|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Agustus 2010
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
JALAN KE SURGA DIPUTUSKAN OLEH KETIDAKTAATAN ADAM,
ALLAH MENJADIKAN PUTRANYA SUATU JEMBATAN YANG DAPAT DILALUI MANUSIA
dikutip dari: Dialog Santa Katarina dari Siena,
Percakapan dengan Allah Bapa, didiktekannya dalam keadaan ekstasi
 “Telah Aku katakan kepada kalian bahwa Aku telah menjadikan suatu Jembatan Sabda-Ku, dari Putra TunggalKu, dan inilah kebenaran. Aku menghendaki kalian, anak-anak-Ku, tahu bahwa jalan ke surga diputuskan oleh dosa dan ketidaktaatan Adam, begitu rupa, hingga tak seorang pun dapat sampai di Kehidupan Abadi. Manusia tidak memuliakan Aku seperti seharusnya, sebab mereka tidak ikut ambil bagian dalam kebajikan untuk mana Aku menciptakan mereka, dan kebenaran-Ku tidak tergenapi. Kebenaran ini adalah bahwa Aku telah menciptakan manusia seturut gambar-Ku dan citra-Ku Sendiri, agar ia dapat memiliki Hidup Abadi dan dapat ikut ambil bagian dalam Aku, dan merasakan kemanisan dan kebaikan-Ku yang tertinggi dan abadi. Tetapi, sesudah dosa menutup Surga dan memalang pintu-pintu belas kasihan, jiwa manusia menghasilkan onak duri, dan makhluk-Ku mendapati dalam dirinya pemberontakan melawan dirinya sendiri.
Dan daging segera mulai berperang melawan Roh, dan, kehilangan keadaan tanpa dosa, menjadi binatang keji, dan semua ciptaan memberontak melawan manusia: padahal seharusnya mereka taat kepadanya, andai ia tinggal dalam keadaan di mana Aku telah menempatkannya. Manusia tidak tinggal di sana, ia melanggar ketaatan dan mendatangkan ganjaran kematian abadi dalam jiwa dan raga. Dan, segera sesudah ia berdosa, timbul suatu banjir yang menggelora, yang menerjangnya dengan gelombang-gelombangnya, mendatangkan baginya kepayahan dan kesusahan dari dirinya sendiri, iblis dan dunia. Semua orang tenggelam dalam banjir, sebab tak seorang pun, dengan kelayakannya sendiri, dapat tiba di Kehidupan Abadi. Dan jadi, dengan maksud menyembuhkan kalian dari kejahatan-kejahatan kalian yang besar, Aku memberikan kepada kalian Jembatan PutraKu, agar dengan menyeberangi banjir, kalian tak akan tenggelam dalam banjir yang adalah samudera yang bergolak dari kehidupan yang gelap ini. Oleh karena itu, lihatlah kewajiban-kewajiban makhluk terhadap-Ku, dan betapa bebalnya dia, yang tak hendak mengambil obat yang telah Aku tawarkan, melainkan bersedia tenggelam.”

|
|
“Ketaatan adalah keutaman yang begitu mengagumkan, hingga Tuhan kita suka memberi penegasan pada pengamalannya di sepanjang seluruh hidup-Nya; demikianlah Ia kerap mengatakan, Ia tidak datang untuk melakukan kehendak-Nya Sendiri, melainkan kehendak Bapa SurgawiNya.”
~ St Fransiskus dari Sales, Pujangga Gereja
|
MARIA, HAWA YANG BARU, TAAT KEPADA ALLAH
dikutip: dari Paus Yohanes Paulus II
 1. Dalam mengomentari peristiwa Kabar Sukacita, Konsili Vatican II memberikan penekanan khusus pada nilai persetujuan Maria atas perkataan utusan Allah. Tak seperti apa yang terdapat dalam kisah-kisah biblis serupa, persetujuan Maria dengan jelas dinantikan oleh malaikat: “Adapun Bapa yang penuh belas kasihan menghendaki supaya Penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi BundaNya. Dengan demikian, seperti dulu wanita mendatangkan maut, sekarang pun wanitalah yang mendatangkan kehidupan” (Lumen Gentium, no 56).
Lumen Gentium mencermati perbedaan kontras antara perilaku Hawa dan perilaku Maria, sebagaimana diuraikan oleh St Ireneus: “Hawa terpedaya oleh perkataan seorang malaikat dan karenanya melarikan diri dari Allah setelah melanggar Sabda-Nya. Pada gilirannya, kepada Maria disampaikan kabar sukacita oleh perkataan seorang malaikat, dan ia mengandung Allah dalam ketaatan pada Sabda-Nya. Hawa diperdaya dan jatuh ke dalam ketidaktaatan kepada Allah; Maria menjadi pembela dari perawan Hawa. Dan sebagaimana umat manusia takluk pada kematian oleh seorang perawan, manusia dibebaskan oleh seorang Perawan; dengan demikian ketidaktaatan sang perawan diimbangi dengan ketaatan sang Perawan…” (Adv. Haer., V, 19,1).
2. Dalam menyatakan “ya” yang total pada rancangan Allah, Maria sepenuhnya bebas di hadapan Allah. Pada saat yang sama, ia secara pribadi merasa bertanggung jawab atas umat manusia, yang masa depannya tergantung pada jawabannya.
Allah menempatkan nasib seluruh umat manusia dalam tangan seorang perempuan muda. “Ya” Maria merupakan dasar untuk menggenapi rancangan yang telah dipersiapkan Allah dalam kasih-Nya demi keselamatan dunia.
Katekismus Gereja Katolik secara singkat padat meringkas nilai menentukan dari persetujuan bebas Maria pada rancangan ilahi akan keselamatan. “Perawan Maria dengan iman dan ketaatan yang bebas, telah bekerjasama untuk keselamatan manusia. Sebagai wakil seluruh kodrat manusia ia mengucapkan perkataan `Ya'. Oleh ketaatannya ia menjadi Hawa baru, menjadi Bunda orang-orang hidup.”
3. Dengan tindakannya, Maria mengingatkan masing-masing kita akan tanggung jawab kita yang sungguh untuk menerima rancangan Allah bagi hidup kita. Dalam ketaatan total pada kehendak keselamatan Allah sebagaimana dinyatakan dalam perkataan malaikat, Maria menjadi teladan bagi mereka yang oleh Tuhan disebut berbahagia, sebab “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Lukas 11:28). Yesus, dalam menanggapi seorang perempuan dari antara orang banyak yang menyatakan BundaNya sebagai berbahagia, memaklumkan alasan sebenarnya kebahagiaan Maria: ketaatannya pada kehendak Allah, yang membimbingnya untuk menerima keibuan yang ilahi.
Dalam Ensiklik “Redemptoris Mater”, saya menunjukkan bahwa keibuan rohani yang baru, yang dibicarakan Yesus, adalah terutama mengenai Maria. Sungguh, “Bukankah Maria yang pertama-tama dari mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya? Dan karena itu, bukankah pujian yang diucapkan oleh Yesus untuk menangapi wanita di antara kerumunan orang pertama-tama menunjuk kepada BundaNya?” Sebab itu, dalam makna tertentu Maria dimaklumkan sebagai murid pertama dari Putranya dan, dengan teladannya, mengundang semua orang yang percaya untuk menanggapi kasih karunia Allah dengan murah hati.
4. Konsili Vatican II menerangkan bakti diri total Maria pada pribadi dan karya Kristus: Maria “membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi serta karya Putranya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang Mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan” (Lumen Gentium, no. 56).
Bagi Maria, bakti diri pada pribadi dan karya Yesus berarti persatuan akrab mesra dengan Putranya, keterlibatan keibuan dalam memelihara dan merawat perkembangan manusiawi-Nya dan bekerjasama dalam karya keselamatan-Nya.
Maria melaksanakan aspek terakhir dari bakti dirinya kepada Yesus ini “di bawah Dia”, yakni dalam suatu kondisi yang lebih rendah dari-Nya, yang adalah buah rahmat. Namun demikian, ini merupakan kerjasama sejati, sebab diwujudkan “beserta Dia” dan, dimulai dengan Kabar Sukacita, kerjasama ini menyangkut partisipasi aktif dalam karya penebusan. “Maka memang tepatlah,” demikian Konsili Vatican II, “pandangan para Bapa suci bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerjasama dalam penyelamatan umat manusia dengan iman serta ketaatannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh S. Ireneus, `dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia.'”

“Dengan keutamaan-keutamaan lain, kita mempersembahkan kepada Allah apa yang kita miliki; akan tetapi, dengan ketaatan kita mempersembahkan diri kita sendiri kepada-Nya. Mereka yang taat adalah para pemenang, sebab dengan berserah diri pada ketaatan mereka menang atas para malaikat yang jatuh karena ketidaktaatan.”
~ Paus St Gregorius Agung, Bapa dan Pujangga Gereja
|
|
KITA HARUS LEBIH TAAT KEPADA ALLAH DARIPADA KEPADA MANUSIA
dikutip dari: Homili Paus Benediktus XVI, 15 April 2010
 Sabda, ayat yang hendak saya ajukan kepada komunitas meditasi ini adalah penegasan agung oleh St Petrus: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kisah Para Rasul 5:29). St Petrus berdiri di hadapan lembaga tertinggi agama, yang pada dasarnya wajib ditaati, tetapi Allah melampaui lembaga ini dan Allah telah memberinya suatu “perintah” yang lain: ia harus lebih taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah adalah kemerdekaan; ketaatan kepada Allah memberinya kebebasan untuk menentang Mahkamah Agama.
Dan di sini perhatian kita diarahkan pada kenyataan bahwa jawaban St Petrus kepada Mahkamah Agama nyaris identik kata per kata dengan jawaban Socrates pada vonis di pengadilan Athena. Pengadilan menawarkan kepada Socrates kemerdekaan, kebebasan; akan tetapi dengan syarat ia meninggalkan Allah. Tetapi bagi Socrates mencari Allah, mengenal Allah, merupakan mandat tertinggi yang berasal dari Allah Sendiri. Dan suatu kemerdekaan yang dibeli dengan harga mengingkari ziarah menuju Allah bukan lagi kemerdekaan. Oleh sebab itu ia wajib tidak mentaati hakim-hakim ini, tidak membeli hidupnya dengan harga kehilangan dirinya, melainkan harus taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan prioritas.
Di sini penting ditekankan bahwa ini adalah masalah ketaatan dan bahwa ketaatan itu sendiri merupakan kemerdekaan. Abad modern berbicara mengenai kebebasan manusia, mengenai otonominya yang penuh, dan karenanya juga kebebasan dari taat kepada Allah. Ketaatan seharusnya tak ada lagi, manusia bebas, ia punya otonomi penuh: titik. Akan tetapi, otonomi ini adalah suatu kebohongan: suatu kesesatan ontologika sebab manusia tidak ada dari dirinya sendiri dan untuk dirinya sendiri; suatu kesesatan politik dan praktis juga sebab kerjasama, saling berbagi kemerdekaan, sungguh perlu. Dan jika Allah tidak ada, jika Allah bukanlah suatu rujukan yang dapat diterima manusia, maka konsensus mayoritaslah yang menjadi rujukan tertinggi. Sebagai konsekwensinya, konsensus mayoritas menjadi kata terakhir yang harus kita taati. Dan konsensus ini, kita mengetahuinya dari sejarah abad silam, dapat juga menjadi suatu “konsensus dalam kejahatan”.
Dengan demikian kita lihat bahwa yang disebut otonomi tidak sungguh memerdekakan manusia. Ketaatan kepada Allah adalah kemerdekaan sebab ketaatan kepada Allah adalah kebenaran, adalah rujukan yang mendahului segala kebutuhan manusia. Dalam sejarah kemanusiaan, kata-kata Petrus dan Socrates ini merupakan mercusuar sebenarnya dari kebebasan manusia, yang dapat melihat Allah dan, dalam nama Allah, dapat dan harus taat, bukan kepada manusia, melainkan kepada Allah. Kediktatoran senantiasa merupakan perlawanan terhadap ketaatan kepada Allah ini. Nazi, dan juga kediktatoran Marxist, tak dapat menerima Allah yang melampaui kuasa ideologis. Kemerdekaan para martir, yang mengenal Allah tepat dalam ketaatan pada kuasa ilahi, senantiasa merupakan tindakan pembebasan melalui mana kemerdekaan Kristus menjangkau kita.
Sekarang, syukur kepada Allah, kita tidak hidup di bawah kediktatoran, meski begitu, bentuk-bentuk tak kentara dari kediktatoran ada: penyesuaian diri, yang menjadi suatu kewajiban, untuk berpikir seperti orang-orang lain berpikir, berperilaku seperti orang-orang lain berperilaku, dan serangan-serangan halus terhadap Gereja, atau bahkan yang nyaris tak kentara menunjukkan bahwa penyesuaian ini dapat sungguh menjadi kediktatoran yang sebenarnya. Inilah yang berlaku bagi kita: kita harus lebih taat keapda Allah daripada kepada manusia. Namun demikian ini menyiratkan bahwa kita sungguh mengenal Allah dan kita sungguh rindu taat kepada-Nya. Allah bukanlah suatu dalih bagi kehendak pribadi seseorang, melainkan sungguh Dia yang memanggil dan mengundang kita, jika perlu, bahkan ke kemartiran. Oleh karenanya, dalam hidup mendunia yang menghantar pada suatu sejarah baru kemerdekaan di dunia, marilah kita berdoa di atas segalanya untuk mengenal Allah, untuk mengenal Allah dengan rendah hati dan sungguh, dan dalam mengenal Allah belajar ketaatan sejati yang adalah sumber kemerdekaan manusia.
“Ketaatan adalah sumber kebebasan sejati.”
~ Paus Yohanes Paulus II
|
|
KETAATAN MENURUT ST IGNATIUS DARI LOYOLA
 “Dan meski aku menghendaki kalian semua sempurna dalam setiap keutamaan dan karunia rohani, adalah benar (seperti yang telah kalian dengar dariku pada kesempatan-kesempatan lain), bahwa Allah Tuhan kita menanamkan dalam diriku kerinduan untuk melihat kalian menonjol dalam ketaatan lebih dari keutamaan-keutamaan lainnya, dan bahwa bukan hanya karena kebaikan luar biasa yang ada dalam ketaatan, sebagaimana begitu banyak ditekankan dalam perkataan dan teladan dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, melainkan karena, (seperti dikatakan St Gregorius), ketaatan adalah satu-satunya keutamaan yang menanamkan segala keutamaan-keutamaan lain dalam benak dan memeliharanya begitu keutamaan-keutamaan itu ditanamkan. Dan sejauh keutamaan ketaatan ini tumbuh dengan subur, segala keutamaan-keutamaan lainnya akan tumbuh subur pula dan menghasilkan buah yang aku kehendaki ada dalam jiwa kalian, dan yang dikehendaki Dia, yang dengan ketaatan-Nya menebus dunia setelah dunia dirusakkan karena kurangnya ketaatan, Dia yang telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8).”

“Oh! betapa manis dan luhurnya keutamaan ketaatan, dengan mana segala keutamaan lain ada, sebab ketaatan adalah turunan dari cinta kasih! Di atas ketaatan berdirilah batu karang iman; ketaatan adalah ratu, barangsiapa memeluk ketaatan, kaya dalam segala macam kebaikan dan yang jahat tak kuasa menyerangnya.”
~ St Katarina dari Siena, Pujangga Gereja
|
|
 Baru saja Paulus dari Salib menghembuskan nafasnya yang terakhir, segenap hadirin mendekatinya dengan airmata berlinang. Ada yang mencium tangannya, ada yang meletakkan kepala di atas dadanya untuk mohon semangatnya, ada yang menaruh lambang Pasionis di atas dadanya untuk disimpan sebagai relikwi. Setelah semua memuaskan devosinya, mereka keluar. Superior bersama Broeder Bartolomeus mengurus jenazah. Pada waktu itulah mereka memperhatikan Nama Yesus yang terukir di dadanya.
Mulut Paulus tinggal terbuka. Broeder Bartolomeus berusaha menutupnya, tetapi selalu terbuka kembali. Maka, Broeder membungkuk di atas jenazah dan dengan nada confidensiil seperti sewaktu Pater masih hidup berkata, “Pater selalu taat, maka hendaklah sekarang juga Pater taat dan tutuplah mulut ini!” Seorang saksi mata mengatakan, “Sungguh mengagumkan, ia menutup mulut dan tidak terbuka lagi.”
Berikut adalah beberapa pesan Rohani St Paulus dari Salib mengenai KETAATAN yang ditinggalkannya bagi kita:
“Barangsiapa hendak berjalan lancar dan bebas aman dari kesesatan, ia harus meneladani Yesus yang menjadi taat sampai mati di salib.”
“Yesus taat dengan diam dan tidak pernah mengeluh, maka belajarlah menderita dan diam, taat dan diam daripada-Nya.”
“Tuhan kita, Yesus yang lemah lembut, menyerahkan diri ke dalam tangan para algojo. Mereka menelanjangi-Nya, sekali waktu membelenggu tangan-Nya dan sekali waktu melepaskan-Nya, sekali waktu menggiring-Nya ke sana dan sekali waktu ke sini.... Dia, Anak Domba Allah, menurut saja dengan segala kerelaan. Betapa lemah lembutnya Yesus!”
“Jika kamu taat dengan sempurna, maka kamu juga akan lemah lembut dan pendamai.”
“Aku berpesan kepadamu: taatlah, taatlah; sekali lagi: taatlah. Maka aku berharap dapat memandangmu di surga bersama dengan orang-orang kudus.”
|
|
 Ketika aku meninggalkan kamar pengakuan dan mulai mendaraskan doa penitensiku, aku mendengar kata-kata ini: “Aku telah mengabulkan karunia yang engkau mohonkan bagi jiwa itu, tetapi bukan karena matiraga yang engkau pilih bagi dirimu sendiri. Melainkan, karena tindak ketaatan totalmu kepada wakil-Ku sehingga Aku mengaruniakan karunia ini bagi jiwa yang engkau doakan dan mohonkan belas kasihan. Ketahuilah bahwa ketika engkau mematiragakan kehendakmu sendiri, maka kehendak-Ku bertahta dalam dirimu.” (BCH 365)
|
“Ya... ketika engkau taat Aku mengambil kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan-Ku. Aku sungguh teramat heran bahwa jiwa-jiwa tak hendak melakukan pertukaran itu dengan-Ku.” Aku katakan kepada Tuhan, “Yesus, sudi terangilah jiwaku, jika tidak, aku juga tak akan begitu paham akan kata-kata ini.” (BCH 381)
“Puteri-Ku, ketahuilah bahwa engkau memberi-Ku kemuliaan yang terlebih besar dengan satu tindak ketaatan dibandingkan doa-doa yang panjang dan matiraga.” (BCH 894)
|

|
|
DOA MOHON KEUTAMAAN KETAATAN
Yesus, Raja yang Mahakuasa di atas segala raja,
Engkau yang taat pada BapaMu hingga akhir,
ajarilah aku makna ketaatan.
Jiwaku berkobar untuk taat pada Kehendak-Mu,
berjuang demi memikat ke-Allah-an-Mu.
Sementara kodrat duniawiku mencari jalan yang satu,
kodrat rohaniku mencari jalan yang lain.
Sudi berkatilah aku dengan kekuatan untuk taat,
agar jiwaku dapat tunduk pada kedua kodrat,
memadupadankannya bagai rangkaian bunga nan harum menawan.
Aku senantiasa mencari rahmat di hadapan-Mu,
untuk selalu taat pada-Mu hingga hembusan napas terakhirku! Amin.
|
PAUS MEMAKLUMKAN KANONISASI BIARAWATI YANG DIEKSKOMUNIKASI
 Paus Benediktus XVI akan mengkanonisasi enam Santa / Santo pada tanggal 17 Oktober 2010 mendatang, termasuk di antaranya adalah Beata Maria MacKillop, yang akan menjadi orang kudus pertama Australia.
Moeder Maria MacKillop, pendiri kongregasi Suster-suster St Yosef dari Hati Kudus, pada tahun 1871, secara resmi diekskomunikasi oleh Uskup Sheil, uskup setempat, dengan alasan “ia telah mendorong para suster untuk tidak taat dan membangkang.” Rupanya semangat independen dalam diri sang biarawati merupakan ancaman bagi Uskup Sheil yang akhirnya mengusirnya dari Gereja.
Tahun 2008 lalu, dalam kunjungannya ke Australia untuk merayakan World Youth Day, Paus Benediktus XVI menyempatkan diri mengunjungi makam Beata Maria MacKillop di Sydney. Kunjungan itu menanamkan kesan mendalam pada diri Bapa Suci. Bulan April 2009, penerus Uskup Sheil, Uskup Agung Adelaide Philip Wilson, menyampaikan permohonan maaf secara umum kepada Suster-suster St Yosef atas dijatuhkannya ekskomunikasi atas pendiri kongregasi mereka. Berdiri di depan patung Beata Maria MacKillop, Uskup Agung menyatakan bahwa ia “sungguh amat menyesal atas tindakan Uskup mengusir para biarawati ke jalanan.”
Gagasan akan seorang perempuan kudus yang dimusuhi oleh hierarki - dan bahkan dieksomunikasi - bukan suatu hal baru dalam riwayat hidup para kudus. Pada tahun 2006 yang lalu, dikanonisasi seorang kudus Amerika, Moeder Theodore Guerin, pendiri kongregasi Suster-suster Penyelanggaraan Ilahi, yang dikunci dalam sebuah kamar di pastoran oleh uskupnya, yang berang atas semangat independen serupa.
Baiklah pada masa sekarang, kita menyimak apa yang dinasehatkan St Theresia dari Avila, “Kalau saya melihat keadaan jaman, rasanya tidak sepatutnyalah menolak semangat yang saleh dan berani, kendati itu semangat kaum perempuan.”
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|