|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Maret 2009
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
KAIN KAFAN TURIN AKAN DIPAMERKAN UNTUK UMUM PADA TAHUN 2010
 Kain Kafan Turin, yang dihormati banyak orang sebagai kain pemakaman Kristus, akan dipamerkan untuk umum pertama kalinya setelah pameran terakhir pada tahun 2000.
Paus Benediktus XVI memaklumkan hal tersebut dalam suatu audiensi bersama para peziarah dari Turin, Italia Utara, pada tanggal 2 Juni 2008. Kepada 7000 peziarah yang berkumpul di Aula Paulus VI, Vatican, Bapa Suci menambahkan, “Jika Tuhan menganugerahi saya hidup dan kesehatan, saya, juga berharap untuk datang.”
Menurut tradisi, kain linen berukuran kurang lebih 14 kali 4 kaki itu adalah kain kafan pemakaman Yesus. Pada Kain Kafan tercetak gambar foto negatif seorang laki-laki, bagian depan dan belakang, yang memiliki tanda-tanda sengsara sesuai dengan yang dikisahkan Injil diderita Yesus dalam sengsara dan wafat-Nya.
Gereja tidak pernah secara resmi memaklumkan keotentikan Kain Kafan, melainkan menyerahkannya pada penelitian ilmiah. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan saling memperdebatkan keotentikannya, dan hasil-hasil penelitian semakin menghangatkan argumentasi mereka.
Kini Kain Kafan disimpan dengan cermat di balik kaca anti peluru dalam suatu kapel khusus di Katedral St Yohanes Pembaptis, Turin. Kain Kafan tersimpan dalam sebuah peti terbuat dari bahan-bahan khusus yang kedap air, kedap api dan disegel rapat kedap udara. Kain Kafan dikeluarkan hanya dalam peristiwa-peristiwa rohani yang amat istimewa; apabila dikeluarkan untuk keperluan penelitian atau pameran umum harus mendapatkan persetujuan paus. Terakhir kali Kain Kafan dipamerkan untuk umum pada tahun 2000 dalam rangka Tahun Yubileum.
Paus Benediktus mengatakan bahwa pameran Kain Kafan akan menjadi “suatu peristiwa yang tepat” bagi umat beriman “untuk merenungkan Wajah misterius yang dalam keheningan berbicara kepada hati umat manusia, mengundang mereka untuk mengenali wajah Tuhan.”
|
|
Ya Tuhan, Bapa kami, gambar pada Kain Kafan mengingatkan kami akan sengsara dahsyat yang diderita PutraMu, Yesus, yang menimpakan atas DiriNya dosa-dosa dunia.
Bantulah kami untuk melihat wajah-Nya dalam wajah setiap orang, agar kami dapat melayani-Nya dan memaklumkan kasih-Nya. Anugerahilah kami sukacita merenungkan Wajah Yesus yang bercahaya, sebagaimana Ia bangkit dari antara orang mati. Dia yang hidup dan berkuasa bersama-Mu untuk selama-lamanya. Amin.
|
KUTIPAN AMANAT PAUS PAULUS VI
dalam Pameran Kain Kafan yang pertama via televisi, 23 November 1973
“Wajah Kristus yang tertera pada Kain Kafan, bagi saya tampak lebih nyata, lebih dalam, lebih manusiawi dan lebih ilahi dari gambar manapun juga yang kita kagumi dan hormati. Melihat gambar Kain Kafan, kita benar-benar terpesona sedalam-dalamnya. Lepas dari penilaian ilmiah dan historis dari para ilmuwan yang kompeten, kami tidak dapat tidak berdoa agar para penyelidik itu tidak hanya berhasil menyelidiki secara intensif peninggalan-peninggalan lahir dari Penebus kita, yaitu raut muka dan tubuh-Nya, melainkan terlebih lagi dapat menembus semakin dalam ke dalam misteri-Nya yang sedemikian mempesonakan….”
