|
Surat Paus Yohanes Paulus II
kepada Kaum Perempuan
Saya menyapa kalian semua dengan sepenuh hati,
kaum perempuan di segenap penjuru dunia!
1. Saya menulis surat ini kepada masing-masing kalian sebagai tanda solidaritas dan terima kasih menjelang Konferensi Wanita Sedunia yang Keempat, yang akan diselenggarakan di Beijing bulan September mendatang.
Pertama-tama, saya hendak menyampaikan apresiasi mendalam kepada Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang telah mensponsori peristiwa yang sangat penting ini. Gereja menghendaki dari pihaknya untuk berperan serta menjunjung tinggi martabat, peran dan hak-hak kaum perempuan, tak hanya dengan karya spesifik delegasi resmi Tahta Suci pada konferensi di Beijing, melainkan juga dengan berbicara langsung kepada hati dan budi setiap perempuan. Baru-baru ini, ketika Mrs Gertrude Mongella, Sekretaris Jenderal Konferensi, mengunjungi saya sehubungan dengan pertemuan di Peking, saya menyampaikan kepadanya suatu Pesan tertulis yang memaklumkan beberapa point dasar ajaran Gereja mengenai masalah perempuan. Pesan itu, selain dari keadaan-keadaan spesifik asal-usulnya, adalah mengenai visi yang lebih luas dari situasi dan permasalahan-permasalahan kaum perempuan pada umumnya, dalam upaya memajukan perempuan dalam Gereja dan dalam dunia dewasa ini. Oleh karena alasan itulah, saya mengatur agar pesan itu disampaikan kepada setiap Konferensi Waligereja, agar dapat diedarkan seluas mungkin.
Dengan mengambil tema yang saya bahas dalam dokumen tersebut, sekarang saya hendak berbicara langsung kepada setiap perempuan, untuk merefleksikan bersamanya permasalahan-permasalahan dan pengharapan-pengharapan akan apa artinya menjadi seorang perempuan dalam masa kita. Secara istimewa saya hendak membicarakan masalah mendasar mengenai martabat dan hak-hak kaum perempuan, sebagaimana dilihat dalam terang Sabda Allah.
“Dialog” ini sungguh perlu diawali dengan ucapan terima kasih. Sebagaimana saya tulis dalam Surat Apostolik Mulieris Dignitatem, Gereja “hendak mengucap syukur terima kasih kepada Allah Tritunggal Mahakudus atas `misteri perempuan' dan atas setiap perempuan - atas segala yang merupakan hakekat abadi dari martabat kewanitaannya, atas `karya-karya besar Allah', yang sepanjang sejarah manusia telah dilaksanakan dalam dan melalui perempuan” (no. 31).
2. Ucapan terima kasih kepada Tuhan ini atas rancangan misterius-Nya sehubungan dengan panggilan dan perutusan kaum perempuan di dunia sekaligus merupakan ucapan terima kasih yang konkrit dan langsung kepada kaum perempuan, kepada setiap perempuan, atas segala peran mereka dalam kehidupan manusia.
Terima kasih, para perempuan yang adalah ibu! Kalian telah menaungi manusia dalam diri kalian sendiri dalam suatu pengalaman unik sukacita dan sakit bersalin. Pengalaman ini menjadikan kalian senyum Allah Sendiri atas kanak-kanak yang baru dilahirkan, menjadi dia yang membimbing langkah-langkah pertama anakmu, yang membantunya bertumbuh, dan yang adalah sauh sementara si anak mengarungi perjalanan hidupnya.
Terima kasih, para perempuan yang adalah isteri! Kalian secara tak dapat ditarik kembali menggabungkan masa depanmu dengan masa depan suamimu, dalam suatu hubungan saling memberi diri, dalam pelayanan kasih dan hidup.
Terima kasih, para perempuan yang adalah anak-anak dan para perempuan yang adalah saudari-saudari! Ke dalam jantung keluarga, dan lalu ke segenap masyarakat, kalian menghantarkan kekayaan kehalusan perasaan kalian, intuisi kalian, kemurahan hati dan kesetiaan kalian.
