399. YESUS DI BETHER BERSAMA PETRUS DAN BARTOLOMEUS.             


13 Maret 1946   

Yesus sedang berjalan melintasi semak-semak mawar di mana para pengumpul bunga sibuk bekerja. Dengan demikian, Dia memiliki kesempatan untuk berbicara kepada orang ini dan orang itu, dan juga kepada si janda yang karena kemurahan hati Yohana dipekerjakan sebagai pelayan saat Paskah, sesudah perjamuan untuk fakir miskin yang lalu. Anak-anaknya juga di sana dan mereka sekarang tampak lebih baik. Mereka bertumbuh besar dalam damai. Mereka bekerja dengan gembira, masing-masing menurut kemampuannya, sementara anak-anak yang lebih muda, yang masih belum bisa membedakan mawar yang satu dengan yang lain atau memilahnya berdasarkan warna dan kesegarannya, bermain bersama anak-anak kecil lainnya di tempat-tempat yang paling sepi dan celoteh mereka berbaur dengan kicauan anak-anak burung yang dari dahan-dahan pepohonan menyambut kembalinya orangtua mereka dengan paruh penuh makanan.

Yesus mengarahkan langkah-langkah kaki-Nya ke arah anak-anak kecil ini, membungkuk di atas mereka, membelai mereka, menyelesaikan pertengkaran kecil di antara mereka dan mengangkat mereka yang terjatuh dan merengek, sebab mereka sudah membuat dirinya kotor dengan tanah atau sudah menggaruk-garukkan tangan atau menyapukan wajah mereka ke tanah. Dan airmata, pertengkaran, kecemburuan, seketika surut di bawah belaian dan kata-kata yang diucapkan oleh Yang Tak Berdosa kepada yang tak berdosa, dan penyebab pertengkaran atau kejatuhan mereka, yakni kumbang scarab emas, batu kecil yang berwarna atau berkilau, sekuntum bunga... menjadi persembahan yang diberikan kepada Yesus, Yang kedua tangan dan ikat pinggang-Nya menjadi penuh dengan persembahan, dan Yang, tanpa sepengetahuan mereka, menempatkan kumbang scarab dan kumbang kepik di dedaunan untuk melepaskannya.

Betapa sering aku melihat kebijaksanaan sempurna Yesus terhadap anak-anak kecil, agar tidak menyakiti harga diri dan mengecewakan mereka! Dengan seni yang menakjubkan, Dia tahu bagaimana menyempurnakan mereka dan Dia membuat Diri-Nya dikasihi dengan apa yang kelihatannya sepele, tetapi sebaliknya merupakan kesempurnaan kasih yang diterapkan pada ketakberdayaan anak-anak... dan padaku.

Oh! Dia selalu memperlakukanku seperti seorang "bayi" untuk memperbaiki kemalanganku, untuk membuat Diri-Nya dikasihi! Sesudahnya, ketika aku mengasihi-Nya dengan segenap diriku, Dia memperlakukanku dengan keras, sebagai seorang dewasa, menutup telinga terhadap permohonan-permohoanku, "Tidak dapatkah Engkau lihat bahwa aku ini tidak berguna?" Dia tersenyum dan memaksaku untuk melakukan pekerjaan orang dewasa... Oh! hanya ketika Maria yang malang benar-benar menderita, Dia sekali lagi menjadi Yesus-nya anak-anak bagi jiwaku yang malang, yang begitu tidak cakap, dan Dia senang dengan... scarab, batu-batu kecil... bunga-bungaku... dengan apa yang bisa aku berikan kepada-Nya... dan Dia membuatku mengerti bahwa Dia mendapati semuanya itu menyenangkan... dan bahwa Dia mengasihiku karena aku apa adanya "seorang tak berarti yang bergantung pada dan tenggelam dalam Yang Tak Terbatas."

Yesus-ku terkasih! Yang kukasihi, kukasihi dengan tergila-gila! Yang kukasihi dengan segenap diriku! Ya, aku bisa menyatakan itu! Pada malam ulang tahunku yang keempat puluh sembilan, pada malam penghakiman manusia atas karyaku sebagai juru bicara, jika aku memeriksa diriku dengan saksama, jika aku dengan tekun mencari rohku dan segenap diriku untuk menerjemahkan perkataan kebenaran yang ada dalam diriku, sekarang bisa aku katakan bahwa aku mengasihi Allah, aku tahu bahwa aku mengasihi Allah-ku dengan segenap diriku. Butuh waktu empatpuluh delapan tahun bagiku untuk sampai pada kasih yang total ini, begitu total hingga tak ada satu pikiran pun ketakutan pribadi dalam kemungkinan hukuman, sebab aku hanya khawatir tentang akibat dari hukuman yang demikian yang mungkin terjadi atas jiwa-jiwa yang dihantar olehku kepada Allah, dan yang yakin bahwa mereka telah ditebus oleh Yesus yang hidup dalam diriku, dan akan memutuskan hubungan dengan Gereja, mata rantai yang menghubungkan umat manusia dengan Allah. Ada orang yang mungkin mengatakan, "Tidakkah kamu malu sudah membutuhkan waktu yang begitu lama?" Tidak, sedikit pun tidak. Aku begitu lemah, begitu bukan apa-apa, sehingga aku membutuhkan waktu selama itu. Bagaimanapun, aku yakin bahwa aku membutuhkan waktu tepat seperti yang dikehendaki Yesus. Tidak semenit pun lebih, tidak semenit pun kurang; karena aku bisa mengatakan ini: sejak aku mulai mengerti siapa itu Allah, aku tidak pernah menolak Allah dalam hal apa pun. Sejak saat, ketika aku masih gadis berumur empat tahun - merasakan-Nya begitu mahahadir di mana-mana hingga aku percaya bahwa Dia bahkan ada di kayu sandaran kursi tempat aku duduk, dan aku meminta maaf kepada-Nya karena memunggungi-Nya dan bersandar pada-Nya; sejak saat ketika - masih gadis berumur empat tahun - bahkan dalam tidurku aku merenungkan bagaimana dosa-dosa kita sudah melukai dan membunuh-Nya, dan aku akan berdiri di atas tempat tidurku, dalam gaun tidurku yang panjang, dan tanpa melihat satu gambar suci pun, tetapi berbicara kepada Yesus-ku terkasih yang dibunuh demi kita, aku akan memohon kepada-Nya, "Bukan aku! Bukan aku! Biarkan aku mati tetapi jangan katakan bahwa aku sudah melukai-Mu!" Dan hatiku pun bergejolak...

Engkau tahu, oh Kekasih-ku, akan emosiku yang membara. Engkau mengenali masing-masingnya... Engkau tahu bahwa sedikit saja isyarat lamaran dari-Mu langsung diterima oleh Maria-Mu. Bahkan jika Engkau mengajukan bahwa aku harus memberi-Mu cinta seorang kekasih, tidak kala itu, pada hari Natal tahun 1921, cintaku kepada-Mu diteguhkan - atau cinta akan sanak saudara, atau akan hidup, kesehatan, kekayaanku... dan bahwa aku harus menjadi semakin "bukan siapa-siapa" dalam kehidupan sosial, secuil puing yang dipandang dengan iba atau dengan cemooh oleh dunia, orang yang tidak bisa mengambil segelas air sendiri jika dia haus dan tidak ada seorang pun yang memberikannya kepadanya, seorang yang terpaku seperti-Mu, ya seperti-Mu, dan seperti yang begitu aku inginkan, dan seperti yang akan segera kuinginkan lagi, andai Engkau menyembuhkanku. Segalanya! Yang bukan siapa-siapa itu sudah memberikan segalanya, seluruh keberadaannya sebagai makhluk... Baiklah, bahkan sekarang, ya bahkan sekarang, ketika aku mungkin dihakimi dengan hebat dan dihalangi dan aku mungkin dipukul, apakah yang akan aku katakan kepada-Mu? "Tetaplah bersamaku, Engkau dan Rahmat-Mu. Semua yang lain bukan apa-apa. Aku hanya memohon kepada-Mu untuk tidak menjauhkanku dari kasih-Mu dan jangan biarkan mereka, yang aku bawa kepada-Mu, jatuh kembali ke dalam kegelapan."

Namun, ke manakah aku sudah pergi, ya Matahari-ku, semetara Engkau berjalan di antara semak-semak mawar? Ke mana hatiku, yang sudah mengupayakan kasih bagi-Mu, memimpinku. Dan hatiku berdenyut dan menggelorakan darah di pembuluh-pembuluh darahku. Dan orang-orang akan mengatakan, "Dia demam dan menderita palpitasi." Tidak. Faktanya adalah bahwa pagi ini Engkau bergegas menemuiku dengan kekuatan badai kasih ilahi, dan aku... dan aku lenyap di dalam Engkau saat Engkau merasukiku, dan aku tidak lagi berpikir jernih seperti makhluk manusiawi, tetapi aku mengalami apa yang pastinya hidup sebagai serafim... dan aku terbakar dan tergila-gila dan aku mengasihi-Mu, aku mengasihi-Mu, aku mengasihi-Mu. Kasihanilah, dalam kasih-Mu! Kasihanilah, jika Engkau ingin aku terus hidup dan melayani-Mu, ya Kasih kekal yang paling ilahi, ya Kasih yang termanis, ya Kasih Surga dan Ciptaan, Allah, Allah, Allah... Tidak! Jangan kasihani! Bahkan lebih banyak kasih! Bahkan lebih banyak! Sampai mati di tiang kasih! Mari kita saling melebur! Mari kita saling mengasihi! Agar kita bisa berada dalam Bapa, seperti yang Engkau katakan saat berdoa bagi kami, "Biarlah mereka yang mengasihi Aku berada di mana Kita berada. Satu hal saja." Satu hal saja! Itulah satu dari sabda Injil yang selalu membuatku tenggelam dalam jurang adorasi penuh kasih. Apa yang Engkau minta bagi kami, ya Guru dan Penebus Ilahi-ku! Apa yang Engkau minta, ya Guru Ilahi-ku, yang tergila-gila dalam kasih! Agar kami dapat menjadi satu saja bersama Engkau, bersama Bapa, bersama Roh Kudus, karena barangsiapa ada dalam Yang Esa ada dalam Tritunggal, ya Tritunggal yang tak terpisahkan tetapi bebas dari Allah yang Esa dan Tritunggal! Diberkatilah! Diberkatilah! Diberkatlahi dengan setiap denyut dan tarikan napasku!...

Tetapi, marilah kita kembali ke visiun itu sebab... sekarang aku melihat Petrus datang menghampiri dengan langkah-langkah yang begitu cepat hingga pakaiannya berkibar-kibar bagai layar yang mengembang oleh angin. Dia diikuti oleh Bartolomeus yang melangkah dengan lebih tenang. Petrus tiba dengan tak disangka-sangka di belakang Yesus, Yang tengah membungkuk membelai beberapa bayi yang menyusu, anak-anak para pengumpul bunga, yang terbaring di tempat-tempat duduk lipat di bawah naungan pepohonan. "Guru!"

"Simon! Bagaimana kau bisa ada di sini? Dan kau juga, Bartolomeus? Kau harus berangkat besok sore, sesudah matahari terbenam hari Sabat..."

"Guru, jangan mencela kami... Dengarkan kami dulu."

"Aku akan mendengarkanmu. Dan Aku tidak mencelamu karena Aku yakin kau pasti punya alasan kuat untuk tidak taat. Tapi, biarlah Aku memastikan bahwa tak seorang pun darimu yang sakit atau terluka."

"Tidak, tidak, Tuhan. Tidak ada celaka yang menimpa kami," Bartolomeus bergegas menambahkan.

Namun, Petrus, yang selalu tulus dan impulsif, mengatakan, "Hmm! Bagiku, akan lebih baik jika masing-masing dari kami patah kaki, atau bahkan kepala kami cedera, daripada..."

"Tapi apa yang terjadi?"

"Guru, kami pikir lebih baik datang untuk mengakhiri..."

Bartolomeus sedang berbicara, ketika Petrus menyelanya, 'Cepatlah katakan pada-Nya!" Dan dia mengakhiri, "Yudas sudah menjadi setan sejak Engkau pergi. Kami tidak lagi bisa bicara atau beragumen. Dia sudah bertengkar dengan semua orang... Dan dia sudah mengguncang semua pelayan Eliza dan orang-orang lain juga..."

"Mungkin dia menjadi cemburu karena Engkau telah membawa Simon bersama-Mu..." kata Bartolomeus dengan nada minta maaf, ketika dia melihat bahwa wajah Yesus sudah menjadi sangat serius.

"Omong kosong! Cemburu apa?! Berhentilah membelanya!... Atau aku akan mulai bertengkar denganmu untuk melampiaskan perasaanku, karena aku tidak berkelahi dengannya... Karena, Guru, aku berhasil bersikap tenang! Bayangkan! Tenang! Demi menaati-Mu dan demi Engkau... Betapa upaya susah payah! Baiklah. Ketika Yudas pergi dengan membanting pintu, kami berunding satu sama lain... dan kami pikir lebih baik pergi untuk mengakhiri kegemparan di Bethzur dan... untuk menghindari meninju telinganya... Dan Bartolomeus dan aku segera berangkat. Aku meminta yang lain-lainnya untuk membiarkanku pergi segera, sebelum dia kembali... karena... karena aku merasa tidak bisa mengendalikan diri lagi... Baiklah. Aku sudah mengatakannya kepada-Mu. Sekarang Engkau boleh mencelaku jika Engkau pikir bahwa aku sudah berbuat salah."

"Kamu sudah melakukan hal yang benar. Kamu semua sudah melakukan hal yang benar."

"Yudas juga? Oh! Tidak, Tuhan-ku! Jangan katakan itu! Dia mempermalukan dirinya sendiri!"

"Tidak. Dia tidak melakukan hal yang benar. Tetapi, bukan hakmu untuk menghakiminya."

"Tidak, Tuhan…" Kata "tidak"-nya diucapkan dengan susah payah.

Ada keheningan sejenak. Kemudian Petrus bertanya, "Tetapi, maukah Engkau setidaknya mengatakan mengapa Yudas tiba-tiba menjadi seperti itu? Dia tampak sudah menjadi begitu baik! Semuanya begitu menyenangkan! Aku berdoa dan melakukan kurban agar hal itu bertahan lama... Karena aku tidak sanggup melihat-Mu bersedih. Dan Engkau bersedih apabila kami berperilaku buruk... Dan sejak hari raya Pentahbisan Bait Allah, aku tahu bahwa bahkan kurban sesendok madu pun sangat berharga... Seorang murid, murid yang termuda, seorang anak laki-laki miskin, harus mengajarkan kebenaran ini padaku, rasul-Mu yang bodoh. Tetapi aku tidak mengabaikannya. Karena aku melihat buahnya. Karena aku juga, meskipun bodoh, sudah memahami sesuatu melalui terang Kebijaksanaan yang membungkuk ramah kepadaku, menyentuhku, seorang nelayan kasar, seorang pendosa. Aku sudah mengerti bahwa kami harus mengasihi-Mu tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan menyelamatkan jiwa-jiwa dengan kurban kami, demi memberi-Mu sukacita, dan tidak melihat-Mu seperti Engkau sekarang ini, seperti Engkau saat di Shebat. Engkau begitu pucat dan sedih, Guru dan Tuhan-ku, Yang tidak layak kami miliki, Yang tidak kami pahami, karena kami adalah cacing-cacing di dekat-Mu, Putra Allah, kami adalah lumpur di dekat-Mu, Sang Bintang, kami adalah kegelapan, Engkau adalah Terang. Tetapi itu bukannya sia-sia! Itu benar! Persembahanku yang tak berharga... begitu tak berharga... yang dilakukan dengan begitu tak layak... Apakah gunanya itu? Adalah kebanggaan di pihakku untuk percaya bahwa itu mungkin berguna... Ampunilah aku. Tetapi aku memberi-Mu apa yang aku miliki. Aku mempersembahkan diriku untuk memberi-Mu apa yang aku miliki. Dan aku pikir aku dibenarkan, karena aku mengasihi-Mu, Allah-ku, dengan segenap diriku, dengan segenap hatiku, dan dengan segenap jiwaku, dengan segenap kekuatanku, seperti ada tertulis. Dan sekarang aku juga mengerti ini dan aku juga mengatakan apa yang selalu dikatakan Yohanes, malaikat kita, dan aku mohon kepada-Mu (dan dia berlutut di kaki Yesus) untuk menambahkan kasih-Mu dalam diri Simon-Mu yang malang, agar bisa bertambahlah kasihku kepada-Mu, Allah-ku." Dan Petrus prostratio untuk mencium kaki Yesus, dan tinggal tetap demikian.

Bartolomeus, yang selama itu mendengarkan, mengagumi dan mengiyakan, dan menirunya.

"Berdirilah, sahabat-sahabat-Ku. Kasih-Ku bertumbuh semakin dalam di dalam dirimu dan akan semakin bertumbuh. Kiranya kamu diberkati karena hatimu. Kapan yang lain-lainnya datang?"

"Sebelum matahari terbenam."

"Baiklah. Yohana, Eliza, dan Khuza juga akan kembali sebelum matahari terbenam. Kita akan melewatkan hari Sabat di sini, lalu kita akan pergi."

"Ya, Tuhan-ku. Tetapi mengapa Yohana memanggil-Mu dengan begitu mendesak? Tidak bisakah dia menunggu? Sudah diatur sebelumnya agar kami datang kemari! Karena ketidak-bijaksanaannya itu dia sudah menyebabkan semua masalah ini!..."

"Jangan mencela dia, Simon anak Yunus. Dia bertindak berdasarkan kebijaksanaan dan kasih. Dia memanggil-Ku karena ada jiwa-jiwa yang perlu diteguhkan dalam niat baik mereka."

"Ah! Kalau begitu aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi... Tapi, Tuhan-ku, mengapa Yudas sudah begitu berubah?"

"Lupakan saja! Nikmati Taman Eden ini, yang begitu penuh bunga dan damai. Nikmati Tuhan-mu. Tinggalkan dan lupakan kemanusiaan dalam segala bentuk terburuknya, dalam serangannya terhadap jiwa rekanmu yang malang. Ingatlah saja untuk berdoa baginya... dengan sungguh-sungguh. Ayo. Mari kita pergi kepada anak-anak kecil itu yang menatap kita dengan penuh ketakjuban. Aku berbicara kepada mereka tentang Allah, beberapa saat yang lalu, dari jiwa ke jiwa, dengan kasih, dan aku berbicara kepada anak-anak yang lebih besar melalui hal-hal indah Allah..." Dan Dia memeluk pinggang kedua rasul-Nya dan mengarahkan langkah-Nya menuju sekelompok anak yang menantikan-Nya.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama