahatan.
Jadi, diberkatilah orang yang di pintunya Kristus berdiri dan mengetuk. Pintu kita adalah iman; jika pintu itu cukup kuat, maka seluruh rumah selamat adanya. Inilah pintu melalui mana Kristus masuk. Maka Gereja bermadah dalam Kidung Agung: Dengarlah, kekasihku mengetuk. “Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun!
Bilamanakah Allah Sabda paling sering mengetuk pintumu? - Bilamana kepala-Nya penuh tetesan embun malam. Ia mengunjungi dalam kasih mereka yang dalam kesusahan dan pencobaan, guna menyelamatkan mereka dari dikuasai oleh pencobaan-pencobaan mereka. Kepala-Nya penuh embun atau tetesan embun apabila mereka yang adalah tubuh-Nya ada dalam kemalangan. Itulah saat ketika kalian harus berjaga-jaga agar bilamana mempelai laki-laki datang ia tidak mendapati dirinya dihalangi masuk, dan lalu pergi. Apabila kalian tidur, apabila hatimu tidak berjaga-jaga, Ia tidak akan mengetuk melainkan pergi; akan tetapi apabila hatimu berjaga, Ia akan mengetuk dan memintamu untuk membukakan pintu bagi-Nya.
Jiwa kita mempunyai sebuah pintu; mempunyai pintu-pintu gerbang. Angkatlah kepalamu, wahai pintu-pintu gerbang, dan terbukalah, pintu-pintu gerbang abadi, dan Raja Kemuliaan akan masuk. Apabila kalian membuka pintu-pintu gerbang iman kalian, Raja Kemuliaan akan memasuki rumahmu dalam arak-arakan jaya demi menghormati sengsara-Nya. Kekudusan juga mempunyai pintu-pintu gerbang. Kita membaca dalam Kitab Suci apa yang disabdakan Tuhan Yesus melalui nabi-Nya: Bukalah bagiku pintu-pintu gerbang kekudusan.
Adalah jiwa yang mempunyai pintunya, gerbangnya. Kristus datang ke pintu ini dan mengetuk; Ia mengetuk pada pintu-pintu gerbang ini. Bukalah bagi-Nya; Ia ingin masuk, guna mendapati mempelai-Nya menanti dan berjaga.
|
|
“Mereka yang murni hatinya adalah bait Roh Kudus”
~ St Lusia
|
KITA DIKUDUSKAN MELALUI KEIKUTSERTAAN KITA DALAM TUBUH DAN DARAH KRISTUS
oleh: Fulgentius dari Ruspe, Uskup (468 - 533)
 Dalam persembahan Kurban Kudus kita menggenapi perintah Juruselamat kita, sebagaimana dicatat oleh Rasul Paulus: Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang .
Jadi, kurban ini dipersembahkan untuk memaklumkan wafat Tuhan: dipersembahkan dalam kenangan akan Dia yang menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan kita. Sebagaimana disabdakan-Nya: Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Sebab Kristus wafat bagi kita karena kasih, kita memohon, ketika kita mengenangkan wafat-Nya pada saat kurban, agar kita juga dianugerahi kasih melalui datangnya Roh Kudus. Kita berdoa agar dengan kasih yang dimiliki Kristus bagi kita ketika Ia menanggung salib, kita boleh menerima rahmat Roh dan disalibkan bagi dunia, dan dunia bagi kita. Kristus mati bagi dosa, sekali untuk selamanya, tetapi Ia hidup bagi Allah. Marilah kita meneladani kematian Tuhan kita, dan juga hidup secara baru. Diteguhkan dengan anugerah kasih-Nya, marilah kita mati bagi dosa dan hidup bagi Allah.
Sebab kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus, yang telah dianugerahkan kepada kita. Sungguh, keikutsertaan kita dalam tubuh dan darah Tuhan ketika kita makan roti-Nya dan minum cawan-Nya mengajarkan kepada kita bahwa sepatutnya kita mati bagi dunia, dan bahwa kita sepatutnya memelihara hidup kita tersembunyi bersama Kristus dalam Allah, menyalibkan daging kita dengan segala kesia-siaan dan keinginan-keinginan jahatnya.
Itulah sebabnya mengapa segenap umat beriman yang mengasihi Allah dan sesama sungguh minum cawan kasih Tuhan sekalipun mereka tidak minum cawan penderitaan jasmani-Nya. Dan dimabukkan olehnya, mereka mematikan apapun dalam kodrat mereka yang berasal dari dunia. Mereka mengenakan Tuhan Yesus Kristus dan tidak memperturutkan keinginan-keinginan daging. Mereka tidak mengarahkan pandangan mereka pada hal-hal yang kelihatan, melainkan merenungkan hal-hal yang tak dapat dilihat mata. Dengan demikian mereka minum cawan Tuhan dengan memelihara ikatan kasih yang kudus; tanpanya, bahkan andai orang menyerahkan tubuhnya untuk dibakar, ia tidak mendapatkan apa-apa. Akan tetapi anugerah kasih memungkinkan kita untuk menjadikan nyata apa yang kita rayakan sebagai misteri dalam kurban.

|
|
“Segala kebajikan yang ada dalam diriku berasal dari Komuni Kudus… Dari sanalah berasal segala rahasia kekudusanku… satu saja yang menopang aku, yaitu Komuni Kudus. Darinya aku menimba segala kekuatanku; darinya berasal segala penghiburanku… Yesus yang tersembunyi dalam Hosti Kudus adalah segala-galanya bagiku… Aku tidak akan pernah tahu bagaimana memuliakan Allah jika aku tidak memiliki Ekaristi dalam hatiku…”
|
KEKUDUSAN: PANGGILAN BAGI SEMUA ORANG
dikutip dari: Konsili Vatican II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, #39-40
 Kita mengimani bahwa Gereja, yang misterinya diuraikan oleh Konsili suci, tidak dapat kehilangan kekudusannya. Sebab Kristus, Putra Allah, yang bersama Bapa dan Roh dipuji bahwa “hanya Dia-lah Kudus”, mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya. Kristus menyerahkan diri baginya, untuk menguduskannya (lih Efesus 5:25-26), dan menyatukannya dengan diri-Nya sebagai tubuh-Nya. Ia melimpahinya dengan kurnia Roh Kudus, demi kemuliaan Allah. Maka dalam Gereja semua anggota, entah termasuk Hierarki entah digembalakan olehnya, dipanggil untuk kekudusan, menurut amanat rasul: “Sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu” (1Tesalonika 4:3; lih Efesus 1:4). Adapun kekudusan Gereja itu tiada hentinya tampil dan harus nampak pada buah-buah rahmat yang dihasilkan oleh Roh dalam kaum beriman. Kekudusan itu dengan aneka cara terungkapkan pada masing-masing orang, yang dalam corak hidupnya menuju kesempurnaan cinta kasih dengan memberi teladan baik kepada sesama. Secara khas pula nampak dalam penghayatan nasehat-nasehat, yang lazim disebut “Nasehat Injili”. Penghayatan nasehat-nasehat itu atas dorongan Roh Kudus ditempuh oleh orang banyak Kristiani, entah secara perorangan, entah dalam corak atau status hidup yang disahkan oleh Gereja, serta menyajikan dan harus menyajikan di dunia ini kesaksian dan teladan yang ulung tentang kekudusan itu.
Tuhan Yesus-lah Guru dan Teladan Ilahi segala kesempurnaan. Dengan kekudusan hidup, yang dikerjakan dan dipenuhi-Nya sendiri, Ia mewartakan kepada semua dan masing-masing murid-Nya, bagaimanapun juga corak hidup mereka: “Kamu harus sempurna, seperti Bapa-mu yang di sorga sempurna adanya” (Matius 5:48). Sebab kepada semua diutus-Nya Roh Kudus, untuk menggerakkan mereka dari dalam, supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan mereka (lih Markus 12:30), dan saling mengasihi seperti Kristus telah mengasihi mereka (lih Yohanes 13:34;15:12). Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam Tuhan Yesus, dan dalam baptis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi kudus. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kekudusan yang telah mereka terima. Oleh rasul, mereka dinasehati supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Efesus 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas-kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kolose 3:12); dan supaya menghasilakan buah-buah Roh yang membawa kepada kekudusan (lih Galatia 5:22; Roma 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih Yakobus 3:2), kita terus-menerus membutuhkan belas kasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Matius 6:12).
Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang Kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kekudusan itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup menjadi lebih manusiawi. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan kekuatan yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kekudusan Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus.

|
|
“Janganlah pernah kita kehilangan pandangan akan kenyataan bahwa kita adalah orang-orang kudus atau orang-orang buangan, bahwa kita harus hidup bagi surga atau hidup bagi neraka; tak ada jalan tengah dalam hal ini. Engkau sepenuhnya milik dunia atau sepenuhnya milik Allah.”
|
BAGAIMANAKAH KITA DAPAT MENJADI KUDUS?
dikutip dari: Homili Paus Benediktus XVI, 2006
 Menjadi seorang kudus berarti hidup dekat Allah, hidup dalam keluarga-Nya. Dan inilah panggilan kita semua, yang dengan penuh semangat ditegaskan kembali oleh Konsili Vatican Kedua dan yang dengan sungguh diajukan untuk menjadi perhatian kita pada hari ini.
Tetapi bagaimanakah kita dapat menjadi kudus, sahabat-sahabat Allah? Kita dapat pertama-tama memberikan jawaban negatif pada pertanyaan ini: menjadi seorang kudus tidak dituntut perbuatan-perbuatan atau karya-karya yang luar biasa, pun karisma-karisma istimewa. Kemudian, jawaban postifnya adalah: untuk itu, pertama-tama kita perlu mendengarkan Yesus dan lalu mengikuti-Nya tanpa patah hati apabila dihadapkan pada kesulitan-kesulitan. “Barangsiapa melayani Aku,” nasehat-Nya, “ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (Yohanes 12:26).
Bagai biji gandum jatuh ke dalam tanah, barangsiapa yang percaya kepada-Nya dan mengasihi-Nya dengan tulus menerima kematian bagi diri mereka sendiri. Sungguh, ia tahu bahwa barangsiapa berusaha memelihara nyawanya bagi dirinya sendiri akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa memberikan nyawanya, kehilangan nyawanya, dan tepat dengan cara inilah ia memperoleh hidup (bdk Yohanes 12:24-25).
Pengalaman Gereja menunjukkan bahwa setiap bentuk kekudusan, bahkan meski ia mengikuti jalan-jalan yang berbeda, selalu melewati Jalan Salib, jalan penyangkalan diri. Riwayat hidup para kudus menggambarkan para laki-laki dan perempuan yang, taat pada rancangan ilahi, terkadang menghadapi pencobaan dan penderitaan yang tak terkatakan, aniaya dan kemartiran. Mereka berkanjang dalam komitmen mereka. “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar,” demikian kita baca dalam Kitab Wahyu, “mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (Wahyu 7:14). Nama-nama mereka tertulis dalam kitab kehidupan (bdk Wahyu 20:12) dan surga adalah tempat kediaman abadi mereka.
Teladan para kudus mendorong kita untuk mengikuti jejak langkah yang sama dan untuk mengalami sukacita mereka yang mengandalkan Allah, sebab satu-satunya alasan sesungguhnya dari kesedihan dan ketakbahagiaan bagi laki-laki dan perempuan adalah hidup jauh dari-Nya.
Kekudusan menuntut suatu upaya yang terus-menerus, tetapi hal itu adalah mungkin bagi setiap orang sebab, bukannya upaya manusia, itu pertama-tama dan terutama merupakan anugerah dari Allah, Kudus, kudus, kuduslah TUHAN (bdk Yesaya 6:3). Dalam bacaan kedua, Rasul Yohanes mengatakan: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1 Yohanes 3:1).
Oleh karenanya, Tuhan-lah yang pertama-tama mengasihi kita dan menjadikan kita anak-anak angkat-Nya dalam Yesus. Segalanya dalam hidup kita adalah anugerah kasih-Nya: bagaimanakah mungkin kita dapat acuh-tak acuh di hadapan misteri yang begitu agung? Bagaimanakah kita dapat tidak menanggapi kasih Bapa Surgawi dengan hidup sebagai anak-anak yang tahu berterima kasih? Dalam Kristus, Ia memberi kita anugerah keseluruhan Diri-Nya Sendiri dan memanggil kita ke suatu hubungan pribadi yang mendalam dengan-Nya.
Sebagai konsekuensi, semakin kita menyerupai Yesus dan tinggal bersatu dengan-Nya, semakin kita masuk ke dalam misteri kekudusan ilahi-Nya. Kita dapati bahwa Ia mengasihi kita secara tak terbatas, dan ini menggerakkan kita untuk pada gilirannya mengasihi sesama kita. Kasih senantiasa membawa serta tindak penyangkalan diri, “kehilangan diri sendiri”, dan tepat inilah yang membuat kita bahagia.
Demikianlah, kita sampai pada Injil hari raya [Semua Orang Kudus] ini, yakni pemakluman Sabda Bahagia yang baru saja kita dengar menggema dalam Basilika ini.
Yesus bersabda: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, berbahagialah orang yang berdukacita, yang lemah lembut; berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati; berbahagialah orang yang suci hatinya, yang membawa damai, yang dianiaya oleh sebab kebenaran” (bdk Matius 5: 3-10).
Sebenarnya, yang secara paling unggul berbahagia hanyalah Yesus. Ia, sesungguhnya, adalah yang miskin sejati di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hati-Nya. Ia-lah yang dianiaya oleh sebab kebenaran.
Sabda Bahagia menunjukkan kepada kita ciri khas rohani Yesus dan dengan demikian mengungkapkan misteri-Nya, misteri wafat dan kebangkitan-Nya, sengsara dan sukacita Kebangkitan-Nya. Misteri ini, yang adalah misteri kebahagiaan sejati, mengundang kita untuk mengikuti Yesus dan dengan demikian berjalan ke arahnya.
Pada tahap bahwa kita menerima amanat-Nya dan mulai mengikuti-Nya - masing-masing dalam keadaannya sendiri - kita pun dapat berpartisipasi dalam kebahagiaan-Nya. Bersama-Nya, yang tak mungkin menjadi mungkin dan bahkan seekor unta dapat melewati lubang jarum (bdk Markus 10:25); dengan pertolongan-Nya, hanya dengan pertolongan-Nya, kita dapat menjdi sempurna seperti Bapa Surgawi adalah sempurna (bdk Matius 5:48).
Saudara dan saudari terkasih, kita sekarang memasuki jantung perayaan Ekaristi yang menyemangati dan memelihara kekudusan. Sesaat lagi, Kristus akan menjadikan Diri-Nya Sendiri hadir dalam cara yang paling mengagumkan. Kristus adalah Pohon Anggur Sejati kepada Siapa umat beriman di bumi dan para kudus di surga dipersatukan bagai ranting-ranting.
Demikianlah, persekutuan Gereja peziarah di dunia dengan Gereja jaya dalam kemuliaan akan dipererat.
Dalam Prefasi kita akan memaklumkan bahwa para kudus adalah sahabat dan teladan hidup kita. Marilah kita mohon pertolongan mereka agar mereka membantu kita untuk meneladani mereka dan berupaya untuk menanggapi panggilan ilahi secara murah hati, sebagaimana yang mereka lakukan.
Secara khusus, marilah mohon pertolongan Maria, Bunda Tuhan dan cermin segala kekudusan. Kiranya ia, yang Sepenuhnya Kudus, menjadikan kita murid-murid yang setia dari Yesus Kristus Putranya! Amin.
“Jalan yang kita tempuh dapat amat berbeda-beda, namun tujuannya sama. Kita harus hanya punya satu tujuan: menjadi kudus pada jalan yang ditentukan Allah yang Mahabaik bagi kita.”
|
|
VENERABILIS MARCEL VAN C.Ss.R.: RINDU MENJADI SEORANG KUDUS
 Pesan St Theresia bahwa kekudusan adalah bagi semua orang, digemakan kembali dalam suatu cara yang istimewa dalam hidup seorang biarawan Redemptoris Vietnam.
Broeder Marcel Van adalah “adik rohani” St Theresia dari Lisieux. Sama seperti Theresia, Marcel Van berjuang menjadi seorang rasul kasih, menghampiri Tuhan dengan kepercayaan penuh seorang kanak-kanak. Pater Gilles Berceville, seorang biarawan Dominikan, penulis buku “Marcel Van ou l'infini pauvreté de l'Amour” dalam suatu wawancara mengatakan:
“Van adalah seorang anak dengan iman yang besar yang senantiasa memiliki hubungan mendalam dengan Kristus, devosi Ekarsitik, keyakinan bahwa Allah adalah kasih dan ikatan mesra dengan Santa Perawan Maria. Di usia empatbelas tahun, otobiografi St Theresia `Kisah Suatu Jiwa' sampai di tangannya; tak lama sesudahnya ia mendengar St Theresia berbicara kepadanya.
Dalam bimbingan Theresia, ia mendapat tahu bahwa kerinduannya untuk menjadi seorang kudus adalah mungkin dicapai sebab itu adalah juga kehendak Allah. Allah `merendahkan diri': Ia bukanlah Allah yang orang pikir akan menghukum kita dengn kejam, menuntut apa yang tak dapat kita lakukan, melainkan Allah yang memikirkan bagaimana Ia dapat membantu kita, dan dalam suatu cara tertentu menyesuaikan DiriNya dengan kita agar kita dapat menyesuaikan diri kita dengan-Nya. Dalam sekolah Theresia, ia juga belajar suatu cara baru berdoa: sebagai seorang anak berbicara kepada bapanya. Segala yang dialami seorang kanak-kanak merupakan kepedulian seorang bapa yang seperti Allah.
Marcel Van hidup pada masa Vietnam mengalami pergolakan. Dalam solidaritas dengan warga sebangsanya yang direndahkan oleh kolonisasi, secara spontan ia anti-Perancis. Akan tetapi, ia tidak lupa bahwa Gereja-nya dilahirkan dan dikembangkan di negerinya oleh para misionaris Perancis (dan juga Spanyol di Utara). Perancis juga adalah tanah air Theresia. Dan ia mendapat misi khusus - sebagaimana ditemukan dalam tulisan-tulisannya - untuk berdoa agar Perancis menjadi pelayan kasih Yesus. Ada sesuatu yang simbolis dalam apa yang dikatakan Marcel Van mengenai hubungan antara Vietnam dan Perancis. Sungguh mengenai hubungan antara segenap manusia, bangsa dan budaya. Suatu pesan damai.
Broeder Marcel Van wafat sebagai martir dalam kamp Komunis dalam usia 31 tahun.
|
|
“Lakukanlah evangelisasi dengan hidupmu yang kudus; berilah kesaksian mengenai Aku, dari pengetahuanmu bahwa kehadiran-Ku bukan pada hari kemarin, tetapi pada hari ini, dan selalu….”
Pesan-pesan Yesus kepada Catalina Rivas, stigmatis & visionaris
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|