Terima kasih, para perempuan yang bekerja! Kalian berada dan aktif dalam bermacam bidang kehidupan sosial, ekonomi, budaya, seni dan politik. Dengan cara ini kalian memberikan sumbangan yang sangat diperlukan bagi perkembangan suatu budaya yang menyatukan budi dan perasaan, ke suatu model hidup yang senantiasa terbuka pada pemahaman “misteri”, pada pembentukan struktur ekonomi dan politik yang lebih berguna bagi umat manusia.
Terima kasih, para perempuan yang dikonsekrasikan! Seturut teladan yang teragung di antara perempuan, Bunda Yesus Kristus, Inkarnasi Sabda, kalian membuka diri dengan ketaatan dan kesetiaan pada anugerah kasih Allah. Kalian membantu Gereja dan segenap umat manusia untuk mengalami suatu hubungan “mempelai” dengan Allah, hubungan yang secara luhur mngungkapkan persahabatan yang Allah kehendaki dengan makhluk-Nya.
Terima kasih, setiap perempuan, atas kenyataan sederhana bahwa kalian adalah seorang perempuan! Melalui pemahaman yang adalah bagian besar dari kewanitaan, kalian memperkaya pemahaman dunia dan membantu mewujudkan hubungan manusia yang terlebih jujur dan tulus.
3. Saya tahu tentu saja bahwa sekedar mengucapkan terima kasih tidaklah cukup. Sayangnya, kita adalah keturunan dari suatu sejarah yang telah mengkondisikan kita hingga ke tingkat yang luar biasa. Di setiap waktu dan tempat, pengkondisian ini merupakan hambatan bagi perkembangan kaum perempuan. Martabat perempuan telah seringkali tidak diakui dan hak-hak istimewa perempuan disalahtafsirkan; kaum perempuan telah seringkali disingkirkan sebagai masyarakat marginal dan bahkan direndahkan ke perbudakan. Ini telah menghalangi kaum perempuan dari sungguh menjadi diri mereka sendiri dan berakibat pada pemiskinan rohani manusia. Memang bukan tugas yang mudah menentukan siapa yang bersalah dalam hal ini, mengingat banyaknya ragam budaya pengkondisian yang selama berabad-abad telah membentuk cara berpikir dan bertindak. Dan jika kesalahan obyektif, khususnya dalam konteks historis tertentu, diakibatkan oleh tak sedikit warga Gereja, untuk ini saya menyatakan penyesalan mendalam. Kiranya penyesalan ini diubah, dari pihak seluruh Gereja, menjadi suatu komitmen kesetiaan yang diperbaharui terhadap visi Injil. Berbicara mengenai membebaskan kaum perempuan dari segala bentuk eksploitasi dan dominasi, Injil mengandung suatu pesan yang senantiasa relevan yang berasal dari sikap Yesus Kristus Sendiri. Melampaui norma-norma yang ditetapkan oleh budaya-Nya Sendiri, Yesus memperlakukan kaum perempuan dengan keterbukaan, hormat, menerima dan penuh kelembutan. Dengan cara ini Yesus menghormati martabat yang senantiasa dimiliki perempuan seturut rancangan Allah dan dalam kasih-Nya. Sementara kita memandang Kristus di akhir Millennium Kedua ini, sudah sewajarnya kita bertanya kepada diri kita sendiri: seberapa banyakkah dari pesan-Nya yang telah kita dengar dan lakukan?
Ya, inilah waktu untuk meninjau masa lampau dengan keberanian, untuk menetapkan tanggung jawab yang seharusnya dalam tinjauan atas sejarah panjang kemanusiaan. Kaum perempuan telah memberikan kontribusi pada sejarah kemanusiaan sebanyak yang diberikan kaum laki-laki dan, terlebih sering daripada tidak, mereka melakukannya dalam kondisi yang jauh lebih sulit. Saya berpikir khususnya mengenai kaum perempuan yang mencintai budaya dan seni, dan mengabdikan diri untuk itu kendati kenyataan bahwa mereka kerap berada dalam keadaan yang tak menguntungkan sejak dari awal, disingkirkan dari kesempatan pendidikan yang setara, dipandang sebelah mata, diabaikan, dan kontribusi intelektual mereka tidak diakui. Menyedihkan bahwa sangat sedikit prestasi kaum perempuan dalam sejarah dapat dicatat oleh ilmu sejarah. Tetapi bahkan meski waktu mungkin telah mengubur bukti-bukti dokumenter dari prestasi-prestasi tersebut, namun pengaruhnya yang bermanfaat dapat dirasakan sebagai suatu daya yang telah membentuk kehidupan generasi-generasi sesudahnya, hingga ke generasi kita sekarang. Kepada “tradisi” kewanitaan yang amat luas dan besar ini, kemanusiaan menanggung hutang yang tak akan pernah dapat dibayar. Namun demikian, betapa banyak perempuan yang telah dan terus dinilai lebih karena penampilan fisik mereka daripada kemampuan mereka, profesionalisme mereka, kemampuan intelektual mereka, kepekaan mereka yang mendalam; singkat kata, martabat sejati dari keberadaan mereka!
4. Dan apakah yang hendak kita katakan mengenai hambatan-hambatan yang di begitu banyak belahan dunia masih menghalangi kaum perempuan dari berintegrasi sepenuhnya ke dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi? Kita hanya perlu berpikir akan bagaimana anugerah keibuan seringkali dikenai sanksi hukuman dan bukan ganjaran, bahkan meski kemanusiaan berhutang kelangsungan hidupnya pada anugerah ini. Tentu, banyak yang masih harus dilakukan guna mencegah diskriminasi terhadap mereka yang telah memilih untuk menjadi isteri dan ibu. Sepanjang menyangkut hak-hak pribadi, ada suatu kebutuhan mendesak untuk mencapai kesetaraan yang sesungguhnya di segala bidang: gaji yang sama untuk pekerjaan yang sama, perlindungan bagi kaum ibu yang bekerja, keadilan dalam kemajuan karir, persamaan suami isteri sehubungan dengan hak-hak keluarga dan pengakuan dalam segala hal yang adalah bagian dari hak dan kewajiban warga negara dalam sebuah negara yang demokratis.
Ini adalah masalah keadilan, tetapi juga adalah masalah kebutuhan, kaum perempuan akan semakin berperan dalam penyelesaian persoalan-persoalan serius masa mendatang: waktu senggang, kualitas hidup, migrasi, pelayanan-pelayanan sosial, euthanasia, obat-obatan, kesehatan, ekologi, dan sebagainya. Dalam semua bidang-bidang ini kehadiran kaum perempuan yang terlebih besar dalam masyarakat akan terbukti sangat bernilai, sebab akan membantu memperlihatkan pertentangan-pertentangan yang ada ketika masyarakat diorganisir semata-mata menurut kriteria efisiensi dan produktivitas, dan akan mendorong agar sistem direncanakan kembali dalam suatu cara yang mendukung proses pemanusiaan yang menandai “peradaban kasih”.
5. Kemudian juga, apabila kita melihat pada salah satu aspek paling penting dari situasi kaum perempuan di dunia, bagaimanakah kita dapat tidak menyebutkan sejarah yang panjang dan merendahkan martabat, meski seringkali merupakan suatu sejarah “bawah tanah”, kekerasan terhadap kaum perempuan dalam bidang seksualitas? Di ambang Millennium Ketiga kita tak dapat tinggal acuh tak acuh dan berpangku tangan di hadapan fenomena ini. Saatnya telah tiba untuk mengutuk dengan keras bentuk-bentuk kekerasan seksual yang kerapkali menempatkan kaum perempuan sebagai obyek dan menetapkan undang-undang yang secara efektif membela kaum perempuan dari kekerasan yang demikian. Tidak dapat tidak, atas nama hormat terhadap pribadi manusia, kita mengutuk budaya hedonisme dan budaya komersial yang tersebar-luas yang mendorong eksploitasi sistematik terhadap seksualita bahkan merusak anak-anak gadis yang masih amat belia dengan membiarkan tubuh mereka digunakan untuk mengeruk keuntungan.
Kontras dengan bentuk-bentuk ketidakwajaran ini, betapa apresiasi tinggi haruslah dberikan kepada kaum perempuan yang, dengan kasih yang gagah berani kepada anak yang mereka kandung, melanjutkan kehamilan mereka yang adalah akibat dari pemerkosaan yang tidak adil. Di sini kita berpikir akan kekejian yang dilakukan tak hanya dalam situasi-situasi perang, yang masih begitu lazim di dunia, melainkan juga dalam masyarakat-masyarakat yang diberkati dengan kemakmuran dan damai dan walau begitu seringkali dirusak oleh suatu budaya hedonisme yang serba memperbolehkan, yang memperparah kecenderungan perilaku laki-laki yang agresif. Dalam kasus-kasus ini pilihan untuk melakukan aborsi senantiasa tetap merupakan suatu dosa berat. Akan tetapi sebelum suatu kesalahan ditimpakan pada perempuan, itu adalah suatu kejahatan yang kesalahannya patut dihubungkan dengan laki-laki dan dengan keterlibatan lingkungan sosial pada umumnya.
6. Ucapan terima kasih saya kepada kaum perempuan yang dengan demikian menjadi seruan sepenuh hati agar setiap orang, dengan suatu cara yang istimewa, negara-negara maupun lembaga-lembaga internasional, hendaknya melakukan segala daya upaya guna memastikan kaum perempuan mendapatkan kembali hormat penuh bagi martabat dan peran mereka. Di sini saya tidak dapat tidak menyampaikan kekaguman saya terhadap kaum perempuan yang berkehendak baik yang telah membaktikan hidup mereka untuk membela martabat kewanitaan dengan berjuang demi hak-hak sosial dasar, hak-hak ekonomi dan politik mereka, dengan menunjukkan inisiatif yang gagah berani pada masa ketika hal ini dianggap sama sekali tdak pantas, tanda kurangnya kewanitaan, perwujudan sikap sok, dan bahkan dosa!
Dalam Hari Pesan Damai Sedunia tahun ini, saya memperhatikan bahwa ketika orang melihat proses panjang kemerdekaan kaum perempuan, “perjalanannya adalah yang sulit dan rumit dan, terkadang, bukan tanpa salah. Namun demikian ini pada dasarnya merupakan suatu perjalanan yang positif, bahkan meski masih belum selesai, sebab banyaknya hambatan yang, di berbagai belahan dunia, masih menghalangi kaum perempuan diakui, dihormati, dan dihargai dalam martabat khusus mereka sendiri” (no. 4).
Perjalanan ini haruslah terus berlanjut! Tetapi saya yakin bahwa rahasia kemajuan pesat dalam mencapai hormat penuh bagi kaum perempuan dan identitas mereka menyangkut lebih dari sekedar mengutuk diskriminasi dan ketidakadilan, meski betapa ini diperlukan. Hormat yang demikian pertama-tama dan terutama haruslah dimenangkan melalui suatu kampanye yang efektif dan cerdas bagi kemajuan perempuan, memberikan perhatian pada segala bidang kehidupan kaum perempuan dan memulai dengan suatu pengakuan universal akan martabat perempuan. Kemampuan kita untuk mengakui martabat ini, kendati pengkondisian historis, berasal dari penggunan budi itu sendiri, yang dapat memahami hukum Allah yang diukirkan dalam hati setiap manusia.
Lebih dari yang lain, Sabda Allah memampukan kita untuk menangkap dengan jelas dasar anthropologis pokok dari martabat perempuan, menjadikannya bukti sebagai bagian dari rancangan Allah bagi manusia.
7. Saudari-saudari terkasih, bersama-sama marilah kita merefleksikan kembali ayat indah dalam Kitab Suci yang menggambarkan penciptaan bangsa manusia dan yang berbicara begitu banyak mengenai martabat dan perutusan kalian di dunia.
Kitab Kejadian berbicara mengenai penciptaan dalam bentuk ringkas, dalam bahasa yang puitis dan simbolis, namun mengandung kebenaran mendalam: “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27). Tindakan kreatif Allah dilakukan menurut suatu rancangan yang seksama. Pertama-tama dikatakan bahwa manusia diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” (bdk Kejadian 1:26). Ungkapan ini segera menjadikan jelas apa yang membedakan manusia dari seluruh ciptaan lainnya.
