|
402. MENUJU EMAUS DI DATARAN.
27 Maret 1946
Fajar menyiratkan cahaya hijau susu di kubah langit, tinggi di atas lembah yang dingin dan sunyi. Dan cahayanya yang samar, yang masih belum terang, mencapai puncak kedua lereng. Seolah ia membelai lembut bagian-bagian tertinggi pegunungan Yudea, berkata kepada pepohonan tua yang memahkotainya, "Ini aku, aku turun dari langit, aku datang dari timur, sebelum fajar menyingsing, dan aku menghalau kegelapan dan membawa terang, aktivitas, dan berkat dari hari yang baru yang dianugerahkan Allah kepadamu." Dan puncak-puncak gunung terbangun oleh gemerisik dedaunan dan kicauan burung-burung pertama yang terbangun oleh dahan-dahan yang bergetar dan cahaya samar pertama. Dan fajar turun lebih rendah, turun ke semak-semak, ke rerumputan, ke lereng-lereng, semakin rendah dan rendah, dan disambut oleh kicauan yang semakin meriah di antara dahan-dahan dan suara gemerisik kadal-kadal hijau di antara rerumputan. Dan akhirnya fajar mencapai sungai kecil, turun ke bagian bawah, dan mengubah airnya yang gelap menjadi air keruh yang berkilau keperakan yang terus-menerus menjadi lebih jernih dan lebih jernih lagi dan semakin cemerlang. Dan sementara itu, di atas sana, di langit, di mana rona indigo malam sudah memudar menjadi biru pucat kehijauan, pemakluman pertama akan terbitnya matahari membuatnya berwarna biru langit dengan semburat merah muda... Dan segumpal awan sirus muncul, kecil, halus, dan sudah berona merah muda...
Yesus keluar dari gua dan memandang... Dia kemudian membasuh diri di sungai. Dia merapikan diri, mengenakan pakaian-Nya, melongok ke dalam gua... Namun Dia tidak memanggil... Sebaliknya Dia memanjat gunung, dan pergi berdoa di puncak yang menjulang, yang begitu tinggi hingga memungkinkan orang untuk melihat pemandangan yang luas ke arah timur, yang sekarang benar-benar merah muda saat fajar, dan ke arah barat yang masih berona indigo. Dia berdoa... dengan khusuk, berlutut, dengan kedua siku-Nya di tanah, nyaris prostratio... Dan Dia berdoa seperti itu, sampai Dia mendengar suara para murid yang sudah bangun memanggil-Nya.
Da berdiri dan menjawab, "Aku datang!" Dan gema lembah sempit itu mengulang beberapa kali gema suara sempurna-Nya. Dan lembah itu seolah menyebarkan ke seluruh dataran, yang samar-samar terlihat di sebelah barat, janji Tuhan: "Aku datang" sehingga dataran itu bisa mendahului bersukacita.
Yesus berangkat dengan suatu desahan dan kalimat yang merangkum doa-Nya yang panjang dan memperjelasnya, "Bapa, hiburlah Aku..."
Dia turun dengan cepat dan saat tiba di bawah, Dia menyapa para rasul-Nya dengan seulas senyum yang paling lemah lembut dan perkataan biasanya, "Damai sertamu di hari yang baru ini."
"Dan serta-Mu, Guru," mereka semua menjawab.
Yudas juga tidak begitu muram dan menyendiri, aku tidak tahu apakah karena dia merasa tenang oleh keheningan Yesus, Yang tidak mencelanya tetapi memperlakukannya sama seperti yang lain-lainnya, atau karena semalam dia sudah menyusun rencana demi keuntungannya sendiri. Bahkan dia bertanya atas nama rekan-rekannya, "Apa kita akan pergi ke Yerusalem? Jika ya, kita akan harus kembali sedikit dan menyeberangi jembatan itu. Di seberangnya ada jalan yang menghantar orang langsung ke Yerusalem."
"Tidak. Kita akan pergi ke Emaus melalui dataran."
"Kenapa? Dan bagaimana dengan Pentakosta?"
"Masih cukup waktu. Aku ingin pergi menemui Nikodemus dan Yusuf, menyusuri dataran, menuju lautan..."
"Tapi kenapa?"
"Karena Aku belum pernah ke sana dan orang-orang di sana sedang menantikan-Ku... Dan karena murid-murid yang baik menginginkannya. Kita akan punya waktu untuk segalanya."
"Itukah yang dikatakan Yohana kepada-Mu? Apa itu sebabnya dia memanggil-Mu?"
"Tidak perlu itu. Mereka sudah mengatakannya kepada-Ku secara pribadi saat Paskah. Dan Aku menepati janji-Ku."
"Aku tidak mau ke sana... Mungkin mereka sudah di Yerusalem... Perayaan sudah dekat... Dan bagaimanapun juga... Engkau mungkin akan bertemu dengan musuh-musuh, dan..."
"Aku bertemu musuh di mana-mana, mereka selalu dekat dengan-Ku..." dan Yesus melirik sekilas ke arah si rasul, yang merupakan kesedihan-Nya...
Yudas tidak berbicara lagi. Terlalu berbahaya membicarakannya lebih lanjut! Dia sadar itu dan terdiam.
Yohanes dan Andreas kembali dengan beberapa buah kecil, yang kelihatannya termasuk dalam keluarga buah raspberry atau strawberry, tetapi sedikit lebih gelap, hampir seperti blackberry yang belum masak, dan mereka menawarkannya kepada Yesus, "Engkau menyukainya. Kami melihatnya kemarin sore dan kami tadi naik untuk memetiknya untuk-Mu. Makanlah, Guru. Buahnya enak."
Yesus membelai kedua rasul muda yang baik itu yang menawarkan buah beralaskan daun lebar yang dibasuh di sungai, dan yang, lebih dari sekadar buah, menawarkan kasih mereka kepada-Nya. Yesus memilih buah-buah yang terbaik dan memberikannya kepada masing-masing rasul yang menyantapnya dengan roti.
"Kami mencoba mendapatkan susu untuk-Mu. Tetapi, belum tampak gembala di sekitar sini..." kata Andreas meminta maaf.
"Tidak masalah. Ayo kita berjalan cepat supaya kita bisa sampai di Emaus sebelum cuaca menjadi sangat panas."
Mereka pun berangkat, dan mereka yang masih lapar meneruskan makannya sambil berjalan menyusuri lembah yang sejuk, yang makin lama makin melebar, dan berakhir di dataran yang sangat subur, tempat para pemanen sudah bekerja keras.
"Aku tidak tahu bahwa Nikodemus punya rumah di Emaus," kata Bartolomeus.
"Bukan di Emaus. Lebih jauh lagi. Ladang milik sanak yang diwarisinya..." jelas Yesus.
"Betapa indahnya negeri ini!" seru Tadeus.
Sebenarnya, itu adalah lautan ladang gandum keemasan yang berselang-seling dengan kebun buah-buahan, yang adalah mimpi yang nyata, dan dengan kebun-kebun anggur yang sudah menjanjikan buah-buah anggur yang melimpah. Ia diairi dengan baik, karena gunung-gunung di dekatnya memancarkan sungai-sungai kecil yang tak terbilang banyaknya ke sana pada bulan-bulan ketika irigasi paling dibutuhkan, dan karena ia dilengkapi dengan aliran-aliran air bawah tanah. Tempat ini adalah Firdaus agrikultural yang nyata.
"Hmm! Lebih indah dari tahun lalu," gumam Petrus.
"Setidaknya ada air dan buah-buahan..."
"Dataran Sharron bahkan lebih indah," jawab Zelot.
"Tapi, apa itu bukan yang ini?"
"Bukan, sesudah yang ini. Tapi yang ini sudah terkena pengaruhnya..." Kedua rasul itu menjauh dari kelompok dan saling bercakap-cakap satu sama lain.
"Ini milik orang-orang Farisi, bukan?" tanya Yakobus Zebedeus sembari menunjuk ke negeri yang indah itu.
"Pasti milik orang-orang Yudea. Mereka merampas properti-properti terbaik, merampoknya dari pemilik sebelumnya dengan berbagai cara," jawab Tadeus, yang mungkin ingat akan properti leluhurnya di Yudea, dari mana mereka diusir dengan menderita kerugian yang sangat besar.
Iskariot tersinggung dengan pernyataan itu dan berkata, "Jika itu diambil darimu, itu karena kamu, orang-orang Galilea, kurang suci, kamu lebih rendah..."
"Bolehkah aku mengingatkanmu bahwa Alfeus dan Yosef berasal dari keluarga Daud. Sebegitu rupa hingga Dekrit itu memaksa mereka untuk pergi dan mendaftarkan diri di Betlehem di Yudea. Dan itulah sebabnya Dia dilahirkan di sana," jawab Yakobus Alfeus dengan kalem, untuk mengantisipasi jawaban sengit dari saudaranya yang tidak sabaran, seraya menunjuk kepada Tuhan Yang sedang berbicara kepada Matius dan Filipus.
"Oh! Baik! Aku akan katakan bahwa di mana-mana ada yang baik dan yang buruk. Dalam pekerjaan kita, kita berhubungan dengan orang-orang dari semua ras dan aku bisa meyakinkanmu bahwa aku mendapati orang-orang yang jujur dan yang tidak jujur di setiap ras. Bagaimanapun... mengapa membanggakan diri sebagai orang Yudea? Apakah mungkin itu kehendak kita? Hmmm! Ketika aku dalam rahim ibuku, aku tidak tahu menahu tentang menjadi orang Yudea atau orang Galilea! Aku ada di sana... itu saja. Dan ketika aku lahir, aku dibedung nyaman dengan kain lampin, tanpa khawatir apakah aku menghirup udara Yudea atau Galilea... Aku hanya tahu puting susu ibuku... Dan kalian semua sama sepertiku. Jadi mengapa gusar hati sekarang, karena yang satu lahir di utara dan yang lain di selatan? Bukankah kita semua milik Israel?" kata Tomas dengan ramah dan tepat.
"Kau benar, Tomas," jawab Yohanes. Dan dia mengakhiri, "Dan sekarang kita milik satu keluarga saja: keluarga Yesus."
"Dan Dia berasal dari keturunan Yudea, tetapi dikandung dan dibesarkan di Galilea sesudah Dia dilahirkan di Betlehem, seolah-olah Dia ingin mengatakan kepada kita, melalui bukti peristiwa-peristiwa, bahwa Dia adalah Penebus seluruh Israel, dari utara hingga selatan. Dan aku pikir Yang Mahatinggi menghendaki itu untuk mengajarkan kepada kita bahwa perpecahan bertentangan dengan kasih kepada sesama dan bahwa Dia telah diutus untuk mengumpulkan semua orang seperti induk ayam yang disebutkan dalam Kitab Suci. Justru karena Dia disebut 'orang Galilea,' orang tidak boleh meremehkan orang-orang Galilea," kata Yakobus Alfeus dengan lembut tetapi tegas.
Yesus, Yang kelihatannya tidak memperhatikan sementara Dia berbicara kepada Matius dan Filipus, beberapa langkah di depan yang lain, berbalik dan berkata, "Kau benar, Yakobus Alfeus. Kau memahami Sang Kebenaran dan kebenaran, dan keadilan dari setiap tindakan Allah. Karena Allah, dan ini harus selalu dicamkan dalam benak setiap orang, tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan, sebagaimana Dia tidak pernah membiarkan tanpa ganjaran apa yang dilakukan orang-orang benar. Berbahagialah mereka yang bisa melihat alasan Allah bahkan dalam kejadian-kejadian yang paling remeh dan jawaban Allah atas pengorbanan manusia."
Petrus berbalik dan hendak berbicara. Namun, dia tetap diam dan hanya tersenyum kepada Guru-nya, Yang telah kembali ke kelompok para rasul-Nya, sementara mereka sekarang berjalan di sebuah jalan utama yang lebar di antara ladang-ladang keemasan.
Mereka melanjutkan perjalanan ke Emaus, yang sudah dekat, menuju sekelompok rumah putih yang berkilau di antara warna keemasan gandum yang sudah masak dan hijau kebun buah-buahan yang subur.
"Guru! Guru! Berhenti! Ini murid-murid-Mu!" teriak suara dari kejauhan, dan segelintir orang, yang meninggalkan sekelompok petani yang sedang beristirahat di bawah naungan kebun apel, berlari ke arah Yesus di sepanjang jalan yang cerah. Mereka adalah Matias dan Yohanes, yang dulunya adalah gembala dan kemudian menjadi murid Pembaptis, dan bersama mereka ada Nikolaus, Habel yang dulunya seorang kusta, Samuel, Ermasteus, dan yang lain-lainnya.
"Damai sertamu. Kamu di sini?"
"Ya, Guru. Kami telah menyusuri semua pesisir laut. Sekarang kami menuju Yerusalem. Lebih jauh ke utara ada Stefanus bersama murid-murid lainnya. Dan lebih jauh ke atas ada Hermas bersama yang lainnya. Dan Ishak, guru kecil kami, bahkan lebih jauh ke utara. Setidaknya tadi dia di sana. Sementara Timoneus berada di wilayah seberang Sungai Yordan. Tetapi sekarang mereka semua akan datang ke hari raya Pentakosta. Dengan demikian kami membentuk banyak kelompok, yang kecil, tetapi aktif. Dan jika mereka menganiaya kami, mereka mungkin menangkap sebagian, tetapi tidak semua dari kami," jelas Matias.
"Kau sudah melakukan yang benar. Aku heran tidak menemukanmu di mana pun di Yudea selatan..."
"Guru... Engkau pergi ke sana? ... Siapa yang bisa melakukan lebih baik dari-Mu? Bagaimanapun... Oh! Yudea sudah memiliki lebih dari yang dibutuhkan untuk menjadi kudus!... Namun demikian!... Mereka melempari dengan batu orang-orang yang membawa sabda Surga kepada mereka. Elia dan Yusuf dipukuli di ngarai Kidron dan mereka pergi ke seberang Yordan ke rumah Salomo. Yusuf nyaris mati dilempar batu yang menghantam kepalanya. Mereka tinggal selama delapan hari di sebuah gua yang dalam, bersama orang yang Engkau utus dan yang tahu benar semua rahasia pegunungan. Kemudian pada waktu malam, mereka pelan-pelan menyeberang ke sisi lain..."
Para murid dan rasul sangat bersemangat mengingat dan mendengar penganiayaan yang seperti itu. Namun Yesus menenangkan mereka dengan berkata, "Orang-orang yang tidak berdosa mewarnai jalan Kristus dengan warna ungu dari darahnya yang tidak berdosa. Tetapi jalan itu harus diwarnai ungu lagi dan lagi, untuk menghapus jejak-jejak Yang Jahat dari jalan Allah. Itu adalah jalan kerajaan. Para martir mewarnainya ungu demi Aku. Diberkatilah di antara mereka yang diberkati, orang-orang yang menderita penganiayaan demi Aku."
"Guru, kami tadi sedang berbicara kepada para petani itu. Maukah Engkau berbicara kepada mereka sekarang?" tanya Yohanes mantan gembala.
"Pergilah dan katakan kepada mereka bahwa Aku akan berbicara saat matahari terbenam dekat gerbang Emaus. Matahari menghalangi-Ku sekarang. Pergilah. Dan kiranya Allah besertamu. Aku akan berada di ujung jalan ini."
Dia memberkati mereka lalu berangkat lagi mencari tempat teduh, karena matahari sangat terik di jalan putih itu, yang di sisi-sisinya dua baris pohon platanus memberi sedikit sekali keteduhan.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|
|
|