404. DI YOPE YESUS BERBICARA KEPADA YUDAS KERIOT
DAN KEPADA BEBERAPA ORANG BUKAN YAHUDI.             


20 September 1944      

Aku melihat Yesus duduk di halaman dalam sebuah rumah yang sederhana. Dia kelihatan amat letih. Dia duduk di bangku batu dekat sebuah sumur dengan tembok pembatas yang rendah yang di atasnya sebuah pergola hijau membentuk lengkungan. Berkas-berkas anggur baru mulai terbentuk. Bunga-bunganya pastilah baru saja rontok dan anggur-anggur yang sangat kecil seperti biji-biji millet bergantungan di tangkai-tangkai hijau yang kecil. Yesus menempatkan siku kanan-Nya pada lutut kanan-Nya dan dagu-Nya beristirahat pada lekukan tangan-Nya. Kadang-kadang, Dia meletakkan lengan-Nya yang terlipat di tepi sumur dan kepala-Nya di atas lengan-Nya, seolah-olah Dia ingin merasa lebih nyaman: seolah-olah Dia ingin tidur. Maka rambut-Nya kemudian terjuntai menutupi wajah-Nya yang, ketika terlihat, tampak pucat dan sedih; wajah yang dibingkai oleh rambut pirang kemerahan.

Seorang perempuan berjalan mondar-mandir, tangannya berlumuran tepung, dan dia berpindah dari sebuah ruangan dalam rumah ke ruangan yang lebih kecil di seberang halaman di mana pastinya tungku pembakaran berada. Dia menatap Yesus setiap kali dia lewat, tetapi dia tidak mengganggu-Nya. Hari sudah hampir senja, karena berkas-berkas sinar matahari yang menyinari atap teras menjadi semakin redup dan segera saja menghilang sepenuhnya.

Sekitar selusin merpati sambil berdekut hendak turun ke halaman untuk santapan terakhir. Mereka berputar-putar mengelilingi Yesus, seolah hendak memastikan siapa orang asing ini dan dengan curiga tidak berani mendarat di tanah. Yesus melupakan kekhawatiran-Nya dan tersenyum. Dia mengulurkan satu tangan, dengan telapak tangan menghadap ke atas, dan berkata, "Apa kamu lapar? Ayo!" seolah-olah Dia sedang berbicara kepada manusia. Seekor merpati yang paling berani hinggap di tangan-Nya, diikuti oleh dua ekor lainnya. Yesus tersenyum, "Aku tidak punya apa-apa," kata-Nya menjawab dekut permintaan mereka. Dia lalu memanggil dengan suara nyaring, "Perempuan? Merpati-merpatimu lapar. Apa kau punya jagung untuk mereka?"

"Ya, Guru. Ada di karung di bawah beranda. Aku akan segera datang."

"Tidak perlu. Aku yang akan memberikannya pada mereka. Aku suka melakukannya."

"Mereka tidak akan datang kepada-Mu. Mereka tidak mengenal-Mu."

"Oh! Mereka hinggap di pundak-Ku dan bahkan di kepala-Ku!..."

Sesungguhnya Yesus sedang berjalan dengan jambul yang aneh: seekor burung merpati timah, yang dadanya begitu berwarna-warni sehingga tampak seperti pelindung dada yang berharga.

Si perempuan menatap ke luar pintu dengan tidak percaya dan berseru, "Oh!"

"Lihat? Merpati lebih baik daripada manusia, perempuan. Mereka tahu siapa yang mengasihi mereka. Sedang manusia... tidak."

"Guru, lupakan apa yang sudah terjadi. Hanya sedikit orang yang membenci-Mu. Yang lainnya, jika tidak semuanya mengasihi-Mu, setidaknya mereka menghormati-Mu."

"Oh! Aku tidak akan berkecil hati karena itu. Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu bahwa binatang seringkali lebih baik daripada manusia."

Yesus telah membuka karung, Dia memasukkan tangan-Nya yang panjang ke dalamnya dan mengeluarkan butir-butir jagung keemasan, yang Dia tempatkan di lipatan pinggiran mantol-Nya. Dia menutup karung itu kembali dan pergi kembali ke halaman, dengan melindungi diri dari kawanan merpati yang menyerobot ingin mengambil sendiri makanannya. Dia membuka mantol-Nya dan menebarkan jagung ke lantai, dan tertawa melihat ketergesaan dan keributan burung-burung rakus itu. Santapan segera berakhir. Merpati-merpati itu minum dari piring cekung di dekat sumur dan kembali menatap Yesus.

"Pergilah sekarang. Aku tidak punya lagi."

Mereka terbang berputar-putar sejenak, bertengger di kedua bahu dan lutut Yesus, dan lalu kembali ke sarangnya. Yesus tenggelam dalam meditasi kembali.

Terdengar ketukan nyaring di pintu. Perempuan itu bergegas membukanya. Ternyata para murid.

"Kemarilah," kata Yesus. "Sudahkah kamu memberikan uangnya kepada fakir miskin?"

