|
411. DI YERUSALEM UNTUK PENTAKOSTA.
9 April 1946
Kota dipadati orang. Bait Allah penuh sesak. Yesus naik ke sana begitu Dia memasuki Yerusalem dan masuk lewat gerbang dekat Betesda, yaitu, nyaris seketika, sebelum orang-orang menyadari bahwa Dia berada di Kota dan sebelum berita menyebar dari rumah di mana mereka meninggalkan barang bawaan, membasuh dan merapikan diri, agar memasuki Bait Allah dalam keadaan bersih, bebas debu dan keringat.
Ada teriakan-teriakan lantang yang tidak etis dari para pedagang dan para penukar uang, dan seperti biasanya ada aneka rupa wajah dan warna.
Yesus, bersama para rasul yang sudah membeli apa yang diperlukan untuk persembahan, langsung menuju tempat doa dan tinggal lama di sana. Tentu saja, Dia diperhatikan oleh banyak orang, yang baik maupun yang jahat, dan bisik-bisik menyebar bersama angin dan bersama suara dedaunan yang gemerisik dihembus angin, ke halaman luar yang luas, di mana orang-orang berhenti untuk berdoa. Dan ketika, sesudah berdoa, Dia menelusuri kembali langkah-Nya, serombongan orang, yang semakin besar jumlahnya, mengikuti-Nya melewati atrium, serambi, halaman-halaman lainnya, hingga mereka menjadi suatu himpunan besar orang banyak, yang mengelilingi-Nya dan meminta-Nya untuk berbicara.
"Lain kali, anak-anak! Dan di tempat yang lain!" kata Yesus dan Dia mengangkat tangan-Nya untuk memberkati seraya berusaha pergi.
Para ahli Taurat, kaum Farisi, para alim ulama dan murid-murid mereka, yang tersebar di antara orang banyak, mencibir dengan saling melontarkan perkataan pedas yang adalah cemoohan, seperti: "Kebijaksanaan sedang menasihati" atau "Eh! kelihatannya takut..." atau "Dia sudah mencapai usia nalar" atau juga "Tidak sebodoh yang kita sangka..." Namun sebagian besar, yakni mereka yang mengenal dan mengasihi-Nya atau mereka yang dengan tulus hati ingin mengenal-Nya, dan dengan demikian tidak memusuhi-Nya, mendesak dengan mengatakan, "Apakah Engkau hendak menjauhkan kami dari perayaan dalam Perayaan? Guru yang baik, Engkau tidak bisa berbuat begitu! Banyak dari antara kami yang sudah berkorban untuk tetap di sini menantikan-Mu..." dan sebagian mereka mendesah pada para pencemooh atau memberi mereka jawaban tajam.
Sangat jelas bahwa orang banyak akan siap mengalahkan minoritas yang jahat, yang, sebab mereka cerdik dan licik, menangkap isyarat tersebut, dan mereka tidak hanya menjadi diam, tetapi juga berusaha pergi menjauh. Dan meskipun mereka berada di halaman dalam Bait Allah, banyak yang tidak ragu untuk mencemooh atau mencaci maki mereka yang pergi, sementara yang lain-lainnya, terutama mereka yang lebih tua, dan karenanya lebih reflektif, bertanya kepada Yesus, "Oleh karena Engkau tahu, beritahukanlah kepada kami, apa yang akan terjadi pada tempat ini, pada kota ini, pada seluruh Israel, yang tidak tunduk pada Suara Tuhan?"
Yesus menatap iba kepala-kepala berambut abu-abu atau putih itu dan menjawab:
"Yeremia sudah memberitahumu apa yang akan terjadi pada mereka yang menanggapi kilasan murka ilahi dengan menambah dosa mereka, dan menganggap belas kasihan ilahi sebagai bukti kelemahan dari pihak Allah. Karena Allah tidak patut dicemooh, anak-anak. Kamu, seperti yang dikatakan Allah Yang Kekal melalui bibir Yeremia, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, seperti tanah liat mereka yang menganggap dirinya berkuasa, seperti tanah liat penduduk tempat ini dan mereka yang tinggal di istana kerajaan. Tidak ada kekuatan manusia yang bisa melawan Allah. Dan jika tanah liat melawan tukang periuk dan ingin mengambil bentuk-bentuk aneh yang mengerikan, tukang periuk itu akan mengubahnya menjadi segenggam tanah liat lagi dan memulai kembali dari awal dan mengerjakannya menjadi bejana yang lain sampai tanah liat menyadari bahwa tukang periuklah yang lebih kuat dan dengan demikian tanah liat menyerah pada kehendaknya. Dan mungkin juga terjadi bejana itu pecah berkeping-keping, karena ia bersikeras tidak mau dibentuk, karena ia menolak air yang digunakan tukang periuk untuk melembabkannya agar ia bisa membentuknya tanpa retak. Maka tukang periuk akan membuang tanah liat yang keras itu dan serpihan-serpihannya yang tidak berguna dan tidak bisa dikerjakan ke dalam tong sampah, lalu dia mengambil tanah liat yang baru dan membentuknya menjadi seperti yang terbaik menurutnya. Tidakkah Nabi mengatakannya ketika dia menjelaskan simbol tukang periuk dan bejana tanah liat? Itulah yang dikatakannya. Dan mengulangi sabda Tuhan, dia berkata, 'Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikian kamu, Israel, ada di tangan Allah.' Dan Tuhan menambahkan, sebagai peringatan bagi mereka yang berkeras hati, ketika Allah mencela manusia, bahwa hanya penitensi dan pertobatan yang bisa mengubah keputusan Allah untuk menghukum orang-orang yang memberontak.
Israel tidak bertobat. Oleh karenanya ancaman Allah menimpa Israel berulang kali. Israel tidak bertobat bahkan sekarang, meskipun bukan seorang nabi, melainkan Dia Yang lebih besar daripada seorang nabi berbicara kepadanya. Dan Allah Yang berbelaskasihan secara luar biasa kepada Israel dan Yang telah mengutus-Ku, sekarang berkata kepadamu, 'Oleh karena kamu tidak mendengarkan Suara-Ku sendiri, Aku akan menyesali kebaikan yang telah Aku lakukan kepadamu dan Aku akan mempersiapkan malapetaka bagimu.' Dan Aku, Yang adalah Kerahiman (Belas Kasihan), meskipun Aku tahu bahwa akan sia-sia saja Aku berbicara, Aku berseru kepada Israel: 'Masing-masing dari kalian, berbaliklah dari jalanmu yang jahat. Perbaiki perilakumu dan kecondonganmu yang jahat. Sehingga, ketika rancangan Allah hendak dilaksanakan terhadap Bangsa yang berdosa, setidaknya orang-orangnya yang lebih baik yang ada di dalamnya dapat memelihara roh mereka bebas dari dosa dalam kehilangan umum harta benda, kebebasan, kesatuan, dan bersatu dengan Allah mereka tidak akan kehilangan harta yang kekal seperti mereka kehilangan harta duniawi.'
Penglihatan para nabi selalu memiliki satu tujuan: memperingatkan orang akan apa yang mungkin terjadi. Dan itu dinyatakan dengan simbol bejana tanah liat, yang dipecahkan di hadapan orang banyak, apa yang akan terjadi atas kota-kota dan kerajaan-kerajaan yang tidak mau tunduk kepada Tuhan, dan..."
Kaum tua-tua, ahli-ahli Taurat, para alim ulama, dan kaum Farisi, yang pergi sebelumnya, pasti sudah pergi melaporkannya kepada para penjaga Bait Allah dan para pembesar kota yang bertanggung jawab atas ketertiban. Dan salah seorang dari mereka, dengan diikuti oleh sekawanan prajurit sok yang kocak, yang wajahnya saja tampak garang, karena mereka perpaduan antara dungu dengan sedikit kecondongan jahat dan banyak kekerasan, bahkan bisa dibilang kriminalitas, datang menghampiri Yesus. Sang Guru sedang berbicara sambil bersandar pada sebuah tiang di serambi Orang-orang kafir dan karena pembesar kota itu tidak bisa menerobos orang banyak, yang sudah membentuk suatu lingkaran tak tertembusi di sekeliling Yesus, dia berteriak, "Enyah! Atau aku akan menyuruh prajurit-prajuritku untuk melemparkan-Mu dari halaman..."
"Huh! Lalat-lalat hijau besar! Pahlawan melawan anak domba! Tidak bisakah kamu tidak masuk dan memasukkan ke penjara orang-orang yang sudah mengubah Yerusalem menjadi pelacuran, dan Bait Allah menjadi pasar? Pergilah, dasar pengecut, pergilah dan tinggallah bersama serigala-serigala... Huh! Huh!" Orang banyak berbalik melawan para prajurit yang menggelikan itu dan menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Guru dihina.
"Aku menjalankan perintah yang aku terima..." permintaan maaf pemimpin dari... polisi-polisi itu.
"Kalian sedang menjalankan perintah Iblis dan kalian tidak menyadarinya. Pergilah sekarang, dan mohonlah belas kasihan Allah sebab kamu berani menghina dan mengancam Guru! Jangan sampai kamu berani menyentuh Guru! Apa itu jelas bagimu? Kamu adalah para penindas kami, Dia adalah Sahabat orang-orang miskin. Kamu adalah perusak kami, Dia adalah Guru kudus kami. Kamu adalah kehancuran kami, Dia adalah Keselamatan kami. Kamu pengkhianat, Dia baik. Pergilah, atau kami akan melakukan kepadamu seperti yang dilakukan Matatias di Modein. Kami akan mencampakkanmu ke lereng Moria seperti mezbah-mezbah berhala, dan kami akan mentahirkan tempat yang sudah kamu cemarkan, membasuhnya dengan darahmu, dan kaki dari satu-satunya Orang Kudus di Israel akan menginjak darah itu untuk pergi ke Tempat Mahakudus dan meraja di sana, seperti yang pantas bagi-Nya! Pergilah dari sini! Kamu dan tuan-tuanmu! Pergi, kamu para preman bayaran yang melayani para pembunuh bayaran..."
Huru-hara yang mengerikan... Para penjaga Romawi bergegas keluar dari benteng Antonia dipimpin oleh seorang bintara tua yang datang terburu-buru.
"Minggir, kalian tengik! Apa yang terjadi? Apa kamu saling mencabik-cabik satu sama lain gara-gara anak domba bulukanmu?"
"Mereka memberontak melawan prajurit..." si pembesar kota berusaha menjelaskan.
"Demi Mars! Para prajurit ini...? Hah! Hah! Pergilah melawan kecoa, kamu prajurit gudang anggur!" Dia kemudian berbicara kepada orang banyak, "Katakan padaku..."
"Mereka tidak mau membiarkan Rabbi Galilea berbicara. Mereka hendak mengusir-Nya. Mungkin mereka hendak menangkapnya..."
"Rabbi Galilea? Non licet. Aku katakan kepadamu dalam bahasa Romawi perkataan Yohanes Decollate. Ah! Ah! Berbarislah ke kandangmu, kamu dan anjing-anjing kampungmu. Dan suruh anjing-anjing mastiff itu berbaring juga. Si Serigala Betina tahu cara mencabik-cabik mereka juga... Apa itu jelas? Hanya Roma yang berhak menghakimi. Dan Kau, Orang Galilea... Kau boleh lanjut menceritakan kisah-Mu... Ah! Ah!" dan dia berputar balik, pelindung dadanya berkilau di bawah sinar matahari, dan dia menghilang.
"Tepat seperti dengan Yeremia..."
"Dan dengan semua nabi, kamu hendaknya mengatakan..."
"Bagaimanapun Allah menang."
"Guru, lanjutkan berbicara. Ular-ular beludak itu sudah melarikan diri."
"Tidak, biarkan Dia pergi, kalau-kalau kaum Pasyhur yang baru datang kembali dengan kekuatan yang lebih besar dan membelenggu-Nya..."
"Tidak ada bahaya seperti itu... Saat singa mengaum, hyena tidak berani keluar..."
Khalayak ramai berbicara menyampaikan komentar mereka dalam kekacau-balauan.
"Kamu salah," kata seorang Farisi bemanis-manis dalam balutan mantelnya yang semarak, dengan diikuti oleh orang-orang yang sepertinya dan oleh beberapa ahli Taurat. "Kamu salah. Jangan berpikir bahwa seluruh golongan itu seperti sebagian anggotanya. Eh! Eh! Ada yang baik dan ada yang buruk di setiap pohon."
"Ya. Benar bahwa buah ara pada umumnya manis. Tetapi jika ia belum masak atau terlalu masak, rasanya masam dan karenanya jelek. Kamu jelek. Seperti buah ara dari keranjang yang sangat jelek yang dilihat Nabi Yeremia," kata seseorang dari tengah khalayak ramai: seorang laki-laki yang tidak aku kenal, tetapi pastilah dia dikenal oleh orang banyak dan juga dia seorang penguasa, sebab aku melihat orang-orang mengedipkan mata setuju sementara orang Farisi itu menanggapinya tanpa reaksi. Malahan, dengan cara yang bahkan lebih bermanis-manis, dia berpaling kepada Guru dan berkata kepada-Nya, "Topik yang mengagumkan dari Kebijaksanaan-Mu. Rabbi, berbicaralah kepada kami tentang topik ini. Penjelasan-Mu begitu... baru... begitu... berilmu... Kami melahapnya dengan hasrat rakus."
Yesus menatap jagoan munafik itu dan lalu menjawabnya, "Kau, Helkai, dan teman-temanmu juga punya hasrat lain yang tersembunyi. Tetapi kepadamu juga akan diberi makanan itu... yang bahkan lebih masam daripada buah ara. Dan ia akan mencemarkan hatimu seperti buah ara masam menginfeksi ususmu."
"Tidak, Guru. Aku bersumpah untuk itu demi nama Allah yang hidup! Aku dan teman-temanku hanya lapar untuk mendengar-Mu berbicara... Allah melihat apakah..."
"Cukup. Orang jujur tidak perlu bersumpah. Perbuatannya adalah sumpah dan kesaksiannya. Tetapi Aku tidak akan berbicara tentang buah ara yang sangat baik dan sangat jelek..."
"Mengapa tidak, Guru? Apa Engkau takut bahwa fakta-faktanya mungkin bertentangan dengan penjelasan-Mu?"
"Oh! Tidak! Sebaliknya..."
"Jadi, Engkau meramalkan siksaan, aib, pedang, wabah penyakit, dan kelaparan bagi kami?"
"Semua itu dan bahkan lebih banyak."
"Bahkan lebih banyak? Apa? Jadi Allah tidak lagi mengasihi kami?"
"Dia sangat mengasihimu sehingga Dia menggenapi janji-Nya."
"Engkau? Apakah Engkau adalah janji-Nya?"
"Ya."
"Kalau begitu, kapan Engkau akan mendirikan Kerajaan-Mu?"
"Dasar-dasarnya sudah ditanamkan."
"Di mana?"
"Di dalam hati orang-orang baik."
"Tapi itu bukan kerajaan. Itu ajaran!"
"Karena Kerajaan-Ku adalah kerajaan rohani, maka roh adalah rakyatnya. Dan roh tidak membutuhkan istana, rumah, bala tentara, tembok-tembok. Roh hanya perlu mengenal Sabda Allah dan mengamalkannya. Dan itu sedang terjadi dalam diri orang-orang baik."
"Tetapi bisakah Engkau berbicara tentang Sabda itu? Siapa yang memberi-Mu wewenang?"
"Kepemilikan."
"Kepemilikan yang mana?"
"Kepemilikan Sabda. Aku memberikan Diri-Ku. Orang yang memiliki hidup, bisa memberikan hidup. Orang yang memiliki uang, bisa memberikan uang. Oleh Kodrat-Ku yang kekal, Aku memiliki Sabda yang menerjemahkan Pikiran Ilahi dan Aku memberikan Sabda itu, karena Kasih untuk mewartakan Pikiran Yang Mahatinggi, yang adalah BapaKu, mendorong-Ku untuk memberikan karunia itu."
"Jaga ucapan-Mu! Itu perkataan yang sangat lancang! Itu bisa mencelakakan-Mu!"
"Akan lebih mencelakakan jika berdusta, karena itu akan menyiratkan penyimpangan terhadap Kodrat-Ku dan mengingkari Dia dari mana Aku beasal."
"Jadi Engkau adalah Allah, Sabda Allah?"
"Ya."
"Dan Engkau mengatakannya begitu saja? Di hadapan begitu banyak saksi yang bisa melaporkan-Mu?"
"Kebenaran tidak berdusta. Kebenaran tidak melakukan perhitungan. Kebenaran itu gagah berani."
"Dan itukah kebenaran?"
"Kebenaran adalah Dia yang sedang berbicara kepadamu. Karena Sabda Allah menerjemahkan Pikiran Allah, dan Allah adalah Kebenaran."
Himpunan orang banyak mendengarkan dengan saksama, dengn memperhatikan dalam diam, diskusi yang, bagaimanapun, berlangsung tanpa kekerasan. Lebih banyak orang bergegas ke sana dari tempat-tempat lain, dan halaman itu penuh sesak: ratusan wajah yang semuanya terarah pada satu titik. Dan lebih banyak lagi wajah, dengan leher-leher terjulur, muncul dari jendela-jendela yang mengarah ke halaman ini, dengan penuh rasa ingin tahu untuk melihat dan mendengar...
Helkai, seorang anggota Mahkamah Agama, dan teman-temannya saling berpandangan... Terjadi pertukaran tatapan sekilas penuh rasa ingin tahu. Namun mereka mengendalikan diri. Bahkan, seorang ulama tua bertanya dengan sangat ramah, "Apakah yang harus kami lakukan untuk menghindari hukuman yang Engkau ramalkan?"
"Kamu harus mengikut-Ku, dan di atas segalanya, percaya kepada-Ku. Dan bahkan lebih lagi: mengasihi-Ku."
"Apakah Engkau maskot?"
"Bukan. Aku Sang Juruselamat."
"Tapi Engkau tidak memiliki bala tentara…"
"Aku memiliki Diriku Sendiri. Ingatlah, kamu semua patut ingat, demi dirimu sendiri dan demi belas kasihan kepada jiwamu, ingatlah sabda Tuhan kepada Musa dan Harun, ketika mereka masih di tanah Mesir, 'Setiap orang dari umat Allah harus mengambil seekor anak domba jantan yang tidak bercela berumur setahun. Satu ekor untuk setiap rumah tangga, dan jika jumlah orang dalam keluarga itu terlalu sedikit untuk memakannya habis, mereka harus bergabung dengan tetangga mereka. Dan kamu harus menyembelihnya pada hari keempat belas bulan Abib, yang sekarang disebut bulan Nisan, dan dengan darah hewan yang disembelih itu kamu harus mengoles tiang pintu dan ambang atas rumahmu. Dan pada malam itu juga kamu harus memakan dagingnya yang dipanggang di atas api, dengan roti yang tidak beragi dan sayur pahit. Dan kamu harus membakar habis sisanya. Dan kamu harus memakannya dengan pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu, kamu harus memakannya dengan terburu-buru, karena itulah Paskah Tuhan. Dan pada malam itu Aku akan lewat dan membinasakan semua anak sulung manusia dan hewan, yang ada di rumah-rumah yang tidak ditandai dengan darah anak domba.' Sekarang, dalam paskah baru Allah, paskah yang sejati, karena Allah benar-benar lewat di antaramu secara kasatmata, bisa dikenali melalui tanda-tanda-Nya, mereka yang akan diselamatkan adalah mereka yang ditandai dengan tanda keselamatan Darah Anak Domba. Karena, sesungguhnya, kamu semua akan ditandai dengannya. Tetapi hanya mereka yang mengasihi Anak Domba dan mencintai Tanda-Nya yang akan menerima keselamatan dari Darah itu. Sedangkan bagi yang lainnya, itu akan menjadi tanda Kain. Dan kalian tahu bahwa Kain tidak lagi layak melihat wajah Tuhan dan tidak lagi memiliki damai. Dan dihantui oleh penyesalan, oleh hukuman, oleh Iblis, rajanya yang keji, dia menjadi seorang pelarian dan pengembara di Bumi sepanjang hidupnya. Dia adalah tokoh yang sangat besar dari Orang-orang yang akan menyerang Habel yang baru..."
"Yehezkiel juga berbicara tentang Tau... Apakah menurut-Mu Tanda-Mu adalah Tau Yehezkiel?"
"Ya."
"Jadi, Engkau mendakwa kami karena ada kekejian di Yerusalem?"
"Aku berharap Aku tidak dapat melakukannya. Tapi memang begitulah kenyataannya."
"Dan tidak adakah orang berdosa di antara mereka yang ditandai dengan Tau? Bisakah Engkau bersumpah untuk itu?"
"Aku tidak bersumpah apa pun. Tetapi Aku katakan bahwa jika ada orang-orang berdosa di antara mereka yang ditandai, hukuman mereka bahkan akan lebih mengerikan, karena para pezina roh, penyangkal, pembunuh Allah, yang menjadi demikian sesudah menjadi pengikut-Nya, akan menjadi yang terbesar di Neraka."
"Tetapi orang-orang yang tidak dapat percaya bahwa Engkau adalah Allah, tidak akan berbuat dosa. Mereka akan dibenarkan..."
"Tidak. Jika sebelumnya kamu tidak mengenal-Ku, jika sebelumnya kamu tidak bisa memverifikasi perbuatan-perbuatan-Ku, jika sebelumnya kamu tidak memiliki kesempatan untuk mengkaji sabda-Ku, maka kamu tidak bersalah. Jika kamu bukan ulama di Israel, kamu tidak akan bersalah. Tetapi kamu mengenal Kitab Suci dan kamu melihat pekerjaan-pekerjaan-Ku. Kamu bisa membuat pertimbangan. Dan jika kamu melakukannya dengan jujur, maka kamu akan melihat-Ku dalam sabda Kitab Suci dan kamu akan melihat sabda Kitab Suci dalam diri-Ku, yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan-Ku. Jadi, kamu tidak akan dibenarkan karena tidak dapat mengenali-Ku dan karena membenci-Ku. Ada terlalu banyak berhala, terlalu banyak kejijikan, terlalu banyak perzinaan, di mana seharusnya hanya Allah saja yang ada. Dan hal yang sama berlaku untuk setiap tempat di mana kamu berada. Keselamatan berarti mengingkari semua itu dan menerima Kebenaran yang berbicara kepadamu. Konsekuensinya, di mana kamu membunuh atau mencoba membunuh, kamu akan dibunuh. Dan itulah sebabnya kamu akan dihakimi di perbatasan Israel, di mana semua kekuasaan manusiawi luruh, dan hanya Bapa Yang Kekal yang menjadi Hakim atas makhluk-Nya."
"Mengapa Engkau berbicara demikian, Tuhan? Engkau keras."
"Aku apa adanya. Aku adalah Terang. Terang diutus untuk menerangi Kegelapan. Tetapi Terang harus bersinar dengan bebas. Yang Mahatinggi akan sia-sia saja mengutus Terang-Nya, jika Dia menyembunyikan Terang itu di bawah gantang. Bahkan manusia tidak melakukannya ketika menyalakan pelita, sebab jika demikian, tidak akan ada gunanya menyalakannya. Jika orang menyalakannya, mereka melakukannya supaya pelita itu memberikan terang dan orang-orang di dalam rumah bisa melihat. Aku telah datang untuk memberikan terang kepada rumah duniawi yang gelap milik BapaKu, supaya orang-orang yang berada di dalamnya bisa melihat. Dan Terang itu bersinar. Dan syukurlah, jika cahayanya yang paling murni menyingkapkan reptil, kalajengking, perangkap, sarang laba-laba, retakan di dinding. Ia melakukannya demi kamu, untuk memberimu kesempatan untuk mengenal dirimu sendiri, untuk membersihkan dirimu, dengan menghalau binatang-binatang yang membahayakan, yaitu hawa nafsu dan dosa, supaya kamu bisa membangun kembali dirimu sebelum terlambat, dan kamu bisa melihat tempatmu menjejakkan kaki: di perangkap Iblis, sebelum kamu jatuh ke dalamnya. Tetapi untuk bisa melihat, selain cahaya yang terang, orang perlu mata yang terang. Tidak ada cahaya yang bisa menerangi mata yang tertutup nanah karena penyakit. Bersihkan matamu dan rohmu, supaya Terang bisa turun ke atasmu. Mengapa binasa dalam Kegelapan ketika Allah Yang Mahabaik mengutus Terang dan Obat untuk menyembuhkanmu? Sekarang belum terlambat. Dalam waktu yang masih tersisa untukmu, datanglah kepada Terang, Kebenaran, dan Hidup. Datanglah kepada Juruselamat-mu Yang merentangkan kedua tangan-Nya kepadamu, dan membuka hati-Nya bagimu, Yang memohonmu untuk menerima-Nya demi kebaikan kekalmu sendiri."
Yesus benar-benar memohon, rindu dengan penuh kasih, dan tak suatu pun selain kasih yang terpancar dari-Nya... Bahkan hewan-hewan buas yang paling keras kepala, bahkan mereka yang paling mabuk kepayang oleh kebencian, merasakannya, dan senjata mereka mengaku takluk dan racun mereka tidak bisa menyemburkan kepahitannya.
Mereka saling berpandangan satu sama lain. Kemudian Helkai berbicara atas nama semua orang, "Engkau telah mengatakan kebenaran, Guru! Aku mohon Engkau menerima perjamuan yang akan aku adakan untuk menghormati-Mu."
"Satu-satunya kehormatan yang Aku minta adalah menaklukkan jiwamu. Biarkan Aku dalam kemiskinan-Ku..."
"Engkau tidak akan menyinggung perasaan-Ku dengan menolak, bukan?"
"TIdak ada maksud menyinggung. Aku mohon padamu, biarkan Aku bersama teman-temanku."
"Mereka juga diundang, siapa yang bisa ragu tentang itu? Mereka diundang bersama-Mu. Suatu kehormatan besar bagi keluargaku!... Engkau pergi kepada orang-orang besar lainnya! Mengapa tidak datang kepada Helkai?"
"Baiklah... Aku akan datang. Tetapi, percayalah, di tempat rahasia rumahmu Aku tidak akan bisa menyampaikan perkataan yang berbeda dari yang telah Aku sampaikan di sini, di antara orang banyak."
"Begitu juga aku! Ataupun teman-temanku! Apakah Engkau mungkin meragukannya?..."
Yesus menatap padanya. Kemudian Dia berkata, "Aku meragukan hanya apa yang tidak Aku ketahui. Tetapi Aku memang tahu pikiran manusia. Marilah kita pergi ke rumahmu... Damai sejahtera bagi mereka yang sudah mendengarkan-Ku."
Dan di samping Helkai, Dia mengarahkan langkah-Nya keluar dari Bait Allah, dengan diikuti oleh rombongan rasul-Nya yang berbaur, tetapi tidak antusias mengenainya, dengan teman-teman Helkai.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|
|
|