|
405. DI TANAH MILIK NIKODEMUS.
PERUMPAMAAN TENTANG DUA ANAK LAKI-LAKI.
29 Maret 1946
Yesus tiba di sana saat fajar, ketika udara segar dan sejuk. Dan ladang-ladang subur milik Nikodemus yang baik tampak indah di bawah sinar mentari awal hari. Ladang-ladang itu indah kendati gandum sudah disabit di banyak di antara ladang itu, dan karenanya mereka tampak layu sesudah matinya gandum, yang berada dalam berkas-berkas keemasan, atau dihamparkan di tanah, menanti dibawa ke tempat pengirikan. Dan banyak bunga-bunga lain mati bersama gandum: cornflower berbentuk bintang safir, snapdragon lembayung, corolla kecil scabious, piala harebell yang cepat berlalu, mahkota camomile dan aster yang tersenyum cemerlang, poppy merah yang mencolok, dan ratusan bunga lainnya, yang berbentuk bintang, yang dalam tandan seperti duri, dalam rumpun, dalam mahkota cemerlang yang sebelumnya tersenyum di tempat yang sekarang adalah tunggul kekuningan. Namun, derita tanah yang direnggut gandumnya terhibur oleh dedaunan pohon-pohon buah-buahan, yang tampak semakin semarak karena buah-buahan yang tersembul darinya dalam aneka warna, dan di atas mana tetes-tetes embun, yang belum mengering oleh matahari, berkilau bagai debu berlian.
Para petani sudah sibuk bekerja. Mereka gembira karena kerja keras musim panen hampir berakhir. Mereka bernyanyi sementara memotong, dan tertawa riang, saling berlomba satu sama lain dalam menyabit lebih cepat atau dalam mengikat berkas-berkas... Ada beberapa kelompok petani yang tercukupi makannya yang dengan gembira bekerja untuk tuan mereka yang baik. Di tepi ladang-ladang itu atau di belakang para penuai, ada anak-anak, para janda, dan orang-orang lanjut usia yang menunggu untuk memungut sisa panen, dan mereka menunggu dengan tenang, karena mereka tahu bahwa ada banyak untuk semua orang, seperti biasanya, "atas perintah Nikodemus", seperti yang dijelaskan seorang janda kepada Yesus, Yang bertanya kepadanya.
"Dia mengawasi untuk memastikan bahwa sejumlah besar gandum sengaja tidak diikat dalam berkas-berkas, dan ditinggalkan bagi kami," katanya. "Dan belum puas dengan amal kasih yang begitu banyak, sesudah mengambil sejumlah gandum yang adil sesuai dengan proporsi benih, dia membagikan sisanya kepada kami. Oh! Dia tidak menunggu tahun Sabat untuk melakukannya! Tetapi dia selalu melakukannya untuk menolong kaum miskin dengan hasil panennya, dan dia melakukan hal yang sama dengan pohon-pohon zaitun dan kebun anggurnya. Itulah sebabnya Allah memberkatinya dengan panen yang berlimpah. Berkat kaum miskin bagaikan embun pada benih dan bunga, sehingga setiap benih menghasilkan lebih banyak bulir gandum dan tidak ada bunga yang gugur sebelum buahnya muncul. Dan dia mengatakan kepada kami bahwa tahun ini seluruh hasil panen akan diberikan kepada kami, karena ini adalah tahun rahmat. Aku tidak tahu rahmat mana yang dia maksud. Terkecuali karena, seperti yang didesas-desuskan di antara kami, orang-orang miskin, dan di antara para pelayannya yang berbahagia... karena dia diam-diam adalah murid-Nya, Dia Yang disebut-sebut sebagai Kristus, dan Yang mengkhotbahkan bahwa orang harus mengasihi orang-orang miskin untuk menunjukkan kasih kepada Allah... Mungkin Engkau mengenal-Nya, jika Engkau adalah teman Nikodemus... karena teman-teman pada umumnya menyukai orang-orang yang sama... Yusuf dari Arimatea, misalnya, adalah teman Nikodemus, dan desas-desusnya dia juga adalah teman sang Rabbi... Oh! apa yang sudah aku bicarakan! Semoga Allah mengampuniku! Aku sudah bersalah terhadap kedua tuan yang baik di tanah kami!..." Perempuan itu kesal.
Yesus tersenyum dan bertanya, "Kenapa, perempuan?"
"Karena... Oh! Katakan, apakah Engkau teman sejati dari Nikodemus dan Yusuf, atau Engkau salah seorang anggota Sanhedrin, seorang teman palsu yang akan mencelakai kedua orang baik itu jika tahu pasti bahwa mereka adalah teman Orang Galilea itu?"
"Jangan khawatir. Aku teman sejati dari kedua orang baik itu. Tapi kau tahu banyak hal, perempuan! Bagaimana kau bisa tahu itu semua?"
"Oh! Kami semua tahu! Kelas atas dengan kebencian; kelas bawah dengan kasih. Karena, meskipun kami tidak mengenal-Nya, kami mengasihi Kristus, kami orang-orang malang, hanya Dia saja yang mengasihi kami dan mengajarkan untuk mengasihi. Dan kami gentar di hadapan-Nya... Orang-orang Yudea, kaum Farisi, para ahli Taurat, dan para imam begitu jahat!... Tapi aku membuat-Mu terguncang... Maafkan aku. Lidahku... adalah lidah seorang perempuan dan tak bisa diam... Tapi itu karena merekalah penyebab dari semua penderitaan kami, orang-orang berkuasa yang menindas kami tanpa ampun, dan memaksa kami untuk berpuasa pada hari-hari yang tidak ditetapkan oleh Hukum Taurat, tetapi diterapkan demi kebutuhan mencari uang untuk membayar semua perpuluhan yang mereka, orang-orang kaya itu, bebankan pada orang-orang miskin... Dan karena semua harapan kami ada pada Kerajaan Rabbi ini, Yang, jika Dia begitu baik sekarang hingga Dia dianiaya, akan seperti apakah Dia ketika Dia menjadi raja?"
"Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini, perempuan. Dia tidak akan memiliki istana maupun bala tentara. Dia tidak akan menerapkan hukum manusia. Dia tidak akan memberikan sumbangan berupa uang. Tetapi Dia akan mengajarkan kepada orang-orang yang lebih baik untuk melakukannya. Dan orang-orang miskin tidak akan mendapati dua atau sepuluh atau seratus teman di kalangan orang kaya, tetapi semua orang yang percaya kepada Sang Guru akan berama-sama menggabungkan kekayaan mereka untuk membantu saudara-saudara mereka yang membutuhkan. Karena mulai sekarang, sesama makhluk ciptaan tidak akan lagi disebut 'sesama,' tetapi 'saudara', dalam nama Tuhan."
"Oh!..." Perempuan itu terkesima, memimpikan era kasih yang semacam itu. Dia membelai anak-anaknya, tersenyum, lalu mengangkat kepalanya dan berkata, "Jadi, Engkau meyakinkanku bahwa aku tidak bersalah terhadap Nikodemus... dengan berbicara kepada-Mu? Aku melakukannya begitu spontan... Mata-Mu begitu baik hati!... Wajah-Mu begitu damai tenang!... Entahlah... Aku merasa seaman berada di dekat seorang malaikat Tuhan... Itulah sebabnya aku berbicara..."
"Kau tidak berbuat jahat. Yakinlah. Sebaliknya, kau sudah memuji teman-Ku begitu tinggi hingga Aku akan memujinya juga, dan dia akan lebih Aku sayangi dari sebelumnya... Apa kau tinggal di sini?"
"Oh! Tidak, Tuhan. Aku berasal dari sebuah desa antara Lida dan Beth-Dagon. Tapi ketika orang membutuhkan pertolongan, Tuhan, dia akan berlari meskipun jalannya panjang! Bulan-bulan musim dingin... bulan-bulan kelaparan yang lebih panjang..."
"Dan kekekalan lebih panjang daripada hidup. Manusia sepatutnya merawat jiwanya sama seperti dia merawat tubuhnya, dan berlari ke mana ada sabda hidup..."
"Dan itulah apa yang aku lakukan dengan murid-murid Rabbi Yesus, Yang baik, Kau tahu? Satu-satunya Rabbi yang baik dari sekian banyak rabbi yang kami miliki."
"Kau melakukan hal yang benar, perempuan," kata Yesus seraya tersenyum, tetapi memberi isyarat kepada Andreas dan Yakobus Zebedeus yang bersama-Nya, sementara yang lain-lain sudah pergi ke rumah Nikodemus, untuk berhenti memberi isyarat guna membuat perempuan itu mengerti bahwa adalah Rabbi Yesus Yang sedang berbicara kepadanya.
"Tentu saja aku melakukan hal yang benar. Aku tidak ingin bersalah karena tidak mengasihi dan percaya kepada-Nya... Mereka mengatakan bahwa Dia adalah Kristus... Aku tidak mengenal-Nya. Tapi aku mau percaya. Karena aku pikir mereka yang menolak menerima-Nya sebagai Kristus akan berada dalam masalah."
"Dan bagaimana kalau murid-murid-Nya salah?" tanya Yesus mengujinya.
"Itu tidak mungkin, Tuhan. Mereka terlalu baik, rendah hati, dan miskin, jika kami beranggapan bahwa mereka mengikut seorang yang tidak kudus.... Lagipula aku sudah berbicara kepada orang-orang yang disembuhkan oleh-Nya. Janganlah berbuat dosa dengan tidak percaya, Tuhan! Engkau akan membinasakan jiwa-Mu... Bagaimanapun... aku pikir jika kami semua salah dan Dia bukan Raja yang dijanjikan, Dia tentunya kudus dan sahabat Allah, jika Dia mengucapkan sabda itu dan menyembuhkan tubuh dan jiwa... Dan adalah selalu merupakan hal yang baik untuk menghargai orang-orang baik."
"Apa yang kau katakan itu benar. Tetaplah dalam imanmu... Itu Nikodemus..."
"Ya, bersama murid-murid Sang Rabbi. Bahkan, mereka berkeliling desa untuk menginjili para penuai. Kemarin kami juga makan roti mereka."
Nikodemus, dalam balutan jubah yang rapi, melangkah maju tanpa memperhatikan Sang Guru dan dia mengatakan kepada para petani untuk tidak memungut bulir gandum yang sudah disabit. "Kita punya cukup roti untuk kita sendiri... Mari kita berikan anugerah Allah kepada mereka yang tidak mempunyainya. Dan mari kita memberikannya tanpa khawatir. Embun beku yang terlambat datang bisa saja sudah menghancurkan panenan kita. Tapi, tak satu benih pun yang hilang. Mari kita memberikan kembali roti Allah kepada-Nya dengan memberikannya kepada anak-anak-Nya yang malang. Dan aku bisa meyakinkanmu bahwa panen tahun depan bahkan akan lebih berlimpah, sepuluh kali lebih berlimpah, karena Dia mengatakannya, 'suatu takaran yang berlimpah ruah akan diberikan kepada mereka yang memberi.'"
Para petani, dengan penuh hormat dan gembira, mendengarkan tuan mereka dan mengangguk setuju. Dan Nikodemus, dari satu ladang dan satu kelompok pergi ke ladang dan kelompok yang lain, dengan mengulangi instruksinya yang baik hati.
Yesus, setengah tersembunyi di balik tirai rotan dekat sebuah parit pemisah, menyetujuinya dan tersenyum. Semakin Nikodemus mendekati-Nya, semakin lebar Dia tersenyum, karena pertemuan mereka dan keterkejutan sang murid kini sudah semakin dekat.
Sesungguhnya Nikodemus melompati parit itu untuk pergi ke ladang-ladang lain... dan menjadi terpaku di hadapan Yesus Yang merentangkan kedua tangan-Nya padanya. Akhirnya dia pulih dan bisa berbicara kembali, "Guru yang kudus, bagaimana Engkau bisa ada di sini bersamaku? Semoga Engkau diberkati."
"Untuk mengenalmu, jika itu memang perlu, melalui perkataan para saksi yang paling tulus: yakni mereka yang kau limpahi amal kasih..."
Nikodemus berlutut dan prostratio di tanah, begitu pula para murid, yang dipimpin oleh Stefanus dan Yusuf dari Emaus di pegunungan, mereka berlutut. Para petani dan orang-orang miskin yang ada di sana mengerti, dan mereka semua prostatio menyembah Sang Guru, dengan diliputi rasa takjub.
"Berdirilah. Hingga sejenak waktu yang lalu, Aku adalah Sang Pengembara yang menginspirasi keyakinan... Teruslah menganggap-Ku seperti itu. Dan kasihilah Aku tanpa takut. Nikodemus, Aku mengutus kesepuluh rasul yang tidak ada di sini, ke rumahmu..."
"Aku melewatkan malam di luar guna mengawasi bahwa perintah itu dilaksanakan..."
"Ya, dan Allah memberkatimu karena perintah itu. Suara manakah yang memberitahumu bahwa tahun ini, dan bukan tahun depan, adalah tahun rahmat, misalnya?"
"... Aku tidak tahu... Dan aku tahu... Aku bukan seorang nabi. Tapi aku bukan seorang bodoh. Dan suatu terang dari Surga ditambahkan pada inteligensiku. Guru-ku... Aku ingin orang-orang miskin menikmati anugerah dari Allah, sementara Allah masih berada di tengah orang-orang miskin... Dan aku tidak berani berharap Engkau berkenan untuk memberikan rasa manis dan kuasa pengudusan pada tanaman-tanaman ini, pada kebun zaitun, kebun anggur, dan kebun buah-buahanku, yang akan diperuntukkan bagi anak-anak miskin Allah, saudara-saudaraku... Tetapi sekarang karena Engkau ada di sini, angkatlah tangan-Mu yang terberkati dan berkatilah, supaya dengan makanan yang diberikan kepada tubuh, kekudusan yang terpancar dari-Mu dapat turun ke atas mereka yang memakannya."
"Ya, Nikodemus. Keinginanmu sungguh mulia dan beroleh perkenanan Surga." Dan Yesus merentangkan kedua tangan-Nya untuk memberkati.
"Oh! Tunggu! Biar aku panggil para petani!" dan dengan sebuah suitan ia bersiul tiga kali, dan suara melengking tersebar di udara yang tenang, menyebabkan para penuai, para pemungut gandum, dan orang-orang yang penasaran bergegas datang dari mana-mana. Suatu kerumunan kecil orang banyak...
Yesus merentangkan kedua tangan-Nya dan berkata: "Melalui kuasa Tuhan, seturut keinginan abdi-Nya, kiranya rahmat kesehatan, baik jiwa maupun raga, turun atas setiap bulir gandum, setiap buah anggur, buah zaitun, dan buah-buahan, dan kiranya semuanya berlimpah hasilnya dan menguduskan mereka yang memakannya dengan roh yang baik, bebas dari kecenderungan berbuat dosa dan kebencian, dan bersedia melayani Tuhan dengan menaati Kehendak ilahi-Nya yang sempurna."
"Terjadilah demikian," jawab Nikodemus, Andreas, Yakobus, Stefanus dan murid-murid lainnya...
"Terjadilah demikian," jawab orang banyak seraya berdiri, sebab mereka tadinya berlutut untuk diberkati.
"Hentikan kerja, sahabat-Ku. Aku ingin berbicara kepada mereka."
"Anugerah dalam anugerah. Terima kasih atas nama mereka, Guru!"
Mereka pergi ke bawah naungan sebuah kebun buah-buahan yang lebat dan menunggu kedatangan kesepuluh rasul yang sudah diutus ke rumah Nikodemus. Mereka tiba dengan terengah-engah dan kecewa sebab tidak bertemu Nikodemus di sana.
Kemudian Yesus mulai berbicara:
"Damai sertamu. Aku hendak menyampaikan sebuah perumpamaan kepadamu semua yang berdiri di sini di sekeliling-Ku, supaya masing-masing darimu bisa mengambil manfaat dari pengajaran dan dari bagian yang paling cocok untuknya. Dengarkanlah.
Seorang laki-laki mempunyai dua orang putra. Dia menghampiri yang sulung dan berkata, 'Nak, datang dan bekerjalah di kebun anggur bapamu hari ini.' Itu merupakan tanda kehormatan besar dari pihak sang bapa. Dia sesungguhnya beranggapan bahwa putranya mampu bekerja di mana bapanya sudah bekerja hingga saat itu. Dia dengan jelas melihat dalam diri putranya ada niat baik, ketekunan, kemampuan, pengalaman, dan kasih kepada orang tuanya. Tetapi si putra, yang pikirannya agak teralihkan oleh hal-hal duniawi dan yang takut dianggap sebagai pelayan - Iblis menggunakan khayalan macam itu untuk menjauhkan orang dari Yang Baik - takut diejek dan mungkin juga takut akan balas dendam musuh-musuh bapanya, yang tidak berani mengancam bapa tetapi tidak akan sungkan terhadap putranya, menjawab, 'Aku tidak mau pergi. Aku tidak mau melakukannya.' Sang bapa lalu menghampiri putra yang satunya, mengatakan kepadanya seperti yang sudah dikatakannya kepada si sulung. Dan putra bungsu menjawab: 'Ya, bapa, aku akan segera pergi.' Tetapi apakah yang terjadi? Putra sulung yang pikirannya jujur, sesudah sesaat lemah dalam pencobaan, sesaat pemberontakan, bertobat karena sudah memuakkan hati bapanya, dan tanpa mengatakan apa-apa dia pergi ke kebun anggur, di mana dia bekerja sepanjang hari hingga petang, lalu pulang dengan hati yang damai, sebab sudah memenuhi kewajibannya. Putra bungsu, sebaliknya, tidak jujur dan lemah, dia pergi keluar, itu memang benar, tetapi dia lalu menyia-nyiakan waktunya dengan berkeliaran di kota, melakukan kunjungan yang sia-sia kepada orang-orang berpengaruh dari siapa dia berharap mendapatkan keuntungan. Dan dia berkata dalam hati, 'Bapa sudah tua dan tidak akan meninggalkan rumah. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa aku sudah taat dan dia akan percaya....' Tetapi ketika petang tiba juga baginya dan dia pulang ke rumah, wajahnya yang menampakkan kebosanan seorang pengangguran, pakaiannya yang licin, dan cara menyapanya yang tidak pasti membuat bapanya mengamatinya dan membandingkannya dengan putra sulungnya. Si sulung, sesungguhnya, pulang dalam keadaan letih, kotor, kusut, tetapi bersuka hati dan tulus. Dia tampak rendah hati dan baik hati, seolah ingin mengatakan kepada bapanya, tanpa menyombongkan diri, bahwa bagaimanapun dia sudah menunaikan kewajibannya, 'Aku benar-benar mengasihimu, sebegitu rupa, hingga demi membuatmu bahagia aku menolak pencobaan.' Dan perbandingan itu berbicara jelas kepada sang bapa yang arif, yang memeluk putranya itu seraya berkata: 'Semoga engkau diberkati karena engkau sudah mengerti kasih!"
