407. DI RUMAH YUSUF ARIMATEA PADA HARI SABAT.
YOHANES, ANGGOTA MAHKAMAH AGAMA.             


2 April 1946      

Yusuf Arimatea sedang beristirahat di sebuah ruangan yang remang-remang, karena semua tirai sudah diturunkan untuk menangkal terik matahari. Sunyi senyap menyelimuti seluruh rumah. Yusuf tidur-tidur ayam di sebuah tempat duduk rendah beralaskan tikar... Seorang pelayan masuk, dia menghampiri tuannya dan menyentuhnya untuk membangunkannya. Yusuf membuka matanya yang masih mengantuk dan menatap si pelayan penuh tanda tanya.

"Tuan, temanmu Yohanes datang kemari..."

"Temanku Yohanes?! Bagaimana mungkin dia ada di sini jika hari Sabat belum berakhir?!"

Yusuf yang terbangun dengan kaget, heran atas kunjungan seorang anggota Mahkamah Agama pada hari Sabat. Dan dia memerintahkan, "Segera bawa dia masuk."

Pelayan itu keluar dan, sementara menunggu, Yusuf berjalan mondar-mandir dengan termenung di ruangan temaram yang sejuk itu...

"Semoga Tuhan sertamu, Yusuf!" kata Yohanes, anggota Mahkamah Agama yang sudah pernah kita lihat saat perjamuan pertama yang diperuntukkan bagi Yesus di Arimatea, dan juga di rumah Lazarus pada Paskah yang lalu, selalu sebagai orang yang tidak memusuhi Yesus, meskipun bukan seorang murid.

"Dan sertamu, Yohanes! Tapi... karena aku tahu bahwa kau seorang benar, aku heran melihatmu sebelum matahari terbenam..."

"Itu benar. Aku sudah melanggar hukum Sabat. Dan aku berdosa sebab aku sadar bahwa aku sedang berbuat dosa. Jadi, sungguh beratlah dosaku... Dan beratlah kurban yang akan harus aku jalani supaya diampuni. Dan sangat penting alasan yang mendorongku untuk berbuat dosa ini... Yahweh, Yang adil, akan berbelas kasihan kepada hamba-Nya yang bersalah dengan mempertimbangkan motif penting yang mendorongku untuk berbuat dosa..."

"Dulu kau tidak berbicara seperti itu. Bagimu, Yang Mahatinggi adalah keras dan kaku semata. Dan kau sempurna karena kau takut kepada-Nya sebab Allah tak kenal ampun..."

"Oh! tepat sekali!... Yusuf, aku tidak pernah mengakukan kesalahan-kesalahan rahasiaku kepadamu... Tapi itu benar. Aku dulu memang menilai Allah sebagai tak kenal ampun. Seperti banyak orang Israel lainnya. Kami diajari untuk menganggap-Nya demikian: Allah yang membalas dendam..."

"Dan kau terus percaya seperti itu bahkan setelah Sang Rabbi datang untuk memberitahukan kepada umat-Nya Wajah Allah yang sebenarnya, Hati-Nya yang sebenarnya... Wajah, Hati seorang Bapa..."

"Itu benar. Tapi... aku belum pernah cukup lama mendengar-Nya berbicara... Tapi... kau ingat, sejak pertama kali aku melihat-Nya di perjamuan di rumahmu, aku bersikap... hormat, meski bukan kasih kepada Rabbi."

"Benar... Tetapi demi kasihku padamu, aku ingin kau beralih ke sikap kasih kepada-Nya. Sekedar rasa hormat saja terlalu sedikit..."

"Kau mengasihi-Nya, bukan begitu, Yusuf?"

"Ya, memang. Dan aku mengatakannya padamu, meskipun aku tahu bahwa para Imam Kepala membenci orang-orang yang mengasihi Rabbi. Tapi kau tidak akan bisa mengadukan..."

"Tidak. Aku tidak... Dan aku ingin menjadi sepertimu. Tapi apakah aku akan bisa berhasil?"

