384. DI PERSIMPANGAN JALAN DEKAT DUSUN SALOMO.
PERUMPAMAAN TENTANG PARA UTUSAN TENAGA KERJA.             


16 Februari 1946   

Kelompok kecil itu keluar dari rumah; ada juga si laki-laki tua yang mengagumi dirinya dalam balutan jubah salah seorang rasul yang agak pendek.

"Jika kau ingin tetap di sini, bapa..." kata Yesus.

Namun laki-laki tua itu menyela-Nya, "Tidak, aku akan ikut juga. Oh! biarkan aku ikut. Aku sudah makan kemarin! Tadi malam aku sudah tidur, dan di tempat tidur! Dan hatiku tidak lagi bersusah hati! Aku merasa sekuat seorang pemuda..."

"Kalau begitu ikutlah. Kau akan bersama-Ku, bersama Bartolomeus dan Yudas saudara-Ku. Yang lainnya akan pergi berkeliling berdua-dua seperti yang Aku katakan. Kita semua akan berada di sini kembali jam enam. Pergilah! dan damai sertamu."

Mereka berpisah, sebagian menuju ke arah sungai, sebagian menuju ke arah pedesaan. Yesus membiarkan mereka pergi dan kemudian Dia yang terakhir berangkat. Dia melintasi dusun dengan berjalan perlahan-lahan dan orang-orang melihat pada-Nya: para nelayan yang kembali dari atau pergi ke sungai dan ibu-ibu rumah tangga yang rajin, yang sudah bangun di waktu fajar untuk mencuci, atau menyirami kebun sayur-mayur dan buah-buahan atau memanggang roti. Namun tak seorang pun mengatakan apa-apa.

Hanya seorang bocah laki-laki, yang sedang menggiring tujuh ekor domba ke sungai, bertanya kepada si laki-laki tua, "Hendak ke mana kau, Ananias?" Apakah kau pergi meninggalkan dusun?"

"Aku pergi bersama Rabbi. Tapi aku akan kembali bersama-Nya. Aku adalah abdi-Nya."

"Bukan. Kau adalah bapa-Ku. Setiap orang tua yang benar adalah seorang bapa dan berkat bagi tempat yang memberinya keramah-tamahan dan bagi mereka yang menolongnya. Diberkatilah mereka yang mengasihi dan menghormati orang-orang tua," kata Yesus dengan wajah khidmad.

Bocah itu menatap pada-Nya dan tampak ketakutan; dia kemudian berbisik, "Aku selalu memberikan sebagian rotiku kepada Ananias..." seolah-olah dia ingin mengatakan, "Jangan marahi aku, karena aku tidak pantas dimarahi."

"Ya. Mikhael baik padaku. Dia adalah teman dari cucu-cucuku... dan dia masih menjadi teman bagi kakek mereka. Ibunya juga baik dan dia mau membantu. Tapi dia punya sebelas anak dan mereka mencari nafkah dengan menangkap ikan..."

Beberapa perempuan menghampiri sebab terdorong rasa ingin tahu dan mendengarkan.

"Tuhan akan selalu menolong mereka yang melakukan apa yang bisa mereka lakukan untuk orang-orang yang malang. Dan selalu ada cara untuk menolong orang-orang yang malang itu. Seringkali adalah bohong jika orang berkata, 'Aku tidak bisa.' Sebab jika ada kemauan, orang akan selalu menemukan sepotong roti, selembar selimut usang, sehelai pakaian yang sudah tidak terpakai, dan memberikannya kepada orang yang tidak mempunyainya. Dan Surga mengganjari pemberian itu. Allah akan membalasmu, Mikhael, untuk potongan roti yang kau berikan pada orang tua itu." Yesus membelai bocah itu dan berjalan pergi.

Para perempuan tetap berdiri di tempatnya; mereka merasa malu. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada si bocah yang menjawab apa yang dia ketahui. Dan perempuan-perempuan pelit itu diliputi rasa gentar, sebab mereka sudah menutup hati terhadap kebutuhan laki-laki tua itu…

Sementara itu Yesus telah tiba di rumah terakhir dan Dia mengarahkan langkah-Nya menuju sebuah persimpangan jalan, yang dari jalan utamanya menghantar orang ke dusun kecil. Dari sana mereka bisa melihat caravan-caravan di jalan utama yang kembali ke kota-kota Dekapolis dan Perea.