Kemudian dikatakan bahwa, sejak dari semula, manusia telah diciptakan “laki-laki dan perempuan” (Kejadian 1:27). Kitab Suci sendiri menyajikan tafsiran dari kenyataan ini: meski manusia dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang tak terhitung banyaknya dari dunia ciptaan, manusia sadar bahwa ia seorang diri (bdk Kejadian 2:20). Allah turun tangan guna menolongnya membebaskan diri dari situasi kesendirian ini: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Dengan demikian penciptan perempuan ditandai dari awal dengan prinsip pertolongan: suatu pertolongan yang bukan sepihak melainkan saling menolong. Perempuan melengkapi laki-laki, sama seperti laki-laki melengkapi perempuan: laki-laki dan perempuan saling melengkapi. Kewanitaan mengungkapkan “kemanusiaan” sebanyak kepriaan, tetapi dalam suatu cara yang berbeda dan saling melengkapi.
Ketika Kitab Kejadian berbicara mengenai “pertolongan”, Kitab Suci tak sekedar menunjuk pada tindakan, melainkan juga makhluk. Kewanitaan dan kepriaan saling melengkapi tidak hanya dari sudut pandang fisik dan psikologis, melainkan juga dari sudut pandang ontologis. Hanya melalui dwitunggal “maskulin” dan “feminin” kemanusiaan menemukan kepenuhan realisasinya.
8. Sesudah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan, Allah berkata kepada keduanya: “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kejadian 1:28). Tak hanya Allah memberikan kepada mereka kuasa prokreasi sebagai sarana untuk melestarikan bangsa manusia sepanjang masa, Ia juga menyerahkan bumi kepada mereka, membebankan tugas tanggung-jawab kepada mereka untuk mempergunakan sumber-sumber dayanya. Sebagai suatu makhluk yang berakal budi dan bebas, manusia dipanggil untuk mengubah wajah bumi. Dalam tugas ini, yang pada pokoknya adalah budaya, laki-laki dan perempuan keduanya berbagi tanggung-jawab yang sama sejak dari permulaan. Dalam hubungan mereka yang subur sebagai suami dan isteri, dalam tugas umum mereka menaklukkan bumi, perempuan dan laki-laki ditandai bukan dengan suatu persamaan yang statis dan tanpa perbedaan, bukan pula dengan suatu perbedaan penuh konfilk yang tak dapat dirujukkan dan tak dapat ditawar. Hubungan mereka yang paling alami, yang selaras dengan rancangan Allah, adalah “persatuan keduanya”, suatu hubungan “satu dwitunggal” yang memungkinkan masing-masing laki-laki dan perempuan mengalami hubungan antar pribadi dan hubungan timbal balik mereka sebagai suatu anugerah yang memperkaya dan yang mendatangkan tanggung jawab.
Kepada “persatuan keduanya” ini Allah mempercayakan bukan hanya karya prokreasi dan kehidupan keluarga, tetapi penciptaan sejarah itu sendiri. Sementara Tahun Internasional Keluarga 1994 memusatkan perhatian pada kaum perempuan sebagai ibu, Konferensi Beijing, yang bertema “Gerakan untuk Kesetaraan, Perkembangan dan Damai,” memberikan suatu kesempatan yang bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran akan banyaknya kontribusi yang dilakukan kaum perempuan bagi kehidupan seluruh masyarakat dan bangsa-bangsa. Kontribusi ini terutama rohani dan budaya pada hakekatnya, tetapi juga sosio-politik dan ekonomi. Berbagai sektor masyarakat, bangsa-bangsa dan negara-negara, dan kemajuan seluruh kemanusiaan, tentu sangat berhutang budi pada kontribusi kaum perempuan!
9. Kemajuan pada umumnya cenderung diukur menurut kriteria ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukannya dari sudut pandang ini kontribusi kaum perempuan tak berarti. Namun demikian, ini bukanlah satu-satunya ukuran kemajuan, bukan pula kenyataan bahwa itulah yang utama. Yang jauh terlebih penting adalah dimensi sosial dan etis, yang menyangkut hubungan manusia dan nilai-nilai rohani. Dalam bidang ini, yang seringkali berkembang dalam suatu cara yang tak dikenal orang, dimulai dengan hubungan sehari-hari antara orang-orang teristimewa dalam keluarga; masyarakat tentulah berhutang banyak pada “keunggulan perempuan”.
Di sini saya hendak menyampaikan apresiasi khusus kepada kaum perempuan yang terlibat dalam berbagai bidang pendidikan yang luas hingga melampaui keluarga: taman kanak-kanak, sekolah, universitas, agen pelayanan sosial, paroki, perkumpulan dan gerakan-gerakan. Di manapun karya pendidikan diperlukan, kita dapat melihat bahwa kaum perempuan senantiasa siap dan sedia memberikan diri secara murah hati bagi yang lain, teristimewa dalam melayani yang paling lemah dan yang paling tak berharga. Dalam karya ini mereka menunjukkan semacam keibuan yang penuh kasih, budaya dan rohani yang tak ternilai bagi perkembangan individual dan masyarakat mendatang. Pada tahap ini bagaimana saya dapat tidak menyebutkan kesaksian begitu banyak kaum perempuan Katolik dan Kongregasi Religius wanita dari setiap benua yang telah menjadikan pendidikan, khususnya pendidikan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan, sebagai karya kerasulan utama mereka? Bagaimana saya tidak berpikir dengan penuh rasa terima kasih akan segenap kaum perempuan yang telah bekerja dan terus bekerja dalam bidang kesehatan, bukan hanya di lembaga-lembaga yang terorganisir dengan sangat baik, melainkan juga dalam keadaan-keadaan yang amat sulit, di negara-negara yang paling miskin di dunia, dengan demikian menunjukkan semangat pelayanan yang tak jarang harus berakhir dengan kemartiran?
10. Demikianlah harapan saya, saudari-saudari terkasih, supaya kalian merefleksikan dengan seksama apa artinya berbicara mengenai “keunggulan perempuan”, bukan hanya agar dapat melihat dalam frasa ini suatu bagian yang khusus dari rancangan Allah yang perlu diterima serta dihargai, melainkan juga agar membiarkan keunggulan ini secara lebih penuh diekspresikan dalam kehidupan bermasyarakat sebagai suatu yang utuh, pula dalam kehidupan Gereja. Subyek ini kerap muncul sepanjang Tahun Maria dan saya sendiri menguraikannya panjang lebar dalam Surat Apostolik Mulieris Dignitatem (1988). Di samping itu, tahun ini dalam Surat yang biasanya saya kirimkan kepada para imam pada hari Kamis Putih, saya mengundang mereka untuk membaca kembali Mulieris Dignitatem dan merefleksikan peran-peran penting yang dimainkan kaum perempuan dalam kehidupan mereka sebagai ibu, saudari dan rekan kerja dalam kerasulan. Ini adalah aspek berbeda yang lain dari aspek perkawinan, tetapi juga “pertolongan” yang penting itu dengan mana kaum perempuan, seturut Kitab Kejadian, dipanggil untuk memberikannya kepada laki-laki.
Gereja melihat dalam Maria ungkapan tertinggi dari “keunggulan perempuan” dan Gereja mendapati dalam Maria sumber inspirasi yang tak pernah habis. Maria menyebut diri “hamba Tuhan” (Lukas 1:38). Melalui ketaatan kepada Sabda Allah ia menerima panggilannya yang luhur mulia namun tak mudah sebagai isteri dan ibu dalam keluarga Nazaret. Menempatkan diri untuk melayani Allah, Maria juga menempatkan diri untuk melayani sesama: suatu pelayanan kasih. Tepat melalui pelayanan ini Maria dapat mengalami dalam hidupnya suatu “kuasa” yang misterius namun otentik. Bukan suatu kebetulan Maria dimohon bantuan doanya sebagai “Ratu Surga dan Bumi”. Dengan demikian segenap komunitas umat beriman memohon perantaraannya, banyak bangsa dan negara menyebutnya sebagai “Ratu” mereka. Bagi Maria, “berkuasa” berarti melayani! Pelayanannya adalah “berkuasa”!
Inilah cara dengan mana otoritas perlu dipahami, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat dan Gereja. Panggilan pokok setiap orang disingkapkan dalam “kuasa” ini sebab setiap orang diciptakan “menurut gambar” Dia yang adalah Tuhan surga dan bumi dan dipanggil untuk menjadi putera dan puteri angkat-Nya dalam Kristus. Manusia yang ada di dunia ini merupakan satu-satunya makhluk “yang oleh Allah dikehendaki demi Dirinya Sendiri”, sebagaimana diajarkan Konsili Vatican Kedua; konsili menambahkan dengan penuh arti bahwa manusia “tidak dapat menemukan diri sepenuhnya tanpa dengan tulus hati memberikan dirinya” (Gaudium et Spes, n. 24).
“Kuasa” keibuan Maria meliputi ini. Maria yang, dalam segenap keberadaannya, merupakan suatu anugerah bagi Putranya, telah juga menjadi suatu anugerah bagi para putera dan puteri segenap umat manusia, membangkitkan kepercayaan besar dalam diri mereka yang memohon bimbingannya di sepanjang jalan-jalan sulit kehidupan menuju takdir definitif dan transenden mereka. Masing-masing mencapai tujuan akhir ini dengan kesetiaan pada panggilan masing-masing; tujuan ini memberikan makna dan arah bagi karya duniawi laki-laki dan perempuan.
11. Dalam perspektif “pelayanan ini” - yang, apabila dilaksanakan dengan kebebasan, saling timbal balik dan kasih, mengekspresikan kodrat “keluhuran” sejati manusia - orang dapat juga menghargai bahwa adanya suatu perbedaan peran tertentu sama sekali tidaklah merendahkan kaum perempuan, asal perbedaan ini bukanlah akibat dari kesewenanga, melainkan lebih merupakan ekspresi dari apa yang spesifik dari menjadi laki-laki dan perempuan. Masalah ini juga mempunyai penerapannya yang khusus dalam Gereja. Jika Kristus - dengan pilihan bebas dan kuasa-Nya, seperti dengan jelas dibuktikan oleh Injil dan oleh Tradisi tetap Gereja - mempercayakan hanya kepada laki-laki tugas menjadi suatu “ikon” dari wajah-Nya sebagai “gembala” dan “mempelai laki-laki” Gereja melalui pelaksanaan imamat pelayanan, maka tak mungkin memberikan peran pada kaum perempuan, atau pada warga lain Gereja yang tidak ditahbiskan ke pelayanan sakral, sebab semua ikut ambil bagian secara sama dalam martabat yang pantas bagi “imamat umum” berdasarkan pembaptisan. Perbedaan peran ini hendaknya tidak dipandang menurut kriteria khas fungsionil dalam masyarakat manusia. Melainkan harus dipahami menurut kriteria khusus tata sakramen, yakni tata “tanda” yagn secara bebas dipilih Allah untuk menghadirkan Diri di tengah-tengah umat manusia.
Di samping itu, tepatnya sejalan dengan tata tanda ini, sekalipun di luar bidang sakramen, terdapat suatu makna agung “kewanitaan” yang diamalkan secara begitu luhur mulia oleh Maria. Sesungguhnya, ada dalam “komunitas” seorang perempuan yang percaya, dan teristimewa dalam seorang perempuan yang “dikonsekrasikan”, semacam “sifat nubuat” (bdk Mulieris Dignitatem, n. 29), suatu simbolisme penuh daya, suatu “karakter ikon” penuh makna, yang mendapati kepenuhan realisasinya dalam Maria dan yang juga dengan tepat mengungkapkan intisari Gereja sebagai suatu komunitas yang dikonsekrasikan dengan ketulusan suatu hati yang “perawan” untuk menjadi “mempelai perempuan” Kristus dan “bunda” umat beriman. Ketika kita memikirkan “ikon” yang saling melengkapi dari peran laki-laki dan perempuan, dua dimensi penting Gereja dapat terlihat dalam terang yang lebih jelas: prinsip “Maria” dan prinsip Apostolik- Petrine (bdk ibid., 27).
Di lain pihak - sementara saya menulis kepada para imam dalam Surat Kamis Putih tahun ini - imamat pelayanan, menurut rancangan Kristus “bukan merupakan suatu ungkapan kekuasaan, melainkan pelayanan” (n. 7). Gereja sangat perlu, dalam pembaharuan dirinya setiap hari dalam terang Sabda Allah, untuk menekankan kenyataan ini secara terlebih jelas, baik dengan mengembangkan semangat persekutuan dan dengan seksama membantu perkembangan segala sarana partisipasi yang pantas, dan juga dengan menunjukkan hormat dan memajukan beragam karisma pribadi dan komunal yang dianugerahkan Roh Allah demi pembangunan komunitas Kristiani dan pelayanan kemanusiaan.
Dalam bidang pelayanan yang luas ini, sejarah Gereja selama duaribu tahun, dengan segala sejarah pengkondisiannya, sungguh telah mengalami “keunggulan perempuan”; dari jantung Gereja telah muncul para perempuan dengan kualitas tertinggi yang telah meninggalkan tanda yang mengesankan dan bermanfaat dalam sejarah. Saya berpikir akan barisan panjang para perempuan yang menjadi martir, santa dan mistikus termashyur. Secara istimewa saya terpikir akan Santa Katarina dari Siena dan Santa Theresia dari Avila, yang oleh Paus Paulus VI dianugerahi gelar Pujanga Gereja. Dan bagaimanakah kita dapat mengabaikan banyak perempuan, yang diilhami iman, bertanggung-jawab atas inisiatif demi kepentingan sosial yang luar biasa, teristimewa dalam melayani yang termiskin dari antara yang miskin? Hidup Gereja dalam Millennium Ketiga tentulah tak akan berkekurangan dalam manifestasi-manifestasi baru dan mengejtukan dari “keunggulan kaum perempuan”.
12. Jadi dapat kalian lihat, saudari-saudari terkasih, bahwa Gereja mempunyai banyak alasan untuk berharap agar Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mendatang di Beijing akan memaklumkan kebenaran penuh mengenai kaum perempuan. Penekanan penting hendaknya ditempatkan pada “keunggulan perempuan”, tak hanya dengan memikirkan para perempuan besar dan termashyur dari masa silam atau masa sekarang, melainkan juga para perempuan biasa yang mengungkapkan anugerah kewanitaan mereka dengan menempatkan diri untuk melayani sesama dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sebab dengan memberikan diri kepada sesama setiap hari kaum perempuan memenuhi panggilan terdalam mereka. Mungkin lebih dari kaum laki-laki, kaum perempuan mengakui orang lain, sebab mereka melihat orang dengan hati. Mereka melihat hati sesama secara bebas dari berbagai-bagai ideologi atau sistem politik. Mereka melihat sesama dalam kelebihan dan kekurangan masing-masing orang; mereka berusaha menjangkau sesama dan menolong sesama. Dengan cara ini rancangan dasar sang Pencipta menjadi daging dalam sejarah umat manusia dan terus-menerus dinyatakan, dalam berbagai ragam panggilan, bahwa kecantikan - yang bukan sekedar fisik, melainkan di atas segalanya rohani - Allah anugerahkan dari sejak awal pada semua manusia, dan dalam suatu cara yang khusus pada kaum perempuan.
Sementara saya mempersembahkan kepada Tuhan dalam doa keberhasilan pertemuan penting di Beijing, saya mengundang komunitas Gereja untuk menjadikan tahun ini suatu kesempatan untuk mengucap syukur sepenuh hati kepada Pencipta dan Penebus dunia atas anugerah harta pusaka ini yang adalah kewanitaan. Dalam segala ekspresinya, kewanitaan merupakan bagian dari warisan penting umat manusia dan Gereja sendiri.
Krianya Maria, Ratu Kasih, memeilhara kaum perempuan dan perutusan mereka dalam pelayanan kemanusiaan, damai, pewartaan kerajaan Allah!
Berkat saya.
Dari Vatican, 29 Juni 1995, Hari Raya St Petrus dan St Paulus.
Yohanes Paulus II
sumber : “Letter of Pope John Paul II to Women”; The Holy See; Copyright © Libreria Editrice Vaticana; www.vatican.va
Diperkenankan menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|