|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Agustus 2009
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
PERAYAAN PERKAWINAN
dikutip dari: Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II, “Familiaris Consortio”, #67
 Lazimnya perkawinan Kristen memerlukan perayaan liturgi, yang dalam bentuk kebersamaan dan jemaat mengungkapkan sifat hakiki gerejawi dan sakramental perjanjian perkawinan antara orang-orang yang telah dibaptis.
Sejauh merupakan tindakan sakramental pengudusan, perayaan perkawinan - yang diintegrasikan dalam liturgi, yakni puncak tindakan Gereja serta sumber daya pengudusannya - dalam dirinya (“per se”) sudah harus sah, layak dan subur. Di situ terbentang luas bidang kepedulian pastoral, supaya kebutuhan-kebutuhan yang timbul dari hakekat perjanjian perkawinan, yang diangkat menjadi sakramen, dapat ditanggapi sepenuhnya, begitu pula supaya tata-tertib Gereja mengenai persetujuan bebas, halangan-halangan, bentuk kanonik dan upacara aktual perayaan dipatuhi dengan setia. Perayaan hendaklah sederhana dan anggun, seturut norma-norma yang ditetapkan oleh para pemimpin Gereja yang berwenang. Termasuk kewenangan mereka pula - menanggapi situasi konkret waktu maupnn tempat, pun selaras dengan norma-norma yang ditetapkan oleh Tahta Suci - untuk mencantumkan dalam perayaan liturgi unsur-unsur khas masing-masing kebudayaan, yang berguna untuk mengungkapkan secara lebih jelas makna manusiawi dan religius yang mendalam, yang ada pada perjanjian perkawinan, asal saja unsur-unsur itu tidak mengandung sesuatu yang tidak selaras dengan iman serta moralitas Kristen.
Sejauh meupakan lambang, perayaan liturgi harus diselenggarakan sedemikian rupa, sehingga juga dalam kenyataan lahiriahnya menjadi pewartaan Sabda Allah dan pengikraran iman pada pihak jemaat beriman. Dedikasi pastoral di sini hendaklah diungkapkan melalui persiapan yang seksama dan sungguh-sungguh untuk membawakan Litrugi Sabda, dan melalui pembinaan iman mereka yang berperanserta dalam perayaan, dan terutama pasangan yang menikah.
Sejauh merupakan tindakan sakramental Gereja, perayaan liturgi perkawinan harus melibatkan jemaat Kristen, disertai partisipasi penuh, aktif dan bertanggung jawab pada pihak semua yang hadir, sesuai dengan tempat dan tugas masing-masing, yakni: mempelai wanita dan pria, imam, para saksi, kaum-kerabat, handai taulan, para anggota umat beriman lainnya, yang semuanya menjadi warga jemaat, yang menampilkan serta menghayati misteri Kristus dan Gereja-Nya. Untuk perayaan perkawinan Kristen dalam lingkup kebudayaan serta tradisi-tradisi para leluhur, hendaklah dipatuhi prinsip-prinsip yang diutarakan di atas.
|
|
oleh: P. Richard Londsdale
editor: P. AP Dwi Joko, Pr
|
PERAYAAN PERKAWINAN
dikutip dari: Katekismus Gereja Katolik, #1621
 Dalam ritus Latin, perayaan Perkawinan antara dua orang beriman Katolik biasanya dilakukan dalam Misa Kudus, karena hubungan semua Sakramen dengan misteri Paska Kristus. Dalam Ekaristi terjadilah peringatan Perjanjian Baru, di mana Kristus mempersatukan diri untuk selama-lamanya dengan Gereja, mempelai-Nya yang kekasih, untuk siapa Ia telah menyerahkan diri-Nya. Dengan demikian, pantaslah bahwa kedua mempelai memeteraikan Ya-nya sebagai penyerahan diri secara timbal balik, dengan mempersatukan diri dengan penyerahan Kristus kepada Gereja-Nya, yang dihadirkan di dalam kurban Ekaristi dan menerima Ekaristi, supaya mereka hanya membentuk satu tubuh di dalam Kristus melalui persatuan dengan tubuh dan darah Kristus yang sama.
“Perkawinan, yang didasarkan pada kasih eksklusif dan definitif, menjadi ikon hubungan antara Allah dan umat-Nya dan sebaliknya. Cara Allah mengasihi menjadi ukuran kasih manusia.”
~ Paus Benediktus XVI
|
|
CINTA DAN PERKAWINAN
 Suatu hari, Plato bertanya kepada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa mendapatkannya?”
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum terbentang luas di depan sana. Berjalanlah maju tanpa boleh berbalik atau mundur kembali. Jika kamu menemukan satu berkas yang menurutmu paling mengagumkan, ambillah. Itu artinya engkau telah menemukan cinta.”
Plato berjalan menyusuri ladang gandum dan akhirnya kembali dengan tangan kosong. Gurunya bertanya, “Mengapa engkau tidak membawa satu berkas pun?” Plato menjawab,
“Sebab saya hanya boleh membawa satu berkas saja, dan pada waktu berjalan tidak boleh berbalik ataupun mundur kembali. Sebenarnya saya telah menemukan satu berkas yang paling mengagumkan, tetapi saya tak tahu apakah ada berkas yang lebih mengagumkan lagi di depan sana, jadi tidak saya ambil berkas tersebut. Ketika saya melanjutkan perjalanan lebih jauh, baru saya sadari bahwa berkas-berkas yang saya dapati kemudian tidak sebagus berkas yang tadi. Jadi pada akhirnya saya tidak mengambil satu berkas pun.”
Gurunya menjawab, “Ya itulah cinta.”
Di lain waktu, Plato bertanya pula kepada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa mendapatkannya?”
Gurunya menjawab, “Ada hutan yang subur lebat terbentang di depan sana. Berjalanlah maju tanpa boleh berbalik atau mundur kembali. Jika kamu menemukan satu pohon yang menurutmu paling elok, tebanglah. Itu artinya engkau telah menemukan perkawinan.”
Plato berjalan, dan kemudian kembali dengan membawa sebatang pohon. Pohon yang dibawanya bukanlah pohon yang teramat elok, segar dan rimbun, tidak juga yang paling tinggi; melainkan biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu menebang pohon macam itu?” Plato pun menjawab,
“Sebab, berdasarkan pengalaman sebelumnya, setelah menjelajah seluruh hutan, ternyata nantinya saya akan kembali dengan tangan kosong. Jadi, ketika saya melihat pohon ini, saya pikir ia cukup baik dan saya menyukainya, maka saya putuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Saya tak hendak kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.”
Gurunya pun menjawab, “Dan ya itulah perkawinan.”
Mengapa Cincin Perkawinan Dikenakan di Jari Manis?
|
|
Ibu Jari mewakili orangtua.
Jari Telunjuk mewakili saudara dan saudari.
Jari Tengah mewakili diri sendiri.
Jari Manis mewakili pasangan hidup.
Jari Kelingking mewakili anak-anak.
|
Tangkupkan kedua telapak tangan; jari tengah ditekuk ke dalam. Coba pisahkan empat pasang jari yang tersisa. Engkau akan heran bahwa engkau tak dapat memisahkan pasangan jari manis, yang mewakili pasangan hidupmu.
Kasih sejati akan bersatu untuk selamanya.
 Seorang perempuan India modern yang baru saja menikah disambut hangat dalam keluarga suaminya seturut tradisi yang berlaku. Sebagaimana diharapkan, ia pun berbicara dengan tatapan mata seluruh anggota keluarga tertuju kepadanya:
“Keluarga besarku terkasih, perkenankanlah saya menyampaikan terima kasih sebab telah menyambut saya dengan hangat dan ramah dalam rumah dan keluarga saya yang baru ini. Pertama-tama, kehadiran saya di sini bukan berarti bahwa saya hendak mengubah cara hidup dan rutinitas kalian.”
“Apakah yang engkau maksudkan, anakku?” tanya ayah mertua dengan dahi berkernyit.
“Ayah, yang saya maksudkan adalah: mereka yang biasa mencuci piring hendaknyalah tetap mencuci piring. Mereka yang biasa mencuci pakaian, hendaknyalah terus melakukannya. Mereka yang memasak janganlah berhenti karena kehadiran saya. Mereka yang biasa membereskan rumah hendaknyalah tetap melakukannya juga. Sementara saya, saya ada di sini untuk menghibur putera ayah!”
ST. GIANNA BERETTA MOLLA (1922 - 1962)
dikutip dari: Homili Paus Yohanes Paulus II, 15 Mei 2004
 Gianna Beretta Molla adalah seorang yang sederhana, tetapi lebih dari segalanya, ia adalah utusan kasih Allah yang mengagumkan. Dalam sepucuk surat kepada calon suaminya beberapa hari sebelum perkawinan mereka, ia menulis, “Cinta adalah perasaan terindah yang Tuhan tempatkan dalam jiwa laki-laki dan perempuan.”
Seturut teladan Kristus, yang “senantiasa mengasihi murid-murid-Nya … sampai kepada kesudahannya” (Yohanes 13:1), ibu rumah tangga yang kudus ini berpegang setia dan gagah berani pada komitmen yang ia ikrarkan pada hari perkawinan. Kurban luhur yang ia meterai dengan hidupnya memberikan kesaksian bahwa hanya mereka yang memiliki keberanian untuk mempersembahkan diri secara total kepada Allah dan kepada sesama, yang dapat menunaikannya.
Melalui teladan Gianna Beretta Molla, kiranya abad kita menemukan kembali kemurnian, kesucian dan keindahan kasih perkawinan, yang diamalkan sebagai tanggapan atas panggilan ilahi!
|
|
Doa Novena & Refleksi
"Menyongsong Hari Pernikahan"
oleh: F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr
Buku kecil ini menawarkan sarana bantu persiapan batin bagi mereka yang tengah menyongsong hari pernikahan agar semakin disiap-mantapkan untuk merayakan Sakramen Perkawinan yang akan segera mereka terima.
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|