"Aku akan berdoa supaya kau bisa berhasil. Itu akan menjadi keselamatan kekalmu, sahabatku terkasih..."

Keheningan menyusul, penuh permenungan...

Kemudian Yusuf bertanya, "Kau katakan bahwa ada motif serius yang mendorongmu untuk melanggar hari Sabat. Motif apa? Bolehkah aku bertanya padamu tanpa bermaksud terlalu lancang? Aku pikir kau datang untuk minta pertolongan dari temanmu... Dan aku harus tahu, supaya aku bisa menolongmu..."

Yohanes mengusap dahinya dengan tangannya, dia menekan dahinya yang lebar, yang mulai botak, seperti yang lazim pada laki-laki di usia paruh baya, dia secara mekanis mengelus rambutnya yang beruban, janggut tebalnya yang dipotong persegi... Kemudian dia mengangkat kepalanya, menatap pada Yusuf seraya berkata, "Ya. Suatu alasan yang penting. Dan yang menyedihkan. Dan... suatu pengharapan besar..."

"Apa?"

"Yusuf, apa kau percaya bahwa rumahku seperti neraka dan akan segera tidak lagi menjadi rumah... ia segera akan hancur, porak-poranda, luluh lantak, dan rusak binasa?"

"Apa? Apa yang kau katakan? Apa kau sedang meracau?"

"Tidak, tidak... Istriku hendak meninggalkanku... Apa kau terkejut?"

"... Ya... karena aku selalu mengenalnya sebagai seorang yang baik... dan karena keluargamu kelihatan seperti keluarga teladan... kau penuh kebaikan... dia penuh keutamaan..."

Yohanes duduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya...

Yusuf melanjutkan, "Sekarang... keputusan... ini... Aku... Yah... Aku tidak bisa percaya bahwa Anna sudah melakukan suatu pun yang salah... atau kau sudah... Tapi aku bahkan lebih tidak percaya sehubungan dengan dirinya... yang sepenuhnya mengabdikan diri pada rumah dan anak-anaknya... Tidak!... Tidak mungkin kesalahan ada padanya!..."

"Apa kau yakin? Benar-benar yakin?"

"Oh! sahabatku yang malang! Aku tidak memiliki mata Allah. Tapi sejauh yang bisa aku nilai, itulah pendapatku..."

"Tidakkah terpikir olehmu bahwa Anna... selingkuh...?"

"Anna?! Tapi, sahabatku! Apa matahari musim panas sudah merusak otakmu? Selingkuh dengan siapa? Dia tidak pernah meninggalkan rumah, dia lebih suka pedesaan daripada kota. Dia bekerja sebaik pelayan terbaiknya, dia sepenuhnya rendah hati, sederhana, aktif, dan penuh kasih sayang kepadamu dan anak-anak. Perempuan murahan tidak suka hal-hal seperti itu. Percayalah padaku. Oh! Yohanes, atas dasar apa kecurigaanmu? Sejak kapan?"

"Aku sudah selalu curiga."

"Selalu? Kalau begitu, itu penyakitmu!..."

"Ya. Dan... Yusuf, aku punya banyak kesalahan. Tapi aku tidak ingin mengakukannya padamu seorang. Kemarin lusa beberapa murid dan orang-orang miskin lewat rumahku. Mereka mengatakan bahwa Rabbi sedang dalam perjalanan ke rumahmu. Dan kemarin... kemarin adalah hari yang penuh badai di rumahku... sebegitu dahsyat hingga Anna mengambil keputusan seperti yang aku katakan padamu... Sepanjang malam - dan betapa malam yang mengerikan - aku sangat banyak merenung... Dan aku sampai pada kesimpulan bahwa hanya Dia, Rabbi yang sempurna..."

"Ilahi, Yohanes, ilahi!"

