410. BUNGA LILY LEMBAH.             

Lily Lembah
Agave

8 April 1946      

Rombongan rasul telah meninggalkan dataran dan menyusuri jalan-jalan perbukitan, di antara pegunungan dan lembah; mereka menuju Yerusalem. Guna mempersingkat perjalanan, mereka tidak menempuh jalan utama, melainkan jalan pintas yang sepi dan melelahkan, tetapi sangat singkat.

Saat ini mereka berada di dasar sebuah lembah hijau yang berlimpah air dan bunga-bungaan kecil. Ada juga banyak bunga lili lembah yang semerbak harum, yang mendorong Tadeus mengomentari bahwa tepatlah menyebut bunga-bunga itu "lily lembah" dan memuji keindahannya yang rapuh tapi tangguh serta wanginya yang lembut.

"Tapi itu bunga lili yang terbalik," komentar Tomas. "Mereka merunduk ke bawah dan bukannya mendongak ke atas."

"Dan betapa kecilnya bunga-bunga itu! Kita memiliki bunga-bunga yang lebih megah dari itu. Aku tidak mengerti mengapa orang sangat memujinya..." kata Yudas dengan nada mengejek, seraya menebas seberkas kecil bunga lily lembah yang tengah mekar.

"Jangan! Kenapa? Mereka terlihat begitu lembut!" sela Andreas membela bunga-bunga malang itu dan dia membungkuk untuk memungut tangkai-tangkainya yang patah.

"Mereka kelihatan seperti jerami, tidak lebih. Agave lebih indah, begitu megah dan mengesankan. Layak bagi Allah dan berbunga bagi Allah."

"Aku lebih melihat Allah dalam piala-piala mungil ini... Lihat betapa anggunnya mereka!... Berlekuk, begitu cekung... Mereka kelihatan seperti pualam, lilin murni dan seolah dibuat oleh tangan-tangan yang sangat mungil... Padahal adalah Dia Yang Mahabesar Yang membuatnya! Oh! Kuasa Allah!..." Andreas nyaris ekstatis dalam kontemplasi merenungkan bunga-bunga itu dan kesempurnaan Sang Pencipta.

"Kau kelihatan seperti seorang perempuan kecil menyedihkan yang menderita gangguan saraf!..." ejek Yudas Keriot seraya tertawa jahat.

"Tidak. Sebenarnya aku juga - dan aku seorang pengrajin emas dan karenanya ahli dalam hal ini - aku juga berpendapat bahwa tangkai-tangkai ini begitu sempurna. Lebih sulit untuk mereproduksinya pada logam daripada mereproduksi agave. Karena kau harus tahu, sobatku, bahwa hal-hal yang sangat kecil itulah yang menunjukkan keahlian seorang pengrajin. Berikan padaku satu tangkai, Andreas... Dan kau, yang mata besarnya hanya mengagumi hal-hal besar, kemari dan lihatlah. Pengrajin mana yang bisa membuat piala-piala yang begitu ringan dan sempurna seperti ini, menghiasinya dengan topaz-topaz kecil di sini, di bagian bawahnya, dan menyatukannya ke tangkai dengan filigree melengkung yang anggun ini... Sungguh menakjubkan!..."

"Oh! Betapa betapa penyair-penyair sudah muncul di antara kita! Kau juga, Tomas, begitu..."

"Aku bukan seorang bodoh ataupun seorang perempuan kecil yang menyedihkan, tahu! Aku seorang seniman. Seniman yang sensitif. Dan aku bangga akan itu. Guru, apakah Engkau menyukai bunga-bunga ini?" tanya Tomas kepada Yesus Yang hanya mendengarkan tanpa mengatakan apa pun.

"Aku menyukai seluruh Ciptaan. Tetapi bunga-bunga ini termasuk yang paling Aku sukai..."

"Kenapa?" tanya beberapa rasul. Dan pada saat yang sama Yudas bertanya, "Apakah Engkau juga menyukai ular beludak?" dan dia tertawa.

"Ya, ular beludak juga berguna..."

"Untuk apa?" tanya banyak dari antara mereka.

"Untuk menggigit. Ha! Ha! Ha!" kata Yudas seraya tertawa mencemooh.

"Kalau begitu, kau pasti sangat menyukainya," balas Tadeus yang menyela tawa Yudas dengan sindiran yang sangat jelas. Yang lain-lainnya sekarang tertawa mendengar komentar cerdas itu.

Yesus tidak tertawa. Sebaliknya, Dia pucat dan sedih. Dia memandangi kedua belas rasul-Nya dan khususnya kedua orang yang bermusuhan yang sedang saling menatap satu sama lain, yang satu dengan marah, yang lain dengan tegas, dan Dia menjawab mereka semua, khususnya menjawab Iskariot.

"Jika Allah menciptakannya, itu berarti ular beludak juga ada gunanya. Tidak ada suatu pun dalam ciptaan yang tidak berguna atau semata-mata berbahaya. Kejahatan saja yang jelas-jelas dan sepenuhnya membahayakan dan celakalah mereka yang membiarkannya menggigit mereka. Salah satu dampak dari gigitannya adalah ketidakmampuan untuk membedakan Yang Baik dari Yang Jahat, lalu ada penyimpangan akal budi dan nurani yang tersesat menuju hal-hal yang jahat, dan lalu kebutaan rohani, yang karenanya, Yudas anak Simon, orang tidak melihat kuasa Allah yang bersinar pada segala sesuatu, juga ketika sesuatu itu sangat kecil. Dan kuasa-Nya tertulis pada bunga ini, melalui keindahan dan harum mewanginya, dan bentuknya, yang begitu berbeda dari bunga lain mana pun, dan melalui tetesan embun ini yang bergetar dan berkilau tergantung pada tepi kelopak bunga kecil ini dan kelihatan seperti airmata syukur kepada Sang Pencipta Yang menjadikan segala sesuatunya baik, berguna, dan beranekaragam. Namun ada tertulis bahwa segala sesuatu adalah indah bagi leluhur pertama, hingga mata mereka menjadi buram karena dosa... Dan segala sesuatu berbicara kepada mereka tentang Allah hingga cairan, yang mendistorsi kemampuan mereka untuk melihat Allah, ditanamkan ke dalam segala sesuatu, atau tepatnya, ke dalam mata mereka. Bahkan sekarang, semakin roh berkuasa dalam manusia ciptaan, semakin Allah menyatakan Diri-Nya..."

"Salomo menyanyikan keajaiban-keajaiban Allah dan begitu pula Daud... tetapi roh mereka bukan penguasanya! Guru, aku memergoki-Mu kali ini."

"Betapa lancangnya kau! Beraninya kau berkata seperti itu?"

"Biarkan dia berbicara... Aku tidak memasukkan dalam hati perkataannya, yang dibawa pergi angin lalu dan yang tidak menghebohkan tumbuh-tumbuhan dan pepohonan. Kita saja yang mendengarnya dan kita tahu bagaimana mengaitkannya dengan kepentingannya yang sebenarnya, bukan begitu? Dan kita tidak mengingat perkataannya lagi. Masa muda seringkali ceroboh, Bartholmai. Kau harus mengasihaninya... Tetapi ada yang bertanya kepada-Ku mengapa Aku lebih menyukai lily lembah... Inilah jawaban-Ku: 'Karena kerendahan hatinya.' Segala sesuatu padanya berbicara tentang kerendahan hati... Tempat-tempat yang disukainya... perilaku bunganya... Itu membuatku teringat pada BundaKu... Bunga ini... yang begitu mungil! Namun betapa harum semerbak aroma dari satu bunganya saja. Udara di sekitarnya harum mewangi olehnya... BundaKu juga... rendah hati, pendiam, tidak dikenal, Dia minta hanya untuk tetap tidak dikenal... Namun aroma kekudusan-Nya begitu kuat hingga menarik-Ku dari Surga..."

"Apakah Engkau melihat simbol BundaMu pada bunga itu?"

"Ya, benar, Tomas."

"Dan apakah menurut-Mu leluhur kita sudah meramalkan BundaMu ketika mereka memuji lili lembah?" tanya Yakobus Alfeus. "Mereka membandingkan Dia dengan tumbuh-tumbuhan dan bunga-bungaan lain: dengan mawar, pohon zaitun, dan dengan binatang yang paling jinak: merpati dan merpati hutan..."

"Mereka semua mengaitkan hal-hal terindah yang mereka lihat dalam ciptaan dengan-Nya. Dan Dia benar-benar adalah Keindahan dari ciptaan. Tetapi Aku akan menyebut-Nya Lily lembah dan pohon Zaitun yang penuh damai, jika Aku hendak menyanyikan pujian bagi-Nya." Dan Yesus bersuka hati dan berbinar memikirkan BundaNya, dan Dia mempercepat langkah-Nya untuk menyendiri...

Mereka terus berjalan, kendati panasnya hari, karena di lekukan lembah ada deretan pepohonan yang melindungi dari terik matahari.

Sesudah beberapa waktu, Petrus mempercepat langkahnya dan menyusul Sang Guru. Dia memanggil-Nya dengan suara pelan, "Guru-ku!"

"Petrus-Ku!"

"Apa mengganggu-Mu jika aku berjalan bersama-Mu?"

"Tidak, sahabat-Ku. Hal mendesak apa yang ingin kau katakan kepada-Ku, sehingga mendorongmu datang kepada Guru-mu?"

"Sebuah pertanyaan... Guru, aku ini orang yang suka ingin tahu..."

"Jadi?" Yesus tersenyum memandang rasul-Nya.

"Dan aku ingin tahu banyak hal..."

"Itu adalah salah, Petrus-Ku."

"Aku tahu... Tapi aku rasa kali ini aku tidak salah. Jika aku ingin mengetahui sesuatu yang tidak pantas, atau suatu tindakan yang licik supaya aku bisa mengkritik orang yang melakukannya, oh! dalam hal demikian adalah salah. Tapi Engkau tahu bahwa aku tidak bertanya kepada-Mu apakah Yudas ada hubungannya dengan Engkau dipanggil ke Bether dan karena..."

"Tapi kau sangat ingin tahu..."

"Ya. Itu benar. Tapi bukankah itu adalah suatu kebaikan yang lebih besar?"

"Itu adalah suatu kebaikan yang lebih besar. Sebab adalah kebaikan besar untuk mengendalikan diri. Itu membuktikan, bagi orang yang berperilaku demikian, kemajuan yang sungguh baik dalam kehidupan rohani, pemahaman aktif dan penerapan nyata ajaran Sang Guru."

"Benarkah begitu? Dan apakah Engkau senang?"

"Oh! Petrus, mengapa bertanya kepada-Ku? Aku lebih dari sekedar senang."

"Benarkah? Oh, Guru-ku! Kalau begitu, apakah Simon-Mu yang malang ini yang membuat-Mu begitu bahagia?"

"Ya, benar. Tidak tahukah kau?"

"Aku tak berani mempercayainya. Tapi melihat-Mu begitu bahagia, aku meminta Yohanes untuk menanyakannya kepada-Mu kemarin. Sebab aku pikir mungkin juga Yudas sudah menuju ke arah yang baik... meskipun aku tidak punya bukti untuk itu... Tapi mungkin juga aku salah menilai. Yohanes memberitahuku bahwa Engkau mengatakan bahwa Engkau bahagia karena ada seseorang yang menuju kekudusan... Baru saja Engkau mengatakan kepadaku bahwa Engkau bahagia karena aku menjadi lebih baik. Sekarang aku tahu. Orang yang membuat-Mu bahagia dan bersukacita adalah aku, Simon yang malang... Tapi sekarang aku berharap pengorbananku bisa membuat Yudas berubah. Aku tidak iri. Aku ingin semua orang menjadi sempurna, untuk membuat-Mu bahagia sepenuhnya. Akankah aku berhasil?"

"Percayalah, Simon, percaya dan bertekun."

"Ya! Pasti! Demi Engkau... dan demi dia juga. Karena aku yakin dia tidak akan bisa senang jika selalu seperti itu. Lagipula... dia bisa saja menjadi anakku... Hmm! Sebenarnya aku lebih suka menjadi bapanya Marjiam! Tapi... aku akan menjadi bapa baginya, berupaya memberinya jiwa yang pantas bagi-Mu."

"Dan juga bagimu, Simon" dan lalu Yesus membungkuk dan mencium rambutnya.

Petrus meluap dalam sukacita... Sesudah beberapa waktu dia bertanya, "Apakah Engkau tidak akan memberitahuku apa-apa lagi? Apakah tidak ada lagi kabar baik, sekuntum bunga di antara onak duri yang Engkau temukan di mana-mana?"

"Ya, ada. Salah seorang teman Yusuf yang sedang menghampiri Terang."

"Benarkah? Seorang anggota Mahkamah Agama?"

"Ya, tetapi janganlah kita mengatakannya kepada siapa pun. Kita harus berdoa dan menderita untuk tujuan itu. Tidakkah kau bertanya kepada-Ku siapa orang itu? Apa kau tidak antusias untuk tahu?"

"Sangat ingin tahu. Tapi aku tidak akan bertanya kepada-Mu. Suatu pengorbanan untuk orang yang tidak aku ketahui."

"Kiranya kau diberkati, Simon! Kau membuat-Ku benar-benar bahagia hari ini. Teruslah seperti itu dan Aku akan semakin mengasihimu, begitu pula Allah. Sekarang ayo kita berhenti dan menunggu yang lain-lainnya..."


Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama