|
376. MARIA TELAH MEMILIH BAGIAN YANG LEBIH BAIK.
14 Agustus 1944
Aku seketika menyadari bahwa kita masih berurusan dengan Magdalena, karena dialah orang pertama yang aku lihat. Dia mengenakan gaun pink lilac polos seperti bunga mallow. Dia tidak mengenakan perhiasan berharga apa pun, rambutnya dikepang dan dibiarkan terjuntai di belakang lehernya. Dia terlihat lebih muda daripada saat dia mengenakan gaun mewah. Matanya tidak lagi tidak tahu malu, seperti saat dia masih seorang "pendosa", juga tidak berkecil hati seperti saat dia mendengarkan perumpamaan tentang domba yang hilang, ataupun malu dan berkilau airmata seperti saat dia berada di aula si orang Farisi. .. Matanya sekarang damai dan menjadi sejernih mata seorang anak dan bersinar dengan tatapan tenang.
Dia bersandar di sebuah pohon dekat perbatasan properti Betania, memandang ke arah jalanan. Dia sedang menanti. Dia kemudian menyerukan sorak gembira. Dia berbalik ke arah rumah dan berteriak lantang - agar terdengar oleh semua orang - dengan suaranya yang sungguh jelas: "Dia datang!... Marta, mereka mengatakan yang sebenarnya. Rabbi ada di sini!" dan dia berlari untuk membuka gerbang yang berderit berat. Dia tidak memberi waktu kepada para pelayan untuk membukanya dan dia berlari keluar ke jalan, dengan kedua tangannya terentang, seperti yang dilakukan seorang kanak-kanak kepada ibunya, dan dengan seruan sukacita penuh kasih, "O Rabuni!" (Aku menulis "Rabuni" karena aku melihatnya dieja demikian dalam Injil. Tetapi setiap kali aku mendengar Maria memanggil-Nya, dia sepertinya mengatakan "Rabuni", dengan 'm' dan bukan dengan 'n'). Dia prostratio di depan kaki Yesus, mencium kedua kaki-Nya yang berdebu jalan.
"Damai sertamu, Maria. Aku datang untuk beristirahat di bawah atapmu."
"O Guru-ku!" ulang Maria, dengan mendongak ke atas dengan ungkapan hormat dan kasih, yang begitu mendalam... itu adalah ucapan syukur, sukacita, undangan untuk masuk, kebahagiaan karena Dia masuk...
Yesus menumpangkan tangan-Nya ke atas kepalanya dan seakan-akan sedang memberinya absolusi sekali lagi.
Maria bangkit berdiri dan dengan berjalan di samping Yesus dia masuk ke halaman properti. Sementara itu para pelayan dan Marta sudah tiba, para pelayan dengan amphora-amphora dan cawan-cawan. Marta hanya dengan kasihnya yang begitu besar.
Para rasul, yang kepanasan, mengambil minuman segar yang dituangkan oleh para pelayan. Mereka ingin memberikannya kepada Yesus terlebih dahulu, tetapi Marta mendahului mereka. Dia sudah mengambil secawan penuh susu dan menawarkannya kepada Yesus. Dia pastinya tahu bahwa Yesus sangat menyukainya.
Sesudah para murid minum, Yesus berkata kepada mereka, "Pergi dan beritahu orang-orang percaya. Aku akan berbicara kepada mereka sore ini."
Para rasul berpencar ke berbagai arah begitu mereka keluar dari taman.
Yesus berjalan di antara Marta dan Maria.
"Ayo, Guru," kata Marta. "Sementara menunggu Lazarus, beristirahatlah dan menyegarkan diri."
Saat mereka memasuki sebuah ruangan yang sejuk yang terbuka ke serambi yang teduh, Maria, yang sudah pergi dengan cepat, sekarang kembali. Dia membawa sebuah tempayan air dan diikuti oleh seorang pelayan yang membawa baskom cuci tangan. Namun Maria yang ingin membasuh kaki Yesus. Dia melepaskan sandal-Nya yang berdebu dan menyerahkannya kepada pelayan untuk dibersihkan, bersama dengan mantol-Nya, yang perlu disikat. Dia kemudian mencelupkan kaki-Nya ke dalam air, yang berwarna merah muda pucat karena rempah-rempah, lalu dia mengeringkannya dan menciumnya. Dia kemudian mengganti airnya, dan menawarkannya kepada Yesus untuk tangan-Nya. Dan sementara menunggu pelayan membersihkan sandal, dengan membungkuk di atas karpet di kaki Yesus, dia membelai kaki-Nya, dan sebelum mengenakan sandal-Nya, dia menciumnya sekali lagi seraya berkata, "O kaki suci, yang telah berjalan begitu jauh mencariku!"