"... Sesukamulah... Hanya Dia yang bisa menyembuhkan dan memperbaikiku... membangun kembali rumahku, mengembalikan Anna... anak-anakku... mengembalikan semuanya padaku." Laki-laki itu menangis dan dengan mencucurkan airmata dia melanjutkan:

"Karena Dia saja yang melihat dan mengatakan kebenaran... dan aku akan percaya kepada-Nya... Yusuf, sahabatku, biarlah aku tinggal di sini dan menantikan-Nya..."

"Guru ada di sini. Dia akan pergi sesudah matahari terbenam. Aku akan pergi memanggil-Nya untukmu," dan Yusuf pun keluar...

Selang beberapa menit, tirai terbuka kembali untuk memberi jalan Yesus yang lewat... Yohanes berdiri dan membungkuk penuh hormat.

"Damai sertamu, Yohanes. Mengapa kau mencari-Ku?"

"Supaya Engkau bisa menolongku untuk melihat... dan Engkau bisa menyelamatkanku. Aku sangat sedih. Aku sudah berdosa terhadap Allah dan terhadap istriku. Dan dari satu dosa ke dosa lainnya aku sudah sampai ke tahap melanggar hukum Sabat. Ampunilah aku, Guru."

"Hukum Sabat! Hukum suci yang agung! Dan jauhlah dari-Ku kiranya gagasan untuk menganggapnya tidak penting dan kuno. Tetapi mengapa kau menempatkannya di atas hukum pertama? Apa? Kau meminta-Ku untuk mengampunimu karena melanggar hari Sabat dan kau tidak meminta pengampunan atas kurangnya cinta kasih dan karena menyiksa jiwa yang tidak berdosa, mendorong jiwa istrimu ke keputusasaan dan ke ambang dosa? Seharusnyalah kau lebih risau tentang hal itu daripada hal apa pun lain! Kau sudah memfitnahnya..."

"Tuhan, aku menceritakannya kepada Yusuf seorang, belum lama berselang. Percayalah, aku tidak menceritakannya kepada siapa pun lainnya. Aku merahasiakan kesedihanku sebegitu rupa hingga sahabat baikku Yusuf tidak tahu apa pun, dan dia terkejut ketika aku menceritakannya kepadanya. Sekarang dia sudah menceritakannya kepada-Mu, untuk menolongku. Yusuf adalah seorang yang benar dan dia tidak akan menceritakannya kepada siapa pun lainnya."

"Dia tidak menceritakannya kepadaku. Dia hanya mengatakan kepada-Ku bahwa kau ingin bertemu dengan-Ku."

"Oh! Jadi, bagaimana Engkau bisa tahu?"

"Bagaimana Aku bisa tahu? Sebagaimana Allah mengetahui rahasia hati. Haruskah Aku mengatakan kepadamu keadaan hatimu?"...

Yusuf hendak undur diri secara diam-diam. Namun Yohanes sendiri menghentikannya dengan mengatakan, "Oh! Tetaplah di sini. Kau sahabatku! Karena kau adalah pengiring pengantin di pernikahanku, kau bisa menolongku dengan Rabbi!..." dan Yusuf pun tetap tinggal.

"Haruskah Aku mengatakannya kepadamu? Apa kau ingin Aku membantumu untuk mengenal dirimu sendiri? Oh! Jangan takut! Tidak ada tangan yang kejam pada-Ku. Aku bisa menyingkap luka, tetapi Aku tidak membuatnya mengucurkan darah untuk menyembuhkannya. Aku bisa memahami dan berbelas kasihan. Dan Aku tahu bagaimana menyembuhkan dan memulihkan, asalkan orang ingin disembuhkan. Dan kau memang menginginkannya. Sebegitu rupa, hingga kau mencari-Ku. Duduklah di sini, di samping-Ku, di antara Yusuf dan Aku. Dia adalah pengiring pengantinmu di pernikahan duniawimu. Aku akan menjadi pemimpin pengiring pengantin di pernikahan rohanimu..."

"Oh! Aku akan sangat senang!... Sekarang, dengarkan Aku baik-baik. Dan jawab semua pertanyaan-Ku dengan jujur. Bagaimana pendapatmu tentang tindakan Allah Yang menciptakan laki-laki dan perempuan, sehingga keduanya menjadi satu? Apakah itu hal yang baik atau buruk?"

"Yang baik, Tuhan. Seperti semua hal yang diciptakan Allah."

"Kau benar. Sekarang katakan pada-Ku: jika tindakan itu baik, apa konsekuensinya?"

"Sama baiknya, Tuhan. Dan mereka baik, meskipun Setan datang untuk menyusahkan mereka, karena Adam selalu dihibur oleh Hawa, dan Hawa oleh Adam. Dan penghiburan mereka terasa lebih mendalam saat mereka sendirian, sebagai orang buangan di Bumi, mereka saling mendukung satu sama lain. Juga konsekuensi materiilnya pun baik, yaitu anak-anak mereka, dari siapa umat manusia berkembang biak, dan kuasa serta kebaikan Allah bersinar."

"Kenapa? Kuasa dan kebaikan yang mana?"

"Yah... yang dilakukan demi kepentingan manusia. Jika kita melihat ke belakang... ya... ada hukuman yang adil, tetapi ada banyak, lebih banyak lagi perbuatan baik... Dan Perjanjian yang dibuat dengan Abraham dan diperbarui dengan Yakub adalah kebaikan yang tak terbatas... dan sampai sekarang ini. Dan diulangi oleh bibir-bibir yang menyampaikan kebenaran: para nabi... sampai Yohanes..."

"Dan oleh Rabbi, Yohanes," sela Yusuf.

"Itu bukanlah bibir seorang nabi... atau bibir seorang Guru... Itu... jauh lebih dari itu."

Yesus tersenyum samar atas... pengakuan iman yang masih terbatas dari anggota Mahkamah Agama itu, yang tidak sampai pada tahap mengatakan, "Itu adalah bibir ilahi" meskipun dia sudah berpendapat demikian.

"Jadi, Allah melakukan hal yang benar dengan mempersatukan laki-laki dan perempuan. Setuju. Tetapi Dia menghendaki laki-laki dan perempuan itu bagaimana?" tanya Yesus.

"Menjadi satu tubuh saja."

"Baiklah. Sekarang, bisakah tubuh membenci dirinya sendiri?"

"Tidak."

"Bisakah satu anggota tubuh membenci anggota lainnya?"

"Tidak."

"Bisakah satu anggota tubuh terpisah dari anggota lainnya?"

"Tidak. Hanya gangrene, atau kusta, atau kecelakaan yang bisa mengamputasi satu anggota tubuh dari anggota tubuh lainnya."

"Bagus. Jadi, hanya suatu hal yang mendukakan atau yang jahat yang bisa memisahkan apa yang dikehendaki Allah sebagai satu kesatuan saja?"

"Benar begitu, Guru."

"Baik, lalu, meskipun kau yakin akan hal-hal demikian, mengapa kau tidak mencintai tubuhmu, dan kau sangat membencinya, hingga kau membiarkan gangrene tumbuh di antara satu anggota tubuh dengan anggota lainnya, sehingga anggota tubuh yang lebih lemah, yang dihinakan, memisahkan diri dan meninggalkanmu seorang diri?"

Yohanes menundukkan kepalanya, terdiam sambil memainkan jumbai-jumbai jubahnya.

