406. DI TANAH MILIK YUSUF DARI ARIMATEA.
"JIKA KAMU MEMPUNYAI IMAN SEBESAR BIJI SESAWI..."             


31 Maret 1946      

Di sini juga para penuai sedang bekerja keras. Bukan, lebih tepat mengatakan: para penuai sudah bekerja keras. Sesungguhnya, sabit tidak lagi diperlukan, karena sudah tidak ada satu berkas gandum pun yang tersisa. Ladang-ladang ini lebih dekat ke pantai Mediterania daripada ke rumah Nikodemus. Sebenarnya Yesus tidak pergi ke Arimatea, tetapi ke tanah milik Yusuf di dataran, dekat laut, dan ladang-ladang di sini sebelum masa panen pastilah kelihatan seperti lautan kecil berkas gandum karena sangat luasnya.

Di tengah ladang-ladang yang gundul ada sebuah rumah putih yang lebar dan rendah: sebuah rumah pedesaan, tetapi terawat baik. Keempat tempat pengirikannya sedang diisi dengan berkas-berkas gandum yang disusun dalam kelompok-kelompok, seperti yang dilakukan para tentara dengan kereta-kereta barangnya ketika mereka berhenti di perkemahan. Banyak gerobak membawa barang berharga itu dari ladang-ladang ke tempat-tempat pengirikan, di mana banyak orang membongkarnya dan menumpuknya, sementara Yusuf berpindah dari satu tempat pengirikan ke tempat pengirikan lainnya, memastikan bahwa segala sesuatunya dilakukan dengan benar.

Dari atas timbunan di sebuah gerobak, seorang petani menyampaikan, "Tuan, kita sudah selesai. Semua gandum sudah berada di tempat pengirikan. Ini adalah gerobak terakhir dari ladang terakhir."

"Bagus. Bongkar muatan gerobaknya, lepaskan lembu-lembunya dan bawa mereka ke tempat minum dan lalu ke kandang. Mereka sudah bekerja keras dan pantas beristirahat. Dan kamu semua sudah bekerja dengan baik dan pantas beristirahat. Tetapi pekerjaan terakhir akan menjadi perkerjaan yang ringan karena hati yang baik akan terhibur oleh sukacita orang-orang lain. Sekarang kita akan mengajak anak-anak Allah kemari dan kita akan memberikan kepada mereka anugerah Bapa. Abraham, pergilah dan panggil mereka," katanya kemudian kepada seorang petani tua, yang mungkin adalah petani pelayan pertama di tanah milik Yusuf. Aku pikir pastilah demikian, karena aku lihat para pelayan yang lain sangat menghormati orang tua itu, yang tidak bekerja, tetapi mengawasi dan melayani sang majikan dengan nasihatnya.

Dan laki-laki tua itu pergi... Aku bisa melihatnya melangkahkan kaki menuju sebuah bangunan besar yang sangat rendah, yang lebih mirip gudang daripada rumah, dengan dua pintu raksasa yang menjulang hingga ke talang atap. Aku pikir itu adalah semacam gudang tempat menyimpan gerobak-gerobak dan peralatan pertanian lainnya. Dia masuk dan kemudian keluar diikuti oleh orang banyak yang beraneka-ragam dan menyedihkan dari berbagai tingkat usia... dan dari berbagai tingkat kemalangan. Ada orang-orang yang kurus kering tetapi tanpa cacat jasmani, dan ada orang-orang yang lumpuh, buta, dan kudung, dan orang-orang dengan penyakit mata... Banyak janda dengan anak-anak yatim di sekeliling mereka, dan istri-istri dari orang-orang yang sakit, yang sedih, lusuh, lemah karena bangun dan mengorbankan diri demi kesembuhkan suami mereka.

Mereka melangkah maju dengan penampilan khas orang-orang miskin yang pergi ke tempat di mana mereka akan ditolong: dengan wajah tersipu-sipu, takut-takut dari orang miskin yang jujur, tetapi, meski begitu, dengan seulas senyum yang baru saja muncul di bibir mereka yang menyamarkan kesedihan yang tergurat di wajah pucat mereka oleh hari-hari sengsara, tetapi, walau demikian, dengan secercah kemenangan, yang nyaris merupakan tanggapan atas kedegilan takdir yang kejam sepanjang hari-hari penderitaan yang berkesinambungan, seolah-olah berkata, "Hari ini hari perayaan juga bagi kami, hari pesta, kegembiraan, kelegaan bagi kami!"

Anak-anak kecil terbelalak matanya di hadapan timbunan berkas-berkas gandum yang lebih tinggi dari rumah, dan seraya menunjuknya mereka berkata kepada ibu mereka, "Apa itu untuk kita? Oh! Betapa indahnya!" Orang-orang lanjut usia berbisik, "Semoga Yang Mahaskudus memberkati dia yang berbelas kasih!" Para pengemis, orang lumpuh, orang buta dan orang kudung, dan orang yang cacat penglihatannya, "Kami juga akan punya roti akhirnya, tanpa harus mengulurkan tangan meminta-minta!" Dan orang-orang sakit berkata kepada sanak mereka, "Setidaknya kami akan bisa melanjutkan pengobatan dengan mengetahui bahwa kalian tidak menderita karena kami. Obat-obatan akan bermanfaat bagi kami sekarang." Dan sanak mereka menjawab kepada si sakit, "Lihat? Sekarang kamu tidak akan lagi mengatakan bahwa kami berpuasa supaya kamu bisa mendapatkan sepotong roti. Jadi bergembiralah sekarang!..." Dan para janda kepada anak-anak yatim mereka, "Anak-anakku sayang, kita harus memuji Bapa di Surga dengan sepenuh hati, karena Dia bertindak sebagai bapamu, dan juga Yusuf yang baik yang adalah penyalur berkat-Nya. Sekarang kami tidak akan mendengarmu menangis lagi sebab kamu lapar, anak-anak malang, yang hanya punya ibumu untuk merawatmu... Ibu-ibu malang yang tidak punya kekayaan selain hatinya..." Ini adalah paduan suara dan pemandangan penuh sukacita, tetapi juga membuat airmata menggenang di pelupuk mata...

Dan ketika himpunan orang malang itu berada di hadapannya, Yusuf mulai berjalan kian kemari di antara mereka, memanggil mereka satu per satu, menanyakan berapa banyak anggota keluarga mereka, berapa lama mereka sudah menjanda, atau sakit, dan sebagainya... dan dia mencatatnya. Dan untuk setiap kasus, dia memberikan instruksi kepada para petani pelayan, "Beri sepuluh. Beri tigapuluh."

"Beri enampuluh," katanya sesudah mendengarkan seorang laki-laki tua yang nyaris buta yang datang kepadanya dengan tujuhbelas cucu, semuanya di bawah duabelas tahun, anak-anak dari seorang putra dan seorang putrinya yang sudah meninggal dunia. Putranya meninggal saat masa panen tahun sebelumnya, putrinya meninggal saat melahirkan... dan laki-laki tua itu mengatakan, "suaminya menghibur diri dengan menikah lagi sesudah satu tahun, dan dia mengirimkan kelima anaknya kepadaku dengan mengatakan bahwa dia akan membiayai mereka. Nyatanya, tidak pernah barang sepeser pun!... Sekarang istriku juga meninggal dan aku ditinggal sendirian... dengan mereka ini..."

"Berikan enampuluh kepada bapa tua ini. Dan kau, bapa, tunggulah di sini, nanti aku akan memberimu pakaian untuk anak-anak."

Pelayan itu menjelaskan bahwa jika mereka setiap kali terus memberikan enampuluh ikat berkas gandum, maka tidak akan ada cukup gandum untuk semua orang...

"Dan di manakah imanmu? Apa mungkin aku menimbun berkas-berkas gandum itu untuk diriku sendiri? Tidak. Tidak, berkas-berkas gandum itu untuk anak-anak terkasih Tuhan. Tuhan sendiri akan memastikan bahwa ada cukup untuk semua orang," jawab Yusuf kepada si pelayan.

"Ya, tuan. Tapi angka adalah angka..."

"Dan iman adalah iman. Dan untuk menunjukkan kepadamu bahwa iman bisa melakukan segalanya, aku memerintahkanmu untuk menggandakan jumlah yang diberikan kepada orang-orang pertama. Biarlah orang yang mendapatkan sepuluh mendapatkan sepuluh lagi, dan orang yang mendapatkan duapuluh mendapatkan duapuluh lagi, dan berikan kepada bapa tua itu seratus duapuluh. Pergilah! Lakukan itu!"

Para pelayan mengangkat bahu dan melaksanakan perintah itu. Dan pembagian terus berlanjut sementara para penerima bantuan yang takjub bersukacita melihat bahwa mereka menerima jumlah yang melampaui harapan yang paling optimistik sekali pun. Dan Yusuf tersenyum, membelai anak-anak kecil yang sibuk membantu ibu mereka, atau dia membantu orang-orang yang lumpuh yang sedang mengatur tumpukan kecil mereka, dia membantu orang-orang yang terlalu tua untuk melakukannya, atau membantu para perempuan yang terlalu kurus, dan dia memerintahkan agar dua orang sakit dibawa ke samping supaya mereka mendapatkan pertolongan lebih lanjut, seperti yang dia lakukan kepada bapa tua dengan tujuhbelas cucu itu.

Tumpukan-tumpukan gandum yang tadinya lebih tinggi dari rumah, sekarang sudah sangat rendah, hampir sejajar dengan permukaan tanah. Namun semua orang sudah mendapatkan bagiannya, dan bagian yang berlimpah. Yusuf bertanya, "Berapa banyak berkas gandum yang masih tersisa?"

"Seratus duabelas, Tuan," jawab para pelayan sesudah menghitung sisanya.

"Baiklah. Kau akan mengambil..." Yusuf melirik daftar nama yang sudah ditulisnya, lalu berkata, "Kau akan mengambil limapuluh dan menyisihkannya untuk benih, karena itu adalah benih suci. Dan sisanya akan diberikan satu kepada setiap kepala keluarga yang hadir di sini. Jumlahnya tepat enampuluh dua."

Para pelayan taat. Mereka membawa limapuluh ikat berkas gandum ke bawah serambi dan membagikan sisanya. Sekarang tidak ada lagi tumpukan keemasan yang menggunung di tempat pengirikan. Namun di tanah ada enampuluh dua tumpukan kecil, dari berbagai ukuran, dan pemiliknya sibuk mengikatnya dan menaikkannya ke gerobak dorong desa, atau ke keledai-keledai kerdil kecil yang mereka lepaskan talinya dari sebuah pagar di belakang rumah.

Abraham tua, yang selama itu mengobrol dengan para petani pelayan utama, menghampiri tuannya bersama mereka dan sang tuan bertanya kepadanya, "Nah? Sudahkah kau lihat? Ada cukup untuk semua orang! Dan bahkan lebih!"

"Tuan! Ada misteri di sini! Ladang kita tidak mungkin menghasilkan semua berkas gandum yang sudah Tuan bagikan. Aku lahir di sini dan usiaku tujuhpuluh delapan tahun. Aku sudah menuai enam puluhenam tahun. Dan aku tahu. Putraku benar. Tanpa misteri, kita tidak mungkin bisa memberikan sebegitu banyak!..."

"Tetapi pada kenyataannya kita sudah memberikannya, Abraham. Kau ada di sampingku. Berkas-berkas gandum itu dibagikan oleh para pelayan. Tidak ada sihir. Dan ini bukan mimpi. Kau masih bisa menghitung berkas-berkas gandumnya. Berkas-berkas itu masih ada di sana, meskipun sudah terbagi-bagi menjadi banyak bagian."

"Ya, Tuan. Tapi... Tidak mungkin ladang-ladang itu menghasilkan sebegitu banyak!"

"Dan bagaimana dengan iman, anak-anakku? Bagaimana dengan iman? Apa yang akan kita lakukan dengan iman kita? Mungkinkah Tuhan mengingkari abdi-Nya yang sudah berjanji dalam Nama-Nya dan untuk suatu tujuan yang suci?"

"Jadi, Tuan sudah melakukan mukjizat?!" seru para pelayan, siap menyanyikan hosana.

"Aku bukan tipe orang yang melakukan mukjizat. Aku seorang yang malang. Tuhan-lah yang melakukannya. Dia membaca hatiku dan melihat dua keinginan di dalamnya: yang pertama adalah menghantarmu kepada imanku. Yang kedua adalah memberikan banyak, sangat banyak kepada saudara-saudaraku yang malang ini. Tuhan mengabulkan keinginanku... dan Dia bekerja. Semoga Dia diberkati untuk itu!" kata Yusuf seraya membungkuk hormat seolah-olah dia berada di depan altar...

"Dan abdi-Nya itu bersama-Nya," kata Yesus, yang hingga saat itu bersembunyi di balik sudut sebuah rumah kecil yang dikelilingi oleh pagar tanaman; Aku tidak tahu apakah itu rumah untuk memangga roti atau tempat penggilingan minyak. Dan sekarang Dia muncul secara terang-terangan di tempat pengirikan, di mana Yusuf berdiri.

"Guru-ku dan Tuhan-ku!!" seru Yusuf seraya jatuh berlutut untuk menghormati Yesus.

"Damai sertamu. Aku datang untuk memberkatimu dalam nama Bapa, dan untuk mengganjari amal kasihmu dan imanmu. Aku akan menjadi tamumu malam ini. Apakah kau menginginkan-Ku?"

"Oh! Guru! Engkau bertanya kepadaku? Hanya saja... Hanya saja aku tidak akan bisa menghormati-Mu di sini... Aku bersama para pelayan dan petani... di rumah pedesaanku... Tidak ada taplak meja halus, tidak ada kepala pelayan, tidak ada pelayan yang berpengalaman... Aku tidak punya makanan mewah... tidak ada anggur pilihan... Tidak ada teman-temanku di sini... Sungguh ini akan menjadi keramah-tamahan yang sangat sederhana... Tetapi Engkau akan mengerti... Mengapa, Tuhan-ku, Engkau tidak memberitahuku sebelumnya? Aku akan bisa mempersiapkannya... Hermas ada di sini dua hari yang lalu bersama teman-temannya... Bahkan aku meminta mereka untuk memberitahu orang-orang ini, kepada siapa aku ingin memberikan apa yang menjadi milik Allah... Tetapi Hermas tidak mengatakan apa pun kepadaku! Seandainya aku tahu!... Izinkan aku, Guru, untuk menyampaikan perintah, supaya aku bisa mencoba menemukan solusi... Mengapa Engkau tersenyum seperti itu?" akhirnya bertanyalah Yusuf, yang sangat kebingungan dengan sukacita yang mendadak dan karena situasi yang dianggapnya sebagai... sebuah bencana.

"Aku tersenyum karena kesusahanmu yang tidak perlu. Yusuf, apa yang kau cari? Yang kau miliki?"

"Apa yang kumiliki? Aku tidak punya apa-apa."

"Oh! Betapa materialistisnya kau sekarang! Mengapa kau bukan lagi Yusuf yang rohani seperti beberapa saat yang lalu, saat kau berbicara sebagai seorang bijak? Ketika kau berjanji, dengan penuh percaya, demi imanmu dan demi memberikan iman?"

"Oh! Apakah Engkau mendengarku?"

"Aku mendengar dan melihatmu, Yusuf. Pagar laurel itu sangat berguna, karena dari sana Aku bisa melihat bahwa apa yang telah Aku taburkan dalam dirimu tidak mati. Itulah sebabnya Aku katakan bahwa kau mengkhawatirkan hal-hal remeh. Tidak ada padamu kepala pelayan atau para pelayan yang berpengalaman? Tetapi di mana amal kasih dipraktikkan, di situ Allah ada, dan di mana Allah ada, di situ malaikat-malaikat-Nya ada. Jadi, pengurus rumah tangga mana yang lebih berpengalaman daripada mereka, yang kau inginkan? Tidak ada padamu makanan lezat atau anggur pilihan? Makanan apa yang hendak kau berikan kepada-Ku, minuman apa yang lebih nikmat daripada kasih yang kau miliki bagi orang-orang ini dan yang kau miliki bagi-Ku? Tidak ada padamu teman-teman untuk menghormati-Ku? Dan bagaimana dengan orang-orang ini? Teman mana yang lebih dikasihi oleh Sang Guru, Yang nama-Nya adalah Yesus, daripada mereka yang miskin dan yang malang? Ayolah, Yusuf! Sekalipun Herodes bertobat dan membuka aula-aulanya untuk memberi-Ku kehormatan dan keramah-tamahan, di istana yang megah dan semua pejabat tinggi ada di sana, Aku tidak akan memilih istana mana pun selain daripada di sini, yang kepadanya Aku juga hendak menyampaikan sepatah kata dan memberikan hadiah. Apa kau mengizinkan-Ku?"

"Oh! Guru! Aku menghendaki segala yang Kau kehendaki! Katakanlah padaku."

"Suruhlah mereka berkumpul, dan para pelayan juga untuk berkumpul di sini. Akan selalu ada roti untuk kita... Lebih baik bagi mereka mendengarkan sabda-Ku sekarang, daripada berlari kian kemari menyibukkan diri dengan hal-hal sepele."

Orang banyak yang takjub dengan cepat berhimpun...

Yesus berkata, "Kamu sudah tahu di sini bahwa iman dapat melipatgandakan gandum ketika keinginan yang demikian didasarkan pada keinginan karena kasih. Tetapi janganlah membatasi imanmu pada kebutuhan materi semata. Tuhan menciptakan bulir gandum pertama dan sejak itu gandum menjadi roti bagi manusia. Tetapi Tuhan menciptakan juga Firdaus dan Firdaus menantikan warganya. Ia diciptakan bagi mereka yang hidup menurut Hukum dan tetap setia kendati cobaan hidup yang menyengsarakan. Milikilah iman dan kamu akan dapat tetap kudus dengan pertolongan Tuhan, seperti Yusuf yang dapat membagikan dua kali lipat jumlah gandum untuk membuatmu bergembira dua kali lipat dan meneguhkan para pelayannya dalam iman. Dengan sungguh-sungguh Aku berkata kepadamu bahwa jika orang memiliki iman kepada Tuhan, dan jika itu untuk suatu alasan yang benar, bahkan gunung-gunung, yang perut bebatuannya tertanam di dalam tanah, tidak akan dapat melawan, dan mereka akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain atas perintah siapa pun yang memiliki iman kepada Tuhan. Apakah kamu memiliki iman kepada Allah?" tanya-Nya kepada semua orang.

"Ya Tuhan!"

"Siapakah Allah menurutmu?"

"Bapa Yang Mahakudus, seperti yang diajarkan oleh murid-murid Kristus kepada kami."

"Dan siapakah Kristus bagimu?"

"Juruselamat. Sang Guru. Yang Mahakudus!"

"Hanya itu?"

"Putra Allah. Tetapi kami tidak boleh mengatakan itu, karena jika kami mengatakannya, orang-orang Farisi akan menganiaya kami."

"Tetapi apakah kamu percaya bahwa Dia adalah Putra Allah?"

"Ya, Tuhan."

"Baiklah, tambahkan imanmu. Sekalipun kamu diam, batu-batu, tumbuh-tumbuhan, bintang-bintang, tanah, segalanya akan memaklumkan bahwa Kristus adalah Penebus dan Raja yang sejati. Mereka akan memaklumkannya pada saat kenaikan-Nya, ketika Ia mengenakan jubah ungu yang tersuci dengan mahkota Penebusan. Berbahagialah mereka yang percaya akan itu mulai sekarang dan akan lebih percaya lagi kelak, dan akan memiliki iman kepada Kristus dan dengan demikian memiliki hidup kekal. Apakah kamu memiliki iman yang tak tergoyahkan kepada Kristus?"

"Ya, Tuhan. Katakanlah kepada kami di mana Dia, dan kami akan memohon kepada-Nya untuk menambahkan iman kami supaya kami diberkati seperti yang Engkau sabdakan." Bukan hanya orang-orang miskin, tetapi juga para pelayan, para rasul, dan Yusuf turut serta dalam doa terakhir itu.

"Jika kamu memiliki iman sebesar biji sesawi saja, dan kamu memelihara mutiara imanmu yang berharga di dalam hatimu, tanpa membiarkan manusia siapa pun, atau yang di luar manusia, atau hal jahat apa pun merenggutnya darimu, maka setiap orang darimu akan dapat berkata kepada pohon murbei yang besar itu yang menaungi sumur Yusuf: "Tercabutlah dan tertanamlah di tengah gelombang laut."

"Tetapi di manakah Kristus? Kami mengharapkan Dia supaya disembuhkan. Murid-murid-Nya tidak bisa menyembuhkan kami, tetapi mereka mengatakan, 'Dia bisa melakukannya.' Kami ingin disembuhkan supaya bisa bekerja," kata orang-orang yang sakit dan cacat.

"Dan apakah menurutmu Kristus bisa melakukannya?" tanya Yesus sembari memberi isyarat kepada Yusuf untuk tidak mengatakan bahwa Dia-lah Kristus.

"Kami sungguh percaya itu. Dia adalah Putra Allah. Dia bisa melakukan segalanya."

"Ya. Dia bisa melakukan segalanya... dan Dia menghendaki segalanya!" seru Yesus seraya menjulurkan tangan kanan-Nya dengan penuh wibawa, dan lalu menurunkannya seolah-olah bersumpah. Dan Dia mengakhirinya dengan suatu seruan penuh kuasa, "Dan terjadilah demikian, demi kemuliaan Allah!"

Dan Dia hendak berbalik menuju rumah. Namun mereka yang sudah disembuhkan, sekitar duapuluh orang, berseru-seru, bergegas, mengelilingi-Nya dengan tangan-tangan simpang siur yang menggapai-gapai untuk menyentuh, memberkati, meraih tangan-Nya, pakaian-Nya, untuk mencium dan membelai-Nya. Mereka mengucilkan-Nya dari Yusuf, dari semua orang...

Dan Yesus tersenyum, membelai, memberkati... Perlahan-lahan Dia membebaskan diri, dan dengan masih diikuti oleh orang banyak, Dia menghilang masuk ke dalam rumah sementara seruan hosana membubung ke langit yang menjadi lembayung di senja yang menjelang.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama