|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Mei 2008
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
Tentang “Gereja” dan “gereja”
|
|
Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, Surabaya
|
Bahasa Yunani “ekklesia” diterjemahkan ke dalam bahasa kita menjadi “gereja”. Istilah “gereja” sendiri diturunkan dari bahasa Portugis “igreja”. Kita memahami “gereja” pada umumnya dalam dua makna, yakni sebagai [1] umat atau komunitas Kristiani (dengan huruf “G” besar) dan [2] gedung atau rumah ibadat orang Kristiani (dengan huruf “g” kecil). Atau sebutlah sebagai “gereja tak berdinding” dan “gereja berdinding”. Secara liturgis, umat Kristiani yang sedang berhimpun kita sebut sebagai jemaat (Latin: populus congregatus; Inggris: congregation, assembly). Sedangkan gedung atau rumah ibadatnya dapat kita sebut dengan “ruang atau tempat liturgis” (Inggris: liturgical space), yang tentunya karena memang sudah memenuhi syarat-syarat untuk perayaan liturgi.
Di lingkungan Gereja Katolik, khususnya di Indonesia, terdapat beberapa istilah yang menggunakan kata “gereja” dalam kaitan dengan gedung atau tempat ibadat. Kita sebutkan saja sebagai macam-macam (istilah) gedung gereja: [1] Gereja Paroki: milik suatu paroki, menjadi pusat kegiatan umat paroki yang bersangkutan; [2] Gereja Stasi: bagian dari paroki, tempat umat stasi beribadat selain di gereja paroki pusat; [3] Gereja Katedral: gereja utama di suatu keuskupan, terdapat tahta (= cathedra) uskup setempat, biasanya juga merupakan gereja paroki; [4] kapel: gereja stasi sering juga disebut dengan istilah ini, biasanya merupakan suatu gedung gereja yang bangunannya relatif lebih kecil, tempat ibadat di biara. [chs]
dikutip dari: “Simbol-simbol Sekitar Perayaan Ekaristi”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia)
|
~ Paus Benediktus XVI,
Homili Desember 2006
|
“Paroki adalah bentara yang memancarkan terang iman, di atas segalanya dalam dunia kita yang pada umumnya sekularis. Dengan demikian, paroki memenuhi kerinduan-kerinduan paling mendalam dan paling otentik dari hati manusia, memberikan makna dan pengharapan kepada kehidupan individu-individu dan keluarga-keluarga.”
|
HARI MINGGU, HARI GEREJA
dikutip dari Surat Apostolik “Dies Domini”, #35-36
oleh Paus Yohanes Paulus II, Mei 1998
|
|
Gereja Paroki Gembala Yang Baik, Surabaya
|
Oleh karena itu “dies Domini” (hari Tuhan) sekaligus “dies Ecclesiae” (hari Gereja). Maka dari itu pada tingkat pastoral perlu ditekankan secara khas aspek jemaat perayaan hari Minggu. Seperti saya ungkapkan di lain tempat, di antara banyak kegiatan paroki, “tiada apapun yang begitu vital atau begitu membentuk jemaat seperti perayaan hari Minggu pada Hari Tuhan beserta Ekaristi-Nya supaya usaha-usaha perlu dijalankan untuk menjamin, agar “jiwa persekutuan dalam paroki berkembang, terutama dalam perayaan Misa Umat pada hari Minggu. Instruksi-instruksi liturgis selanjutnya menyampaikan hal itu juga, seraya meminta, supaya pada hari-hari Minggu dan hari-hari kudus perayaan-perayaan Ekaristi, yang lazimnya diadakan di gereja-gereja serta kapel-kapel lainnya, dikoordinasikan dengan perayaan di gereja paroki, untuk “memupuk citarasa jemaat Gereja, yang dimantapkan dan diungkapkan secara khas oleh perayaan jemaat pada hari Minggu, entah mengelilingi Uskup, khususnya di gereja katedral, atau dalam jemaat paroki, tempat imam mewakili Uskup.”
Jemaat hari Minggu merupakan tempat kesatuan yang teristimewa: itulah pentas bagi perayaan “sacramentum unitatis” (sakramen kesatuan), yang menandai secara mendalam Gereja sebagai umat yang dihimpun “oleh” dan “dalam” kesatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Untuk keluarga-keluarga Kristiani, jemaat hari Minggu merupakan salah satu di antara ungkapan-ungkapan yang paling menonjol bagi identitas mereka dan “pelayanan” mereka sebagai “gereja-gereja rumah tangga”, bila orang-orangtua berbagi bersama anak-anak mereka pada satu Santapan Sabda dan Roti Hidup. Sebaiknya mengingatkan dalam hal itu, bahwa yang pertama bagi semua orangtua ialah: wajib mengajari anak-anak mereka untuk ikut serta menghadiri Misa hari Minggu. Dalam hal itu mereka didampingi oleh para katekis, yang hendaknya mengusahakan, supaya memperkenalkan misa dijadikan sebagian pendidikan yang disampaikan kepada anak-anak yang dipercayakan kepada asuhan mereka, seraya menjelaskan alasan-alasan yang penting di balik sifat kewajiban pada perintah. Bila situasi menyarankannya, perayaan Misa bagi Anak-anak, mengikuti norma-norma liturgi yang tersedia, dalam hal itu juga dapat membantu.
Pada Misa-Misa hari Minggu di paroki-paroki, sejauh paroki-paroki itu “jemaat-jemaat Ekaristi”, biasa sajalah terdapat berbagai kelompok-kelompok, gerakan-gerakan, serikat-serikat dan bahkan komunitas-komunitas religius yang agak kecil, yang hadir di paroki. Itu mengizinkan siapa saja untuk mengalami bersama apa yang mereka saling berbagi secara mendalam sekali, melampaui jalan-jalan rohani yang khas, yang - melalui penegasan rohani pimpinan Gereja, - secara sah membedakan mereka. Oleh karena itulah pada hari Minggu, hari pertemuan, Misa-Misa untuk kelompok kecil jangan dianjurkan: itu bukan soal menjamin, supaya jemaat-jemaat paroki jangan tanpa pelayanan para imam yang diperlukan, tetapi juga mengamankan agar hidup dan kesatuan jemaat Gereja dijamin dan dimajukan sepenuhnya. Otorisasi kekecualian-kekecualian terhadap pedoman umum itu yang mungkin dan dibatasi dengan jelas, akan tergantung pada penegasan rohani arif bijaksana para Gembala Gereja-Gereja partikular, sambil mengindahkan keperluan-keperluan yang khas di bidang pembinaan dan reksa pastoral, sementara memperhatikan keuntungan orang-perorangan atau kelompok-kelompok - khususnya manfaat-manfaat, yang dapat disumbangkan bagi jemaat Kristiani seluruhnya.
|
|
“Hari Minggu ialah hari kebangkitan; itulah hari umat Kristiani, itulah hari kita!”
|
 Pengumuman di Warta Paroki:
TIDAK ADA ALASAN UNTUK MANGKIR PADA HARI MINGGU
Guna memungkinkan semua orang datang ke gereja pada hari Minggu mendatang, kami akan menggelar program istimewa: “Tidak Ada Alasan untuk Mangkir pada Hari Minggu”.
Kasur-kasur akan ditempatkan di pintu masuk bagi mereka yang mengatakan, “Minggu adalah satu-satunya hari tidurku.”
Selimut-selimut akan disediakan bagi mereka yang mengatakan, “Terlalu dingin,” dan kipas-kipas angin bagi mereka yang mengatakan, “Terlalu panas.”
Alat-alat bantu dengar akan disediakan bagi mereka yang mengatakan, “Imam berbicara terlalu lembut,” dan sumpal-sumpal telinga bagi mereka yang mengatakan, “Imam berbicara terlalu keras.”
Net akan dipasang di lorong utama bagi mereka yang harus mengikuti kegiatan olahraga di sekolah pada hari Minggu pagi.
Dan akhirnya, gereja akan dihias sekaligus dengan Poinsettia Natal dan Lili Paskah bagi mereka yang belum pernah melihat gereja tanpa bunga-bunga tersebut.
|
Gereja St Yakobus, Surabaya
|
|
|
Basilika St Petrus, Roma
|
“Gereja Katolik bukanlah sebuah museum purbakala. Gereja Katolik ibarat sumber air purba dari sebuah kampung yang memberikan air kehidupan kepada generasi-generasi sekarang, sebagaimana itu terjadi kepada generasi-generasi di masa silam.”
~ B. Paus Yohanes XXIII
|
 Seorang yang biasa pergi ke gereja menulis surat kepada editor sebuah surat kabar dan mengeluh bahwa tidak ada gunanya pergi ke gereja setiap hari Minggu. “Saya telah menjalaninya selama tigapuluh tahun sekarang,” tulisnya, “dan sepanjang waktu itu saya telah mendengarkan sekitar 3000 homili. Namun demikian, meski telah berusaha keras, tak dapat saya mengingat satu pun di antaranya. Jadi, saya pikir saya telah membuang-buang waktu saja dan pastor telah menyia-nyiakan waktunya dengan segala homili itu.”
Surat ini menimbulkan perdebatan sengit dalam kolom “Surat kepada Editor”. Hal ini berlangsung selama berminggu-minggu sampai seseorang menulis tanggapan ini: “Saya telah menikah selama tigapuluh tahun sekarang. Sepanjang waktu itu, isteri saya telah memasak sekitar 32000 masakan. Namun demikian, meski telah berusaha keras, tak dapat saya mengingat satu pun dari variasi menu masakan-masakan itu. Tetapi, inilah yang saya ketahui: Segala masakan itu menjadi makanan yang memberi saya kekuatan yang saya butuhkan untuk melakukan pekerjaan saya. Andai isteri saya tidak memberikan makanan-makanan ini, pastilah secara jasmani saya sudah mati sekarang. Demikian juga, andai saya tidak pergi ke gereja untuk mendapatkan makanan, pastilah secara rohani saya sudah mati sekarang!”
|
“Jika engkau makan hanya satu kali dalam satu minggu, apakah engkau dapat bertahan hidup? Begitu pula jiwamu. Berilah ia makan Sakramen Mahakudus”
|
 Raja Louis dari Perancis pernah dikritik oleh stafnya karena dalam sehari ia sampai dua kali mengikuti Perayaan Ekaristi. Apa jawabnya? Bukankah sudah sepanjang hari aku mengabdi kerajaan dengan sungguh hati, mengapa kamu mengritik aku jika aku lewatkan 1-2 jam untuk Ekaristi? Ekaristi adalah pengabdianku kepada raja segala raja.
Pernah selagi berekaristi, kepala keamanan datang berbisik bahwa balatentara musuh sudah di gerbang kota. Sang raja, tanpa memalingkan kepala dari meja altar menjawab, “Biarkan kuselesaikan misaku ini. Bagaimana mungkin Allah tidak akan membela orang yang mengabdi kepadanya?”
Ada banyak eksekutif atau pejabat-pejabat yang semakin tinggi posisi dan jabatannya justru semakin bersandar pada kekuatan Ekaristi itu sendiri. Bukti paling jelas ialah Paus Yohanes Paulus II dan Ibu Teresa: tiada hari tanpa Ekaristi, tiada hari tanpa adorasi.
Sumber: “Adakah Spiritualitas Kristiani Orang Sibuk?” oleh Rm Terry Th. Ponomban, Pr; diterbitkan oleh Penerbit Cahaya Pineleng; Jl Gelong Baru Raya no 16-18, Jakarta 11440; phone (021) 5600 111, fax (021) 5670 340
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|