|
409. MUKJIZAT PENGUMPULAN SISA PANEN DI DATARAN.
![]() Kumbang Scarab hijau zaitun
27 September 1944
Yesus bersama para rasul-Nya melintasi suatu negeri yang sepenuhnya keemasan dengan hasil panen. Meski hari masih pagi, udaranya sangat panas. Para penuai menyabit di sepanjang alur yang sarat dengan bulir-bulir gandum, membuat ruang-ruang kosong di antara berkas-berkas keemasan. Sabit-sabit berkilau sekejab di bawah sinar matahari, dan segera menghilang di antara berkas-berkas yang tinggi, lalu muncul kembali sesaat di sisi yang lain, dan berkas-berkas gandum merunduk dan tergeletak di atas tanah yang hangat oleh matahari, seolah-olah berkas-berkas gandum itu sudah lelah berdiri selama berbulan-bulan. Beberapa perempuan mengikuti para penuai untuk mengikat berkas-berkas gandum. Seluruh negeri sibuk dengan pekerjaan ini. Panen melimpah dan para penuai bersuka ria.
Banyak laki-laki, ketika berada di dekat jalan yang dilewati rombongan apostolik, berhenti bekerja sejenak, bersandar pada sabit panjang mereka dan menyeka keringat, dan mereka tampak... Para perempuan yang mengikat berkas-berkas gandum juga melakukan hal yang sama. Dengan pakaian yang ringan, kepala berselubung kain putih, mereka tampak seperti bunga-bunga yang muncul dari tanah yang direnggut gandumnya: bunga-bunga poppy, cornflower, aster. Kaum laki-laki, dengan tunik pendek berwarna abu-abu atau kekuningan, tidak begitu mencolok. Satu-satunya perlengkapan ringan yang mereka kenakan adalah sepotong kain yang diikatkan ke kepala mereka dengan seutas tali dan menjuntai di leher dan pipi mereka. Wajah mereka yang kecokelatan, dibungkus dengan kain putih, terlihat semakin gelap.
Ketika Yesus melihat bahwa mereka memandang kepada-Nya, Dia lewat sembari memberi salam, "Damai dan berkat Allah sertamu," dan mereka menjawab, "Semoga berkat Allah serta-Mu juga," atau lebih ringkas, "Sertamu juga."
Beberapa orang yang lebih suka bicara, membangkitkan minat Yesus terhadap panenan dengan berkata, "Tahun ini panenan sangat bagus. Lihatlah bulir-bulir gandum yang indah bentuknya ini dan lihatlah betapa lebatnya bulir-bulir ini di dalam alur-alurnya. Perlu kerja keras untuk menyabitnya. Tapi ini adalah roti!..."
"Bersyukurlah kepada Tuhan. Dan kamu tahu bahwa orang harus menunjukkan rasa syukurnya bukan dengan perkataan, tetapi dengan perbuatan. Bermurah-hatilah dengan panenanmu, dengan mengingat Yang Mahatinggi yang dengan belas kasih menganugerahkan tetes embun dan sinar matahari bagi ladang-ladangmu, supaya kamu bisa beroleh panenan yang melimpah. Ingatlah perintah dalam Kitab Ulangan. Ketika menuai kekayaan yang dianugerahkan Allah kepadamu, pikirkanlah orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa, dan tinggalkanlah sebagian milikmu untuk mereka. Itu adalah pengorbanan yang suci karena itu adalah cinta kasih kepada sesama dan Allah melihatnya. Lebih baik rela memberi daripada serakah dalam mengumpulkan. Allah memberkati orang-orang yang murah hati. Ada lebih banyak kebahagiaan dalam memberi daripada menerima, karena hal itu mendesak Allah, Yang adil, untuk memberikan ganjaran yang lebih melimpah kepada orang yang mengasihi." Yesus berjalan lewat seraya mengulang nasihat-Nya tentang kasih.
Matahari semakin terik. Para penuai berhenti bekerja dan mereka yang dekat rumah pulang ke rumah mereka, sedangkan mereka yang jauh dari rumah berkumpul di bawah naungan pepohonan dan beristirahat, makan, dan tidur siang di sana.
Yesus juga bernaung di semak-semak di tengah pedesaan dan duduk di rerumputan. Sesudah berdoa dan mempersembahkan makanan mereka yang seadanya, yang terdiri dari roti, keju, dan buah zaitun, Dia membagikannya dan makan sambil bercakap-cakap dengan para rasul. Ada naungan, kesejukan, dan keheningan yang sempurna. Keheningan saat jam-jam matahari bersinar terik di musim panas. Keheningan yang meninabobokan orang untuk tidur. Sesungguhnya, sebagian besar dari mereka tertidur sesudah makan. Yesus tidak tidur. Dia beristirahat dengan menyandarkan punggung-Nya pada sebuah pohon, dan Da memperhatikan dengan penuh minat serangga-serangga yang sedang bekerja di bunga-bunga.
Pada satu saat Dia memberi isyarat kepada Yohanes, Yudas Iskariot, dan kepada salah seorang rasul yang lebih tua, yang dipanggil-Nya Bartolomeus, dan ketika mereka sudah dekat dengan-Nya, Dia berkata, "Perhatikan pekerjaan yang dilakukan serangga kecil ini. Lihat. Aku mengamatinya beberapa waktu lamanya. Ia ingin mengambil dari cawan yang sangat kecil ini, madu yang ada di bagian bawahnya, dan karena ia tidak dapat masuk ke dalamnya, lihat: ia mengulurkan pertama-tama satu kaki kecilnya dan lalu kaki lainnya, ia mencelupkan keduanya ke dalam madu dan lalu memakan madunya. Ia hampir mengosongkan cawannya. Lihatlah betapa menakjubkannya Penyelenggaraan Ilahi! Peduli bahwa tanpa organ-organ tertentu serangga hijau zaitun ini, yang diciptakan untuk terbang di atas padang-padang rumput hijau, tidak akan bisa makan, Penyelenggaran Ilahi menganugerahinya bulu-bulu kecil di sepanjang kakinya. Bisakah kau lihat? Bisa, Bartolomeus? Tidak? Lihat. Aku sekarang akan menangkapnya dan menunjukkannya kepadamu di bawah terang," dan dengan lembut Dia menangkap kumbang scarab itu, yang tampak seperti emas mengkilap, dan menempatkannya terbalik di punggung tangan-Nya.
Kumbang itu berpura-pura mati dan ketiga rasul mengamati kaki-kakinya yang kecil. Kemudian serangga itu mulai menendang-nendang untuk melarikan diri. Ia tidak berhasil, tentu saja, tetapi Yesus membantunya dan membuatnya berdiri tegak. Makhluk kecil itu berjalan di telapak tangan Yesus, hingga ke ujung-ujung jari-Nya, ia menggelantung dan mengembangkan sayap-sayapnya. Tetapi ia sangsi.
"Ia tidak tahu bahwa Aku tidak menginginkan apa pun selain kesejahteraan semua makhluk. Ia hanya punya insting kecilnya, yang sempurna jika dibandingkan dengan kodratnya, dan cukup untuk semua kebutuhannya. Tetapi instingnya itu sangat rendah dibandingkan dengan pikiran manusia. Oleh karenanya, serangga tidak bertanggung jawab jika ia melakukan kesalahan. Manusia bertanggung jawab, karena dia memiliki di dalam dirinya terang intelegensi yang unggul, yang akan semakin luhur semakin ia diindoktrinasi dalam hal-hal tentang Allah. Dan sebagai konsekuensinya dia bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya."
"Jadi, Guru, karena kami diajar oleh-Mu, apakah kami punya tanggung jawab yang berat?" tanya Bartolomeus.
"Ya, sangat berat. Dan bahkan akan lebih berat di masa mendatang ketika Kurban telah ditunaikan dan Penebusan telah datang bersama dengan Kasih Karunia, yang adalah kekuatan dan terang. Dan sesudah itu, akan datang Dia yang akan membuatmu lebih memahami kekuatan kehendak. Dan orang yang tidak menginginkannya, akan dimintai pertanggungjawaban."
"Jadi, hanya sedikit sekali yang akan diselamatkan!"
"Kenapa Bartolomeus?"
"Karena manusia begitu lemah!"
"Tetapi jika dia memperkuat kelemahannya dengan mengandalkan-Ku, dia akan menjadi kuat. Apa kau pikir Aku tidak tahu pergumulanmu? Lihat? Iblis adalah seperti laba-laba itu yang memasang perangkapnya dari ranting kecil itu ke batang ini. Begitu tipis dan menipu! Lihatlah bagaimana jaring laba-laba itu berkilau, tampak seperti filigree perak yang tak teraba. Ia akan tak terlihat di malam hari dan saat fajar, besok, ia akan berkilau seperti permata, dan lalat-lalat yang ceroboh, yang berkeliaran di malam hari mencari makanan yang kotor, akan jatuh ke dalam perangkapnya, begitu juga kupu-kupu yang tertarik oleh apa yang berkilau...'
Para rasul yang lain sudah menghampiri Guru dan mendengarkan pelajaran yang dipetik dari kerajaan flora dan fauna.
"... Nah, kasih- Ku melakukan hal yang sama terhadap Iblis seperti yang dilakukan tangan-Ku sekarang. Kasih-Ku menghancurkan jaring laba-laba. Lihatlah bagaimana laba-laba itu lari dan bersembunyi. Ia takut pada apa yang lebih kuat. Iblis juga takut pada apa yang lebih kuat. Dan apa yang lebih kuat itu adalah Kasih."
"Bukankah lebih baik membinasakan laba-labanya?" tanya Petrus, yang sangat praktis dalam pemikirannya.
"Itu akan lebih baik. Tetapi laba-laba melakukan tugasnya. Benar bahwa ia membunuh kupu-kupu kecil yang malang, yang begitu indah, tetapi ia membasmi sejumlah besar lalat kotor yang membawa penyakit dan infeksi dari orang yang sakit ke orang yang sehat, dari mayat ke orang yang hidup.''
"Tapi dalam perkara kita, apa yang dilakukan laba-laba?"
"Apa yang dilakukannya, Simon? (Simon juga seorang yang berumur dan adalah dia yang mengeluhkan rematik). Ia melakukan apa yang dilakukan kehendak baikmu. Ia mengenyahkan sikap acuh tak acuh, apatis, dan kesombongan yang sia-sia. Ia memaksamu untuk berjaga. Apa yang membuatmu layak atas ganjaran? Perjuangan dan kemenangan. Bisakah kau menang jika kau tidak berjuang? Kehadiran Iblis memaksa orang untuk terus-menerus berjaga. Karenanya, Kasih, Yang mengasihimu, menjadikan kehadirannya belum tentu membahayakan. Jika kamu senantiasa dekat pada Kasih, Iblis akan mencobai tetapi ia tidak akan bisa menyebabkan kerusakan yang riil."
"Selalu?"
"Selalu. Dalam hal-hal besar maupun kecil. Hal kecil, misalnya: ia dengan sia-sia menasihatimu untuk mempedulikan kesehatanmu. Suatu nasihat licik untuk mencoba merenggutmu dari-Ku. Tetapi Kasih memelukmu erat-erat, Simon, dan bagimu rasa sakitmu bahkan menjadi tidak penting."
"Oh! Tuhan! Engkau tahu?..."
"Ya. Tapi jangan berkecil hati. Bergembiralah! Kasih, Yang pertama tersenyum melihat kodrat manusiawimu yang gemetar karena rematiknya, akan memberimu begitu banyak keberanian..." Yesus tertawa melihat rasul-Nya yang tersipu dan memeluknya untuk menghiburnya. Bahkan saat tertawa, Dia tetap penuh wibawa. Murid-murid yang lain juga ikut tertawa.
"Siapa yang mau ikut menolong perempuan tua yang malang itu?" kata Yesus seraya menunjuk pada seorang perempuan tua berperawakan kecil yang, kendati panas sangat terik, sedang mengumpulkan sisa panen di ladang-ladang yang sudah dituai.
"Aku," jawab Yohanes, Tomas, dan Yakobus.
Namun Petrus meraih lengan baju Yohanes dan menariknya sedikit ke samping, dia berkata kepadanya, "Tanyakan kepada Guru apa yang membuat-Nya begitu bahagia. Aku sudah bertanya kepada-Nya, tetapi Dia hanya mengatakan, "Kebahagiaan-Ku adalah melihat suatu jiwa mencari Terang." Tetapi jika kau yang bertanya... Dia akan memberitahumu segalanya."
