DARI SINAI KE KALVARI






Refleksi Tentang Sabda Terakhir Yesus



Kesaksian Catalina



_†_†_ †_



diterjemahkan oleh YESAYA (YESus SAyang saYA)
yesaya.indocell.net dari:

“From Sinai to Calvary”

Copyright © 2004 by "The Great Crusade of Love and Mercy". All rights reserved.

Permission is granted to reproduce this book as a whole in its entirety with no changes or additions and as long as the reproduction and distribution is done solely on a non-profit basis.



DAFTAR ISI

Sabda Pertama: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34)
Sabda Kedua: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:43)
Sabda Ketiga: "Perempuan, lihatlah, anakmu... [Nak,] Lihatlah, Bundamu." (Yoh 19:26-27)
Sabda Keempat: "Aku haus!" (Yoh 19:28)
Sabda Kelima: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat 27:46)
Sabda Keenam: "Sudah selesai." (Yoh 19:30)
Sabda Ketujuh: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." (Luk 23:46)



_†_†_ †_

Berikut adalah terjemahan bahasa Indonesia dari Imprimatur oleh Uskup José Oscar Barahona C. untuk versi asli dalam bahasa Spanyol atas buku ini:


The Episcopal Curia
2a. Av. Norte, 10
San Vicente, El Salvador, C.A.


 IMPRIMATUR


Bacaan dari buku "Dari Sinai ke Kalvari" memetakan suatu perjalanan indah untuk suatu perkembangan rohani yang sama sekali baru. Saya tidak mendapati suatu pun yang bertentangan dengan Kitab Suci, atau dengan doktrin Gereja dalam isinya.

Saya mendapati hanya konsep-konsep dan prinsip-prinsip, yang dapat membantu umat beriman memperkaya kehidupan rohaninya. Untuk alasan ini saya memberikan Imprimatur, sembari memohon pada Pencipta kita untuk berkat-berkat istimewa-Nya atas setiap pembaca.

San Vicente, El Salvador, 9 Februari 2004


[dimeterai dan ditanda-tangani]

Mons. José Oscar Barahona C.
Uskup San Vicente
El Salvador, Central America



_†_†_ †_



 PRESENTASI


Semua penulis kudus dan mistik, yang dipenuhi semangat ingin mencapai hati, pikiran dan jiwa para pembaca mereka dengan menawarkan kepada mereka makanan sejati yang memperkuat roh mereka, pertama-tama meminta pertolongan dari Allah. Mereka memohon kepada-Nya terang yang dibutuhkan dan inspirasi Ilahi-Nya agar dapat menerangi dengan terang Iman, intelek dan kehendak dari mereka yang, dengan disposisi kerendahan hati, ingin menerima pesan-pesan yang bermanfaat ini. Pesan-pesan ini telah dituliskan di bawah inspirasi Allah, dan menyingkapkan Kehendak-Nya Yang Mahakudus demi kebaikan dan kepentingan umat manusia.

Buku ini, yang ditulis oleh Catalina, memiliki karakteristik dari teks-teks yang ditulis oleh mereka yang, sebab hidup dalam keakraban dengan Allah, bagaimanapun juga tiada ragu untuk menembus ke kedalaman Ilahi, sehingga menjadi pemancar-pemancar dari inspirasi-inspirasi, yang berkenan Ia anugerahkan kepada mereka.

Injil adalah sumber darimana Iman kita lahir, dan menghantar kita pada pengetahuan yang mendalam akan Pribadi Yesus Kristus; Yang, dengan hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, telah memperolehkan penebusan bagi umat manusia.

Segala kemuliaan tak terhingga dari Allah Tritunggal yang dimanifestasikan dalam Pribadi Yesus Kristus dirangkum dalam Injil. Injil, seperti yang kita kaum percaya ketahui, adalah sumber dari mana semua ajaran-tak-dapat-salah Gereja digali. Dari Kitab Suci ini, yang adalah Sabda Allah, tulisan-tulisan tak terbilang banyaknya telah dilahirkan dengan tujuan mengembangkan Iman kita, dan memastikan bahwa hidup umat Kristiani adalah selaras dengan Kehendak Ilahi.

Allah telah membangkitkan dan memilih orang-orang tertentu untuk menjadi utusan-utusan dan saksi-saksi-Nya dari satu Kebenaran, dan Ia telah berkenan untuk mempercayakan kepada mereka sebagian dari kekayaan harta warisan Iman.

Kita sebagai umat Kristiani mengenal Injil, akan tetapi, tidak semua dari kita mengamalkannya atau memahaminya dalam kepenuhan dimensinya. Inilah sebabnya mengapa adalah perlu untuk membaca kembali Injil dalam sebuah gaya yang terukur, langkah demi langkah, guna memahaminya dengan terlebih baik dan menjadikannya aturan hidup kita. Betapa banyak kali kita sudah membaca tentang Sengsara  Kristus...! Betapa bacaan-bacaan itu sudah menjadi seperti bacaan sejarah yang biasa atau sebuah novel yang tidak memiliki dampak dalam hidup kita!

Dalam buku ini yang ditulis oleh Catalina, yang sungguh-sungguh diinspirasi oleh Tuhan, kita temukan suatu meditasi mendalam akan Sengsara Kristus, teristimewa mengenai Ketujuh Sabda itu yang disampaikan oleh Yesus yang dalam sakrat maut di Salib, guna memanggil umat manusia pada pertobatan.

Gema dari seruan Ilahi itu menyebar dengan sendirinya ke seluruh penjuru dunia, dan akan terus beresonansi melalui ruang dan waktu, bahkan meski mayoritas besar umat manusia menutup telinga mereka agar tidak mendengarnya.

Catalina, dalam memenuhi tugas sucinya sebagai "orang Kristus yang berseru-seru di kota", ingin membawa sabda suci Tuhan itu ke semua tempat, ke semua lingkungan, ke semua laki-laki dan perempuan di dunia, supaya mereka mengerti bahwa satu hal yang perlu dalam hidup adalah persahabatan dirinya dengan Allah.

Catalina telah disebut sebagai suara Yesus Kristus, dan di bawah Inspirasi-Nya, dia ingin memungkinkan kita untuk mengamalkan pengalaman Catalina sendiri akan Allah dalam hidup kita. Dia ingin memperkenalkan kita ke dalam Misteri Penebusan kita, dengan membawa kita ke saat-saat khidmad dan penuh duka dari Sengsara Yesus Kristus.

Pemandangan-pemandangan itu dan interpretasi-interpretasinya dijelaskan dalam suatu gaya pengalaman, seolah ditarik keluar dari kedalaman pribadi Catalina, agar orang-orang yang membacanya dapat benar-benar merasakan kehadiran Kristus, panggilan-Nya pada pertobatan dan kekuatan perintah-Nya yang diberikan kepada orang-orang pilihan-Nya supaya mereka menjadi jurubicara sang Penebus dunia. Dunia yang, sayangnya, begitu sekuler seperti yang ditunjukkan oleh penerbit dalam Kata Pengantar buku ini.

"Dalam mengamati dunia ini, kita menyadari bahwa dunia membutuhkan suatu sarana kendali. Dunia membutuhkan, seperti dikatakan Paus Yohanes Paulus II, suatu evangelisasi baru untuk melahirkan kemegahan kehadiran Allah dengan kekuatan yang diperbaharui. Suatu evangelisasi baru yang dapat mengarahkan dunia pada Kristus, Harapan kita dan pada Kerahiman-Nya dengan mengundang semua orang untuk melihat kembali pada Salib, sehingga kita dapat menenangkan badai yang sudah dilepaskan oleh musuh-bersama-kita ke dalam dunia, dan untuk meluruskan jalan manusia."

Setiap frase dari Ketujuh Sabda itu mendalam dalam isinya, yang menghantar saya untuk merekomendasikn agar kita membaca buku ini dengan perlahan; dengan berpikir bahwa kita berada di samping Tuhan, demi merasakan Kasih Ilahi Yesus Kristus dalam hidup kita, Yang, pada saat paling mulia dalam hidup-Nya telah mengarahkan tatapan-Nya pada kita.

Adalah mungkin bahwa sebagian orang menilai buku ini sebagai "hanya suatu tulisan saleh lainnya". Tapi tidaklah demikian. Di samping fakta bahwa teks ini tidak mengandung kesalahan dogmatis, teks ini menghantar kita ke hadirat Kristus, untuk mempersatukan kita semua dalam iman, kasih, dan harapan dari suatu hidup yang sempurna dalam Allah.


Mons. René Fernández A.
USKUP AGUNG EMERITUS COCHABAMBA



_†_†_ †_



 KATA PENGANTAR


Mereka, yang membenamkan diri dalam Misteri Sengsara Tuhan, tidak dapat menghindarkan diri dari perasaan dukacita dan berbelas-kasihan disertai keinginan untuk meringankan penderitaan atas perlakuan mengerikan yang manusia timpakan pada Juruselamat mereka.

Sebagai manusia, Yesus mengalami aniaya dan dukacita yang paling dahsyat yang dapat ditanggung manusia: kekejian, deraan, hinaan, luka-luka di sekujur tubuh-Nya... [lihat catatan di akhir Kata Pengantar]. Ia diperlakukan seolah Ia adalah seorang pembunuh, seorang musuh dari kemanusiaan.

Dengan ungkapan-ungkapan yang memberikan dampak yang kuat, para Penginjil menggambarkan keadaan di sekeliling Yesus pada saat-saat fatal itu. Hampir pasti teks-teks ini telah lewat di depan mata kita dalam banyak kesempatan, tetapi banyak kali dalam cara yang berlalu begitu saja hingga kita tidak dapat tmenembus masuk ke dalam pesan mendalam yang terkandung dalam realitas sejarah itu.

Buku ini menceritakan dan menggambarkan sebagian dari peristiwa-peristiwa yang paling relevan dari Penebusan kita. Selama dua bulan, selama beberapa jam sehari, Yesus mengundang Catalina, penulis dari halaman-halaman ini, untuk melihat secara langsung dan mengkontemplasikan saat-saat terakhir-Nya di Salib, dan, pada saat yang sama, untuk merenungkan sabda terakhir-Nya.

"Sabda terakhir" itu, yang tidak akan pernah kehilangan kuasanya, mendapat arti istimewa dalam terang peristiwa-peristiwa yang dialami manusia pada masa sekarang, yang disuramkan oleh materialisme, oleh kekerasan, oleh kehilangan arah dan dibutakan oleh kesombongan hingga tahap menganggap diri berhak untuk memanipulasi hidup, mencekiknya dan membuat keputusan-keputusan mengenai nasib sesama...

Tidak diragukan, kita hidup di dunia yang ditandai dengan budaya persaingan dan kematian, yang mempromosikan hedonisme hingga ke ungkapan-ungkapannya yang paling menyimpang. Pada saat yang sama, kita membuat hukum-hukum yang jatuh lebih jauh dan lebih jauh dari Iman dan nilai-nilai yang benar. Seolah manusia berupaya secara sistematis dan bersiteguh untuk mengeluarkan Pencipta-nya dari segala yang dia lakukan hingga ke tahap, bagi banyak orang dalam budaya sekarang, berbicara mengenai Allah merupakan sesuatu yang kuno, pikiran yang tidak diindahkan.

Sementara itu, kita orang-orang percaya menyadari kenyataan bahwa ada suatu pelemahan besar dalam praktek Iman kita, dalam kemampuan dan disposisi kita untuk berdoa, dalam komitmen kita kepada Allah. Tidak adanya alasan untuk menopang Iman menghantar kita pada kemalasan rohani, pada hilangnya semangat untuk hal-hal yang dari Tuhan, pada kebingungan dan pada jalan-jalan yang paling beragam di mana Kejahatan (Yang Jahat) memanifestasikan diri.

Dalam mengamati dunia ini, kita menyadari bahwa dunia membutuhkan suatu sarana kendali. Dunia membutuhkan, seperti dikatakan Paus Yohanes Paulus II, suatu evangelisasi baru untuk melahirkan kemegahan kehadiran Allah dengan kekuatan yang diperbaharui. Suatu evangelisasi baru yang dapat mengarahkan dunia pada Kristus, Harapan kita dan pada Kerahiman-Nya dengan mengundang semua orang untuk melihat kembali pada Salib, sehingga kita dapat menenangkan badai yang sudah dilepaskan oleh musuh-bersama-kita ke dalam dunia, dan untuk meluruskan jalan manusia.

Halaman-halaman ini merupakan suatu undangan istimewa untuk anda, saudara imam, saudara dan saudari yang dikonsekrasikan, saudara dan saudari awam, yang terlibat dalam dinamisme pemikiran manusia, sebuah panggilan bagi anda untuk menemukan kembali makna dari bekerja demi kepentingan Kristus.

Kita telah melupakan nilai dari Salib, dari penderitaan, dari penitensi. Inilah sebabnya mengapa kita tidak menanggapi, sebagaimana seharusnya, perintah yang diberikan kepada kita, yang adalah pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Kabar Gembira dari Injil.

Ketika Yesus berbicara kepada Catalina mengenai mereka yang dikonsekrasikan, Ia berkata kepadanya: "Katakan pada jiwa-jiwa yang dikonsekrasikan bahwa Salib yang mereka kenakan bukan hanya sebagai hiasan dada mereka [...] mereka harus mengekang diri mereka sendiri dengannya. Mereka harus belajar bagaimana 'membuat diri mereka sendiri nyaman' di Salib, dan bukannya melarikan diri dari Salib. [...] Mereka tidak dapat merindukan [Gunung] Tabor tanpa terlebih dahulu melewati Golgota [...] Adalah di Salib di mana cinta kasih, kerendahan hati, kemiskinan dalam roh dan kesederhanaan dipelajari..."

Tapi sebaliknya, dengan mentalitas masa sekarang, segala sesuatu yang berhubungan dengan Salib, dengan penderitaan, dengan penyangkalan, tampak kuno bagi kita. Kita lari dari semua yang menyangkut penitensi atau mati raga. Kita gagal untuk memahaminya...

Dan meski demikian, sabda Kristus dalam Injil, "Jika kamu mau mengikut Aku, pikullah salibmu dan ikutlah Aku!", tidak kehilangan kebenarannya. Jika kita sungguh mau menyelaraskan hidup kita dengan-Nya, maka kita akan melihat bahwa ada banyak jubah duniawi yang harus kita tanggalkan dan lepaskan dari diri kita.

Kristus terus menderita dalam anggota-anggota Tubuh Mistik-Nya. Ia menderita dalam diri kaum lanjut usia yang diabaikan, dalam kaum miskin, dalam mereka yang sakit, dalam mereka yang dipenjara, dalam mereka yang lapar, dalam anak-anak yatim piatu... Mungkinkah kita meringankan penderitaan ini? Menjadi sadar akan hal ini berarti mulai menyembuhkan borok-borok dan luka-luka Kristus.

Sikap pasif adalah karakteristik dari mereka yang ditaklukkan oleh musuh. Musuh-bersama-kita itu tidak mengusik mereka yang sudah berada di bawah kekuasaannya. Musuh-bersama-kita itu adalah mereka yang sama sekali menyangkal keberadaan sang musuh, yang menyangkal neraka, yang percaya diri mereka sendiri bebas dari pencobaan sebab pada tahap ini, segala sesuatu tampak normal bagi mereka. Mereka telah kehilangan kesadaran mereka akan dosa dan, dengan demikian, mereka [merasa mereka] tidak perlu mewartakan Injil. Mereka yakin bahwa panggilan mereka terletak pada, yang terbaik, mengasihi sesama seperti diri mereka sendiri tapi melupakan perlunya untuk membina hubungan pribadi dengan Allah melalui Salib.

Saatnya telah tiba untuk membuka mata kita terhadap realitas mengerikan ini yang mengikis Gereja kita. Kurangnya keyakinan, tidak adanya komitmen yang serius, kurangnya doa adalah gejala yang secara jelas menunjukkan bahwa musuh kita tidak tidur, tetapi bahwa dia bekerja tanpa henti untuk merenggut jiwa-jiwa dan untuk menjauhkan kita dari kewajiban-kewajiban kita. Buku ini adalah seruan mati-matian Yesus kepada Gereja dan kepada umat manusia, supaya kita semua dapat mengenali kebutuhan kita untuk mengamalkan suatu pertobatan yang sejati dan mendalam.

Editor


Catatan: Catalina sering menggunakan "..." dalam tulisan-tulisannya guna menunjukkan perlunya berhenti dan merefleksikan kata-kata sebelumnya. Ketika "[...]" digunakan, ini menunjukkan bahwa kata-kata itu, seperti dalam suatu kutipan, telah diabaikan.



_†_†_ †_



 PENDAHULUAN


8 Desember 2003
Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa

Tuhan kita mendesakku untuk menulis buku baru ini, yang isinya didasarkan pada semua yang diwahyukan kepadaku selama hampir dua setengah bulan.

Untuk jangka waktu yang lama aku tidak tahu bilamana atau bagaimana mulai menuliskan kesaksian ini, meski yakin bahwa itu akan menjadi suatu hari yang sangat penting bagi sejarah Keselamatan kita.

Dan ternyata tepat pada hari ini, ketika Gereja memperingati hari raya Perkandungan Tanpa Dosa dari Perempuan itu, Yang dengan "Ya"-Nya memfasilitasi kegenapan dari perbuatan paling agung dari Kerahiman Ialhi bagi umat manusia: kedatangan Penebus kita ke dunia.

Buku kecil ini berisi ajaran-ajaran baru sehubungan dengan Sabda tentang Kasih dan Kebijaksanaan, tentang Penyerahan diri pada Kehendak Bapa di tengah aniaya yang paling keji, Belas Kasihan dan Kerahiman terhadap umat manusia, tentang Keberanian dan Pemberian-diri pada manusia.

Inilah saat-saat terakhir Yesus di Salib dan, yang sekarang, dilukiskan kembali agar supaya kalian merenungkannya secara mendalam dan hidup dalam persatuan dengan Juruselamat kita pada saat-saat terakhir hidup-Nya sebagai manusia, sebelum kembali kepada Bapa dan mengutus Roh Kudus kepada kita.

Aku berdoa agar Roh Allah kiranya membimbing kita melalui halaman-halaman ini, sembari memohon pertolongan-Nya dan mengkonsekarasikan pada-Nya karyaku yang malang ini, sehingga dengan suatu cara kiranya aku dapat membantu dalam keselamatan jiwa-jiwa.

"Ketika Aku tiba di Golgota, Aku mendapati dua orang hukuman yang baru saja disalibkan," demikian dikatakan Tuhan kepadaku di awal meditasiku pada hari Jumat Pertama itu. "Mereka berteriak-teriak dan Aku berbelas-kasihan pada mereka, Aku Yang berada dalam kondisi fisik yang paling parah dibandingkan mereka..."

Aku dapat melihat ratusan orang, orang-orang yang akan disalibkan, dengan berjalan perlahan namun dalam keputus-asaan, berteriak-teriak, menghujat, mata mereka penuh dengan teror dan kebencian, dengan hasrat buta untuk membalas dendam. Mereka tidak semuanya bersama-sama. Aku tahu bahwa ini adalah penglihatan-penglihatan dari hari-hari dan saat-saat yang berbeda. Tapi mereka mengalami nasib yang sama: semuanya dijatuhi hukuman mati disalibkan dan hampir semua dari mereka mengucapkan perkataan yang sama dan melontarkan penghinaan dan ancaman-ancaman yang sama pada mereka yang menjadi algojo-algojo mereka.

Di lebih dari tiga kali kesempatan, aku melihat seorang atau beberapa orang prajurit menghampiri salah seorang dari orang hukuman ini dan mencabut sebilah pisau atau pedang, memotong lidah orang itu untuk membuatnya diam, dan sepanjang jalan menuju kematian akan menjadi bahkan terlebih mengerikan dan menyedihkan.

Di sanalah di hadapan mataku muncul penglihatan Jumat Agung. Manusia yang dijatuhi hukuman mati ini berbeda. Didera... seribu kali lebih parah dianiaya dibandingkan yang lainnya, dimahkotai dengan sebuah helm yang terbuat dari duri-duri panjang yang telah menghancurkan kulit-Nya, sekujur tubuh-Nya penuh luka hingga menembus daging-Nya, berlumuran darah dan debu, demam, gemetaran dan dengan mata yang teramat pedih akibat keringat dan luka-luka. Namun tatapan-Nya penuh kedamaian, belas-kasihan, kesedihan, dan pada saat-saat tertentu orang bahkan dapat merasakan kebahagiaan, ketika kepastian datang kembali pada-Nya bahwa penderitaan ini akan menyelamatkan umat manusia dari kematian kekal.

Yang lain melontarkan hinaan-hinaan, mereka mengutuk dan berteriak-teriak. Ia tetap diam, tak satu keluhan pun meluncur dari mulut-Nya, melainkan hanya berkat dan kata-kata pengampunan. Bertentangan dengan apa yang akan dikatakan nilai-nilai dunia kepada kita, dapat terlihat dengan jelas bahwa Ia adalah Pemenang Agung, Penakluk maut. Algojo-algojo-Nya adalah alat-alat malang yang dipergunakan iblis, Iblis yang bersama dengan Yudas adalah pecundang besar.



_†_†_ †_




Sumber: “From Sinai to Calvary”; Copyright © 2004 by The Great Crusade of Love and Mercy; Love and Mercy Publications; P.O. Box 1160, Hampstead, NC 28443 USA; www.loveandmercy.orgg

Dipersilakan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas untuk tujuan non-komersiil dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Kesaksian Yesus dan Maria                                           Halaman Utama