|
Bagaimana Memelihara Kehadiran Tuhan
Saya mempunyai kehidupan doa yang cukup teratur selama beberapa tahun ini, menyambut Sakramen Pengakuan Dosa secara rutin, dan kerap menyambut Komuni Kudus. Dalam bacaan rohani, saya terus menjumpai gagasan “memelihara kehadiran Tuhan”. Ini berarti terus menyadari kehadiran Yesus dalam segala aktivitas sepanjang hari, bukan? Baik, saya telah berupaya melakukannya, tetapi tampaknya tak membuahkan hasil. Menjelang akhir hari ingatlah saya bahwa seharusnya saya menyadari kehadiran-Nya. Adakah ini suatu yang perlu saya khawatirkan?
Pertanyaan yang bagus. Bagus karena dua alasan: 1) Jika “memelihara kehadiran Tuhan” terus muncul dalam bacaan dan refleksi pribadimu, maka engkau dapat yakin ini karena Roh Kudus menghendakimu memasukkannya dalam agenda rohanimu. Beginilah cara Ia melatih kita - Ia menempatkan sesuatu dalam budi atau hati kita, dan Ia terus mencanangkannya. Dan jika Tuhan menarikmu ke disiplin rohani yang agak lebih lanjut ini, itu berarti bahwa Ia telah membantumu untuk bertumbuh di dalamnya. Ini hal yang sepenuhnya baik; 2) “Memelihara kehadiran Tuhan” menarikmu lebih dekat pada Kristus daripada yang pernah engkau bayangkan dan itulah seluruh intinya. Sekarang lanjut ke jawabnya.
Tidak, engkau tidak perlu khawatir mengenai kesulitan atau kebingunganmu dalam hal ini, sepatutnyalah engkau bergembira atasnya: Tuhan tengah mengajarkan kepadamu sesuatu yang baru! Kekhawatiran tidak berasal dari Tuhan (jika yang engkau maksudkan dengan kekhawatiran adalah kepedulian begitu rupa yang mengakibatkan kegalauan, kebimbangan dan frustasi dalam jiwamu). Itu berasal dari kesombongan kita, kecenderungan kita untuk berpikir bahwa kita dapat menjadikan diri kita sendiri sempurna dan menyelamatkan dunia dengan upaya-upaya kita sendiri. Ingatlah, Tuhan menasehatkan kepada kita: “Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34).
Di lain pihak, instingmu benar: inilah point karya rohani yang perlu engkau perhatikan di point ini dalam perjalananmu; itulah sebabnya mengapa Tuhan menempatkannya dalam agendamu. Berikut beberapa pemikiran yang mungkin dapat membantumu melakukannya.
Apakah Artinya?
“Memelihara kehadiran Tuhan” berarti bukan hanya menyadari kehadiran Yesus sepanjang hari, sebagaimana engkau katakan. Itu merupakan sebagian darinya, tetapi bukan keseluruhannya. Memelihara kehadiran Tuhan berarti melakukan setiap aktivitas sepanjang hari bersama Yesus, di sisi-Nya, berbagi setiap pengalaman dengan-Nya. Ingatkah masa-masa di sekolah dulu, bagaimana selalu lebih menyenangkan melakukan pekerjaan rumah bersama seorang sahabat daripada mengerjakannya seorang diri? Kalian tak harus mengerjakan tugas yang persis sama, dan kalian bahkan tak harus saling membantu satu sama lain, tetapi sekedar kenyataan bahwa kalian bersama, bahwa kalian duduk dalam ruang yang sama, mungkin di meja yang sama, bahwa kalian saling hadir di hadapan satu sama lain dan dapat sesekali melontarkan beberapa patah kata atau pandangan - itu sudah cukup untuk mengubah karakter mengerjakan pekerjaan rumah. Mari memikirkan suatu contoh lain. Berapa sering engkau pergi ke bioskop seorang diri? Kemungkinan besar tidak sering, terkecuali engkau seorang kritikus film profesional atau semacam itu. Engkau pergi ke bioskop bersama teman. Dan meski engkau tak menghabiskan dua jam itu untuk bercakap-cakap dengan temanmu, berbagi pengalaman dengan orang lain itu menjadikan pengalamanmu lebih bernilai, lebih berguna dan lebih menyenangkan. Pengalaman berbagi ini - pengalaman dari setiap aktivitas setiap hari - bersama Kristus, mengijinkan-Nya berbagi pengalaman hidupmu, itulah inti sesungguhnya dari “memelihara kehadiran Tuhan”.
Apakah Buahnya?
Sementara kita bertumbuh dalam disiplin rohani ini, ia mendatangkan pengaruh besar atas hidup kita. Manusia diciptakan supaya “hidup dalam persatuan dengan Allah, di mana ia menemukan kebahagiaannya” (Katekismus Gereja Katolik, #45). Tapi dalam dunia penuh dosa ini, dan karena kodrat dosa kita, kita cenderung beranggapan keliru bahwa kita dapat berdiri sendiri. Ini menghambat pertumbuhan kita sebagai manusia. Bukannya bertumbuh dalam kebijaksanaan, ketakjuban, keberanian dan segala keutamaan, ketika kita hidup seolah kita mampu berdiri di atas kaki sendiri, kita pada akhirnya menempuh jalan yang lambat-laun mengubah kita menjadi seorang yang pongah, yang mementingkan dan memikirkan diri sendiri. Memelihara kehadiran Tuhan membantu kita membina dan memperdalam persatuan kita dengan Tuhan bahkan di tengah-tengah godaan dan pencobaan hidup dalam dunia penuh dosa dengan kodrat manusia yang berdosa. Inilah jalan ke kekudusan, istilah Tuhan bagi kebahagiaan kekal.
Bagaimana Melakukannya?
Sebab persahabatan tiap-tiap orang dengan Tuhan adalah unik, tak ada rumusan umum yang memadai untuk mengembangkan disiplin rohani ini. Meski demikian, beberapa prinsip umum berlaku bagi kita semua.
Pertama-tama, kita perlu mengembangkan disiplin rohani dasar sebagaimana engkau sebut dalam pertanyaan: suatu kehidupan doa harian yang terstruktur dan konsisten (ini tak harus serumit kehidupan doa biara, melainkan tulus dan teguh); menyambut sakramen-sakramen secara rutin dan berdayaguna, teristimewa Komuni dan Tobat (inilah dasar tujuan dari persatuan kita dengan Tuhan - rahmat Tuhan adalah sesuatu dengan mana persahabatan kita dengan Kristus terjadi); dan suatu upaya yang pantas dan matang untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan mementingkan diri sendiri, dan bertumbuh dalam keutamaan (bacaan rohani, suatu program hidup, dan bimbingan rohani merupakan suatu pertolongan besar di sini).
Kedua, kita dapat bereksperimen dengan teknik-teknik praktis yang akan membantu kita membentuk kebiasaan untuk mengingat bahwa kita tak pernah seorang diri, bahwa Yesus ada di samping kita, antusias untuk berbagi pengalaman kita dan menjadikannya berbuah dan bermakna. Di sinilah di mana taktik seperti perjamuan rohani berperan (memilih suatu ayat di akhir meditasi pagi yang akan engkau gunakan sebagai motto hari itu, guna mencanangkan pemahaman dan komitmen-komitmen yang muncul dalam meditasimu). Di sini kita dapat juga bertindak kreatif: menggunakan screen-saver yang akan mengingatkanmu kepada Tuhan; menempatkan bacaan-bacaan rohani secara mencolok di tempat-tempat utama di mana engkau akan sering berada sepanjang hari itu; memasang reminder pada kalender email; mendaraskan Angelus kapanpun engkau naik kendaraan; mampir di tempat doa, kapel atau gereja setempat dalam perjalanan pulang dari kerja, sekolah atau belanja … Sebab aliran budaya di mana kita hidup mengalir ke arah kepentingan diri dan kesenangan diri, kita harus melakukan suatu upaya positif untuk melawan arus. Taktik-taktik praktis dapat membantu. Namun, patut diingat: taktik-taktik ini hanyalah sarana untuk suatu tujuan, jadi jangan terkejut apabila suatu taktik yang demikian membantumu sejenak tetapi lalu berhenti “bekerja”. Ketika itu terjadi, bereksperimenlah dengan sesuatu yang lain.
Ketiga, dan yang terpenting, engkau (dan kita semua, sungguh) perlu bertanya pada diri sendiri mengapa sulit bagimu untuk “memelihara kehadiran Tuhan”. Sebagian dari alasannya adalah kedangkalan dan gerak langkah budaya kita. Sebagian dari alasannya adalah juga kebiasaan mementingkan diri yang belum kau atasi. Tetapi alasannya dapat juga suatu alasan yang lebih mendalam. Jika engkau pergi ke suatu jamuan makan malam bersama orang-orang yang terhormat, keren dan terkenal, tetapi yang tak begitu engkau kenal baik, engkau akan sedikit grogi. Engkau khawatir mengenai menampilkan kesan baik. Engkau tak hendak melakukan suatu kesalahan atau menyakiti seseorang karena kurang berhati-hati. Engkau bergembira diundang, namun kegembiraan ini bercampur dengan ketegangan. Entah segala sesuatu berjalan baik atau tidak, usai pesta, ketika engkau kembali ke mobil untuk pulang, engkau menghela napas lega; mengendarai kendaraan bersama pasangan atau sahabat, engkau dapat menjadi dirimu sendiri lagi. Dalam pesta engkau berbagi pengalaman dengan orang-orang, engkau hadir di hadapan mereka, tetapi engkau tak memiliki hubungan kepercayaan dengan mereka. Sebaliknya, dengan sahabat, engkau tak pernah harus khawatir mengenai menampilkan kesan baik; engkau tak perlu khawatir akan apa yang ia pikirkan mengenaimu. Hubungan kalian teguh, kokoh, akrab - kalian dapat rileks bersama. Terkadang, halangan terbesar kita dalam “memelihara kehadiran Tuhan” adalah kekhawatiran halus, di bawah sadar, akan apa yang Tuhan pikirkan mengenai kita. Di luar sadar, kita khawatir mengenai menampilkan kesan yang baik di hadapan Tuhan, dan jadi ketika kita ada “di hadirat-Nya” kita bersandiwara; kita berupaya tampil sesuai standard yang menurut bayangan kita Tuhan harapkan dari kita; kita takut kalau-kalau kita tidak memenuhi pengharapan-pengharapan ekstra tersebut, Tuhan tak akan berkenan pada kita - Ia tak akan mengundang kita lagi ke pesta berikutnya. Pola pikir macam ini mengecilkan hati kita dari hidup dalam hadirat Tuhan, sebab kita tak dapat rileks, kita tak dapat menjadi diri kita sendiri jika kita berupaya menampilkan diri sesuai pengharapan-pengharapan palsu.
Tetapi Tuhan tidak seperti itu. Ia tidak mengamat-amati kita bagai seekor elang, guna menanti-nantikan kesalahan itu, guna mencari-cari sesuatu untuk dikritik. Ia telah mengenal kita secara luar dalam. Ia sungguh adalah satu-satunya sahabat yang sempurna dan secara sempurna peduli kepada kita. Ia rindu berbagi setiap saat dalam hidup kita, sebab Ia memang peduli akan hidup kita, seperti seorang sahabat yang paling akrab, seorang yang dapat selalu kita andalkan. Begitulah Tuhan. Semakin kokoh dan teguh kita percaya akan hal itu, semakin mudah dan semakin wajar bagi kita untuk senantiasa tinggal dalam hadirat-Nya.
Damai Kristus, P John Bartunek, LC
sumber : “Practicing the Presence of God” by Father John Bartunek, LC; Copyright © 2009 Catholic Spiritual Direction; http://rcspiritualdirection.com/blog
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Spiritual Direction”
|