Jadi, bagaimana menurutmu? Yang manakah dari keduanya yang sudah mengasihi? Kamu pasti akan mengatakan, 'Dia yang melakukan kehendak bapanya.' Dan siapakah yang melakukannya? Putra yang sulung atau yang bungsu?"
"Yang sulung," jawab orang banyak itu serempak.
"Ya, yang sulung. Juga di Israel, dan kamu mengeluhkannya, di mata Allah, orang yang kudus bukanlah mereka yang menebah dada mereka seraya berseru, 'Tuhan! Tuhan!' tanpa benar-benar bertobat atas dosa-dosa mereka di dalam hati mereka - bahkan hati mereka semakin keras - juga orang yang kudus bukanlah mereka yang sok melakukan ritual supaya dianggap kudus, semantara secara pribadi mereka tidak memiliki amal kasih dan keadilan. Orang yang kudus bukanlah mereka yang memberontak terhadap Kehendak Allah Yang mengutus Aku, dan mereka menentangnya seolah-olah itu adalah kehendak Iblis, yang tidak akan terampuni. Orang-orang seperti itu bukanlah orang-orang yang kudus di mata Allah. Tetapi, orang yang kudus adalah mereka yang mengakui bahwa segala sesuatu yang Allah lakukan adalah baik, menerima Utusan Allah, dan mendengarkan sabda-Nya supaya dapat melakukan apa yang Bapa kehendaki dengan cara yang semakin baik: merekalah orang yang kudus dan dikasihi oleh Yang Mahatinggi. Dengan sungguh-sungguh Aku katakan kepadamu: orang-orang yang bodoh dan yang miskin, para pemungut cukai dan para pelacur akan pergi mendahului banyak orang yang disebut 'guru', 'berkuasa', 'kudus', dan mereka akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dan itu adil. Karena Yohanes datang kepada Israel untuk memimpinnya di jalan Keadilan dan terlalu banyak orang di Israel tidak percaya kepadanya - Israel yang menyebut dirinya 'yang terpelajar dan kudus' - tetapi para pemungut cukai dan para pelacur benar-benar percaya kepadanya. Dan Aku datang, dan orang-orang yang terpelajar dan kudus tidak percaya kepada-Ku, tetapi orang-orang yang miskin dan yang bodoh dan orang-orang berdosa benar-benar percaya kepada-Ku. Dan Aku telah mengerjakan mukjizat-mukjizat; dan mereka bahkan tidak mempercayainya, mereka juga tidak bertobat karena tidak percaya. Sebaliknya, mereka membenci-Ku dan orang-orang yang mengasihi-Ku. Nah, Aku katakan: 'Berbahagialah mereka yang bisa percaya kepada-Ku dan dengan demikian melakukan kehendak Allah, di dalam Siapa ada keselamatan kekal.' Tambahlah imanmu dan bertekunlah. Kamu akan memiliki Surga, karena kamu sudah tahu bagaimana mengasihi Kebenaran. Pergilah. Kiranya Allah selalu besertamu."
Dia memberkati mereka dan membubarkan mereka, lalu dengan berjalan di samping Nikodemus, Dia pergi menuju rumah murid-Nya itu untuk beristirahat selama jam-jam panas siang hari.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|
|||||
|
|