"Ya, Guru, sudah."

"Sampai receh terakhir? Ingatlah bahwa apa yang diberikan kepada kita bukanlah untuk kita, melainkan untuk diberikan dalam Amal Kasih. Kita orang miskin dan kita hidup dari belas kasihan orang-orang lain. Sungguh menyedihkan rasul yang mengeksploitasi misinya untuk tujuan manusia!"

"Dan jika suatu hari kita tidak punya roti dan kita dituduh melanggar Hukum karena kita meniru burung-burung pipit, yang melahap biji-biji jagung seperti yang mereka lakukan, apa yang akan kita lakukan?"

"Apa kau pernah kekurangan sesuatu, Yudas? Sesuatu yang esensial sejak kau bersama-Ku? Pernahkah kau pingsan kehabisan tenaga di tengah jalan?"

"Tidak, Guru."

"Ketika Aku berkata kepadamu: "Datanglah," apakah Aku menjanjikanmu kenyamanan dan kekayaan? Dan berbicara kepada mereka yang mendengarkan-Ku, pernahkah Aku mengatakan bahwa Aku akan memberi 'murid-murid-Ku' keuntungan di Bumi?"

"Tidak, Guru."

"Nah, Yudas? Kenapa engkau sudah begitu banyak berubah? Tidakkah kau tahu, tidakkah kau sadari bahwa ketidakpuasanmu dan ketidakpedulianmu menyedihkan-Ku? Tidakkah kau lihat bahwa ketidakpuasanmu juga mempengaruhi saudara-saudaramu? Mengapa, Yudas, sahabat-Ku, kau meninggalkan-Ku sekarang, padahal kau telah dipanggil untuk suatu takdir yang begitu agung, dan kau sudah datang kepada kasih-Ku dan kepada Terang-Ku dengan begitu antusias?"

"Guru, aku tidak meninggalkan-Mu. Akulah yang paling memperhatikan-Mu, kepentingan-Mu, kesuksesan-Mu. Aku ingin melihat-Mu berjaya di mana saja, percayalah."

"Aku tahu. Kau menginginkannya secara manusiawi. Itu hal yang luar biasa. Tapi Aku tidak menghendaki itu, Yudas, sahabat-Ku... Aku datang untuk sesuatu yang jauh lebih besar daripada kejayaan manusia dan kerajaan manusia... Aku datang bukan untuk memberi sahabat-sahabat-Ku remah-remah dari kejayaan manusia. Tapi Aku datang untuk memberimu ganjaran yang agung, substansial, dan berlimpah, ganjaran yang bukan lagi ganjaran, karena begitu sempurna: ganjaran yang adalah keikutsertaan dalam Kerajaan-Ku yang kekal, yang adalah kesatuan dalam hak anak-anak Allah... Oh! Yudas!

Mengapa kau tidak bersukacita atas warisan yang luhur mulia ini, yang diperoleh orang melalui penyangkalan diri, tetapi yang tidak mengenal penolakan?

Mendekatlah pada-Ku, Yudas. Lihat? Kita sendirian. Yang lain-lainnya sudah tahu bahwa Aku ingin berbicara kepadamu, sang penyalur... kekayaan-Ku, amal kasih yang diterima Putra Manusia, Putra Allah, untuk diberikan kepada mereka, atas nama Allah dan Manusia, kepada manusia. Dan mereka sudah undur diri ke dalam rumah. Kita sendirian, Yudas, di kala senja yang indah ini, ketika hati kita melayang ke rumah kita yang nun jauh, kepada ibunda kita, yang pastinya memikirkan kita, sementara menyiapkan makan malam mereka yang sunyi, dan membelai dengan tangan mereka tempat di mana kita biasa duduk di hadapan saat Tuhan ini, ketika Kehendak-Nya Yang Mahakudus membawa kita untuk membuat-Nya dikasihi dalam roh dan kebenaran.

Ibunda kita! BundaKu, begitu suci dan murni, Yang sangat mengasihimu semua dan berdoa untukmu, sahabat-sahabat YesusNya... BundaKu, Yang hanya memiliki damai ini saja, dalam kekhawatiran KeibuanNya sebagai Bunda Kristus: mengetahui bahwa Aku dikelilingi oleh kasihmu... Janganlah mengecewakan, janganlah melukai hati seorang Bunda, sahabat-sahabat-Ku terkasih. Janganlah menghancurkannya melalui tindakan jahat apa pun! Bundamu, Yudas. Bundamu, yang terakhir kali kita melewati Keriot tidak bisa berhenti memberkati-Ku dan ingin mencium kaki-Ku, karena dia bahagia bahwa Yudasnya berada dalam Terang Allah, dan dia biasa mengatakan kepada-Ku: 'Oh! Guru! Buatlah Yudasku kudus! Apakah yang dicari hati seorang ibu, selain kesejahteraan anaknya? Dan kesejahteraan apakah yang lebih baik daripada Kebaikan kekal?' Sungguh! Dan kesejahteraan apakah, Yudas, yang lebih besar daripada yang kepadanya Aku ingin menghantar kamu semua, dan yang dicapai orang dengan mengikuti Jalan-Ku? Bundamu adalah seorang perempuan kudus, Yudas. Seorang putri Israel sejati. Aku tidak mengizinkannya mencium kaki-Ku. Karena kamu adalah sahabat-sahabat-Ku dan karena dalam diri masing-masing bundamu, dalam diri setiap ibunda yang baik, Aku melihat BundaKu, Yudas. Dan Aku ingin kamu melihat dalam diri masing-masing bundamu sosok BundaKu, dengan takdir-Nya yang mengagumkan sebagai Penebus-Serta, dan Aku ingin kamu tidak berharap membunuh-Nya karena... karena kamu akan merasa bahwa kamu membunuh ibumu sendiri.

Yudas, jangan menangis. Kenapa menangis? Jika kau tidak merasakan penyesalan dalam hatimu sehubungan dengan bundamu atau BundaKu, mengapa mencucurkan air mata itu? Kemarilah, sandarkan kepalamu pada pundak-Ku dan ceritakan kekhawatiranmu kepada Sahabat-mu. Apa kau sudah berbuat salah? Apa kau merasa akan berbuat salah? Oh! jangan tinggal sendirian! Kalahkan Iblis dengan pertolongan Dia Yang mengasihimu. Aku Yesus, Yudas. Aku Yesus Yang menyembuhkan sakit penyakit dan mengusir setan-setan. Aku Yesus Yang menyelamatkan... dan Yang sangat mengasihimu, hingga Dia khawatir melihatmu begitu tak berdaya. Aku Yesus Yang mengajarkan untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali. Tetapi Aku, secara pribadi, mengampunimu bukan tujuh puluh kali, melainkan tujuh ratus, tujuh ribu kali... dan tidak ada kesalahan, Yudas, tidak ada kesalahan, Yudas, tidak ada kesalahan, Yudas, yang tidak Aku ampuni, yang tidak Aku ampuni, yang tidak Aku ampuni, jika orang berdosa yang bertobat itu berkata kepada-Ku: 'Yesus, aku sudah berdosa.' Bahkan lebih sedikit dari itu: jika dia hanya berkata: 'Yesus!' Dan bahkan lebih sedikit dari itu: jika dia hanya menatap-Ku dengan memohon. Dan orang-orang bersalah pertama yang Aku ampuni, tahukah kau, sahabat-Ku, siapa yang Aku ampuni? Mereka yang paling bersalah dan yang paling bertobat. Dan tahukah kau orang-orang paling pertama yang Aku ampuni? Mereka yang berdosa terhadap-Ku.

Yudas?... Tidak bisakah kau menemukan sepatah kata pun untuk menjawab Guru-mu?... Apa kesedihanmu begitu hebat hingga membuat lidahmu kelu? Apa kau takut Aku akan mencelamu? Jangan takut! Sudah sangat lama Aku ingin berbicara kepadamu seperti ini, dengan mendekapmu di hati-Ku, seperti sepasang bayi kembar dalam satu buaian, yang dilahirkan oleh ibu yang sama, nyaris satu daging saja, dua bayi yang mengisap secara bergantian puting susu hangat yang sama, masing-masing mencicip air liur saudaranya bersama dengan susu manis ibunya. Sekarang kau ada bersama-Ku dan Aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai kau mengatakan kepada-Ku bahwa Aku telah menyembuhkanmu. Jangan takut, Yudas. Aku ingin pengakuanmu. Tetapi teman-temanmu akan berpikir bahwa ini adalah percakapan antar sahabat, karena sesudahnya wajah kita akan begitu berseri-seri dengan damai dan kasih yang sama. Dan Aku akan membuat mereka semakin percaya, dengan mendekapmu di dada-Ku saat makan malam sore ini, mencelupkan roti-Ku sendiri ke dalam mangkuk untukmu dan memberikannya kepadamu seperti kepada seorang kesayangan, dan kau akan menjadi orang pertama yang akan Aku beri cawan, sesudah mengucap syukur kepada Allah. Kau akan menjadi raja perjamuan, Yudas. Dan kau akan benar-benar demikian. Kau akan menjadi Mempelai Perempuan dari Mempelai Laki-laki, wahai jiwa yang Aku kasihi, jika kau menjadi bersih dan bebas, dengan menyerahkan debumu pada pangkuan-Ku yang memurnikan.

Apa kau tidak mau menceritakan kesedihanmu kepada-Ku?"

"Engkau telah berbicara begitu baik hati kepadaku... tentang ibuku... tentang rumah... tentang kasih-Mu... Saat-saat lemah... Aku sangat lelah!... Dan selama beberapa waktu aku pikir Engkau tidak mengasihiku seperti itu..."  

"Tidak. Bukan begitu. Hanya satu dari apa yang kau katakan itu benar, yaitu bahwa kau lelah. Tapi kau tidak lelah karena jalanan, debu, matahari, lumpur, atau orang banyak. Kau lelah karena dirimu sendiri. Jiwamu lelah karena tubuhmu dan pikiranmu. Begitu lelahnya hingga ia akan berakhir padam karena kelelahan yang mematikan. Jiwa malang, yang telah Aku panggil kepada kecemerlangan yang abadi! Jiwa malang, yang menyadari kasih-Ku kepadamu dan yang mencelamu karena merenggutnya dari kasih-Ku! Jiwa malang, yang mencelamu dengan sia-sia-seperti Aku dengan sia-sia membelaimu-karena kau bertindak licik terhadap Guru-mu. Tapi bukan kau yang bertindak. Melainkan dia yang membencimu dan membenci-Ku. Itu sebabnya mengapa Aku katakan kepadamu: 'Jangan tinggal sendirian.' Sekarang, dengarkan. Kau tahu bahwa Aku menghabiskan sebagian besar malam-Ku dalam doa. Jika suatu hari kau merasakan keberanian sebagai seorang laki-laki dan kau ingin menjadi milik-Ku, datanglah kepada-Ku ketika teman-temanmu sedang tidur. Bintang-bintang, bunga-bunga, burung-burung adalah saksi yang bijak dan baik. Dan mereka bijaksana dan penuh belas kasih. Mereka dicekam kengerian atas kejahatan yang dilakukan di hadapan mereka, tetapi mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk mengatakan kepada manusia, 'Orang ini adalah Kain bagi saudaranya.' Apakah kau mengerti, Yudas?"

"Ya, Guru, aku mengerti. Tapi percayalah: aku hanya lelah dan sangat tersentuh hati. Aku mengasihi-Mu dengan sepenuh hatiku dan..."

"Baiklah. Itu sudah cukup."

"Maukah Engkau memberiku ciuman, Guru?"

"Ya, Yudas. Aku akan memberimu ciuman sekarang dan banyak lagi di waktu mendatang..."

Yesus menghela napas panjang, dalam duka. Namun Dia mencium pipi Yudas. Dia lalu menempatkan kepala Yudas di antara kedua telapak tangan-Nya, dan memegangnya erat-erat, di hadapan-Nya sendiri, hanya beberapa inci dari wajah-Nya, menatap padanya, mengamatinya, menembusinya dengan mata magnetis-Nya. Dan Yudas, seorang laki-laki yang terpuruk dan malang, tak bereaksi. Dia kelihatan tetap tanpa emosi sementara diamati. Dia hanya menjadi pucat dan menutup kedua matanya sesaat. Dan Yesus mencium kelopak matanya yang tertutup, bibirnya dan lalu hatinya, dengan menundukkan kepala-Nya untuk mencari hati murid-Nya... dan Dia berkata, 'Ini dia: untuk menghalau kabut, untuk membuatmu merasakan kebaikan Yesus dan meneguhkan hatimu.' Dia kemudian melepaskannya dan mengarahkan langkah-Nya menuju rumah, dengan diikuti oleh Yudas.   

"Engkau datang di saat yang tepat, Guru! Semuanya sudah siap. Kami hanya menunggu-Mu," kata Petrus.

"Yah. Aku berbicara kepada Yudas tentang banyak hal... Benar begitu, Yudas? Kita juga harus mengurus orang tua malang yang putranya tewas itu."

"Ah!" Yudas langsung memanfaatkan kesempatan baik itu untuk memulihkan diri sepenuhnya dan menghalau kecurigaan yang lain-lainnya, jika ada. "Ah! Engkau tahu, Guru? Kami hari ini dihentikan oleh sekelompok orang bukan Yahudi yang bersama dengan orang-orang Yahudi dari koloni Romawi di Yunani. Mereka mengajukan banyak pertanyaan. Kami menjawab sebisa mungkin. Kami jelas tidak bisa meyakinkan mereka. Tetapi, mereka baik kepada kita dan memberi banyak uang. Ini, Guru. Kita akan bisa berbuat banyak kebaikan dengannya." Dan Yudas mengeluarkan sebuah kantong uang yang besar dari kulit yang lembut yang mengeluarkan suara gemerincing saat diletakkan di atas meja. Ukurannya sebesar kepala seorang anak kecil.

"Baik, Yudas. Kau akan membagikan uang itu dengan adil. Apa yang ingin diketahui orang-orang bukan Yahudi itu?"

"Informasi tentang kehidupan di masa mendatang... apakah manusia memiliki jiwa dan apakah jiwa itu abadi. Mereka menyebutkan nama guru-guru mereka. Tapi... apakah yang bisa kami katakan?"

"Seharusnya kau katakan kepada mereka untuk datang."

"Kami mengatakannya. Mungkin mereka akan datang."

Mereka lanjut dengan bersantap malam. Yudas berada di dekat Yesus yang memberinya roti yang dicelupkan ke dalam saus di piring yang berisi daging panggang.

Mereka sedang menyantap buah zaitun hitam kecil ketika terdengar seseorang mengetuk pintu. Tak lama kemudian, nyonya rumah masuk dan berkata, "Guru, ada yang mencari-Mu."

"Siapa?"

"Orang-orang asing."

"Tapi itu tidak mungkin!", "Guru lelah!", "Dia sudah berjalan dan berbicara seharian!", "Pokoknya, ada orang-orang bukan Yahudi di rumah! Sekarang ini!" Keduabelas murid itu langsung ribut, seperti sarang lebah yang diusik.

"Ssst! Damai! Tidak masalah bagi-Ku mendengarkan mereka yang mencari Aku. Itu adalah relaksasi bagi-Ku."

"Mungkin ini jebakan! Pada jam seperti ini!..."

"Bukan. Bukan. Tenang dan beristirahatlah. Aku sudah beristirahat sementara menunggumu tadi. Aku akan pergi. Aku tidak akan memintamu ikut dengan-Ku... meskipun... meskipun Aku katakan kepadamu bahwa kepada bangsa-bangsa bukan Yahudilah kamu akan harus membawa Yudaisme-mu, yang tidak lain adalah kekristenan. Tunggu Aku di sini."

"Engkau hendak pergi sendirian? Tidak! Tidak akan pernah!" kata Petrus seraya berdiri.

"Diamlah di tempatmu. Aku akan pergi seorang diri."

Yesus keluar. Dia melongok dari pintu utama. Dalam cahaya senja, terlihat banyak orang laki-laki sedang mennunggu-Nya.

"Damai sertamu. Apakah kamu mencari Aku?"

"Salam, Guru," kata seorang laki-laki tua yang mengesankan. Dia mengenakan pakaian Romawi yang terlihat di balik mantel bundar pendek dengan tudung di kepalanya. "Kami berbicara dengan murid-murid-Mu tadi. Tetapi mereka tidak bisa mengatakan banyak kepada kami. Kami ingin berbicara dengan-Mu."

"Apakah kamu adalah orang-orang yang memberikan persembahan berlimpah itu? Terima kasih atas nama orang-orang miskin Allah." Yesus berbalik ke arah nyonya rumah dan berkata: "Perempuan, Aku akan pergi bersama orang-orang ini. Katakan kepada murid-murid-Ku untuk datang dan menemui-Ku dekat pantai karena, jika Aku tidak salah, orang-orang ini adalah pedagang dari pusat perdagangan..."

"Dan pelaut, Guru. Engkau benar."

Mereka semua pergi keluar bersama-sama menuju jalan utama yang terang di bawah cahaya bulan.

"Apakah kamu datang dari jauh?" Yesus berada di tengah-tengah kelompok dan di sebelah-Nya ada lak-laki tua yang tadi berbicara, seorang laki-laki tua tampan dengan profil Latin yang tajam. Di sisi lainnya ada seorang laki-laki tua lain yang romannya jelas seorang Yahudi. Di sekeliling mereka ada dua atau tiga orang kurus berkulit coklat, bermata cerah dan agak ironis, lalu ada beberapa orang yang lebih kekar dari berbagai usia: seluruhnya sekitar selusin orang.

"Kami datang dari koloni Romawi di Yunani dan Asia. Sebagian dari kami adalah orang-orang Yahudi, sebagian bukan Yahudi... Itulah sebabnya kami tidak berani datang... Tetapi, kami diyakinkan bahwa Engkau tidak memandang rendah orang-orang bukan Yahudi... seperti yang dilakukan orang-orang lain... Orang-orang Yudea fanatik itu, maksudku, orang-orang Israel itu, karena di tempat-tempat lain juga orang-orang Yudea tidak begitu fanatik. Sebenarnya, aku seorang Romawi yang menikah dengan seorang Yudea dari Likaonia, sedangkan dia ini, seorang Yahudi dari Efesus, menikah dengan seorang perempuan Romawi."

"Aku tidak memandang rendah siapa pun... Tetapi kita harus memaklumi mereka yang masih belum dapat berpikir bahwa: Karena hanya ada satu Sang Pencipta, maka semua manusia berasal dari keturunan yang sama."

"Kami tahu bahwa Engkau seorang yang hebat di antara para filsuf. Dan apa yang Engkau katakan menegaskan itu. Engkau seorang yang hebat dan baik."

"Orang yang baik adalah orang yang melakukan hal-hal yang baik. Bukan yang pandai berbicara."

"Engkau pandai berbicara dan melakukan hal-hal yang baik. Jadi, Engkau orang baik."

"Apa yang ingin kau ketahui dari-Ku?"

"Hari ini, maafkan kami, Guru, jika kami menjengkelkan-Mu dengan keingintahuan kami. Tetapi, ini adalah keingintahuan yang baik karena mencari Kebenaran dengan kasih... Hari ini kami ingin belajar dari murid-murid-Mu tentang kebenaran menyangkut suatu doktrin, yang sudah dinyatakan oleh para filsuf Yunani kuno dan yang Engkau, kata orang, khotbahkan kembali sekarang, dengan menjadikannya lebih ekstensif dan indah. Eunike, istriku, berbicara kepada beberapa orang Yudea yang sudah mendengarkan-Mu, dan dia mengulangi perkataan-Mu untukku. Eunike, Engkau tahu, adalah seorang Yunani dan terpelajar, dan dia mengenal perkataan orang-orang bijak dari negerinya. Dia mendapati adanya kemiripan antara perkataan-Mu dengan perkataan seorang filsuf hebat Yunani. Dan perkataan-Mu juga telah sampai ke Efesus. Dan ketika kami tiba di pelabuhan ini, sebagian untuk urusan bisnis dan sebagian untuk merayakan ritual, kami bertemu dengan teman-teman dan kami berbincang-bincang. Bisnis memang mengalihkan perhatian orang dari memikirkan juga hal-hal lain yang lebih luhur. Sesudah urusan dagang, kami berkesempatan untuk membicarakan kebimbangan kami. Engkau mengatakan bahwa jiwa itu kekal. Sokrates mengatakan bahwa jiwa itu abadi. Apakah Engkau mengenal perkataan-perkataan guru Yunani itu?"

"Tidak. Aku tidak belajar di sekolah-sekolah Romawi dan Atena. Tapi katakan saja pada-Ku. Aku toh akan dapat mengertimu. Aku tahu pemikiran filsuf Yunani itu."

"Sokrates, bertentangan dengan apa yang kami orang Romawi percayai, dan juga dengan apa yang orang Saduki pikirkan, menyatakan dan mempertahankan bahwa manusia memiliki jiwa dan jiwa itu abadi. Konsekuensinya, dia mengatakan bahwa kematian tak lain adalah kebebasan bagi jiwa yang keluar dari penjara ke tempat yang bebas, di mana jiwa bergabung dengan orang-orang yang dikasihinya dan di mana ia bertemu dengan orang-orang bijak yang kebijaksanaannya dikenalnya, serta orang-orang hebat, pahlawan, penyair, dan di mana jiwa tak lagi mendapati ketidakadilan atau kesedihan. Sebaliknya, di sana ada kebahagiaan abadi dalam kediaman penuh damai yang terbuka bagi jiwa-jiwa abadi yang hidup dalam keadilan. Bagaimana menurut-Mu, Guru?"

"Dengan sungguh-sungguh Aku katakan kepadamu bahwa guru Yunani itu, meskipun dalam kesalahan agama yang sesat, menyatakan kebenaran dengan mengatakan bahwa jiwa itu abadi. Sebagai seorang pencari kebenaran dan pencinta Keutamaan, dia mendengar Suara dari Allah yang tak dikenal yang berbisik di lubuk jiwanya: Suara Allah yang Sejati, Allah Yang Mahaesa: Bapa Yang Mahatinggi yang dari-Nya Aku datang untuk membawa manusia kepada Kebenaran. Manusia memiliki jiwa, yang Satu, Sejati, Abadi, Tuan, yang layak akan ganjaran dan hukuman. Jiwa itu sepenuhnya miliknya. Diciptakan oleh Allah, jiwa ditakdirkan dalam Pikiran Allah untuk kembali kepada Allah. Kamu, orang-orang bukan Yahudi, terlalu membaktikan dirimu pada pemujaan tubuhmu. Tubuh manusia sungguh suatu karya yang mengagumkan, di mana ada tanda Jari yang kekal. Kamu terlalu mengagumi pikiranmu; pikiran manusia adalah permata yang terkungkung dalam peti kepalanya darimana pikiran memancarkan sinar-sinar keluhurannya. Suatu karunia surgawi yang luhur dari Allah Sang Pencipta, Yang menciptakanmu seturut Pikiran-Nya sehubungan dengan sosokmu, yaitu, karya sempurna organ-organ dan anggota-anggota tubuh, dan Dia memberimu keserupaan dengan-Nya dengan Pikiran dan Roh-Nya. Tetapi kesempurnaan dari keserupaan itu ada dalam Roh. Karena Allah tidak memiliki anggota-anggota tubuh atau daging yang fana, Dia tidak tunduk pada sensualitas atau dorongan hawa nafsu. Tetapi Dia adalah Roh yang paling murni, Dia kekal, sempurna, tak berubah, tak kenal lelah dalam bertindak, terus-menerus menghidupkan dalam karya-Nya, yang dengan penuh kebapakan Dia sesuaikan dengan perjalanan kenaikan makhluk-Nya. Roh, yang diciptakan dalam diri semua manusia oleh Sumber kuasa dan kasih karunia yang sama, tidak berbeda dari kesempurnaan aslinya, tetapi ada banyak perbedaan begitu ia ditempatkan dalam tubuh. Hanya satu Roh yang tidak diciptakan dan paling sempurna, dan ia selalu seperti itu. Ada tiga roh yang diciptakan sempurna dan...'

"Engkau adalah salah satunya, Guru."

"Bukan Aku. Dalam tubuh-Ku, Aku memiliki Roh ilahi yang tidak diciptakan, tetapi lahir dari Bapa melalui limpahan Kasih. Dan Aku memiliki jiwa yang diciptakan bagi-Ku oleh Bapa, sebagaimana Aku adanya, sekarang, Sang Manusia. Suatu jiwa sempurna yang pantas bagi Manusia Allah. Tetapi Aku berbicara tentang roh-roh lain."

"Jadi, roh-roh yang mana?"

Kedua orang tua pertama darimana umat manusia diturunkan; mereka diciptakan sempurna dan kemudian mereka secara sukarela jatuh ke dalam ketidaksempurnaan. Yang ketiga, diciptakan untuk kesukaan Allah dan Semesta, terlalu tinggi bagi kemungkinan pikiran dan iman dunia saat ini untuk dinyatakan kepadamu. Roh-roh, seperti yang Aku katakan, diciptakan oleh Sumber yang sama dengan tingkat kesempurnaan yang sama, tunduk, melalui kehendak dan ganjaran mereka sendiri, pada metamorfosis ganda."

"Jadi, Engkau mengakui kehidupan yang kedua?"

"Hanya ada satu kehidupan. Di dalamnya, jiwa, yang pada mulanya diciptakan menurut keserupaan dengan Allah, beralih, melalui kebenaran yang dengan setia dipraktikkan dalam segala hal, menuju keserupaan yang lebih sempurna, Aku katakan, menuju ciptaan kedua dari dirinya, dengan mana ia berevolusi menuju keserupaan ganda dengan Pencipta-nya, menjadi mampu memiliki kekudusan, yang adalah kesempurnaan kebenaran dan keserupaan anak-anak dengan Sang Bapa. Kekudusan ditemukan dalam jiwa-jiwa terberkati, yaitu dalam diri mereka yang, menurut Sokrates-mu, hidup di Hades. Sebaliknya, Aku katakan bahwa ketika Kebijaksanaan telah mengucapkan sabdanya dan memeteraikannya dengan darahnya, mereka akan menjadi jiwa-jiwa terberkati di Firdaus, yaitu, di Kerajaan Allah."

"Dan di manakah mereka sekarang?"

"Di penantian."

"Akan apa?"

"Akan Kurban. Akan Pengampunan. Akan Pembebasan."

"Mereka mengatakan bahwa Mesias akan menjadi Sang Penebus, dan bahwa Engkau seperti itu... Benarkah?"

"Benar. Aku-lah Dia yang berbicara kepadamu."

"Jadi, Engkau akan harus mati? Mengapa, Guru? Dunia sangat membutuhkan Terang, dan Engkau hendak meninggalkannya?"

"Kau, yang seorang Yunani, menanyakan ini kepada-Ku? Kau, yang dipenuhi oleh perkataan Sokrates?"

"Guru, Sokrates adalah seorang yang benar. Engkau adalah seorang yang kudus. Bayangkan betapa Bumi membutuhkan kekudusan."

"Ia akan ditinggikan ke kuasa kesepuluh ribu untuk setiap sengsara, setiap luka dan setiap tetes Darah-Ku."

"Demi Jove [= Latin, Jupiter, kata seru yang biasa digunakan untuk mengungkapkan keterkejutan atau persetujuan ]! Tidak pernah ada seorang Stoic [individu yang mempraktikkan filosofi Stoikisme, yang mengajarkan ketenangan, ketahanan, dan pengendalian diri dalam menghadapi tantangan hidup] yang lebih besar dari-Mu, karena Engkau tidak hanya berkhotbah tentang memandang hina kehidupan, tetapi Engkau mempersiapkan Diri-Mu untuk mencampakkannya."

"Aku tidak memandang hina kehidupan. Aku mencintainya sebagai hal yang paling berguna untuk membeli keselamatan dunia."

"Tapi Engkau terlalu muda, Guru, untuk mati!"

"Filsufmu mengatakan bahwa apa yang kudus menyenangkan dewa-dewa, dan kau mengatakan bahwa Aku kudus. Jika Aku kudus, Aku pasti rindu untuk kembali kepada Kekudusan Darimana Aku berasal. Jadi, tidak pernah terlalu muda untuk memiliki kerinduan yang demikian. Sokrates juga mengatakan bahwa orang yang kudus suka melakukan hal-hal yang menyenangkan dewa-dewa. Adakah yang lebih menyenangkan selain dari memulihkan ke dalam pelukan Bapa anak-anak yang sudah terusir karena dosa, dan membuat manusia berdamai dengan Allah, sumber segala kekayaan?"

"Engkau katakan bahwa Engkau tidak mengenal perkataan Sokrates. Lalu, bagaimana mungkin Engkau tahu hal-hal yang Engkau katakan ini?

"Aku tahu segalanya. Pikiran manusia, ketika itu adalah pikiran yang baik, tak lain adalah refleksi dari pikiran-Ku. Ketika pikiran itu tidak baik, itu bukan pikiran-Ku, tetapi Aku telah membacanya dalam suksesi waktu dan Aku tahu (kemarin), Aku tahu (sekarang), dan akan tahu (esok), kapan pikiran itu ada (kemarin), (sekarang), dan akan diucapkan (esok). Aku tahu."

"Tuhan, datanglah ke Roma, terang dunia. Engkau dikelilingi oleh kebencian di sini. Engkau akan dikelilingi oleh penghormatan di sana."

"Ia akan mengelilingi manusia, bukan Sang Guru adikodrati. Aku datang untuk hal-hal yang adikodrati. Aku harus membawanya kepada anak-anak Umat Allah, meskipun mereka adalah yang paling keras kepala menentang Sabda."

"Jadi Roma dan Atena tidak akan memiliki-Mu?"

"Mereka akan memiliki-Ku. Jangan takut. Mereka akan memiliki-Ku. Mereka yang menginginkan-Ku akan memiliki-Ku."

"Tapi jika mereka hendak membunuh-Mu..."

"Roh itu kekal. Roh setiap manusia itu kekal. Bukankah Roh-Ku demikian juga, Roh Putra Allah? Aku akan datang dengan Roh-Ku yang aktif... Aku akan datang... Aku bisa melihat orang yang tak terbilang banyaknya dan Rumah-Rumah didirikan dalam Nama-Ku... Aku ada di mana-mana... Aku akan berbicara di katedral-katedral dan di dalam hati... Evangelisasi-Ku tak akan kenal istirahat... Injil akan menyebar ke seluruh penjuru Bumi... semua orang baik datang kepada-Ku... dan di sana... Aku berjalan di depan himpunan besar orang kudus-Ku dan Aku memimpin mereka ke Surga. Datanglah kepada Kebenaran..."

"Oh! Tuhan! Jiwa kami terkungkung dalam rumusan-rumusan dan kesesatan. Bagaimana kami bisa membuka pintu-pintunya?"

"Aku akan membuka pintu-pintu Neraka, Aku akan membuka pintu-pintu Hades-mu dan Limbo-Ku. Dan apakah Aku tidak akan bisa membuka pintu-pintu jiwamu? Katakan: 'Aku menginginkannya,' dan seperti gembok yang terbuat dari sayap kupu-kupu, gembok-gembok itu akan runtuh seolah-olah dilumatkan saat Sinar-Ku lewat."

"Siapakah yang akan datang dalam Nama-Mu?"

"Lihat laki-laki yang menuju kemari bersama seorang rekan lain yang usianya sedikit lebih tua dari seorang remaja? Mereka akan datang ke Roma dan ke seluruh dunia. Dan banyak lagi yang bersama mereka. Sama semangatnya seperti mereka sekarang, karena kasih-Ku yang mendorong mereka dan tiada memberi mereka istirahat selain berada di samping-Ku, mereka akan datang, demi mereka yang ditebus oleh Darah-Ku, untuk mengumpulkanmu dan memimpinmu kepada Terang. Petrus! Yohanes! Kemarilah. Kurasa Aku sudah selesai dan Aku bisa bersamamu. Adakah hal lain yang ingin kau katakan kepada-Ku?"

"Tidak ada, Guru. Kami akan pergi dengan membawa sabda-Mu bersama kami."

"Kiranya sabda itu bertumbuh dalam dirimu dengan akar-akar abadi. Pergilah. Damai sertamu."

"Salam, Guru."

Dan penglihatan pun berakhir....  




Yesus juga berkata kepadaku: "Apakah kau kecapaian? Suatu dikte yang melelahkan. Lebih merupakan dikte daripada penglihatan. Tetapi subyek ini diinginkan oleh orang-orang tertentu. Siapakah? Kau akan mengetahuinya pada Hari-Ku. Sekarang kau juga boleh pergi dalam damai."

Dari diriku sendiri aku ingin menambahkan bahwa percakapan antara Yesus dengan orang-orang non-Yahudi itu terjadi di sepanjang tepi laut sebuah kota pesisir. Di bawah sinar rembulan orang dapat melihat dengan sangat jelas ombak tenang yang menerjang bebatuan pemecah gelombang di sebuah pelabuhan besar yang sarat dengan kapal. Aku tidak bisa menyebutkan hal ini sebelumnya karena kelompok itu terus-menerus berbicara, dan jika aku menjelaskan tempat itu, aku akan kehilangan alur pembicaraan. Mereka berbicara sambil berjalan menyusuri bentangan panjang tepi laut dekat pelabuhan. Tempat itu sepi karena tidak ada penumpang dan para pelaut sudah kembali ke perahu, yang lampu-lampu merahnya terlihat bersinar bagai batu rubi di malam hari. Aku tidak tahu nama kota itu. Yang pasti kota itu indah dan penting (1).

(1) Itu adalah kota Yope, seperti disebutkan di akhir Bab 403.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama