403. MIKHAEL KECIL DAN KHOTBAH DEKAT EMAUS DI DATARAN.             


28 Maret 1946   

Dekat gerbang Emaus ada sebuah rumah para petani. Sunyi dan sepi, karena mereka semua berada di ladang, sedang bekerja. Berkas-berkas gandum dari hari sebelumnya sudah ditumpuk di lantai pengirikan. Dan jerami ditimbun di loteng gudang jerami pedesaan. Aroma hangat tercium dari jerami dan berkas-berkas gandum di bawah terik mentari tengah hari. Terkecuali dekut burung-burung merpati dan kicauan burung-burung pipit yang bergosip dan bertengkar, tak ada suara lain yang terdengar. Burung-burung merpati dan pipit, keduanya terbang tanpa henti dari atap atau pepohonan di dekat sana menuju tumpukan berkas-berkas gandum dan jerami, dan yang pertama di antara mereka akan menikmati hasil panenan, mereka mematuk bulir-bulir gandum yang kaku, mereka saling memukulkan kepak sayapnya, mereka berusaha merebut lebih banyak benih atau mencuri helai-helai jerami yang paling lembut, bagaikan para prajurit rakus yang tak bermoral. Mereka adalah satu-satunya pencuri di Israel, di mana aku melihat ada rasa hormat yang begitu besar terhadap milik orang lain. Rumah-rumah mungkin dibiarkan terbuka, dan lantai-lantai pengirikan serta kebun-kebun anggur tanpa dijaga! Selain dari mereka yang benar-benar perampok, para penyamun yang menyerang orang di ngarai-ngarai pegunungan, tidak ada pencuri kelas teri, bahkan tidak ada orang serakah yang mencuri buah atau merpati kecil milik orang lain. Setiap orang menempuh jalannya sendiri, dan bahkan ketika mereka berjalan melewati properti tetangga, mereka seolah tidak punya mata atau tangan. Memang benar bahwa keramah-tamahan begitu luas dipraktikkan, sehingga orang tidak perlu mencuri untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Hanya sehubungan dengan Yesus, dan karena kebencian yang begitu getir hingga mendorong orang mengabaikan kebiasaan lama untuk bersikap ramah kepada para peziarah, hanya sehubungan dengan-Nya rumah-rumah menolak memberikan keramah-tamahan dan makanan. Namun, secara umum, mereka punya rasa iba kepada orang-orang lain, dan khususnya kelas bawah biasa melakukannya.

Maka, sesudah mengetuk pintu dan tak ada jawaban, para rasul tanpa rasa sungkan mengambil tempat bernaung di sebuah lumbung, di mana ada peralatan pertanian dan bejana-bejana kosong dan, seakan-akan semuanya milik sendiri, mereka mengambil jerami untuk alas duduk, ember untuk menimba air dari sumur, dan bejana untuk minum, dan lalu membasahi roti mereka yang sudah tidak segar lagi dan daging domba dingin, yang mereka santap nyaris dalam keheningan, sebab mereka begitu mengantuk dan klenger oleh terik matahari. Dan dengan tanpa rasa sungkan yang sama seperti mereka menggunakan jerami dan bejana, mereka membaringkan diri di atas jerami yang harum, dan segera saja terdengar paduan suara dengkuran yang bervariasi nada dan durasinya.

Yesus juga letih. Lebih dari sekadar letih, Dia sedih. Dia memandang sejenak para rasul yang sedang tidur. Dia berdoa dan berpikir... Dia berpikir sementara mata-Nya secara mekanis mengikuti burung-burung pipit yang bertengkar, dan burung-burung merpati, dan burung-burung layang-layang yang beterbangan di lantai pengirikan yang cerah. Teriakan para jago terbang yang gesit itu seakan-akan merupakan jawaban positif yang tegas atas pertanyaan-pertanyaan pedih yang Yesus ajukan kepada Diri-Nya sendiri. Kemudian Dia berbaring di atas jerami juga, dan kedua mata safir-Nya yang indah dan sedih segera tertutup oleh kedua kelopak mata-Nya. Dan wajah-Nya tiada bergerak dalam tidur, dan mungkin karena Dia tertidur dengan hati yang berat, raut wajah-Nya sama letih dan pedihnya seperti saat wafat-Nya kelak...

Para petani pemilik rumah sudah kembali: para lelaki, para perempuan, dan anak-anak. Dan para murid yang terlihat sebelumnya ada bersama mereka. Mereka melihat Yesus dan para rasul-Nya tidur di atas jerami, dan mereka pun merendahkan suaranya menjadi bisikan agar tidak membangunkan orang. Beberapa ibu memukul ringan anak-anak mereka yang tidak mau diam, atau mereka mengancam akan melakukannya supaya anak-anak diam.

Seorang anak kecil, dengan langkah-langkah seperti seekor merpati kecil dan dengan jari di mulutnya, menghampiri Yesus dan mengamati-Nya - "Dia yang paling baik," katanya -sementara Yesus tidur dengan kepala-Nya beralaskan kedua lengan-Nya yang terlipat sebagai bantal. Dan semua yang lain, bertelanjang kaki, akhirnya menirunya dengan berjinjit-jinjit, Matias dan Yohanes adalah yang pertama, dan mereka begitu tersentuh hatinya melihat Yesus tidur di atas jerami dan Matias berkata, "Seperti dalam tidur-Nya yang pertama... Dia sekarang... Guru kita, tetapi tidak sebahagia kala itu... Dia merindukan BundaNya juga..."

"Ya. Hanya penganiayaan yang selalu dekat dengan-Nya. Tapi kita akan selalu mengasihi-Nya, kita sudah selalu mengasihi-Nya seperti dulu kita mengasihi-Nya..." jawab Yohanes.

"Bahkan lebih lagi, Matias. Jauh lebih lagi. Dulu kita mengasihi-Nya hanya karena iman dan karena sungguh menyenangkan mencintai seorang bayi. Tapi sekarang kita mengasihi-Nya juga karena kita mengenal-Nya..."

"Dia sudah dibenci sejak Dia masih bayi, Yohanes. Ingat apa yang mereka lakukan untuk membunuh-Nya!..." dan Matias menjadi pucat pasi teringat itu.

"Itu benar... Tetapi terberkatilah dukacita itu! Kita kehilangan segalanya kecuali Dia. Dan itulah yang terpenting. Apa gunanya bagi kita jika kita masih mempunyai sanak saudara, rumah kita, dan harta milik kita yang sedikit itu, jika Dia mati?"

"Itu benar. Kau benar, Matias. Dan apa gunanya bagi kita memiliki seluruh dunia, jika Dia tidak akan ada lagi di dunia?"

"Jangan katakan... Maka kita akan benar-benar merana... Kamu semua boleh pergi. Kami akan tinggal di sini, dekat Guru," kata Yohanes membubarkan para petani.

"Kami menyesal tidak pernah terpikir oleh kami untuk memberi mereka kunci rumah. Mereka pasti akan bisa masuk dan akan bisa lebih nyaman..." kata laki-laki tertua di keluarga itu.

"Kami akan mengatakannya pada-Nya... Tapi Dia akan senang juga karena kasihmu. Pergilah sekarang..."

Para petani pulang ke rumah dan asap yang membubung dari cerobong asap memberitahukan kepada semua orang bahwa mereka sedang mempersiapkan makanan. Namun, mereka melakukannya dengan hati-hati, sambil mengawasi anak-anak, berusaha tidak bersuara... dan begitu juga, tanpa suara mereka membawa makanan kepada para murid dan berbisik, "Kami sudah menyisihkan makanan untuk mereka... saat mereka bangun."

Kemudian kesunyian menyelimuti rumah itu kembali. Mungkin para penuai, yang sudah bekerja sejak fajar, sedang berbaring di pembaringan mereka untuk beristirahat selama jam-jam ini, saat mustahil untuk tetap berada di ladang di bawah terik matahari. Para murid juga sedang tidur ayam... Dan burung-burung merpati serta burung-burung pipit juga beristirahat... Hanya burung-burung layang-layang yang terus melesat tanpa kenal lelah, dan terbang pesat mereka menorehkan gurat biru di langit dan gurat bayang-bayang di lantai putih pengirikan...

Si kecil yang kita lihat beberapa saat yang lalu, yang kini tampak elok dalam balutan bajunya yang sangat pendek, satu-satunya pakaian yang dikenakannya di saat yang terik ini, menjulurkan kepala mungilnya yang berambut gelap dari pintu dapur, mengamati dengan saksama, lalu melangkah maju dengan hati-hati dengan kaki-kaki mungilnya yang lembut yang terasa sakit menjejak di tanah yang panas. Kemeja kecilnya yang longgar nyaris terlepas dari bahunya yang montok. Ia mencapai para murid dan mencoba melangkahi mereka untuk melihat Yesus sekali lagi. Namun, kaki-kaki mungilnya terlalu pendek untuk melangkahi tubuh-tubuh kekar orang dewasa, dan ia tersandung jatuh menimpa Matias yang terbangun dan melihat wajah kecil si anak yang ketakutan, siap menangis. Matias tersenyum dan mengerti alasan manuver si kecil, dia berkata, "Kemarilah, aku akan menempatkanmu di antara Yesus dan aku. Tapi kamu harus diam dan tenang. Biarkan Dia tidur, sebab Dia lelah."

Dan bocah itu duduk dengan gembira, mengagumi wajah Yesus yang rupawan. Ia memandangi-Nya, mengamati-Nya, dan sangat ingin membelai-Nya dan menyentuh rambut pirang-Nya. Namun, Matius tersenyum waspada dan tidak mengizinkannya. Bocah itu kemudian bertanya dengan suara pelan, "Apakah Dia selalu tidur seperti itu?"

"Selalu seperti itu," jawab Matias.

"Apa Dia lelah? Kenapa?"

"Karena Dia sangat banyak berjalan dan berbicara."

"Kenapa Dia berbicara dan berjalan?"

"Untuk mengajar anak-anak menjadi baik dan mengasihi Tuhan supaya bisa pergi ke Surga bersama-Nya."

"Di atas sana? Bagaimana caranya? Jauh sekali..."

"Jiwamu, kamu tahu apa itu jiwa?"

"Tidak!"

"Jiwa adalah hal terindah yang kita miliki, dan..."

"Lebih indah dari mata kita? Kata ibuku, mataku adalah dua bintang. Bintang itu indah, kau tahu?!"

Sang murid tersenyum dan menjawab, "Lebih indah daripada bintang-bintang kecil di matamu, karena jiwa yang baik lebih indah daripada matahari."

"Oh! Di mana itu? Di mana aku mendapatkannya?"

"Di sini. Di dalam hati kecilmu. Dan ia mendengar dan melihat segalanya, dan ia tidak pernah mati. Dan ketika seseorang tidak pernah jahat dan dia mati sebagai seorang benar, jiwanya terbang ke sana, bersama Tuhan."

"Bersama Dia?" dan anak itu menunjuk ke arah Yesus.

"Bersama Dia."

"Tapi apakah Dia memiliki jiwa?"

"Dia memiliki jiwa dan keallahan. Karena Orang yang kau lihat itu adalah Allah."

"Bagaimana kau tahu? Siapa yang memberitahumu?"

"Para malaikat."

Anak laki-laki itu, yang bersandar pada Matias, tidak dapat menerima berita itu dengan tenang, dan ia melompat berdiri seraya bertanya, "Apa kau melihat malaikat?" dan ia menatap Matias dengan mata besarnya terbuka lebar. Berita itu begitu menakjubkan hingga sesaat ia lupa akan Yesus dan dengan demikian ia tidak melihat bahwa Dia setengah membuka mata-Nya, terbangun oleh seruan si anak. Yesus menutup mata-Nya kembali seraya tersenyum dan memalingkan kepala-Nya ke sisi yang lain.

"Diamlah! Lihat? Kau membangunkan-Nya... Aku akan menyuruhmu pergi."

"Aku akan baik. Tapi seperti apa malaikat itu? Kapan kau melihatnya?" Suaranya kembali berbisik.

Dan Matias dengan sabar menceritakan kepada si bocah, yang duduk kembali dengan terpesona dan bersandar pada dadanya, apa yang terjadi pada Malam Natal. Dan dia dengan sabar menjawab semua pertanyaan si bocah, "Kenapa Dia dilahirkan di kandang? Apa Dia tidak punya rumah? Apa Dia sangat miskin sampai Dia tidak bisa mendapatkan rumah? Apa Dia sudah punya rumah sekarang? Apa Dia tidak punya Bunda? Di mana BundaNya? Kenapa BundaNya meninggalkan-Nya sendirian, karena BundaNya tahu bahwa mereka ingin membunuh-Nya? Apa BundaNya tidak mengasihi-Nya?..." Berondongan pertanyaan dan satu jawaban. Dan yang terakhir - yang dijawab Matias, "BundaNya yang kudus sangat mengasihi Putra IlahiNya, tetapi Dia berkurban melalui dukacita-Nya dengan membiarkan PutraNya pergi berkeliling, supaya manusia bisa diselamatkan. Dan demi menghibur Diri-Nya sendiri Dia beranggapan bahwa masih ada orang-orang baik yang bisa mengasihi-Nya" - yang ditanggapi dengan, "Apa BundaNya tidak tahu bahwa ada anak-anak yang baik yang mengasihi-Nya? Di mana BundaNya? Katakan, karena aku akan pergi dan mengatakan kepada-Nya, 'Jangan menangis. Aku akan memberikan seluruh kasihku kepada PutraMu.' Bagaimana menurutmu? Apa Dia akan senang?"

"Sangat senang, anakku," kata Matias seraya menciumnya.

"Dan apakah Dia akan senang?"

"Ya, sangat senang. Kau katakan kepada-Nya saat Dia bangun."

"Oh! Ya!... Tapi kapan Dia akan bangun?" Bocah itu sangat antusias...

Yesus tak dapat menahan diri lagi. Dia berbalik, dengan kedua mata-Nya terbuka lebar dan seulas senyum cerah, dan Dia berkata: "Kau sudah mengatakannya kepada-Ku, karena Aku sudah mendengar semuanya. Kemarilah, Nak."

Oh! Si bocah tidak perlu disuruh dua kali dan ia menghambur ke pelukan Yesus. Ia membelai dan mencium-Nya, menyentuh kening-Nya, alis mata-Nya yang keemasan, dan kelopak mata-Nya dengan jari mungilnya, menatap dirinya dalam mata biru-Nya, menggosok-gosokkan dirinya pada janggut-Nya yang lembut dan rambut-Nya yang halus, seraya mengulang di setiap kali penemuan, "Betapa indahnya Engkau! Indah! Indah!" Yesus dan Matias tersenyum.

Kemudian ketika yang lain-lainnya terbangun, karena si bocah tidak terlalu berhati-hati lagi sekarang untuk tidak membuat keributan, para murid dan rasul tersenyum melihat pemeriksaan yang sangat akurat oleh bocah kecil yang masih ingusan, setengah telanjang, montok, yang bergerak riang naik turun pada tubuh Yesus, mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dan berakhir dengan berkata, "Berbaliklah!" dan ia menjelaskan mengapa: "untuk melihat sayap-Mu," dan ketika dia kecewa, dia bertanya, "Kenapa Engkau tidak punya sayap?"

"Aku bukan malaikat, anak-Ku."

"Tapi Engkau adalah Allah! Bagaimana Engkau bisa jadi Allah jika Engkau tidak penuh sayap? Bagaimana Engkau bisa naik ke Surga?"

"Aku Allah. Justru karena Aku Allah, Aku tidak butuh sayap. Aku melakukan apa pun yang Aku mau, dan Aku bisa melakukan segalanya."

"Baiklah, kalau begitu, buatlah mataku seperti mata-Mu. Mata-Mu indah."

"Tidak. Aku memberimu mata yang kau punyai itu dan Aku menyukainya seperti itu. Sebaliknya, mintalah kepada-Ku untuk membuat jiwamu benar, supaya kau bisa semakin mengasihi-Ku."

"Kau juga yang memberiku jiwa itu, jadi Kau pasti menyukainya seperti itu," jawab si kecil dengan logika kekanak-kanakan.

"Ya, Aku sangat menyukainya sekarang karena ia tidak berdosa. Tapi sementara matamu akan selalu berwarna seperti zaitun yang masak, jiwamu bisa berubah dari putih menjadi hitam, jika kau jahat."

"Tidak, tidak jahat. Aku mengasihi-Mu dan aku ingin melakukan apa yang dikatakan para malaikat saat Kau lahir: "Damai bagi Allah di surga dan kemuliaan bagi manusia yang memiliki kehendak baik," kata bocah itu secara keliru, yang membuat orang-orang dewasa tertawa terbahak-bahak, dan si kecil yang malu terdiam.

Namun Yesus menghiburnya seraya mengoreksinya: "Allah selalu Damai, anak-Ku. Dia adalah Damai. Tetapi para malaikat memuliakan-Nya karena Sang Juruselamat telah lahir dan mereka memberi manusia aturan utama untuk memperoleh damai, yang datang dari kelahiran-Ku: 'memiliki kehendak baik'. Itu yang kau inginkan."

"Ya, berikan itu padaku. Taruhlah di sini, di mana orang itu katakan aku memiliki jiwaku," dan dengan telunjuknya ia menebah dada mungilnya beberapa kali.

"Ya, sahabat kecilku. Siapa namamu?"

"Mikhael!"

"Nama Malaikat Agung yang perkasa. Baiklah, Aku memberimu kehendak baik, Mikhael. Kiranya kau menjadi seorang pengaku iman akan Allah yang benar, yang mengatakan kepada para penganiaya apa yang dikatakan malaikat pelindungmu: 'Siapakah yang seperti Allah?' Kiranya engkau diberkati sekarang dan selamanya," dan Dia menumpangkan tangan-Nya ke atasnya.

Namun, si kecil tidak yakin. Ia berkata, "Tidak, ciumlah aku di sini. Pada jiwaku. Dan berkat-Mu akan masuk ke dalamnya dan akan tetap tersimpan di dalamnya." Ia pun membuka dadanya untuk dicium tanpa sehelai benang pun yang menghalangi antara tubuhnya dan bibir ilahi Yesus.

Semua yang ada di sana tersenyum sekaligus tersentuh hatinya. Dan memang benar! Iman yang mengagumkan dari seorang anak kecil yang tak berdosa, yang telah datang kepada Yesus, sebagian orang mungkin katakan melalui insting, tetapi aku katakan: didorong oleh jiwanya, sungguh menyentuh hati, dan Yesus menunjukkannya dengan berkata, "Ah! Seandainya setiap orang memiliki hati seorang anak!..."

Sementara itu jam-jam sudah berlalu. Rumah menjadi sibuk kembali. Suara para perempuan, anak-anak, dan laki-laki terdengar. Seorang ibu memanggil, "Mikhael! Mikhael! Di mana kau?" dan dia muncul di pintu, dan dengan ketakutan di matanya dia menatap sumur rendah dengan pikiran ngeri di hatinya.

"Jangan takut, perempuan. Putramu ada bersama-Ku."

"Oh! Aku takut... Dia sangat suka bermain air..."

"Dan sesungguhnya dia datang kepada Air Hidup yang turun dari Surga untuk memberikan Hidup kepada manusia."

"Dia sudah merepotkan-Mu... Tapi dia pergi dengan begitu diam-diam hingga aku tidak mendengarnya..." kata perempuan itu meminta maaf.

"Oh! Tidak! Dia tidak mengganggu-Ku. Dia menghibur-Ku! Anak-anak tidak pernah menyusahkan Yesus."

Para lelaki dan perempuan lainnya menghampiri Yesus. Kepala keluarga berkata, "Masuklah dan bersantaplah. Dan maafkan kami sebab kami tidak menjadikan-Mu tuan rumah kami saat pertama kali kami melihat-Mu..."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku sudah merasa sangat nyaman di sini. Aku merasa terhormat atas rasa hormatmu. Ada pada kami makanan, dan sumurmu sejuk dan jeramimu empuk. Itu lebih dari yang dibutuhkan Putra Manusia. Aku bukan seorang satrap Aram."

Yesus, dengan diikuti para rasul-Nya, memasuki dapur yang luas untuk mengambil makanan sementara para lelaki mempersiapkan tempat pengirikan guna menyediakan ruang bagi mereka yang sudah datang dari segala penjuru untuk mendengarkan Sang Guru, sedangkan yang lain-lainnya sibuk menyiapkan makanan dan minuman, dan menguliti seekor domba kecil untuk diberikan kepada para penginjil sebagai bekal perjalanan mereka. Beberapa perempuan membawa telur dan mentega, yang memicu protes Petrus yang dengan benar mengatakan bahwa mentega tidak bisa dibawa dalam tas kain mereka karena akan langsung meleleh jika terkena panas. Tetapi, bejana bisa berguna... Dan para perempuan mengisi satu bejana dengan mentega, yang mereka tutup dan turunkan ke dalam sumur agar tetap bisa sedingin mungkin.

Yesus berterima kasih kepada mereka dan ingin membatasi pemberian. Mustahil! Dia membuang-buang tenaga. Malahan lebih banyak pemberian datang dari mana-mana dan semua orang meminta maaf karena memberi begitu sedikit...

Petrus berbisik, "Jelas terlihat bahwa para gembala pernah ke sini. Tanah yang bertobat... tanah yang subur."

Lantai pengirikan penuh sesak dengan orang-orang yang tak gentar meski hari masih panas dan berkas-bekas terakhir matahari menyinari lantai.

Yesus mulai berbicara, "Damai sertamu! Aku tidak akan mengulangi apa yang sudah kamu ketahui, karena Aku lihat bahwa ajaran Guru Israel sudah dikenal di sini, melalui karya murid-murid-Ku yang baik. Aku memberikan kepada mereka kemuliaan dan tugas untuk mengajarmu dan melakukannya lebih dan lebih lagi guna membuatmu benar-benar yakin bahwa Aku adalah Dia yang Dijanjikan oleh Allah, dan bahwa Sabda-Ku berasal dari Allah."

"Dan mukjizat-mukjizat-Mu berasal dari Allah, semoga Engkau diberkati!" teriak seorang perempuan dari tengah kerumunan khalayak ramai, dan banyak orang berpaling ke arahnya. Perempuan itu mengunjukkan seorang anak laki-laki yang kemerah-merahan dan tersenyum, dan dia berteriak, "Guru, ini adalah Yohanes kecil yang Engkau sembuhkan di Air Jernih. Anak kecil yang kedua kakinya patah tulang dan tak seorang dokter pun dapat menyembuhkannya, dan aku membawanya kepada-Mu dengan iman, dan Engkau menyembuhkannya, dan Engkau menggendongnya di pangkuan-Mu."

"Aku ingat, perempuan. Imanmu pantas mendapatkan mukjizat itu."

"Imanku bertambah, Guru. Semua kerabatku percaya kepada-Mu. Pergilah, nak, dan bersyukurlah kepada Sang Juruselamat. Biarkan dia pergi kepada-Nya..." pinta perempuan itu.

Dan orang banyak pun membuka jalan untuk membiarkannya lewat, dan ia berlari kepada Yesus, kedua tangannya terentang untuk memeluk-Nya. Mereka saling berpelukan di tengah sorak-sorai Hosana dan komentar-komentar warga kota dan orang-orang asing, karena orang-orang desa itu sudah mengenal hal-hal seperti itu dan tidak heran.

Yesus melanjutkan berbicara seraya menggandeng tangan si bocah.

"Dan demikianlah seorang ibu yang bersyukur sudah meneguhkan Kodrat-Ku dan kuasa iman di hati Allah, Yang tidak pernah mengecewakan permohonan yang benar dan penuh percaya dari anak-anak-Nya.

Aku memintamu untuk mengingat Yudas Makabe ketika dia muncul di dataran ini untuk mempelajari perkemahan Gorgias yang tangguh, yang terdiri dari lima ribu orang pasukan jalan dan seribu orang pasukan berkuda yang perkasa, semuanya terlatih untuk berperang, dilindungi dengan baik oleh baju zirah, senjata, dan menara-menara perang. Yudas mengawasi bersama tiga ribu orang pasukannya yang tidak memiliki baik perisai maupun pedang, dan dia dapat merasakan rasa takut menyusup ke dalam hati para prajuritnya. Dia kemudian berbicara dengan tegas tentang hak yang disetujui oleh Allah, karena hak tersebut tidak ditujukan untuk menyalahgunaan kekuasaan, tetapi untuk mempertahankan Tanah Air mereka yang diserbu dan dicemarkan. Dan dia berkata: 'Jangan takut karena jumlah mereka yang besar itu dan jangan cemas terhadap serangan mereka! Ingatlah bagaimana nenek moyang kita diselamatkan di dekat Laut Merah ketika dikejar oleh Firaun dengan bala tentaranya.' Dan sesudah membangkitkan kembali iman mereka akan kuasa Allah, Yang selalu berpihak pada orang-orang benar, dia mengajarkan kepada mereka bagaimana mendapatkan pertolongan. Dia berkata: 'Sekarang marilah kita menaikkan suara kita ke Surga, dan Tuhan akan berbelas kasihan kepada kita, dan mengingat perjanjian-Nya dengan nenek moyang kita, Dia akan menggempur bala tentara yang di hadapan kita itu pada hari ini juga, dan sekalian bangsa akan mengetahui dengan pasti bahwa ada Juruselamat Yang membebaskan Israel."

Sekarang, Aku akan menunjukkan kepadamu dua poin utama agar Allah menyertaimu, untuk membantumu dalam perbuatan-perbuatan benar. Pertama: untuk menjadikan-Nya sebagai sekutumu, kamu harus memiliki jiwa benar leluhur kita. Ingatlah kekudusan dan ketaatan serta merta para patriark kepada Tuhan, entah itu mengenai perintah yang sangat penting ataupun yang kurang penting. Ingatlah kesetiaan dengan mana mereka tetap setia kepada Tuhan. Kita di Israel berkeluh kesah dengan getir bahwa Tuhan tidak lagi sebaik dulu kepada kita seperti di masa lampau. Tetapi apakah Israel memiliki roh leluhurnya? Siapakah yang mengingkari dan berulang kali mengingkari persekutuan dengan Bapa?

Poin utama kedua agar Allah menyertaimu: kerendahan hati. Yudas Makabe adalah seorang Israel yang agung, ia adalah seorang perwira yang gagah berani. Namun dia tidak mengatakan, 'Aku akan menggempur bala tentara itu pada hari ini juga dan sekalian bangsa akan mengetahui bahwa akulah juruselamat Israel.' Tidak. Dia mengatakan, "Dan Tuhan akan menggempur bala tentara yang di hadapan kita itu, karena kita tidak mampu melakukannya, sebab kita ini lemah.' Oleh karena Allah adalah Bapa dan Dia memelihara anak-anak kecil-Nya, dan untuk mencegah mereka binasa, Dia mengirimkan pasukan-Nya yang perkasa untuk melawan musuh anak-anak-Nya dengan senjata yang dahsyat. Jika Allah beserta kita, siapakah yang bisa mengalahkan kita? Selalu camkan itu dalam benakmu, sekarang dan bahkan terlebih lagi di masa mendatang, ketika mereka akan berusaha menaklukkanmu, dan bukan dalam perkara-perkara yang relatif penting, seperti pertempuran nasional, tetapi dalam perkara-perkara yang memiliki kepentingan lebih luas, baik dalam hal waktu maupun konsekuensinya, yang menyangkut jiwamu. Janganlah kamu diliputi oleh rasa cemas atau kesombongan. Keduanya berbahaya. Allah akan menyertaimu jika kamu dianiaya karena Nama-Ku, dan Dia akan memberimu kekuatan dalam penganiayaan. Allah akan menyertaimu jika kamu rendah hati, jika kamu mengakui bahwa dari dirimu sendiri kamu tidak bisa berbuat apa-apa, sementara kamu bisa melakukan segala sesuatu jika kamu bersatu dengan Bapa.

Yudas tidak menyombongkan diri dengan mengenakan pada dirinya gelar Juruselamat Israel. Tetapi, dia memberikan gelar itu kepada Bapa yang Kekal. Sesungguhnya, manusia menyibukkan diri dalam kesia-siaan, jika Allah tidak membantu upaya mereka. Sementara, dia menang tanpa perlu menyibukkan diri, yakni dia yang percaya kepada Tuhan, Yang tahu kapan saat yang tepat untuk mengganjari orang dengan kemenangan, dan kapan saat yang tepat untuk menghukum orang dengan kekalahan. Bodohlah orang yang hendak menghakimi Allah, menasihati atau mengkritik-Nya. Dapatkah kamu bayangkan seekor semut, yang sedang mengamati pekerjaan seorang pemahat marmer, berkata, 'Kamu tidak cakap melakukan itu. Aku bisa melakukannya lebih baik dan lebih cepat daripadamu'? Ia yang hendak mengajari Allah, sosoknya sama buruknya seperti itu. Dan pada sosoknya yang menggelikan itu, ia menambahkan rasa tidak tahu berterima kasih dan kesombongan, lupa siapa dirinya: ciptaan, dan siapa Allah: Sang Pencipta. Nah, jika Allah menciptakan suatu makhluk yang begitu sempurna, siapakah yang bisa berpikir bahwa ia dapat menasihati Allah Sendiri, seperti apakah kesempurnaan Sang Pencipta segala ciptaan? Pikiran sederhana itu seharusnya cukup untuk mengenyahkan kesombongan, menghancurkan tanaman setan yang jahat itu, parasit yang merayap ke dalam intelek manusia dan menghancurkannya, dan menggantikannya, mencekik dan membunuh setiap pohon yang baik, setiap keutamaan yang menjadikan manusia hebat di Bumi, benar-benar hebat, bukan karena kekayaan berlimpah atau mahkota, tetapi karena keadilan dan kebijaksanaan adikodrati, dan membuatnya bahagia di Surga untuk selama-lamanya.

Dan marilah kita merenungkan nasihat baik lainnya yang diberikan kepada kita oleh Yudas Makabe yang agung dan oleh peristiwa-peristiwa pada hari itu di dataran ini. Ketika mereka masuk dalam pertempuran, pasukan Yudas, yang disertai Allah, mengalahkan dan menghalau musuh-musuh mereka, mengejar sebagian musuh hingga ke Gezer, Asdod, Idumea, dan Yamnia, seperti dikisahkan dalam sejarah, dan membunuh sebagian musuh dengan pedang, menewaskan lebih dari tiga ribu orang di medan perang. Namun Yudas berkata kepada para prajuritnya yang bersukacita karena kemenangan itu: 'Jangan ingin akan barang rampasan, sebab masih ada pertempuran lagi menantikan kita. Gorgias serta pasukannya masih di pegunungan dekat pada kita. Jadi kita harus terus bertempur melawan para musuh kita dan mengalahkan mereka sepenuhnya. Kemudian bolehlah kamu merampas dengan leluasa!' Dan mereka melakukannya. Dan mereka meraih kemenangan besar dan mendapatkan rampasan perang yang berlimpah, dan mereka kembali sambil melantunkan pujian kepada Allah karena 'Dia baik, dan kerahiman-Nya kekal abadi.'

Manusia juga, setiap orang, adalah seperti medan pertempuran di sekeliling kota suci orang Yudea. Ia dikelilingi oleh musuh-musuh eksternal dan internal, yang semuanya keji dan antusias untuk masuk ke dalam pertempuran melawan kota suci setiap orang: yaitu, jiwanya, dan melakukannya secara tiba-tiba, untuk merebutnya secara mendadak melalui sarana tipu daya yang tak terbilang banyaknya dan menghancurkannya. Hawa nafsu, yang ditanamkan dan dihasutkan oleh Iblis, dan yang tidak diawasi oleh orang dengan segenap kehendak untuk mengendalikannya, sebab hawa nafsu itu berbahaya jika orang tidak mengekangnya, sementara hawa nafsu itu tidak berbahaya jika orang mengendalikannya seperti perampok yang dibelenggu, dan dunia yang dari luar bersekongkol dengan hawa nafsu melalui godaan daging, kekayaan, dan kesombongan, sangat serupa dengan pasukan Gorgias yang tangguh, bersenjata, diperlengkapi dengan menara-menara perang, para pemanah yang terampil, pasukan berkuda yang gesit, selalu siap untuk menyerang di bawah perintah Yang Jahat. Tetapi apa yang bisa dilakukan si Jahat jika Allah menyertai orang yang ingin menjadi orang benar? Orang mungkin menderita dan terluka, tetapi kebebasan dan hidupnya akan diselamatkan dan ia akan menikmati kemenangan sesudah pertempuran yang baik. Tetapi, hal itu tidak terjadi hanya sekali saja, tetapi terjadi berulang kali sepanjang hidupnya, atau hingga orang membebaskan diri dari kemanusiaannya dan menjadi lebih rohani daripada jasmani, roh yang begitu bersatu dengan Allah sehingga panah, sengatan, api perang tak lagi bisa melukainya dengan parah, semuanya itu akan jatuh sesudah mengenai bagian luar orang itu, seperti setetes air yang jatuh di atas batu jasper keras yang kemilau.

Jangan berhenti untuk merampas, jangan alihkan perhatianmu, sampai engkau berada di ambang kehidupan, bukan kehidupan di Bumi ini, melainkan Kehidupan sejati di Surga. Kemudian, sesudah menang, kamu bisa mendapatkan rampasanmu dan masuk, dan melangkah maju, dengan jaya, di hadapan Raja segala raja dan berkata: 'Aku sudah menang. Inilah rampasanku. Aku mengumpulkannya dengan pertolongan-Mu dan kehendak baikku, dan aku memberkati-Mu, Tuhan, karena Engkau baik dan kerahiman-Mu kekal abadi."

Ini berlaku untuk semua orang secara umum. Tetapi bagi kamu yang percaya kepada-Ku, ada satu medan pertempuran lain yang menanti. Bukan, ada beberapa medan pertempuran. Pertempuran melawan kebimbangan. Pertempuran melawan perkataan yang akan dilontarkan orang kepadamu. Dan pertempuran melawan penganiayaan.

Aku akan segera dinaikkan ke tempat, yang untuknya Aku telah datang dari Surga. Tempat itu akan menakutkanmu, dan akan seolah-olah menyangkal sabda-Ku. Tidak. Pandanglah peristiwa itu dengan mata rohani. Dan engkau akan melihat bahwa apa yang terjadi adalah peneguhan akan siapa sebenarnya Aku. Bukan raja yang malang dari kerajaan yang malang. Melainkan Raja yang dinubuatkan oleh para nabi, yang ke kaki takhta-Nya yang abadi, semua bangsa di Bumi akan datang, bagaikan sungai-sungai yang mengalir ke lautan, dan akan berkata: 'Kami menyembah-Mu, Raja segala raja dan Hakim yang kekal, karena melalui Kurban kudus-Mu, Engkau telah menebus dunia.'

Enyahkan kebimbangan. Aku tidak berdusta. Aku adalah Dia Yang dibicarakan para nabi. Seperti ibu Yohanes beberapa saat yang lalu, angkatlah kenangan akan apa yang telah Aku lakukan bagimu, dan katakan: 'Perbuatan-perbuatan ini datang dari Allah. Dia meninggalkannya bagi kita sebagai kenangan, sebagai peneguhan dan pertolongan untuk percaya, dan percayalah pada saat ini juga.' Bertempurlah dan kamu akan menang melawan kebimbangan yang mencekik napas jiwa. Bertempurlah melawan perkataan yang akan dilontarkan orang kepadamu. Ingatlah para nabi dan karya-Ku. Dan tanggapilah perkataan permusuhan dengan para nabi dan mukjizat-mukjizat yang kamu lihat telah Aku kerjakan. Jangan takut. Dan jangan tidak tahu berterima kasih karena takut, dengan berdiam tentang apa yang telah Aku lakukan untukmu. Bertempurlah melawan penganiayaan. Tetapi janganlah bertempur dengan menganiaya para penganiayamu, tetapi dengan membuat pengakuan yang gagah berani di hadapan mereka yang, dengan ancaman maut, akan mencoba meyakinkanmu untuk menyangkal Aku. Bertempurlah senantiasa melawan semua musuhmu. Melawan kemanusiaanmu, ketakutanmu, kompromi yang tidak berharga, persekongkolan utilitarian, tekanan, ancaman, siksaan, maut.

Maut! Aku bukan seorang pemimpin yang berkata kepada rakyatnya: 'Menderitalah untuk-Ku, sementara Aku bersenang-senang.' Tidak. Aku-lah yang pertama-tama menderita untuk memberikan teladan bagimu. Aku bukan panglima perang yang berkata kepada prajuritnya: 'Bertempurlah untuk melindungi-Ku. Gugurlah demi menyelamatkan nyawa-Ku.' Tidak. Aku-lah yang pertama-tama bertempur. Aku akan menjadi yang pertama mati, untuk mengajarkan kepadamu bagaimana seharusnya mati. Seperti Aku telah selalu melakukan apa yang Aku katakan kepada orang untuk dilakukan, dan mengkhotbahkan kemiskinan, pengendalian diri, kesederhanaan, keadilan, pengampunan, Aku telah tetap miskin, murni, sederhana, adil, dan Aku telah mengampuni dan akan mengampuni; seperti Aku telah melakukan semua itu, Aku akan melakukan hal yang terakhir. Aku akan mengajarimu bagaimana menebus. Aku akan mengajarimu bukan dengan perkataan, melainkan dengan perbuatan. Aku akan mengajarimu untuk taat, dengan menaati ketaatan yang paling berat: ketaatan akan kematian-Ku.

Aku akan mengajarimu untuk mengampuni, mengampuni dalam siksa aniaya terakhir-Ku, seperti di atas jerami buaian-Ku Aku mengampuni Umat Manusia karena sudah merenggut-Ku dari Surga. Aku akan mengampuni seperti Aku telah selalu Aku mengampuni. Semua orang. Semua orang sejauh menyangkut Aku. Aku akan mengampuni musuh-musuh kecil-Ku, yang lembam, acuh tak acuh, mudah berubah, dan musuh-musuh besar-Ku, yang tidak hanya mendukakan-Ku dengan bersikap apatis terhadap kuasa-Ku dan kerinduan-Ku untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka menyusahkan-Ku secara mendalam dan akan menyusahkan-Ku dengan menjadi pembunuh Tuhan. Tetapi Aku akan mengampuni. Dan karena Aku tidak akan bisa mengabsolusi pembunuh Tuhan yang tidak bertobat, Aku akan tetap berdoa, dalam kesusahan terakhir-Ku, kepada Bapa bagi mereka... agar Dia mengampuni mereka... karena mereka mabuk oleh minuman keras setan... Aku akan mengampuni... Dan Aku memintamu untuk mengampuni dalam nama-Ku. Dan mengasihi. Kasihilah seperti Aku mengasihi, seperti Aku mengasihimu dan akan mengasihimu untuk selamanya.

Selamat tinggal. Hari mulai gelap. Mari kita berdoa bersama, dan lalu kamu semua bisa pulang ke rumahmu dengan sabda Tuhan di hatimu, dan kiranya sabda itu menjadi gandum yang bernas untuk rasa laparmu di masa mendatang, ketika kamu rindu untuk mendengarkan kembali Sahabat-mu, Sang Guru, Juruselamat-mu, dan hanya dengan mengangkat jiwamu ke Surga kamu akan bisa menemukan Dia Yang mengasihimu lebih daripada Diri-Nya sendiri.

Bapa Kami yang ada di Surga..." dan Yesus, dengan kedua tangan terentang, bagaikan sebuah salib putih yang agung dengan latar belakang dinding gelap fasad utara, mendaraskan Bapa Kami dengan perlahan.

Dia kemudian memberkati dengan berkat Musa. Dia mencium anak-anak dan memberkati mereka sekali lagi. Dia berpamitan dan pergi ke arah utara, mengelilingi tembok-tembok kota Emaus, tanpa memasuki kota. Rona lembayung senja perlahan menyerap penglihatan lembut akan Yesus, Yang melangkah semakin jauh mendekati takdir-Nya.

Di halaman yang setengah gelap ada keheningan dari damai yang pilu.... Kemudian tangis Mikhael kecil, yang bagai embikan menyayat hati seekor anak domba kecil yang sebatang kara, memecah keheningan dan air mata menggenang di banyak pelupuk mata sementara banyak bibir mengulang kata-kata polos si bocah: "Oh! Kenapa Dia pergi? Kembalilah! Kembalilah!... Tuhan, buatlah Dia kembali!" Dan ketika Yesus telah sama sekali hilang dari pandangan, ada kepastian akan kenyataan sedih itu: "Yesus tidak ada lagi di sini!" Sia-sia saja ibunya berupaya menghibur Mikhael kecil, yang menangis seolah-olah ia sudah kehilangan sosok yang lebih dari ibunya, dan dari gendongan ibunya, ia tidak bisa mengalihkan mata dari tempat di mana Yesus menghilang, dan dengan kedua tangan terentang ia berseru: "Yesus! Yesus!"

... Yesus menunggu agak jauh, kemudian Dia berkata, "Kita akan pergi ke Yope. Para murid sudah bekerja keras di sana dan orang-orang menantikan sabda Tuhan."

Tidak banyak antusiasme atas usulan rute yang lebih panjang itu, tetapi Simon Zelot menunjukkan bahwa itu adalah perjalanan yang singkat dan berada di jalan yang baik dari Yope ke properti milik Nikodemus dan Yusuf, dan Yohanes senang pergi ke arah laut. Dan yang lain-lainnya, disemangati dengan pemikiran itu, akhirnya dengan lebih suka hati menyusuri jalan yang mengarah ke laut.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama