135. DI BETANIA DI RUMAH SIMON ZELOT   


21 Maret 1945

Ketika Yesus, sesudah mendaki bukit terakhir, tiba di wilayah dataran tinggi, Ia melihat Betania yang kemilau bermandikan cahaya matahari bulan Desember yang menjadikan negeri gersang itu tidak terlalu menyedihkan. Berkas-berkas matahari juga menjadikan tidak terlalu redup area-area hijau pepohonan cypress [= Cupressaceae], pepohonan oak muda dan pepohonan carob [= Ceratonia siliqua], yang tumbuh di sana sini, dan tampak bagai warga istana yang asyik memberikan homat pada beberapa pohon palma rajawi yang sangat tinggi yang berdiri tegak dan tersendiri di kebun-kebun yang paling indah.  

Di Betania, sesungguhnya, tidak hanya ada rumah Lazarus yang indah. Ada juga kediaman-kediaman lain milik orang-orang kaya, mungkin warga Yerusalem, yang memilih tinggal di sini, dekat properti mereka, dan vila-vila mereka yang besar indah dengan taman-taman terpelihara baik yang kelihatan mencolok di antara rumah-rumah kecil milik para petani. Dan terasa janggal melihat di tempat berbukit-bukit ini beberapa pohon palma yang membangkitkan kenangan akan negeri Timur, dengan batang-batangnya yang ramping dan bongkol-bongkol kaku bagai rumbai, yang di balik daun-daunnya yang hijau jade orang secara naluri berharap melihat padang gurun kekuningan yang tanpa akhir. Di sini sebaliknya, latar belakangnya adalah pohon-pohon zaitun berdaun hijau-keperakan atau ladang-ladang yang telah dibajak, yang sementara ini sama sekali tanpa adanya berkas jagung. Ada juga pepohonan yang berbuah seperti tengkorak, dengan batang-batang gelap dan dahan-dahan yang terbelit seolah mereka milik jiwa-jiwa yang menggeliat dalam siksa neraka.

Yesus juga langsung melihat salah seorang pelayan Lazarus yang sedang bertugas jaga. Pelayan itu membungkuk dalam dan mohon ijin untuk menyambaikan kabar kedatangan-Nya kepada tuannya, dan begitu diijinkan dia langsung beranjak pergi.

Sementara itu para petani dan warga kota bergegas datang menyambut sang Rabbi, dan seorang perempuan muda, yang sudah pasti bukan seorang Israel, mengintip dari balik pagar tanam-tanaman salam, yang mengelilingi sebuah rumah indah dengan daun-daun hijaunya yang harum. Peplum [= bagian baju yang pendek pada pinggang blus atau gaun], atau jika aku tidak salah ingat namanya, stola [= selendang], membuatku berpikir bahwa dia mungkin seorang Yunani atau seorang Romawi. Selendangnya itu sangat panjang hingga membentuk ekor gaun, tapi lebar, dari wool lembut berwarna putih salju yang disemarakkan dengan pinggiran yang disulam dengan hiasan Yunani yang cemerlang, di mana benang-benang emas berkilau. Selendangnya dipasangkan erat pada pinggangnya dengan sebuah ikat pinggang yang identik dengan pinggirannya. Juga gaya rambutnya, dengan jaring rambut emas pada tata rambutnya yang rumit yang keriting di bagian depan, lalu halus, dan berakhir dengan seberkas besar rambut pada tengkuknya, memberiku kesan yang sama. Dia melihat sekelilingnya penuh rasa ingin tahu, tertarik oleh pekik teriak para perempuan dan hosana para lelaki. Dia lalu tersenyum mengejek, ketika dia melihat bahwa mereka pergi menyambut seorang laki-laki miskin yang bahkan tak punya seekor keledai kecil untuk ditunggangi dan berjalan di antara orang-orang yang seperti Diri-Nya, yang bahkan lebih tidak menarik dari-Nya. Dia angkat bahu dan dengan gerakan bosan berlalu pergi, dengan diikuti, seolah oleh anjing-anjing, oleh sekelompok burung egrang warna-warni, di antaranya ada dua ibis putih dan flamingo warna-warni, juga dua ekor burung heron, yang semerah api, dengan mahkota kecil serupa perak yang bergetar di atas kepalanya, yang adalah satu-satunya bagian putih dari bulu-bulunya yang merah keemasan sangat indah.     

Yesus menatap perempuan itu sesaat, lalu Ia kembali mendengarkan seorang laki-laki tua yang besar… yang ingin agar kakinya tidak selemah saat itu. Yesus membelainya dan membesarkan hatinya untuk… bersabar, sebab sebentar lagi akan tiba musim semi dan dengan sinar matahari bulan April yang indah dia akan merasa lebih kuat.  

Maximinus tiba, beberapa yard mendahului Lazarus. "Guru… Simon mengatakan padaku… bahwa Engkau akan pergi ke rumahnya… Kasihan Lazarus… tapi itu bisa dimengerti…"

"Kita akan membicarakannya nanti. Oh! Sahabat-Ku!" Yesus bergegas menyongsong Lazarus, yang kelihatan malu, dan mengecup pipinya. Sementara itu mereka tiba di suatu jalan setapak yang menghantar ke sebuah rumah kecil yang terletak di antara kebun buah-buahan Lazarus dan kebun buah-buahan milik orang lain.

"Jadi, Engkau sungguh ingin pergi ke rumah Simon?"

"Ya, sahabat-Ku. Semua murid-Ku bersama-Ku dan Aku lebih memilih begitu…"

Lazarus menerima keputusan itu, tapi tidak menjawab. Dia hanya berbalik ke kerumunan kecil orang yang mengikuti mereka dan berkata: "Pergilah. Guru perlu istirahat."

Aku sekarang melihat betapa berkuasanya Lazarus. Mereka semua membungkuk mendengar perkataannya dan undur diri sementara Yesus menyalami mereka dengan lembut: "Damai sertamu. Aku akan memberitahu kalian apabila Aku akan berkhotbah."

"Guru," kata Lazarus ketika sekarang mereka sendirian, mendahului para murid yang sedang berbicara kepada Maximinus beberapa yard di belakang. "Guru, Marta menangis pilu. Itu sebabnya mengapa ia tidak datang. Tapi ia akan datang nanti. Aku menangis hanya dalam hatiku. Tapi kami katakan: ini benar. Andai kami tahu bahwa saudari kami itu akan datang… Tapi dia tidak pernah datang untuk merayakan hai-hari raya… Benar… kapankah dia pernah datang?... Aku katakan: iblis telah menghalaunya ke sini tepat pada hari ini."

"Iblis? Dan mengapakah bukan malaikatnya atas perintah Allah? Tapi kau harus percaya kepada-Ku, bahkan meski dia tidak di sini, Aku akan pergi ke rumah Simon."

"Kenapa, Tuhan-ku? Apakah Engkau tidak merasa damai di rumahku?"

"Sangat damai hingga sesudah Nazaret itu adalah tempat yang paling Aku cintai. Tapi katakan pada-Ku: mengapakah kau katakan pada-Ku: 'Pergilah dari Air Jernih'? Karena serangan yang akan datang. Bukankah begitu? Baik, jadi, Aku menempatkan Diri-Ku di tanah Lazarus, tapi Aku tidak akan menempatkan Lazarus dalam situasi dipermalukan di rumahnya sendiri. Apakah kau pikir mereka akan menghormatimu? Demi menginjak-injak Aku, mereka bahkan akan menginjak-injak Tabut Suci… Biarkan Aku melakukan apa yang Aku kehendaki. Setidaknya untuk sementara ini. Kemudian Aku akan datang. Bagaimanapun tidak ada yang akan menghalangi-Ku untuk bersantap denganmu dan tidak ada yang menghalangimu untuk datang kepada-Ku. Tapi biarkan mereka berkata: 'Ia ada di rumah salah seorang murid-Nya.'"

"Dan aku bukan murid-Mu?"

"Kau sahabat-Ku, yang adalah lebih dari seorang murid bagi hati siapa pun. Ini adalah hal yang berbeda bagi orang-orang jahat. Biarkan Aku melakukan apa yang Aku kehendaki. Lazarus, rumah ini milikmu… tapi bukan milikmu. Ini adalah rumah mewah nan indah dari putera Teofilus. Dan itu sangat penting untuk orang-orang picik."  

"Engkau katakan begitu… tapi ini karena… ini karena dia. Aku nyaris meyakinkan diriku untuk mengampuninya tapi jika dia menyebabkan-Mu pergi, percayalah, aku akan membencinya."

"Dan kau akan kehilangan Aku sepenuhnya. Segera buang ide itu, atau kau akan segera kehilangan Aku … Ini dia Marta. Damai sertamu, pengurus hotel-Ku yang lemah lembut."

"Oh! Tuhan!" Marta berlutut sembari menangis. Dia telah menanggalkan kerudungnya yang dikenakan di atas hiasan kepalanya yang berbentuk sebuah mahkota, supaya orang-orang asing tidak melihat airmatanya. Tetapi dia tidak bermaksud menyembunyikannya dari Yesus.

"Kenapa segala airmata ini? Sungguh, kau membuangnya dengan percuma! Ada sangat banyak alasan untuk menangis, dan menjadikan sesuatu berharga dengan airmata. Tapi menangis karena alasan itu! Oh! Marta! Kau kelihatannya tak kenal lagi Siapa Aku! Kau tahu bahwa Aku hanya memiliki tampilan lahiriah seorang manusia. Hati-Ku ilahi dan  berdegup sebagai yang ilahi. Ayolah. Bangkit dan masuk ke dalam rumah… dan mengenai dia… biarkan dia. Bahkan meski dia datang untuk menertawakan-Ku, Aku katakan padamu untuk membiarkan dia. Dia bukan dirinya sendiri. Adalah dia yang menguasainya yang menjadikannya alat kekacauan. Tapi di sini ada Ia Yang lebih kuat dari tuannya. Pertarungannya sekarang langsung antara Aku dan tuannya. Kau harus berdoa, mengampuni, bersabar dan percaya. Tak ada yang lain."

Mereka masuk ke dalam rumah kecil, yang berbentuk persegi empat dengan dikelilingi sebuah serambi yang membuatnya kelihatan lebih panjang. Ada empat kamar di dalam, yang dipisahkan dengan sebuah koridor berbentuk salib. Tangga luar seperti biasanya menghantar ke puncak serambi yang karenanya menjadi sebuah teras dan memberikan akses ke sebuah ruangan yang sangat besar, selebar rumah. Dulu tentunya ruangan itu dipergunakan sebagai ruang penyimpanan tapi sekarang ruangan itu bersih dan sama sekali kosong. Simon, yang berdiri di samping pelayan tuanya, yang namanya aku dengar adalah Yusuf, menyambut para tamu dan berkata: "Engkau dapat berbicara kepada orang banyak di sini, atau bersantap… seturut kehendak-Mu."

"Kita akan berpikir tentang itu nanti. Sementara itu pergi dan katakanlah kepada yang lain bahwa orang banyak dapat datang sesudah bersantap. Aku tidak akan mengecewakan orang-orang baik di sini."

"Kemanakah aku harus menyuruh mereka datang?"

"Kemari. Hari yang lembut. Tempat ini terlindung dari angin. Kebun buah-buahan yang gundul tidak akan rusak jika orang banyak memasukinya. Aku akan berbicara kepada mereka dari sini, dari teras. Kau boleh pergi."

Lazarus tinggal seorang diri bersama Yesus. Marta, yang harus mengurus begitu banyak orang, telah menjadi "pengurus penginapan yang baik" lagi dan dia sedang bekerja di lantai bawah bersama para pelayan serta para rasul mempersiapkan meja-meja dan pembaringan-pembaringan.

Yesus melingkarkankan satu tangan-Nya sekeliling bahu Lazarus dan menghantarnya keluar dari ruangan besar. Mereka berjalan-jalan di teras yang mengelilingi rumah dalam siraman sinar matahari yang hangat yang menjadikan hari terasa lembut dan dari atas Yesus menyaksikan kerja para pelayan dan para murid dan tersenyum pada Marta yang datang dan pergi dan menatap pada-Nya. Meski dia tampak sedih, dia tidak sesedih sebelumnya. Yesus juga menatap pemandangan indah sekeliling tempat itu dan bersama Lazarus menyebutkan berbagai tempat dan orang-orang dan pada akhirnya Ia sekonyong-konyong bertanya: "Jadi, kematian Doras seperti tongkat yang diadukkan ke dalam sarang ular?"

"Oh! Guru! Nikodemus mengatakan padaku bahwa tidak pernah sebelumnya rapat Mahkamah Agama begitu sengit!"

"Apakah yang telah Aku lakukan terhadap Mahkamah Agama hingga membuatnya begitu marah? Doras mati secara wajar akibat murkanya, di depan banyak orang. Aku tidak mengijinkan seorang pun untuk tidak menaruh hormat terhadap jasadnya. Jadi…"

"Engkau benar. Tapi mereka… gila karena ketakutan. Dan… tahukah kau bahwa mereka mengatakan bahwa mereka harus mendapati-Mu melakukan suatu dosa supaya mereka dapat membunuh-Mu?"

"Baik, jika begitu halnya, jangan khawatir! Mereka harus menunggu hingga saat Allah!"

"Tetapi Yesus! Tahukah Kau siapakah yang sedang kita bicarakan ini? Tahukah Kau apa yang dapat dilakukan kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat? Tahukah Kau seperti apakah jiwa Hanas? Tahukah Kau siapakah wakilnya? Tahukah Kau… Apakah yang aku katakan ini? Tentu saja Kau tahu! Jadi adalah sia-sia aku mengatakannya pada-Mu bahwa mereka akan membuat-buat suatu dosa demi dapat mendakwa-Mu."    

"Mereka sudah menemukannya. Aku telah melakukan lebih dari apa yang diperlukan. Aku telah berbicara kepada orang-orang Romawi, kepada pelacur-pelacur… Ya. Kepada pelacur-pelacur, Lazarus. Salah seorang dari mereka, tidak berani menatap pada-Ku sebab sangat ketakutan,… salah seorang dari mereka selalu datang untuk mendengarkan-Ku dan kepadanya diberikan tumpangan di sebuah kandang oleh bendaharamu, atas permintaan-Ku, sebab, demi dekat dengan-Ku, dia rela tinggal di tempat kumuh dekil…"

Lazarus terpaku sebab terperanjat. Ia tidak bergerak. Ia menatap Yesus seolah ia melihat seorang yang betul-betul aneh dan mencengangkan.

Yesus menyadarkannya dengan tersenyum: "Apakah kau melihat Mamon?" Ia bertanya kepadanya.    

"Tidak… Aku melihat Kerahiman. Tapi… aku mengerti, mereka yang dari Dewan tidak. Dan mereka mengatakan bahwa itu dosa. Jadi, itu benar! Aku pikir… Oh! Apakah yang telah Kau lakukan?"

"Kewajiban-Ku, hak-Ku dan kerinduan-Ku: Aku berupaya menebus suatu jiwa yang telah jatuh. Jadi kau dapat lihat bahwa saudarimu bukanlah lumpur pertama yang akan Aku hampiri dan di di atas mana Aku akan membungkuk. Pun dia bukan yang terakhir. Aku rindu menabur bunga-bunga dan membuat mereka tumbuh dalam lumpur: bunga-bunga dari kemurahan hati."

"Oh! Allah! Allah-ku!... tapi… Guru, Kau benar. Itu adalah hak-Mu, kewajiban-Mu dan kerinduan-Mu. Tapi hyena-hyena tidak mengerti itu. Mereka adalah bangkai-bangkai yang begitu busuk hingga mereka tidak mencium, mereka tidak dapat mencium harum bunga-bunga lily. Dan juga di mana mereka tumbuh, bangkai yang berkuasa itu mencium dosa dan mereka tidak menyadari bahwa bau itu berasal dari bau busuk mereka sendiri… Aku mohon pada-Mu. Janganlah berhenti di suatu tempat untuk jangka waktu yang lama. Pergilah, berkelana, tanpa memberi mereka kesempatan untuk mengejar-Mu. Jadilah seperti api malam, yang menari-nari di atas tangkai-tangkai bunga, yang melesat, sulit ditangkap, membingungkan gerakannya. Berlakulah seperti itu. Bukan karena pengecut, melainkan demi kasih kepada dunia yang membutuhkan Engkau untuk hidup dan untuk dikuduskan. Kerusakan moral semakin meningkat. Gunakan kekudusan untuk melawannya… Kerusakan!... Sudahkah Kau lihat perempuan pendatang baru di Betania itu? Dia seorang Romawi yang menikah dengan seorang Yudea. Suaminya juga seorang yang taat beribadat. Tapi dia seorang penyembah berhala dan dia tidak dapat hidup tenang di Yerusalem, sebab para tetangga mengeluhkan binatang-binatang peliharaannya, jadi dia datang ke sini. Rumahnya penuh dengan binatang-binatang yang kita anggap najis dan… dialah yang paling najis dari semuanya, sebab dia hidup dengan menertawakan kita dan dengan kebebasan yang… Aku tidak dalam posisi untuk mengkritiknya sebab… Tapi aku katakan itu sebab sementara tak seorang pun mau menginjakkan kaki di rumahku karena Maria, yang membebani berat keluarga dengan dosa-dosanya, mereka pergi ke rumah perempuan itu. Tapi dia berteman baik dengan Pontius Pilatus dan hidup tanpa suaminya. Suaminya di Yerusalem, dia di sini. Dan jadi mereka berpura-pura, suaminya dan mereka, bahwa mereka tidak menjadi najis dengan datang ke sini dan bahwa mereka tidak tahu bahwa mereka najis. Munafik! Mereka hidup sepenuhnya dalam kemunafikan! Dan tak lama lagi mereka akan tenggelam di dalamnya. Sabat adalah hari perjamuan… Dan mereka adalah anggota-anggota Dewan! Salah seorang putera Hanas adalah pengunjung yang paling setia."

"Aku telah melihatnya. Ya. Biarkan dia. Dan biarkan mereka. Ketika seorang dokter mempersiapkan obat, dia mencampurkan ramuan dan air kelihatannya menjadi cemar, sebab dokter mengaduknya dan air menjadi keruh. Lalu bagian-bagian yang mati mengendap dan air menjadi jernih kembali, meski telah dicampuri sari-sari ramuan yang menyehatkan. Itulah apa yang sedang terjadi sekarang. Semuanya bercampur aduk dan Aku bekerja dengan semua orang. Dan bagian-bagian yang mati akan mengendap dan dibuang sementara bagian-bagian yang hidup akan tinggal aktif dalam samudera luas orang-orang milik Yesus Kristus. Marilah kita turun ke bawah. Mereka memanggil kita."…

… dan penglihatan berlangsung kembali ketika Yesus telah kembali di atas teras untuk berbicara kepada orang-orang dari Betania dan desa-desa sekitarnya, yang telah berkumpul untuk mendengarkan-Nya.

"Damai sertamu. Bahkan meski Aku diam, angin akan menyampaikan kepada kalian perkataan kasih-Ku dan perkataan dengki orang-orang lain. Aku tahu bahwa kalian antusias sebab kalian sadar akan alasan mengapa Aku di sini di antara kalian. Tapi biarlah itu hanya menjadi antusias sukacita dan berkat bersama-Ku Allah Yang menggunakan yang jahat demi memberikan sukacita kepada anak-anak-Nya, dengan memimpin, di bawah tekanan kejahatan, Anak Domba-Nya di antara anak-anak domba, demi menyelamatkan-Nya dari serigala-serigala.

Lihatlah betapa baiknya Allah. Seperti air mengalir masuk ke dalam lautan, demikianlah sebuah sungai dan suatu aliran mengalir masuk ke tempat di mana Aku berada. Sungai kasih kebaikan, aliran kepahitan yang membara. Yang pertama adalah kasih dari kalian semua, dari Lazarus dan Marta sampai ke penduduk terakhir di desa ini, yang terakhir adalah kedengkian tak adil dari mereka yang sebab tak dapat mencapai Kebaikan yang memanggil mereka, mendakwa yang Baik sebagai yang Jahat. Dan sungai berkata: "Mari, kembalilah kepada kami. Kiranya gelombang-gelombang kami melingkupi, mengisolir dan melindungi-Mu. Kiranya gelombang-gelombang kami memberi-Mu apa yang disangkal dunia bagi-Mu." Aliran yang jahat mendesiskan ancaman dan ingin membunuh dengan racunnya. Tapi apakah aliran apabila dibandingkan dengan sungai, dan apakah aliran apabila dibandingkan dengan lautan? Bukan apa-apa. Dan racun aliran disusutkan menjadi tidak ada, sebab sungai kasih kalian menguasainya, dan hanya kebaikan kasih kalian yang mengalir masuk ke dalam lautan kasih-Ku. Bukan, dia melakukan perputaran yang baik, ia membawa-Ku kembali kepada kalian. Marilah kita memberkati Allah Yang Mahatinggi untuk itu."

Suara Yesus yang berwibawa menggema menembus suasana yang hening tenang. Yesus, yang bersinar dalam berkas matahari, melambai dan tersenyum dari teras. Di bawah, orang banyak mendengarkan-Nya dengan bahagia: wajah-wajah yang berseri terarah pada-Nya dan tersenyum mendengar harmoni suara-Nya. Lazarus ada dekat Yesus, bersama Simon dan Yohanes. Yang lainnya tersebar di antara orang banyak. Juga Marta naik ke atas dan duduk di lantai di kaki Yesus, sembari menatap rumahnya, yang kelihatan di balik kebun buah-buahan.

"Dunia milik orang-orang jahat. Firdaus milik orang-orang baik. Itulah kebenaran dan janji. Kiranya kekuatan keyakinanmu bertumpu pada janji yang demikian. Dunia berlalu, tetapi Firdaus tidak. Jika dengan menjadi baik kalian mendapatkannya, kalian akan menikmatinya untuk selamanya. Jadi? Jadi, mengapakah bersedih atas apa yang dilakukan orang-orang jahat? Apakah kalian ingat ratapan Ayub? Itu adalah ratapan abadi dari mereka yang baik dan tertindas; sebab daging mengerang, tapi hendaknya dia tidak mengerang, dan semakin dia diinjak-injak, semakin dia hendaknya menaikkan sayap-sayap jiwanya dalam sorak-sorai kepada Allah.

Apakah kalian pikir mereka yang kelihatan berbahagia itu berbahagia, karena dengan sarana-sarana yang sah dan terlebih lagi dengan sarana-sarana yang tidak sah mereka memiliki lumbung-lumbung yang berlimpah, tong-tong yang penuh meluap dan bejana-bejana yang luber dengan minyak? Tidak. Mereka merasakan darah dan airmata orang-orang lain dalam semua makanan mereka, dan pembaringan-pembaringan mereka seolah berlapis duri, begitu hebat hingga mereka merasakan penyesalan mendalam. Mereka merampok kaum miskin dan merampas anak-anak yatim piatu, mereka menjarah sesama mereka guna menimbun barang-barang, mereka menindas siapa saja yang lebih rendah dari mereka dalam kuasa dan dalam kejahatan. Tak mengapa. Tidak apa-apa. Kerajaan mereka adalah dari dunia ini. Tetapi apa yang akan tersisa saat kematian mereka? Tidak ada. Terkecuali jika kalian hendak menyebut sebagai harta, timbunan dosa yang akan mereka bawa bersama diri mereka sendiri dan yang dengan mana mereka menghadirkan diri mereka di hadapan Allah. Tidak mengapa. Mereka adalah anak-anak kegelapan, yang memberontak terhadap Terang dan mereka tidak dapat mengikuti jalan cahaya sang Terang. Ketika Allah menjadikan Bintang pagi bercahaya, mereka menyebutnya bayangan kematian dan dengan demikian mereka berpikir bahwa Bintang itu terkontaminasi dan mereka lebih memilih berjalan dalam kemilau emas dan kedengkian mereka yang kotor, yang berkilau hanya karena hal-hal yang dari neraka berkilau dengan danau-danau fosfor dari neraka abadi…"             

"Saudariku, Yesus… Oh!" Lazarus melihat Maria berjalan mengendap-endap dari balik sebuah pagar tanam-tanaman di kebun buah-buahannya untuk datang sedekat mungkin. Dia merunduk sementara dia berjalan namun rambut pirangnya yang berkilau bagai emas kontras dengan latar belakang yang gelap. Marta hendak bangkit. Akan tetapi Yesus menekankan tangan-Nya ke atas kepalanya dan dia terpaksa tinggal di mana dia berada. Yesus berbicara lebih lantang.  

"Apakah yang harus kita katakan mengenai orang-orang yang tidak bahagia itu? Allah memberikan kepada mereka waktu untuk melakukan penitensi tapi mereka menyalahgunakannya untuk berbuat dosa. Tapi Allah tidak mengabaikan mereka, bahkan meski Ia tampaknya demikan. Dan saatnya tiba ketika, entah karena kasih Allah menembusi hati mereka yang keras, bagai suatu halilintar menembusi batu karang atau karena total banyaknya dosa membawa gelombang kekotoran mereka tepat ke tenggorokan dan lubang hidung mereka - dan mereka merasa jijik, dan pada akhirnya mereka jijik dengan rasa itu dan bau itu yang memuakkan juga bagi orang-orang lain dan memenuhi hati mereka - saatnya tiba ketika mereka membencinya dan suatu perasaan yang menginginkan yang baik berakar dalam hati mereka. Maka tiap-tiap jiwa akan berteriak: "Siapakah gerangan yang akan mengijinkanku kembali ke masa-masa silam, ketika aku adalah sahabat Allah? Ketika terang-Nya bersinar dalam hatiku dan aku berjalan dalam berkas-berkas cahayanya? Ketika dunia yang terkagum diam di hadapan keadilanku dan yang melihatku mengatakan bahwa aku diberkati? Dunia merindukan senyumku dan perkataanku diterima bagai perkataan seorang malaikat dan hati sanak saudaraku melonjak bangga dalam dada mereka. Dan apakah aku sekarang? Aku adalah obyek tertawaan bagi orang-orang muda, obyek horor bagi orang-orang yang lebih tua, dan aku adalah subyek nyanyian mereka dan mereka meludah penuh hinaan ke wajahku."

Sungguh, begitulah bagaimana pada saat-saat tertentu jiwa orang-orang berdosa berkata, jiwa-jiwa para Ayub yang sesungguhnya, sebab tidak ada kemalangan yang terlebih besar bagi seorang selain dari kehilangan persabahatan dengan Allah dan Kerajaan-Nya untuk selamanya. Dan mereka pastilah membangkitkan rasa kasihan. Hanya kasihan. Mereka adalah jiwa-jiwa malang, yang karena kemalasan atau kesembronoan, telah kehilangan Pasangan abadi. "Di atas pembaringanku, pada waktu malam, aku mencari dia yang dicintai hatiku. Aku mencari namun tidak menemukannya." Sesungguhnya dalam kegelapan orang tidak dapat membedakan pasangan, dan jiwa, terdorong oleh cinta, yang menjadi sembrono sebab diliputi oleh malam rohani, mencari dan ingin mendapatkan kelegaan dari siksanya. Dan jiwa berpikir bahwa ia dapat ditemukan dengan sembarang cinta. Tidak. Hanya satu yang adalah kekasih jiwa: Allah. Jiwa-jiwa itu, terdorong oleh cinta kepada Allah, mengembara untuk mencari cinta. Adalah cukup bagi mereka untuk rindu memiliki terang dan mereka akan memiliki Cinta sebagai pasangan mereka. Mereka mengembara bagai orang-orang sakit, meraba-raba mencari cinta dan mereka menemukan segala cinta, segala hal-hal kotor yang disebut manusia sebagai cinta, tapi mereka tidak menemukan sang Cinta, sebab Cinta bukanlah emas, kenikmatan, kuasa, melainkan Allah.

Jiwa-jiwa malang! Andai mereka tidak semalas itu dan bangkit pada undangan pertama dari Pasangan abadi, dari Allah Yang berkata: "Ikutlah Aku", dari Allah Yang berkata: "Terbukalah pada-Ku", mereka tidak akan membuka pintu, dalam ledakan cinta mereka yang bangkit, ketika Mempelai yang kecewa telah jauh dan lenyap… Dan mereka tidak akan menajiskan dorongan kudus akan kebutuhan cinta itu dalam lumpur yang menjijikkan bahkan bagi binatang-binatang najis, sebab lumpur itu sangat tidak berguna dan bertabur masalah-masalah usang, yang bukan bunga-bunga melainkan duri-duri yang menyiksa namun tidak memahkotai. Pula mereka tidak mengetahui perkataan cemooh dari para penjaga patroli, dari seluruh dunia, yang, seperti Allah, tapi untuk alasan-alasan yang berlawanan, tidak mengabaikan pendosa, melainkan mencegatnya untuk mengejeknya dan mengkritiknya.  

Jiwa-jiwa malang yang dihajar, dirampok dan dilukai oleh seluruh dunia! Hanya Allah yang tidak menggabungkan diri dalam rajam penghinaan yang tanpa belas-kasihan seperti itu. Namun Ia membiarkan airmata-Nya menetes guna menyembuhkan luka-luka dan mengenakan baju perisai pada makhluk-Nya. Selalu makhluk-Nya… Hanya Allah… dan anak-anak Allah yang bersama Bapa. Marilah kita memberkati Allah. Ia menghendaki Aku kembali ke sini demi para pendosa untuk berkata kepada kalian: "Ampunilah. Selalu ampuni. Jadikan setiap hal yang buruk menjadi hal yang baik dan setiap penghinaan menjadi rahmat." Aku tidak hanya mengatakan kepada kalian "jadikan". Aku katakan: teladanilah perilaku-Ku. Aku mengasihi dan memberkati para musuh-Ku sebab melalui mereka Aku dapat kembali kepada kalian, teman-teman-Ku. Damai serta kalian semua."

Para perempuan dalam himpunan orang banyak itu melambai-lambaikan kerudung, sementara para lelaki melambai-lambaikan ranting-ranting: lalu semuanya pun perlahan-lahan beranjak pergi sesudah menyalami Yesus.

"Apakah mereka melihat saudariku yang tak tahu malu itu?"

"Tidak, Lazarus. Dia tersembunyi dengan baik di balik pagar tanam-tanaman. Kita dapat melihatnya sebab kita berada di atas sini, sedangkan yang lainnya tak dapat melihatnya."

"Dia sudah berjanji kepada kami…"

"Mengapakah dia tidak boleh datang? Bukankah dia puteri Abraham? Aku menghendaki kalian, saudara-saudara-Ku, dan kalian, murid-murid-Ku, untuk bersumpah bahwa kalian tidak akan membuatnya mengerti apa pun. Biarkan dia. Akankah dia akan menertawakan-Ku? Tak mengapa. Akankah dia menangis? Biarkan dia. Akankah dia tinggal? Biarkan dia. Akankah dia ingin melarikan diri? Biarkan dia. Rahasia Penebus dan para penebus adalah menjadi sabar, baik, bertekun dan berdoa. Tidak ada yang lain. Setiap gerakan adalah terlalu banyak dalam kasus penyakit-penyakit tertentu… Selamat tinggal, sahabat-sahabat-Ku. Aku akan tinggal di sini untuk berdoa. Masing-masing kalian boleh kembali ke tugasnya sendiri dan kiranya Allah beserta kalian."

Dan semuanya pun berakhir.    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 2                     Daftar Istilah                      Halaman Utama