|
KETAATAN Menurut Para Kudus
“Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu.” ~ Matius 23:3
1. Kita semua mempunyai suatu kecenderungan alamiah untuk memerintah dan keengganan kuat untuk taat; namun demikian adalah pasti bahwa lebih bermanfaat bagi kita untuk taat daripada memerintah. Oleh karena alasan inilah jiwa-jiwa yang sempurna memiliki kecintaan yang besar pada ketaatan, dan menemukan di dalamnya segala sukacita mereka.
Demikian perkataan St Fransiskus de Sales, dan sesungguhnya orang kudus ini banyak melatih diri dalam keutamaan ketaatan, meski ia seorang uskup dan superior dari begitu banyak rumah biara. Ia bahkan taat pada pengurus rumah tangganya sehubungan dengan waktu bangun dan waktu beristirahat, mengenakan dan menanggalkan pakaian, seolah dialah yang pelayan dan bukan tuan.
St Theresia kerap mengatakan: “Salah satu rahmat terbesar yang aku merasa wajib untuk mengucap syukur kepada Tuhan kita atasnya adalah bahwa Allah yang Mahakuasa telah memberiku suatu kerinduan untuk taat; sebab dalam keutamaan inilah aku mengalami penghiburan dan kepuasan terbesar, sebagai keutamaan yang Tuhan perintahkan kepada kita lebih dari yang lain; dan karenanya aku rindu memilikinya lebih dari apapun yang lain di dunia.”
St Maria Magdalena de'Pazzi memiliki cinta yang begitu besar akan ketaatan hingga meski suatu perintah sangatlah sulit dilakukan, atau akan sangat meletihkannya, ia tiada pernah tampak enggan ataupun menunjukkan bahkan sedikitpun tanda ketidaksenangan, melainkan menerima semuanya dengan wajah gembira, seolah suatu tawaran yang amat menyenangkan diajukan kepadanya.
2. Ketaatan, tak diragukan lagi, lebih bermanfaat dari matiraga apapun. Dan matiraga lebih besar apakah yang dapat kita pikirkan selain dari memelihara kehendak diri untuk terus-menerus taat dan patuh? ~ St Katarina dari Bologna
Karena St Dositheus tak dapat mempraktekkan matiraga atau bahkan latihan-latihan rohani biasa oleh sebab kesehatannya yang rapuh, ia mengarahkan perhatian sepenuhnya pada praktek ketaatan, dan setelah lima tahun mempraktekkannya, dinyatakan kepadanya bahwa sebuah mahkota serupa mahkota St Antonius agung telah menantinya di surga. Ketika sebagian dari para rahib yang paling bertekun dalam matiraga dan dalam segala latihan lainnya merasa sedih karena hal ini, Tuhan kita menyatakan kepada mereka bahwa mereka telah gagal memahami kebajikan penuh dari ketaatan.
3. Ketaatan merupakan laku tapa jiwa, dan sebab itu suatu kurban yang lebih dapat diterima dari segala laku tapa. Demikianlah terjadi bahwa Allah lebih menyukai tingkat terendah dari ketaatan dalam diri kalian, dibandingkan segala pelayanan lain yang dapat kalian pikirkan untuk melayani-Nya. ~ St Yohanes dari Salib
Orang kudus ini, setelah menamatkan pendidikan dan kembali ke kehidupan biara, memperlihatkan bahwa ia menganggap tinggi dirinya sebab pendidikan tinggi yang diraihnya. Guna menyembuhkannya, pembimbing memberinya sebuah katekimus dengan mengatakan supaya ia mengesampingkan segala buku yang lain dan membaca buku ini saja; membaca perlahan, suku kata demi suku kata, seperti seorang anak kecil. St Yohanes terus melakukannya untuk suatu jangka waktu yang lama, dan dengan ketekunan yang besar, dan sesudahnya mengakui bahwa ia memperoleh darinya bukan hanya suatu tingkat ketaatan yang tinggi, melainkan banyak keutamaan lainnya juga.
Kita membaca dalam “Riwayat Para Bapa” bahwa suatu ketika empat biarawan mengunjungi Abbas Pambo, dan masing-masing dari mereka secara pribadi menyampaikan kepadanya keutamaan-keutamaan biarawan yang lain. Yang satu berpuasa ketat, yang lain tiada memiliki bahkan barang-barang yang paling remeh sekalipun, yang satu bercahaya dengan belas kasih yang paling giat, sementara yang terakhir hidup dalam praktek ketaatan selama duapuluh tahun. Ketika sang abbas mendengar semua itu, ia mengatakan: “Keutamaan yang terakhir adalah yang terbesar dari semuanya; sebab yang lain mengikuti kehendak mereka sendiri, tetapi yang terakhir telah menjadikan diri pelayan dari kehendak yang lain.”
4. Setetes kecil ketaatan sederhana bernilai sejuta kali lipat dibandingkan sebuah bejana penuh kontemplasi hebat. ~ St Maria Magdalena de Pazzi
Kita membaca kisah seorang biarawati kudus yang suatu hari tengah menikmati kebersamaan dengan Bayi Yesus dalam selnya ketika ia dianggil oleh superior. Ia memohon dengan sangat kepada-Nya untuk menantikannya, dan ia pun pergi untuk mentaati panggilan. Ketika ia kembali, ia mendapati-Nya tak lagi dalam rupa seorang bayi, melainkan seorang remaja dewasa. Dengan ini Ia bermaksud menunjukkan kepadanya betapa ketaatannya yang segera telah membuat-Nya bertumbuh secara rohani dalam hatinya dalam waktu yang begitu singkat.
5. Memungut sebatang jerami dari tanah karena ketaatan adalah lebih bermanfaat daripada berkhotbah, berpuasa, menjalankan disiplin hingga mencucurkan darah, dan memanjatkan doa-doa yang panjang, atas kehendak diri sendiri. ~ St Alfonsus Rodriguez
Seorang biarawan Cistercian, setelah mengumpulkan sedikit remah-remah di penghujung waktu makan, tak mempunyai waktu untuk menyantapnya sebab lonceng tanda meninggalkan meja telah dibunyikan dan doa syukur telah dipanjatkan. Ia tak hendak membuang remah-remah, tetapi peraturan melarangnya untuk menyantap apapun di luar waktu makan. Sebab itu ia pergi menghadap superior, dan dengan berlutut, bertanya apakah yang sebaiknya ia lakukan. Tetapi, ketika atas perintah superior ia membuka tangannya untuk menunjukkan remah-remah itu, remah-remah telah berubah menjadi batu-batu berharga.
6. Segala kebajikan makhluk ciptaan terdiri atas melakukan kehendak Allah. Dan hal ini tiada pernah dicapai terlebih baik selain dari mempraktekkan ketaatan, di mana ditemukan peniadaan cinta diri dan kebebasan sejati anak-anak Allah. Inilah alasan mengapa jiwa-jiwa yang sungguh saleh, mengalami sukacita dan kemanisan begitu rupa dalam ketaatan. ~ St Vincentius de Paul
St Vincentius de Paul sendiri mempraktekkan penyerahan diri yang begitu total pada kehendak Allah hingga ia dengan sukacita mentaati siapapun yang berwenang atasnya, seperti paus, uskup, imam dan para penguasa sipil juga, dan menunjukkan hormat dan keseganan istimewa terhadap masing-masing mereka.
7. Barangsiapa tidak memiliki keutamaan ketaatan, tak dapat disebut sebagai seorang religius. Jadi, barangsiapa berada di bawah kaul ketaatan dan gagal di sana, tanpa menggunakan setiap daya upaya untuk mempraktekkan kaulnya dengan sesempurna mungkin, aku tak dapat mengerti mengapa ia tinggal dalam biara. ~ St Theresia
St Margareta dari Hungaria, seorang biarawati Dominikan, mempunyai kebiasaan menerima segala petunjuk yang diberikan kepada komunitas seolah disampaikan kepada dirinya sendiri, dan seolah pelaksanaannya tergantung pada dirinya.
8. Tiap-tiap biarawati, saat memasuki biara, hendaknya meninggalkan kehendaknya sendiri di luar gerbang, agar jangan memiliki kehendak lain terkecuali kehendak Allah. ~ St Fransiskus de Sales
St Dositheus bercerita mengenai dirinya sendiri bahwa sejak pertama masuk ke dalam biara ia sama sekali meninggalkan kehendak diri dan tunduk dalam segala hal pada superior, kepada siapa ia juga menyingkapkan segala pencobaan dan kerinduannya. Dan ia menambahkan bahwa dengan cara ini ia telah mencapai kedamaian hati dan ketenangan pikiran begitu rupa hingga tak suatupun dapat pernah mengganggunya.
9. Banyak kaum religius dan yang lainnya menjadi kudus tanpa meditasi, tetapi tak ada seorang pun yang menjadi kudus tanpa ketaatan. ~ St Fransisku de Sales
Abbas Silvanus mengasihi salah seorang biarawannya, Markus, dengan kasih yang istimewa. Ketika suatu hari seorang datang untuk memberitahukan kepadanya bahwa para biarawan yang lain terluka karena hal ini, ia membawa orang itu ke bilik para biarawan dan memanggil mereka, seorang demi seorang, dengan namanya. Semua datang dengan berlambat, terkecuali Markus, yang segera datang. Abbas dan rekannya kemudian menjenguk ke dalam kamar Markus dan mendapati bahwa Markus sedang menulis dan meninggalkan tulisan itu separuh selesai agar ia tidak berlambat dalam menjawab panggilan superiornya. Ini membuktikan kepada semua betapa wajar jika sang abbas terlebih mengasihinya dari yang lain.
10. Ketaatan merupakan ringkasan kesempurnaan dan seluruh kehidupan rohani, merupakan jalan paling aman, paling singkat, paling tidak sulit dan paling tidak berbahaya untuk diperkaya dengan segala keutamaan, dan tiba di tujuan kerinduan kita - kehidupan kekal. ~ Alvarez
11. Iblis, yang melihat bahwa tak ada jalan yang terlebih pendek menuju puncak kesempurnaan selain dari ketaatan, dengan licik membangkitkan banyak kejijikan dan kesulitan dalam rupa kebajikan, guna menghindarkan kita dari ketaatan. ~ St Theresia
Oleh sebab kelekatan ekstrim St Brigitta pada matiraga, bapa rohani sekali waktu melarangnya untuk melakukan begitu banyak matiraga. Ia taat, namun dengan enggan, sebab ia takut kehilangan semangat matiraga. Kemudian Santa Perawan menampakkan diri kepadanya dan mengatakan: “Puteriku, andai dua orang dari anak-anakku rindu melakukan puasa pada suatu hari tertentu: yang satu, menjadi tuan atas tindakannya sendiri, berpuasa; yang lain, di bawah ketaatan, tidak berpuasa. Maka, anak yang kedua ini memperoleh dua ganjaran sekaligus - satu untuk kerinduannya, satu untuk ketaatannya.” Pengajaran ini sepenuhnya menenteramkan St Brigitta.
12. Semakin kita melihat bahwa kita gagal untuk taat, semakin kuatlah seharusnya kecurigaan kita pada pencobaan dan ilusi. Sebab apabila Allah memberikan inspirasi-Nya pada suatu jiwa, rahmat pertama yang Ia curahkan atas jiwa adalah rahmat ketaatan. ~ St Theresia
Ketika seorang biarawati menulis kepada St Fransiskus de Sales bahwa ia amat enggan melakukan beberapa hal sebagaimana ditetapkan dalam peraturan mengenai ketaatan, St Fransiskus menjawab dengan cara berikut: Menginginkan hidup menurut kehendak diri sendiri, supaya dapat lebih melakukan kehendak Allah - betapa ini suatu gagasan yang gila! Bahwa suatu kecondongan, atau tepatnya suatu pikiran yang sekonyong-konyong berubah, bertingkah, plin-plan, sengit dan degil, menjadi isnspirasi - betapa bertentangan dengan yang seharusnya!
Surius menceritakan kisah Beato Giordano, seorang Jenderal Dominikan, ketika ia terserang demam di kota Piedmontese, di mana tak ada biara ordonya. Uskup menerimanya dan menyediakan baginya sebuah tempat tidur yang besar, empuk dan berkelambu indah. Abdi Allah yang rendah hati ini tak hendak membaringkan diri di ranjang yang begitu mewah, tetapi ia taat pada kehendak prior suatu ordo yang merawatnya pada waktu itu sebab kecakapannya dalam pengobatan. Akan tetapi, iblis, yang melihat suatu kesempatan baik, menampakkan diri kepada Giordano pada malam pertama dalam rupa seorang malaikat yang bercahaya, yang memandangnya dengan keheranan, mengecamnya dengan mengatakan bahwa ia tak dapat mengerti bagaimana sang biarawan dapat beristirahat dalam kemewahan seperti itu, dan bagaimana ia dapat begitu cepat meninggalkan kebiasaan matiraganya, tanpa memikirkan skandal memalukan yang akan ia timbulkan bagi ordo. Setelah menambahkan bahwa seharusnya sang biarawan lebih memilih tidur di lantai, iblis pun lenyap. Orang kudus ini serta-merta bangkit dari ranjang dan menelentangkan diri di atas lantai. Prior yang kembali keesokan paginya, sangat terperanjat dengan apa yang dilihatnya dan segera memerintahkan sang pasien yang menggigil kedinginan untuk naik ke pembaringan jika ia tak bermaksud bunuh diri. Akan tetapi, iblis tak berputus asa dan menampakkan diri kembali keesokan malam dalam rupa seorang malaikat terang. “Oh,” kata iblis, “Aku yakin bahwa suatu peringatan dari surga akan cukup untuk membawamu kembali ke kebiasaan matiragamu! Tetapi aku lihat cinta diri amatlah kuat dalam dirimu. Bagaimana engkau berani memberontak melawan terang surga? Taatlah segera pada suara Allah, yang menghendakimu meninggalkan kenyamanan ini, agar Ia dapat menyembuhkanmu di tengah matiraga yang memang cocok bagi martabatmu!” Sungguh aneh, orang baik ini membiarkan diri diperdaya kembali untuk menukar ranjangnya dengan lantai tanpa alas. Ketika prior mengunjunginya sesudah itu dan mendapatinya kaku dan setengah tak sadarkan diri, prior menghardik tajam: “Keanehan apa atau roh kedegilan apakah ini?” Tetapi si pasien menyela, mengatakan bahwa ia berbaring demikian bukan atas gagasannya sendiri, melainkan atas perintah malaikat Allah, yang dengan jelas memberitahukan kepadanya bahwa adalah kehendak Allah ia tak berbaring di atas tempat tidur yang begitu mewah. “Tidak, Pater,” jawab priors yang baik, “tidaklah mungkin seorang malaikat Allah mengajarimu untuk mengabaikan ketaatan. Ini adalah roh jahat yang menghendaki kebinasaan hidupmu, atau setidaknya memperpanjang sakitmu, agar ia dapat menghambat rancangan-rancangan demi kemuliaan Allah. Jika ia datang lagi, janganlah pedulikan dia.” Dengan perkataan ini prior membujuk pasiennya untuk kembali ke tempat tidur dan membiarkan diri dirawat. Ketika iblis kembali pada malam yang ketiga, sambutan yang diterimanya menunjukkan bahwa muslihatnya telah terungkap, dan segeralah ia lari terbirit-birit dalam kekecewaan dan murka yang hebat. Si sakit segera mulai pulih, dan sesudahnya melanjutkan karya-karya kerasulannya dengan hasil yang begitu gemilang hingga namanya merupakan kengerian bagi neraka dan kemuliaan di segenap penjuru dunia.
13. Ketaatan tak hanya terdiri dari melakukan apa yang sesungguhnya diperintahkan, melainkan juga dalam kesiapan terus-menerus untuk melakukan pada setiap kesempatan apapun yang diminta. ~ St Vincentius de Paul
14. Ketaatan sejati mewujudkan diri dalam melakukan dengan gembira dan tanpa bersungut-sungut, hal-hal yang tak disuka atau yang bertentangan dengan minat sendiri. ~ St Alfonsus Rodriguez
St Theresia sendiri mengatakan bahwa ketika pemimpin biara memerintahkannya untuk meninggalkan suatu pendirian biara tertentu yang dimulainya atas perintah ilahi, dan yang untuknya ia telah bekerja keras, maka ia segera meninggalkannya dengan kerelaan sempurna; sebab ia menganggap ini sebagai suatu bukti bahwa ia telah melakukan semua yang dapat dilakukannya, dan bahwa tak ada lagi yang dibutuhkan darinya. Bahkan bapa pengakuan tak dapat percaya akan penyerahan diri ini, dan beranggapan pastilah St Theresia bersedih hati karena kekecewaan yang besar.
St Yohanes Berchmans ditunjuk untuk mempersembahkan Misa pada jam yang kurang sesuai dengan studinya. Ia menyambut tugas dengan gembira dan mempersembahkan Misa berbulan-bulan lamanya tanpa sepatah kata keluhan pun, atau tanpa upaya apapun agar dibebaskan dari tugas itu.
St Felix biarawan Kapusin telah selama bertahun-tahun bertelanjang kaki sepersetujuan superiornya. Akan tetapi, di masa tuanya, Kardinal - atas permintaan salah seorang rekan - memerintahkan St Felix untuk mengenakan alas kaki kembali. Perintah ini segera dilaksanakannya, tanpa mengeluh atau banyak bertanya mengenai siapakah yang telah mengajukan usulan ini kepada kardinal, dan tanpa memikirkan bagaimana hal ini akan menurunkan reputasinya di kalangan para sekulir yang beranggapan bahwa ia telah kendor dalam keutamaan.
Venerabilis Pudenziana Terziaria, seorang biarawati Fransiskan, menjelang ajalnya berkata kepada bapa pengakuan: “Pater, sebab saya telah mempercayakan diri ke dalam tangan Pater, dengan pertolongan ilahi saya tidak pernah melontarkan keluhan yang melanggar meterai ketaatan. Sekarang saya hendak menghembuskan napas terakhir, berilah saya ijin untuk itu!” Imam, yang tercengang atas permintaan yang aneh, tercenung sesaat dan lalu menjawab: “Puteriku, aku belum menghendakimu pergi.” Biarawati itu menganggukkan kepala dan berpaling kepada salib: “Tuhan-ku,” katanya, “Engkau lihat bahwa aku ditahan. Janganlah memaksaku, sebab aku tak dapat meyetujuinya.” Sebentar kemudian, ia mengulangi permintaannya kepada imam dan mendapatkan hasil yang sama. Tetapi pada akhirnya, tergerak oleh belas kasihan, imam mengatakan: “Pergilah, hai jiwa terberkati, ke peristirahatan abadi!” Segera ia menjawab: “Berkatilah saya, Pater.” Dan setelah menerima berkat, ia mengarahkan pandangannya kepada semua yang hadir, seolah mohon diri, memeluk dan mencium salib, berkata sambil tersenyum: “Aku pergi sekarang,” dan ia pun wafat.
15. Seorang yang sungguh taat tidak membeda-bedakan antara hal yang satu dengan yang lain, atau menghendaki pekerjaan yang satu lebih dari yang lain, sebab satu-satunya tujuannya adalah melakukan dengan setia apapun yang ditugaskan kepadanya. ~ St Bernard
St Hieronimus menulis bahwa ketika mengunjungi para rahib di padang gurun, ia mendapati seorang rahib yang selama delapan tahun memikul sebuah batu berat di pundaknya dua kali dalam sehari untuk jarak sejauh tiga mil, atas perintah superiornya. Ketika ditanya bagaimana ia dapat bersedia melakukan tindak ketaatan yang demikian, sang rahib menjawab bahwa ia senantiasa melakukannya dengan kegembiraan terbesar, seolah tugas itu adalah pekerjaan yang paling mulia dan paling penting di dunia. Orang-orang ini, demikian kesimpulan St Hieronimus, adalah mereka yang beroleh manfaat dan bertumbuh dalam kesempurnaan; dan St Hieronimus memberi kesaksian bahwa ia sendiri pun begitu tergerak oleh jawaban yang ia terima, hingga waktu itu juga ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawan.
16. Kebaikan utama ketaatan tak terdiri hanya dalam mentaati kehendak superior yang lembut dan ramah, yang lebih meminta daripada memerintah, melainkan juga tetap sabar di bawah kuk superior yang sombong, keras, kasar, dan tak pernah puas. Ini adalah suatu sumber mata air murni yang memancar dari mulut seekor singa perunggu. ~ St Fransiskus de Sales
Pater Peter Faber tidak pernah melihat cacat-cela seorang superior, melainkan senantiasa melihat keutamaan-keutamaanya, agar ia dapat menghormatinya dalam kebenaran. Dan jika ia menjumpai seorang superior yang punya banyak kelemahan dan kurang dalam keutamaan, ia akan tetap berusaha menghormati dan mentaatinya dengan setia, demi kasih dan takut akan Tuhan, dan demi kesempurnaannya sendiri.
17. Ketika superior memerintahkan sesuatu, pikirkanlah bahwa bukan ia yang berbicara, melainkan Allah, bahwa superior hanyalah sebuah terompet melalui mana suara Allah terdengar. Dan ini adalah kunci sesungguhnya dari ketaatan, dan alasan mengapa mereka yang sempurna taat dalam segala hal dengan begitu segera, dan tanpa membedakan antara superior yang satu dengan yang lain, dan tunduk pada mereka dari yang terendah hingga yang tertinggi dalam otoritas, dari yang tak sempurna hingga yang sempurna; sebab mereka tidak menilai pribadi ataupun kualitas superior, melainkan Allah saja, yang senantiasa sama, yang kebajikan-Nya sama dan otoritas-Nya sama. ~ St Alfonsus Rodriguez
18. Adakah kalian tahu bagaimana bisa terjadi bahwa banyak orang yang hidup lama dalam keagamaan dan setiap hari mempraktekkan begitu banyak tindak ketaatan, namun sama sekali tidak berhasil mendapatkan kebiasaan keutamaan ini? Sebab, tidak setiap kali mereka taat, mereka melakukannya sebagai kehendak Allah; melainkan mereka taat, sekarang karena satu alasan, lain waktu karena lain alasan, sehingga tindakan-tindakan mereka, sebab miskin semangat, tak dapat berpadu untuk membentuk kebiasaan keutamaan ini. ~ St Alfonsus Rodriguez
19. Jika kalian sadar akan desakan-desakan hati, pemikiran-pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan yang bertentangan dengan ketaatan, meski tampaknya baik dan kudus, janganlah menerimanya untuk alasan apapun, melainkan segera tolak, sebab kalian akan berpikir melawan kemurnian atau ketaatan. ~ St Yohanes Klimaks
20. Ketaatan tidaklah cukup hanya melakukan apa yang diperintahkan. Ketaatan hendaknya dilakukan tanpa perbantahan, dan dipandang sebagai yang paling baik dan yang paling sempurna dari yang mungkin, meski tampaknya berlawanan. ~ St Filipus Neri
Apakah yang dilakukan Tuhan kita untuk menyembuhkan si orang buta? Yesus mengolesi mata orang itu dengan tanah yang diaduk dengan ludah-Nya dan menyuruhnya pergi membasuh diri dalam kolam Siloam. Orang buta ini dapat saja mengatakan bahwa cara macam ini lebih cocok untuk menghilangkan daripada memulihkan penglihatan, dan ia dapat saja menolak membasuh diri dalam kolam Siloam. Tetapi, sebab ia taat tanpa membantah, ia pun disembuhkan.
sumber : “Catholic Virtues: Obedience”; www.catholictradition.org
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Tradition.”
|