|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Februari 2009
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
KEBAJIKAN :
Kebajikan adalah suatu kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik. Ia memungkinkan manusia bukan hanya untuk melakukan perbuatan baik, melainkan juga untuk menghasilkan yang terbaik seturut kemampuannya.
I. KEBAJIKAN MANUSIAWI:
Kebajikan Manusiawi adalah kecenderungan yang teguh dari akal budi dan kehendak, yang mengarahkan perbuatan kita, mengatur hawa nafsu kita, dan membimbing tingkah laku kita, supaya sesuai dengan akal budi. Kebajikan Manusiawi dapat dikelompokkan menurut empat Kebajikan Pokok, yakni: Kebijaksanaan, Keadilan, Keberanian dan Penguasaan Diri. Tidak seperti Kebajikan Ilahi, Kebajikan Pokok dapat dicapai dengan usaha manusia.
II. KEBAJIKAN ILAHI:
Kebajikan manusiawi berakar dalam Kebajikan Ilahi yang memungkinkan kemampuan manusiawi mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Ada tiga Kebajikan Ilahi, yakni: Iman, Harapan dan Kasih. Disebut Kebajikan Ilahi karena berasal dari Yang Ilahi, berhubungan langsung dengan Tuhan, dan hanya dapat diperoleh melalui rahmat-Nya.
“Tujuan kehidupan yang berkebajikan ialah menjadi serupa dengan Allah”
~ St Gregorius dari Nyssa
|
|
TUJUH DOSA POKOK Versus KEBAJIKAN LAWANNYA
|
|
Dosa Pokok
|
Definisi
|
Kebajikan
|
Sombong
|
Penghargaan yang berlebihan atas diri sendiri
|
Rendah hati
|
Serakah
|
Keinginan yang melampaui batas akan barang-barang duniawi
|
Murah hati
|
Cabul
|
Nafsu akan kesenangan yang tidak murni
|
Kemurnian
|
Marah
|
Hasrat tak terkendali untuk membalas dendam
|
Kelembutan
|
Rakus
|
Nafsu makan dan minum di luar batas
|
Penguasaan Diri
|
Iri Hati
|
Merasa sedih atas keberuntungan orang lain
|
Kasih Persaudaraan
|
Malas
|
Kelambanan dalam memelihara iman dan mempraktekkan kebajikan
|
Ketekunan
|
“TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, ....”
~ Mazmur 15:1-3
|
|
DOSA KARENA LIDAH
Surat St Yakobus 3:2-10
“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” ~ Yakobus 1:26
 Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.
LIDAH YANG BERCABANG
 Seorang imam terbaring tak berdaya di ambang ajal karena patah semangat. Lidah-lidah yang bercabang telah merusakkan hidup dan karyanya. Seorang perempuan, yang adalah salah seorang pelaku utama, datang memohon pengampunan. “Pater,” katanya, “saya mohon ampun atas dosa-dosa saya telah mencemarkan nama baik Pater. Apakah yang harus saya lakukan guna memulihkan nama baik Pater?”
Sang imam menarik bantal dari bawah kepalanya yang lemah dan memberikannya kepada perempuan itu, seraya berkata, “Naiklah ke atas menara gereja, bukalah kurung bantal ini dan hamburkanlah semua bulu-bulu angsa isinya.”
Perempuan itu melakukan seperti yang diperintahkan. Angin yang berhembus kencang segera menyerakkan bulu-bulu angsa ke segala penjuru. Kemudian ia kembali kepada sang imam. “Sekarang,” kata imam kepadanya, “pergi dan kumpulkan semua bulu-bulu angsa itu dan masukkan kembali ke dalam kurung bantal.” “Tetapi, Pater, itu tidak mungkin,” sanggah si perempuan. “Angin telah menyerakkannya ke segenap penjuru kota.”
“Demkian juga, adalah tidak mungkin engkau mendapatkan nama baikku kembali,” kata imam.
Orang Spanyol mengatakan: “Siapa yang menceritakan gosip kepadamu, akan juga menggosipkanmu.” Orang Italia mengatakan: “Lidah tak bertulang, namun dapat meremukkan tulang-tulangmu.” Orang Cina mengatakan: “Tuhan memberi manusia dua telinga dan hanya satu mulut. Mengapakah tidak mendengarkan dua kali lebih banyak dari berbicara?”
|
|
“Berpikir benar. Berbicara benar. Berlaku benar. Ketiga hal ini, dengan kerahiman Tuhan, akan menghantar manusia ke surga.”
~ St Kamillus de Lellis
|
APA JADINYA JIKA YESUS TIDAK MENGEKANG LIDAH?
 Menjelang hari raya Paskah, diadakanlah sebuah drama kolosal mengenai kehidupan Yesus sebelum sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Ketika sampai pada adegan perjumpaan Yesus dengan Zakheus, terjadilah ceritera berikut ini.
Umat telah secara bergotong-royong mengambil pohon hidup dan menempatkannya di halaman gereja. Saat pementasan, Zakheus memanjat pohon tersebut. Rupanya pohon itu terlalu besar dan kurang dalam ditanam, sehingga ketika angin kencang menerpa, pohon tergoncang-goncang nyaris roboh. Zakheus yang ketakutan memeluk pohon erat-erat dengan matanya membelalak lebar. Para pemeran murid-murid dan Yesus serta orang banyak sudah berada di bawah pohon. Sekonyong-konyong angin bertiup kencang, Yesus menengadah ke atas pohon sambil berseru, “Hai, Zakheus mata besar, turun kau!” Zakheus mendongkol hatinya dan menolak turun karena dikatai “mata besar.” Yang memerankan Yesus pun marah, karena perintahnya tidak dihiraukan. Ia lalu mengguncang-guncang pohon supaya Zakheus mau turun. Tak disangka, pohon besar itu malah roboh dan Zakheus pun jatuh terkapar. Karena merasa dipermalukan di hadapan orang banyak, Zakheus akhirnya menolak Yesus beserta rombongan yang hendak menumpang di rumahnya.

“Berilah perhatian pada kebajikan dan berusahalah melaksanakannya dengan gagah berani, sebab inilah yang menjadikan kita kudus.”
~ St Paulus dari Salib
|
|
SANTA PERAWAN MARIA: CERMIN KEKUDUSAN
 Maria, engkau disebut Cermin Kekudusan sebab engkau Teladan paling unggul dalam mengasihi Tuhan. Dalam seluruh hidupmu terpancar, bagai dalam sebuah cermin, kasih sempurna kepada Tuhan. Tiada seorang pun yang pernah merindukan pengudusan diri sebagaimana engkau merindukannya. Engkau tiada kenal lelah berjuang demi kebajikan. Tuhan, sebaliknya, mencurahkan atas jiwamu kekayaan kepenuhan rahmat-Nya.
Segala kebajikan terpancar dalam jiwamu bagai dalam sebuah cermin: kerendahan hati, kemurnian, kelemah-lembutan, kesabaran, kemurahan hati, iman, harapan dan kasih. Demi memelihara serta meningkatkan rahmat pengudusan, engkau mendayagunakan segala sarana rahmat dengan giat dan tulus hati. Engkau sungguh terberkati sebab engkau lapar dan haus akan kekudusan, sebab Tuhan telah menganugerahkan kepadamu kepenuhan rahmat-Nya yang menjadikanmu “terpuji di antara perempuan.”
DOA :
Cermin Kekudusan, bantulah aku agar senantiasa mengagumi serta meneladani segala kebajikanmu, maka aku akan menjadi lebih serupa dengan Yesus, Putramu, yang adalah Teladan segala kesempurnaan. Engkau adalah gambaran sempurna akan Putramu. Sudi hantarlah aku pada tingkat kekudusan yang telah Tuhan tetapkan bagiku. Berilah aku rasa lapar dan haus akan kekudusan agar aku dapat menemukan sukacita sejati dalam Tuhan di bumi dan menikmati kebahagiaan abadi bersama-Nya di surga. Amin.
Salib, Teladan Segala Kebajikan
oleh: St Thomas Aquinas, (1225-1274)
 Mengapakah Putra Allah harus menderita bagi kita? Sebab memang sungguh amat perlu demikian, dan hal itu dikarenakan dua alasan ganda: pertama-tama, sebagai silih atas dosa, dan yang kedua, sebagai teladan akan bagaimana kita harus bertindak.
Sebagai silih, sebab, di hadapan segala kejahatan yang kita datangkan akibat dosa-dosa kita, kita mendapati kelegaan melalui sengsara Kristus. Namun demikian, tidak kalah pentingnya, sengsara Kristus juga merupakan suatu teladan bagi kita, sebab sengsara Kristus saja sudah cukup untuk membentuk hidup kita. Barangsiapa merindukan hidup sempurna hendaknyalah tidak melakukan suatupun selain dari memandang rendah apa yang dipandang rendah oleh Kristus di salib dan merindukan apa yang Ia rindukan, sebab Salib adalah teladan segala kebajikan.
Jika kalian mencari teladan kasih: Tiada kasih yang terlebih besar dari kasih seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya. Dan orang yang demikian adalah Kristus di salib. Dan jika Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, maka tidaklah sulit bagi kita untuk menanggung kesulitan apapun juga yang mungkin harus kita derita demi Dia.
Jika kalian mencari teladan kesabaran, kalian tiada mendapati teladan yang terlebih baik daripada salib. Kesabaran yang luhur muncul dalam dua cara: entah orang dengan sabar menanggung banyak penderitaan, atau ketika orang menanggung penderitaan yang sesungguhnya dapat ia hindari, namun tidak dihindarinya. Kristus menderita sengsara hebat di salib, dan Ia melakukannya dengan begitu sabar, sebab ketika Ia menanggung penderitaan itu Ia tidak mengutuk atau mengancam; Ia digiring bagai seekor anak domba ke tempat pembantaian dan Ia tidak membuka mulut-Nya. Sebab itu kesabaran Kristus di salib sungguh luar biasa. Dalam kesabaran baiklah kita berlari demi hadiah yang ada di depan kita, dengan memandang Yesus, sang Pencipta dan Penyempurna iman kita yang, demi sukacita di hadapan-Nya, menanggung salib dan aib.
Jika kalian mencari teladan kerendahan hati, pandanglah Ia yang tersalib, sebab Tuhan sudi diadili oleh Pontius Pilatus dan dijatuhi hukuman mati.
Jika kalian mencari teladan ketaatan, teladanilah Dia yang taat kepada Bapa bahkan sampai mati. Karena sama seperti ketidaktaatan satu orang, yakni Adam, banyak orang menjadi berdosa, demikian juga dengan ketaatan satu orang, banyak orang dibenarkan.
Jika kalian mencari teladan merendahkan hal-hal duniawi, teladanilah Dia yang adalah Raja segala raja dan Tuan segala tuan, di dalam siapa tersembunyi segala harta pusaka kebijaksanaan dan pengetahuan. Di atas salib Ia ditelanjangi, dicemooh, diludahi, dipukuli, dimahkotai duri, dan diberi minum cuka dan empedu.
Sebab itu, janganlah terikat pada pakaian dan kekayaan, sebab mereka membagi-bagikan pakaian-Ku di antara mereka. Jangan pula terikat pada kehormatan, sebab Aku menanggung caci-maki dan deraan. Jangan pula terikat pada kedudukan yang tinggi, sebab setelah menganyam sebuah mahkota duri mereka meletakkannya di atas kepala-Ku. Jangan pula terikat pada kenikmatan, sebab dalam dahaga-Ku mereka memberi-Ku minum cuka.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|