|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
September 2009
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
GEREJA: SATU, KUDUS, KATOLIK DAN APOSTOLIK
dikutip dari “Konstitusi Dogmatis tentang Gereja”, #8
 Kristus, satu-satunya Pengantara, di dunia ini telah membentuk Gereja-Nya yang kudus, persekutuan iman, harapan dan cinta kasih, sebagai himpunan yang kelihatan. Ia tiada hentinya memelihara Gereja. Melalui Gereja Ia melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang. Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hirarkis dan Tubuh Mistik Kristus, kelompok yang nampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia sorgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi. Maka berdasarkan analogi yang cukup tepat Gereja dibandingkan dengan misteri Sabda yang menjelma. Sebab seperti kodrat yang dikenakan oleh Sabda ilahi melayani-Nya sebagai upaya keselamatan yang hidup, satu dengan-Nya dan tak terceraikan daripada-Nya, begitu pula himpunan sosial Gereja melayani Roh Kristus, yang menghimpunkannya demi pertumbuhan Tubuh-Nya (lih Ef 4:16).
Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih Mat 28:18 dst), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih 1Tim 3:15). Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya, walaupun di luar persekutuan itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.
“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”
~ Matius 16:18
|
|
GEREJA YANG KATOLIK
dikutip dari “Katekismus Gereja Katolik”, #830-831
 Kata “katolik” berarti “merangkul semua,” maksudnya “seluruhnya” atau “lengkap”. Gereja itu katolik dalam arti ganda:
Ia katolik karena di dalamnya ada Kristus. “Di mana Yesus Kristus ada, di situ ada Gereja Katolik” (Ignasius dari Antiokhia, Smyrn. 8,2). Di dalam Dia, Tubuh Kristus yang dipersatukan dengan Kepala-Nya terlaksana sepenuhnya. Dengan demikian ia menerima dari-Nya “kepenuhan sarana keselamatan”, yang Ia kehendaki: pengakuan iman yang benar dan utuh, kehidupan sakramental yang lengkap dan tugas pelayanan yang tertahbis dalam suksesi apostolik. Dalam arti yang mendasar ini Gereja sudah “katolik” pada hari Pentakosta dan ia akan tetap tinggal demikian sampai pada hari kedatangan kembali Kristus.
Gereja bersifat Katolik, karena ia diutus oleh Kristus kepada seluruh umat manusia:
“Semua orang dipanggil kepada Umat Allah yang baru. Maka umat itu, yang tetap satu dan tunggal, harus disebarluaskan ke seluruh dunia dan melalui segala abad, supaya terpenuhilah rencana kehendak Allah, yang pada awal mula menciptakan satu kodrat manusia, dan menetapkan untuk akhirnya menghimpun dan mempersatukan lagi anak-anak-Nya yang tersebar…. Sifat universal, yang menyemarakkan Umat Allah itu, merupakan karunia Tuhan sendiri. Karenanya Gereja yang katolik secara tepat guna dan tiada hentinya berusaha merangkum segenap umat manusia berserta segala harta kekayaannya di bawah Kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya.”
“Hanya melalui Gereja Kristus yang Katolik-lah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petrus-lah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh Kristus di dunia. Dalam Tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk Umat Allah.”
~ Unitatis Redintegratio, #3 Konsili Vatican II
|
|
LUKA-LUKA KESATUAN
dikutip dari “Katekismus Gereja Katolik”, #817-818
 “Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awal mula telah timbul berbagai perpecahan, yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak dihukum. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, kadang-kadang bukannya tanpa kesalahan kedua pihak” (UR 3). Perpecahan-perpecahan yang melukai kesatuan Tubuh Kristus (perlu dibedakan di sini bidaah, apostasi dan skisma), tidak terjadi tanpa dosa manusia:
“Di mana ada dosa, di situ ada keanekaragaman, di situ ada perpecahan, sekte-sekte dan pertengkaran. Di mana ada kebajikan, di situ ada kesepakatan, di situ ada kesatuan, karena itu semua umat beriman bersatu hati dan bersatu jiwa.” (Origenes, hom. In Ezech.9,1)
“Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan dibesarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih …. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja Katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan” (UR 3).
MENUJU KESATUAN
dikutip dari “Katekismus Gereja Katolik”, #820
“Kesatuan itulah yang sejak semula dianugerahkan oleh Kristus kepada Gereja-Nya. Kita percaya, bahwa kesatuan itu tetap lestari terdapat dalam Gereja Katolik, dan berharap, agar kesatuan itu dari hari ke hari bertambah erat sampai kepenuhan zaman.” Kristus selalu memberikan kepada Gereja-Nya anugerah kesatuan, tetapi Gereja harus terus-menerus berdoa dan bekerja untuk mempertahankan, memperkuat dan menyempurnakan kesatuan yang Kristus kehendaki untuk dia. Karena itu, Yesus sendiri berdoa pada saat kesengsaraan-Nya dan selalu kepada BapaNya demi kesatuan murid-murid-Nya. “Semoga mereka semua menjadi satu, seperti Engkau ya Bapa, ada dalam Aku dan Aku dalam Engkau, mereka juga berada di dalam kita, supaya dunia percaya bahwa Engkau-lah yang mengutus Aku” (Yoh 17:21). Kerinduan untuk memulihkan kesatuan semua orang Kristen adalah satu anugerah Kristus dan satu panggilan Roh Kudus.
|
|
“Tiada Gereja lain yang ditetapkan seperti Gereja kita!”
~ SP Maria, Bunda Segala Bangsa
Kita umat Katolik dan sebagai Katolik, kebenaran sederhana yang tak tersangkalkan adalah bahwa kita memiliki Inkarnasi Sabda, Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allah-an Tuhan kita Yesus Kristus, Sungguh Nyata dalam Ekaristi Mahakudus. Dan bukankah itu yang membuat iblis begitu murka? Kita memiliki Kehadiran Nyata di tengah-tengah kita, Anugerah Termulia dan Sumber Kekuatan, yakni “Roti Hidup!”
|
|
PAUS BENEDIKTUS XVI MEMBUKA JALAN BAGI KARDINAL NEWMAN UNTUK MENJADI SEORANG SANTO
 Pada tanggal 3 Juli 2009, Paus Benediktus mengumumkan beatifikasi Kardinal Yohanes Henry Newman, seorang imam Anglican Inggris yang menggabungkan diri dengan Gereja Katolik. Pemakluman ini sehubungan dengan disahkannya mukjizat penyembuhan Jack Sullivan, seorang diakon tetap di Boston, Amerika Serikat, yang terjadi pada tahun 2001. Setelah divonis dokter bahwa masalah tulang belakangnya akan berakibat pada kelumpuhan, ayah tiga orang anak ini berdoa dengan sungguh memohon pertolongan sang kardinal. Keesokan paginya, ketika bangun, ia mendapati bahwa penyakitnya telah hilang sama sekali dan ia dapat berjalan normal untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan lamanya.
Yohanes Henry Newman dilahirkan pada tanggal 21 Februari 1801 di London, sebagai yang sulung dari enam putera-puteri pasangan Yohanes Newman dan Jemima Fourdrinier. Pada tanggal 29 Mei 1825, ia ditahbiskan sebagai imam Anglican. Studi lanjut agama menghantar Newman pada iman Katolik yang diyakininya sebagai benar. Dengan beberapa teman, ia mengasingkan diri di Littlemore untuk lebih masuk dalam studi agama dan doa. Akhirnya, empat tahun kemudian, pada tahun 1845, ia menggabungkan diri dalam Gereja Katolik. Selanjutnya, pada tanggal 1 Juni 1847 Newman ditahbiskan di Roma sebagai imam Katolik. Buah pikiran dan banyak tulisannya mengenai teologi, filosofi dan apologetik membawa pengaruh besar dalam Gereja dan menghantar banyak orang kembali dalam Gereja Katolik. Pada tanggal 12 Mei 1879, Paus Leo XIII mengangkatnya sebagai kardinal. Kardinal yang melewatkan sebagian besar masa hidupnya di Edgbaston, Birmingham ini wafat pada tanggal 11 Agustus 1890 dalam usia 89 tahun. Paus Yohanes Paulus II memaklumkan kehidupan salehnya yang gagah berani dan memberinya gelar “Venerabilis” pada tanggal 22 Juni 1991.
Sedikit langkah lagi akan menghantar Kardinal Newman sebagai santo Inggris non-martir yang pertama sejak Reformasi. Saat ini telah diterima suatu laporan mukjizat penyembuhan lain dengan perantaraan Kardinal Newman. Jika mukjizat ini juga disahkan oleh Tahta Suci, maka Kardinal Newman akan dikanonisasi. Ia akan menjadi santo Inggris pertama sejak St Yohanes Ogilvie, seorang martir Irlandia, dikanonisasi pada tahun 1976. Keempatpuluh Martir Reformasi Inggris, dikanonisasi pada tahun 1970. (Silakan lihat: Proses Seseorang Diangkat Menjadi Santa / Santo)
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|