"Akan Aku katakan padamu kenapa. Karena Setan, si pengacau biasanya itu, sudah datang di antara kau dan istrimu. Bukan: dia sudah masuk ke dalam dirimu, dengan cinta yang kacau kepada istrimu. Dan ketika cinta itu kacau, cinta menjadi kebencian, Yohanes. Setan sudah mempengaruhi sensualitas kejantanmu untuk membuatmu berdosa. Karena di situlah dosamu bermula. Dari satu kekacauan yang menimbulkan kekacauan-kekacauan baru yang jauh lebih berat. Pada istrimu, kau tidak hanya melihatnya sebagai pasangan yang baik dan ibu dari anak-anakmu, tetapi juga sebagai objek kesenangan. Dan itu membuat matamu seperti mata lembu, yang melihat segala sesuatunya secara berbeda. Kau melihat hal-hal seperti caramu memandang. Begitulah kau melihat istrimu. Sebagai objek kesenangan bagimu. Kau menganggap istrimu objek kesenangan juga bagi orang-orang lain, dari situlah kecemburuanmu bernyala-nyala, ketakutanmu yang tidak rasional, keangkuhanmu yang penuh dosa, yang membuat istrimu menjadi perempuan yang ketakutan, terbelenggu, tersiksa, dan difitnah. Apa bedanya jika kau tidak memukulnya, jika kau tidak mencacinya di depan umum? Kecurigaanmu adalah cambuk, keraguanmu adalah fitnah! Kau memfitnahnya dengan beranggapan bahwa dia bisa sampai ke tahap tidak setia kepadamu. Apa bedanya dengan kau memperlakukannya sesuai tuntutan kedudukanmu? Di dalam privasi rumahmu, dia lebih buruk daripada seorang budak bagimu, karena nafsu bejatmu yang merendahkannya hingga tak tertahankan, dan yang telah dia derita dengan diam-diam dan pasrah, dengan harapan untuk meyakinkanmu, untuk menenangkanmu, untuk membuatmu baik, dan yang hanya membuatmu semakin mendongkol, sampai-sampai mengubah rumahmu menjadi neraka, tempat setan-setan berahi dan kecemburuan mengaum-ngaum. Cemburu! Apa yang kau pikir bisa lebih merupakan fitnah keji bagi seorang istri daripada kecemburuan? Dan apa indikasi yang lebih jelas tentang keadaan hati daripada kecemburuan? Kau bisa pastikan bahwa di mana pun ia bersarang, yakni kebodohan, ketidakrasionalan, kecurigaan tanpa dasar, penghinaan, kepala batu, tidak akan bisa ada kasih kepada sesama atau kepada Allah. Hanya ada keegoisan. Seharusnyalah kau bersedih atas kesemuanya itu, bukan karena melanggar berakhirnya hari Sabat! Dan supaya bisa diampuni kau harus memperbaiki kerusakan yang sudah kau akibatkan..."

"Tapi Anna hendak pergi sekarang juga... Ayo, bujuk dia... Hanya Kau satu-satunya yang bisa menilai apakah dia benar-benar tidak bersalah, sesudah Kau mendengarnya berbicara, dan..."

"Yohanes!! Kau ingin disembuhkan, tapi kau tidak mau percaya pada apa yang Aku katakan?"

"Engkau benar, Tuhan-ku. Ubahlah hatiku. Perkataan-Mu benar. Aku tidak punya dasar alasan untuk curiga. Tapi aku sangat mencintainya... secara nafsu, itu benar... Engkau telah melihat keadaannya yang sebenarnya... Semuanya tampak samar bagiku..."

"Datanglah kepada Terang. Keluarlah dari kekacauan sensualitas yang bernyala-nyala, yang juga begitu membara. Awalnya itu akan membutuhkan pengorbananmu... Tetapi akan jauh lebih mahal jika kau harus kehilangan istri yang baik, dan kau pantas masuk neraka, menyilih dosa-dosamu karena kurang kasih, karena fitnah dan perzinahan, dan juga perzinahan istrimu, karena Aku mengingatkanmu bahwa barang siapa memicu seorang perempuan untuk bercerai, dia menempatkan dirinya dan istrinya di jalan perzinahan. Jika kau bisa melawan setanmu selama satu bulan, setidaknya selama satu bulan, Aku berjanji kepadamu bahwa mimpi burukmu akan berakhir. Maukah kau berjanji kepada-Ku?"

"Oh! Tuhan! Tuhan! Aku ingin... Tapi api ini... Padamkanlah, Engkau penuh kuasa!..." Yohanes jatuh berlutut di hadapan Yesus dan menangis dengan kepalanya dalam kedua tangannya sementara dia berlutut di lantai.