SANTA PERAWAN MEMOHON BANTUAN YOSEF DARI ARIMATEA
“Sudi turunkanlah tubuh-Nya; rangkumlah harta pusaka dunia yang ada di hadapanmu. Tolonglah kami, kami sangat membutuhkan bantuan dan kami ada di tanah asing, kami dibenci dan ditentang semua orang: mereka membenci kami dan mencemooh kami. Sahabat dan teman meninggalkan kami; tiada seorang pun menaruh belas kasihan kepada kami. Tiada seorang pun melindungi kami; tiada seorang pun datang menolong kami; tiada seorang pun berani memohonkan tubuh-Nya; tiada seorang pun yang memikirkannya, tiada seorang pun peduli mengenai pemakaman-Nya! Sebagaimana engkau tahu, mustahil aku melakukannya sendiri, aku sebatang kara, hanya ada seorang murid di sisiku; tak mungkinlah aku menghadap dan memohon langsung kepada Pilatus dan tak mungkinlah aku mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pemakaman. Kami tidak menemukan jalan keluar lain demi menurunkan-Nya dari Salib dan menyelimuti ketelanjangan-Nya; sesungguhnya para prajurit telah membuang undi atas pakaian-Nya, dan mereka tak membiarkan secarik kain pun melekat pada tubuh-Nya.”
~ George dari Nicomedia; Homili, 34
TUBUH YESUS DIKAFANI
dari: penglihatan Beata Anna Katharina Emmerick (1774-1824)
 Santa Perawan duduk di atas sebuah kain lebar yang dibentangkan di atas tanah, dengan lutut kanannya agak sedikit terangkat dan punggungnya bersandar pada beberapa mantol yang digulung menjadi satu sehingga membentuk semacam bantalan. Tak seorang pun mengabaikan perhatian sekecil apapun yang dapat membuat Santa Perawan - Bunda Dukacita - merasa sedikit nyaman dalam dukacita dahsyat jiwanya, dalam peran yang mendukakan, namun termulia, yang akan segera ditunaikannya sehubungan dengan tubuh Putranya terkasih. Kepala Yesus yang menawan beristirahat di atas lutut Bunda Maria, dan tubuh-Nya dibaringkan membujur di atas selembar kain. Santa Perawan sepenuhnya dikuasai dukacita dan belas kasih. Sekali lagi, untuk terakhir kalinya, ia merengkuh tubuh Putranya terkasih dalam pelukannya, kepada siapa ia tak dapat memberikan bukti kasihnya sepanjang jam-jam panjang kemartiran-Nya. Ia memandangi luka-luka PutraNya dan dengan penuh mesra membelai pipi-Nya yang berlumuran darah, sementara Magdalena mengusapkan wajahnya ke kaki Yesus.
Ketabahan dan ketegaran Bunda Maria tetap tak tergoyahkan bahkan di tengah dukacitanya yang terdahsyat. Nyata, sama sekali tak mungkin baginya membiarkan tubuh Putranya dalam keadaan yang mengenaskan sebagaimana tubuh itu dihinakan sepanjang sengsara-Nya, sebab itu Santa Perawan dengan kesungguhan hati yang tak kenal lelah mulai membasuh serta membersihkan tubuh kudus dari bekas-bekas kekejian yang dilampiaskan kepadanya. Dengan amat hati-hati ia melepaskan mahkota duri, membuka ikatan belakangnya, lalu memotong satu demi satu duri-duri yang menembusi kepala Yesus, agar ia tidak mengoyakkan luka-luka-Nya. Mahkota duri diletakkan di samping paku-paku, kemudian Bunda Maria mencabut duri-duri yang masih tertancap dalam kulit dengan semacam sepit bulat dan dengan pilu diperlihatkannya kepada para sahabatnya. Duri-duri ini ditempatkan bersama dengan mahkota duri, tetapi sebagian dari onak duri itu pastilah telah disimpan secara terpisah.
Wajah ilahi Juruselamat kita hampir tak dapat dikenali lagi, rusak hebat akibat luka-luka dan memar. Jenggot dan rambut-Nya lengket dengan darah. Bunda Maria membasuh kepala dan wajah, menyeka rambut-Nya dengan bunga-bunga karang basah guna membersihkannya dari darah yang mengental. Sementara ia menunaikan tindakan salehnya, dahsyatnya kekejian yang dilancarkan atas diri Putranya semakin dan semakin tampak nyata, membangkitkan dalam jiwanya perasaan belas kasih dan kelemahlembutan yang semakin bertambah sementara ia beralih dari satu luka ke luka lainnya. Santa Perawan membasuh luka-luka di kepala, kedua mata yang bersimbah darah, lubang hidung, dan telinga, dengan sebuah bunga karang dan sehelai saputangan lenan yang digenggam dalam tangan kanannya; lalu ia membersihkan dengan kasih dan kelembutan yang sama, mulut yang setengah ternganga, lidah, gigi dan bibir-Nya. Ia membagi rambut Yesus yang masih tersisa menjadi tiga bagian, satu bagian di masing-masing pelipis, dan yang ketiga di belakang kepala-Nya; ketika telah diluruskan dan dirapikannya rambut bagian depan dari kekusutan, ia menyelipkannya di belakang telinga-Nya. Ketika kepala Putranya telah dibasuh dan dibersihkan dengan seksama, Santa Perawan menyelubunginya dengan sehelai selubung, setelah terlebih dahulu mencium kedua pipi kudus Putranya terkasih. Lalu, ia mengalihkan perhatiannya pada leher, pundak, dada, punggung, kedua tangan dan kaki-Nya yang berlubang. Seluruh tulang dada Tuhan kita terlepas dari persendiannya dan tak dapat ditekuk. Terdapat suatu luka mengerikan di bahu yang menyangga beban Salib, dan sekujur tubuh bagian atas dipenuhi memar dan bilur-bilur dalam akibat deraan cambuk. Di dada kiri terdapat suatu luka kecil di mana ujung tombak Cassius muncul setelah menembusi hati-Nya, di lambung kanan terdapat suatu luka menganga akibat tikaman tombak yang sama. Bunda Maria membasuh segala luka ini, sementara Magdalena berlutut, melayaninya dari waktu ke waktu; namun tanpa sekejap pun beranjak dari kaki kudus Yesus, yang ia basahi dengan airmata dan ia seka dengan rambutnya.
Kepala, dada dan kedua tangan serta kaki Tuhan kita sekarang telah dibasuh, dan tubuh kudus, yang dipenuhi noda-noda cokelat dan merah di bagian-bagian di mana kulit-Nya terkelupas, dan yang berwarna putih kebiruan, serupa daging yang telah diperas dari darahnya, terbaring di pangkuan Bunda Maria, yang menyelubungi bagian-bagian yang telah dibasuhnya dengan kain selubung, dan lalu mulai mengurapi segala luka-luka-Nya. Para perempuan kudus berlutut di sisinya, bergantian mengulurkan sebuah kotak kepadanya, dari mana Santa Perawan mengambil minyak urapan yang berharga, mengoles serta mengurapi luka-luka-Nya. Ia juga mengurapi rambut Putranya, menggenggam kedua tangan kudus Yesus dengan tangan kirinya, lalu dengan hormat menciumnya, mengurapi luka-luka menganga akibat paku-paku dengan minyak atau dengan rempah-rempah harum. Begitu pula ia mengurapi telinga, lubang hidung dan luka di lambung dengan campuran minyak berharga yang sama. Sementara itu, Magdalena menyeka dan mengurapi kedua kaki Tuhan kita, lalu membasahinya lagi dengan airmatanya, acapkali ia menyapukan wajahnya pada kaki-Nya.
Bunda Maria berlutut di sisi kepala Yesus, dan menempatkan di bawah kepala Putranya sehelai kain lenan yang amat baik mutunya, yang diberikan kepadanya oleh isteri Pilatus, dan yang tadinya dikenakan Santa Perawan sekeliling lehernya di bawah mantolnya sendiri; selanjutnya, dengan dibantu para perempuan kudus, ia membubuhkan dari pundak hingga ke pipi Putranya, kantong-kantong ramu-ramuan, rempah-rempah, bubuk wangi-wangian, dan kemudian mengikat erat kain lenan itu sekeliling kepala dan pundak tubuh kudus. Magdalena menuangkan sebotol kecil minyak balsam ke dalam luka lambung-Nya, dan para perempuan kudus membubuhkan lebih banyak rempah-rempah ke dalam luka-luka di kedua kaki dan tangan Yesus. Kemudian para lelaki membubuhkan rempah-rempah harum sekeliling sisa tubuh-Nya, menyilangkan kedua tangan kudus yang telah kaku ke atas dada-Nya, dan mengikatkan kain putih lebar sekeliling tubuh-Nya dari bawah sampai ke dada, dengan cara yang sama seperti orang membedung bayi. Lalu, setelah menempatkan ujung sebuah pita besar di bawah kedua ketiak-Nya, mereka melingkarkannya sekeliling kepala dan sekujur tubuh. Akhirnya, mereka membaringkan Tuhan Allah kita di atas sehelai kain besar yang panjangnya enam yard, yang dibeli Yosef dari Arimatea, dan membungkus tubuh kudus. Tubuh Yesus terbaring diagonal di atas kain itu, salah satu ujung kain diangkat dan ditutupkan ke tubuh Yesus dari bagian kaki hingga ke dada, ujung satunya ditutupkan dari kepala ke pundak, sementara kedua ujung kain yang melintang dibalutkan dua kali sekeliling tubuh-Nya.
Santa Perawan, para perempuan kudus, para lelaki - semuanya berlutut sekeliling tubuh Yesus untuk menyampaikan salam perpisahan, ketika suatu mukjizat yang menggetarkan hati terjadi di hadapan mereka. Tubuh kudus Yesus, dengan segala Luka-lukanya, tampak tercetak di atas kain yang membalutnya, seolah Yesus bersuka hati mengganjari segala kasih mereka dan meninggalkan bagi mereka suatu gambar DiriNya Sendiri pada kain selubung yang membungkus tubuh-Nya. Dengan airmata bercucuran mereka memeluk tubuh kudus, dan dengan hormat mencium gambar mengagumkan yang ditinggalkan-Nya sebagai kenangan. Mereka semakin takjub ketika, saat mengangkat kain lenan, melihat bahwa segala ikatan yang membalut tubuh-Nya tetap putih sama seperti sebelumnya, dan bahwa gambar hanya tercetak pada kain bagian atas saja dengan cara yang amat mengagumkan. Gambar tersebut bukan disebabkan oleh luka-luka yang berdarah, karena sekujur tubuh Yesus dibalut dan dibubuhi rempah-rempah harum, melainkan merupakan suatu gambar adikodrati, yang menjadi saksi atas daya cipta ilahi yang senantiasa tinggal kekal dalam tubuh Yesus. Aku melihat banyak hal sehubungan dengan sejarah selanjutnya dari kain lenan ini, tetapi aku tak dapat menggambarkannya secara berkesinambungan. Setelah kenaikan Yesus ke surga, kain lenan tetap menjadi milik para sahabat Yesus, namun dua kali jatuh ke tangan orang-orang Yahudi; di kemudian hari, kain lenan dihormati di berbagai tempat. Aku melihatnya berada di sebuah kota di Asia, menjadi milik beberapa umat Kristiani yang adalah orang-orang Katolik dengan iman yang berkobar-kobar. Aku lupa nama kota itu, yang terletak di sebuah propinsi dekat negeri Tiga Raja.
Selengkapnya, silakan baca:
|
|
dari Meditasi
mistikus, stigmatis, visionaris
(1774 - 1824)
|
|
|
“Hawa mewakili Maria dan Yosef mewakili Yosef yang lain. Sesungguhnya, dia yang meminta tubuh Kristus bernama Yosef. Pertama-tama, Yosef adalah seorang yang benar dalam kenyataan bahwa ia tidak termasuk dalam bilangan mereka yang mendakwa-Nya. Jadi, jelaslah bahwa Tuhan, yang menggantungkan diri pada Yosef yang pertama pada saat kelahiran-Nya, membiarkan Yosef yang lain merawat-Nya sesudah wafat-Nya. Ini dimaksudkan agar kita menghormati nama Yosef yang, sama seperti saat kelahiran-Nya di kandang, merawat-Nya pada saat pemakaman-Nya.”
~ St Efrem dari Siria
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|