"Mari kita pergi ke sana dan berkhotbah. Apakah kau juga ingin menyampaikan khotbah, bapa?"

"Aku tidak bisa. Apa yang bisa aku katakan?"

"Kau bisa. Jiwamu sadar akan kebijaksanaan dalam memaafkan dan setia kepada Allah dan berserah juga di saat-saat duka. Dan kau tahu bahwa Allah menolong mereka yang berharap kepada-Nya. Pergi dan katakan itu kepada para peziarah."

"Oh! Aku bisa melakukan itu!"

"Yudas, pergilah bersamanya. Aku akan tetap di sini di persimpangan jalan bersama Bartolomeus."

Dan ketika tiba di sana, Dia berhenti di bawah naungan sekelompok pohon platanus yang rindang dan menanti dengan sabar.

Ladang-ladang di sekitarnya memamerkan panenan dan kebun-kebun buah-buahan yang indah. Mereka tampak segar di awal pagi dan sungguh menyukakan hati mengaguminya. Dan caravan-caravan melintas di sepanjang jalan... Hanya sedikit orang yang melihat ke kedua orang yang bersandar pada batang pohon platanus itu. Mungkin mereka mengira bahwa keduanya adalah peziarah yang letih. Namun beberapa orang mengenali Yesus dan menunjuk ke arah-Nya atau membungkuk hormat untuk menyalami-Nya.

Akhirnya ada seseorang yang menghentikan keledai kecilnya dan keledai-keledai kerabatnya, turun dari tunggangannya dan menghampiri Yesus seraya berkata, "Tuhan sertamu, Rabbi! Aku dari Arbela. Aku mendengar tentang-Mu saat musim gugur yang lalu. Ini istriku, ini saudarinya, seorang janda, dan ini ibuku. Laki-laki tua ini adalah saudara ibuku. Dan pemuda itu adalah saudara istriku. Dan ini anak-anak kami. Berilah kami berkat-Mu, Guru. Aku mendengar bahwa Engkau berbicara di arungan. Tapi aku tiba di sana baru tadi malam... Maukah Engkau mengatakan sepatah dua patah kata kepada kami?"

"Sabda tidak pernah menolak. Tapi tunggulah beberapa menit, karena orang-orang lain akan datang..."

Sesungguhnya orang-orang dari dusun itu tiba di persimpangan jalan; mereka terlihat sangat muram. Orang-orang lain, yang sudah melewati jalan utama untuk menuju ke utara, kembali lagi, sementara yang lainnya berhenti karena rasa ingin tahu, turun dari kudanya atau tetap duduk di punggung kuda. Kelompok kecil pendengar semakin bertambah jumlahnya.

Yudas Alfeus juga kembali bersama si laki-laki tua; ada juga dua orang sakit bersama mereka dan lebih banyak lagi orang-orang sehat.

Yesus mulai berbicara.

"Mereka yang menempuh jalan Tuhan, jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan, dan mereka melakukannya dengan niat baik, pada akhirnya akan menemukan Tuhan. Kamu sudah menemukan Tuhan yang datang kemari sesudah kamu memenuhi kewajibanmu sebagai orang Israel yang setia pada Paskah suci. Dan inilah Kebijaksanaan yang berbicara kepadamu, seperti yang kamu inginkan, di persimpangan jalan ini, di mana Penyelenggaraan Ilahi telah mempertemukan kita. Manusia menemui banyak persimpangan jalan dalam perjalanan hidupnya. Lebih banyak persimpangan jalan yang rohani daripada yang material. Setiap hari hati nurani kita harus menghadapi pertigaan dan perempatan jalan Kebaikan dan Kejahatan. Dan orang harus memilih dengan hati-hati agar tidak melakukan kesalahan. Dan jika orang melakukan kesalahan, dia harus kembali dengan rendah hati saat dia dipanggil dan diperingatkan. Dan meskipun jalan Kejahatan, atau juga jalan suam-suam kuku, terlihat lebih indah, orang harus memilih jalan Kebaikan yang tidak rata tapi aman.

Dengarkanlah sebuah perumpamaan.

Sekelompok pendatang, yang sudah datang dari daerah-daerah yang jauh untuk mencari pekerjaan, tiba di perbatasan suatu negeri. Di perbatasan itu ada utusan-utusan yang dikirim oleh berbagai tuan untuk mempekerjakan tenaga kerja. Ada yang mencari orang untuk bekerja di tambang, ada yang mencari orang untuk bekerja di ladang, ada yang mencari pelayan untuk seorang tuan kaya yang jahat, dan ada pula yang mencari prajurit untuk seorang raja yang tinggal di kastil di puncak gunung, yang hanya bisa dicapai dengan melewati suatu jalanan yang sangat curam. Sang raja membutuhkan prajurit-prajurit, tetapi dia menginginkan orang-orang yang tanpa kekerasan, yakni orang-orang yang bijaksana, untuk mengutus mereka ke berbagai kotanya guna menguduskan rakyatnya. Itu sebabnya mengapa raja tinggal di atas sana, di semacam pertapaan, yakni demi menyempurnakan para abdi-Nya, dengan menjauhkan mereka dari kerusakan oleh gangguan duniawi, yang menunda atau membatalkan penyempurnaan roh mereka. Dia tidak menjanjikan gaji yang tinggi, atau kehidupan yang nyaman. Namun dia meyakinkan mereka bahwa mereka akan memperoleh kekudusan dan ganjaran dalam pelayanannya. Itulah yang dikatakan para utusannya kepada mereka yang tiba di perbatasan. Para utusan dari pemilik tambang dan ladang sebaliknya berkata, 'Pekerjaan ini tidak menjanjikan kehidupan yang nyaman, tapi kamu akan bebas dan kamu akan mendapatkan penghasilan yang cukup untuk bersenang-senang.' Dan mereka yang mencari pelayan untuk seorang tuan yang jahat, menjanjikan makanan yang berlimpah, kehidupan yang berpangku tangan, kenikmatan, kekayaan, 'Yang perlu kamu lakukan hanyalah memberikan persetujuan pada keinginannya yang datang tiba-tiba dan penuh tuntutan - oh! sama sekali tidak menyakitkan! - dan kamu akan bisa bersenang-senang seperti seorang satrap [wali negeri].'

Para pendatang saling berkonsultasi satu sama lain. Mereka tidak mau berpisah… Mereka bertanya, 'Ladang dan tambang, istana tuan yang kaya dan istana raja, apakah semuanya saling berdekatan?'

'Oh! tidak!" jawab para utusan. 'Datanglah ke persimpangan jalan itu dan kami akan menunjukkan kepadamu jalan-jalan yang berbeda.' Mereka pun pergi.

'Ini dia! Jalan yang mulus, berbunga-bunga, rindang, serta mengagumkan, dengan sumber mata air yang sejuk, menghantar ke istana tuan yang kaya,' kata para utusan yang mencari pelayan.

'Ini dia! Jalan yang berdebu, melintasi ladang-ladang yang menyenangkan, menghantar ke ladang-ladang. Areanya terpapar matahari, tapi seperti yang kamu lihat, bagaimanapun semuanya sungguh indah,' kata para utusan pemilik ladang.

'Ini dia! Jalan yang bergalur-galur oleh roda-roda berat kendaraan dan yang bernoda-noda gelap, menghantar ke tambang-tambang. Tidak indah pun tidak jelek," kata para utusan pemilik tambang.

'Ini dia! Jalan yang curam ini, yang terbentang di antara batu-batu yang terbakar terik matahari, dengan semak duri dan jurang-jurang di sana-sini, yang menghambat orang, tetapi merupakan pertahanan yang sangat baik terhadap serangan musuh, menghantar ke arah timur, ke tempat yang khidmad, nyaris dapat dikatakan ke kastil yang sakral, di mana roh-roh disempurnakan dalam Kebaikan,' kata para utusan sang raja.

Dan para peziarah melihat dan melihat. Mereka mempertimbangkan... Mereka tergoda oleh banyak hal, dan hanya ada satu pilihan saja. Dan perlahan-lahan mereka berpisah. Mereka bersepuluh. Tiga orang menuju ladang... dan dua menuju tambang. Sisanya saling berpandangan satu sama lain. Dua orang dari mereka berkata, 'Ikutlah bersama kami untuk datang kepada sang raja. Kita tidak akan mendapatkan keuntungan dan kita tidak akan bersenang-senang di bumi, tapi kita akan menjadi orang-orang kudus selama-lamanya.'

'Jalan itu yang di sana? Apa kau pikir kami ini gila? Tanpa keuntungan? Tanpa kesenangan? Tidak ada gunanya meninggalkan segala sesuatunya dan pergi ke pengasingan untuk mendapatkan bahkan lebih sedikit dari apa yang kita miliki di negeri kita. Kami ingin mendapatkan penghasilan banyak dan bersenang-senang…'

'Tapi kamu akan kehilangan Kebaikan yang kekal! Tidakkah kamu dengar bahwa tuan itu adalah seorang yang jahat?'

'Omong kosong! Sebentar waktu saja dan kami akan meninggalkannya, tapi kami akan sudah bersenang-senang dan menjadi kaya.'

'Kamu tidak akan pernah bisa terlepas darinya. Kelompok pertama sudah salah dengan menuruti keserakahannya akan uang. Tapi kamu! Kamu dipimpin oleh keserakahanmu untuk bersenang-senang. Oh! Janganlah menukar takdir kekalmu dengan waktu yang sekejap!'

'Kamu bodoh dan kamu percaya pada janji-janji idealis. Kami mengejar fakta. Selamat tinggal!...' dan mereka mulai berlari menyusuri jalan yang mulus, teduh, berbunga-bunga,  nan indah berlimpah air. Di ujung jalan tampak istana menakjubkan si tuan jahat yang tukang makan dan minum;  istana itu kelihatan berkilau-kilau di bawah sinar matahari.

Dua orang yang tersisa mulai menempuh jalan yang curam dengan bercucuran airmata dan berdoa. Dan mereka nyaris berputus asa sesudah beberapa meter, karena jalan itu sangat sulit. Namun mereka bertekun. Dan tubuh mereka seolah semakin ringan seiring jauhnya perjalanan yang mereka tempuh, letih mereka dihibur oleh sukacita yang ajaib. Mereka terengah-engah dan sekujur tubuh mereka tergores-gores saat mereka tiba di puncak gunung dan diperkenankan menghadap sang raja, yang memberitahu mereka apa yang dia harapkan dari mereka supaya mereka menjadi laskar-laskarnya yang gagah berani, dan dia mengakhirinya dengan mengatakan, 'Pikirkan tentang hal itu selama delapan hari dan kemudian barulah beritahu aku.'

Dan mereka merenungkannya dan bergulat sengit dengan si Penggoda, yang hendak menakut-nakuti mereka dengan tubuh mereka yang berkata, 'Kau membuatku menderita,' dengan dunia, yang kenangannya masih memikat. Namun, mereka menang. Mereka teguh. Dan mereka menjadi laskar-laskar Kebaikan. Maut pun tiba, yakni pemuliaan mereka. Dari ketinggian Surga mereka melihat ke dalam jurang yang sangat dalam di mana orang-orang yang sudah pergi kepada tuan yang jahat berada. Mereka dirantai juga sesudah masa hidup mereka dan mereka mengerang dalam kegelapan Neraka. 'Dan mereka ingin bebas dan bersenang-senang!' kata kedua orang kudus itu.

Dan ketiga jiwa terkutuk itu melihat mereka dan mengutuki mereka dan semua orang, terutama Allah, dengan cara yang sangat mengerikan, dengan berkata, 'Kamu semua sudah menipu kami!'

'Tidak. Kamu tidak bisa bilang begitu. Kamu sudah diperingatkan akan bahayanya. Kamu yang menginginkan kehancuranmu sendiri,' jawab jiwa-jiwa terberkati, yang tetap tenang bahkan saat melihat dan mendengar cemooh tidak pantas dan kutukan yang dilontarkan kepada mereka.

Dan mereka melihat orang-orang yang bekerja di ladang dan di tambang di berbagai wilayah Purgatorium, dan orang-orang itu melihat mereka dan mengatakan, 'Dahulu kami ini tidak baik pun tidak pula jahat, dan sekarang kami menyilih sikap suam-suam kuku kami. Doakanlah kami!'

'Oh! Kami akan mendoakanmu! Tapi kenapakah dulu kamu tidak ikut bersama kami?'

'Karena kami bukan setan, tapi manusia… Kami kurang memiliki kemurahan hati. Kami mencintai apa yang sifatnya sementara, secara jujur, lebih daripada apa yang Kekal dan Kudus. Sekarang kami belajar untuk mengenal dan mengasihi dengan keadilan.'

Itulah akhir perumpamaan. Setiap orang berada di persimpangan jalan. Di persimpangan jalan kekal. Berbahagialah orang yang teguh dan murah hati dalam mengikuti jalan Kebaikan. Kiranya Allah beserta mereka. Dan kiranya Allah menjamah dan mempertobatkan orang-orang yang tidak demikian dan menuntun mereka menjadi demikian. Pergilah dalam damai."

"Dan bagaimana dengan orang-orang sakit?"

"Ada apa dengan perempuan itu?"

"Demam ganas merusak tulang-tulangnya. Dia sudah pergi sampai ke Laut Besar [Laut Mediterania]. Tapi tanpa sedikit pun lebih baik."

Yesus membungkuk di atas perempuan yang sakit itu dan bertanya kepadanya, "Menurutmu siapakah Aku ini?"

"Dia yang selama ini aku cari. Mesias Allah. Kasihanilah aku, karena aku sudah dengan begitu susah payah mencari-Mu!"

"Semoga imanmu memberikan kesehatan yang baik untuk tangan kakimu maupun untuk hatimu. Dan bagaimana denganmu, sobat?"

Laki-laki itu tidak menjawab. Perempuan yang menyertainya menjawab, "Lidahnya digerogoti tumor. Dia tidak bisa berbicara dan dia sekarat kelaparan." Sesungguhnya, laki-laki itu tinggal tulang terbungkus kulit.

"Apakah kau punya iman bahwa Aku bisa menyembuhkanmu?" Laki-laki itu mengangguk.

"Buka mulutmu," perintah Yesus. Dan dengan wajah-Nya dekat ke mulut mengerikan yang digerogoti tumor itu, Dia mengembuskan napas ke dalamnya seraya berkata, "Aku menginginkannya!"

Sesaat kemudian dua seruan terdengar, "Tulang-tulangku sehat kembali!"; "Maria, aku sembuh! Lihat! Lihat mulutku. Hosana! Hosana!" dan dia hendak berdiri, tapi dia terhuyung-huyung karena lemah.

"Beri dia sesuatu untuk dimakan," perintah Yesus. Dan Dia hendak undur diri.

"Jangan pergi!" Orang-orang sakit lainnya akan datang! Yang lainnya akan kembali... Sembuhkan mereka juga!" teriak orang banyak.

"Setiap pagi Aku akan berada di sini dari fajar hingga jam enam. Para relawan hendaknya mengumpulkan para peziarah bersama-sama."

"Aku akan melakukannya, Tuhan!" beberapa orang berkata. "Semoga Allah memberkatimu untuk itu."

Dan Yesus berjalan menuju desa bersama para murid yang pertama menyertai-Nya dan bersama para murid lain yang datang kemudian, beberapa datang saat Dia tadi berbicara dan yang sudah membawa orang-orang lain bersama mereka.

"Tapi di mana Petrus dan Yudas Keriot?" tanya Yesus.

"Mereka pergi ke kota terdekat. Mereka punya banyak uang. Mereka pergi berbelanja..."

"Ya. Yudas melakukan mukjizat dan dia sangat bergembira," komentar Simon Zelot seraya tersenyum.

"Juga Andreas, dan dia mendapat seekor domba, sebagai hadiah. Dia menyembuhkan kaki patah seorang gembala, yang menghadiahinya itu. Kita akan memberikannya kepada bapa tua. Susu baik untuk orang tua..." kata Yohanes seraya membelai laki-laki tua yang berbahagia itu.

Mereka masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makanan...

Mereka hendak duduk di meja makan, ketika kedua rasul yang menghilang itu datang, sarat barang bawaan seperti keledai dan dengan diikuti sebuah kereta yang memuat tikar-tikar yang biasa digunakan sebagai tempat tidur oleh orang-orang miskin di Palestina.

"Maafkan aku, Guru. Tapi ini diperlukan. Kami sekarang baik-baik saja," kata Petrus.

Dan Yudas, "Lihat. Kami membeli kebutuhan pokok, yang bersih dan sangat sederhana. Seperti kesukaan-Mu," dan mereka sibuk menurunkan barang, mengosongkan kereta pengangkut barang itu.

"Duabelas tempat tidur kecil dan duabelas tikar. Beberapa peralatan makan. Ini benihnya. Dan ini burung-burung merpatinya. Dan ini uangnya. Dan besok akan ada banyak orang. Huh! Betapa panas! Tapi semuanya akan baik-baik saja sekarang. Dan apa yang telah Engkau lakukan, Guru?..."

Dan sementara Yesus menceritakannya, mereka semua duduk dengan gembira di meja makan.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama