|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Oktober - November 2009
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
dikutip dari: Homili Paus Yohanes Paulus II, Misa Hati Yesus Yang Mahakudus, 1984
“Pujilah TUHAN, hai jiwaku; seluruh diriku, pujilah nama-Nya yang kudus!” (Mazmur 103:1)
 Saya hendak mengarahkan perhatian saya, bersama dengan kalian semua, pada Allah Kasih. Dan saya bermaksud melakukannya melalui misteri Hati Kristus.
Saya memilih ayat di atas sebab ayat tersebut berbicara mengenai hati manusiawi kita - apa yang disebut Mazmur sebagai “seluruh diriku”. Tepat inilah yang ada dalam benak kita ketika kita berbicara mengenai “hati”: seluruh keberadaan diri kita, keseluruhan yang ada dalam masing-masing kita. Semua yang membentuk kita dari dalam, dalam kedalaman diri kita. Semua yang membentuk keseluruhan kemanusiaan kita, keseluruhan diri kita dalam dimensi rohani dan jasmaninya. Segala yang mengungkapkan dirinya sebagai suatu pribadi yang unik dan tiada duanya dalam “kedalaman batin” dan sekaligus dalam “transendensi”-nya.
Kata-kata Mazmur - “Pujilah TUHAN, hai jiwaku; seluruh diriku, pujilah nama-Nya yang kudus!” mengatakan bahwa “hati” manusiawi kita menyapa Allah dalam segala keagungannya yang tak terbayangkan dari keallahan dan kekudusan-Nya, sekaligus dalam “keterbukaan-Nya” yang mengagumkan kepada umat manusia: dalam “sikap-Nya yang merendahkan diri”.
Dengan cara inilah “hati” bertemu dengan “Hati”; “hati” berbicara kepada “Hati”.
Ketika kita mengatakan “Hati Yesus Kristus”, kita mengarahkan diri dalam iman kepada keseluruhan msiteri Kristus: misteri Allah-Manusia.
Misteri ini diungkapkan dalam suatu cara yang kaya serta mendalam oleh bacaan liturgi pada hari ini. Inilah kata-kata Rasul Paulus dalam Surat kepada Umat di Kolose:
“Ia adalah citra Allah yang tak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan, sebab di dalam Dia segala sesuatu diciptakan, di surga dan di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan; segala takhta, penguasa, pemerintahan dan kekuatan” (Kolose 1:15-16).
Kata-kata terakhir tepatnya mengacu pada makhluk-makhluk “yang tidak kelihatan”: makhluk-makhluk yang memiliki kodrat rohani yang murni.
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan untuk Dia. Ia telah ada sebelum segala sesuatu dan segala sesuatu bertahan di dalam Dia” (Ibid. 1:16-17).
Kalimat-kalimat indah dari Surat Santo Paulus ini selaras dengan apa yang dimaklumkan kepada kita pada hari ini dalam Prolog Injil Santo Yohanes:
“Pada awal mula Sabda itu ada dan Sabda itu ada pada Allah dan Sabda itu adalah Allah. Pada awal mula Ia ada pada Allah. Segala sesuatu telah dijadikan oleh-Nya tanpa Dia tidak ada sesuatu pun dijadikan. Oleh-Nya dunia telah dijadikan” (Yohanes: 1:1-3.10).
Baik dalam tulisan Yohanes maupun dalam tulisan Paulus terkandung doktrin yang diwahyukan mengenai Putra - Sabda Allah - yang sehakikat dengan Bapa. Inilah iman yang kita akui sementara kita mendaraskan Kredo - pengakuan iman yang berasal dari dua Konsili yang paling kuno dari Gereja semesta, di Nicea dan Konstantinopel:
“Aku percaya akan satu Allah, / Bapa yang mahakuasa, / pencipta langit dan bumi, / dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan; / dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, / Putra Allah yang tunggal. / Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, / Allah dari Allah, Terang dari Terang, / Allah benar dari Allah benar. / Ia dilahirkan, bukan dijadikan, / sehakikat dengan Bapa; / segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.”
Putra sehakikat dengan Bapa. Ia adalah Allah dari Allah.
Pada saat yang sama, semua yang diciptakan memiliki asal muasal ilahinya dalam Dia, sebagai Sabda Kekal. Dalam Dia segala sesuatu dijadikan dan dalam Dia mereka ada.
Inilah iman kita. Inilah ajaran Gereja mengenai Keallahan Putra. Putra yang Kekal ini, Allah benar, Sabda Bapa, menjadi manusia. Inilah kata-kata Injil: “Sabda itu telah menjadi daging; Ia telah membangun kemah-Nya di antara kita” (Ibid. 1:14).
Dalam Kredo kita mengaku: “Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita. Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.”
Di sini kita secara terlebih langsung menyentuh realita Hati Yesus. Karena hati merupakan organ manusia, anggota tubuh, bagian dari keseluruhan struktur, rohani dan jasmani yang menjadikan manusia: “Sabda itu telah menjadi daging”.
Dalam susunan ini hati sebagai organ tubuh memiliki tempatnya sendiri. Sekaligus hati mempunyai arti sebagai pusat simbolis dari batin, dan batin ini sendiri adalah, menurut hakikatnya, rohani.
Hati Yesus dikandung di bawah hati Bunda Perawan, dan kehidupan duniawinya berakhir saat Yesus wafat di Salib. Sebagaimana kesaksian prajurit Romawi yang menikam lambung Yesus dengan sebilah tombak.
Sepanjang keseluruhan hidup duniawi Yesus, Hati ini merupakan pusat di mana diwujudnyatakan, dalam cara manusiawi, kasih Allah: kasih Allah Putra, dan, melalui Putra, kasih Allah Bapa.
Apakah yang merupakan buah terbesar dari kasih ini dalam ciptaan?
Kita membacanya dalam Injil: “Ia datang kepada milik-Nya, namun bangsa milik-Nya tidak menerima Dia; tetapi semua orang yang telah menerima Dia diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah…” (Yohanes 1:11-12).
Inilah anugerah yang paling agung, paling luhur dari Hati Yesus yang kita dapati dalam ciptaan: manusia dilahirkan dari Allah, manusia diangkat menjadi anak dalam Putra Kekal, umat manusia diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.
Dan karenanya hati manusiawi kita yang “ditransformasikan” dengan cara ini dapat mengatakan dan sungguh mengatakan kepada Hati Ilahi apa yang kita dengar dalam liturgi pada hari ini:
“Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya; Ia mengampuni segala dosamu dan menyembuhkan segala penyakitmu; Ia menebus hidupmu dari kebinasaan dan memahlotaiku dengan kasih dan kerahiman; Tuhan ramah dan rahim, limpah kasih-Nya dan lambat murka” (Mazmur 103:2-4.8).
Inilah kata-kata Mazmur di mana Perjanjian Lama berbicara mengenai misteri kasih Allah. Betapa terlebih lagi Injil memaklumkan kepada kita mengenai Hati Ilahi sang Putra - dan secara tidak langsung mengenai Hati Bapa:
Hati Yesus, tempat kediaman keadilan dan kasih!
Hati Yesus, sabar dan maharahim!
Hati Yesus, sumber hidup dan kekudusan!
Akhirnya, bersama Yesaya kita dapat mengulang bahwa mereka yang berharap pada Hati ilahi “akan mendapat kekuatan baru. Mereka membubung tinggi seperti di atas sayap rajawali; mereka akan berlari dan tidak menjadi letih; mereka akan berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:31).
“Dia kepala tubuh-Nya, yaitu umat-Nya, sebab Dialah yang pertama, yang sulung dari antara orang mati agar Ia dapat menjadi yang pertama dari segala sesuatu, sebab Allah berkenan membiarkan kepenuhan-Nya tinggal di dalam Dia. Oleh Dia Allah hendak mendamaikan segala sesuatu dengan Diri-Nya, dan oleh darah-Nya yang tertumpah di salib Allah mengadakan perdamaian di surga dan di bumi” (Kolose 1:18-20).
Tuhan Yesus Kristus,
Putra yang Kekal dari Bapa yang Kekal,
yang dilahirkan dari Perawan Maria,
kami mohon kepada-Mu untuk terus menyingkapkan bagi kami misteri Allah: agar kami dapat mengenali dalam Engkau “citra Allah yang tak kelihatan”; agar kami dapat menemukan Dia dalam Engkau, dalam Pribadi ilahi-Mu, dalam kehangatan kemanusiaan-Mu, dalam kasih dari Hati-Mu.
Hati Yesus di mana tinggal kepenuhan Allah!
Hati Yesus, yang kepenuhannya telah sepenuhnya kita terima!
Hati Yesus, Raja dan pusat segala hati, untuk selama-lamanya. Amin!
* Ayat-ayat dikutip dari “Kitab Suci Komunitas Kristiani - Edisi Pastoral Katolik”
|
|
“Pandanglah Hati-Ku ini, yang begitu mengasihi manusia, tetapi manusia tidak mau balas mengasihinya. Melalui engkau, Hati Ilahi-Ku berharap untuk menyebarkan kasih-Nya ke segenap penjuru dunia.”
~ Yesus kepada St. Margareta Maria Alacoque
|
HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
 Hati Yesus yang Mahakudus adalah sumber kasih yang tiada habis-habisnya dan satu-satunya keinginan-Nya ialah mencurahkan diri-Nya ke dalam hati orang-orang yang sederhana untuk membebaskan mereka dan untuk mempersiapkan mereka agar hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Dari Hati IlahiNya tiga berkas cahaya memancar tak henti. Yang pertama adalah pancaran belas kasihan bagi para pendosa; yang mengaliri hati para pendosa dengan rasa sesal dan tobat. Yang kedua adalah pancaran kemurahan hati yang membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan, terutama membantu mereka yang mencari kesempurnaan agar dapat menemukan sarana-sarana guna menanggulangi segala kesulitan mereka. Dari pancaran ketiga memancar kasih dan terang bagi para sahabat-Nya yang telah mencapai kesempurnaan; Ia menghendaki agar para sahabat-Nya mempersatukan diri dengan-Nya sehingga mereka dapat memahami pengetahuan serta perintah-perintah-Nya, serta dengan cara mereka masing-masing, mengabdikan diri seutuhnya bagi kemuliaan-Nya.
Hati IlahiNya adalah samudera yang penuh dengan segala berkat, di mana orang-orang malang boleh menyelam guna mendapatkan segala kebutuhan mereka. Hati IlahiNya adalah samudera sukacita di mana kita semua boleh membenamkan segala penderitaan kita. Hati IlahiNya adalah samudera kerendahan hati di mana kebodohan-kebodohan kita dihapuskan, samudera belas kasihan bagi para pendosa, dan samudera kasih yang memenuhi setiap kebutuhan kita.
Apakah kehidupan doamu tidak mengalami kemajuan? Jika demikian, kamu hanya perlu mempersembahkan kepada Tuhan doa-doa yang dipanjatkan Sang Juruselamat bagi kita dalam Sakramen di altar. Persembahkan kepada Tuhan kasih PutraNya yang tak terhingga itu sebagai tebusan atas kelemahan-kelemahanmu. Di setiap kegiatan yang engkau lakukan, berdoalah seperti ini: “Tuhan-ku, aku melakukan ini atau aku menanggung itu demi Hati PutraMu dan seturut bimbingan-Nya yang kudus. Aku mempersembahkan Hati-Nya yang Mahakudus kepada-Mu sebagai tebusan atas semua kesalahan dan kekuranganku.” Teruslah berdoa seperti itu setiap saat sepanjang hidupmu.
Tetapi di atas semuanya itu, peliharalah kedamaian hati. Hati yang damai jauh lebih berharga daripada harta benda manapun. Guna memelihara kedamaian hati, tidak ada yang lebih berguna selain dari menyangkal kehendakmu sendiri dan menggantinya dengan kehendak Hati Yesus yang Mahakudus. Dengan demikian, kehendak-Nya bagi kita dapat terlaksana sehingga Ia semakin dimuliakan, dan kita bersukacita karena menjadi alat-Nya dan percaya sepenuhnya kepada-Nya.
|
|
“Hati Yesus adalah Pintu ke Surga”
Suatu pengajaran bagi Manusia,
mengenai kelemahan-kelemahan,
batasan-batasan dan jangkauannya.
Sebagaimana didiktekan Yesus
|
PESAN-PESAN KASIH YESUS:
dikutip dari: Pintu ke Surga 13.7
“Aku telah menciptakan dunia dan juga pohon yang akan menyediakan kayu bagi salib-Ku. Aku menciptakan dan menumbuhkan semak duri yang akan menyediakan duri-duri bagi mahkota kerajaan-Ku. Aku memendam dalam perut bumi besi yang akan menempa paku-paku-Ku. Oh, misteri kasih yang tak terpahami! Aku telah menciptakan sarang bagi burung, liang bagi serigala, istana bagi yang kaya, rumah bagi pekerja, buaian bagi bayi, wisma bagi yang lanjut usia. Ketika Aku datang secara pribadi untuk mengunjungi tanah-Ku, tak ada tempat bagi-Ku di penginapan-penginapan dunia, sungguh dunia yang dingin beku malam itu ketika Aku datang kepada umat manusia. Aku datang kepada manusia tetapi manusia tidak mengenali-Ku. Tak ada tempat bagi-Ku... Dan sekarang? …
Pada masa-masa ini orang hendaknya menjadi obor atau menjadi bukan apa-apa; enyahlah suam-suam kuku. Dunia membutuhkan kehangatan dan kepahlawanan. Hanya kasih yang dapat menyelamatkan dunia. Oh manusia, siapakah gerangan engkau? Citra sejati dari Dia yang datang untuk mengunjungimu dan engkau menutup pintu di depan wajah-Nya. Engkau telah menjual dirimu kepada orang-orang asing, engkau telah membentuk persekutuan yang menyedihkan. Hari ini orang-orang pilihanmu telah muak akan manna dari Surga, mereka menginginkan bawang yang di Mesir dan senantiasa membuat persekutuan dengan orang-orang asing, membuat patung anak lembu tuangan, bersujud dan menyembahnya…
Bahkan Gereja-Ku tak lagi menyadari kehadiran-Ku, sebab andai demikian, hal-hal tidak akan terjadi sebagaimana sekarang. Bahkan tidak pula mereka yang dengan kuasa imamat abadi mereka, yang membuat-Ku turun dari Surga, sadar. Adakah Aku sungguh untuk selamanya ditolak dan tak dimengerti?
Kasihilah Aku; kasihilah Aku sebanyak-banyaknya. Segala yang lain adalah milik-Ku, 'Langit dan bumi dan segala yang ada di dalamnya'… Hanya kasih anak-Ku yang bukan milik-Ku. Dan itulah yang Aku cari.”
|
|
“Setiap kali aku mendengar orang berbicara mengenai Hati Yesus Yang Mahakudus atau Sakramen Mahakudus, aku merasakan suatu sukacita yang tak terkatakan. Seolah suatu gelombang kenangan mahaberharga, suatu kasih yang manis dan pengharapan penuh sukacita yang menghanyutkan pribadiku yang malang, membuatku gemetar dengan kebahagiaan dan mengisi jiwaku dengan kelembutan. Inilah pesona kasih Yesus yang menghedakiku sepenuh hati di sana, di sumber segala kebaikan, Hati-Nya yang Mahakudus, yang berdenyut secara misterius di balik selubung Ekaristi… Aku senang mengulang hari ini `Hati Termanis Yesus-ku, buatlah aku mengasihi-Mu lebih dan lebih lagi.'”
~ Paus Yohanes XXIII, Catatan Harian Sebuah Jiwa
|
SANTA PERAWAN MARIA DARI AKITA
Sore hari menjelang Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus tanggal 28 Juni 1973, Sr. Agnes Sasagawa melihat cahaya kemilau dari tabernakel, kali ini tampak juga begitu banyak makhluk serupa para malaikat yang mengelilingi altar dalam sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus. Keesokan harinya, yang adalah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, malaikat menampakkan diri sementara Sr Agnes hendak memulai berdoa rosario. Malaikat kemudian memintanya untuk menambahkan kata “sungguh” dalam doa yang disusun Uskup Ito bagi komunitas. Sejak saat itu, doa ditujukan kepada “Hati Yesus yang Mahakudus, yang SUNGGUH hadir dalam Ekaristi Kudus.” Peristiwa-peristiwa ini merupakan awal dari serangkaian peristiwa adikodrati yang berlangsung selama sembilan tahun lamanya dari tahun 1973 hingga tahun 1982.
|
|
“Hati Yesus yang Mahakudus, yang sungguh hadir dalam Ekaristi Kudus, aku persembahkan tubuh dan jiwaku untuk dipersatukan sepenuhnya dengan Hati-Mu, yang dikurbankan setiap saat di segenap altar-altar dunia dan yang mendatangkan kemuliaan bagi Bapa memohon datangnya Kerajaan-Nya.
Sudi terimalah persembahan diriku yang hina ini. Pakailah aku seturut kehendak-Mu demi kemuliaan Bapa dan keselamatan jiwa-jiwa.
Bunda Allah yang Tersuci, janganlah pernah biarkan aku terpisah dari Putra Ilahimu. Sudi belalah dan lindungilah aku sebagai Anak Kesayanganmu.
Amin.”
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|