|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Januari 2016
KERAHIMAN BAPA
dikutip dari: Puisi Manusia-Allah, Vol. 2
YESUS BERSABDA:
"…Tuhan tidak kurang dalam kebaikan hati terhadap umat-Nya. Meskipun umat-Nya kurang dalam kesetiaan kepada-Nya ribuan kali..."
 Dengarkanlah perumpamaan ini yang akan membantu kalian untuk mengerti. Seorang raja memiliki banyak kuda yang bagus dalam kandangnya. Tetapi ia teristimewa sayang kepada salah seekor dari antaranya. Ia memandang penuh sayang kepadanya, bahkan sebelum ia memiliki kuda itu. Sesudahnya, ketika ia telah mendapatkannya, ia menempatkan kudanya itu dalam suatu tempat yang menyenangkan dan ia kerap pergi untuk mengagumi kuda kesayangannya itu, baik dengan matanya maupun dengan hatinya, membayangkan bahwa kuda itu akan menjadi kebanggaan kerajaannya. Dan ketika si kuda memberontak terhadap perintah, tidak patuh dan lari kepada tuan yang lain, sang raja, dalam kesedihan dan kegundahan hatinya, berjanji bahwa ia akan memaafkan kudanya setelah kuda itu dihukum. Raja setia, meski jauh, ia menjaga kuda kesayangannya dan mengirimkan hadiah-hadiah serta penjaga-penjaga untuk melindunginya, berharap bahwa semua itu akan membangkitkan kenangan atas dirinya dalam hati sang kuda. Akan tetapi sang kuda, meski menderita dalam pelariannya dari kerajaan, tidak setia seperti raja, dalam kasih dan harap akan pengampunan penuh. Terkadang dia baik, terkadang buruk; pula kebaikannya tidaklah lebih besar dari keburukannya. Tidak, malahan sebaliknya. Dan meski demikian raja tetap sabar dan dengan kecaman dan belaian, ia berupaya mengubah kudanya menjadi sahabat yang terlebih sayang dan terlebih patuh. Sementara waktu berlalu, sang kuda menjadi semakin dan semakin enggan. Dia meminta pertolongan dari rajanya, dia menangis di bawah cambukan tuan-tuan yang lain, tapi dia tidak sungguh ingin menjadi milik sang raja. Dia tidak mau saja. Tertindas, terkuras tenaganya, mengerang, dia tidak mengatakan: "Aku begini karena kesalahanku sendiri." Sebaliknya, dia mendakwa sang raja. Raja, setelah mencoba semuanya, memutuskan untuk membuat satu upaya terakhir. "Sejauh ini," katanya, "aku telah mengirim para utusan dan teman-teman. Sekarang aku akan mengutus puteraku sendiri. Hati puteraku seperti hatiku sendiri dan ia akan membicarakan kasih yang sama seperti aku sendiri, dan akan memberikan belaian dan hadiah-hadiah yang sama seperti yang dulu aku berikan, tidak, ia bahkan terlebih lembut, sebab puteraku seperti diriku sendiri, tetapi menjadi lebih luhur oleh kasih." Dan ia pun mengutus puteranya. Demikianlah perumpamaan. Sekarang katakan kepada-Ku: apakah kalian pikir sang raja menyayangi kuda kesayangannya?"
Orang banyak serentak menjawab: "Ia menyayanginya dengan kasih tak terkira."
"Bisakah binatang itu mengeluh kepada rajanya mengenai segala derita yang harus ditanggungnya sesudah meninggalkan raja?"
"Tidak, tidak bisa," sahut orang banyak.
"Jawablah juga pertanyaan ini: Bagaimanakah menurut kalian kuda itu akan menerima putera raja yang pergi untuk menyelamatkan dan menyembuhkannya dan membawanya kembali ke tanah yang menyenangkan?"
"Dengan sukacita besar, tentunya, dengan penuh syukur dan kasih."
"Sekarang, jika putera raja mengatakan kepada sang kuda: 'Aku telah datang untuk alasan ini, melakukan ini dan itu untukmu, tetapi sekarang kau harus baik, taat, rela dan setia kepadaku.' Bagaimanakah menurut kalian sang kuda akan menjawab?"
"Oh! Tak usah ditanyakan! Sekarang setelah dia sadar akan harga yang harus dibayar dalam pelarian dari kerajaan, ia akan mengatakan bahwa ia menginginkan seperti yang disarankan putera raja."
"Baik, lalu, apa kewajiban kuda itu, menurut kalian?"
"Menjadi lebih baik dari yang diminta, lebih penuh kasih sayang, lebih patuh, agar dimaafkan atas kesalahan-kesalahan di masa lampau, dan atas tidak tahu terima kasih akan segala yang baik yang diterima."
"Dan jika dia tidak melakukan itu?"
"Dia pantas mati, sebab dia lebih keji dari binatang buas."
"Sahabat-sahabatKu, kalian telah menilai dengan benar. Lakukanlah atas diri kalian sendiri tepat sama seperti yang kalian ingin kuda itu lakukan. Aku minta dengan sangat, manusia, makhluk kesayangan Raja Surgawi, Allah, BapaKu dan Bapa-mu, untuk setidaknya berlaku seperti yang kau kehendaki dari kuda itu.
Sebab sesudah para Nabi, Allah mengutus kepada kalian PutraNya Sendiri dan Aku mohon pada kalian, demi kebaikanmu, dan sebab Aku mengasihimu seperti hanya Allah saja dapat mengasihi, Allah Yang ada dalam Aku untuk mengadakan mukjizat Penebusan. Celakalah mereka yang merendahkan diri ke tingkat yang lebih rendah dari binatang! Tetapi andai mungkin untuk memaafkan mereka yang melakukan dosa hingga sekarang ini - sebab sudah sangat lama berlalu sejak Hukum diberikan dan terlalu banyak debu duniawi yang menempel pada Hukum - maka sekarang tidak lagi demikian. Aku telah datang untuk membawa sekali lagi Sabda Allah. Putra manusia ada di tengah manusia untuk memimpin mereka kembali kepada Allah. Ikutlah Aku. Aku adalah Jalan, Kebenaran, Hidup."
"Kesalahan-kesalahan yang kita lakukan hanyalah bagaikan butiran-butiran pasir di hadapan gunung kerahiman Allah yang Mahabaik."
~ St Yohanes Maria Vianney
|
|
 "Mungkin seorang di antara kita di sini berpikir. 'Dosaku begitu besar, aku jauh dari Allah sejauh anak yang hilang dalam perumpamaan; ketidakpercayaanku seperti ketidakpercayaan Tomas. Aku tidak memiliki keberanian untuk kembali, untuk percaya bahwa Allah dapat menyambut aku dan bahwa Ia menantikan aku, dari semua orang.'
Akan tetapi Allah sungguh menantikanmu; Ia hanya minta darimu keberanian untuk datang kepada-Nya. Betapa sering dalam pelayanan pastoral saya, saya mendengar perkataan ini, 'Pater, saya sudah banyak berdosa.'? Dan saya selalu menegaskan, 'Janganlah takut, datanglah kepada-Nya, Ia menantikanmu, Ia akan menyelenggarakan segalanya.' Kita mendengar banyak tawaran dari dunia sekeliling kita, tapi sebaliknya baiklah kita menerima tawaran yang dari Allah: tawaran-Nya adalah belaian kasih. Bagi Allah, kita bukan sekedar bilangan, kita ini penting; sungguh kita ini adalah hal terpenting bagi-Nya. Bahkan meski kita ini orang-orang berdosa, kita adalah yang terdekat dengan hati-Nya." ~ Paus Fransiskus
"Janganlah pernah memikirkan dosa-dosa masa lalumu terkecuali dalam terang kerahiman yang tak terhingga, hingga kenangan akan dosa tidak mengecilkan hatimu, melainkan menghantarmu untuk menempatkan segala kepercayaanmu pada nilai jasa-jasa sang Juruselamat yang tak terhingga!"
~ St Katarina
|
|
SR. JOSEFA MENENDEZ (1890-1923): "JALAN KASIH ILAHI"
 Suster Josefa Menendez dilahirkan pada tanggal 4 Februari 1890 di Madrid, Spanyol. Pada tahun 1920, dalam usia 29 tahun, ia menggabungkan diri sebagai seorang biarawati Serikat Hati Kudus di Perancis. Ia menjalani hidup sebagai seorang biarawati sederhana hingga akhir hayatnya empat tahun kemudian, dalam usia 33 tahun pada tanggal 29 Desember 1923, di Biara Les Feuillants, Poitiers, Perancis.
Justru karena kesederhanaan, kerendahan hati dan hidupnya yang sangat biasa-biasa saja, Yesus memilih Sr Josefa untuk menyampaikan Pesan-pesan Kerahiman Yesus bagi semua orang, teristimewa mereka yang hidup dalam dosa. Berikut adalah beberapa kutipan pesan Yesus, seperti dituliskan Sr Josefa dalam buku "Jalan Kasih Ilahi" (The Way of Divine Love):
"Dunia tidak mengenal kerahiman Hati-Ku. Aku bermaksud menerangi mereka melalui engkau… Aku ingin engkau menjadi rasul kasih dan kerahiman-Ku."
"Datanglah kalian semua kepada-Ku dan jangan takut, sebab Aku Mengasihi kalian semua… Aku akan membasuh kalian dalam Darah-Ku dan kalian akan menjadi lebih putih dari salju. Segala pelanggaranmu akan dibenamkan ke dalam air di mana Aku sendiri yang akan membasuhmu, dan tidak akan ada suatu pun yang akan dapat mengambil dari Hati-Ku Kasihnya untukmu."
"Oh, kalian semua yang berkubang dalam dosa, dan untuk jangka waktu yang lama atau kurang dari itu telah hidup sebagai seorang pengembara dan pelarian oleh sebab kejahatan-kejahatanmu… jika pelanggaran-pelanggaran yang telah engkau lakukan telah mengeraskan dan membutakan hatimu… jika demi memuaskan satu dan lain hasrat nafsumu engkau telah sesat dalam jalan kejahatan… Ah! apabila motivasi atau kaki-tangan dari dosamu telah meninggalkanmu, dan kau menyadari keadaan jiwamu, oh maka, janganlah menyerah pada keputus-asaan! Sebab sepanjang napas hidup masih ada, manusia dapat memohon belas-kasihan dan pengampunan."
"Jika engkau masih muda, jika skandal-skandal hidupmu telah merendahkanmu di hadapan mata dunia, jangan takut… Bahkan meski ada alasan untuk memperlakukanmu sebagai seorang penjahat, untuk memandang rendah dan membuangmu… Allah-mu tidak ingin melihatmu jatuh ke dalam nyala api neraka… Sebaliknya Ia berkobar dalam kerinduan agar engkau datang kepada-Nya supaya Ia dapat mengampunimu. Jika engkau tidak berani berbicara kepada-Nya, setidaknya tataplah Ia dan biarlah keluhan hatimu sampai kepada-Nya, dan segera engkau akan mendapati kebaikan-Nya dan tangan-tangan kebapaan-Nya terentang demi membimbing engkau ke musim semi pengampunan dan hidup."
"Andai terjadi bahwa engkau telah melewatkan sebagian besar hidupmu dalam kedurhakaan dan keacuhan, dan bahwa sekonyong-konyong tibanya saat kematian menguasaimu dengan keputus-asaan yang membutakan… Oh! jangan biarkan dirimu tertipu, sebab masih ada saat pengampunan. Jika hanya ada satu detik tersisa dalam hidupmu, maka dalam satu detik itu engkau dapat menebus kembali kehidupan kekal!"
"Begitu jiwamu disentuh oleh rahmat, dan bahkan sebelum pertempuran dimulai, bergegaslah datang kepada Hati-Ku; mohonlah kepada-Ku agar setetes Darah-Ku jatuh ke atas jiwamu… Ah! bergegaslah datang kepada Hati-Ku… dan janganlah takut akan masa lalumu; semuanya itu telah ditelan oleh jurang kerahiman-Ku, dan kasih-Ku sedang mempersiapkan rahmat dan berkat-berkat baru untukmu. Kenangan akan kejatuhanmu akan menjadi daya dorong bagi kerendahan hati, dan kau tak akan dapat memberikan kepada-Ku bukti kasih yang terlebih besar selain dari mengandalkan pengampunan penuh-Ku dan percaya bahwa dosa-dosamu tidak akan pernah sebesar kerahiman-Ku yang tanpa batas."
|
|
"Jika kita diselamatkan dan menjadi orang-orang kudus, kita harus selalu ingat untuk berdiri di pintu gerbang Kerahiman Ilahi demi memohon dan berdoa bagi, sebagai sedekah, segala yang kita butuhkan"
~ St Alphonsus Liguori
|
TAHUN YUBILEUM KERAHIMAN ILAHI
 Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi dirayakan mulai tanggal 6 Desember 2015 pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa hingga 20 November 2016 pada Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam.
"Allah melihat, mendengar, turun, dan membebaskan kita. Allah tidak tinggal acuh tak acuh. Ia penuh perhatian dan Ia bertindak. Kerahiman adalah hati Allah," demikian Paus Fransiskus. Ia memperbandingkan kasih Allah dengan kasih seorang ibu atau seorang bapa yang berbicara kepada anak mereka ketika anaknya terbangun tengah malam oleh suatu mimpi buruk. Sama seperti orangtua kita akan meyakinkan kita dengan mengatakan "Jangan takut, aku di sini," demikianlah Allah mengatakan "Janganlah takut akan dosa-dosamu, Aku mengasihi engkau; Aku di sini untuk mengampunimu." "Inilah kerahiman Bapa," jelas Bapa Suci.
"Kerahiman," katanya, "adalah kata kunci dari Injil." Karenanya, "kita tidak perlu takut; kita sepatutnya membiarkan diri kita dipeluk oleh kerahman ilahi, yang menantikan kita dan mengampuni semuanya."
Dua syarat diperlukan untuk dapat sepenuhnya merayakan, kata Sri Paus: pertama, "sepenuhnya menyambut Allah dan rahmat kerahiman-Nya dalam hidup kita; kedua, untuk menjadi, dalam masa kita sekarang ini, 'para pekerja kerahiman (= belas-kasihan) melalui suatu perjalanan evangelik." Seturut teladan Maria, kata beliau, "kita dipanggil untuk menjadi 'pembawa Kristus' dan menjadi saksi kasih-Nya," teristimewa kepada mereka yang paling membutuhkan.
Kita dipanggil pada "kasih sayang, cinta, belas-kasihan dan solidaritas dalam hubungan kita satu dengan yang lain." Ini dimulai dari keluarga, yang adalah "tempat pertama di mana nilai-nilai kasih, persaudaraan, kebersamaan dan saling berbagi, perhatian dan kepedulian terhadap orang-orang lain diamalkan dan diturunkan."
Satu ujud setiap hari: menyampaikan kelembutan kasih-sayang Kristus kepada mereka yang paling membutuhkan.
Pintu Suci dibuka pada masa Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, tidak hanya di Basilika melainkan di semua katedral di seluruh dunia. "Bahkan tanda sederhana ini merupakan suatu undangan kepada sukacita, yakni dimulainya saat pengampunan agung. Yubileum Kerahiman Ilahi. Adalah saat untuk menemukan kembali kehadiran Allah dan kelembutan kasih sayang kebapaan-Nya…. Di hadapan Pintu Suci kita dipanggil untuk melintasi, kita dipanggil untuk menjadi alat-alat belas-kasihan, sadar bahwa kita akan dihakimi atas ini. Dia yang dibaptis tahu bahwa dia memiliki komitmen yang lebih besar. Iman dalam Kristus menghantar pada suatu perjalanan yang berlangsung hingga seumur hidup: untuk berbelas-kasihan, seperti Bapa. Sukacita melewati Pintu Kerahiman Ilahi disertai dengan komitmen untuk menyambut dan menjadi saksi dari kasih yang melampaui keadilan, kasih yang tiada mengenal batas."
"Kiranya Yubileum Kerahiman Ilahi menjadikan kita semakin dekat pada kebaikan dan kasih Allah!"
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|