"Dan Aku akan meredakannya. Aku akan menguranginya. Aku akan membatasi dan mengekang setan ini. Tetapi kau sudah banyak berdosa, Yohanes, dan kau harus berupaya dari dirimu sendiri demi kebangkitan rohanimu. Mereka yang sudah dipertobatkan oleh-Ku, datang kepada-Ku dengan rela untuk menjadi manusia yang baru, bebas... Mereka sudah berupaya, dengan kekuatan mereka sendiri saja, di awal penebusan mereka. Seperti Matius, Maria Lazarus, dan banyak lagi. Kau datang kemari hanya untuk mencari tahu apakah istrimu bersalah dan untuk minta pertolongan-Ku agar kau tidak kehilangan sumber darimana kau meneguk kenikmatanmu. Aku akan membatasi kuasa setanmu selama tiga bulan, bukan satu bulan. Selama waktu itu, bermeditasilah dan bangkitlah. Bertekadlah untuk memulai hidup baru sebagai seorang suami. Hidup seorang laki-laki yang dikaruniai jiwa. Bukan hidup seekor binatang buas seperti yang kau jalani selama ini. Dan dikuatkan dengan doa dan dengan meditasi, dengan damai yang akan Aku berikan kepadamu sebagai anugerah selama tiga bulan, belajarlah untuk berjuang dan mendapatkan Hidup kekal dan memenangkan kembali cinta dan damai dari istrimu dan rumahmu. Pergilah."

"Tapi apa yang harus kukatakan pada Anna? Aku mungkin mendapatinya siap untuk pergi... Kata-kata apa yang harus aku ucapkan sesudah bertahun-tahun... hinaan, demi meyakinkannya bahwa aku mencintainya dan bahwa aku tidak mau kehilangan dia? Aku mohon ikutlah denganku..."

"Aku tidak bisa. Tapi ini sangat mudah... Bersikaplah rendah hati. Panggil dia ke sisimu dan akui penderitaanmu. Katakan padanya bahwa kau sudah datang kepada-Ku karena kau ingin diampuni oleh Allah. Dan mintalah dia untuk mengampunimu karena pengampunan Allah hanya akan diberikan kepadamu jika dia memohonkannya untukmu dan jadi dialah yang pertama-tama harus memberikannya kepadamu... Oh! orang yang malang! Betapa banyak kebaikan, betapa banyak damai yang sudah kau sia-siakan karena nafsu berahimu! Betapa banyak kejahatan yang ditimbulkan oleh nafsu yang tak terkendali dan oleh cinta yang kacau! Berdirilah dan pergilah dengan pikiran yang damai. Tidak mengertikah kau bahwa istrimu, yang baik dan setia padamu, lebih sedih daripadamu karena harus meninggalkanmu dan dia sedang menantikan sepatah kata saja darimu supaya dia bisa berkata kepadamu, 'Kau sudah diampuni dari semuanya'? Kau boleh pergi sekarang, sebab matahari sudah terbenam. Jadi, kau tidak akan berbuat dosa dengan pulang ke rumahmu... Dan Sang Juruselamat mengampunimu dari dosa yang kau lakukan dengan adanya kau datang kepada-Nya. Pergilah dengan damai. Dan jangan berbuat dosa lagi."

"Oh! Guru! Guru!... Aku tidak pantas menerima kata-kata yang demikian!... Guru... Aku... ingin mengasihi-Mu mulai sekarang..."

"Ya, tentu. Pergilah dan jangan berlambat. Dan ingatlah saat ini ketika Aku kelak menjadi Orang Tak Berdosa yang difitnah."

"Apa maksud-Mu?"

"Tidak apa-apa. Pergilah. Selamat tinggal," dan Yesus pergi meninggalkan kedua anggota Mahkamah Agama itu yang tersentuh hatinya sekaligus bersukacita karena menganggap-Nya benar-benar kudus dan bijaksana seperti hanya Allah saja yang bisa.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama