232. PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA YANG HILANG     

cicada
hemlock
clover
chicory
burung bulbul
12 Agustus 1944

Yesus sedang berbicara kepada orang banyak. Dengan berdiri di atas tanggul kayu di sebuah sungai kecil, Ia berbicara kepada suatu himpunan besar orang yang tersebar di sebuah ladang di mana gandumnya sudah disabit dan tunggul-tunggulnya yang dibakar merupakan pemandangan yang menyedihkan. Senja hari. Malam menjelang, tetapi bulan sudah terbit. Kawanan-kawanan domba tengah kembali ke kandang-kandang dan suara lonceng-lonceng ternak berbaur dengan kerik nyaring jangkrik dan dengung bernada tinggi dari cicada [= Cicadidae]. Yesus mengambil kawanan-kawanan ternak yang sedang lewat itu sebagai titik awal khotbah.

Ia berkata: "Bapa Surgawi-mu adalah seperti seorang gembala yang penuh perhatian. Apakah yang dilakukan seorang gembala yang baik? Dia mencari padang-padang rumput yang baik bagi domba-dombanya, di mana tidak ada hemlock [= jenis cemara beracun] atau tanam-tanaman beracun lainnya, melainkan ada banyak clover yang manis, chicory [= Chicorium intybus] yang beraroma mint dan pahit namun menyehatkan. Dia mencari tempat-tempat di mana di samping rumput yang baik ada naungan pepohonan yang teduh dan air sungai yang jernih dan dia memastikan bahwa tidak ada asp [= ular-ular kecil beracun] di antara rerumputan hijau. Dia tidak memilih padang-padang rumput yang paling rimbun, sebab dia tahu bahwa ular-ular dan tanam-tanaman beracun biasa tumbuh di sana dan dengan demikian membahayakan domba-dombanya. Sebaliknya dia memilih padang-padang rumput di pegunungan, di mana embun membuat rerumputan tetap bersih dan segar, dan berkas matahari yang panas menjauhkan ular-ular, dan udaranya yang sepoi-sepoi lembut dan menyehatkan, tidak seperti udara tidak sehat di dataran-dataran. Sang gembala yang baik mengamati domba-dombanya satu per satu. Dia menyembuhkan mereka apabila mereka sakit, dan apabila mereka terluka dia membalut luka-lukanya. Dia menghardik domba-domba yang bisa sakit sebab mereka terlalu rakus akan makanan dan dia membawa ke suatu tempat lain domba-domba yang bisa celaka akibat tinggal terlalu lama di suatu tempat yang lembab atau di bawah terik matahari. Dan apabila seekor domba tidak mau makan, dia mencari tumbuh-tumbuhan beraroma asam yang cocok guna membangkitkan selera makan si domba dan dia menyuapinya dengan tangannya sendiri, seraya berbicara kepadanya seakan dombanya itu adalah seorang sahabat. Itulah apa yang dilakukan Bapa Yang baik Yang di Surga untuk anak-anak-Nya yang mengembara di dunia. Kasih-Nya adalah tongkat yang menghimpun mereka bersama, suara-Nya adalah pedoman mereka, Hukum-Nya adalah padang rumput-Nya, Surga adalah kandang-Nya.    

Tetapi seekor dari domba-dombanya pergi meninggalkan-Nya. Betapa dia sangat menyayangi dombanya itu! Domba yang belia, murni, putih, bagai gumpalan awan di langit pada bulan April. Sang gembala biasa memandanginya dengan penuh kasih, dengan memikirkan betapa banyak kebaikan yang dapat dia lakukan untuk dombanya itu dan betapa banyak kasih yang dapat diterimanya dari dombanya itu. Dan dombanya itu sekarang tersesat. Seorang penggoda lewat di jalan yang terbentang sepanjang padang rumput. Dia tidak mengenakan jubah biasa, melainkan jubah warna-warni. Dia tidak punya ikat pinggang kulit dengan kapak dan pisau yang tergantung padanya, melainkan dia mengenakan ikat pinggang emas, darimana tergantung lonceng-lonceng kecil, yang suaranya semerdu nyanyian burung bulbul, dan botol-botol kecil dengan harum-haruman yang memabukkan… Dia tidak membawa tongkat gembala seperti sang gembala yang baik, untuk menghimpun domba-domba bersama dan membela mereka; dan andai tongkatnya tidak mencukupi, dia siap membela mereka dengan kapak dan pisaunya dan bahkan dengan nyawanya sendiri. Tetapi si penggoda yang lewat itu, membawa dalam tangannya sebuah turibulum yang gemerlap dengan permata dan darinya membubung asap, yang berbau busuk dan sekaligus harum, dan itu mencengangkan sementara gemerlap dari permata-permata palsu tampak mempesona. Dia lewat sambil menyanyi dan menebarkan segenggam garam, yang berkilau di jalanan gelap… Sembilanpuluh sembilan ekor domba melihatnya dan tetap tinggal di mana mereka berada. Domba yang keseratus, yang termuda dan yang terkasih, melompat dan menghilang di belakang si penggoda. Sang gembala memanggilnya. Tetapi domba itu tidak kembali, melainkan berlari lebih kencang dari angin demi menggabungkan diri dengan si penggoda yang baru saja lewat, dan guna menopang dirinya sementara berlari dia mencicipi sedikit garam, yang begitu ditelan, mengakibatkan rasa terbakar hebat yang aneh hingga domba malang itu amat merindukan air sejuk di tempat-tempat teduh nan asri di kedalaman hutan-hutan. Dan dengan mengikuti si penggoda si domba masuk ke dalam hutan-hutan, dan dia mendaki dan menuruni medan dan terjatuh… satu kali, dua kali, tiga kali. Dan setiap kali, dia merasakan pada sekeliling lehernya lilitan berlendir dari reptil-reptil, dan sebab kehausan dia minum air yang kotor dan ketika lapar dia menyantap tumbuh-tumbuhan yang berkilau dengan liur yang menjijikkan.

Dan sementara itu apakah yang dilakukan sang gembala yang baik? Dia meninggalkan kesembilanpuluh sembilan dombanya yang setia di suatu tempat yang aman dan dia berangkat dan tidak berhenti hingga dia menemukan jejak-jejak dari si domba yang hilang. Sebab si domba tidak kembali kepadanya, meski dia memanggilnya dengan suara lantang dengan memohon pada angin untuk menyampaikan seruannya, sang gembala menyusul si domba. Dan dia melihatnya dari kejauhan, dombanya itu mabuk dalam lilitan-lilitan reptil, begitu mabuk hingga tidak merasa rindu kepada laki-laki yang mengasihinya, sebaliknya malahan menghinanya. Dan sang gembala tahu bahwa si domba bersalah sudah memasuki, bagai seorang perampok, kediaman bangsa lain, begitu bersalah hingga tidak berani melihat pada sang gembala… Dan kendati demikian sang gembala yang baik tidak kenal lelah… dan dia terus mencari dombanya itu sepanjang waktu dengan mengikuti jejak-jejaknya dan dia meratap apabila dia kehilangan jejak-jejak itu: carikan-carikan bulu; jejak-jejak jiwanya; jejak-jejak darah; berbagai kejahatan; kekotoran; bukti-bukti dari berahinya; dia terus mencari dan akhirnya mendapatkannya. Ah! Aku menemukanmu, kekasihku. Aku mendapatkanmu, akhirnya! Betapa jauh aku sudah berjalan demi kau, demi membawamu kembali ke kandang. Jangan menundukkan kepalamu yang patah hati. Dosamu sudah dikuburkan dalam hatiku. Tidak ada seorang pun yang akan mengetahuinya, terkecuali aku, dan aku mengasihimu. Aku akan membelamu dari kritikan yang lainnya, aku akan membentengimu dengan tubuhku demi melindungimu dari batu-batu para pendakwa. Marilah. Apa kau terluka? Oh! biarkan aku memeriksa luka-lukamu. Aku tahu luka-lukamu. Tapi aku ingin kau menunjukkan luka-lukamu itu kepadaku dengan keyakinan seperti yang kau miliki sebelumnya ketika kau masih murni, dan kau menatap padaku, gembalamu dan Allah-mu, dengan mata yang tak berdosa. Itu luka-lukamu. Semuanya punya nama yang sama.

Betapa dalam luka-lukamu! Siapakah yang menghujamkan luka-luka yang sangat dalam ini ke kedalaman hatimu? Si Penggoda, aku tahu. Adalah dia yang tidak memiliki baik tongkat maupun kapak, tetapi dia menyerang dengan terlebih hebat dengan gigitan beracunnya, dan sesudah dia, permata-permata palsu dari turibulumnya merajammu: itu yang membujuk-rayumu dengan gemerlapnya… dan permata-permata palsu itu adalah sulfur neraka yang dibawa ke siang bolong untuk membakar hatimu. Lihat, betapa banyak luka-lukanya! Betapa banyak bulu yang tercabik-cabik, betapa banyak darah, betapa banyak duri.

O jiwa kecilku yang malang! Tapi katakan padaku: jika aku mengampunimu, maukah kau masih mengasihiku? Katakan padaku: jika aku merentangkan kedua tanganku padamu, maukah kau datang menyambutnya? Katakan padaku: apa kau haus akan kasih yang suci? Baik: kemarilah dan lahirlah kembali. Kembalilah ke padang-padang rumput suci. Merataplah. Airmatamu dan airmataku akan membasuh jejak-jejak dosamu dan guna memberimu makan, sebab kau kehabisan tenaga karena si jahat yang telah membakarmu, aku membuka dadaku dan urat-urat darahku dan aku katakan padamu: 'Makanlah itu, dan hiduplah!' Kemarilah supaya aku dapat memelukmu. Kita akan berjalan lebih cepat ke padang-padang rumput suci yang aman. Kau akan melupakan semuanya dari saat yang menyengsarakan ini. Dan kesembilanpuluh sembilan saudaramu akan bersukacita atas kepulanganmu, sebab aku katakan padamu, domba kecilku yang hilang, yang telah aku cari dengan datang dari jauh, dan aku dapatkan dan selamatkan, aku katakan padamu, ada lebih banyak sukacita di antara yang baik, bagi dia yang tadinya hilang dan sekarang sudah ditemukan, daripada sembilanpuluh sembilan yang benar yang tidak pernah meninggalkan kawanan."

Yesus tidak pernah berbalik untuk melihat jalanan yang di belakang-Nya dan yang di mana Maria dari Magdala telah datang dalam temaram terang senja. Dia sangat anggun, tetapi setidaknya dia berbusana sopan, dan dia mengenakan sehelai kerudung gelap, yang menyamarkan perawakan dan figur tubuhnya. Tetapi ketika Yesus melanjutkan khotbah-Nya dari perkataan: "Aku menemukanmu, kekasihku," Maria menyembunyikan kedua tangannya di balik kerudungnya dan menangis, lembut dan terus-menerus.

Oang tidak dapat melihatnya, sebab dia berada di sisi sini dari tanggul, yang terbentang sepanjang jalanan. Hanya bulan, yang sekarang tinggi di langit, dan roh Yesus yang dapat melihatnya…

Dan Ia berkata padaku: "Komentarnya ada dalam penglihatan itu sendiri. Tetapi Aku akan berbicara kepadamu lagi mengenainya. Beristirahatlah sekarang, sebab sudah waktunya. Aku memberkatimu, Maria-Ku yang setia."                           
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama