|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Juli 2010
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
SETAN BERUPAYA MEMPERDAYA MANUSIA
dikutip dari: Audiensi Umum Paus Yohanes Paulus II, 13 Agustus 1986
 Setan bermaksud merusakkan hidup yang diamalkan selaras dengan kebenaran, hidup dalam kepenuhan kebajikan, hidup adikodrati rahmat dan kasih….
Sebagai akibat dosa leluhur pertama kita, malaikat yang jatuh ini telah mendapatkan kuasa atas manusia hingga taraf tertentu. Inilah doktrin yang terus-menerus dinyatakan dan dimaklumkan oleh Gereja, dan yang oleh Konsili Trente ditegaskan dalam risalatnya mengenai dosa asal.
Dalam Kitab Suci kita temukan bermacam indikasi dari pengaruh setan ini atas manusia dan atas disposisi rohani (dan jasmani) manusia. Dalam Kitab Suci, setan disebut “penguasa dunia ini” (bdk Yohanes 12:31; 14:30; 16:11) dan bahkan “ilah zaman ini” (2 Korintus 4:4)….
Menurut Kitab Suci, dan teristimewa Perjanjian Baru, kuasa dan pengaruh setan dan roh-roh jahat yang lain mencakup seluruh dunia…. Tindakan setan meliputi terutama mencobai manusia untuk berdosa, dengan mempengaruhi imajinasi dan kemampuan manusia, untuk memalingkan manusia dari hukum Allah…. Adalah mungkin dalam kasus-kasus tertentu roh jahat bertindak lebih jauh dengan mengerahkan pengaruhnya tidak hanya pada hal-hal materiil, melainkan bahkan pada tubuh manusia, sehingga orang dapat berbicara mengenai “kerasukan roh jahat” (bdk Markus 5:2-9). Tidak selalu mudah membedakan faktor supranatural yang bekerja dalam kasus-kasus ini, dan Gereja tidak dengan mudah mendukung kecenderungan untuk mengaitkan banyak hal pada tindakan langsung setan; tetapi, pada prinsipnya tak dapat disangkal bahwa setan dapat melakukan manifestasi ekstrim superioritasnya dalam kehendak untuk mencelakai dan menghantar manusia ke kejahatan.
Dalam menyimpulkan, patut kita tambahkan bahwa kata-kata mengesankan Rasul Yohanes - “Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat” (1 Yohanes 5:19) - menyinggung juga kehadiran setan dalam sejarah umat manusia, suatu kehadiran yang menjadi terlebih akut ketika manusia dan masyarakat berpaling dari Allah.
“Kejatuhan” setan ini yang memiliki karakter penolakan terhadap Allah, dengan konsekwensi keadaan “binasa”, terkandung dalam pilihan bebas roh-roh ciptaan itu yang secara radikal dan tak-dapat-ditarik-kembali menolak Allah dan Kerajaan-Nya, berupaya merampas hak-hak kemahakuasaan-Nya dan berusaha menggagalkan tata keselamatan dan tata keseluruhan alam semesta. Kita dapati refleksi atas sikap ini dalam perkataan yang disampaikan oleh si penggoda kepada leluhur pertama kita: “Kamu akan menjadi seperti Allah” atau “seperti dewa” (bdk Kejadian 3:5).
Dengan demikian, roh jahat berupaya menanamkan dalam diri manusia sikap hendak menyamai, membangkang dan menentang Allah yang, seolah, telah menjadi motivasi dari segenap keberadaannya….
Ketika, dengan suatu tindakan dari kehendak bebasnya sendiri, ia menolak kebenaran yang ia ketahui mengenai Allah, setan menjadi “pendusta dan bapa segala dusta” seluruh alam (Yohanes 8:44). Oleh karenanya, ia hidup dalam penyangkalan yang radikal dan tak-dapat-ditarik-kembali akan Allah, dan berusaha menimpakan pada ciptaan - pada makhluk lain yang diciptakan seturut gambar Allah, dan teristimewa pada manusia - “dusta tragisnya sendiri mengenai kebaikan” yang adalah Allah. Dalam Kitab Kejadian kita temukan suatu gambaran yang tepat mengenai dusta ini dan penyesatan kebenaran akan Allah, yang berusaha disampaikan oleh setan (dalam rupa seekor ular) kepada wakil-wakil pertama bangsa manusia: Allah waspada dalam menjaga hak istimewa-Nya Sendiri dan karenanya berkehendak menetapkan batasan-batasan pada manusia (bdk Kejadian 3:5). Setan mengundang manusia untuk membebaskan dirinya dari beban kuk ini dengan menjadikan dirinya “seperti Allah”.
Dalam kondisi dusta tetap ini, setan - menurut St Yohanes - juga menjadi seorang “pembunuh”, yakni dia yang merusakkan hidup adikodrati yang telah dibuat Allah untuk tinggal sejak awal mula dalam dirinya dan dalam ciptaan-ciptaan yang dijadikan “seturut citra Allah”: roh-roh murni lainnya dan manusia. Pengaruh roh jahat dapat menyamarkan diri dalam suatu cara yang terlebih hebat dan efektif: sebab adalah memang niatnya untuk menjadikan dirinya “tak dikenali”. Setan memiliki kecakapan membujuk-rayu manusia untuk menyangkal keberadaan setan atas nama rasionalisme dan setiap sistem pemikiran lainnya yang mencari segala sarana yang mungkin untuk menghindari kegiatan setan dikenali. Namun demikian, ini tidak berarti hilangnya kehendak bebas dan tanggung-jawab manusia, dan terlebih lagi frustasi akan karya keselamatan Kristus….
Umat Kristiani, memohon kepada Bapa dan kepada Roh Yesus, berseru dengan kuasa iman: Janganlah biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan, melainkan bebaskan kami dari kejahatan, dari yang jahat, ya Tuhan; janganlah biarkan kami jatuh ke dalam ketidaksetiaan dengan mana kami dibujuk oleh dia yang telah tidak setia sejak dari awal mula.”
“Kita harus menjaga pikiran kita, hati kita dan segenap indera kita, sebab inilah pintu gerbang lewat mana si iblis biasanya masuk.”
|
|
ANTARA YANG BAIK DAN YANG JAHAT
oleh: Diadochus dari Photice, Uskup
 Terang dari pengetahuan sejati memungkinkan kita untuk melihat tanpa salah perbedaan antara yang baik dan yang jahat. Maka jalan keadilan, yang menghantar pada Matahari Keadilan, membawa pikiran ke dalam terang pengetahuan yang tak terbatas, sebab ia tak pernah gagal mencari kasih Allah dengan penuh kepercayaan.
Sebab itu, hendaknyalah kita memelihara ketenangan pikiran, bahkan di tengah pergulatan-pergulatan kita. Maka, akan dapatlah kita membedakan antara tipe-tipe pikiran berbeda yang menghampiri kita: pikiran-pikiran yang baik, yang dikirim Allah, akan kita simpan dalam ingatan; pikiran-pikiran yang jahat dan diilhami oleh iblis kita tolak.
Suatu perbandingan dengan lautan mungkin dapat menolong kita. Lautan yang tenang memungkinkan para nelayan memandang jauh ke kedalamannya. Tak seekor ikan pun dapat bersembunyi di sana dan lolos dari pandangan. Akan tetapi, lautan yang berbadai menjadi kelam kabut ketika diguncang angin ribut. Kedalaman yang disingkapkannya dalam ketenangan sekarang tersembunyi. Kecakapan para nelayan akan sia-sia belaka.
Hanya Roh Kudus yang dapat memurnikan pikiran: terkecuali seorang yang kuat masuk dan merampasi si perampok, maka barang rampasan tak akan dapat diperoleh kembali. Jadi dengan segala cara, tetapi teristimewa dengan kedamaian jiwa, kita wajib berupaya menyediakan suatu tempat istirahat bagi Roh Kudus. Maka kita akan memiliki terang pengetahuan yang bercahaya dalam diri kita sepanjang waktu, dan terang itu akan membuka kedok segala pencobaan kegelapan dan kedengkian yang berasal dari iblis dan terang itu tak hanya akan menyingkapkannya; yang kudus dan mulia ini juga akan memperlemah kuasa iblis.
Itulah sebabnya mengapa para Rasul mengatakan: Janganlah padamkan Roh. Roh Kudus adalah Roh kebaikan; janganlah mendukakannya dengan perbuatan-perbuatan dan pikiran-pikiranmu yang jahat. Jauhkanlah dirimu dari menentang terang yang diberikannya kepadamu. Dari dirinya sendiri, yang adalah abadi dan memberi-hidup, ia tidaklah tertindas, tetapi apabila Ia berduka, Ia pergi dan meninggalkan akal budi dalam kegelapan, jauh dari terang pengetahuan.
Akal budi mampu mengecap dan membedakan secara tepat apapun yang disajikan kepadanya. Sama seperti apabila kesehatan kita prima, kita dapat mengatakan perbedaan antara makanan yang baik dan yang buruk melalui indera perasa jasmani kita dan mengambil apa yang bermanfaat, begitu pula apabila akal budi kita kuat dan bebas dari segala kekhawatiran, akal budi dapat mengecap kekayaan penghiburan ilahi, dan menyiman, lewat kasih, kenangan akan cicipan ini. Ini mengajarkan kepada kita apa yang terbaik dengan kepastian mutlak sebagaimana dikatakan St Paulus: “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik.”

“Meski suatu jiwa dapat segera membedakan antara inspirasi-inspirasi palsu dan inspirasi-inspirasi yang datang dari Allah, hendaknyalah jiwa senantiasa berhati-hati, sebab banyak hal yang tidak pasti. Allah senang dan bersukacita apabila suatu jiwa curiga kepada-Nya demi Allah Sendiri; sebab jiwa mengasihi-Nya, jiwa bersikap bijaksana dan mempertanyakan kepada diri dan mencari pertolongan guna memastikan bahwa adalah sungguh Allah yang bertindak di dalamnya.”
|
|
BAGAIMANA MENGENAL KEHENDAK ALLAH BAGIKU?
oleh: P. Mike Manning, SVD.*
 Mengenal kehendak Allah seringkali sulit, tetapi Ia telah memberikan beberapa sarana kepada kita untuk melakukannya. Cara pertama adalah dengan doa dalam iman, yang mencakup mendengarkan. Dalam doa, kita sering memohon Tuhan untuk membimbing kita, tetapi kita tidak menanti dalam keheningan untuk mendapatkan jawaban! Masalah lainnya adalah bahwa jika kita sungguh mendengar, jawaban Tuhan mungkin sesuatu yang lebih suka tidak kita dengar.
Doa kita untuk mengenal kehendak Tuhan hendaknya dipadukan dengan membaca Kitab Suci. Gunakanlah Kitab Suci yang dilengkapi referensi topik, dan kemudian bacalah beragam ayat yang ada hubungannya dengan pergumulanmu. Lihatlah teladan orang-orang baik yang kalian kenal atau pernah baca kisahnya. Ada orang-orang lain juga, seperti kalian, yang telah bergulat dengan dilema yang sama. Berbicaralah kepada mereka dalam kelompok doamu. Mintalah pendapat dan dukungan doa mereka. Begitu kalian yakin bahwa kalian telah mengetahui kehendak Allah, bergeraklah ke tujuan itu dengan yakin dan pasti.
Kalian akan tahu bahwa kalian melakukan kehendak Allah apabila tanda-tanda damai, kasih dan sukacita-Nya menyertai tindakan-tindakan kalian. Terkadang kalian tidak sepenuhnya yakin harus bertindak begini atau begitu. Dalam keadaan bingung seperti itu, banyak orang tinggal diam tanpa keputusan. Terkadang kita harus bertindak tanpa jaminan kepastian penuh. Sepanjang sejarah Allah telah memanggil orang-orang untuk melangkah maju dalam iman kendati kebimbangan dan keraguan.
* Fr. Mike Manning, SVD. is the host of "The Power of Love," a weekly television show on TBN that is produced by Wordnet Productions.
|
|
“Kitab Suci memuat tawaran Tuhan dan jawaban manusia. Dari situ kita tahu apa kehendak Tuhan dan bagaimana harus bertindak. Apakah jawaban kita dapat dipercaya, akan terbukti dalam perbuatan kita.”
~ Pengantar, Rabu Biasa XII, Tahun 2
|
KEHENDAKKU VERSUS KEHENDAK ALLAH
oleh: Sr Briege Mc Kenna O.S.C.*
Pada tahun 1984, aku berangkat ke Amerika Latin. Itulah ketika kami terjebak dalam perang saudara di Bolivia. Sesudah meninggalkan Bolivia kami pergi ke Brasilia. Di situ aku tinggal beberapa minggu untuk melayani para imam, suster dan awam. Belum lama aku berada di Brasilia, pagi-pagi benar aku menerima telepon yang memberitahukan bahwa bibiku - Bibi Lizzie - sakit keras. Aku diminta untuk segera kembali ke Irlandia. Aku sangat bingung. Bibi Lizzie sangat sayang padaku; ia seperti seorang ibu bagiku. Waktu itu Misa hampir mulai, maka aku putuskan untuk menunggu sampai Misa selesai untuk bersiap-siap pulang ke Tampa.
Pada awal Misa, aku berdoa bagi Bibi Lizzie dan berpikir mengenai segala sesuatu yang harus kukerjakan sebelum berangkat: acaraku begitu penuh, beberapa acara harus dibatalkan. Aku sangat ingin pulang, karena tampaknya itulah yang paling baik. Aku diberi izin dan keluarga menungguku. Ketika aku maju untuk menerima Komuni, semua pikiran itu memenuhi diriku. Ketika aku mengulurkan tangan untuk menerima Hosti Suci, Tuhan bertanya, “Briege, siapakah yang paling penting dalam hidupmu?” Aku segera menjawab, “Engkau, Yesus.”
Lalu dengan jelas aku mendengar, “Kalau demikian Aku tidak menghendaki engkau pulang. Aku membawamu kemari. Di sinilah engkau harus berada.” Aku membela diri dan berkata, “Tetapi Yesus, aku harus kembali karena bibiku sakit keras dan aku tidak akan melihatnya lagi dan aku sudah berjanji untuk pulang dan aku diberi ijin oleh Suster Pemimpin Umum.” Aku mengajukan semua alasan yang dapat kutemukan. Seolah-olah aku mendengar Tuhan mengulang kata-kata-Nya lagi, “Briege, siapakah yang paling penting dalam hidupmu?” Sekali lagi kujawab, “Engkau, Yesus.” Ia berkata lagi, “Kalau demikian Aku tidak menghendaki engkau pulang.”
Pada waktu itu aku melihat diriku berdiri di hadapan Tuhan, memandang-Nya dan kemudian memandang keluargaku. Mungkin inilah untuk pertama kalinya sesudah sekian tahun, aku sungguh-sungguh harus membuat pilihan yang kujanjikan ketika aku mengucapkan kaulku. Sekarang Yesus menguji diriku. Mana janjiku?
Ada saat-saat dalam hidup kita di mana kita harus siap untuk meninggalkan keinginan-keinginan kita, juga yang baik, demi kehendak Tuhan, demi yang lebih baik dalam pandangan-Nya.
Aku memandang Yesus dalam gambaran ini sesudah Komuni dan berkata, “Yesus, aku tidak akan berangkat. Aku akan tinggal di sini.” Tiba-tiba aku sadar bahwa dalam arti tertentu, aku memikirkan diriku sendiri. Aku tidak berpikir mengenai Bibi Lizzie, tetapi diriku sendiri, mengenai kebutuhanku untuk melihatnya sekali lagi ketika ia masih hidup. Aku tidak berpikir mengenai ribuan orang di seluruh Brazilia yang sudah mengatur segala macam hal untuk menerima aku, untuk mendengarkan aku, untuk bersama-sama dengan aku dalam pelayanan ini.
Ketika aku menyerah kepada Yesus, aku merasakan damai dan kegembiraan besar dalam hatiku - sedemikain besar, sehingga ketika aku keluar dari gereja, Inggrid dan Jill mengatakan bahwa aku tampak sangat gembira.
* Sr Briege Mc Kenna O.S.C. dilahirkan di daerah Armagh, Irlandia. ia telah melakukan tugas pelayanan penyembuhan ke seluruh dunia.
Sumber: “Mukjizat-mukjizat di Zaman Modern oleh Sr Briege Mc Kenna O.S.C. & Henry Libersat”; Kanisius 1995
VOX PATRIS
Nasehat-nasehat Rohani St Paulus dari Salib
 Tidak semua gerakan hati dan buah pikiran berasal dari rahmat, tetapi kerap kali berasal dari setan dan naluri.
 Allah membuat kita menginginkan banyak hal yang nampaknya Ia kehendaki, tetapi kemudian tidaklah demikian; ini dilakukan-Nya untuk mencobai agar kita belajar untuk menyerahkan diri kepada Kehendak Tersuci-Nya.
 Kepada rasul-rasul-Nya Yesus telah berkata bahwa makanan-Nya adalah melakukan Kehendak BapaNya yang kekal. Alangkah bahagianya orang yang memahami sepenuhnya sabda ini!
|
|
 Aku mengajakmu memiliki suatu penyerahan diri yang besar kepada Kehendak Allah, yang harus kamu nyatakan dalam hidup berserah kepada-Nya, tanpa mengeluh, baik dengan kata-kata maupun dalam hati, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia.
 Berserah adalah penawar unggul terhadap semua penyakit, penderitaan dan kemalangan, yang akan berubah menjadi sumber kedamaian dan penghiburan, jika dipandang dalam terang Kehendak Ilahi.
|
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori
Keunggulan dari Keutamaan Ini, Keterpaduan dalam Segala Hal, Kebahagiaan yang Berasal dari Keterpaduan yang Sempurna, Allah Menghendaki Kebaikan Kita, Latihan-latihan Khusus Keterpaduan, Kekeringan Rohani, Kesimpulan
|
|
DOA PENYERAHAN DIRI PADA KEHENDAK ALLAH
“Ya Yesus, aku berjanji kepada-Mu untuk berserah pasrah pada segala yang Engkau perkenankan terjadi atasku, buatlah aku hanya mengenal kehenak-Mu. Yesus-ku yang termanis, Allah yang Maharahim tak terhingga, Bapa yang paling lemah lembut bagi jiwa-jiwa, dan secara istimewa mereka yang paling lemah, paling malang, paling rapuh yang Engkau rengkuh dengan kasih sayang istimewa dalam lengan-lengan ilahi-Mu, aku datang untuk memohon kepada-
|
|
Mu, melalui kasih dan jasa-jasa Hati-Mu yang Mahakudus, rahmat untuk memahami dan melakukan senantiasa kehendak-Mu yang kudus, rahmat untuk mengandalkan-Mu, rahmat untuk beristirahat dengan aman sepanjang waktu dan kekekalan masa dalam lengan-lengan ilahi-Mu yang penuh kasih. Amin.”
|
“Yesus, kembalikan kakiku jika Engkau kehendaki; tetapi jika tidak, Fiat Voluntas Tua.”
~ Antonietta Meo
 “Saya senang kalian baru saja menyebut Antonietta Meo, seorang gadis kecil yang dikenal sebagai `Nennolina'. Tepat tiga hari yang lalu, saya menetapkan pengakuan atas keutamaan-keutamaannya yang gagah berani dan saya harap proses beatifikasinya dapat segera selesai dengan gemilang. Betapa suatu teladan cemerlang yang ditinggalkan oleh sahabat kecil kalian ini bagi kita! Dalam hidupnya yang sangat singkat - hanya enam setengah tahun - Nennolina, seorang kanak-kanak Roma, memperlihatkan iman, harapan dan kasih yang istimewa, juga keutamaan-keutamaan Kristiani lainnya. Meski ia seorang gadis kecil yang lemah, ia berhasil memberikan kesaksian Injil yang kuat dan penuh semangat, dan meninggalkan suatu jasa besar bagi komunitas Keuskupan Roma. Nennolina adalah anggota Aksi Katolik: sekarang pastilah ia telah menjadi anggota ACR! Sebab itu kalian dapat menganggapnya sebagai sahabat kalian, seorang teladan yang mengilhami kalian. Hidupnya, yang begitu sederhana dan sekaligus begitu penting, menunjukkan bahwa kekudusan diperuntukkan bagi segala tingkatan usia: untuk anak-anak dan untuk kaum muda, untuk kaum dewasa dan kaum lanjut usia. Setiap masa dalam hidup kita dapat merupakan saat yang tepat untuk memutuskan untuk mengasihi Yesus secara sungguh dan mengikuti-Nya dengan setia. Hanya dalam beberapa tahun, Nennolina mencapai puncak kesempurnaan Kristiani, kemana kita semua dipanggil; ia melaju pesat di `jalan raya' yang menghantar pada Yesus. Sungguh, sebagaimana kalian sendiri katakan, Yesus adalah `jalan' sejati yang menghantar kita pada Bapa dan ke rumah-Nya dan rumah kita yang sejati, yang adalah Firdaus. Kalian tahu bahwa Antonietta sekarang tinggal bersama Allah dan dekat dengan kalian dari Surga: kalian merasakan kehadirannya di antara kalian, dalam kelompok kalian. Belajarlah mengenalnya dan mengikuti teladannya.”
~ Paus Benediktus XVI, kepada anak-anak Aksi Katolik 20 Desember 2007
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|