|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
April 2016
"JANGAN MENGUCAPKAN SAKSI DUSTA"
dikutip dari: Puisi Manusia-Allah, Vol. 2
 … "Dikatakan: 'Jangan mengucapkan saksi dusta.' Apakah yang lebih memuakkan dari seorang pendusta? Tak dapatkah kita katakan bahwa dia secara keji bersekongkol dengan ketidakmurnian? Tentu saja kita dapat. Seorang pendusta, Aku berbicara mengenai seorang pendusta dalam perkara-perkara serius, adalah keji. Ia membunuh reputasi dengan lidahnya. Jadi dia tidak berbeda dari seorang pembunuh. Tidak: dia lebih dari seorang pembunuh. Seorang pembunuh membunuh hanya tubuh. Seorang pendusta membunuh juga nama baik, kenangan akan seseorang. Dia, karenanya, pembunuh ganda. Dia adalah pembunuh yang tidak dihukum sebab dia tidak menumpahkan darah, tapi dia melukai reputasi baik orang yang difitnahnya maupun seluruh keluarga. Dan Aku tidak akan mempermasalahkan kasus seorang yang mengakibatkan kematian sesamanya dengan bersumpah palsu. Bara Gehenna sudah disusun di atas orang macam itu. Aku hanya akan membicarakan mereka yang menyampaikan insinuasi [= tuduhan tidak langsung] palsu dengan mengatakan kebohongan dan mengacaukan orang-orang lain melawan seorang yang tak bersalah. Mengapakah mereka melakukan itu? Entah karena dengki, tanpa alasan, atau karena serakah demi mendapatkan apa yang dimiliki orang lain, atau karena takut.
Kedengkian. Hanya teman Setan yang mendengki. Seorang yang baik tidak mendengki. Tidak pernah. Untuk suatu alasan apapun. Bahkan meski dia dihina dan disakiti, dia mengampuni. Dia tidak pernah mendengki.
Kedengkian adalah kesaksian yang diberikan oleh suatu jiwa yang sesat atas dirinya sendiri dan merupakan kesaksian terbaik sehubungan dengan seorang yang tak bersalah. Sebab kedengkian adalah pemberontakan yang jahat melawan yang baik. Barangsiapa baik tidak butuh diampuni.
Keserakahan. Dia punya apa yang aku tidak punya. Aku menginginkan apa yang dipunyai. Tapi hanya dengan memfitnahnya aku dapat memperoleh kedudukannya. Dan aku akan melakukannya. Akankah aku berdusta? Apakah masalahnya? Akankah aku mencuri? Apakah masalahnya? Akankah aku merusakkan seluruh keluarga? Apakah masalahnya? Dari banyak pertanyaan yang diajukan seorang pendusta licik kepada dirinya sendiri, dia lupa, atau dia ingin melupakan satu pertanyaan. Yakni: 'Dan jika aku ketahuan?' Dia tidak menanyakan pertanyaan macam itu pada dirinya, sebab sebagai kurban kesombongan dan ketamakan, dia seperti orang yang matanya tertutup. Dia tidak melihat bahayanya. Dia juga seperti seorang yang mabuk. Dia dimabukkan oleh anggur setani dan tidak berpikir bahwa Allah lebih kuat dari Setan dan akan menuntut balas demi orang yang difitnah. Si pendusta sudah menyerahkan dirinya sendiri pada Kepalsuan dan dengan bodoh mengandalkan perlindungannya.
Takut. Seringkali manusia memfitnah demi membela dirinya sendiri. Adalah bentuk yang paling umum dari kepalsuan. Kejahatan sudah dilakukan. Kita takut kejahatan itu akan diketahui sebagai perbuatan kita. Lalu, dengan menyalahgunakan dan menyelewengkan kepercayaan yang masih dimiliki orang-orang lain terhadap kita, kita merusak keadaan, dan kita menimpakan pada orang lain, yang kejujurannya saja yang kita takuti, perbuatan jahat yang kita lakukan. Kita juga melakukannya, sebab terkadang sesama kita secara tidak sengaja menjadi saksi atas perbuatan jahat kita, dan kita ingin aman dari kesaksiannya yang pada akhirnya akan muncul. Jadi kita mendakwanya guna menjadikannya tidak disukai dan dengan demikian, jika dia berbicara, tak seorang pun akan percaya kepadanya.
Berlakulah pantas! Dan kalian tidak akan pernah memerlukan kepalsuan macam itu. Tidakkah kalian berpikir, ketika kalian berdusta, betapa suatu beban berat telah kalian timpakan atas diri kalian sendiri? Berat sebab takluk secara sukarela pada roh jahat, sebab rasa takut terus-menerus akan ketahuan, dan sebab perlu mengingat-ingat dusta itu, juga sesudah bertahun-tahun, dan dalam segala keadaan dan detail sebagaimana dusta itu dikatakan, agar tidak melawan diri sendiri. Betapa kerja bagai seorang budak! Andai saja itu membantumu untuk mendapatkan Surga! Tapi, malahan sebaliknya hanya berguna untuk mempersiapkan tempat di neraka!
Jujurlah. Betapa elok bibir seorang yang tidak mengenal dusta! Dia mungkin miskin, kasar, tak dikenal? Dia, betulkah? Tapi dia masih seorang raja. Sebab dia tulus hati. Dan ketulusan hati adalah lebih mulia dari emas dan mahkota, dan meninggikan orang di atas orang banyak lebih dari sebuah tahta, dan mendapatkan lebih banyak orang-orang baik daripada yang dimiliki seorang raja. Keakraban dengan seorang yang tulus hati membangkitkan perasaan aman dan nyaman. Sementara persahabatan dengan seorang yang serong hati, atau bahkan sekedar dekat dengan seorang macam itu, membangkitkan perasaan tidak enak. Sebab kebenaran segera datang kepada terang dengan seribu satu cara, mengapakah dia yang berdusta tidak memikirkan bahwa sesudahnya dia akan selalu dicurigai? Bagaimanakah orang dapat percaya akan apa yang dia katakan?
Bahkan meski dia mengatakan kebenaran, dan orang yang mendengarnya ingin mempercayainya, akan selalu ada keraguan: 'Apakah dia berdusta juga sekarang?' Kalian mungkin bertanya: 'Di manakah kesaksian palsu?' Setiap dusta adalah kesaksian palsu. Bukan hanya yang resmi.
Jadilah sederhana, seperti Allah dan seorang kanak-kanak. Jujurlah setiap saat dalam hidupmu. Apakah kalian ingin dianggap baik? Jadilah sungguh demikian. Bahkan meski seorang penyebar fitnah ingin mengatakan yang jahat tentangmu, seratus orang baik akan mengatakan: 'Tidak. Itu tidak benar. Dia baik. Perbuatan-perbuatannya berbicara mengenai dia.'
"Mulutmu adalah mulut Kristus; oleh karenanya sepatutnyalah engkau tidak - aku tidak berbicara mengenai perkataan fitnah ataupun bohong - sepatutnyalah engkau tidak membukanya untuk percakapan omong kosong, mulut yang sepatutnya diperuntukkan hanya bagi puji-pujian kepada Allah dan mengajar sesamamu."
~ St. Anselmus dari Cantrbury
|
|
DOSA LIDAH ~ JAHATNYA FITNAH
Sebuah Pelajaran Berharga dari St Filipus Neri
 Suatu hari seorang perempuan datang kepada St Filipus Neri dan mengaku sudah berdosa dengan memfitnah. "Apakah engkau sering jatuh dalam dosa ini?" tanya sang santo. "Ya, Pater, sangat sering," jawab si perempuan. "Anakku," kata orang kudus kita, "dosamu besar tapi kerahiman Allah masih jauh terlebih besar. Sebagai penitensi, lakukanlah seperti ini: Pergilah ke pasar terdekat dan beli seekor ayam yang baru disembelih dan masih lengkap bulu-bulunya. Lalu berjalanlah, seembari mencabuti bulu-bulu ayam itu sementara engkau berjalan. Setelah selesai, kembalilah padaku."
Sangat tercenganglah perempuan itu mendapatkan penitensi yang sangat aneh. Dia menjawab, "Aku akan taat, Pater." Segera, dia membeli unggas itu dan memulai perjalanannya dengan sembari mencabuti bulu-bulu ayamnya. Sebentar saja dia sudah kembali, antusias untuk menceritakan ketepatannya dalam melaksanakan penitensi dan segera ingin tahu penjelasan yang akan disampaikan sang imam.
"Ah," kata sang santo. "Kau telah sangat patuh melaksanakan perintah pertamaku. Sekarang laksanakan perintah kedua. Telusuri kembali jalanan yang kau lalui dan kumpulkan kembali satu per satu semua bulu-bulu yang kau cecerkan."
"Tapi, Pater!" seru si perempuan malang. "Itu mustahil. Angin telah menerbangkannya ke segala penjuru, bagaimanakah aku sekarang dapat mengumpulkannya kembali."
"Baiklah, anakku, jawab sang santo. "Kata-kata fitnahmu adalah seperti bulu-bulu yang diterbangkan angin. Bulu-bulu itu telah diserakkan ke segala penjuru. Tariklah kembali sekarang jika kau dapat. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi."
|
|
"Mulut seorang yang rendah hati berbicara mengenai kebenaran; tetapi dia yang berbicara melawan kebenaran adalah seperti hamba yang menampar wajah Tuhan."
~ St. Markus, Pertapa
|
LIDAH SI PENYEBAR FITNAH
 Barangsiapa yang malang, yang ada di bawah kuasa lidah si penyebar fitnah adalah bagaikan biji jagung di bawah batu penggiling di tempat penggilingan: ia akan digilas, diremukkan, dan sama sekali dihancurkan. Lidah si penyebar fitnah akan menanamkan dalam dirimu pikiran-pikiran yang tak pernah engkau miliki; mereka akan meracuni segala tindakan dan perbuatanmu. Apabila ada padamu kesalehan untuk rindu melaksanakan kewajiban agamamu, engkau dikatakannya sebagai seorang munafik belaka, seorang malaikat di gereja dan seorang iblis di rumah. Apabila engkau melakukan perbuatan-perbuatan baik atau karya belas kasih, mereka akan menganggap ini tak lebih dari sekedar kesombongan dan agar engkau mendapatkan perhatian. Apabila engkau tidak hidup duniawi dan tidak tertarik pada perkara-perkara dunia, engkau dikatakannya sebagai seorang yang aneh dan eksentrik dan tak bersemangat. Apabila engkau mengurus urusan pribadimu sendiri dengan cermat, dikatakannya engkau tak lain adalah seorang yang kikir.
Biarlah aku berbicara lebih jauh, anak-anakku, dan mengatakan bahwa lidah si penyebar fitnah adalah bagaikan ulat yang menggerogoti buah yang baik - yaitu, perbuatan-perbuatan terbaik yang dilakukan orang - dan berusaha membalikkannya menjadi sesuatu yang buruk.
Lidah si penyebar fitnah adalah ulat yang mencemari bunga-bunga yang terindah dan di atasnya meninggalkan jejak kotorannya yang menjijikkan.
"Berhati-hatilah dalam banyak berbicara, sebab banyak bicara mengenyahkan dari jiwa pemikiran-pemikiran kudus dan persatuan dengan Allah."
~ St. Dorotheus
|
|
GOSIP ADALAH SUATU BENTUK PEMBUNUHAN
 Paus Fransiskus memulai homilinya pada tanggal 13 September 2013 dengan menggemakan perkataan Yesus dalam Injil, "Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?"
"Mereka yang mengamalkan hidup dengan menghakimi sesamanya, berbicara buruk mengenai sesamanya, adalah orang-orang munafik, sebab mereka kurang dalam hal kekuatan dan keberanian untuk melihat kelemahan dan kekurangan diri mereka sendiri."
Dalam surat pertamanya, St Yohanes Rasul menegaskan bahwa "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya."
"Seorang pembunuh Kristiani… Bukan saya yang mengatakan ini, melainkan Tuhan. Dan tak ada ruang untuk tingkatan-tingkatannya. Jika kalian berbicara buruk mengenai saudaramu, kalian membunuh saudaramu. Dan setiap kali kita melakukan ini, kita meniru tindakan Kain, pembunuh pertama dalam Sejarah."
Lebih lanjut, Paus mendorong orang-orang Katolik agar "menjaga lidah mereka" dan melawan godaan untuk mengatasi perselisihan dengan "caci-maki, fitnah, dan menjelekkan orang lain." "Gosip," demikian Paus, "selalu punya sisi kriminal. Tidak ada gossip yang tak berdosa."
Dengan mengutip St Yakobus Rasul, Paus menegaskan bahwa lidah diciptakan untuk memuliakan Allah, "tapi ketika kita menggunakan lidah kita untuk mengatakan yang jahat mengenai saudara atau saudari kita, kita menggunakannya untuk membunuh Allah… gambaran Allah dalam diri saudara kita."
Paus menambahkan bahwa meski ada sebagian orang yang percaya bahwa orang-orang tertentu pantas digosipkan, bukanlah begitu caranya. Sebaliknya, Bapa Suci mendorong kita untuk "Pergi dan berdoa untuknya! Pergi dan lakukan penitensi untuknya! Dan lalu, jika perlu, berbicaralah kepada orang itu yang mungkin dapat mencari solusi untuk mangatasi masalahnya. Tapi jangan gosipkan kepada semua orang!"
"Mengerti? Tidak ada gosip, tidak ada iri hati, tidak ada cemburu! Mengerti?"
"St Paulus tadinya adalah seorang pendosa, dan mengenai dirinya sendiri ia berkata: 'Aku tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya.'" Paus menantang kita, umat Kristen, dengan mengatakan bahwa mungkin tak seorang pun dari kita adalah seorang penghujat, tetapi "jika kita pernah bergosip kita sudah pasti seorang penganiaya dan seorang ganas."
"Saya memohon kepada Tuhan untuk menganugerahkan kepada kita semua rahmat untuk menjaga lidah kita, untuk waspada akan apa yang kita katakan mengenai orang lain. Ini adalah suatu penitensi kecil, tapi membuahkan hasil yang berlimpah," demikian Bapa Suci.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|