Yohanes bimbang, terombang-ambing oleh sikap pendiamnya dan oleh keingintahuan dan demi menyenangkan Petrus. Perlahan-lahan dia menggabungkan diri dengan Yesus Yang sudah memungut sisa panen di ladang. Perempuan tua itu, yang melihat begitu banyak anak muda datang, membuat gerak isyarat sedih dan sibuk berusaha bekerja lebih cepat.
"Perempuan! Perempuan!" seru Yesus. "Aku akan memungut sisa panen untukmu. Jangan berada di bawah terik matahari, Ibu. Aku datang."
Perempuan tua kecil itu tercengang oleh kebaikan hati yang begitu rupa, menatap pada-Nya, lalu dia taat, dan dengan terbungkuk-bungkuk dan sedikit gemetar sekujur tubuhnya yang kurus, dia pergi menuju jalur teduh yang ada di sepanjang tepian ladang. Yesus bergerak cekatan mengumpulkan sisa-sisa gandum. Yohanes mengikuti-Nya dari dekat. Tomas dan Yakobus agak sedikit lebih jauh.
"Guru." kata Yohanes terengah-engah. "Bagaimana Engkau bisa mendapatkan begitu banyak bulir gandum? Di alur sebelah aku hanya mendapatkan sangat sedikit!"
Yesus tersenyum tetapi tidak menjawab. Aku tidak bisa memastikan, tetapi aku pikir gandum yang sudah disabit tetapi tidak dipungut sekonyong-konyong muncul di mana pun mata ilahi Yesus tertuju. Dia mengumpulkannya dan tersenyum. Dia mendapatkan seberkas besar gandum di tangan-Nya.
"Ambillah punyaku, Yohanes. Dengan begitu kau akan punya banyak juga dan ibu kecil itu akan senang."
"Tapi, Guru... Apa Engkau mengerjakan mukjizat? Tidak mungkin Engkau mendapatkan sebegitu banyak!"
"Ssst! Ini untuk ibu kecil itu... pikirkan ibumu dan Ibu-Ku. Lihat, betapa dia adalah suatu jiwa tua kecil!... Allah Yang Baik, Yang memberi makan burung-burung kecil yang baru menetas, hendak memenuhi lumbung kecil nenek ini. Dia akan punya roti untuk bulan-bulan terakhirnya. Dia tidak akan melihat panen mendatang. Tapi Aku tidak mau dia kelaparan selama musim dingin terakhirnya. Sekarang kau akan mendengar seruannya, Yohanes, bersiaplah telingamu akan pecah, seperti Aku bersiap untuk dihujani dengan airmata dan ciumannya..."
"Betapa bahagianya Engkau beberapa hari ini, Yesus! Kenapa?"
"Apa kau ingin tahu atau ada seseorang yang menyuruhmu?"
Wajah Yohanes, yang sudah memerah karena kelelahan, sekarang menjadi merah padam.
Yesus mengerti. "Katakan kepada dia yang menyuruhmu bahwa ada seorang saudara-Ku yang sakit dan ingin disembuhkan. Kehendak baiknya untuk disembuhkan memenuhi hati-Ku dengan sukacita."
"Siapakah itu, Guru?"
"Saudaramu, seorang yang dikasihi Yesus, seorang berdosa."
"Jadi, bukan salah seorang dari kami?"
"Yohanes, apa kau pikir tidak ada dosa di antaramu? Apa kau pikir Aku bersukacita hanya karena kamu?"
"Tidak, Guru. Aku tahu bahwa kami pun orang berdosa, dan bahwa Engkau ingin menyelamatkan semua orang."
"Jadi? Telah Aku katakan kepadamu: 'Jangan suka ingin tahu' ketika ada kejahatan akan terbongkar. Sekarang Aku katakan hal yang sama ketika kebaikan akan tersingkap... Damai sertamu, Ibu! Ini berkas-berkas gandum yang telah kami kumpulkan. Teman-teman-Ku akan datang dengan berkas-berkas mereka."
"Semoga Allah memberkatimu, Nak. Bagaimana Kau bisa mendapatkan begitu banyak? Memang aku tidak bisa melihat dengan sangat jelas. Tapi ini benar-benar dua berkas besar... sangat besar..." Perempuan tua itu meraba berkas-berkas itu, tangannya yang gemetar membelainya, dia hendak mengangkatnya... tapi tidak sanggup.
"Kami akan membantumu. Di mana rumahmu?"
"Yang itu," katanya seraya menunjuk ke sebuah rumah kecil di seberang ladang.
"Kau sendirian, kan?"
"Ya, bagaimana Engkau tahu? Dan siapakah Engkau?"
"Aku adalah Dia yang memiliki ibu."
"Apakah ini saudaramu?"
"Dia teman-Ku."
Dari balik punggung Yesus, teman-Nya itu membuat gerak isyarat besar kepada si perempuan tua. Namun karena kerudung menghalangi matanya, dia tidak melihatnya. Lagipula, si nenek terlalu terpaku memandangi Yesus. Hati keibuannya yang sudah tua sangat tersentuh.
"Kau berkeringat, Nak. Kemarilah, di bawah naungan pohon ini. Duduklah. Lihat betapa keringat-Mu bercucuran! Keringkanlah dengan kerudungku. Ini sudah usang tapi bersih. Ini, pakailah, Nak."
"Terima kasih, Ibu."
"Terpujilah Ibu-Mu, Ibu dari seorang Putra yang begitu baik. Siapa nama-Mu dan nama ibu-Mu. Supaya aku bisa menyebutnya di hadapan Allah untuk memberkati-Mu."
"Maria dan Yesus."
"Maria dan Yesus... Maria dan Yesus... Tunggu. Suatu ketika aku mencucurkan air mata duka... Putra dari putraku tewas demi mempertahankan bayi laki-lakinya dan putraku mati karena dukacita... dan pada waktu itu orang mengatakan bahwa yang tidak berdosa dibunuh karena mereka mencari Dia yang bernama Yesus... Sekarang aku di ambang kematian dan Nama itu kembali kepadaku..."
"Kau menangis kala itu, Ibu, karena Nama itu. Kiranya Nama itu sekarang memberkatimu..."
"Engkaulah Yesus itu... katakanlah kepada perempuan malang yang akan segera mati ini dan yang sudah menjalani hidup tanpa mengutuk karena diberitahukan kepadanya bahwa dukanya adalah demi menyelamatkan Sang Mesias bagi Israel."
Yohanes menggandakan isyaratnya. Yesus membisu.
"Oh! Katakanlah padaku! Engkau-kah itu? Engkau... memberkatiku di penghujung hidupku? Demi nama Allah, bicaralah."
"Ya, Aku."
"Ah!" perempuan lanjut usia itu prostratio di tanah. "Juruselamat-ku! Aku senantiasa hidup dalam pengharapan dan aku sudah tidak lagi berharap untuk melihat-Mu. Akankah aku melihat kejayaan-Mu?"
"Tidak, Ibu. Seperti Musa, engkau akan mati tanpa melihat hari itu. Tetapi Aku akan terlebih dulu memberimu damai Allah. Aku adalah Damai. Aku adalah Jalan. Aku adalah Hidup. Kau, ibu dan nenek dari anak-anak yang benar, akan melihat-Ku dalam kejayaan abadi dan Aku akan membuka pintu-pintu gerbang bagimu, bagi putramu, bagi putra dari putramu dan bagi bayi laki-lakinya. Bayi itu yang mati demi Aku adalah kudus bagi Tuhan! Jangan menangis, Ibu!..."
"Dan aku telah menyentuh-Mu! Dan Engkau mengumpulkan bulir-bilir gandum bagiku! Oh! Bagaimana mungkin aku pantas mendapatkan kehormatan seperti itu?!"
"Melalui penyerahan diri-Mu yang suci. Mari, Ibu, kita ke rumahmu. Dan kiranya gandum ini lebih memberi makan jiwamu daripada tubuhmu. Aku-lah Roti sejati yang turun dari Surga untuk mengenyangkan rasa lapar setiap hati. Kamu (Tomas dan Yakobus sudah bergabung dengan berkas-berkas gandum mereka)... bawalah berkas-berkas ini dan ayo kita pergi."
Dan ketiga rasul dengan memikul beban berkas-berkas gandum itu berjalan pergi, diikuti oleh Yesus dan si nenek yang menangis dan membisikkan doa-doa. Mereka tiba di sebuah rumah kecil dengan dua ruangan kecil, sebuah dapur mungil, sebatang pohon ara, dan sebidang kecil kebun anggur. Ada kerapian dan kemiskinan.
"Inikah rumahmu?"
"Ya. Berkatilah, Tuhan!"
"Panggil aku: Nak. Dan doakan agar IbundaKu beroleh penghiburan dalam dukacita-Nya, sebab kau tahu apa arti duka seorang ibu. Selamat tinggal, Ibu. Aku memberkatimu dalam nama Allah yang benar."
Dan Yesus mengangkat tangan-Nya dan memberkati rumah kecil itu. Lalu Dia membungkuk dan memeluk perempuan tua kecil itu, Dia mendekapkannya ke dada-Nya dan mencium kepalanya yang tertutup rambut putih tipis. Dan perempuan itu menangis seraya mengecupkan bibirnya ke tangan-tangan Yesus dengan penuh hormat dan kasih... dan itu meluluhkan hatiku dengan kesedihan. Karena aku teringat akan ibuku yang takut kepada-Mu, Yesus, ketika dia melihat-Mu... Mengapa harus takut kepada-Mu, Yesus?
________________________________________
Yesus berkata:
"Mengapa? Ada banyak mengapa di dalam hatimu sesudah dikte ini. Tapi Aku akan memulainya dari yang terakhir. [...]
Pertanyaan lain yang selalu ada di hatimu adalah apakah Aku tahu bahwa Yudas tidak akan diselamatkan meskipun Aku berusaha menyelamatkannya. Aku tahu. Jadi, mengapa Aku bahagia? Karena juga keinginan sederhana yang ada, sekuntum bunga di tanah gersang hati Yudas, membuat Bapa memandang dengan kasih sayang kepada murid-Ku yang Aku kasihi tetapi tidak dapat Aku selamatkan. Mata Allah yang tertuju pada satu hati! Apa yang Aku inginkan selain agar Bapa memandang kalian semua dengan kasih? Dan Aku harus berbahagia memberikan kepada orang yang malang itu juga sarana untuk bangkit kembali. Adalah sukacita-Ku melihatnya kembali kepada-Ku.
Suatu hari, sesudah Wafat-Ku, Yohanes mulai mengetahui kebenaran ini dan dia memberitahukannya kepada Petrus, Yakobus, Andreas, dan yang lain-lainnya, karena Aku telah meginstruksikan Rasul-Ku yang terkasih, yang mulai mengetahui semua rahasia hati-Ku, untuk melakukannya. Dia diberitahu dan dia memberitahukannya kepada mereka, supaya semua orang memiliki pedoman dalam membimbing murid-murid dan orang-orang percaya di kemudian hari.
Jiwa yang sesudah jatuh datang kepada pelayan Allah dan mengakui kesalahannya; teman, anak, suami atau saudara, yang sesudah berbuat salah, datang dan mengatakan, "Biarlah aku bersamamu. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi supaya aku tidak mendukakan Allah dan mendukakanmu," janganlah dijauhkan, antara lain, dari kepuasan melihat kebahagiaan kita karena mengetahui bahwa mereka antusias untuk membuat kita bahagia. Kebijaksanaan yang tak terbatas diperlukan untuk menyembuhkan hati. Aku, Sang Kebijaksanaan, memiliki kebijaksanaan yang sepeti itu untuk mengajarkan kepada semua orang seni menebus dan menolong mereka yang sedang menebus diri mereka sendiri, meskipun Aku sudah tahu bahwa dalam perkara Yudas hal itu adalah sia-sia.
Dan sekarang Aku katakan kepadamu seperti apa yang Aku katakan kepada Simon dari Kana: "Bergembiralah!" dan Aku mendekapmu dalam pelukan-Ku untuk membuatmu merasa bahwa ada seseorang yang mengasihimu. Tangan-Ku memberikan hukuman, tetapi tangan-Ku memberikan belaian juga, dan bibir-Ku mengucapkan kata-kata yang keras dan kata-kata kepuasan juga, dan yang terakhir ini lebih banyak dan lebih sering diucapkan dengan jauh lebih banyak sukacita.
Pergilah dalam damai, Maria. Engkau tidak mendukakan Yesus-mu, dan kiranya itu menjadi penghiburanmu."
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|
|
|