|
Keterpaduan dengan Kehendak Allah
oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori
1. KEUNGGULAN DARI KEUTAMAAN INI
Kesempurnaan dibangun sepenuhnya atas dasar kasih kepada Allah: “Kasih adalah pengikat kesempurnaan;” dan kasih sempurna kepada Allah berarti persatuan penuh kehendak kita dengan kehendak Allah: “Pengaruh utama dari kasih adalah mempersatukan kehendak mereka yang saling mengasihi sehingga mereka menghendaki hal-hal yang sama.” Selanjutnya, semakin orang mempersatukan kehendaknya dengan kehendak Allah, semakin besarlah kasihnya kepada Allah. Matiraga, meditasi, menyambut Komuni Kudus, tindakan-tindakan kasih persaudaraan semuanya pastilah menyenangkan Allah - tetapi hanya apabila semuanya itu selaras dengan kehendak-Nya. Apabila tidak selaras dengan kehendak-Nya, bukan hanya Allah tidak berkenan atasnya, tetapi Ia bahkan sama sekali menolaknya dan menjatuhkan hukuman atasnya.
Gambarannya: Seorang majikan mempunyai dua orang hamba. Yang seorang bekerja tak kenal lelah sepanjang hari - tetapi seturut kehendak hatinya sendiri; hamba yang lain, sebaliknya, bekerja lebih sedikit, tetapi ia bekerja seturut apa yang diperintahkan kepadanya. Hamba yang terakhir ini tentu saja akan beroleh kasih di hadapan tuannya; sedangkan yang lain tidak. Sekarang, dengan menerapkan contoh ini, kita bertanya: Mengapakah kita melakukan perbuatan-perbuatan demi kemuliaan Allah jika perbuatan-perbuatan itu tak akan berkenan bagi-Nya? Allah tidak menghendaki kurban, demikian dikatakan Nabi Samuel kepada Raja Saul, melainkan Ia menghendaki ketaatan pada perintah-Nya: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim.” Orang yang mengikuti kehendaknya sendiri bebas dari Allah, bersalah sama seperti menyembah berhala. Bukannya memuja kehendak Allah, ia dalam arti tertentu, memuja dirinya sendiri.
Kemuliaan terbesar yang dapat kita berikan kepada Allah adalah melakukan kehendak-Nya dalam segala hal. Penebus kita datang ke dunia demi memuliakan Bapa SurgawiNya dan mengajarkan kepada kita bagaimana melakukan hal yang sama melalui teladan-Nya. St Paulus mewakili-Nya mengatakan kepada BapaNya yang kekal: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki - tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku - … Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Engkau telah menolak kurban yang dipersembahkan manusia bagi-Mu; Engkau menghendaki Aku mengurbankan tubuh-Ku bagi-Mu. Lihat, Aku siap untuk melakukan kehendak-Mu.
Tuhan kita kerap memaklumkan bahwa Ia telah datang ke dunia bukan untuk melakukan kehendak-Nya Sendiri, melainkan semata-mata kehendak BapaNya: “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Ia berbicara dengan nada yang sama di taman ketika Ia pergi menyongsong para musuh-Nya yang datang untuk menangkap dan menggiring-Nya ke kematian: “Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.” Lebih jauh, Ia bersabda bahwa barangsiapa melakukan kehendak BapaNya akan disebut-Nya sebagai saudara-Nya: “Siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Melakukan kehendak Allah - para kudus terus-menerus mengarahkan pandangan mereka pada tujuan ini. Mereka sepenuhnya yakin bahwa di dalamnya tercakup seluruh kesempurnaan jiwa. Beato Henry Suso biasa mengatakan: “Bukan kehendak Allah bahwa kita berkelimpahan dalam kesenangan-kesenangan rohani, melainkan dalam segala hal kita tunduk pada kehendak-Nya yang kudus.” “Mereka yang bertelut dalam doa,” kata St Theresia, “hendaknya memusatkan diri semata-mata pada ini: keselarasan kehendak mereka dengan kehendak ilahi. Hendaknya mereka yakin bahwa ini merupakan kesempurnaan mereka yang tertinggi. Semakin sungguh-sungguh mereka mempraktekkan ini, semakin berlimpah karunia yang akan mereka terima dari Allah, dan semakin pesat perkembangan mereka dalam kehidupan rohani.” Seorang biarawati Dominikan suatu hari beroleh karunia penglihatan mengenai surga. Ia mengenali beberapa orang yang ia kenal semasa hidupnya di dunia, berada di surga. Dikatakan kepadanya bahwa jiwa-jiwa ini diangkat ke tingkat kemuliaan para serafim oleh sebab keterpaduan kehendak mereka dengan kehendak Allah sepanjang masa hidup mereka di sini di dunia. B Henry Suso mengenai dirinya sendiri mengatakan: “Lebih baik aku menjadi cacing yang paling hina di dunia oleh kehendak Allah, daripada menjadi seorang serafim oleh kehendakku sendiri.”
Sepanjang masa hidup kita di dunia ini, hendaknyalah kita belajar dari para kudus yang sekarang telah berada di surga mengenai bagaimana mengasihi Allah. Kasih yang murni dan sempurna kepada Allah yang mereka nikmati di sana adalah karena mempersatukan diri secara sempurna dengan kehendak Allah. Akan menjadi sukacita terbesar para serafim untuk menimbun pasir di pantai atau mencabuti rumput liar di taman sepanjang kekekalan masa, jika mereka dapati bahwa itulah kehendak Allah. Tuhan Sendiri mengajar kita untuk memohon melakukan kehendak Allah di dunia sebagaimana dilakukan para kudus di surga: “Terjadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.”
Sebab Daud melakukan segala yang kehendak-Nya, Allah menyebutnya seorang yang berkenan di hati-Nya: “Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” Daud senantiasa siap sedia memeluk kehendak Allah, sebagaimana kerap dinyatakannya “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap.” Daud memohon kepada Allah satu hal saja - mengajarinya melakukan kehendaknya: “Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu.”
Satu tindakan yang selaras dengan kehendak Allah cukuplah sudah untuk menjadikan seorang kudus. Lihatlah ketika Saulus tengah menganiaya Gereja, Tuhan meneranginya dan mempertobatkannya. Apakah yang dilakukan Saulus? Apakah yang dikatakannya? Tiada lain selain dari mempersembahkan dirinya untuk melakukan kehendak Allah: “Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?” Sebagai balasnya Tuhan menyebut Saulus sebagai alat pilihan dan rasul kaum kafir: “Orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain.” Sungguh tepat - sebab dia yang menyerahkan kehendaknya kepada Allah, memberi-Nya semuanya. Dia yang memberikan hartanya dalam amal kasih, darahnya dalam penderaan, makanannya dalam puasa, memberikan kepada Allah apa yang ia miliki. Tetapi dia yang memberikan kepada Allah kehendaknya, memberikan dirinya sendiri, memberikan seluruh keberadaannya. Demikianlah, seorang dapat mengatakan: “Meski aku seorang miskin, Tuhan, aku memberikan kepada-Mu segala yang aku miliki; tetapi ketika aku mengatakan aku memberikan kepada-Mu kehendakku, maka tak ada lagi yang tersisa untuk diberikan kepada-Mu.” Inilah tepatnya apa yang Allah kehendaki dari kita: “Anak-Ku, berikanlah hatimu kepada-Ku.” St Agustinus menyampaikan komentarnya: “Tak ada suatupun yang lebih berkenan yang dapat kita persembahkan kepada Allah selain dari mengatakan kepadanya: Berkuasalah atas kami.” Kita tak dapat mempersembahkan kepada Allah suatupun yang terlebih berkenan kepada-Nya selain dari mengatakan: Sudi ambillah, ya Tuhan, kami persembahkan kepada-Mu segenap kehendak kami. Hanya, ijinkanlah kami mengenal kehendak-Mu dan kami akan melakukannya.
Apabila kita ingin sepenuhnya menyukakan hati Allah, marilah kita berjuang dalam segala hal untuk menyelaraskan diri dengan kehendak ilahi-Nya. Marilah kita tidak hanya berjuang untuk menyelaraskan diri kita, melainkan juga untuk mempersatukan diri dengan disposisi apapun yang Tuhan sediakan bagi kita. Keselarasan berarti bahwa kita menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah. Keterpaduan berarti lebih dari itu - artinya kita menjadikan kehendak Allah dan kehendak kita satu, sehingga kita menghendaki hanya apa yang dikehendaki Allah; bahwa kehendak Allah sajalah yang menjadi kehendak kita. Inilah puncak kesempurnaan dan itulah yang hendaknya selalu kita inginkan; inilah yang hendaknya menjadi tujuan segala karya, kerinduan, meditasi dan doa kita. Untuk tujuan ini kita hendaknya senantiasa memohon pertolongan santa / santo pelindung kita yang kudus, malaikat pelindung kita, dan di atas semuanya, Bunda Maria, yang paling sempurna dari segenap para kudus sebab dialah yang secara paling sempurna memeluk kehendak Allah.
2. KETERPADUAN DALAM SEGALA HAL
Inti kesempurnaan adalah memeluk kehendak Allah dalam segala hal, dalam keadaan untung atau malang. Dalam keadaan untung, bahkan seorang pendosa pun dapat dengan mudah mempersatukan diri dengan kehendak Allah; tetapi dibutuhkan seorang kudus untuk dapat mempersatukan diri dengan kehendak Allah ketika segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana diharapkan dan menyakitkan bagi cinta diri. Perilaku kita dalam situasi-situasi demikian menjadi tolok ukur kasih kita kepada Allah. St Yohanes dari Avila biasa mengatakan: “Satu `Terpujilah Allah' di masa-masa malang, sama nilainya dengan lebih dari seribu tindak syukur di masa-masa untung.”
Lebih lanjut, kita patut mempersatukan diri dengan kehendak Allah tak hanya pada hal-hal yang datang kepada kita secara langsung dari tangan Allah, seperti penyakit, kemalangan, kemiskinan, kematian seorang sanak keluarga, melainkan juga pada hal-hal yang kita derita dari manusia - misalnya: penghinaan, ketidakadilan, kehilangan reputasi, kehilangan barang-barang duniawi dan berbagai rupa pencobaan. Dalam peristiwa-peristiwa ini kita patut ingat bahwa kendati Allah tak menghendaki dosa, Ia sungguh menghendaki kerendahan hati kita, kemiskinan kita, matiraga kita. Adalah pasti dan kita imani, bahwa apapun yang terjadi, terjadi seturut kehendak Allah: “Aku-lah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang.” Dari Allah datang segala hal, yang baik maupun yang buruk. Kita menyebut kemalangan sebagai jahat; sesungguhnya kemalangan adalah baik dan bermanfaat, jika kita menerimanya sebagai datang dari tangan Allah: “Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?” Yang baik dan yang jahat, hidup dan mati, miskin dan kaya berasal dari Allah.
Adalah benar, apabila seseorang menghinakan kita secara tidak adil, Allah tidak menghendaki dosanya, pula Ia tidak menyetujui kehendak jahat si pendosa; tetapi Allah, pada umumnya, menyetujui tindakan jasmaniah dengan mana seseorang menyerang kita, merampok kita atau mencelakai kita, jadi Allah memang menghendaki penghinaan yang kita derita dan hal itu datang kepada kita melalui tangan-Nya. Demikianlah yang Allah katakan kepada Daud bahwa Dia-lah yang akan menjadi penyebab dari segala hal yang akan diderita Daud dalam tangan Absalom: “Bahwasanya malapetaka akan Ku-timpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain.” Demikian jugalah yang Allah katakan kepada bangsa Yahudi bahwa sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka, Ia akan mengutus bangsa Asyur untuk melakukan perampasan dan penjarahan atas mereka dan menyebarkan kebinasaan di antara mereka: “Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murka-Ku dan yang menjadi tongkat amarah-Ku! … Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murka-Ku, untuk melakukan perampasan dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan.” “Kejahatan Asyur berperan sebagai deraan Allah atas orang-orang Ibrani,” demikian komentar St Agustinus mengenai perikop ini. Dan Tuhan Sendiri mengatakan kepada Petrus bahwa sengsara-Nya yang kudus, yang datang dari manusia, tiada sedahsyat sebagaimana yang datang dari BapaNya: “Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?”
Ketika pesuruh datang untuk menyampaikan kepada Ayub bahwa orang-orang Syeba telah menjarah hartanya dan membunuh anak-anaknya, Ayub mengatakan: “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ia tidak mengatakan: “Tuhan telah memberiku anak-anakku dan hartaku, dan orang-orang Syeba telah merenggutnya.” Ayub sadar bahwa kemalangan datang atasnya seturut kehendak Tuhan. Sebab itu ia menambahkan: “Seperti yang dikehendaki Tuhan, terjadilah demikian. Terpujilah nama Tuhan.” Oleh karenanya janganlah kita menganggap penderitaan yang menimpa kita terjadi karena suatu kebetulan atau semata-mata karena kejahatan manusia; hendaknyalah kita yakin bahwa apa yang terjadi, terjadi seturut kehendak Tuhan. Sehubungan dengan ini, dikisahkan bahwa dua orang martir, Epictetus dan Atho, dijatuhi hukuman cambuk dengan tubuh mereka didera dengan kait-kait besi dan dibakar dengan suluh-suluh yang berkobar. Keduanya tak henti berseru: “Terjadilah kehendak-Mu atas kami, ya Tuhan.” Setibanya di tempat eksekusi, mereka dengan lantang berseru: “Allah yang kekal, dimuliakanlah Engkau dengan kehendak-Mu terjadi sepenuhnya atas kami.”
Cesarius menegaskan apa yang tengah kita bicarakan dengan menyajikan peristiwa berikut ini dalam hidup seorang biarawan: Secara lahiriah praktek keagamaannya sama seperti para biarawan lain, tetapi ia mencapai tingkat kekudusan begitu rupa hingga sekedar sentuhan jubahnya dapat menyembuhkan mereka yang sakit. Heran atas hal ini, sebab hidupnya tak lebih saleh dari para biarawan lainnya, sang superior suatu hari bertanya kepadnya apa penyebab dari mukjizat-mukjizat ini.
Sang biarawan menjawab bahwa ia sendiri juga bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjelaskan peristiwa-peristiwa yang demikian. “Devosi apakah yang engkau praktekkan?” tanya sang abbas. Ia menjawab bahwa tak ada suatu yang istimewa yang ia lakukan selain dari menghendaki hanya apa yang dikehendaki Allah, dan bahwa Allah telah memberinya rahmat untuk menyerahkan kehendaknya sepenuhnya kepada kehendak Allah.
“Kemujuran tidak membuatku meluap dalam kegembiraan, pula kemalangan tidak membuatku larut dalam kesedihan,” tambah sang biarawan. “Aku mengarahkan segala doaku kepada tujuan agar kehendak Allah sepenuhnya digenapi dalamku dan olehku.”
“Serangan para musuh terhadap biara beberapa waktu yang lalu, ketika gudang-gudang kita dijarah, lumbung-lumbung kita dibakar dan kawanan ternak kita dihalau - tidakkah kemalangan ini membangkitkan amarahmu?” tanya sang abbas.
“Tidak, Pater,” jawabnya. “Sebaliknya, aku menyampaikan syukur kepada Allah - sebagaimana kebiasaanku dalam situasi-situasi yang demikian - sepenuhnya yakin bahwa Allah melakukan segalanya, atau mengijinkan segalanya terjadi, demi kemuliaan-Nya dan demi kebajikan kita yang terlebih lagi; dengan demikian aku selalu tinggal dalam damai, tak peduli apapun yang terjadi.”
Melihat keterpaduan yang begitu rupa dengan kehendak Allah, sang abbas tak lagi heran mengapa biarawaan itu mengadakan begitu banyak mukjizat.
3. KEBAHAGIAAN YANG BERASAL DARI KETERPADUAN YANG SEMPURNA
Bertindak seturut teladan ini, orang tak hanya menjadi kudus melainkan juga menikmati damai yang abadi di dunia ini. Alfonsus Agung, Raja Aragon, ketika suatu hari ditanya siapakah yang ia anggap sebagai orang yang paling bahagia di dunia, menjawab; “Ia yang menyerahkan dirinya pada kehendak Allah dan menerima segala hal, untung dan malang, sebagai berasal dari tangan-Nya.” “Bagi mereka yang mengasihi Allah, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.” Mereka yang mengasihi Allah senantiasa bahagia, sebab kebahagiaan penuh mereka adalah menggenapi bahkan dalam kemalangan, kehendak Allah. Penderitaan tidak menggoyahkan damai mereka, sebab dengan menerima kemalangan, mereka tahu mereka menyenangkan Tuhan mereka yang terkasih: “Apapun yang menimpa orang benar, tak akan menyusahkan hatinya.” Sungguh, apakah yang dapat lebih memuaskan hati seseorang selain dari mengalami pemenuhan segala kerinduannya? Inilah kebahagiaan orang yang menghendaki hanya apa yang dikehendaki Allah, sebab segala yang terjadi, terkecuali dosa, terjadi seturut kehendak Allah.
Adalah kisah sehubungan dengan hal ini dalam “Riwayat Para Bapa” mengenai seorang petani yang hasil panennya lebih berlimpah dari hasil panen petani-petani di sekitarnya. Kala ditanya bagaimana hal ini bisa terjadi secara terus-menerus tanpa berubah, ia mengatakan bahwa ia tidak heran sebab selalu ada padanya cuaca yang dikehendakinya. Ketika diminta menjelaskan, ia berkata: “Demikianlah, sebab aku menghendaki cuaca apapun yang dikehendaki Allah, dan karenanya, Ia memberiku panen yang aku inginkan.” Jika jiwa yang berserah pada kehendak Allah dihinakan, kata Salvian, jiwa ingin dihinakan; jika jiwa miskin, jiwa ingin menjadi miskin; singkat kata, apapun yang terjadi dengan sukahati mereka terima, dengan demikian mereka sungguh damai dalam hidup ini. Dalam dingin dan panas, dalam hujan dan badai, jiwa yang bersatu dengan Allah berkata: “Aku ingin panas, dingin, angin, hujan, sebab Allah menghendakinya.”
Inilah kebebasan sejati anak-anak Allah, dan ini jauh lebih berharga dari segala kedudukan dan status karena kelahiran dan darah; lebih berharga dari segala kerajaan di dunia. Inilah damai abadi yang, menurut pengalaman para kudus, “melampaui segala pengertian.” Melampaui segala kesenangan yang berasal dari kegembiraan perasaan, dari pertemuan-pertemuan sosial, perjamuan dan kesukaan duniawi lainnya; yang sia-sia dan menipu, yang memikat perasaan sejenak saja, namun tiada mendatangkan kepuasan abadi; sebaliknya, menyedihkan manusia dalam kedalaman jiwanya, di mana damai sejati saja yang dapat bertahta.
Salomo, yang mengecap segala kesenangan dunia dan mendapatinya pahit, menyuarakan kekecewaannya: “Kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” “Orang bodoh,” kata Roh Kudus, “berubah-ubah bagai rembulan; tetapi seorang kudus terus bertumbuh dalam kebijaksanaan bagai matahari.” Orang bodoh, yakni pendosa, berubah-ubah bagai rembulan, yang sebentar purnama dan sebentar sabit; hari ini ia tertawa, esok ia menangis; hari ini ia lembut bagai seekor anak domba, esok ia garang bagai seekor beruang. Mengapakah? Sebab damainya bergantung pada untung atau malang yang menghampirinya; ia berubah dengan berubahnya peristiwa-peristiwa yang terjadi atasnya. Orang benar adalah bagai matahari, tetap dalam damainya, tak peduli kemalangan yang menimpanya. Ketenangan jiwanya berdasar pada persatuannya dengan kehendak Allah; dengan demikian ia menikmati damai yang tenang. Inilah damai yang dijanjikan oleh malaikat saat kelahiran Yesus: “Dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:14). Siapakah gerangan “manusia yang berkenan kepada-Nya” jika bukan mereka yang kehendaknya bersatu dengan kehendak Allah yang baik dan sempurna tak terhingga? “Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Dengan mempersatukan diri dengan kehendak Allah, para kudus telah menikmati firdaus dengan mengantisipasinya dalam hidup ini. Dengan membiasakan diri menerima semuanya dari tangan Allah, demikian kata St Dorotheus, manusia memelihara kedamaian jiwa yang terus-menerus. Saint Maria Magdalene dari Pazzi mendapatkan penghiburan begitu rupa apabila mendengar kata-kata “kehendak Allah” hingga ia biasa jatuh ke dalam suatu ekstasi cinta. Peristiwa-peristiwa yang menjengkelkan atau mengganggu yang muncul, tentu mendatangkan pengaruh luar pada perasaan. Namun demikian, ini akan dialami hanya di bagian jiwa yang lebih luar; di bagian jiwa yang lebih dalam akan bertahtalah damai dan tenang sepanjang kehendak kita tetap bersatu dengan kehendak Allah. Tuhan kita meyakinkan para rasul: “Tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu … supaya penuhlah sukacitamu.” Ia yang mempersatukan kehendaknya dengan kehendak Allah mengalami sukacita yang penuh dan abadi: penuh, sebab ada padanya apa yang ia inginkan, sebagaimana dijelaskan di atas; abadi sebab tidak ada seorangpun yang dapat merampas sukacitanya daripadanya, sebab tak seorangpun dapat menghalangi apa yang dikehendaki Allah terjadi.
Pater John Tauler yang saleh mengisahkan pengalaman pribadi ini. Selama bertahun-tahun ia berdoa kepada Allah untuk mengutus seorang yang akan mengajarkan kepadanya hidup rohani sejati. Suatu hari, saat doa, ia mendengar suara yang berkata: “Pergilah ke gereja anu dan engkau akan mendapatkan jawab atas doamu.” Ia pergi dan di pintu gereja ia menjumpai seorang pengemis berpakaian compang-camping dan bertelanjang kaki. Ia menyalami si peminta-minta dengan mengatakan:
“Selamat siang. Hari yang indah, teman.”
“Terima kasih, Tuan, atas salam Anda, tetapi saya tidak ingat pernah mengalami hari yang `buruk.'”
“Jadi, pastilah Allah memberimu hidup yang sangat bahagia.”
“Sungguh benar, Tuan. Saya tiada pernah bersusah hati. Dengan mengatakan ini saya tidak sedang membuat suatu pernyataan yang ngawur. Ini alasannya: Kala tidak mempunyai makanan, saya mengucap syukur kepada Allah; kala turun hujan atau salju, saya memberkati penyelenggaraan ilahi; kala seorang menghina, mengusir atau memperlakukan saya dengan buruk, saya memuliakan Allah. Saya katakan tidak pernah ada pada saya hari yang menyedihkan, dan sungguh benar adanya, sebab saya biasa menghendaki dengan sepenuh hati apa yang Allah kehendaki. Apapun yang terjadi pada saya, manis ataupun pahit, dengan senang hati saya menyambutnya dari tangan-Nya sebagai yang terbaik bagi saya. Dengan demikian kebahagian saya tetap.”
“Di manakah engkau menemukan Allah?”
“Saya menemukan-Nya di mana saya meninggalkan ciptaan.”
“Siapakah gerangan engkau ini?”
“Saya seorang raja.”
“Dan di manakah kerajaanmu?”
“Dalam jiwa saya, di mana semuanya tertata baik; di mana hasrat taat pada akal budi, dan akal budi taat pada Allah.”
“Bagaimanakah engkau sampai ke tingkat kesempurnaan yang demikian?”
“Dengan keheningan. Saya mempraktekkan keheningan terhadap manusia, sementara saya menanamkan kebiasaan bercakap-cakap dengan Allah. Berbicara dengan Allah adalah cara saya menemukan dan memelihara kedamaian jiwa.”
Persatuan dengan Allah menghantar pengemis ini ke tingkat kesempurnaan tertinggi. Dalam kemiskinannya ia lebih kaya dari raja yang paling hebat; dalam penderitaannya, ia jauh lebih bahagia dari orang-orang duniawi di tengah kesenangan duniawi mereka.
4. ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN KITA
O betapa amat tolol mereka yang menolak kehendak Allah! Dalam penyelenggaraan ilahi, tak seorang pun dapat meloloskan diri dari penderitaan: “Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?” Seorang yang mencerca Allah dalam kemalangan, menderita tanpa guna; terlebih lagi, dengan kurangnya penyerahan diri ia menambah penghukumannya di kehidupan mendatang dan mengalami kegalauan pikiran yang terlebih lagi dalam hidup ini: “Siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat?” Jerit amarah dia yang sakit dalam penderitaanya, keluh-kesah dan rengekan dia yang melarat dalam kemiskinannya - manfaat apakah yang akan diperoleh orang-orang ini, terkecuali bertambahnya ketidakbahagiaan mereka dan tak diperolehnya kelegaan?' “Manusia kecil,” kata St Agustinus, “dewasalah. Apakah yang engkau cari dalam menemukan kebahagiaan? Carilah satu kebaikan yang mencakup segala yang lainnya.” Siapakah yang engkau cari, sobat, jika engkau tidak mencari Allah? Carilah Dia; temukanlah Dia, bertautlah pada-Nya; ikatkanlah kehendakmu pada kehendak-Nya dengan tali-tali baja dan engkau akan senantiasa hidup damai dalam hidup ini dan dalam hidup yang akan datang.
Allah menghendaki hanya kebaikan kita. Allah mengasihi kita lebih dari yang dapat dilakukan siapa pun. Kehendak-Nya adalah bahwa tak seorang pun kehilangan jiwanya, bahwa semua orang menyelamatkan dan menguduskan jiwanya: “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” “inilah kehendak Allah: pengudusanmu.” Allah telah menjadikan tercapainya kebahagiaan kita sebagai kemuliaan-Nya. Sebab Ia dari kodrat-Nya adalah kebaikan yang tak terhingga, dan sebab sebagaimana dikatakan St Leo bahwa kebaikan senantiasa menyebarluaskan dirinya, Allah memiliki kerinduan yang dahsyat untuk menjadikan kita sebagai partisipan dalam kebaikan-Nya dan kebahagiaan-Nya. Jika kemudian Ia mengirimkan penderitaan kepada kita dalam hidup ini, itu demi kebaikan kita sendiri: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.” Bahkan penghukuman datang menimpa kita, bukan untuk menghancurkan kita, melainkan untuk membuat kita memperbaiki laku kita dan menyelamatkan jiwa kita: “Marilah percaya bahwa deraan dari Tuhan ini terjadi demi perbaikan kita dan bukan untuk pembinasaan kita.”
Allah melengkapi kita dengan kasih sayang-Nya agar jangan kita menderita kebinasaan abadi: “Ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.” Allah teramat peduli akan keselamatan kita: “Tuhan memperhatikan aku.” Apakah yang dapat tidak diberikan kepada kita apabila Ia telah menyerahkan PutraNya Sendiri kepada kita? “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Oleh sebab itu, sepatutnyalah kita dengan penuh kepercayaan menyerahkan diri pada segala disposisi penyelenggaraan ilahi, sebab semuanya adalah demi kebaikan kita belaka. Dalam segala hal yang terjadi atas kita, marilah mengatakan: “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.”
Marilah menempatkan diri kita sepenuhnya dalam tangan-Nya sebab Ia tak akan lalai mmelihara kita: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Marilah senantiasa menghadirkan Allah dalam pikiran kita dan melakukan kehendak-Nya, dan Ia akan memikirkan kita dan keselamatan kita. Tuhan kita mengatakan kepada St Katarina dari Siena: “Puteri-Ku, pikirkanlah Aku dan Aku akan senantiasa memikirkanmu.” Marilah kita kerap mengulang bersama sang Mempelai dalam Kidung Agung “Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia.”
St Niles, abbas, biasa mengatakan bahwa permohonan kita sepatutnya bukan terjadilah kehendakku, melainkan kehendak Allah yang kudus digenapi dalam kita dan oleh kita. Karena itu, apabila suatu kemalangan menimpa kita, marilah kita menerima dari tangan-Nya, bukan saja dengan sabar, melainkan bahkan dengan sukacita, sebagaimana rasul-rasul yang “meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.” Penghiburan terlebih besar apakah yang dapat menghampiri suatu jiwa selain dari mengetahui bahwa dengan sabar menanggung penderitaan, jiwa dalam kuasanya memberikan kesukaan terbesar keapda Allah? Para penulis rohani mengatakan bahwa meski kerinduan jiwa-jiwa tertentu untuk menyenangkan Allah dengan penderitaan mereka berkenan bagi Allah, namun yang terlebih menyenangkan-Nya adalah persatuan jiwa-jiwa dengan kehendak-Nya, sehingga kehendak mereka bukannya bersukacita bukan pula menderita, melainkan memasrahkan diri sepenuhnya pada kehendak-Nya, dan satu-satunya kerinduan mereka adalah agar kehendak-Nya yang kudus digenapi.
Jika, jiwa saleh, adalah kehendakmu untuk menyenangkan Allah dan mengamalkan hidup damai dalam dunia ini, persatukanlah dirimu senantisa dan dalam segala hal dengan kehendak Allah. Renungkanlah bahwa segala dosa dalam hidupmu yang jahat di masa lampau terjadi sebab engkau menyimpang dari jalan kehendak Allah. Di masa mendatang, peluklah kesukaan Allah dan katakanlah kepada-Nya dalam segala yang terjadi: “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” Apabila suatu yang tak menyenangkan terjadi, ingatlah bahwa itu datang dari Allah dan seketika itu juga katakan: “Ini datang dari Allah” dan tinggallah dalam damai: “Aku kelu dan tidak membuka mulutku, sebab Engkau yang melakukannya. Tuhan, sebab Engkau yang melakukannya, aku akan pasrah dan menerimanya.” Arahkanlah segenap pikiran dan doamu utnuk tujuan ini, untuk memohon Allah terus-menerus dalam meditasi, komuni, dan kunjungan-kunjungan kepada Sakramen Mahakudus agar Ia menolongmu melakukan kehendak-Nya yang kudus. Tanamkanlah kebiasaan mempersembahkan diri sesering mungkin kepada Allah dengan mengatakan: “Allah-ku, sudi pandanglah aku di hadapan-Mu; lakukanlah terhadapku dan segala yang kumili, seperti yang Engkau kehendaki.” Inilah doa terus-menerus St Theresia. Sekurang-kurangnya, limabelas kali sehari ia mempersembahkan diri kepada Allah, menempatkan diri sepenuhnya dalam disposisi kehendak-Nya.
Betapa beruntungnya engkau, pembaca yang baik, jika engkau juga bertindak demikian! Engkau pasti akan menjadi seorang kudus. Hidupmu akan tenang dan damai; kematianmu akan bahagia. Saat ajal, segenap pengharapan kita akan keselamatan berasal dari kesaksian batin kita apakah kita menyongsong maut dalam penyerahan diri kepada kehendak Allah atau tidak. Jika semasa hidup kita telah memeluk semuanya sebagai datang dari tangan Allah, dan jika saat ajal kita memeluk kematian sebagai kegenapan dari kehendak Allah yang kudus, maka pastilah kita menyelamatkan jiwa kita dan wafat sebagai seorang kudus. Jadi, marilah kita menyerahkan semuanya pada apa yang menyenangkan Allah, sebab Ia bijaksana tak terhingga, Ia tahu apa yang terbaik bagi kita; dan sebab Ia adalah sepenuhnya-baik dan sepenuhnya-kasih - yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita - Ia menghendaki apa yang terbaik bagi kita. Marilah kita, sebagaima dinasehatkan St Basilus, beristirahat dengan aman dalam kepastian yang melampaui kemungkinan untuk bimbang, tahu bahwa Allah bekerja untuk mendatangkan keselamatan bagi kita, jauh melampaui apa yang dapat pernah kita sendiri ingin lakukan atau rindukan.
5. LATIHAN-LATIHAN KHUSUS KETERPADUAN
Marilah sekarang kita membicarakan dengan suatu cara yang praktis masalah-masalah di mana kita sepatutnya mempersatukan diri dengan kehendak Allah.
1. Dalam masalah-masalah eksternal. Pada masa-masa panas terik, dingin ataupun hujan lebat; pada masa-masa kelaparan, wabah dan peristiwa-peristiwa serupa, hendaknyalah kita menahan diri dari melontarkan ucapan-ucapan: “Betapa panas yang menyengat!” “Betapa dingin yang menggigit!” “Betapa celaka!” Dalam peristiwa-peristiwa ini kita hendaknya menghindari ucapan-ucapan yang menyatakan perlawanan terhadap kehendak Allah. Hendaknyalah kita menghendaki hal-hal sebagaimana adanya, sebab Allah yang mendisposisikan demikian. Suatu kisah sehubungan dengan hal ini: Suatu hari telah larut malam ketika St Fransiskus Borgia tiba tanpa direncanakan di sebuah biara Yesuit dalam badai salju. Ia mengetuk dan mengetuk pintu, namun sia-sia belaka sebab komunitas telah lelap, tak seorang pun mendengarnya. Ketika pagi tiba, semua merasa bersalah atas ketidaknyamanan yang dialami St Fransiskus dengan harus melewatkan malam di udara terbuka. Akan tetapi, orang kudus ini mengatakan bahwa ia menikmati penghiburan terbesar sepanjang jam-jam malam yang panjang itu dengan membayangkan diri melihat Tuhan kita di langit menjatuhkan keping-keping salju ke atasnya.
2. Dalam masalah-masalah pribadi. Dalam masalah-masalah yang mempengaruhi kita secara pribadi, marilah kita berpasrah diri dalam kehendak Allah. Sebagai contoh, dalam kelaparan, kehausan, kemiskinan, kesedihan, kehilangan reputasi, marilah kita senantiasa mengatakan: “Kiranya Engkau membangun atau merobohkan, ya Tuhan, sebagaimana Engkau anggap baik dalam pandangan-Mu. Aku puas. Aku menghendaki hanya apa yang Engkau kehendaki.” Demikian pula, kata Rodriguez, hendaknya kita bertindak ketika iblis mengajukan perkara-perkara hipotesis tertentu kepada kita guna mendapatkan paksa persetujuan dosa dari kita, atau sekurang-kurangnya mengakibatkan kegalauan batin dalam diri kita. Sebagai contoh: “Apakah yang hendak engkau katakan atau apakah yang hendak engkau lakukan jika seorang mengatakan atau melakukan hal yang ini dan itu kepadamu?” Marilah kita menghalau pencobaan dengan mengatakan: “Dengan rahmat Allah, aku hendak mengatakan atau melakukan apa yang Allah kehendaki aku katakan atau lakukan.” Dengan demikian kita akan membebaskan diri dari cacat-cela dan pencobaan.
3. Janganlah berkeluh-kesah apabila kita menderita akibat cacat alamiah baik tubuh maupun akal budi; akibat ingatan yang lemah, lamban mengerti, canggung, timpang atau kesehatan yang buruk. Hak apakah yang kita miliki, atau kewajiban apakah yang harus ditaati Allah, sehingga Ia harus memberi kita pikiran yang terlebih cemerlang atau tubuh yang terlebih sehat dan kuat? Siapakah gerangan yang pernah ditawari hadiah dan lalu menetapkan syarat-syarat yang harus diterima si pemberi hadiah? Mailah mengucap syukur kepada Allah atas apa yang, dalam kebajikan-Nya yang tak terhingga, telah Ia anugerahkan kepada kita dan marilah kita berpuas diri pula dengan keadaan yang telah Ia berikan kepada kita.
Siapakah gerangan yang tahu? Andai Allah memberikan kepada kita talenta yang lebih hebat, kesehatan yang lebih prima, penampilan yang lebih menarik, mungkin kita telah kehilangan jiwa kita! Talenta dan pengetahuan yang hebat telah mengakibatkan banyak orang besar kepala dengan pemikiran betapa pentingnya diri mereka dan, dalam kesombongan, mereka telah memandang sebelah mata kepada yang lain. Betapa mudahnya mereka yang memiliki bakat-bakat ini jatuh ke dalam marabahaya yang ngeri bagi keselamatan mereka! Betapa banyak yang karena kecantikan fisik atau tubuh yang gagah telah langsung terjun ke dalam hidup pesta-pora! Sebaliknya, betapa banyak yang, oleh sebab kemiskinan, kekurangan atau cacat fisik, telah menjadi kudus dan menyelamatkan jiwa mereka yang, andai dianugerahi kesehatan, kekayaan atau keelokan fisik akan kehilangan jiwanya! Jadi, marilah berpuas diri dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita. “Hanya satu saja yang perlu,” dan itu bukan kecantikan, bukan kesehatan, bukan bakat. Melainkan, keselamatan jiwa kita yang abadi.
4. Adalah teristimewa penting kita berserah diri dalam kelemahan-kelemahan jasmani. Sepatutnya kita dengan sukahati memeluknya dalam keadaan dan dalam jangka waktu sebagaimana dikehendaki Allah. Kita patut mempergunakan obat-obatan pada masa sakit - sebab demikianlah kehendak Allah; tetapi jika obat-obatan itu tidak manjur, marilah mempersatukan diri dengan kehendak Allah dan ini lebih baik bagi kita dari pulihnya kesehatan kita. Marilah mengatakan: “Tuhan, aku tiada menghendaki sehat maupun memilih tetap sakit; aku menghendaki hanya apa yang Engkau kehendaki.” Tentu saja, adalah lebih saleh untuk tidak mengeluh pada masa-masa sakit payah; meski demikian, kala penderitaan berat menghimpit, tidaklah salah mengijinkan sahabat-sahabat kita tahu apa yang tengah kita derita, dan juga memohon kepada Allah untuk membebaskan kita dari penderitaan kita. Tetapi, baiklah dimengerti bahwa penderitaan-penderitaan yang dimaksud di sini adalah penderitaan yang sungguh berat. Kerap terjadi, sebagian orang pada saat sakit remeh atau bahkan suatu ketidaknyamanan sepele menimpa, menghendaki seluruh dunia berhenti dan bersimpati pada mereka dalam penderitaan mereka.
Akan tetapi di mana kasus penderitaan sungguh berat, ada pada kita teladan Tuhan kita, yang, menjelang sengsara-Nya yang pahit, menyatakan keadaan jiwa-Nya kepada para murid dengan mengatakan: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” dan memohon pada BapaNya yang kekal untuk membebaskan-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Namun Tuhan kita mengajarkan kepada kita apa yang harus kita lakukan apabila kita mengajukan permohonan yang demikian, ketika Ia menambahkan: “Tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
Betapa kekanak-kanakan kepura-puraan mereka yang mengajukan protes bahwa mereka menghendaki sehat bukan untuk menghindari penderitaan, melainkan untuk melayani Tuhan kita dengan terlebih baik dengan dapat menjalankan regula mereka, melayani komunitas, pergi ke gereja, menyambut komuni, melakukan silih, belajar, berkarya bagi jiwa-jiwa dari dalam kamar pengakuan dan dari atas mimbar! Jiwa yang saleh, katakanlah kepadaku, mengapakah engkau merindukan hal-hal ini? Guna menyenangkan Allah? Jadi, mengapakah mencari jauh-jauh untuk menyenangkan Allah jika engkau yakin Allah tak menghendaki doa-doa, komuni, silih ataupun karya ini, melainkan Ia memang menghendaki engkau menderita penyakit yang Ia kirim ini dengan sabar? Jadi, persatukanlah penderitaanmu dengan penderitaan Tuhan kita.
“Tetapi,” demikian sanggahmu, “aku tak hendak sakit sebab jika sakit aku tak berguna, menjadi beban bagi ordoku, bagi biaraku.” Tetapi jika engkau bersatu dan berserah pada kehendak Allah, engkau akan menyadari bahwa para superiormu juga berserah pada disposisi penyelenggaraan ilahi, dan bahwa mereka mengenali fakta bahwa engkau menjadi beban bukan karena kemalasanmu, melainkan karena kehendak Allah. Ah, betapa kerap keinginan-keinginan dan keluh-kesah ini muncul, bukan dari cinta kepada Allah, melainkan cinta kepada diri sendiri! Betapa banyak mereka yang punya begitu banyak alasan untuk melarikan diri dari kehendak Allah! Adakah kita rindu menyenangkan Allah? Apabila kita mendapati diri terpasung di atas ranjang sakit kita, marilah memanjatkan doa yang satu ini: “Terjadilah kehendak-Mu.” Marilah kita ulang dan ulang lagi, dan ini akan menyenangkan Allah lebih dari segala matiraga dan devosi kita. Tak ada cara yang terlebih baik dalam melayani Allah selain dari dengan sukacita memeluk kehendak-Nya yang kudus.
St Yohanes dari Avila suatu ketika menulis kepada seorang imam yang sakit: “Sahabatku terkasih, janganlah melelahkan dirimu dengan merencanakan apa yang hendak engkau lakukan apabila engkau sehat, melainkan berpuas-dirilah menjadi sakit sepanjang Allah menghendakinya. Jika engkau berupaya melakukan kehendak Allah, apakah bedanya bagimu entah engkau sakit atau sehat?” Orang kudus ini sungguh benar, sebab Allah dimuliakan bukan melalui karya-karya kita, melainkan melalui penyerahan diri kita dan melalui persatuan kita dengan kehendak-Nya yang kudus. Mengenai hal ini St Fransiskus dari Sales biasa mengatakan bahwa kita melayani Allah dengan terlebih baik melalui penderitaan-penderitaan kita daripada melalui perbuatan-perbuatan kita.
Banyak kali terjadi bahwa pertolongan medis yang sesuai atau obat-obat yang mujarab tak memadai, atau bahkan dokter tidak dengan tepat mendiagnosa penyakit kita. Dalam peristiwa-peristiwa demikian, patutlah kita mempersatukan diri dengan kehendak Allah yang mendisposisikan kesehatan jasmani kita ke keadaan tersebut. Dikisahkan seorang pengagum St Thomas dari Canterbury, karena terjangkit suatu penyakit, pergi ke makam orang kudus kita ini untuk beroleh kesembuhan. Ia pulang ke rumah dalam keadaan sembuh. Tetapi kemudian ia berpikir dalam hati: “Andai adalah lebih baik bagi keselamatan jiwaku apabila aku tetap sakit, apakah gunanya aku sembuh?” Dengan pemikiran ini ia kembali dan memohon perantaraan St Thomas kepada Allah agar kepadanya dianugerahkan apa yang terbaik bagi keselamatan abadi jiwanya. Penyakitnya kembali dan ia sama sekali puas, sebab sepenuhnya yakin bahwa Allah telah mendisposisikannya demikian demi kebaikannya sendiri.
Ada suatu kisah serupa oleh Surio mengenai seorang buta yang matanya dicelikkan melalui doa kepada St Bedasto, Uskup. Sesudah memikirkan masalahnya kembali, ia berdoa lagi kepada santo pelindungnya, tetapi kali ini dengan maksud, apabila penglihatannya tidaklah bermanfaat bagi jiwanya, maka biarlah matanya buta kembali. Dan tepat itulah yang terjadi - ia buta kembali. Oleh sebab itu, dalam sakit, lebih baik kita tak memohon tetap sakit ataupun sembuh, melainkan kita berserah diri pada kehendak Allah agar Ia mendisposisikan kita sebagaimana dikehendaki-Nya. Akan tetapi, jika kita memutuskan untuk meminta kesembuhan, marilah kita melakukannya setidaknya dengan senantiasa berserah diri dan dengan syarat kesehatan jasmani kita bermanfaat bagi kesehatan jiwa kita. Jika tidak, doa kita tak sempurna dan tetap tak didengar sebab Tuhan kita tidak menjawab doa-doa yang dipanjatkan tanpa penyerahan diri pada kehendak-Nya yang kudus.
Penyakit adalah batu uji bagi spiritulitas, sebab menyingkapkan apakah keutamaan kita sungguh atau pura-pura. Apabila jiwa tidak galau, tidak meledak dalam keluh-kesah, tidak bergegas dan gelisah mencari kesembuhan, melainkan tunduk pada para dokter dan superior, damai dan tenang, sepenuhnya berserah pada kehendak Allah, itu adalah tanda bahwa jiwa memiliki pondasi yang kokoh dalam keutamaan.
Betapa dia yang merengek-rengek, yang berkeluh-kesah atas kurangnya perhatian? Bahwa penderitaannya melampaui yang dapat ditanggung? Bahwa dokter tak memahami masalahnya? Betapa jiwa pengecut yang meratap bahwa tangan Allah terlalu berat menghimpitnya?
Kisah yang ditulis St Bonaventura dalam “Riwayat Hidup St Fransiskus” menyampaikan cerita berikut: Dalam suatu kesempatan, ketika St Fransiskus menderita suatu penyakit jasmani yang payah, salah seorang biarawan yang bermaksud menunjukkan simpati kepadanya, mengatakan dalam kepolosannya: “Pater, berdoalah kepada Allah agar Ia memperlakukanmu sedikit lebih lembut, sebab tangan-tangan-Nya tampak berat menimpamu.” Mendengar ini, St Fransiskus dengan keras melontarkan ucapan tak suka atas perkataan bairawan yang bermaksud baik ini dengan mengatakan: “Saudaraku yang baik, andai aku tak tahu bahwa apa yang baru saja engkau katakan terlontar dari kepolosan belaka, tanpa menyadari makna dari kata-katamu, maka tiada pernah aku akan mau menjumpaimu sebab kesembronoanmu dalam memberikan penilaian atas disposisi penyelenggaraan ilahi.” Lalu, dalam keadaan lemah dan tak berdaya didera penyakit, ia bangun dari pembaringan, berlutut, mencium lantai dan berdoa sebagai berikut: “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu atas penderitaan yang Engkau kirimkan kepadaku. Kirimkanlah lebih banyak lagi, jika itu menjadi kehendak-Mu. Merupakan kebahagian bagiku bahwa Engkau mengirimkan penderitaan atasku dan tidak menyayangkanku, sebab digenapinya kehendak-Mu yang kudus adalah penghiburan terbesar dalam hidupku.”
6. KEKERINGAN ROHANI
Hendaknya kita memandang dalam terang kehendak Allah yang kudus, kehilangan orang-orang yang membantu kita di jalan rohani ataupun jasmani. Jiwa-jiwa saleh kerap gagal dalam hal ini dengan tidak berserah diri pada disposisi kehendak Allah yang kudus. Pengudusan kita pada pokoknya dan pada dasarnya datang dari Allah, bukan dari para pembimbing rohani. Ketika Allah mengirimkan kepada kita seorang pembimbing rohani, Ia menghendaki kita mendapatkan manfaat darinya bagi kepentingan rohani kita, tetapi jika Ia mengambilnya dari kita, Ia menghendaki kita tinggal tenang dan tidak gelisah dan meningkatkan kepercayaan kita pada kebajikan-Nya dengan mengatakan kepada-Nya: “Tuhan, Engkau telah memberiku pertolongan ini dan sekarang Engkau mengambilnya kembali. Terpujilah kehendak-Mu yang kudus! Aku mohon kepada-Mu, ajarilah aku apa yang harus aku lakukan demi melayani Engkau.”
Dengan cara ini pula kita sepatutnya menerima salib-salib lain apapun juga yang Allah kirimkan kepada kita. “Tetapi,” kalian menjawab, “penderitaan-penderitaan ini sungguh adalah hukuman.” Tanggapan atas pernyataan itu adalah: Bukankah hukuman-hukuman yang Allah kirimkan kepada kita dalam hidup ini adalah juga rahmat dan keuntungan? Penghinaan-penghinaan kita melawan Allah bagaimanapun harus disilih, entah di dunia ini atau di dunia mendatang. Sebab itu, baiklah kita semua menjadikan doa St Agustinus sebagai doa kita sendiri: “Tuhan, di sini potonglah, di sini bakarlah dan janganlah menyayangkan aku, tetapi selamatkanlah aku dalam kekekalan masa!” Marilah mengatakan bersama Ayub “Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku! Itulah yang masih merupakan hiburan bagiku, bahkan aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan.” Sebab pantas mendapatkan neraka karena dosa-dosa kita, hendaknyalah kita terhibur bahwa Allah menghukum kita dalam hidup ini dan menggerakkan kita untuk memandang perlakuan yang demikian sebagai suatu janji bahwa Allah hendak menyelamatkan kita di kehidupan mendatang. Apabila Allah mengirimkan penghukuman-penghukuman kepada kita, marilah bersama imam besar Eli kita mengatakan: “TUHAN kiranya melakukan yang baik di mata-Nya.”
Masa kekeringan rohani adalah juga masa berserah diri. Ketika suatu jiwa mulai mengolah hidup rohaninya, Allah biasanya melimpahkan penghiburan-penghiburan-Nya atas jiwa guna menyendirikannya dari dunia; tetapi ketika Ia melihat jiwa mengalami kemajuan pesat, Ia menarik tangan-Nya guna menguji jiwa dan melihat apakah jiwa akan mengasihi dan melayani-Nya tanpa ganjaran penghiburan-penghiburan yang dapat dirasakan. “Dalam hidup ini,” sebagaimana biasa dikatakan St Theresia, “bagian kita bukanlah untuk menikmati Allah, melainkan untuk melakukan kehendak-Nya yang kudus.” Dan lagi, “Mengasihi Allah tidak berarti mengalami kelemah-lembutan kasih-Nya, melainkan melayani-Nya dengan bulat hati dan kerendahan hati.” Dan di tempat lain, “Kekasih sejati Allah ditemukan dalam masa-masa kekeringan dan pencobaan.”
Kiranya jiwa bersyukur kepada Allah bilamana ia mengalami cinta dan kasih sayang-Nya, akan tetapi janganlah ia merana bilamana ia mendapati diri ditinggalkan dalam kekeringan. Adalah penting menggarisbawahi point ini, sebab sebagian jiwa, para pemula dalam kehidupan rohani, bilamana mendapati diri dalam kekeringan rohani, beranggapan bahwa Allah telah meninggalkan mereka, atau bahwa kehidupan rohani bukanlah diperuntukkan bagi mereka; demikianlah mereka meninggalkan praktek doa dan kehilangan apa yang sebelumnya telah mereka peroleh. Masa kekeringan adalah masa yang paling tepat untuk mempraktekkan penyerahan diri pada Allah yang kudus. Aku tidak mengatakan bahwa kalian tidak akan mengalami sakit mendapati dirimu kehilangan kehadiran Allah yang dapat dirasakan; mustahillah jiwa tidak merasakannya dan meratapinya. Bahkan Tuhan Sendiri berseru di atas salib: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Namun demikian, dalam penderitaan, jiwa hendaknya senantiasa berserah pada kehendak Allah.
Para kudus semuanya mengalami kekeringan jiwa dan merasa ditinggalkan. “Betapa hatiku bebal terhadap hal-hal rohani!” seru St Bernardus. “Tak ada kenikmatan dalam bacaan rohani, tak ada kesenangan dalam meditasi ataupun doa!” Pada umumnya merupakan bagian yang lazim bagi para kudus untuk mengalami kekeringan; penghiburan-penghiburan yang dapat dirasakan merupakan pengecualian. Penghiburan-penghiburan yang demikian adalah peristiwa yang jarang terjadi yang dianugerahkan kepada jiwa-jiwa yang belum dicobai agar mereka tidak berhenti di jalan menuju kekudusan; sukacita dan kebahagiaan sesungguhnya yang merupakan ganjaran mereka tersedia di surga. Dunia ini adalah tempat di mana jasa diperoleh dengan penderitaan; surga adalah tempat ganjaran dan kebahagiaan. Jadi, di dunia ini para kudus tiada merindukan ataupun mencari sukacita yang dapat dirasakan, melainkan semangat roh yang diperkokoh dalam ujian pencobaan. “Oh, betapa jauh lebih baik,” kata St Yohanes dari Avila, “menanggung kekeringan dan pencobaan oleh kehendak Allah daripada ditinggikan ke tingkat kontemplasi tanpa kehendak Allah!”
Tetapi kalian katakan kalian akan dengan senang hati menanggung kekeringan jika kalian yakin kekeringan itu berasal dari Allah, tetapi kalian didera kegelisahan bahwa kekeringanmu berasal dari kesalahanmu sendiri dan merupakan suatu hukuman atas suam-suam kuku. Baiklah andai kalian benar, maka singkirkanlah suam-suam kuku dan berlatihlah dengan terlebih tekun dalam masalah-masalah jiwamu. Tetapi, sebab kalian mungkin mengalami kegelapan rohani, adakah kalian akan tinggal dalam kegelisahan, meninggalkan doa, dan dengan demikian menjadikan masalahnya dua kali lebih buruk dari semula?
Marilah kita anggap bahwa kekeringan ini merupakan suatu hukuman atas suam-suam kuku. Bukankah Allah yang mengirimkannya? Terimalah kekeringanmu sebagai padang gurun yang pantas bagimu dan persatukanlah diri dengan kehendak Allah yng kudus. Bukankah kalian katakan bahwa kalian pantas memperoleh neraka? Dan sekarang kalian mengeluh? Mungkin kalian pikir seharusnyalah Allah mengirimkan penghiburan-penghiburan kepadamu! Jauhkanlah pikiran-pikiran yang demikian dan bersabarlah di bawah tangan Allah. Panjatkanlah doa-doamu kembali dan teruslah berjalan di jalan yang telah kalian mulai; di masa mendatang, khawatirlah kalau-kalau keluh-kesah yang demikian berasal dari kurangnya kerendahan hati dan kurangnya penyerahan diri pada kehendak Allah. Oleh karenanya berserah dirilah dan katakan: “Tuhan, aku menerima hukuman ini dari tangan-Mu, dan aku menerimanya selama itu menyenangkan-Mu; jika adalah kehendak-Mu bahwa aku menderita demikian sepanjang kekekalan masa, aku akan puas.” Doa yang demikian, meski sulit, akan jauh lebih bermanfaat bagi kalian daripada penghiburan-penghiburan yang paling manis yang dapat dirasakan.
Akan tetapi, baik diingat bahwa kekeringan tidak selalu merupakan suatu hukuman; terkadang kekeringan merupakan suatu disposisi penyelenggaraan ilahi demi kebaikan rohani kita yang terlebih lagi dan menjadikan kita rendah hati. Agar St Paulus tidak menjadi sombong karena karunia-karunia rohani yang diterimanya, Tuhan mengijinkannya dicobai dengan ketidakmurnian: “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.”
Doa yang dipanjatkan di tengah-tengah devosi yang dapat dirasakan tak banyak mendatangkan kemajuan: “Ada seorang kawan, seorang teman di meja, tetapi ia tidak tinggal pada hari kesusahan.” Kalian tak akan menganggap tamu biasa di mejamu sebagai sahabat, melainkan seorang sahabat hanyalah dia yang membantumu dalam kesusahan tanpa memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Ketika Allah mengirimkan kegelapan dan kekeringan rohani, sahabat-sahabat sejati akan dapat dikenali.
Palladius, penulis “Riwayat Hidup Para Bapa Padang Gurun”, kala mengalami kemuakan hebat dalam doa, pergi mohon nasehat Abbas Macarius. Abbas yang kudus itu memberinya nasehat ini: “Apabila engkau dicobai pada masa-masa kekeringan untuk berhenti berdoa sebab engkau tampaknya hanya membuang-buang waktu saja, katakanlah: `Karena aku tak dapat berdoa, aku akan berpuas diri sekedar tinggal berjaga di sini dalam bilikku demi kasih kepada Yesus Kristus!'” Jiwa saleh, lakukanlah yang sama apabila engkau dicobai untuk berhenti berdoa sebab tampaknya sia-sia. Katakanlah: “Aku akan tinggal di sini sekedar untuk menyenangkan Allah.” St Fransiskus dari Sales biasa mengatakan bahwa jika kita tak melakukan suatupun selain dari berupaya mengenyahkan distraksi-distraksi dan pencobaan-pencobaan dalam doa kita, maka doa itu sudah baik. Tauler menyatakan bahwa bertekun dalam doa pada masa kekeringan akan mendapatkan lebih banyak rahmat daripada doa di tengah semangat devosi yang dapat dirasakan.
Rodriguez menyebutkan kasus seorang yang selama empatpuluh tahun bertekun dalam doa kendati kekeringan, dan sebagai hasilnya mengalami kekuatan rohani yang besar; terkadang, apabila di tengah kekeringan ia menghentikan meditasi, ia merasa lemah secara rohani dan tak mampu melakukan perbuatan-perbuatan baik. St Bonaventura dan Gerson, keduanya mengatakan bahwa orang-orang yang tak mengalami kekhusukan seperti yang ingin mereka dapatkan dalam meditasi, kerapkali melayani Allah lebih baik dibandingkan andai mereka mendapatkan kekhususkan itu, alasannya adalah bahwa kurangnya kekhusukan membuat mereka terlebih giat dan rendah hati; jika tidak, mereka akan menjadi besar kepala dengan kesombongan rohani dan menjadi suam-suam kuku, dengan sia-sia percaya bahwa mereka telah mencapai puncak kekudusan.
Apa yang telah dikatakan mengenai kekeringan berlaku juga bagi pencobaan. Tentu saja, kita harus berjuang menghindari pencobaan; akan tetapi jika Allah menghendaki kita dicobai melawan iman, kemurnian atau keutamaan lainnya, janganlah kita menyerah dalam keluh-kesah keputusasaan, melainkan persembahkanlah diri dengan berserah pada kehendak Allah yang kudus. St Paulus mohon dibebaskan dari pencobaan-pencobaan terhadap ketidakmurnian dan Tuhan kita menjawabnya dengan mengatakan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.”
Jadi, demikianlah kita harus bertindak apabila kita mendapati diri sebagai kurban pencobaan yang tak kunjung henti dan Allah tampaknya menutup telinga terhadap doa-doa kita. Pada saat itu, marilah kita berdoa: “Tuhan, terjadilah padaku sebagaimana Engkau kehendaki; kasih karunia-Mu cukup bagiku. Hanya saja jangan pernah biarkan aku kehilangan rahmat ini.” Persetujuan pada pencobaan, bukan atas pencobaan itu sendiri, dapat membuat kita kehilangan rahmat Allah. Melawan pencobaan menjadikan kita lebih sering memohon pertolongan Allah, dengan demikian menghindarkan kita dari menghinakan-Nya dan mempersatukan kita terlebih akrab mesra dengan-Nya dalam ikatan kasih-Nya yang kudus.
Akhirnya, hendaknyalah kita mempersatukan diri dengan kehendak Allah sehubungan dengan waktu dan cara maut menjemput kita. Suatu hari St Gertrude, ketika sedang mendaki sebuah bukit kecil, terpeleset dan jatuh ke dalam sebuah jurang di bawahnya. Sesudah teman-temannya datang menolong, mereka bertanya apakah ketika jatuh ia takut kalau-kalau mati tanpa menyambut sakramen-sakramen. “Aku dengan sungguh berharap dan rindu mendapatkan buah-buah sakramen ketika maut menjemput; kendati demikian, menurut pendapatku, kehendak Allah jauh lebih penting. Aku percaya bahwa disposisi terbaik bagiku untuk mati bahagia adalah berserah diri pada apapun yang Allah kehendaki atasku. Oleh sebab itu aku merindukan bentuk kematian apapun yang Allah berkenan kirimkan untukku.”
Dalam “Dialog,” St Gregorius menceritakan seorang imam, Santolo namanya, yang ditangkap kaum Vandal dan dijatuhi hukuman mati. Bangsa barbar menyuruhnya memilih cara mati yang dikehendakinya. Santolo menolak dengan berkata: “Aku ada dalam tangan Allah dan aku dengan sukahati menerima bentuk kematian apapun yang Ia kehendaki aku derita dalam tangan kalian; aku tak menghendaki yang lain.” Jawaban ini begitu berkenan bagi Allah hingga Ia secara ajaib menahan tangan algojo yang siap memancungnya. Kaum barbar ini begitu terkesan oleh mukjizat yang terjadi hingga mereka membebaskan tawanan mereka. Oleh karena itu, sehubungan dengan cara kematian kita, hendaknyalah kita menghargai bentuk kematian terbaik bagi kita sebagaimana telah ditetapkan Allah bagi kita. Sebab itu, bilamana kita berpikir mengenai kematian kita, biarlah ini menjadi doa kita: “Ya Tuhan, yang aku harap hanyalah selamtakan jiwaku dan aku serahkan cara kematianku kepada-Mu!”
Demikian pula hendaknya kita mempersatukan diri dengan kehendak Allah mengenai bilamana ajal menjelang. Apalah dunia ini selain dari sebuah penjara di mana kita menderita dan di mana kita terus-menerus dalam bahaya kehilangan Allah? Sebab itulah Daud berkata: “Keluarkanlah aku dari dalam penjara.” St Theresia begitu takut kehilangan Allah hingga apabila ia mendengar dentang jam, ia mendapati penghiburan dalam pemikiran bahwa hitungan jam telah berkurang satu dari bahaya kehilangan Allah.
St Yohanes dari Avila yakin bahwa setiap orang yang berpikiran benar selayaknya merindukan kematian sebab hidup dalam resiko kehilangan rahmat Allah. Apakah yang lebih menyenangkan atau lebih diperlukan daripada melalui kematian yang baik, menikmati jaminan tak lagi dapat kehilangan rahmat Allah? Mungkin kalian akan menjawab bahwa kalian belum melakukan sesuatupun sehingga layak beroleh ganjaran ini. Apabila adalah kehendak Allah bahwa hidupmu harus berakhir sekarang, apakah yang akan engkau lakukan, hidup di sini melawan kehendak-Nya? Siapa tahu, engkau akan jatuh ke dalam dosa dan binasa! Meski jika kalian lolos dari dosa berat, kalian tak akan dapat hidup bebas sama sekali dari dosa. “Mengapakah kita begitu bersikukuh hidup,” demikian St Bernardus, “jika semakin lama kita hidup, semakin kita berdosa?” Satu dosa ringan lebih menyedihkan Allah melampaui segala perbuatan-perbuatan baik yang dapat kita lakukan.
Lebih jauh, orang yang memiliki sedikit kerinduan pada surga menunjukkan bahwa ia memiliki sedikit kasih pada Allah. Kekasih sejati rindu untuk bersama dengan kekasihnya. Kita tak dapat melihat Allah sementara kita tinggal di sini di dunia; karenanya para kudus merindukan kematian agar mereka dapat pergi dan melihat Tuhan mereka yang terkasih, dari muka ke muka. “Oh, kiranya aku mati dan melihat wajah-Mu yang menawan!” desah St Agustins. Dan St Paulus: “Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus.” “Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” seru pemazmur.
Suatu hari seorang pemburu mendengar suara seorang bernyanyi dengan begitu merdunya di hutan. Dengan mengikuti suara, ia tiba di depan seorang kusta yang tubuhnya rusak hebat dimakan penyakitnya. Menyapa si kusta, sang pemburu bertanya: “Bagaimanakah engkau dapat bernyanyi sementara sakitmu begitu payah dan kematian di depan mata?” Sahut si kusta: “Sahabat, tubuhku yang malang adalah tembok yang remuk, yang adalah satu-satunya hal yang memisahkanku dari Allah-ku. Apabila tembok ini runtuh, aku akan segera pergi kepada Allah. Bagiku, waktu sungguh amat cepat berlalu, jadi setiap hari aku menunjukkan kebahagiaanku dengan mengangkat suaraku dalam madah pujian.”
Terakhir, hendaknyalah kita mempersatukan diri dengan kehendak Allah sehubungan dengan tingkat rahmat dan kemuliaan kita. Benar, kita patut menghargai hal-hal demi kemuliaan Allah, tetapi hendaknyalah kita menunjukkan penghargaan tertinggi pada hal-hal yang menyangkut kehendak Allah. Sepatutnyalah kita rindu mengasihi Allah lebih dari para serafim, tapi tidak ke tingkat yang lebih tinggi dari yang Ia tetapkan bagi kita. St Yohanes dari Avila mengatakan: “Aku percaya setiap orang kudus memiliki kerinduan untuk lebih tinggi dalam rahmat dari yang ada padanya. Namun, kendati demikian, ketentraman jiwa mereka senantiasa tinggal tenang. Kerinduan mereka akan tingkat rahmat yang lebih tinggi muncul bukan dari pemikiran akan kebaikan mereka sendiri, melainkan akan Allah. Mereka puas dengan tingkat rahmat yang telah Allah tetapkan bagi mereka, bahkan meski sesungguhnya Allah memberi mereka kurang. Mereka menganggap sebagai suatu tanda kasih sejati kepada Allah untuk berpuas dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepada mereka, daripada rindu untuk menerima lebih banyak.”
Artinya, sebagaimana dijelaskan Rodriguez, hendaknya kita bertekun dalam perjuangan untuk menjadi sempurna, agar suam-suam kuku dan kemalasan tidak menjadi alasan bagi sebagian orang untuk mengatakan: “Pastilah Allah menolongku; aku hanya dapat melakukan sekian dari diriku sendiri.” Akan tetapi, apabila kita sungguh jatuh dalam kesalahan, janganlah kita kehilangan kedamaian jiwa dan persatuan dengan kehendak Allah, yang mengijinkan kita jatuh; pun janganlah kita kehilangan keberanian. Marilah segera bangkit, dengan sesal merendahkan diri dan dengan memohon pertolongan yang terlebih lagi dari Allah, marilah kita terus melangkah pasti di jalan kehidupan rohani. Begitu pula, mungkin kita rindu berada di kalangan para serafim di surga, bukan demi kemuliaan kita sendiri, melainkan demi kemuliaan Allah, dan untuk mengsihi-Nya terlebih lagi; meski begitu hendaknyalah kita berserah pada kehendak-Nya dan berpuas diri dengan tingkat kemuliaan yang telah ditetapkan Allah dalam belas kasihan-Nya bagi kita.
Adalah suatu cacat yang serius merindukan karunia-karunia doa adikodrati - teristimewa ekstasi, penglihatan dan penampakan. Para alim ulama kehidupan rohani mengatakan bahwa jiwa-jiwa yang beroleh karunia demikian dari Allah, baik memohon kepada-Nya untuk mengambil kembali karunia-karunia itu agar mereka dapat mengasihi-Nya dari iman yang murni - suatu jalan yang lebih aman. Banyak orang telah sampai pada kesempurnaan tanpa karunia-karunia adikodrati ini; satu-satunya keutamaan yang bermanfaat adalah keutamaan yang menarik jiwa ke kekudusan hidup, yakni, keutamaan keterpaduan dengan kehendak Allah yang kudus. Apabila Allah tak hendak menaikkan kita ke tingkat-tingkat kesempurnaan dan kemuliaan, marilah kita mempersatukan diri dalam segala hal dengan kehendak-Nya yang kudus, memohon kepada-Nya dalam belas kasihan-Nya, untuk menganugerahkan kepada kita keselamatan jiwa kita. Apabila kita berbuat demikian, tak sedikit ganjaran yang akan kita terima dari tangan Allah yang mengasihi melampaui semua yang lain jiwa-jiwa yang berserah pada kehendak-Nya yang kudus.
7. KESIMPULAN
Pada akhirnya, sepatutnyalah kita memikirkan peristiwa-peristiwa yang terjadi atas kita sekarang dan yang akan terjadi atas kita di masa mendatang, sebagai berasal dari tangan Allah. Segala yang kita lakukan hendaknya diarahkan pada satu tujuan ini: melakukan kehendak Allah dan melakukannya semata-mata oleh sebab Allah menghendakinya. Untuk berjalan lebih aman di jalan ini, kita harus bergantung pada bimbingan para superior kita mengenai masalah-masalah jasmaniah, dan pada pembimbing rohani kita mengenai masalah-masalah rohaniah, belajar dari mereka mengenai kehendak Allah sehubungan dengan kita, dengan beriman teguh pada sabda Tuhan kita: “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku.”
Di atas segalanya, marilah kita mengerahkan segala daya upaya kita demi melayani Allah dalam cara yang Ia kehendaki. Pernyataan ini dibuat agar kita dapat menghindari kesalahan orang yang membuang-buang waktunya dengan berpangku tangan dan berandai-andai. Seperti yang dikatakan orang: “Andai aku menjadi seorang rahib, aku akan menjadi seorang santo” atau “Andai aku masuk biara, aku akan mempraktekkan silih” atau “Andai aku pergi dari sini, meninggalkan teman-teman dan sahabat, aku akan membaktikan jam-jam panjang dalam doa.” Andai, andai, andai - segala andai ini! Sementara itu orang tersebut berubah dari buruk menjadi parah. Segala angan-angan tanpa upaya ini seringkali merupakan pencobaan dari yang jahat, sebab tak selaras dengan kehendak Allah. Sebab itu hendaknyalah kita menghalaunya dengan segera dan bangkit melayani Allah hanya dengan cara sebagaimana yang telah ditetapkan-Nya bagi kita. Dengan melakukan kehendak-Nya yang kudus, pastilah kita akan menjadi kudus dalam lingkungan di mana Ia telah menempatkan kita.
Marilah kita selalu dan senantiasa menghendaki hanya apa yang dikehendaki Allah; sebab dengan berbuat demikian, Ia akan mendekapkan kita pada hati-Nya. Untuk tujuan ini baiklah kita mengakrabkan diri dengan ayat-ayat dari Kitab Suci yang mengundang kita untuk mempersatukan diri terus-menerus dengan kehendak Allah. “Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?” Katakan kepadaku, ya Allah, apakah yang Engkau kehendaki aku perbuat, agar aku dapat menghendakinya juga, dengan segenap hatiku. “Aku kepunyaan-Mu, selamatkanlah aku.” Aku bukan lagi milikku sendiri, aku milikmu, ya Tuhan, perbuatlah atasku sebagaimana Engkau kehendaki.
Apabila suatu kemalangan besar menimpa kita, sebagai misal, kematian seorang sanak keluarga, kehilangan harta-benda, baiklah kita katakan: “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” Ya, Allah-ku dan Bapa-Ku, terjadilah, sebab itulah yang Engkau kehendaki. Di atas segalanya, marilah memanjatkan doa yang diajarkan Tuhan Sendiri kepada kita: “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.” Tuhan kita meminta St Katarina dari Genoa untuk memberikan suatu jeda khusus pada kata-kata ini bilamana ia mendaraskan Bapa Kami, berdoa agar kehendak Allah yang kudus digenapi di bumi dengan kesempurnaan yang sama dengan yang dilakukan para kudus di surga. Kiranya ini kita praktekkan juga, dan pastilah kita akan menjadi orang-orang kudus.
“Kiranya kehendak Allah dicintai dan dimuliakan! Kiranya Santa Perawan yang Tak Bercela juga dimuliakan!”
~ St Alfonsus de Liguori
sumber : “Uniformity With God's Will” by Saint Alphonsus de Ligouri
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|