|
PROBLEMATIKA PERKAWINAN & KELUARGA
bersama: P. Antonius Padua Dwi Joko, Pr
Vikaris Jenderal & Vikaris Yudisial Keuskupan Surabaya
 Bagaimana Mendapatkan Jodoh?
Banyak muda-mudi jaman sekarang mengalami kesulitan mendapatkan pasangan hidup yang tepat. Mohon saran.
Ada pepatah mengatakan: “Awal yang baik sudah merupakah separuh pekerjaan” dan “Setiap awal itu sulit”. Hal ini berlaku pula bagi persiapan perkawinan, khususnya pemilihan pasangan hidup. Kesalahan pada awal, baik salah pilih maupun keputusan kurang selektif dalam keadaan “panik”, dapat berakibat fatal bagi perkawinan. Familiaris Consortio (FC) no. 66 menegaskan: “... Pengalaman menunjukkan bahwa orang-orang muda yang dipersiapkan dengan baik untuk hidup berkeluarga, pada umumnya berhasil lebih baik daripada lain-lainnya.” Usaha pastoral pemilihan pasangan hidup harus dibahas dalam rangka pastoral persiapan perkawinan dan keluarga. Pastoral itu meliputi jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Persiapan jangka panjang dimulai dengan pembinaan kepribadian dan iman anak, jangka menengah dengan katekese Sakramen Perkawinan, dan persiapan jangka pendek untuk perayaan Sakramen Perkawinan.
Beberapa hal yang dapat membantu muda-mudi mendapatkan pasangan hidup: 1. Metode Tak Langsung, ialah usaha-usaha yang tak langsung mempengaruhi proses itu, tetapi hanya menciptakan persyaratan yang dapat mempertemukan orang-orang yang sama-sama mencari pasangan hidup; 2. Metode Langsung ialah usaha-usaha yang lebih ekspisit menciptakan persyaratan serta suasana yang sesuai, agar mereka yang mencari pasangan hidup mendapat kesempatan lebih jelas untuk tanpa jalan berliku-liku menemukannya. Baik untuk metode langsung maupun tak langsung dibutuhkan wadah dan jalur guna memberi kesempatan kepada para pencari pasangan hidup untuk bertemu. Bila wadah yang lazim sudah tidak memadai, maka perlu diciptakan wadah atau jalur baru, khususnya untuk metode langsung. Misalnya rubrik “Kontak Jodoh”. Apakah di tingkat paroki bisa diciptakan wadah-wadah alternatif, juga untuk mengurangi kawin campur? Seringkali bantuan perorangan, misalnya teman atau sahabat, sangat efektif dan mendatangkan banyak peluang.
 Berpacaran: Berapa Lama idealnya?
Saya seorang pemuda baru lulus kuliah dan kini bekerja di sebuah pernsahaan swasta. Setengah tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang gadis. Apakah yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama masa pacaran? Sebaiknya berapa lama masa berpacaran itu? Ada yang bilang, jangan terlalu lama sebab nanti akan bosan. Bahkan calon mertua juga menyarankan agar kami tidak terlalu lama berpacaran, toh saya juga sudah mempunyai pekerjaan. Mohon tanggapan Romo.
~ Markus
Berpacaran dapat bermacam-macam tingkat kedalamannya. Anak remaja yang baru mengalami “cinta monyet” tentu saja amat berbeda dengan pasangan muda-mudi yang akan segera menikah. Maka, penilaian tentang pacaran yang baik juga harus memperhatikan kedalaman dan lamanya masa pacaran. Sebagai prinsip umum kiranya dapat dikatakan bahwa masa pacaran adalah masa untuk belajar saling mencintai, dengan harapan kelak akan menjadi suami istri yang bahagia. Kedua muda-mudi yang berpacaran mempunyai hak dan kewajiban untuk saling mengenal dan menyayangi. Tentu saja, kasih sayang itu bukan hanya dibicarakan dan dirasakan. Namun, juga harus diungkapkan secara nyata dalam hidup mereka. Ungkapan dan perwujudan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan pada umumnya memuat nafsu seksual sekaligus cinta sejati. Mereka yang berpacaran harus dapat belajar membedakan antara cinta sejati yang mempunyai ciri sosial / altruis dan hawa nafsu yang sifatnya egosentris. Kalau mereka kurang mau dan kurang mampu mengendalikan hawa nafsu, maka dalam pacaran mereka tidak akan berhasil mengembangkan cinta sejati. Sebab hanya hawa nafsulah yang dimanjakan dan dipuaskan selama masa pacaran. Berdasarkan pertimbangan di atas, pertanyaan tentang batas-batas pacaran yang baik kiranya dapat dijawab dengan lebih bijaksana dan jelas. Norma pokoknya ialah cinta sejati. Selama pacaran, pasangan muda-mudi hendaknya mengembangkan cinta sejati. Mereka mempunyai hak dan kewajiban mengungkapkan kasih sayang satu sama lain dengan kemesraan dan kehangatan, yang keluar dan bermuara pada cinta sejati, dan dijauhkan dari luapan hawa nafsu yang tidak terkendali. Dengan kata lain, hubungan seks dalam masa pacaran dilarang. Hubungan seks hanya dapat dilakukan berdasarkan cinta dalam perkawinan.
Oleh karena resiko kegagalan pernikahan sekarang begitu besar, maka lebih bijaksana kalau perkenalan itu cukup lama. Perhatikan baik-baik sebelum engkau menerjunkan diri. Pikirkan segala sesuatunya dengan masak-masak; jangan sampai keliru. Ingatlah, pasangan yang memanfaatkan waktu satu tahun penuh untuk saling mengenal dengan baik mempunyai dasar yang jauh lebih kokoh daripada yang menikah setelah berkenalan hanya selama enam bulan. Lebih lama engkau mengenal pasangan dengan baik sebelum menikah, engkau akan lebih jarang menemukan hal-hal yang aneh. Bila ingin memasuki perkawinan dengan aman, ambillah masa pacaran dan pertunangan yang cukup. Jadi, mengapa terburu-buru? Jikalau itu memang cinta sejati, pasti akan tahan uji. Jika tidak, engkau dapat berterimakasih kepada Tuhan sebab engkau menyadarinya sebelum terlambat. Selamat berpacaran, Tuhan memberkati.
 Yang Manakah Jodoh Saya?
Saya seorang gadis Katolik, belum punya pacar yang serius. Ada beberapa teman laki-laki yang mendekati saya, tapi saya belum bisa menentukan yang manakah jodoh saya. Saya sudah berdoa novena, namun rasanya belum ada tanda-tanda mana yang terbaik sebagai pasangan hidup saya. Saya tidak ingin salah pilih karena akan berakibat penyesalan seumur hidup. Mohon saran.
~ Rika
Perkawinan dan keluarga merupakan jalan hidup yang diidamkan kebanyakan orang. Tetapi tidak sedikit orang muda sulit mendapat jodoh yang sesuai. Perjodohan memang tidak dapat dipecahkan dengan horoskop, perjodohan juga bukan melulu soal nasib. Masalah perjodohan juga tak dapat dipecahkan hanya dengan doa atau novena. Manusia dibekali aneka anugerah Tuhan, agar ia jangan hanya menunggu atau menyerah secara pasif kepada “nasib”, melainkan mengerahkan segala daya kemampuan, budi dan hati untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang wajar, mengembangkan diri dan sesama, dan saling membantu mencapai cita-cita. Memilih jodoh tidak sama dengan memilih barang. Jodoh yang baik tidak sekali jadi, melainkan melalui suatu proses interaksi. Paham perkawinan Katolik mengandung beberapa unsur dan sifat hakiki yang harus diterima, yakni unitas dan indissolubilitas. Mengingat perbedaan paham perkawinan Katolik dengan paham perkawinan kalangan lain dalam masyarakat majemuk, soal-soal ini sudah harus dijelaskan, ditegaskan, didiskusikan dan disepakati, sebelum keputusan untuk menikah.
a. Apakah calon pasangan hidup mampu dan bersedia tulus iklas menghayati hidup perkawinan sebagai persekutuan seluruh hidup itu?
b. Apakah calon pasangan hidup mampu dan bersedia membina cintakasih yang mengusahakan kesejahteraan suami istri dalam arti yang menyeluruh?
c. Apakah calon pasangan hidup mampu dan bersedia mengembangkan perkawinan menjadi keluarga dan mengemban tanggung jawab sebagai ibu atau bapa yang baik?
d. Apakah calon pasangan hidup yang dipermandikan mampu dan bersedia menerima dan menghayati Sakramen Perkawinan, atau sekurang-kurangnya (bila non-Katolik) tidak menghalang-halangi penghayatan iman Katolik jodoh yang beragama Katolik?
e. Apakah calon pasangan hidup mampu dan bersedia melangsungkan dan menghayati perkawinan monogam dengan segala konsekuensinya?
f. Apakah calon pasangan hidup mampu dan bersedia menghayati perkawinan seumur hidup?
Hal-hal tersebut di atas kiranya bisa menjadi bahan untuk untuk berdialog, berdiskusi, dengan calon pasangan. Dengan demikian engkau akan semakin memahami pemikiran, paham dan kepribadian calon pasangan
 Persiapan Mental Menghadapi Perkawinan (1)
Setahun lalu saya berpacaran dengan seorang cewek. Pacar dan keluarganya berharap kami segera menikah. Persiapan finansial tak menjadi masalah bagi saya, justru kesiapan mental dan hati rasanya belum ada. Mohon petunjuk.
~ Budi
Perkawinan memang harus dipersiapkan dengan baik. Salah satu hal terpenting adalah mempertimbangkan kualitas kepribadian dan karakter yang akan sangat berpengaruh dalam membangun perkawinan yang kokoh. Beberapa hal yang kiranya perlu dipikirkan adalah:
1. Kesanggupan beradaptasi. Kondisi bisa berubah-ubah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang; situasi-situasi tak terduga dapat saja sekonyong-konyong muncul. Siap sedialah beradaptasi. Pertimbangkan ini sebagai peluang untuk bertumbuh, untuk melangkah ke arah yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya.
2. Empati adalah kepekaan terhadap kebutuhan, perasaan dan keinginan orang lain; kepekaan untuk merasakan kebersamaan dan mengalami “dunia” dari perspektif mereka yang mengalaminya. Banyak konflik dan kesalahpahaman antar pasangan dapat dihindari jika pasangan mau benar-benar berusaha meningkatkan kemampuan untuk berempati satu sama lain.
3. Kesanggupan untuk menangani masalah. Ini tidak sama dengan menyelesaikan masalah. Beberapa masalah tak dapat diselesaikan, tetapi pasangan yang sudah menikah memerlukan kesanggupan untuk mengidentifikasi dan menganalisa masalah, mengusulkan dan memilih solusi yang mungkin, serta menindaklanjutinya. Pasangan akan sanggup mengatasi sebagian besar masalah dan belajar menangani masalah yang tak dapat mereka atasi. Yang terpenting adalah komitmen untuk menangani masalah, dan bukan menghindarinya.
4. Kesanggupan untuk memberi dan menerima kasih. Ini tak semudah kedengarannya, khususnya bagi laki-laki. Laki-laki lebih sulit untuk memperlihatkan sisi peka dirinya secara terbuka, sehingga banyak laki-laki mengalami kesulitan mengekspresikan perasaan mereka yang sebenarnya. Memberi dan menerima kasih terjadi secara lebih alamiah pada perempuan. Pernikahan adalah memberi dan menerima secara terus-menerus.
5. Stabilitas emosional. Ini berarti snggup mengendalikan emosi kita dan tak membiarkan emosi lepas tanpa kendali. Stabilitas emosional berarti bersedia dan sanggup menerima tanggung jawab atas perasaan, perkataan dan perbuatan kita.
6. Kesanggupan berkomunikasi. Komunikasi sejati tidaklah mudah. Komunikasi adalah kesanggupan untuk memastikan bahwa orang mengerti apa yang kita katakan dan apa yang kita maksudkan; juga kesanggupan untuk mendengarkan dan memahami orang lain. Mengembangkan kedua aspek komunikasi ini membutuhkan banyak waktu, kesabaran dan kerja keras.
Bertekunlah dalam mempersiapkan diri, sehingga benar-benar sanggup menikah dan menjadi bahagia. Tuhan memberkati.
 Persiapan Mental Menghadapi Perkawinan (2)
Kami telah melewati masa berpacaran selama dua tahun dengan penuh kebahagiaan. Pacar saya seorang yang sabar dan penuh pengertian, sebab itulah saya menerima lamarannya untuk melangsungkan perkawinan. Tetapi, ketika hari pernikahan semakin dekat, muncul keraguan serta kekhawatiran kalau-kalau dia akan berubah setelah menikah. Kadang timbul perasaan asing terhadap pacar saya. Mohon petunjuk.
~ Joice
Saya bisa memahami kekhawatiranmu, namun yakinlah, bila engkau sudah mempersiapkan diri dengan baik, tentu semua akan berjalan dengan baik. Tetaplah optimis dan kembangkan pikiran positif. Gunakan waktu yang ada untuk membangun relasi sebagai sahabat. Salah satu karakteristik penting dari sahabat adalah mereka saling berbagi segalanya, baik atau buruk, senang atau susah. Kualitas inilah yang membedakan seorang sahabat dari sekedar kenalan. Sahabat saling jujur dan terbuka satu sama lain. Salah satu masalah besar dalam banyak perkawinan adalah suami dan isteri sulit membangun relasi sebagai sahabat. Banyak pasangan lebih seperti “hamba” daripada sahabat, lebih seperti kakak dan adik, daripada suami isteri. Saling terbuka satu sama lain sama sulitnya dengan terbuka terhadap keluarga atau kenalan biasa. Kebanyakan orang tidak membagikan diri mereka yang terdalam dengan orangtua atau saudara kandung. Mereka tidak berbicara terus terang mengenai impian ataupun ketakutan mereka yang terdalam, kebaikan-kelebihan ataupun cacat-cela mereka. Namun, mereka menyingkapkan ini semua kepada sahabat. Persahabatan suami isteri, dengan karakteristik, kejujuran dan keterbukaan, mutlak perlu bagi perkawinan yang bahagia.
Kebanyakan pasangan memasuki hidup perkawinan tanpa saling mengungkapkan diri mereka sepenuhnya. Memang terasa mustahil pada awalnya untuk berterus-terang dan sepenuhnya terbuka, karena beberapa hal akan muncul hanya ketika hubungan telah berkembang seiring berjalannya waktu. Meski demikian, pasangan harus saling mengetahui sebanyak mungkin, hal-hal baik maupun buruk, sebelum mereka berdua melangsungkan perkawinan. Masa pacaran dan pertunangan sangat berguna untuk tujuan itu. Sayang, terlalu sering laki-laki dan perempuan memfokuskan semua perhatian mereka untuk selalu berperilaku baik, berhati-hati dalam mengungkapkan hanya sisi baik diri. Karena takut membahayakan hubungan yang mulai bertunas, mereka akan menghindari masalah dan menghindari mengungkapkan kebiasaan yang mengganggu atau keanehan yang mungkin saling mereka lihat. Jika tidak belajar jujur pada tahap hubungan ini, mereka pasti akan mengalami kejutan yang tak menyenangkan di kemudian hari setelah menikah; semua ini akan muncul tanpa dapat dihindari. Misalnya seorang suami yang mempunyai masalah dengan wataknya yang mudah marah, seharusnya jujur pada isterinya mengenai hal itu; semakin cepat semakin baik. Dengan cara ini, isteri tidak akan terlalu shock ketika suami untuk pertama kalinya marah. Kesalahpahaman apapun dapat dicegah sebelum mulai. Bersama-sama suami isteri dapat mengatasi masalah dan saling membantu dalam bertumbuh melewati dan memperbaiki kelemahan dan cacat-cela mereka.
 Bagaimana Gereja Menghadapi Pasangan yang Hamil Sebelum Perkawinan?
Seorang anak gadis berpacaran dengan seorang pemuda selama enam bulan dan si gadis menjadi hamil. Orangtua meminta agar mereka berdua segera menikah. Romo Paroki berkeberatan, tetapi dengan berbagai negosiasi akhirnya bersedia menikahkan mereka. Bagaimana sebenarnya Gereja menghadapi pasangan yang hamil sebelum menikah?
~ Agustinus
Pertama-tama kita lihat, adanya suatu rangkaian nilai yang hendak dipertahankan / diperjuangkan oleh Gereja, yakni menjaga martabat manusia di hadapan Allah dan sesama. Gereja Katolik akan merestui pasangan menikah dalam Gereja asalkan ada harapan bahwa nilai-nilai yang dihidupi dan diwartakan oleh Gereja dapat dilaksanakan oleh keluarga tersebut. Maka Gereja hanya akan menikahkan mereka yang tahu, mau dan mampu untuk menikah. TAHU, berarti calon pengantin mengetahui tujuan, nilai dan hakekat perkawinan. MAU, berarti calon pengantin tidak dalam keadaan terpaksa, dengan bebas memilih dan memutuskan untuk menikah. MAMPU, berarti calon pengantin tidak terhalang oleh halangan-halangan yang menggagalkan, dan dapat menanggung semua konsekuensi setelah keduanya menikah, termasuk mampu dan menerima kelemahan dan kekurangan pasangan.
Kedua, setiap perkawinan dilakukan dengan tujuan untuk saling membahagiakan, prokreasi (keterbukaan akan kehadiran anak) serta mendidik anak. Saling membahagiakan mengandaikan penyerahan diri total kepada pasangan, sehingga tertutuplah kehadiran pribadi lain, PIL atau WIL. Jadi, jika terjadi perselingkuhan maka perlu dipertanyakan soal penyerahan diri kepada pasangan. Keterbukaan kepada kehadiran anak (prokreasi) lewat hubungan khas suami-isteri berarti ikut serta dalam karya penciptaan kehidupan baru oleh Allah. Kehidupan baru itu harus dijaga, dipelihara dan dididik sehingga mampu menjadi generasi yang berguna bagi kehidupan selanjutnya. Ketiga, pria dan wanita yang menikah tidak hanya berhenti pada peristiwa perkawinan saja, tetapi dibutuhkan kemampuan bersama untuk menanggung konsekuensi perkawinan, termasuk mendidik anak dengan teladan mereka, kendati kelemahan-kelemahan dan keterbatasan-keterbatasan pribadi.
Dalam kasus di atas perlu dipertanyakan: Apakah dengan perkawinan muda-mudi tersebut mampu mewujudkan nilai-nilai di atas? Apakah mereka sungguh tahu, mau dan mampu untuk menikah? Jangan perkawinan dilakukan sekedar untuk menutup rasa malu atau untuk melegalkan status anak, dan justru perrkawinan tersebut menciptakan masalah baru. Maka bisa dipahami jika pastor akan mempertanyakan hal-hal tersebut, atau bahkan berkeberatan untuk memberkati perkawinan mereka, kalau sekiranya mereka sulit untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut. Guna mengantisipasi kejadian-kejadian serperti hamil sebelum menikah, memang perlu cara berpacaran yang sehat. Di Keuskupan Surabaya sudah ada “Discovery Program”, yakni program pendampingan bagi mereka yang serius berpacaran. Program ini muncul karena keprihatinan terhadap kasus hamil sebelum perkawinan. Kiranya muda-mudi yang sedang berpacaran serius dapat memanfaatkan program ini.
 Mengenal Pribadi Pasangan
Kami berpacaran dua tahun dan semuanya berjalan baik. Tetapi, setelah menikah, barulah saya menyadari bahwa di antara kami terdapat banyak perbedaan yang tak jarang menimbulkan pertengkaran. Rasanya sulit untuk dapat saling memahami. Mungkin kami sama-sama egois dan tak mau mengalah. Mohon bimbingan.
~ Frans
Orang menikah bukan untuk mencari kesenangan, melainkan untuk saling melengkapi, saling menyempurnakan, dan saling membahagiakan dalam kasih Allah yang telah berkenan mempersatukan laki-laki dan perempuan. Dengan landasan kasih Allah, suami isteri dipanggil untuk saling membahagiakan, dan kemudian bersama-sama berupaya membagikan kebahagiaan itu kepada seluruh keluarga dan seluruh masyarakat. Dengan demikian, keduanya sungguh menjadi gambar Allah yang sempurna. Dalam Perjanjian Lama, norma cinta kasih diungkapkan dalam bentuk negatif, “Apa yang tidak kau sukai sendiri, janganlah kau perbuat kepada siapapun” (Tobit 4:15). Dalam Perjanjian Baru, norma cinta kasih diungkapkan dalam bentuk positif, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12). Aturan ini kiranya merupakan penjabaran dari perintah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Orang yang mengamalkan hidup saling mengasihi digambarkan Matius seperti orang yang masuk melalui pintu yang sempit. Hal ini hendak menunjukkan betapa sulitnya mengamalkan hidup saling mengasihi itu.
Agar dapat mengamalkan hidup saling mengasihi, baiklah kita mengenal pasangan kita dengan baik. Memang, pada hakikatnya suami isteri memiliki martabat yang sama, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27). Tetapi, manusia itu unik dan memiliki perbedaan-perbedaan. Ada perbedaan kodrati yang sudah ada sejak lahir, misalnya jenis kelamin; ada pula perbedaan yang dibentuk, dikonstruksi oleh manusia sebagai hasil dari pendidikan, budaya, kebiasaan, dsb, yakni sifat-sifat yang dapat berubah yang ada pada laki-laki dan perempuan. Agar dapat memahami atau mengenal pribadi pasangan, baiklah kita coba mengumpulkan sifat-sifat apa saja yang dimiliki baik oleh suami maupun isteri. Keunikan atau kekhasan pasangan bukan dimaksudkan sebagai bahan pertentangan dan perselisihan, melainkan untuk sesuatu yang positif, yakni saling mengasihi, melengkapi dan memperkaya. Dengan demikian suami isteri dapat semakin mengembangkan relasi dalam kasih sehingga semakin menemukan kelimpahan dalam hidup perkawinan dan keluarga.
 Bagaimana Membangun Perkawinan Seumur Hidup?
Perkawinan Katolik berlangsung seumur hidup. Itu hanya mungkin berdasarkan kasih sejati. Mengingat manusia mudah bosan, mungkinkah mengembangkan kasih sejati itu dalam dunia jaman sekarang? Bagaimana membangun perkawinan seumur hidup dan bagaimana mengembangkan kasih sejati?
~ Yono
Perkawinan yang berlangsung seumur hidup harus dibangun atas dasar yang kokoh, yang tidak akan tererosi atau usang bersama berjalannya waktu. Hubungan perkawinan yang bahagia dan berbuah banyak dibangun atas perinsip yang permanen, ditempa dari bahan yang kekal. Berdasarkan apakah pasangan suami isteri dapat membangun hubungan yang bahagia, aman dan langgeng? Apakah pondasi yang akan tahan ujian waktu dan badai kesulitan? Tentu saja satu-satunya fondasi yang pasti untuk perkawinan seumur hdup adalah agape, kasih yang menyerahkan diri, yang bersumber dan bermula dalam Allah saja. Hanya yang berasal dari Allah akan abadi; semua yang lain hanya sementara. Sebagaimana juga kata Santo Paulus, “Kasih tidak berkesudahan…” (bdk. 1 Korintus 13:8 dst). Pada akhirya, iman, pengharapan dan kasih akan bertahan. Semuanya itu berasal dari Allah, dan dari ketiganya yang terbesar adalah kasih karena iman dan pengharapan muncul dari kasih Allah dan hanya dapat ada di dalam lingkungan hadirat-Nya. Karena Allah abadi dan kasih adalah sifat Allah sendiri, maka kasih-Nya tidak akan pernah gagal.
Agape adalah kasih tanpa syarat; jenis kasih yang siap berkurban untuk menyerahkan diri seperti yang diperlihatkan Yesus ketika Ia wafat di kayu salib demi menebus dosa manusia. Perkawinan yang didasarkan pada agape adalah hubungan tanpa peran karena keduanya saling mengasihi tanpa syarat, siap berkurban. Dipelihara oleh kasih, hubungan mereka dicirikan dengan memberikan respons terhadap kebutuhan, daripada menyesuaikan dengan peran yang tetap. Santo Petrus mengatakan tentang sifat tanpa syarat dan tanpa berharap dari agape ini, “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Petrus 4:8). Agape tidak melalaikan atau mengabaikan dosa, tetapi menutupi banyak sekali dosa, sama seperti darah Yesus menutupi dosa kita untuk menempatkan kita dalam hubungan yang benar dengan Allah. Dalam perkawinan, agape berarti bahwa pasangan, bukannya saling mengabaikan kesalahan dan kelemahan, melainkan berhubungan secara saling menyelamatkan dan membiarkan kasih mengatasi kekurangan satu sama lain dan tidak membiarkan kekurangan itu menjadi titik perselisihan dan konflik. Santo Paulus mengatakan, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan” (1 Korintus 13:4-8a).
Eros dan philia harus dikembangkan menuju agape! Jika tidak, nilai-nilai manusia dikurbankan di sana. Kitab Suci juga melukiskan kasih Allah yang ber'sifat' erotik tetapi menyempurna dalam kasih agape. Yesus adalah ungkapan kongrit kasih Allah. Belajar hidup menurut agape, cinta yang sejati, adalah kunci utama untuk memahami kasih yang berlangsung seumur hidup. Dunia menawarkan banyak hal tentang cinta, tapi tak satu pun mengerti kasih seperti Allah mengerti, karena Allah adalah kasih (1 Yohanes 4;16). Apabila kita ingin mengerti kasih, kita perlu pergi kepada sumbernya. Jika kita ingin bertumbuh dan membangun perkawinan yang berhasil dan bahagia, maka kita perlu datang kepada-Nya.
 Perkawinan Terasa Hambar
Saya merasa bahwa perkawinan kami terasa hambar. Kami menikah tanpa proses perkenalan dan persiapan yang cukup, tetapi karena desakan orangtua. Lima tahun telah berlalu dan kami telah dikaruniai seorang putra. Namun rasanya saya belum menemukan kebahagiaan perkawinan. Pertengkaran-pertengkaran kecil selalu mewarnai kehidupan kami. Rasanya dia bukan wanita yang saya idamkan. Benarkah dia jodoh saya? Apa yang harus saya lakukan?
~ Heri
Saya bisa memahami kegalauan hatimu. Idealnya memang sebuah perkawinan perlu dipersiapkan dengan baik. Namun, persiapan yang kurang baik pun tetap bisa menghasilkan sesuatu yang baik, kalau kita berani untuk memulai dan memulai lagi dan membuka diri terhadap pembaharuan dari Tuhan. Ada beberapa hal yang bisa diusahakan.
Pertama, menerima apa adanya. Ini unsur penting dalam mengembangkan hidup perkawinan. Tanpa menerima satu sama lain, tidak akan ada perkawinan yang dapat mengatasi perbedaan yang timbul ketika dua orang hidup bersama. Kita harus saling menerima seperti Tuhan sudah menerima kita tanpa syarat. Bisa jadi, apa yang dulu menarik bagi anda sekarang menjadi bahan pertengkaran. Kalau anda ingin memulai yang baru dalam kehidupan perkawinan, anda harus belajar untuk benar-benar saling menerima tanpa syarat. Kelemahan dan kejanggalan yang ada dalam diri pasangan perlu diterima, dimaklumi sambil didoakan. Anda perlu menyadari bahwa Kristus sendiri menerima dia, maka anda pun harus berbuat hal yang sama.
Kedua, memberikan perhatian. Tentu saja dalam kehidupan perkawinan, suami-istri harus saling mengasihi. Bagaimana caranya? Hal yang sangat jelas menjadi tanda cinta adalah perhatian. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan sebagai bentuk perhatian pada pasangan.
Ketiga, menyesuaikan dan merendahkan diri. Kalau kita ingin mempunyai kehidupan perkawinan yang bahagia, kita harus belajar saling merendahkan diri. “... rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (Ef 5:21). Kita melakukannya dengan jalan belajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan, keinginan, tujuan, harapan, bahkan “keanehan” pasangan hidup kita masing-masing.
Keempat, pengampunan. Unsur ini merupakan unsur yang sangat penting dan menjadi inti kehidupan iman serta perkawinan yang sehat. Memang kehidupan perkawinan tidaklah mudah, tetapi kita dapat meringankannya dengan selalu mengampuni kesalahan pasangan, sebagaimana Allah telah lebih dahulu mengampuni kita.
Kelima, menghargai. Menghargai berarti memberi dorongan semangat dan menguatkan. Kalau kita memberi dorongan semangat dan membangun pasangan hidup kita, sesuatu yang positif akan terjadi padanya. Sikap kita yang menghargai dapat membantu pasangan hidup kita memperbaiki diri.
Keenam, menyatakan kasih sayang. Kasih sayang akan menghangatkan iklim yang menunjang terjalinnya hubungan suami istri yang makin intim. Sangat penting bagi suami-istri untuk saling memenuhi kebutuhan masing-masing dalam hal ini. Cobalah ungkapkan kasih sayang dengan memberi pelukan, rangkulan, tepukan lembut dan ciuman. Lakukan sesering mungkin. Maka anda akan melihat dan merasakan hal yang menakjubkan.
 Pasangan Berubah Setelah Menikah
Kami menikah 15 tahun yang lalu dan dikaruniai tiga orang anak. Tahun-tahun pertama perkawinan kami lewati dalam kebahagiaan. Namun, setelah kelahiran anak kedua, tampak tanda-tanda suami mulai kurang bertanggung-jawab terhadap keluarga. Dia terpengaruh teman-temannya untuk minum-minum dan main perempuan. Setelah kelahiran anak ketiga, ia semakin menjadi-jadi dan akhirnya setahun yang lalu terkena stroke. Mungkin ini cobaan agar dia kembali ke jalan yang benar. Beban menjadi amat berat, baik dari segi ekonomi maupun batin. Saya sungguh stres, frustasi dan putus asa. Saya mundur dari pelayanan aktif di gereja. Tuhan tidak menolong saya, untuk apa saya melayani Dia. Mohon bimbingan.
~ Anne
Saya dapat memahami perasaan Ibu yang sedang dilanda frustasi. Saat ini kita masih dalam Masa Paskah. Baiklah kita juga belajar dari pengalaman dua murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus. Dalam perjalanan, Yesus datang menemani mereka. Namun “sesuatu menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenali Dia.” Padahal mereka telah berjalan, berbicara, makan bersama-Nya, menyaksikan mukjizat-mukjizat-Nya dan mendengar ajaran-ajaran-Nya. Seperti dua murid yang ke Emaus, kita pun sering menjadi tak mampu mengenali Yesus yang berjalan bersama kita. Kita mengalami perasaan sakit, frustasi, terluka; kita kehilangan orientasi, kehilangan kemampuan untuk melihat Tuhan yang bangkit. Seorang murid Yesus yang tak mampu mengenali Dia, tak akan dapat melayani yang lain dengan efektif. Mereka hanya merasakan sakit, menjadi negatif, kehilangan visi dan kehilangan roh pelayanan.
Sesungguhnyalah Tuhan tetap bersama kita. Ia berjalan bersama kita. Masalahnya adalah mata kita tertutup. Setelah mampu mengenali-Nya, dua murid dari Emaus membuka diri dan mengundang Yesus untuk tinggal. Hasilnya memang sungguh luar biasa. Mereka diubah dan diperbaharui dalam komitmen dan pelayanan. Happy ending kisah itu digambarkan dengan indah, “Mereka segera kembali ke Yerusalem dan memaklumkan bahwa Tuhan sungguh telah bangkit.” Semoga Ibu tetap terbuka pada kehadiran Tuhan; tidak pergi dari-Nya. Undanglah Yesus dalam hidup Ibu. Sesungguhnya Ia tetap berjalan bersama Ibu. Bila Ibu tetap setia, Ibu akan “melihat” Dia yang berjalan bersama Ibu. Tuhan memberkati.
 Pasangan Selalu Ribut dan Bertengkar
Kami menikah lima tahun yang lalu. Namun kebahagiaan yang kami damba serasa tak kunjung tiba. Tiap hari kami selalu ribut dan bertengkar. Sepertinya ada saja yang kami pertengkarkan, bahkan masalah sederhana sekalipun. Mohon nasihat agar dapat hidup rukun dan bahagia.
~ Stef
Kita tahu bahwa tantangan paling sulit dalam relasi suami isteri adalah perbedaan dan perselisihan. Bahkan tak jarang, jika pasangan suami isteri tak sependapat, pembicaraan yang hangat dapat berubah menjadi pertengkaran. Pembicaraan yang penuh cinta berhenti dan berubah menjadi pembicaraan yang saling melukai, mencurigai, bahkan terkadang mengungkit luka lama. Pasangan tak sadar, bahwa pertengkaran itu bukan saja melukai perasaan, tetapi juga melukai relasi mereka.
Pertengkaran bisa dihindari kalau perbedaan pola pikir atau rencana disertai pula dengan argumen pro dan kontra. Dalam argumen pro dan kontra, masing-masing pihak bisa saling memberikan pendapat, sehingga merela lebih dapat bersikap obyektif. Sayangnya, seringkali orang lebih mudah menanggapi segala sesuatu secara emosional. Akibatnya pendapat atau saran sering diartikan sebagai serangan pribadi. Dalam menanggapi perbedaan pendapat, seharusnya pasangan berunding secara baik dan terbuka, bukannya bertengkar atau saling menjatuhkan. Dalam setiap perbedaan diharapkan ada sikap jujur, terbuka bahkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan negatif tanpa perlu berselisih. Kadang kita jumpai pasangan yang selalu bertengkar dalam perkara kecil dan sederhana sekalipun. Pertengkaran yang tidak dewasa makin lama makin mematikan cinta mereka. Ada pula pasangan-pasangan yang menekan perasaan-perasaan mereka untuk mencegah perselisihan dan pertengkaran; atau pasangan-pasangan yang membiarkan perang dingin terjadi. Akibatnya, kontak cinta mereka makin lama makin memudar, dingin bahkan hilang. Tentu, yang paling baik adalah menemukan keseimbangan antara perang di atas. Dengan mengingat bahwa suami isteri dipersatukan dari pribadi yang berbeda, dan dengan mengembangkan ketrampilan berkomunikasi yang baik, maka kita dapat menghindari perselisihan tanpa menekan perasaan negatif dan ide-ide yang bertentangan. Kita bisa belajar dari Yesus yang mampu menghindari pertengkaran.
Bagaimana cara mengungkapkan perbedaan-perbedaan tanpa harus bertengkar? Kita bisa belajar dari Yesus yang menghindari pertengkaran dan menjadi penengah pertengkaran di antara para murid-Nya. Dengan rendah hati Yesus memberikan alternatif jawaban yang dapat memuaskan kedua belah pihak yang sedang berselisih. Yesus juga selalu menggunakan bahasa cinta. Yesus tidak pernah bersikap arogan, mempertahankan pendapat-Nya sendiri ataupun ingin menang sendiri. Kita dapat membayangkan bagaimana Dia selalu dapat berbicara dengan rendah hati, selalu siap menerima dan mendengarkan orang lain, dan berempati dengan lawan bicara-Nya, sehingga Ia dapat memberikan jawaban yang cepat dan tepat.
 Menyesali Perkawinan
Lima tahun yang lalu kami menikah setelah melewati masa pacaran enam bulan. Kala itu saya masih relatif muda, suami sudah mapan dengan pekerjaan yang menjanjikan masa depan. Kebahagiaan terbayang nyata di depan mata. Tahun pertama perkawinan, suami sibuk dengan pekerjaan dan teman-temannya, dan tidak mempedulikan saya dan urusan keluarga. Pertengkaran-petengkaran mulai sering terjadi; saya ingin dia berubah. Saya menyesal telah menikah dengannya; saya ingin berpisah dan merencanakan masa depan yang lebih baik bagi saya. Mohon pendapat
~ Lois
Saya ikut prihatin dengan situasi yang anda alami. Anda berhadapan dengan kenyataan bahwa pasangan tidak seperti yang anda harapkan, lalu kecewa dan berusaha mengubahnya menjadi seperti yang anda kehendaki. Terlebih kecewa lagi karena pasangan semakin jauh dari harapan. Kini anda bukan hanya kecewa, tetapi juga terluka. Umumnya ada dua macam reaksi dalam masalah sulit seperti ini. Pertama, menyalahkan pasangan sebagai penyebab semua kebuntuan ini, lalu menuntutnya bertanggung-jawab dengan jalan “berubah” agar situas menjadi baik kembali. Relasi suami istri adalah tanggung-jawab bersama, tak hanya satu pihak yang harus bertanggung jawab atau dipersalahkan. Menyalahkan pasangan, tidak memperbaiki keadaan, justru sebaliknya, semakin menggerogoti relasi. Kedua, menyalahkan diri sendiri juga merupakan salah satu reaksi yang tidak produktif dalam menghadapi masa-masa sulit perkawinan. Penyelesaian seperti kata-kata, “Seandainya aku dulu….” atau “Dulu aku terlalu tergesa-gesa….” atau “Aku masih terlalu muda….” dll hanya bertujuan membangun pembenaran diri dan meyakinkan diri bahwa hubungan ini perlu diakhiri. Apapun alasannya dahulu, kenyataannnya anda dan pasangan telah mengambil keputusan untuk saling mengikatkan diri dalam perkawinan. Jadi, anda berdua bertanggung jawab untuk mempertahankannya; memulai lagi dan memulai lagi setiap kali jatuh. Memang, kerapkali ada banyak hal yang tidak dapat kita pahami. Laki-laki dan perempuan dipanggil untuk saling memberikan diri dalam perkawinan. Itulah cara mereka memenuhi janji perkawinan secara serius.
Betapa Yesus menghargai perkawinan! Terhadap pertanyaan tentang perceraian, Yesus menghantar kembali kaum Farisi pada kisah penciptaan, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9). Kepada pasangan suami-istri, Yesus mengatakan bahwa hal yang terpenting adalah saling menghormati satu sama lain, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28). Yesus menghargai perkawinan dengan kehadiran-Nya, “Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu” (Yohanes 2:1-2). Situasi perkawinan di Kana sama seperti situasi perkawinan yang anda alami; Yesus juga turut hadir di sana. Kehidupan perkawinan adalah kehidupan di dalam Tuhan. Perkawinan bagaikan persatuan Yesus dan Gereja. Dalam perkawinan, Kristus dan manusia saling memberi dan menerima. Bila anda berdua saling mencintai, saling menunjukkan kebaikan dan kemurahan hati satu sama lain, anda ikut ambil bagian dalam misteri cinta Allah. Iman membuat perkawinan menjadi sebuah gambaran tentang cinta Kristus kepada Gereja. Inilah yang membuat perkawinan menjadi sebuah perkawinan di dalam Tuhan.
 Bolehkah Mengambil Isteri Lagi demi Mendapatkan Keturunan?
Seorang teman sudah menikah selama sepuluh tahun, tetapi belum dikaruniai anak. Suami merasa bahwa kehidupan keluarga tanpa kehadiran anak tidaklah lengkap dan hidup terasa kurang berarti. Bukankah tujuan orang menikah adalah untuk meneruskan keturunan? Sebab itu, ia bermaksud memperisteri perempuan lain yang bisa memberinya keturunan. Mohon tanggapan.
~ Ferdy
Memang, dalam agama atau kultur tertentu, apabila perkawinan tidak dapat mendatangkan keturunan, suami dapat memperisteri perempuan lain untuk memberikan keturunan. Dalam paham Gereja Katolik, tujuan perkawinan adalah saling membahagiakan dan mencapai kesejahteraan suami-isteri (segi unitas perkawinan). Kedua pihak memiliki tanggung jawab dan saling memberi kontribusi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan suami-isteri. Tujuan berikutnya terarah pada kelahiran anak dan pendidikannya. Kesatuan sebagai suami-isteri dianugerahi rahmat kesuburan untuk memperoleh buah cinta berupa keturunan manusia-manusia baru yang akan menjadi mahkota perkawinan. Anak yang dipercayakan Tuhan harus dicintai, dirawat, dipelihara, dilindungi, dididik secara Katolik. Ini semua merupakan tugas kewajiban suami-isteri yang secara kodrati muncul dari hakikat perkawinan. Dalam perkawinan Katolik, kemandulan, baik salah satu maupun kedua pasangan, tidak membatalkan perkawinan dan tidak dapat menjadi alasan untuk meninggalkan pasangan, dan kemudian mencari pasangan lain sebagai penggantinya. Anak adalah buah kasih dan rahmat Allah semata. Lalu, bagaimana dengan pasangan suami-isteri yang belum dikarunia anak? Pasutri yang tidak mempunyai anak, tidak berarti kehilangan nilai hidup. Kemandulan fisik belum tentu menjadikan orang mandul secara rohani. Pasutri yang mandul secara fisik diharapkan mampu membuka peluang bagi pelayanan lain yang sungguh penting bagi kehidupan manusia. Banyak anak terlantar yang membutuhkan perhatian dan kasih orangtua. Pasutri yang mandul dapat memberikan perhatian dengan mengangkat anak-anak tersebut atau memberikan perhatian pada pendidikan mereka. Panggilan menjadi orangtua tidak berarti harus mengasuh dan merawat anak kandung. Karena cinta suami-isteri sebagai orangtua, harus diartikan sebagai panggilan untuk memberikan perhatian pada cinta Allah sendiri. Orangtua yang mampu merawat anak dengan baik, meski bukan anak kandung sendiri, lebih mulia dan berharga di mata Allah, daripada orangtua yang membiarkan anak-anak mereka terlantar dan kekurangan kasih sayang. Pasangan suami-isteri diharapkan mampu menerima, mencintai, menghargai serta memberikan perhatian pada anak-anak yang lahir di dunia ini; perhatian dalam bidang jasmani, emosional, pendidikan dan kerohanian anak. Semua itu menjadi ciri khas keluarga Kristiani. Sehingga anak-anak yang dihasilkan oleh keluarga Kristiani akan menjadi anak-anak yang bertumbuh dalam kasih, kebaikan dan kebenaran. Dengan demikian, keluarga Kristiani akan memberikan sumbangan berharga bagi kemajuan, kerukunan dan perdamaian dunia.
 Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pisah Ranjang
Seorang teman mengeluh karena diperlakukan kasar oleh suaminya. Dia merasa seakan-akan hanya berfungsi untuk melahirkan dan mengasuh anak saja. Suami gampang marah, sering memukul, menampar, dsb. Dalam masalah hubungan seksual, suami sering kasar dan memaksa. Rasanya isteri tidak sanggup lagi melanjutkan perkawinannya. Namun dia tidak berdaya dan tak sanggup melawan, khawatir keadaan akan semakin runyam. Sepertinya dia sudah pasrah, dan itu seakan sudah menjadi nasib yang harus dia tanggung. Benarkah kalau saya menganjurkan agar mereka berpisah sementara waktu, agar mereka bisa saling mawas diri? Apakah pisah ranjang dibenarkan oleh Gereja?
~ Lily
Kekerasan dalam rumah tangga merupakan realitas yang dapat mengancam siapa saja, khususnya mereka yang berada dalam posisi lemah. Segala bentuk kekerasan, khususnya kekerasan seksual, sungguh destruktif baik secara fisik maupun spiritual. Kekerasan seperti itu mengancam rasa hormat terhadap diri sendiri serta kepercayaan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kekerasan macam itu juga dapat menimbulkan perasaan ketidakberdayaan, putus harapan, rasa hina, tak berharga, serta kecenderungan menyalahkan diri sendiri. Kekerasan macam itu, khususnya bila dilakukan terhadap kaum perempuan dan anak-anak, akan melumpuhkan budi dan rasa perasaan mereka serta menghancurkan kemampuan mereka untuk bertindak dan merencanakan masa depan kehidupan mereka.
Hidup perkawinan dan hubungan seksual suami-istri bukan hanya mempunyai makna demi melanjutkan keturunan. Konsili Vatikan II dalam dokumen”Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini”, Gaudium et Spes (GS) memandang hidup berkeluarga dengan segala aspeknya secara positif. Relasi suami-istri merupakan persekutuan hidup dan cinta yang mereka pilih secara bebas dan merupakan pemberian diri secara timbal balik demi kesejahteraan mereka maupun anak-anak mereka. Oleh karenanya, relasi ini menuntut kesetiaan dan tidak dapat dipisahkan begitu saja (GS 48). Kendati terbuka bagi kelahiran anak-anak, namun hubungan seksual antara suami-istri bukan semata-mata untuk tujuan itu, melainkan untuk mengungkapkan dan memupuk cinta mereka serta saling memberikan diri secara total (GS49). Sejalan dengan hal ini Konferensi Waligereja Asia (FABC) dalam sidang paripurnanya yang keempat tahun 1986, menandaskan bahwa hidup berkeluarga sangatlah penting, sebab di dalam keluarga, cintakasih, perdamaian, kebenaran, kebebasan, perhatian terhadap kaum miskin papa, iman kepada Allah, harapan akan kebaikan dan kuasa Allah yang membebaskan, rasa tanggung-jawab dan pengurbanan, serta nilai-nilai Injili lainnya dipelajari baik lewat ajaran maupun keteladanan (art. 3.4.9).
Memang sangat dimungkinkan pisah sementara agar mereka berefleksi. Kitab Hukum Kanonik (KHK), sebagai upaya `menerjemahkan' ajaran Konsili Vatikan II ke dalam bahasa hukum, menandaskan bahwa dalam hidup keluarga, “Jika salah satu pihak menyebabkan bahaya besar bagi jiwa atau badan dari pihak lainnya atau anaknya, atau membuat hidup bersama terlalu berat / sulit, ia memberi alasan yang legitim kepada pihak lainnya untuk meninggalkan dia (berpisah) entah dengan keputusan Uskup wilayahnya atau atas kewenangannya sendiri bila penundaan membuatnya berbahaya” (kan. 1153 § I). Baiklah kalau ibu juga membantu mereka untuk mewujudkan lingkungan rumah tangga yang baik, di mana setiap bentuk kehidupan dihargai, dilindungi dan dikembangkan dengan penuh cinta sehingga setiap anggota keluarga benar-benar mengalami kesejahteraan secara menyeluruh. Semoga keluarga teman ibu, sungguh dihantar kepada kebahagiaan dan kesejahteraan hidup berkeluarga. Tuhan memberkati.
 Cerai Sipil
Seorang teman saya isterinya terpikat dengan pria idaman lain. Teman saya tetap berusaha setia memperjuangkan keutuhan rumah tangga dan menghayati kehidupan perkawinan Katolik yang monogam dan tak terceraikan. Namun keadaan semakin parah dan nyaris mustahil dipulihkan; si isteri bersikeras menuntut cerai. Mohon pendapat.
~ Jemirin
Kita tahu bahwa cinta kasih merupakan dasar bagi suami-istri dalam hidup perkawinan, namun cinta kasih itu seringkali dilunturkan oleh sikap egoisme dan cinta bebas salah satu atau bahkan kedua-duanya. Menurut Paus Yohanes Paulus II agar cinta kasih suami-istri itu tidak luntur melainkan langgeng, mereka harus menopangnya dengan dinamisme batin yang tak kunjung padam, semakin mendalam dan kuat. “Cinta kasih suami-istri dan sebagai perluasannya, cinta kasih antar anggota keluarga, diberi hidup dan topangan oleh dinamisme batin yang tak kunjung padam, yang membuat keluarga menjadi persatuan yang semakin mendalam dan semakin kuat, yang merupakan dasar dan jiwa persekutuan perkawinan dalam keluarga” (Familiaris Cobsortio, #18). Demikian pula dalam Surat kepada Keluarga-keluarga, Paus Yohanes Paulus II menegaskan kembali hal yang sama: “Kasih dari suami-istri dan orangtua mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka-luka semacam ini (lunturnya rasa cinta). Kemampuan tadi tergantung dari rahmat pengampunan dan rekonsiliasi ilahi yang selalu menjamin energi rohani untuk memulai lagi sesuatu”.
Sikap egoisme adalah bahaya utama dalam peradaban kasih. Egoisme mengandaikan suatu penggunaan kebebasan, di mana subyek melakukan apa yang dikehendakinya, di mana ia sendirilah yang “menetapkan kebenaran” terhadap apapun yang dianggapnya berguna dan menyenangkan. Dia tidak membiarkan kenyataan bahwa seseorang lain “menginginkan” atau menuntut sesuatu darinya. Rupanya istri teman anda tersebut juga mengalami kekeringan hidup, karena kerinduannya tak terpenuhi. Sesungguhnya dia merindukan Allah, yang hanya mungkin ditemukan dalam hati yang terbuka dan penuh persahabatan. Dalam kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria (Yoh 4:5-42), ditampilkan kisah yang sederhana namun perjumpaan itu sungguh memperkaya pengalaman batin. Keadaan hidup pribadi si perempuan Samaria itu, yang tidak ideal (yang telah kawin cerai dan yang sekarang ada bersama dia bukanlah suaminya), bukan halangan untuk bertemu dengan Dia yang sedang berjalan lewat Samaria dan menerima kekayaan batin dari-Nya. Juga tidak menjadi halangan bagi perempuan itu untuk mengajak orang-orang sekotanya berbagi kekayaan rohani yang baru ini. Yesus bukan tokoh yang mengadili. Ia datang untuk memperkaya kehidupan batin sehingga orang mengenal Tuhan sebagai Bapa. Tentu kita semua berharap sambil berdoa, teman Anda tetap mengembangkan hati yang penuh persabahatan, sebagaimana diteladankan Yesus, tidaklah mustahil bahwa Tuhan akan mengubah si isteri tersebut, sebagaimana perempuan Samaria itu telah diubah oleh Tuhan.
Bagaimana kalau seandainya kehidupan keluarga mereka tak mungkin lagi bisa dipulihkan? Memang, bila sudah tak ada jalan lain, usaha-usaha pastoral sudah mandeg, perceraian sipil tetap saja dimungkinkan. Dalam situasi seperti itu, teman Anda tetap didorong untuk menghayati iman Katoliknya dengan baik. Tetap rajin ke Gereja dan menyambut sakramen-sakramen. Bagi si isteri, tentu dengan kumpul bersama pria lain, dia terhalang untuk menerima sakramen-sakramen Gereja, kecuali sakramen tobat. Kita diajak menyadari bahwa Tuhan tetap mendatangi manusia, meskipun kekaburan mata batin kita sering membuat sosok-Nya kurang jelas dan suara-Nya terdengar lirih oleh telinga batin yang belum peka. Namun Tuhan membantu, kadang-kadang dengan menyapa kehidupan pribadi kita yang sering menjadi beban yang hanya bisa ditanggung. Baru di situ kita akan menyadari bahwa ada kekuatan dari atas yang mendekati dan memerdekakan. Kiranya Tuhan yang mahakasih memberkati Anda semua.
 Istri Minder Karena Wajah Mulai Keriput
Kami melewatkan 29 tahun masa pernikahan dalam kebahagiaan. Kini saya berumur 57 tahun dan istri 54 tahun. Pada wajah istri mulai tampak keriput dan karenanya ia merasa saya tak lagi bergairah kepadanya. Mohon saran agar istri tidak merasa minder.
~ Handoko
Garis-garis ketuaan muncul, bukan hanya sebagai pertanda pertambahan usia, tetapi juga menunjukkan kedewasaan karakter. Kalau Anda berumur 55 tahun dan tidak mempunyai satu garis keriput pun, itu artinya selama ini Anda tidak cukup tersenyum. Ungkapan bahwa Anda bahagia perlu dimaknai sebagai undangan untuk hidup dalam kebahagiaan yang semakin mendalam. Sebagaimana tujuan Yesus datang ke dunia, “supaya kamu mempunyai hidup dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Diharapkan cinta Anda berdua semakin mendalam, semakin kuat, tidak pudar gairahnya, semakin menemukan keindahan-keindahan pasangan. Doronglah isteri untuk bertumbuh dalam cinta yang dewasa, bukan cinta yang hanya pada takaran gairah manusiawi saja. Cinta yang dewasa tentu lebih membahagiakan. Saya anjurkan Anda berdua meluangkan waktu merenungkan Sabda Allah dari 1 Korintus 13. Cinta yang dewasa selalu sabar terhadap ketidaksempurnaan pasangan, murah hati, bertumbuh dalam kejujuran dan integritas. Cinta yang dewasa itu mempercayai, saya percaya akan yang terbaik pada diri pasangan. Cinta yang dewasa itu penuh harapan, mengharapkan yang terbaik dari atau bagi pasangan. Cinta yang dewasa itu tetap bertahan meski harus melewati masa sulit. Kasih tidak bekesudahan. Saya selalu ada untuk mendukung pasangan saya. Rasakan cinta kasih Allah bagi Anda berdua dan tanggapi ajakan Allah agar Anda berdua bertumbuh dalam cinta yang dewasa. Suami istri manapun dapat dengan gembira menatap pasangan hidupnya yang sudah duapuluh lima tahun, tigapuluh tahun, empatpuluh tahun atau bahkan limapuluh tahun dan enampuluh tahun, hidup bersama dalam perkawinan dengan tulus berkata, “Aku bahagia kita dapat beranjak ke usia senja bersama-sama.” Semoga kebersamaan Anda berdua menghantar Anda berdua kepada kebahagiaan dan kelimpahan dalam hidup perkawinan.
 Bagaimana Mengarahkan dan Mendidik Anak?
Kami menikah 11 tahun yang lalu dan menikmati hidup tenang dan bahagia dengan dua orang anak: perempuan 9 tahun dan laki-laki 7 tahun, keduanya kami sekolahkan di sekolah Katolik. Namun, kami khawatir soal masa depan mereka, mengingat pengaruh teman begitu kuat. Mohon nasehat bagaimana mengarahkan dan mendidik anak-anak.
~ Yessy
Memang, mendidik anak di zaman sekarang ini tidak mudah. Beberapa nasehat: Pertama, membina rasa saling menghargai. St Paulus menasehati kita, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10). Prinsip ini akan sangat baik kalau juga diterapkan dalam membangun relasi antara orangtua dan anak. Anak juga perlu dihargai, agar kelak mereka juga dapat menghargai orangtua. Dengarkanlah anak ketika mereka sedang berbicara. Ketika anak datang saat anda sedang sibuk mengerjakan sesuatu, cobalah menanggapinya sebentar. Tanggapan anda akan membuat anak puas dan dengan demikian ia akan merasa berharga dan diterima. Dengan demikian, kelak ia akan menjadi orang dewasa dengan gambaran diri yang sehat. Sebaliknya, jika anak merasa tidak dihargai dan tidak diterima, kelak mereka akan menjadi orang yang rendah diri, pemalu, susah bergaul, karena ia merasa dirinya tidak berharga. Betapa pun sibuknya anda, usahakan untuk memberikan kesempatan dan mendengarkan mereka. Hargai dan beri perhatian yang tulus, baru setelah itu beri pengertian pelan-pelan agar anda bisa melanjutkan kesibukan anda. Kesempatan tidaklah selamanya ada, gunakan kesempatan yang ada untuk membangun kepribadian mereka. Kedua, berikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengambil keputusan. Ajari mereka mempertimbangkan mana yang harus diutamakan. Ajari mereka menyusun prioritas. Janganah terus diindoktrinasi, “harus begini, harus begitu.” Dengan ini anak akan lebih mandiri dan semakin mampu melihat dan mengembangkan nilai-nilai yang lebih tinggi. Ketiga, berlakulah bijak dalam membangun pribadi anak. Banyak orangtua justru tanpa sadar “menghancurkan” pribadi anak secara perlahan-lahan. Sering juga orangtua memberikan ancaman-ancaman yang justru menyebabkan anak menjadi takut dan justru banyak melakukan kesalahan. Sebaliknya, bila orangtua mengatasi masalahnya dengan kasih dan kesabaran sambil membangun kepercayaan diri anak, ia akan dapat mengatasi masalahnya. Semoga anda berdua membimbing putera dan puteri anda debgan kesabaran dan kasih, sehingga mereka menemukan kehadiran Allah yang membimbing dalam diri anda berdua.
 Bagaimana Mengatasi Anak-anak yang Sulit Diatur?
Kami sudah 12 tahun menikah dan dikaruniai 3 orang anak. Secara ekonomi, kami berkecukupan. Penghasilan suami boleh dibilang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di samping itu, saya juga bekerja dengan penghasilan yang cukup pula. Yang menjadi persoalan ialah, anak-anak menjadi nakal, suka membantah dan semaunya sendiri. Pernah ada yang menyarankan supaya saya berhenti bekerja dan tinggal di rumah agar bisa memperhatikan mereka. Namun, rasanya amat sayang meninggalkan karier yang sudah saya perjuangkan selama ini. Saya akui bahwa kami jarang ke gereja dan berdoa bersama. Suami rasanya tak peduli dan seringkali malas ke gereja, begitu pula anak-anak. Saya mendambakan sebuah keluarga yang penuh damai dan anak-anak yang baik. Saya tetap mengusahakan untuk berdoa dan mohon Tuhan memberkati keluarga kami. Namun sering saya merasa bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa-doa saya. Mohon nasihat.
~ Rosa
Saya bisa memahami kerinduan ibu untuk membangun hidup berkeluarga yang penuh damai dan sukacita. Beberapa nasihat ini semoga dapat membantu. Pertama, anak-anak perlu mengalami cinta yang lebih besar. Mencintai anak, tentu saja bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan mereka dalam bidang materiil. Anak membutuhkan perhatian dan kasih yang lebih besar agar mereka dapat bertumbuh secara integral. Keluarga adalah “sekolah cinta, sekolah keutamaan”; keluarga adalah Gereja kecil. Melalui keluarga, anak-anak mulai mengenal budaya doa, cinta, kasih, kurban, pelayanain dan kepedulian. Orangtua adalah guru pertama yang dipilih dan dipercaya oleh Tuhan untuk mengajarkannya kepada ciptaan-ciptaan mungil-Nya. Dari orangtualah anak-anak mengenal Tuhan, mengalami kasih dan damai. Dan pada gilirannya, mereka pun akan menjadi pembawa damai, kasih, kurban dan kepedulian. Yesus ingin agar anak-anak mengalami semuanya itu secara melimpah sejak dari awal hidupnya, agar mereka juga bisa membagikannya secara cuma-cuma pada banyak orang lain yang memang jauh lebih parah nasib hidupnya. Inilah harapan kita. Ada tugas baru, tetapi ada rahmat baru. “Rahmat-Ku selalu cukup bagimu,” begitu pesan St. Paulus. Semoga kita tidak menyia-nyiakan rahmat Tuhan!
Kedua, mengembangkan suasana doa. Doa keluarga memiliki ciri khasnya sendiri. Doa itu dipanjatkan bersama: suami dan istri bersama-sama, orang tua dan anak-anak bersama-sama. Persekutuan dalam doa sekaligus merupakan konsekwensi dan persyaratan persekutuan, yang dikaruniakan melalui Sakramen Baptis dan Sakramen Perkawinan. Dalam doa, kita tidak mendikte Tuhan untuk memenuhi keinginan kita. Dalam doa kita ingin semakin mengalami persatuan dengan Dia. Semakin kita bersatu dengan Tuhan melalui doa, semakin suburlah kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Memang benar, segala tantangan, kepedihan dan kesengsaraan hidup tidak akan berubah, tetapi karena hati kita berubah, bertumbuh dan dipenuhi cinta, semuanya itu tidak akan menyengsarakan dan menghancurkan hidup kita. Melalui penyatuan diri dengan Tuhan dalam doa, kita akan menemukan kedamaian di tengah-tengah perjuangan hidup yang mungkin pada awalnya memukul kita. Kita bisa belajar dari Keluarga Kudus di Nazaret. Keluarga Kudus menjadi pola-teladan bagi semua keluarga Kristiani. Keluarga Kudus itu unik: berlangsung dalam anonimitas dan keheningan di Nazaret, mengalami cobaan-cobaan kemiskinan, penganiayaan dan pembuangan. Keluarga Kudus memuliakan Allah dengan cara yang luhur dan murni tiada bandingnya, sehati sejiwa. Semoga Bunda Maria membimbing keluarga ibu. Serahkanlah kehidupan keluarga ibu pada tangan kasih Bunda Maria, dia yang telah membimbing Yesus, Sang Putra, dengan kasih dan keibuannya, dia juga akan membimbing kita anak-anaknya.
 Sejauh Mana Peran Gereja Dalam Pembinaan Hidup Berkeluarga?
Sebagaimana kita pahami, perkawinan dan keluarga adalah panggilan dari Allah. Seturut rencana Allah, keluarga ditetapkan sebagai persekutuan yang mesra, persekutuan hidup dan cintakasih. Melalui keluarga, Tuhan ingin membangun persekutuan pribadi-pribadi yang mengabdi pada kehidupan dan berperan dalam pengembangan masyarakat serta aktif dalam misi Gereja. Namun, kenyataannya banyak keluarga yang tidak mampu mengemban misi tersebut. Banyak keluarga kandas di tengah jalan. Sejauh manakah usaha Gereja untuk membantu pengembangan hidup berkeluarga?
~ Marietta
Para gembala umat terikat kewajiban untuk mengusahakan agar komunitas gerejawi masing-masing mendampingi kaum beriman Kristiani, supaya status perkawinan dibina dalam semangat Kristiani dan berkembang dalam kesempurnaan. Tujuannya tentu saja menyangkut sasaran yang ingin dicapai, dan tidak hanya berpuas dengan status quo terbinanya perkawinan dan keluarga, melainkan terutama dengan upaya promotif mengembangkan hidup perkawinan dan keluarga agar menjadi makin sempurna. Ada aneka faktor penghambat dalam masyarakat majemuk (adanya banyak pandangan, mentalitas, sikap dan perilaku yang kurang sesuai dengan semangat Kristiani). Diperlukan bukan hanya pengetahuan, melainkan juga perjuangan untuk mempertahankan, apalagi memancarkan nilai-nilai dan semangat Kristiani dan keluarga Katolik.
Hidup perkawinan dan keluarga digambarkan sebagai perjalanan bersama, yang diwarnai kemungkinan maju mulus dan lurus. Tujuannya bukan hanya pertahanan, melainkan juga perkembangan. Komunitas Kristiani, yakni komunitas gerejawi, terutama paroki (FC 70), keluarga (FC 71), perhimpunan keluarga-keluarga untuk keluarga (FC 72), sebagai subyek pendampingan pastoral perkawinan juga mempunyai aspek publik, dan dengan demikian juga mengurangi pastor-sentrisme. Para gembala berkewajiban menggerakkan umat yang mengalami sendiri kehidupan menikah dan berkeluarga. Lewat apa? Beberapa hal bisa disebut:
Pertama, dengan khotbah, ketekese yang disesuaikan bagi anak-anak, kaum muda dan dewasa, bahkan dengan mendayagunakan sarana-sarana komunikasi sosial, agar dengan itu kaum beriman Kristiani mendapat pengajaran mengenai makna perkawinan Kristiani dan tanggung jawab suami istri serta orang tua Kristiani. Kelompok sasaran, mencakup semua kelompok potensial, bisa menjadi sasaran pewartaan tentang perkawinan dan keluarga.
Kedua, dengan persiapan pribadi untuk menikah, supaya para mempelai dipersiapkan untuk kesucian dan tugas-tugas status mereka yang baru. Pewartaan tak boleh berhenti pada usaha mendengarkan apa yang diwartakan, melainkan menuntut tanggapan yang mengandaikan pengolahan pribadi lebih khusus. Meskipun banyak pihak melibatkan diri dalam perkawinan serta persiapannya, kuncinya tetap terletak pada mempelai yang bersangkutan sendiri untuk mendayagunakan aneka peluang guna persiapan yang lebih pribadi dan intensif.
Ketiga, dengan perayaan liturgi perkawinan yang subur yang menjelaskan hal bahwa suami istri mempertandakan dan berpartisipasi dalam misteri kesatuan dan kasih subur antara Kristus dan Gereja.
Keempat, dengan bantuan yang diberikan kepada suami-istri, agar mereka sendiri dengan memelihara serta melindungi perjanjian perkawinan dengan setia, sampai pada penghayatan hidup dalam keluarga yang makin hari makin suci dan makin berlimpah.
Harus diakui bahwa perhatian Gereja bagi persiapan perkawinan cukup besar, sedangkan perhatian bagi suami-istri setelah pernikahan, yakni masa ujian berat keseharian hidup perkawinan dan keluarga, lebih merupakan wacana, daripada usaha konkrit nyata. Dalam kan. 1063 no. 4 jelas-jelas dicanangkan dinamika pengembangan hidup perkawinan dan keluarga yang makin hari makin suci dan makin melimpah, bdk Yoh 10:10 yang menyatakan hidup yang berlimpah-limpah sebagai tujuan kedatangan Kristus. Memang tidak dinyatakan upaya apa, melainkan hanya perlu bantuan. Dengan demikian kita ditantang untuk menawarkan aneka upaya dan bantuan demi tercapainya tujuan itu.
Pihak-pihak itu misalnya:
Komisi Keluarga, yang menawarkan aneka program pengembangan hidup perkawinan dan keluarga.
Seksi Keluarga paroki yang menghadirkan fungsi Komisi Keluarga di setiap paroki.
Tim khusus yang memperhatikan dan membantu suami-istri atau orangtua.
Gerakan, kelompok, organisasi Katolik yang memperhatiakan masalah-masalah perkawinan dan keluarga.
Sekolah atau asrama Katolik yang membina kerjasana dengan keluarga.
Orang perorangan (pakar, petugas pastoral, dll) yang memperhatikan sekurang-kurangnya aspek tertentu hidup perkawinan dan keluarga.
Instansi non-Katolik yang dapat dihubungi dalam soal-soal tertentu, misalnya soal penyalahgunaan zat adiktif.
Semoga penjelasan singkat ini dapat berguna. Kita semua berharap makin banyak orang mau melibatkan diri dalam pendampingan keluarga, sehingga semakin banyak keluarga menemukan kehidupan yang melimpah.
|