Marta, yang lebih praktis dalam kasihnya, berpikir dari sudut pandang manusia dan bertanya, "Guru, apakah ada orang lain yang akan datang, selain murid-murid-Mu?"
Dan Yesus menjawab, "Aku belum bisa memastikan. Tapi kau bisa mempersiapkan untuk lima orang lagi selain para rasul."
Marta pun pergi.
Yesus pergi keluar dan masuk ke dalam taman yang teduh dan sejuk. Dia hanya mengenakan jubah biru tua-Nya. Mantolnya, yang telah dilipat dengan hati-hati oleh Maria, ditempatkan di atas lemari di kamar. Maria pergi keluar bersama Yesus.
Mereka berjalan di sepanjang jalan-jalan setapak yang terpelihara baik, di antara hamparan bunga-bunga yang bermekaran, sampai ke kolam ikan, yang tampak seperti cermin yang diletakkan di tengah tanam-tanaman nan hijau asri. Air yang sangat jernih beriak di sana-sini oleh keriapan ikan-ikan yang keperakan dan rintik-rintik air dari pancuran yang sangat tinggi ramping di tengah kolam. Ada tempat-tempat duduk di sekeliling kolam besar itu, yang bagai sebuah danau kecil dengan saluran-saluran irigasi yang mengalir darinya. Sebenarnya menurutku, salah satu saluran mengairi kolam, sedangkan saluran-saluran lain yang lebih kecil mendistribusikan air untuk tujuan irigasi.
Yesus duduk di tempat duduk yang ditempatkan di tepian kolam. Maria duduk di kaki-Nya, di rerumputan hijau yang terawat rapi. Awalnya mereka tidak berbicara. Yesus jelas tengah menikmati taman sejuk yang hening dan tenang. Maria bersuka hati dalam memandangi Dia.
Yesus bermain dengan air kolam yang jernih. Dia mencelupkan jemari-Nya ke dalamnya, Dia menyisir permukaannya yang membentuk gelombang-gelombang kecil dan lalu Dia membenamkan seluruh tangan-Nya ke dalam air sejuk yang murni. "Betapa indahnya air jernih ini!" kata-Nya.
Dan Maria, "Apakah Engkau sangat menyukainya, Guru?"
"Ya, Maria. Sebab begitu bening. Lihat. Tidak ada sedikit pun jejak lumpur. Kolam penuh dengan air, tetapi begitu jernih hingga seolah-olah tidak ada apa-apa di dalamnya, seolah-olah air itu bukan suatu unsur material melainkan unsur spiritual. Di bagian dasarnya kita bisa membaca kata-kata yang saling dibisikkan ikan-ikan kecil itu satu sama lain..."
"Seperti orang bisa membaca lubuk jiwa yang murni. Bukan begitu, Guru?" dan Maria mendesah dengan nada sesal tersembunyi.
Yesus menangkap desahan yang tertahan itu dan membaca penyesalan yang disamarkan di balik senyuman dan Dia bersegera menghalau kesedihan Maria.
"Maria, di manakah kita menemukan jiwa-jiwa murni? Lebih mudah bagi gunung untuk berjalan daripada bagi manusia untuk menjadi murni dengan tiga kemurnian. Terlalu banyak hal yang mengacaukan dan bergejolak di sekeliling orang-orang dewasa; dan tidak selalu memungkinkan untuk mencegahnya menembus masuk ke dalam. Hanya anak-anak yang memiliki jiwa seperti malaikat, yang dilindungi oleh ketidakberdosaan mereka dari pengetahuan yang bisa berubah menjadi lumpur. Itu sebabnya Aku sangat mengasihi mereka. Aku bisa melihat dalam diri mereka refleksi dari Kemurnian yang Tak Terbatas. Mereka satu-satunya yang memiliki dalam diri mereka kenangan akan surga ini. BundaKu adalah Perempuan dengan jiwa seorang anak. Bahkan lebih lagi. Dia adalah Perempuan dengan jiwa malaikat. Seperti Hawa saat Bapa menciptakannya. Bisakah kau bayangkan, Maria, seperti apa bunga lily pertama yang mekar di taman bumi? Juga bunga-bunga ini, yang mengarah ke air ini sungguh indah. Namun yang pertama, yang muncul dari tangan Sang Pencipta! Apakah itu bunga ataukah berlian? Apakah itu helai-helai bunga ataukah pinggan-pinggan dari perak yang termurni? Namun begitu, BundaKu lebih murni daripada bunga lily pertama yang mengharumkan udara. Dan semerbak harum Perawannya yang Tersuci memenuhi Surga dan Bumi, dan orang-orang baik akan mengikutinya di abad-abad mendatang. Firdaus itu terang, harum, harmonis. Tetapi jika di dalamnya Bapa tidak bersukacita dalam mengkontemplasikan Perempuan Terindah Yang mengubah Bumi menjadi firdaus, jika Firdaus di masa mendatang tidak memiliki Lily hidup yang di dadanya terdapat tiga putik api dari Trinitas Ilahi, maka terang, harum, harmonis, yang adalah sukacita Firdaus, akan tinggal separuhnya saja. Kemurnian BundaKu akan menjadi intan permata Firdaus. Tapi Firdaus tiada berbatas! Bagaimana pendapatmu tentang seorang raja yang hanya memiliki satu iintan permata dalam Harta Pusakanya? Bahkan jika itu adalah Intan Permata terunggul? Ketika Aku membuka gerbang-gerbang Kerajaan Surga... - jangan mendesah, Maria, Aku telah datang untuk itu - banyak jiwa orang-orang benar dan anak-anak akan masuk, seperti himpunan orang tak berdosa yang cemerlang, di belakang raja Penebus. Tetapi mereka akan terlalu sedikit untuk memenuhi Surga dengan permata dan membentuk warga Yerusalem abadi. Dan kemudian... setelah Doktrin-Ku tentang kebenaran dan kekudusan dikenal manusia, setelah wafat-Ku memulihkan Rahmat bagi manusia, bagaimana manusia menaklukkan Surga, jika kehidupan manusia yang malang terus-menerus dicemari dengan lumpur, yang membuat mereka tidak murni? Lantas, apakah Firdaus-Ku hanya akan dipenuhi dengan anak-anak? Oh! tidak! Orang harus belajar bagaimana menjadi seperti seorang anak. Kerajaan terbuka juga bagi orang-orang dewasa. Yang seperti anak-anak... Yakni kemurnian. Lihat air ini? Terlihat begitu jernih. Tapi perhatikan: jika Aku sekedar mengaduk dasarnya dengan buluh ini, ia menjadi berlumpur. Limbah dan lumpur muncul ke permukaan. Dari jernih ia menjadi kekuningan dan tidak seorang pun yang akan mau lagi meminumnya. Tetapi jika Aku menyingkirkan buluhnya, ia tenang dan perlahan-lahan ia menjadi kembali jernih dan indah. Buluh itu: dosa. Hal yang sama berlaku untuk jiwa. Pertobatan, percayalah kepada-Ku, yang membersihkan..."
Marta tiba dengan terengah-engah, "Kau masih di sini, Maria? Dan aku begitu sibuk!... Waktu berlalu dengan cepat. Para tamu akan segera tiba di sini dan ada begitu banyak yang harus dikerjakan. Para pelayan perempuan sibuk memanggang roti, para pelayan laki-laki menguliti dan memasak. Aku mempersiapkan minuman, piring-piring, dan aku menata meja. Tapi buah-buahan masih harus dipetik dan madu serta air mint harus disiapkan..."
Maria tidak terlalu menghiraukan keluhan saudarinya. Sambil tersenyum bahagia dia terus menatap Yesus, tanpa bergeming dari posisinya.
Marta memohon pertolongan Yesus, "Guru, lihat betapa aku basah oleh keringat. Apakah menurut-Mu aku harus menjadi satu-satunya yang begitu sibuk? Katakan padanya untuk membantuku." Marta benar-benar jengkel.
Yesus menatap padanya seraya tersenyum setengah ramah dan setengah ironis, atau tepatnya dengan bercanda.
Marta menjadi tidak sabar, "Aku bersungguh-sungguh. Lihat betapa menganggurnya dia sementara aku begitu sibuk. Dan dia melihat..."
Yesus menjadi serius, "Ini bukan menganggur, Marta. Ini adalah kasih. Adalah menganggur sebelumnya. Dan kau menangis sangat sedih karena kenganggurannya yang tak berharga itu. Air matamu menggerakkan-Ku pada upaya untuk menyelamatkannya dan membawanya kembali kepada kasihmu yang tulus. Apakah kau ingin melarang dia untuk mengasihi Juruselamat-nya? Apakah kau lebih suka dia jauh dari sini, supaya dia tidak akan melihatmu bekerja, tetapi juga akan jauh dari-Ku? Marta, Marta! Haruskah Aku katakan bahwa dia (dan Yesus meletakkan tangan-Nya ke atas kepalanya) yang sudah datang dari begitu jauh, telah mengunggulimu dalam kasih? Haruskah Aku mengatakan bahwa dia, yang tidak tahu satu pun perkataan kasih, sekarang terpelajar dalam pengetahuan kasih? Biarkan dia dalam damainya! Dia dulu begitu sakit parah! Dia sekarang dalam taraf pemulihan dan dia menjadi sembuh dengan meminum apa yang menguatkannya. Dia tersiksa dengan begitu kejam... Sekarang dia telah keluar dari mimpi buruknya, dia melihat sekeliling dan ke dalam dirinya dan menemukan dirinya sendiri yang baru dan menemukan dunia yang baru. Biarkan dia menjadi yakin. Dengan "ego baru" dia harus melupakan masa lalunya dan menaklukkan apa yang kekal... Dan yang terakhir itu tidak akan ditaklukkan hanya melalui pekerjaan, tetapi juga melalui penyembahan. Dia yang memberikan sepotong roti kepada seorang rasul dan seorang nabi akan menerima ganjarannya. Tetapi ganjaran ganda akan diberikan kepada dia yang akan terlupa memberi makan dirinya sendiri demi mengasihi Aku, karena jiwanya akan lebih besar daripada tubuhnya, jiwa yang akan berseru bahkan lebih lantang daripada kepentingan manusia, juga ketika kepentingan itu sah dan benar. Kau khawatir dan rewel tentang terlalu banyak hal, Marta. Dia peduli dengan satu hal saja. Yaitu yang cukup bagi jiwanya dan di atas segalanya bagi Tuhan-nya dan Tuhan-mu. Lupakan hal-hal yang tidak berguna. Teladanilah saudarimu. Maria telah memilih bagian yang lebih baik, yang tidak akan pernah diambil darinya. Ketika semua keutamaan menjadi berlebihan, karena tidak lagi diperlukan bagi warga Kerajaan, Cinta Kasih saja yang akan tetap tinggal. Ia akan bertahan selamanya. Satu-satunya dan tertinggi. Itulah yang telah dipilih dan diambil Maria sebagai perisai dan tongkat peziarahnya. Melalui itu, seolah-olah dia terbang dengan sayap-sayap malaikat, dia akan datang ke Surga-Ku."
Marta, yang merasa sangat malu, menundukkan kepalanya dan pergi.
"Saudariku sangat mengasihi-Mu dan sangat ingin menghormati-Mu..." kata Maria untuk membelanya.
"Aku tahu, dan dia akan diganjari untuk itu. Tapi dia perlu dimurnikan dari cara berpikir manusiawinya, seperti air ini dimurnikan. Lihat betapa ia sudah kembali jernih, sementara kita berbicara. Marta akan dimurnikan oleh perkataan yang Aku ucapkan kepadanya. Kau... melalui ketulusan pertobatanmu."
"Tidak, melalui pengampunan-Mu, Guru. Pertobatanku tidak cukup untuk membasuh dosaku yang besar..."
"Itu cukup dan akan cukup bagi saudari-saudari yang akan meneladanimu. Akan cukup bagi semua orang malang yang jiwanya sakit. Pertobatan yang tulus adalah filter yang memurnikan; kemudian kasih melindunginya dari kecemaran lebih lanjut. Dengan demikian, mereka yang melalui hidup menjadi orang-orang dewasa dan orang-orang berdosa, akan bisa kembali menjadi sama tak berdosanya seperti anak-anak dan memasuki Kerajaan-Ku seperti anak-anak. Ayo kita pulang sekarang. Supaya Marta tidak dibiarkan terlalu lama dalam kesedihannya. Ayo kita pergi dan tersenyum kepadanya sebagai Sahabat dan saudari."
Yesus bersabda:
"Tidak diperlukan komentar. Perumpamaan tentang air adalah komentar tentang tindak pertobatan hati.
Dengan demikian kau sudah melihat siklus lengkap Magdalena. Dari kematiannya kepada Hidup. Dari semua orang yang dibangkitkan oleh Injil-Ku dialah yang terbesar. Dia dibangkitkan dari tujuh kematian. Dia terlahir kembali. Kau sudah melihatnya meninggikan tangkai bunga barunya semakin tinggi di atas lumpur bumi, seperti tanaman berbunga, dan kemudian mekar dan harum semerbak untuk-Ku, dan mati untuk-Ku. Kau sudah melihatnya saat dia seorang pendosa, kemudian saat haus, dia menghampiri Mata Air, kemudian saat dia bertobat, kemudian saat dia diampuni, kemudian kau melihatnya sebagai seorang pencinta, kemudian sebagai seorang perempuan mengenaskan yang membungkuk di atas Tubuh Tuhan-nya yang dibunuh, kemudian sebagai pelayan BundaKu yang dikasihinya karena Dia adalah BundaKu; dan akhirnya kau sudah melihatnya sebagai jiwa yang bertobat di ambang Firdausnya.
Wahai jiwa-jiwa yang takut, belajarlah untuk tidak takut kepada-Ku dengan membaca kehidupan Maria Magdala. Wahai jiwa-jiwa yang mengasihi, belajarlah darinya bagaimana mengasihi dengan semangat serafim. Wahai jiwa-jiwa yang sudah berbuat salah, belajarlah darinya Ilmu yang akan mempersiapkanmu ke Surga.
Aku memberkatimu semua untuk membantumu bangkit. Pergilah dalam damai."
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|
|
|