|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
September 2015
AGLAE, SEORANG PELACUR ROMAWI
dikutip dari: Puisi Manusia-Allah, Vol. 2
 Di pintu ada seorang perempuan muda yang berpakaian tidak sopan. Dia cantik. "Tuan-ku, apakah Kau mau masuk ke dalam rumah? Masuklah."
Yesus menatapnya setajam seorang hakim, tapi tak mengatakan apa-apa.
Tetapi Yudas, didukung oleh semua yang lain. "Masuklah, perempuan tak tahu malu! Janganlah mencemari kami dengan napasmu, perempuan jalang."
Perempuan itu memerah mukanya dan menundukkan kepala. Dia hendak menghilang sebab dipermalukan dan dicemooh oleh para berandal dan oleh mereka yang lewat.
"Siapakah yang begitu murni sehingga dapat mengatakan: 'Aku tidak pernah menginginkan apel yang ditawarkan oleh Hawa?'" tanya Yesus dengan tajam dan Ia menambahkan: "Tunjukkan dia kepada-Ku dan Aku akan menyebutnya seorang kudus. Tidak ada? Baik, jadi, jika bukan karena jijik, tapi karena kelemahan, kalian merasa tak dapat pergi mendekati perempuan ini, kalian boleh pergi. Aku tidak akan memaksa orang-orang yang lemah masuk ke dalam pergulatan yang tak seimbang. Perempuan, Aku ingin masuk. Rumah ini milik seorang kerabat-Ku dan yang Aku kasihi."
"Masuklah, Tuan-ku, jika Kau tidak jijik kepadaku."
"Biarkan pintu terbuka, supaya dunia dapat melihat dan tidak mempergunjingkannya..."
Yesus menjadi serius dan penuh wibawa. Perempuan itu, tunduk, membungkuk di hadapan-Nya dan tidak berani bergerak...
"Tuan-ku!"
"Perempuan."
"Nama-Mu, Tuan-ku."
"Yesus."
"Aku tidak pernah mendengarnya. Aku seorang Romawi: seorang aktris dan penari. Aku seorang yang cakap hanya dalam percabulan. Apakah arti nama-Mu? Namaku Aglae dan... dan itu berarti: kejahatan."
"Nama-Ku berarti: Juruselamat."
"Bagaimana Engkau menyelamatkan? Dan siapakah yang Engkau selamatkan?"
"Mereka yang antusias untuk diselamatkan. Aku menyelamatkan dengan mengajarkan untuk menjadi murni, untuk lebih memilih menderita daripada kehormatan, untuk menginginkan yang baik apapun resikonya," Yesus berbicara tanpa kebencian, bahkan tanpa berpaling kepada perempuan itu."
"Aku sesat…"
"Aku adalah Dia yang mencari yang sesat."
"Aku mati."
"Aku adalah Dia yang memberi Hidup."
"Aku kenajisan dan kepalsuan."
"Aku Kemurnian dan Kebenaran."
"Engkau juga Kemurahan Hati, Engkau tidak menatapku. Engkau tidak menyentuhku, Engkau tidak menginjak-injakku. Kasihanilah aku…"
"Pertama-tama, kau harus mengasihani dirimu sendiri. Jiwamu."
"Apa itu jiwa?"
"Adalah apa yang membuat manusia menjadi allah dan bukan binatang. Kejahatan dan dosa membunuhnya, dan begitu jiwa terbunuh, manusia menjadi binatang yang menjijikkan."
"Apakah mungkin bagiku untuk bertemu dengan-Mu lagi?"
"Siapa yang mencari Aku, menemukan Aku."
"Di manakah Engkau tinggal?"
"Di mana hati membutuhkan dokter dan obat-obatan untuk menjadi jujur kembali."
"Kalau begitu… aku tidak akan bertemu dengan-Mu lagi… aku tinggal di tempat di mana tidak ada dokter, obat-obatan ataupun kejujuran dikehendaki."
"Tak suatupun mencegahmu untuk datang ke tempat di mana Aku berada. Nama-Ku akan diteriakkan di jalan-jalan dan akan sampai kepadamu. Selamat tinggal."
"Selamat tinggal, Tuan-ku. Ijinkan aku memanggil-Mu 'Yesus'. Oh! Bukan demi keakraban!... Tapi agar sedikit keselamatan dapat datang kepadaku. Aku Aglae, ingatlah aku."
"Ya. Selamat tinggal."
YESUS BERSABDA:
"Perempuan itu adalah tepung. Tepung di mana Yang Jahat telah mencampurkan bubuk nerakanya. Aku adalah ragi. Yakni, sabda-Ku adalah ragi. Tapi jika terlalu banyak sekam dalam tepung, atau jika pasir, atau kerikil atau abu dicampurkan ke dalam tepung, mungkinkah membuat roti dengannya, bahkan meski raginya baik? Tidak mungkin. Adalah perlu untuk dengan sabar menyingkirkan sekam, abu, kerikil dan pasir dari tepung.
Kemudian datanglah Kerahiman dan menawarkan saringan pertama… Yang pertama: dibuat dengan kebenaran-kebenaran dasar yang singkat, yang dapat dipahami oleh dia yang terjerat dalam jaring ketidaktahuan sama sekali, kejahatan dan tidak mengenal Allah. Jika jiwa menerimanya, maka pemurnian pertama dimulai. Saringan kedua terjadi melalui sarana saringan jiwa itu sendiri, yang membandingkan dirinya dengan Diri yang menyingkapkan DiriNya. Dan jiwa merasa ngeri. Dan jiwa memulai pekerjaannya. Melalui sarana proses tertentu yang lagi dan lagi, sesudah kerikil-kerikil, lalu pasir dan abu, jiwa mencapai tahap menyingkirkan juga bagian dari tepung yang mengandung butiran-butiran yang terlalu berat dan terlalu kasar untuk membuat roti yang enak. Jiwa sekarang sudah siap. Kerahiman kemudian datang sekali lagi dan merasuk ke dalam tepung yang sekarang sudah siap - itu juga persiapan, Yudas - dan mengembangkan tepung dan mengubahnya menjadi roti. Tapi itu suatu proses yang lama: suatu proses dari "kuasa kehendak" jiwa.
Perempuan itu sudah memiliki dalam dirinya yang minimum yang adil untuk diberikan kepadanya yang dapat dipergunakan olehnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Biarkan dia melakukannya, jika dia menginginkannya, tapi janganlah kita menganggunya. Semua yang mengganggu suatu jiwa yang sedang bekerja: keingintahuan, semangat tanpa nasehat, tak adanya toleransi, juga kasih yang berlebihan."
"Walau suatu jiwa rusak bagaikan bangkai yang membusuk, hingga dari sudut pandang manusia tidak akan ada lagi harapan pemulihan dan segalanya akan menjadi sia-sia, namun tidak demikian bagi Allah. Mukjizat Kerahiman memulihkan jiwa itu sepenuhnya …. Dari sumber kerahiman ini, jiwa-jiwa menimba rahmat, semata-mata hanya dengan timba kepercayaan. Jika kepercayaan mereka besar, tak akan ada batas dalam kemurahan hati-Ku."
~ Buku Harian St. Faustina Kowalska, #1448
|
|
KERAHIMAN ILAHI
oleh: St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus
 "Betapa sukacita yang manis memikirkan bahwa Tuhan itu adil, bahwa Ia mempertimbangkan kelemahan-kelemahan kita dan tahu sepenuhnya dengan baik kerapuhan kodrat kita. Jadi, apakah yang harus aku takutkan? Allah yang baik dari keadilan yang tak terbatas, yang berkenan mengampuni dengan kerahiman yang begitu besar dosa-dosa si anak yang hilang, pastilah juga akan adil terhadap aku yang selalu bersama-Nya… Aku hanya perlu melihat Injil Suci; aku menghirup harum mewangi kehidupan Yesus dan aku tahu jalan mana yang harus kutempuh… teladan Maria Magdalena, keberaniannya yang mengagumkan, atau tepatnya keberaniannya yang penuh kasih, yang sangat menyukakan Hati Yesus.
Bukan karena aku telah dilindungi dari dosa berat hingga aku dapat pergi kepada Allah dengan penuh keyakinan dan kasih. Bahkan jika ada dalam batinku segala macam kejahatan yang dapat dilakukan manusia, aku yakin bahwa aku tidak akan kehilangan suatupun dari keyakinanku; aku akan melemparkan diriku, hatiku yang remuk karena dukacita, ke dalam pelukan Juruselamat-ku. Aku tahu betapa Ia sangat mengasihi anak yang hilang; aku mendengar perkataan-Nya kepada Maria Magdalena, kepada perempuan yang terjerumus dalam perzinahan, juga kepada perempuan Samaria. Tidak, tidak ada seorang pun yang dapat menakutiku, sebab aku tahu dengan sangat baik apa yang harus diyakini mengenai kerahiman-Nya, mengenai kasih-Nya. Aku tahu bahwa dalam satu kedipan mata, semua ribuan dosa akan dibakar habis bagai setetes air dicampakkan ke dalam api yang bernyala-nyala." (Halaman terakhir Naskah C).
Dalam buku "Hidup Para Bapa Padang Gurun", diceritakan bahwa salah seorang dari mereka mempertobatkan seorang pendosa besar yang perbuatan jahatnya merupakan skandal bagi seluruh negeri. Disentuh oleh kasih karunia, perempuan berdosa ini mengikuti sang santo ke padang gurun untuk melakukan penitensi yang keras di sana, tapi pada malam pertama perjalanannya, bahkan sebelum dia tiba di tempat pengasingannya, kedahsyatan dari dukacita penuh kasih telah memutuskan ikatan-ikatan yang mengikatnya ke dunia, dan sang santo kudus melihat jiwa perempuan ini, saat itu juga, dibawa oleh para malaikat ke dalam pelukan Allah. Ini adalah suatu ilustrasi yang menghebohkan dari apa yang ingin aku katakan, tapi hal-hal seperti ini tak dapat diungkapkan dalam kata-kata." (Derniers entretiens, hal. 70)
|
|
"Ada sebagian yang mengatakan: 'Aku berbuat terlalu banyak dosa, Allah yang baik tak akan dapat mengampuniku.' Ini adalah sama sekali hujat. Sama seperti memberikan batasan pada kerahiman Allah, yang sebenarnya tidak ada; melainkan tanpa batas."
~ St Yohanes Maria Vianney
|
YESUS KRISTUS - KERAHIMAN BAPA
(Vatican Radio) 10 Juli 2015. Pesan Paus Fransiskus kepada para narapidana di Santa Cruz-Palmasola Rehabilitation Center, Bolivia.
 "Kalian mungkin bertanya-tanya: 'Siapakah orang ini yang berdiri di hadapan kita?'. Saya ingin menjawab pertanyaan itu dengan sesuatu yang saya mutlak yakin mengenai hidup saya sendiri. Orang yang berdiri di hadapan kalian ini adalah orang yang telah mengalami pengampunan. Seorang yang dulu, dan sampai sekarang, diselamatkan dari banyak dosa-dosanya. Itulah siapa saya. Saya tidak punya lebih banyak untuk diberikan atau ditawarkan kepada kalian, tetapi saya ingin berbagi dengan kalian apa yang sungguh saya miliki dan apa yang saya kasihi. Itulah Yesus Kristus, kerahiman Bapa.
Yesus datang untuk memperlihatkan kasih yang dimiliki Allah bagi kita. Bagi kalian dan bagi saya. Kasih yang penuh kuasa dan nyata. Kasih yang menerima dengan sungguh-sungguh janji dari mereka yang Ia kasihi. Kasih yang menyembuhkan, yang mengampuni, yang menaikkan dan yang menunjukkan kepedulian. Kasih yang menghampiri dan memulihkan martabat. Kita dapat kehilangan martabat ini dengan begitu banyak cara. Tetapi Yesus itu keras kepala: Ia memberikan bahkan hidup-Nya sendiri demi memulihkan identitas yang kita hilangkan.
Ini adalah sesuatu yang dapat membantu kita untuk memahaminya. Petus dan Paulus, para murid Yesus, adalah tahanan juga. Mereka kehilangan kebebasan mereka. Namun ada sesuatu yang menopang mereka, sesuatu yang tidak membiarkan mereka menyerah pada keputusasaan, pada pengalaman kegelapan dan ketakberdayaan. Sesuatu itu adalah doa, baik secara pribadi maupun bersama. Mereka berdoa, dan mereka saling mendoakan satu sama lain. Kedua bentuk doa ini menjadi suatu jaringan untuk terus memelihara hidup dan harapan. Dan bahwa jaringan itu melindungi kita dari jatuh ke dalam keputusasaan. Melainkan mendorong kita untuk terus bergerak maju. Suatu jaringan yang menopang hidup, hidup kalian sendiri dan hidup keluarga kalian.
Ketika Yesus menjadi bagian dari hidup kita, kita tidak lagi tetap terpenjara oleh masa lalu kita. Sebaliknya, kita mulai melihat ke masa sekarang, dan kita melihatnya secara berbeda, dengan harapan yang berbeda. Kita mulai melihat diri kita sendiri dan hidup kita dalam suatu terang yang berbeda. Kita tidak lagi terhenti pada masa lalu, melainkan dapat mencucurkan airmata dan mendapatkan darinya kekuatan untuk membuat suatu awal yang baru. Jika ada kalanya kalian mengalami kesedihan, depresi, perasaan-perasaan negatif, saya akan meminta kalian untuk memandang pada Kristus yang tersalib. Tataplah wajah-Nya. Ia melihat kita; dalam mata-Nya ada tempat bagi kita. Kita semua dapat membawa kepada Kristus luka-luka kita, penderitaan kita, dosa-dosa kita. Dalam luka-luka-Nya, ada tempat bagi luka-luka ktia sendiri. Di sana luka-luka itu dapat diredakan, dibasuh bersih, dirawat dan disembuhkan. Ia wafat bagi kita, bagi saya, agar Ia dapat merentangkan tangan-tangan-Nya dan mengangkat kita naik. Berbicaralah kepada para imam yang datang kemari, berbicaralah kepada mereka! Yesus rindu untuk menolong kalian bangkit, selalu.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|