|
Surat kepada Seorang Anak Gadis
oleh: Dr. Alice von Hildebrand*
Sahabat kecilku terkasih:
Aku tahu bahwa anak-anak gadis suka akan rahasia, dan aku hendak berbagi satu rahasia denganmu. Allah telah memilihkan jenis kelamin untukmu. Ia menjadikanmu seorang gadis. Kau tahu bahwa pada masa sekarang kaum feminist seringkali mengatakan kepada para gadis bahwa Gereja “diskriminatif terhadap sex” dan telah “mendiskriminasi” perempuan sejak dari semula. Gereja didakwa telah memperlakukan perempuan sebagai “warga kelas dua”, kurang mampu, kurang berbakat, diciptakan untuk menjadi pelayan laki-laki. Gereja tidak membiarkan perempuan mempunyai kuasa dalam Gereja, dan melarang perempuan menerima martabat tertinggi, ditahbiskan ke jenjang imamat, dan sebagainya.
Tak diragukan lagi, pastilah kau telah mendengar lagu provokasi ini, sebab media cerdik dalam soal menyebarluaskan pesan negatif ini. Dan itulah sebabnya, guna menyanggah dakwaan-dakwaan yang keliru ini, aku hendak menyadarkanmu bahwa perempuan - jauh dari didiskriminasikan - telah dianugerahi suatu tempat yang unik oleh Allah dalam karya penebusan. Keindahan perutusan perempuan ini telah diisyaratkan dalam Perjanjian Lama, tetapi mendapati kegenapannya hanya dalam Perjanjian Baru, yakni dalam Bunda Juruselamat kita yang termanis; dalam Maria, Gadis Nazaret yang lemah-lembut yang telah dipilih dari sepanjang kekekalan masa untuk menjadi Bunda Penebus.
Marilah melepas kacamata “sekular” kita, dan maka kita akan dapat melihat bahwa perempuan jauh dari “didiskriminasi”, dan dalam banyak hal dianugerahi hak-hak istimewa. Dan inilah “rahasia” yang hendak aku bagikan kepadamu. Tubuh setiap gadis kecil yang dilahirkan ke dalam dunia ini secara misterius dimeteraikan dengan apa yang dengan tepat disebut “selubung keperawanan”. Artinya, suatu “rahasia” dipercayakan pada tubuhnya, dan suatu rahasia selalu “terselubung”. Menurut ajaran Kristiani, selubung ini menutup pintu masuk ke sebuah taman misterius yang dalam suatu cara istimewa adalah milik Allah, dan karena alasan ini tak dapat dimasuki terkecuali dengan ijin-Nya yang sah, yakni ijin yang Allah berikan kepada pasangan-pasangan dalam Sakramen Perkawinan. Setiap gadis kecil yang sadar akan “misteri” ini akan merasa bahwa sudah sepatutnya kepada tubuhnya dikenakan pakaian yang sopan, agar rahasianya tersembunyi dari pandangan-pandangan mesum.
Gadis-gadis kecil, tentu saja, tumbuh besar. Betapa indah apabila seorang mempelai perempuan dapat mengatakan kepada suaminya pada malam pengantin mereka: “Aku telah memelihara taman ini perawan untukmu, dan sekarang, dengan ijin Tuhan aku memberikan kuncinya kepadamu, yakin bahwa engkau akan memasukinya dengan hormat.”
Lagipula, ketika seorang isteri mengandung beberapa jam setelah suaminya memeluknya, Allah menciptakan jiwa kanak-kanak dalam tubuhnya, (seperti yang tentunya kau tahu, baik suami maupun isteri tak dapat menciptakan jiwa manusia; Allah saja yang dapat menciptakaannya.) Dengan kata lain, ada suatu “kontak” pribadi antara Allah dan perempuan yang, sekali lagi, pada tubuh perempuannya Allah beri suatu catatan kesucian. Jangan lupa, bahwa Ia yang tak dapat dimuat oleh seluruh jagat raya ini, “tersembunyi”, dalam rahim Santa Perawan sembilan bulan lamanya. Begitu engkau menyadari ini, engkau akan takjub akan misteri ganda yang Allah percayakan kepadamu: mengandung seorang manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan melahirkannya dalam kesakitan dan sengsara. Jangan lupa bahwa dalam kesakitan dan sengsara pula Kristus membuka kembali bagi kita pintu gerbang Firdaus - yang telah ditutup akibat dosa. Kepada kaum perempuan telah dianugerahkan hak istimewa yang mengagumkan, yakni penderitaan yang luhur agar seorang manusia baru, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dapat masuk ke dalam dunia. Meditasikanlah hal ini beberapa waktu lamanya, dan engkau akan merasakan hormat yang mendalam terhadap tubuhmu. Tubuhmu itu milik Allah, dan bukan suatu “barang mainan” sehingga kau dapat memamerkannya sesukamu.
Jika kau pernah mempelajari seni kafir, kau akan mendapati bahwa seni kafir memberikan penghormatan kepada organ reproduksi laki-laki, menggambarkannya dalam berbagai macam patung dan lukisan sebagai suatu simbol kekuatan, kejantanan, kreativitas, kekuasaan. Tetapi, sejak dari saat Gereja Katolik menjadi suatu agama yang diakui, Gereja tiada kenal lelah berjuang melawan pemujaan kafir ini. Akan tetapi, Gereja memperkenalkan sebuah doa yang dipanjatkan berjuta-juta kali dalam sehari di mana organ perempuan, yakni “rahim” secara teramat unggul disebutkan. “Terpujilah buah tubuhmu (= rahimmu), Yesus.” Aku yakin, sahabat kecilku terkasih, bahwa jika kau memeditasikan hal ini, kau akan mengerti bahwa adalah suatu hak istimewa dilahirkan sebagai seorang perempuan, dan kau akan menghormati misteri yang telah Allah tempatkan dalam tubuh perempuan.
Bersyukurlah kepada Allah bahwa Ia telah menetapkanmu dilahirkan sebagai seorang perempuan; aku yakin bahwa sekarang kau mengerti bahwa itu adalah sungguh suatu hak istimewa.
* Alice von Hildebrand was married to the great philosopher, spiritual writer, and anti-Nazi crusader, Dietrich von Hildebrand, who passed to his reward in 1977. She is Professor Emeritus at Hunter College (CUNY). Alice von Hildebrand is on the Advisory Board of the Catholic Educator's Resource Center.
sumber : “Letter to a Young Girl”; Copyright © 1999 Alice von Hildebrand
Diperkenankan menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|