381. DI RUMAH NIKE.             


12 Februari 1946   

Meskipun jalanan melintasi wilayah pedesaan yang asri, dengan pepohonan rindang di sepanjang kedua sisi jalan, hari terasa sepanas oven di bawah terik mentari tengah hari. Panas dan aroma roti yang sedang dipanggang dalam oven merebak dari ladang-ladang, di mana tanam-tanaman tumbuh dengan cepat siap untuk dipanen. Cahaya menyilaukan. Setiap bulir gandum tampak bagai sebuah lampu teramat mungil bersepuh emas di antara glume dan bulu-bulu jelai runcing keemasan, dan sinar matahari yang gemerlap pada batang-batang gandum menyusahkan mata melihat, bagai jalanan yang menyilaukan. Sia-sia saja para peziarah mencari kelegaan pada dedaunan. Jika mereka mengarahkan mata ke arah sana, itu berarti mereka membiarkan mata lebih lagi terpapar silau terik sinar matahari, dan mereka harus segera mengarahkannya ke bawah, untuk menghindari siksaan seperti itu, dan memejamkannya, dengan membiarkan hanya ada celah sempit di antara bulu mata mereka yang berdebu dan mata yang memerah karena iritasi. Keringat menetes turun di pipi mereka yang berdebu dengan meninggalkan coretan-coretan mengkilap di pipi. Mereka menyeret kaki mereka yang lelah sehingga menerbangkan lebih banyak debu jalanan, yang menambah siksaan mereka.

Yesus menghibur para rasul-Nya yang letih. Walau Dia berkeringat juga, Dia telah menutupi kepala-Nya dengan mantol-Nya, untuk melindunginya dari matahari, dan menasihati yang lain untuk melakukan hal yang sama. Mereka taat tanpa bicara. Tenaga mereka sudah terlalu terkuras untuk bisa menghamburkan napas dengan keluhan yang biasa mereka lakukan. Mereka melangkah maju bagai orang mabuk...

"Semangat! Ada sebuah rumah di sana di ladang..." kata Yesus.

"Jika itu sama seperti yang lainnya... tidak akan ada apa pun selain susah payah berjalan begitu jauh melintasi ladang tanpa tujuan," gerutu Petrus dari dalam mantolnya. Yang lain mengiyakan dengan menggumamkan 'hmm!' yang menyedihkan.

"Aku akan pergi. Kamu tinggal di sini di naungan kecil ini."

"Tidak. Kami akan ikut dengan-Mu. Mereka setidaknya punya sebuah sumur, karena tidak ada kekurangan air di sini... dan kita akan minum untuk memadamkan api dalam diri kita."

"Tidak baik minum saat kamu sangat panas."

"Kita akan mati... tapi itu akan lebih baik daripada apa yang ada pada kita sekarang..."

Yesus tidak menjawab. Dia menghela napas panjang dan Dia berjalan mendahului mereka di sepanjang jalan melintasi ladang gandum.

Ladang tidak terbentang sejauh rumah, tetapi berakhir di perbatasan sebuah kebun buah-buahan yang teduh nan indah, yang membentuk sebuah lingkaran menyejukkan di sekeliling rumah, karena cahaya dan sengatan panas diredakan di dalamnya. Dan para rasul bergegas masuk ke dalamnya, dengan "ah!" kelegaan. Namun Yesus melanjutkan perjalanan, tanpa menghiraukan permintaan mereka untuk berhenti barang sejenak.

Dekut burung merpati, derit gerobak, dan suara tenang para perempuan terdengar dari rumah dan tersebar dalam sunyi senyap pedesaan.

Yesus tiba di sebuah lapangan terbuka kecil, yang mengelilingi rumah seperti sebuah jalan luas yang bersih, di mana sebuah pergola tanaman anggur membentangkan dahan-dahannya yang saling terjalin dan membentuk sebuah naungan yang melindungi. Ada dua buah sumur, satu di sisi kiri dan satu lagi di sisi kanan rumah, dengan dinaungi tanaman anggur. Ada beberapa petak bunga di sisi-sisi tembok rumah. Tirai-tirai berwarna terang dengan garis-garis gelap berkibar-kibar di pintu-pintu yang terbuka. Suara para perempuan dan suara piring datang dari sebuah ruangan. Yesus melangkah ke sana dan saat Dia lewat, selusin burung merpati, yang sedang mematuk-matuk biji-bijian yang tersebar di tanah, terbang dengan suara kepakan sayap yang keras. Kebisingan itu menarik perhatian orang-orang yang berada dalam ruangan berbarengan dengan tarikan tirai, yang Yesus tarik ke kanan dengan tangan-Nya, sementara seorang pelayan menariknya ke kiri dan tinggal tercengang di hadapan tamu Yang Tak Dikenal.

"Damai bagi rumah ini! Bolehkah Aku, sebagai seorang peziarah, mendapatkan sedikit minuman?" tanya Yesus yang berdiri di ambang ruangan, sebuah dapur besar di mana para pelayan sedang mencuci piring yang tadi digunakan untuk makan siang.

"Nyonya rumah tidak akan menolak-Mu. Aku akan pergi dan memberitahukannya."

"Ada duabelas orang lagi bersama-Ku, dan jika hanya Aku yang akan mendapatkan minuman untuk Diriku sendiri, Aku lebih suka tidak minum."

"Kami akan memberitahukannya kepada nyonya dan dia pasti..."

"Guru dan Tuhan! Engkau di sini? Di rumahku? Rahmat apakah ini?" sela sebuah suara, dan seorang perempuan, Nike, bergegas maju dan berlutut untuk mencium kaki Yesus.

Para pelayan perempuan terpaku seperti patung. Seorang yang sedang mencuci piring berdiri dengan lap di tangan kanannya dan piring dengan air menetes di tangan kirinya, yang memerah karena air yang mendidih. Seorang yang lain, yang sedang memoles pisau, dengan berjongkok di sudut, bangkit berdiri untuk melihat lebih jelas, dan pisau itu jatuh ke lantai dengan berdenting. Yang ketiga, yang sedang membersihkan abu dari kompor, mendongakkan wajahnya yang belepotan abu dan tetap seperti itu, muncul dengan mulut ternganga dari perapian.

"Aku ini. Banyak rumah yang sudah menolak kami. Kami lelah dan haus."

"Oh! Masuklah! Bukan di sini. Mari kita masuk ke ruangan-ruangan yang menghadap ke utara, yang sejuk dan teduh. Dan kau, siapkan air supaya mereka bisa membasuh diri, dan bawakan minuman aromatik. Dan kau, pergi dan bangunkan si bendahara dan minta dia untuk memberimu makanan ringan, sementara menunggu makanan..."

"Tidak, Nike! Aku bukan tamu duniawi. Aku adalah Guru-mu yang teraniaya. Aku lebih meminta naungan dan kasih, daripada makanan. Aku meminta belas kasihan, lebih untuk sahabat-sahabat-Ku daripada untuk Diri-Ku sendiri..."

"Ya, Tuhan. Tetapi kapankah Engkau terakhir kali makan?"

"Mereka... Aku tidak tahu. Aku, kemarin saat fajar, bersama mereka."

"Jadi Engkau bisa lihat... Aku tidak berlebihan. Tetapi sebagai seorang saudari atau seorang ibu, aku akan memberikan kepada setiap orang apa yang dibutuhkannya, dan sebagai seorang abdi dan murid, aku akan memberi-Mu hormat dan bantuan. Di manakah saudara-saudara yang lainnya?"

"Di kebun buah-buahan. Tapi Aku pikir mereka akan segera datang. Aku bisa mendengar suara mereka."

Nike berlari keluar, dia melihat mereka dan berseru memanggil mereka dan lalu dia membawa mereka bersama Yesus masuk ke dalam sebuah aula masuk yang sejuk, di mana sudah ada baskom-baskom dan handuk-handuk, sehingga mereka bisa mencuci muka, membasuh tangan dan kaki serta menyingkirkan debu dan keringat.

"Aku mohon, tanggalkanlah pakaian-Mu yang berdebu dan segera berikan kepada para pelayan. Engkau akan merasa jauh lebih baik dengan pakaian bersih dan sandal sejuk. Kemudian datanglah ke aula itu. Aku akan menunggumu di sana."

Dan Nike keluar sembari menutup pintu...

... "Ah! Sangat menyenangkan berada di tempat teduh ini dan sangat menyegarkan!" kata Petrus seraya menghela napas panjang saat memasuki ruangan di mana Nike menunggu mereka dengan ramah dan penuh hormat.

"Sukacitaku dalam memberimu kelegaan pastilah lebih besar daripada kelegaanmu, wahai rasul Tuhan-ku."

"Hmm! Rasul... Tentu saja... Tapi, dengar, Nike, ayo kita tinggalkan upacara basa basi. Kau: tanpa mengedepankan fakta bahwa kau kaya dan bijaksana; aku, tanpa mengedepankan fakta bahwa aku adalah seorang rasul. Jadi... seperti saudara dan saudari yang baik, yang saling membutuhkan bantuan untuk jiwa dan raga mereka. Pikiran bahwa aku adalah seorang 'rasul' membuatku terlalu takut."

"Apa yang kau takutkan?" tanya perempuan yang takjub itu seraya tersenyum.

"Takut menjadi... terlalu besar... sehubungan dengan aku hanyalah tanah liat, dan bahwa aku  mungkin roboh karena beratnya... Aku takut... menjadi sombong dengan kebanggaan diri... Aku takut bahwa... yang lain-lainnya, maksudku para murid dan jiwa-jiwa yang baik, sebab mengetahui bahwa aku seorang rasul, mungkin menjauh dariku dan bungkam bahkan meski aku melakukan kesalahan... Dan aku tidak ingin itu karena di antara para murid, juga di antara mereka yang percaya dengan cara yang sederhana, ada banyak orang yang lebih baik dariku, beberapa orang dalam hal ini, beberapa orang dalam hal itu, dan aku ingin berlaku seperti... seperti lebah di sana, yang sudah masuk, dan dari keranjang buah-buahan yang sudah kau suruh bawa masuk untuk kami, ia menghisap sedikit di sini dan sedikit di sana, dan sekarang, untuk menyelesaikan tugasnya, ia menghisap bunga-bunga itu dan lalu ia akan keluar dan menghisap semanggi dan bunga cornflower, chamomile dan bindweed. Ia mengambil sedikit dari semuanya. Dan aku harus berbuat yang sama..."

"Tapi kau menghisap bunga yang terindah! Sang Guru."

"Ya, Nike. Tetapi dari Dia aku belajar untuk menjadi anak Allah. Manusia akan mengajariku untuk menjadi manusia."

"Kau sudah demikian."

"Tidak, perempuan. Aku sedikit kurang dari binatang. Dan aku benar-benar tidak tahu bagaimana Guru bisa tahan menghadapiku..."

"Aku bisa tahan karena kau tahu siapa dirimu, dan Aku bisa bekerja atasmu semudah orang menguleni adonan. Tetapi jika kau keras kepala dan melawan, dan terutama jika kau sombong, aku akan mengusirmu seakan-akan kau adalah setan," kata Yesus.

Beberapa pelayan perempuan masuk dengan cawan-cawan berisi susu dingin, dan amphora-amphora berpori, yang menjaga agar susu tetap sangat dingin.

"Minumlah," kata Nike. "Dan Engkau akan bisa beristirahat hingga petang. Ada kamar-kamar dan tempat tidur di rumah. Dan jika aku tidak memilikinya, aku akan memberikan milikku, untuk membuat-Mu beristirahat. Guru, sekarang aku akan undur diri untuk menangani urusan rumah tangga. Engkau semua tahu di mana bisa mencariku dan para pelayan."

"Pergilah dan jangan khawatirkan kami."

Nike keluar. Para rasul melampiaskan rasa lapar mereka pada makanan ringan yang ditawarkan. Dan sambil makan dengan lahap, mereka berbicara dan berkomentar.

"Buah yang lezat!"

"Dan seorang murid yang baik."

"Rumah yang indah. Tidak mewah, tidak juga miskin."

"Dan itu dikendalikan oleh seorang perempuan yang baik dan tegas. Ada keteraturan, kerapian, rasa hormat, dan sekaligus kelembutan."

"Ada ladang-ladang yang indah di sekelilingnya! Suatu keberuntungan!"

"Ya. Dan ada perapian!..." kata Petrus, yang tidak lupa akan apa yang dideritanya. Yang lain tertawa.

"Tapi sangat menyenangkan di sini. Tahukah Engkau sebelumnya bahwa Nike tinggal di sini?" tanya Tomas.

"Tidak lebih tahu darimu. Aku tahu bahwa dia baru saja membeli properti dekat Yerikho. Tapi hanya itu saja. Malaikat peziarah yang terkasih yang menghantar kita ke sini."

"Sebetulnya, dia menghantar-Mu. Kami tidak mau ikut."

"Aku tadinya sudah siap menjatuhkan diri ke tanah dan membiarkan matahari membakarku daripada melangkah lebih jauh," kata Matius.

"Mustahil bepergian pada siang hari. Matahari sangat terik tahun ini. Kelihatannya menggila juga."

"Ya, kita akan melakukan perjalanan pada pagi dan sore hari. Tapi kita akan segera tiba di atas di pegunungan. Di sana lebih sejuk."

"Ke rumahku ?" tanya Iskariot.

"Ya, Yudas. Dan ke Yuta dan ke Hebron."

"Tidak ke Askelon, eh?"

"Tidak, Petrus. Kita akan pergi ke tempat yang belum pernah kita kunjungi. Kita masih akan harus menderita karena sengatan matahari dan panas. Sedikit kurban demi Aku dan demi jiwa-jiwa. Istirahatlah sekarang. Aku akan pergi ke kebun buah-buahan untuk berdoa."

"Tapi apakah Engkau tidak pernah lelah? Apakah tidak lebih baik jika Engkau juga beristirahat?" tanya Yudas Alfeus.

"Mungkin Guru ingin berhenti di sini..." kata Zelot.

"Tidak. Kita akan berangkat saat fajar untuk menyeberangi sungai di jam-jam yang sejuk."

"Kemanakah kita akan pergi sesudah Sungai Yordan?"7

"Orang banyak akan pulang setelah Paskah. Terlalu banyak orang yang mencari-Ku dengan sia-sia di Yerusalem. Aku akan berkhotbah dan menyembuhkan yang sakit di arungan. Kemudian kita akan pergi dan merapikan rumah Salomo. Ini akan tak terhingga nilainya bagi kita..."

"Tapi, tidakkah kita akan kembali ke Galilea?"

"Kita akan pergi ke sana juga. Tapi kita akan tinggal di bagian selatan ini untuk waktu yang lama, dan suatu tempat bernaung akan sangat berguna bagi kita. Tidurlah. Aku akan pergi."




Santap malam pastilah sudah usai. Malam telah larut. Butiran embun menetes dari hiasan di atas tembok gerbang rumah dan menggema di dedaunan pohon anggur. Ada tak terbilang banyaknya bintang di langit. Terdengar kerik jangkrik dan kicau burung-burung malam. Hening di seluruh negeri.

Para rasul sudah undur diri. Namun Nike masih terjaga; dia mendengarkan Guru. Yesus duduk kaku di sebuah tempat duduk batu di tembok rumah. Perempuan itu berdiri di hadapan-Nya, dalam sikap penuh perhatian dan hormat.

Yesus pastinya tengah menyimpulkan suatu percakapan yang sudah dimulai. Dia mengatakan, "Ya. Komentar itu benar. Tetapi Aku yakin bahwa si peniten, atau lebih tepatnya 'orang yang bangkit' itu tidak akan dibiarkan tanpa pertolongan Tuhan. Saat kita tadi sedang makan malam dan kau melayani dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, Aku berpikir bahwa kau adalah pertolongannya. Tadi kau katakan: 'Aku hanya bisa mengikuti-Mu untuk waktu yang singkat, karena aku harus mengurus rumah dan para pekerja rumah tangga yang baru.' Dan kau menyesalinya dan kau mengatakan bahwa andai kau tahu bahwa kau akan mendapati Aku secepat ini, kau tidak akan membeli properti ini, yang sekarang mengikatmu. Kau bisa lihat bahwa properti itu sudah bermanfaat untuk memberikan tumpangan kepada para penginjil. Jadi, itu baik. Dan semoga bermanfaat lagi... sembari menunggu untuk mengabdi Tuhan-mu dengan sempurna. Sekarang Aku meminta pelayanan darimu, demi jiwa itu, yang bangkit kembali dan penuh dengan kehendak baik, tetapi sangat lemah. Penitensi yang berlebihan mungkin bisa membuatnya tertekan, dan Setan akan bisa memanfaatkan keadaan tersebut."

"Apakah yang harus aku lakukan, Tuhan-ku?"

"Pergilah kepadanya. Temui dia setiap bulan, seolah-olah itu adalah ritual, adalah ritus kasih persaudaraan. Kau akan pergi ke Kerit dan mendaki jalan setapak di antara semak-semak dan kau akan berseru: 'Elia! Elia!' Dia akan melongok ke luar dengan terperanjat dan kau akan menyalaminya seperti ini: "Damai bagimu, saudara, dalam nama Yesus orang Nazaret.' Kau akan membawakan dia roti sebanyak dua kali, untuk hari-hari dalam sebulan. Hanya itu di musim panas. Sejak hari raya Pondok Daun dan seterusnya, kau akan membawakan dia juga empat buyung minyak setiap bulan, bersama dengan roti. Dan pada hari raya Pondok Daun bawakan dia sehelai pakaian yang terbuat dari kulit kambing, yang berat dan tahan air, serta selimut. Tidak ada yang lain."

"Dan tanpa kata?"

"Hanya yang benar-benar bermanfaat. Dia akan menanyakan Aku. Katakan padanya apa yang kau ketahui. Dia akan mempercayakan kepadamu kebimbangan hatinya, harapannya, dan semangatnya yang menurun kepadamu. Kau akan mengatakan kepadanya apa yang diinspirasikan oleh iman dan kesalehanmu. Pengorbanan itu, bagaimanapun, tidak akan berlangsung lama... Bahkan tidak sampai duabelas bulan... Maukah kau berbelas kasih kepada-Ku dan si peniten?"

"Ya, Tuhan-ku... Tapi mengapakah Engkau begitu sedih?"

"Dan mengapakah kau menangis?"

"Karena dalam perkataan-Mu aku mendengar nubuat kematian... Apakah aku akan kehilangan Engkau begitu cepat, Tuhan?" Nike menangis di balik kerudungnya.

"Jangan menangis! Akan ada begitu banyak kedamaian bagi-Ku, sesudahnya... Tidak ada lagi kebencian. Tidak ada lagi serangan. Tidak ada lagi semua ini... kekejian dosa terhadap-Ku dan sekeliling-Ku... Tidak ada lagi kontak yang mengerikan... Oh! Jangan menangis, Nike! Juruselamat-mu akan berada dalam damai. Dia akan menang..."

"Tapi sebelumnya... Aku bersama suamiku selalu membaca nubuat para nabi dan kami gemetar ngeri atas perkataan Daud dan Yesaya. Tetapi apakah benar-benar seperti itu bagi-Mu?"

"Itu dan banyak lagi..."

"Oh !... Siapakah yang akan menghibur-Mu? Siapakah yang akan melepaskan-Mu untuk wafat dengan masih berpengharapan?"

"Kasih para murid-Ku dan secara istimewa para murid perempuan-Ku."

"Kalau begitu, kasihku juga. Karena dengan begitu saja aku akan jauh dari Juruselamat-ku. Hanya saja... oh! Tuhan! Timpakan penitensi apa saja atasku, tapi berilah aku kegagahberanian untuk saat itu. Ketika Kau akan menjadi seperti 'pecahan tembikar kering,' 'dengan lidah-Mu lengket pada rahang-Mu' karena dahaga dahsyat, ketika Kau akan terlihat 'seperti penderita kusta yang menutupi wajahnya,' izinkan aku dapat mengenali-Mu sebagai Raja segala raja dan aku bisa menolong-Mu, sebagai abdi penuh bakti. Jangan sembunyikan wajah-Mu yang teraniaya dariku, ya Allah! Tetapi seperti Engkau sekarang mengizinkanku bersuka menikmati kecemerlangan-Mu, oh Bintang Fajar, izinkan aku melihat-Mu kala itu dan kiranya gambaran wajah-Mu tertanam dalam hatiku, karena, oh! juga hatiku, seperti hati-Mu, akan meleleh bagai lilin pada hari itu, sebab dukacita..." Nike sekarang berlutut, nyaris prostratio dan sesekali dia mengangkat wajahnya yang berurai airmata untuk menatap Tuhan-nya, Yang tubuhnya tampak putih dalam cahaya bulan yang putih, Yang bersandar pada tembok yang gelap.

"Kau akan mendapatkan semua itu. Dan Aku akan beroleh belas kasihmu. Dan belas kasihmu akan ikut bersama-Ku ke tiang gantungan dan dari sana akan naik ke Surga. Mahkotamu untuk selamanya. Malaikat dan manusia akan mengucapkan pujian terindah bagimu: "Di saat malapetaka, dosa, kebimbangan, dia setia, dia tidak berbuat dosa dan dia membantu Tuhan-nya.' Bangkitlah, perempuan. Dan kiranya kau diberkati mulai dari sekarang dan untuk selamanya."

Yesus meletakkan tangan-Nya ke atas kepalanya sementara dia bangkit berdiri, dan mereka lalu masuk ke dalam rumah yang sunyi, untuk istirahat malam mereka.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama