|
401. PERGULATAN DAN KEMENANGAN ROHANI SIMON ANAK YUNUS.
26 Maret 1946
In Nomine Domini. Dan aku memulai kembali, akhirnya, menulis tentangmu, o Injil yang manis, dengan mengikuti Guru-ku dengan kudus di sepanjang jalan-jalan Palestina! Aku memulaimu kembali sesudah menunaikan semua tugasku dalam ketaatan pada perintah. Akan lebih tepat mengatakan, "Engkau memulaiku kembali."
Aku tidak tahu apakah ada orang yang merenungkan pelajaran bisu tetapi begitu instruktif yang disampaikan Tuhan melalui keheningan-Nya, yang disebabkan oleh tiga alasan berbeda:
Pertama, iba terhadap kelemahan juru bicara-Nya yang sakit yang terkadang nyaris sekarat; keheningan kedua sebagai hukuman bagi mereka yang tidak menyelaraskan diri secara pantas dengan anugerah-Nya; pelajaran ketiga yang Dia berikan kepadaku, dan yang ingin aku bicarakan, adalah mengenai kewajiban kita untuk selalu taat, bahkan meski ketaatan mungkin kelihatan remeh dibandingkan pekerjaan yang harus kita interupsi demi bisa taat.
Oh! tidak mudah menjadi seorang "juru bicara"! Orang hidup dalam kewaspadaan dan ketaatan yang terus-menerus. Dan Yesus, Yang adalah Tuan dunia, tidak semaunya membiarkan alat-Nya melanggar suatu perintah, jika ketaatan itu dituntut oleh seorang yang berwenang untuk melakukannya.
Selama beberapa hari terakhir aku harus menaati perintah-perintah yang diberikan oleh Pater Migliorini. Perintah-perintah yang adalah urusan birokrasi dan dengan demikian agak membosankan. Namun Yesus tidak pernah ikut campur karena aku harus menaatinya. Dan ketaatanku harus tepat dan lengkap, seperti yang dikatakan Azarya kemarin ketika menjelaskan Misa Kudus.
Namun sekarang, sesudah aku melakukan segalanya, aku bisa mengontemplasikan-Mu, Tuhan-ku, sementara Engkau menuruni jalan yang curam menuju lembah yang subur, meninggalkan kastil Bether, yang masih terang di penghujung hari, di atas sana, di bukit yang berbunga... meninggalkan di sana kasih para murid perempuan, anak-anak kecil, orang-orang sederhana, dan menuruni jalan menuju Yerusalem, menuju dunia, menuju bagian yang lebih bawah... Dan di sana lebih gelap bukan hanya karena wilayah itu adalah sebuah "lembah" dan karenanya sinar matahari dan cahaya tidak ada lagi di sana, tetapi terutama karena di bawah sana, di dunia, ada jerat, kebencian dan kedengkian, begitu banyak kejahatan yang menanti-Mu, Tuhan-ku...
Yesus berada di depan mereka semua: sosok putih yang hening, yang berjalan agung juga saat menuruni jalan-jalan setapak yang terjal dan tidak nyaman, yang diambil untuk mempersingkat perjalanan. Saat menuruni jalan setapak itu jubah panjang dan mantol-Nya yang lebar terseret di tanah dan Yesus tampak seolah sudah berbalut mantol kerajaan dengan ujung mantol-Nya di belakang langkah-langkah-Nya.
Di belakang Yesus, tidak begitu agung, tetapi sama heningnya, adalah para rasul... Yudas, yang agak sedikit jauh, berada di urutan terakhir: dia tampak jelek dalam kemarahannya. Sesekali mereka yang lebih polos: Andreas, Tomas, berbalik dan menatapnya, dan Andreas berkata kepadanya, "Kenapa kau tetap menyendiri, begitu jauh di belakang? Apa engkau tidak enak badan?" Pertanyaannya dibalas dengan jawaban sengit, "Urus saja urusanmu sendiri" yang mengagetkan Andreas, juga karena jawaban itu diikuti oleh julukan yang kasar.
Petrus berada di urutan kedua dalam barisan para rasul, di belakang Yakobus Alfeus, yang berada tepat di belakang Guru. Dan Petrus mendengar jawaban kasar itu, di tengah senyapnya senja hari. Dan dia sekonyong-konyong berbalik dan hendak kembali ke arah Yudas. Namun dia berhenti. Dia merenung sesaat, lalu berlari ke arah Yesus. Dia mencengkeram lengan-Nya dengan kasar dan mengguncang-Nya seraya berkata penuh emosi, "Guru, dapatkah Engkau meyakinkanku bahwa apa yang Engkau katakan kepadaku malam itu sungguh-sungguh benar? Bahwa pengorbanan dan doa tidak pernah gagal, bahkan meski tampaknya sia-sia?..."
Yesus, yang lemah lembut, sedih dan pucat, memandang Simon-Nya yang berkeringat dalam upaya menahan reaksi langsung terhadap penghinaan itu, dengan wajahnya merah padam dan gemetar, dan perbuatannya itu yang mungkin menyakiti-Nya karena dia mencengkeram lengan-Nya dengan begitu kasar, dan Yesus menjawab dengan seulas senyum sedih yang damai, "Itu tidak akan pernah tanpa ganjaran. Kau bisa yakin itu."
Petrus meninggalkan-Nya dan pergi, bukan ke tempatnya, melainkan ke lereng gunung, di antara pepohonan, dan dia melampiaskan emosinya dengan mematahkan semak belukar dan tumbuh-tumbuhan muda dengan kekerasan yang ditujukan ke tempat lain tetapi dilampiaskan di sini kepada batang-batang pohon.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" banyak yang bertanya kepadanya.
Petrus tidak menjawab. Dia terus mematahkan semak belukar. Dia membiarkan semua rasul lainnya, termasuk Yudas, menyalipnya, sementara dia terus mematahkan... dan mematahkan. Dia begitu cepat hingga dia kelihatan seperti sedang bekerja serabutan. Di kakinya ada setumpuk ranting yang akan cukup untuk memanggang daging seekor sapi muda. Dia memanggul ranting-ranting itu di bahunya dengan susah payah dan dia berusaha menyusul rekan-rekannya. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa - sebab mantelnya menghalanginya - mengatasi beban, tas kainnya, dan jalanan yang tidak nyaman. Namun dia terus melangkah maju dengan terbungkuk, seolah-olah dia berada di bawah kuk...
Dan Yudas melihat dan menertawakannya; dia berkata, "Kau kelihatan seperti seorang budak!"
Petrus mendongak dengan susah payah dari bawah kuk dan hendak mengatakan sesuatu. Namun dia tetap diam, menggertakkan giginya dan terus berjalan.
"Aku akan membantumu, saudaraku," kata Andreas.
"Tidak."
"Tetapi kayu itu terlalu berat untuk seekor anak domba," kata Yakobus Zebedeus.
Petrus tidak menjawab. Dia terus berjalan. Pastilah dia kelelahan. Namun, dia tidak menyerah.
Akhirnya, di sebuah gua yang berada nyaris di dasar jalan yang menurun, Yesus berhenti bersama semua rasul. "Kita tinggal di sini, dan kita akan berangkat saat fajar menyingsing," perintah Guru. "Siapkanlah makan malam."
Petrus lalu melemparkan bebannya ke tanah dan duduk di atasnya, tanpa menjelaskan kepada siapa pun alasan di balik upaya kerasnya itu, padahal di sekitar sana ada banyak kayu bakar.
Namun ketika para rasul berpencar, sebagian untuk mengambil air minum, sebagian untuk membersihkan lantai gua, sebagian untuk membasuh daging anak domba sebelum memasaknya, dan Petrus tinggal sendirian bersama Guru-nya, Yesus berdiri, menumpangkan tangan-Nya di kepala Simon yang berambut abu-abu, dan membelai kepala orang jujur itu... Petrus lalu menggenggam tangan itu dan menciumnya, dia menempelkannya di pipinya, menciumnya lagi dan membelainya... Setetes air jatuh di tangan yang putih, tetesan yang bukan keringat dari rasul yang jujur dan kasar itu, tetapi tetesan air mata cinta dan penderitaan dalam kebisuan, kemenangan sesudah pergulatan. Dan Yesus membungkuk dan menciumnya seraya berkata, "Terima kasih, Simon!"
Petrus jelus bukan seorang yang tampan. Namun, saat dia mendongakkan kepalanya untuk menatap Yesus-nya Yang telah menciumnya dan berterima kasih kepadanya, karena hanya Dia yang mengerti, kehormatan dan sukacita itu sungguh membuatnya tampan...
Dan penglihatan pun berakhir dengan transformasi ini.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|
|
|