|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Februari 2016
JANGAN BERZINAH (1)
dikutip dari: Puisi Manusia-Allah, Vol. 2
KHOTBAH YESUS:
 "Bukankah berahi juga adalah penajisan persatuan dengan istrimu, penajisan sebab adalah kejahatan yang disahkan karena adalah kepuasan sensual timbal balik, yang, meski demikian, mengelakkan konsekuensinya?
Perkawinan berarti prokreasi dan perbuatannya berarti dan haruslah subur. Jika tidak, itu adalah amoral. Janganlah jadikan ranjang pengantinmu sebagai tempat pelacuran. Dan itulah apa jadinya mereka jika mereka dicemarkan oleh berahi dan tidak dikuduskan dengan keibuan. Dunia tidak menolak benih. Dunia menerimanya dan menjadikan tanaman darinya. Benih tidak menghindarkan diri dari galur sesudah ditempatkan di sana. Tapi benih segera berakar dan berjuang untuk tumbuh dan menghasilkan buah, yakni makhluk hidup sayur-sayuran yang dilahirkan dari persatuan antara tanah dan benih. Laki-laki adalah benih, perempuan adalah tanah, buahnya adalah anak. Adalah dosa untuk menolak menghasilkan buah dan menebar kekuatan dalam kejahatan. Adalah pelacuran yang dilakukan di atas ranjang pengantin, dan sama sekali tidak berbeda dari pelacuran lainnya, sebaliknya diperparah dengan ketidaktaatan pada perintah yang mengatakan: 'Jadilah satu daging dan bertambah banyaklah dengan melahirkan anak-anak.'
Oleh karenanya, perempuan yang dengan sengaja mandul, adalah istri yang sah dan jujur di mata dunia, tapi tidak di mata Allah, engkau dapat lihat bahwa kau dapat dianggap sebagai pelacur dan engkau sama saja berzinah bahkan meski hanya dengan suamimu, sebab engkau tidak mencari keibuan tetapi terlalu sering engkau hanya mengejar kesenangan. Dan tidakkah engkau berpikir bahwa kesenangan adalah racun yang mencemari setiap mulut yang merasakannya? Dia membakar dengan api yang tampaknya memuaskan, tapi sebaliknya dia jatuh dari tungku dan melahap, semakin dan semakin tak terpuaskan, meninggalkan rasa masam debu pada lidah sekaligus kejijikan, kemuakan dan kehinaan baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pasangan dalam kesenangan, sebab ketika hati nurani hidup kembali, dan dia sungguh hidup kembali di antara dua panas, orang hanya dapat merasakan kehinaan macam itu atas dirinya sendiri, sebab direndahkan di bawah tingkat binatang...
Tubuh manusia adalah bait mulia yang di dalamnya terdapat sebuah altar. Allah seharusnya ada di altar. Tapi Allah tidak ada di mana ada kerusakan. Sebab itu tubuh yang cemar memiliki altar yang najis tanpa Allah. Seperti seorang mabuk yang berkubang dalam lumpur dan dalam muntahan kemabukannya sendiri, manusia merendahkan dirinya sendiri dalam kebrutalan perzinahan dan menjadi lebih buruk dari cacing dan binatang liar yang paling najis."
JANGAN BERZINAH (2)
dikutip dari: Puisi Manusia-Allah, Vol. 2
KHOTBAH YESUS:
 "... Siapakah yang sedang menangis? Tidak ada? Apakah kau mengatakan: tidak ada? Dan meski begitu jiwa-Ku akan mendatangi jiwa lain yang sedang menangis. Mengapakah pergi menjumpainya? Untuk mengutukinya sebab dia adalah seorang pelacur? Tidak. Sebab Aku merasa kasihan kepada jiwanya. Aku merasa jijik atas keseluruhan tubuh cemarnya, yang melelehkan keringat amoral. Tapi jiwanya!
Oh! Bapa! Bapa! Juga demi jiwa ini Aku telah menjadi daging dan Aku meninggalkan Surga guna menjadi Penebus-nya dan Penebus banyak jiwa-jiwa yang seperti jiwanya! Mengapakah Aku tidak mendapatkan domba yang sesat ini dan membawanya kembali ke kawanannya, membasuhnya, mempersatukannya dengan kawanan, memberinya makan dan kasih yang sesempurna yang hanya dapat diberikan oleh Kasih-Ku, yang sangat berbeda dari kasih yang sejauh ini dia sebut kasih, tetapi sesungguhnya adalah kedengkian; Kasih yang begitu berbelas-kasihan, total, manis hingga dia tidak lagi menyesali masa lalu atau menyesalinya hanya untuk mengatakan: 'Terlalu banyak hari di mana aku sesat dari-Mu, ya Keindahan abadi. Siapakah gerangan yang akan mengembalikan kepadaku hari-hari yang telah aku hilangkan? Bagaimanakah aku dapat menikmati dalam waktu singkat apa yang masih tersisa padaku, apakah gerangan yang akan aku nikmati andai aku selalu murni?'
Den kendati demikian, o jiwa yang tertindas oleh segala nafsu dunia, janganlah menangis. Dengarkanlah: kau adalah kain kotor. Tapi kau dapat sekali lagi menjadi sekuntum bunga. Kau adalah onggokan kotoran hewan. Tapi kau dapat menjadi sepetak bedeng bunga. Kau adalah binatang najis. Tapi kau dapat menjadi seorang malaikat. Dulu engkau adalah seorang malaikat. Dan kau biasa menari di padang-padang penuh bunga, sekuntum mawar di antara bunga-bunga mawar, segar indah, harum semerbak dalam keperawanan. Dan kau menyanyikan dengan gembira nyanyian kekanak-kanakan, dan lalu kau akan lari kepada ibumu, kepada ayahmu dan berkata kepada mereka: 'Kau adalah kekasihku.' Dan pelindung tak kelihatan yang ada di sisi setiap makhluk akan tersenyum pada jiwamu yang biru-putih… Dan lalu? Mengapakah? Mengapakah kau merobekkan sayap-sayapmu, sayap-sayap makhluk kecil tanpa dosa? Mengapakah kau menginjak-injak hati ayah dan ibumu untuk mengejar hati-hati lain yang tak dapat diandalkan? Mengapakah kau memaksakan suara murnimu untuk menyuarakan perkataan-perkataan sensual yang palsu? Mengapakah kau mematahkan tangkai mawar dan mencemarkan dirimu?
Bertobatlah, puteri Allah. Pertobatan menghidupkan kembali, memurnikan dan meninggikan. Tidak dapatkah manusia memaafkanmu? Bahkan ayahmu tidak dapat memaafkanmu? Tapi Allah dapat. Sebab kasih karunia Allah tak dapat dibandingkan dengan kebaikan manusia dan kerahiman-Nya lebih besar tanpa batas dibandingkan dengan kemalangan manusia. Hormatilah dirimu sendiri dengan menjadikan jiwamu terhormat melalui suatu hidup yang jujur. Benarkanlah dirimu di hadapan Allah dengan tidak lagi berbuat dosa melawan jiwamu. Perolehlah dari Allah sebuah nama baru. Itulah apa yang terpenting. Kau jahat. Jadilah jujur. Jadilah kurban dan martir dari pertobatanmu. Kau tahu bagaimana menjadikan hatimu martir demi memberikan kesenangan bagi tubuhmu. Sekarang jadikan tubuhmu martir demi memberikan damai abadi bagi hatimu.
Pergilah. Kalian semua boleh pergi. Masing-masing dengan bebannya dan pemikirannya, dan renungkanlah. Allah menantikan semua orang dan tidak menolak siapa pun dari mereka yang bertobat. Kiranya Allah menganugerahimu terang-Nya supaya kau dapat mengenal jiwamu."
|
|
"Berahi yang dipuaskan seturut kata hati akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang tidak ditolak akan menjadi kebutuhan."
~ St Agustinus
|
Katekese tentang Hawa Nafsu: Nafsu Berahi oleh St Yohanes Maria Vianney
Katekese tentang Hawa Nafsu: Ketidakmurnian oleh St Yohanes Maria Vianney
KEUTAMAAN KEMURNIAN
dikutip dari: “Vox Patris: Nasehat-Nasehat Rohani St Paulus dari Salib”
 Keperawanan adalah suatu mutiara yang sangat berharga, yang harus dijaga dengan kewaspadaan penuh curiga dan was-was kalau-kalau bahkan udara akan mencemarinya.
Matamu haruslah kau jaga dengan penuh kewaspadaan dan janganlah mengarahkan pandangannya kepada hal-hal yang berbahaya.
Aku minta kepadamu agar jangan memberikan perhatian kepada bayangan-bayangan kotor yang dengan cerdik setan timbulkan dalam dirimu; hinakanlah semuanya itu dan larilah segera kepada kerahiman Allah yang tak terhingga.
Janganlah kau biarkan godaan-godaan cabul, sebab mereka adalah sampar. Dengan penuh kejijikan dan penghinaan terhadap mereka, katakanlah kepada Allah bahwa engkau lebih baik mati seribu kali daripada berdosa satu kali saja.
Allah mengijinkan engkau diganggu oleh pikiran-pikiran kotor, supaya engkau menjadi rendah hati dan tidak menaruh kepercayaan pada diri sendiri.
Mengenai godaan-godaan cabul, janganlah engkau bersusah; cukuplah mengarahkan hati dan budimu dengan tenang kepada Yesus Kristus dan Bunda Maria Tersuci.
Bila engkau diserang godaan-godaan, berserulah kepada Tuhan dan mohonlah pertolongan-Nya; janganlah engkau meninggalkan doa, meditasi, serta Komuni Kudus.
|
|
"Lebih banyak jiwa-jiwa menuju neraka karena dosa-dosa daging daripada karena alasan-alasan lain."
~ St Perawan Maria dari Fatima
|
Doa Mohon Kemurnian
oleh St Thomas Aquinas
Yesus terkasih! Aku tahu pasti bahwa setiap karunia yang sempurna, dan lebih dari yang lain karunia kemurnian, bergantung pada pertolongan yang paling berdaya kuasa dari Penyelenggaraan-Mu, dan bahwa tanpa Engkau suatu makhluk tak dapat melakukan apapun. Oleh sebab itu, aku mohon kepada-Mu untuk membela, dengan rahmat-Mu, kemurnian dan kesucian dalam jiwaku pula dalam tubuhku.
Dan andai aku pernah menerima melalui inderaku segala bentuk kesan yang dapat mencemari kemurnian dan kesucianku, kiranya Engkau, Yang adalah Allah Yang Mahamulia, sudi mengenyahkannya dariku, agar aku dapat dengan hati yang tanpa noda maju dalam kasih dan pelayanan kepada-Mu, mempersembahkan kemurnian diriku sendiri sepanjang hari-hari dalam hidupku di atas altar Mahasuci Ke-Allah-an-Mu.
Amin.
|
|
PAUS: "TIDAK ADA ORANG KUDUS TANPA DOSA, TIDAK ADA ORANG BERDOSA TANPA MASA DEPAN"
 Paus menunjukkan bahwa bahkan dalam kehidupan para kudus ada pencobaan-pencobaan dan dosa, seperti misalnya diperlihatkan dalam kisah hidup Daud.
Allah memilih Daud dan menitahkan Samuel untuk mengurapinya dan "berkuasalah Roh TUHAN atas Daud" dan sejak hari itu dan seterusnya "seluruh kehidupan Daud adalah kehidupan seorang yang diurapi oleh Allah, seorang yang dipilih Allah" kata Paus.
Jadi - Paus bertanya - "Apakah Allah menjadikannya seorang kudus?" Jawabnya: tidak. "Raja Daud adalah Santo Raja Daud, ini benar, tapi dia menjadi seorang kudus setelah melewati suatu hidup yang panjang." Raja Daud adalah "seorang kudus dan seorang berdosa. Seorang yang berhasil mempersatukan kerajaan; dia dapat memimpin rakyat Israel. Tapi dia jatuh ke dalam pencobaan… dia melakukan perbuatan-perbuatan dosa: dia juga seorang pembunuh. Demi menutupi dosa berahinya, dosa perzinahan… dia memerintahkan suatu pembunuhan. Dia sungguh melakukannya!" "Daud yang agung dan terhormat merasa yakin akan dirinya sendiri, sebab kerajaannya kuat; dan demikianlah dia jatuh ke dalam dosa: dia berdosa dalam berahi, dia melakukan perzinahan, dan dia juga secara tidak adil membunuh seorang benar, demi menutupi dosanya."
"Ketika Allah mengutus Nabi Natan untuk mencelikkan realita ini kepadanya, sebab dia tidak sadar akan tindakan barbar yang dia perintahkan, dia mengakui dosa-dosanya dan memohon pengampunan." Santo Raja Daud, seorang pendosa besar, tapi seorang yang bertobat. "Inilah suatu momen dalam kehidupan Daud yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita sendiri: perjalanan dari dosa menuju kerusakan [=corruption]."
"Kita semua telah dipilih oleh Tuhan untuk menerima Pembaptisan, untuk menjadi bagian dari umat-Nya, untuk menjadi orang-orang kudus; kita telah dikuduskan oleh Tuhan di jalan menuju kekudusan." Akan tetapi, kata Paus: "ada momen di mana ada kecondongan untuk berdosa atau momen di mana situasi kita sungguh aman dan kita disegani dan kita punya kekuasaan, banyak uang, saya tidak tahu, banyak hal." Ini dapat terjadi bahkan "atas diri kita para imam: bahwa dosa berhenti menjadi dosa dan menjadi kerusakan. Tuhan selalu mengampuni. Tapi salah satu hal terburuk mengenai kerusakan [=corruption] adalah bahwa seorang yang rusak tidak perlu memohon pengampunan, dia tidak merasakan perlunya pengampunan."
Bapa suci mengakhiri homilinya dengan memohon doa "bagi Gereja, dimulai dari kita, untuk Paus, untuk para uskup, untuk para imam, untuk orang-orang yang dikuduskan, untuk segenap umat beriman:
"Tuhan, selamatkanlah kami, selamatkanlah kami dari kerusakan.
Orang-orang berdosa ya, Tuhan, kami semua memang orang-orang berdosa, tapi jangan pernah rusak!"
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|